Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN UKM STATUS GIZI BAYI DAN BALITA

DI POSYANDU MERPATI PEMBUANG HULU II

I. Latar Belakang Kegiatan


Status gizi adalah salah satu unsur penting dalam membentuk status kesehatan. Status
gizi (nutritional status) adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan
zat gizi dari makanan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Status gizi sangat dipengaruhi oleh
asupan gizi. Pemanfaatan zat gizi dalam tubuh dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu primer dan
sekunder. Faktor primer adalah keadaan yang mempengaruhi asupan gizi dikarenakan
susunan makanan yang dikonsumsi tidak tepat, sedangkan faktor sekunder adalah zat gizi
tidak mencukupi kebutuhan tubuh karena adanya gangguan pada pemanfaatan zat gizi dalam
tubuh.
Menurut UNICEF menyebutkan bahwa kurang gizi disebabkan oleh penyebab
langsung dan penyebab tidak langsung. Yang termasuk penyebab langsung adalah asupan
gizi yang kurang dan infeksi. Sedangkan yang termasuk penyebab tidak langsung adalah
kurangnya ketersediaan makanan di rumah dan pola asuh anak yang jelek serta pelayanan
kesehatan dan lingkungan yang kurang baik. Menurut teori lain menyebutkan bahwa
timbulnya masalah gizi dipengaruhi oleh ketidakseimbangan dari tiga faktor, yaitu pejamu,
agen, dan lingkungan.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis
terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita
disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang,
dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama
dalam 1.000 HPK. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut
umurnya lebih rendah dari standar nasional yang berlaku. Standar dimaksud terdapat pada
buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan beberapa dokumen lainnya.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2018 menemukan
30,8% mengalami stunting. Walaupun prevalensi stunting menurun dari angka 37,2% pada
tahun 2013, namun angka stunting tetap tinggi dan masih ada 2 (dua) provinsi dengan
prevalensi di atas 40%.
Penurunan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu
faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi
(makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak
(pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan
(kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan
sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status
kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat
mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.
Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor
keturunan. Penelitian Dubois, et.al pada tahun 2012 menunjukkan bahwa faktor keturunan
hanya sedikit (4-7% pada wanita) mempengaruhi tinggi badan seseorang saat lahir.
Sebaliknya, pengaruh faktor lingkungan pada saat lahir ternyata sangat besar (74-87% pada
wanita). Hal ini membuktikan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung dapat membantu
pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikan
gizi, yang menitikberatkan pada upaya pencegahan dan peningkatan gizi anak. Disebutkan
bahwa sekurangnya 80% balita disetiap kabupaten/kota di timbang setiap bulan dan berat
badannya naik sebagai indikasi bahwa balita tersebut tumbuh sehat. Soekirman (2000)
menyatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya kasus kurang gizi pada masyarakat karena
tidak berfungsinya lembaga–lembaga sosial dalam masyarakat seperti Posyandu. Penurunan
aktivitas Posyandu tersebut berakibat pemantauan gizi pada anak dan ibu hamil terabaikan.
Salah satu metode penilaian status gizi secara langsung yang paling popular dan dapat
diterapkan untuk populasi dengan jumlah sampel besar adalah antropometri. Antropometri
sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter,
sedangkan parameter adalah ukuran tunggal dari ukuran tubuh manusia. Tinggi badan
merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang.
Dari uraian diatas, maka telah diselenggarakan suatu kegiatan pemantauan status gizi
balita di Puskesmas Pembuang Hulu yang dibantu oleh tenaga kesehatan di Posyandu
Merpati Pembuang Hulu II pada tanggal 6 Januari 2021, Kecamatan Hanau, Kabupaten
Seruyan.

II. Permasalahan di Masyarakat


Berdasarkan Laporan “Kondisi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia” yang terbit di
Tahun 2018, Indonesia menempati posisi sebagai satu-satunya negara yang mempunyai
prevalensi tinggi untuk tiga indikator malnutrisi, yaitu untuk stunting, gizi buruk dan obesitas
pada balita. Sebelumnya, Global Nutrition Report 2014, menempatkan Indonesia dalam
kelompok 5 besar negara dengan kasus stunting terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan
bahwa Indonesia dewasa ini menghadapi darurat malnutrisi.
Di tingkat nasional, status gizi balita menunjukkan gambaran yang penuh tantangan,
seperti terlihat dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, menunjukkan bahwa status gizi
buruk dan gizi kurang pada balita lebih tinggi daripada status tersebut pada baduta (bawah
dua tahun), yaitu 17,8% dan 14,8% dengan status gizi buruk masing-masing 3,8% dan 3,5%.
Persentase gizi buruk tersebut masing-masing meningkat dari 3,4% dan 3,1% (2016),
sedangkan pada tahun 2015 3,9% dan 3,2%. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi
stuntingnasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007
(36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia,
atau satu dari tiga anak Indonesia.
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi tersebut diatas, dalam
jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan
fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang akibat
buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya
penyakit degeneratif seperti diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, dan
lain-lainnya

III. Tujuan Kegiatan


a) Tujuan Umum:
Untuk melakukan penilaian status gizi peserta Puskesmas dengan cara penimbangan
berat badan dan tinggi badan bayi atau balita yang datang ke Posyandu Merpati Pembuang
Hulu II.

b) Tujuan Khusus:
Mampu melakukan pemantauan status gizi balita (screening status gizi balita), di
antaranya:

a. Mampu melakukan pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) atau panjang
badan (PB), dan umur (U) balita.
b. Mampu mengkategorikan hasil pengukuran BB, TB atau PB, dan U dalam status
gizi balita menurut WHO.
c. Mampu mengisi dan membaca Kartu Menuju Sehat Balita (KMS-Balita).
d. Mampu melakukan tindakan berdasar keadaan balita pada KMS-Balita.

IV. Manfaat Kegiatan


Agar berat badan dan panjang/ tinggi badan bayi dan balita dapat terpantau dengan
baik, sehingga dapat tercapai generasi dengan gizi baik serta menjaring kemungkinan adanya
gizi kurang, dan gizi buruk

V. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


a) Waktu : Rabu, 6 Januari 2021
b) Tempat : Posyandu Merpati Pembuang Hulu II
c) Sasaran : Bayi dan Balita
d) Kegiatan : Pengukuran Tinggi Badan, Penimbangan Berat Badan, dan Penentuan
Status Pertumbuhan (Plotting pada Kartu Menuju Sehat/KMS di Buku KIA).
e) Pelaksana: Para Tenaga Kesehatan Puskemas Pembuang Hulu, diantaranya:
1. dr. Elena Silvia Tara
2. dr. Elena Silvia Tara
3. dr. Nani Haryati Syamsi
4. Gita A, S.kep Ners
f) Durasi : ± 120 menit
g) Jumlah Peserta: Bayi dan Balita sebanyak 24 orang

VI. Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Merpati Pembuang Hulu II pada hari Rabu, 6
Januari 2021 dari pukul 08.30 WIB – 10.30 WIB. Dari pelaksanaan kegiatan didapatkan hasil
sebagai berikut:
1. Kegiatan imunisasi bayi dan balita dilaksanakan oleh 1 orang dokter umum, 2 orang
dokter internship, 1 orang perawat.
2. Sebelum kegiatan dimulai maka semua tempat dan peralatan sudah disiapkan terlebih
dahulu.
3. Tenaga kesehatan yang melaksanakan kegiatan memberi salam, menyapa keluarga,
memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan/ manfaat dari pengukuran tinggi
badan/panjang badan, penimbangan berat badan, dan penentuan status gizi terhadap bayi
dan balita.
4. Ibu dengan bayi atau balita yang datang untuk kegiatan berjumlah 24 orang.

Rincian antropometri bayi dan balita yang mengikuti kegiatan, sebagai berikut:
Hasil Status Gizi
Usia
N Tanggal Jenis Pengukuran
Nama (Bulan
o Lahir Kelamin BB PB
) BB/U PB/U BB/PB
(Kg) (Cm)
1 Siti Zainab 07-08-2019 P 29 9.4 70 GK P N
2 Vita Merawati 02-08-2019 P 43 12.5 92 GK N N
Natasya N
3 21-12-2020 P 1 4.9 56 GB N
Asysyariifah
4 Ahmad Maulana 08-09-2020 L 4 7.2 67 GB N N
5 Aqila Ramadhani 28-04-2020 P 9 9.8 70 GB N N
6 Nur Mara Zhafira 25-10-2020 P 3 5.4 58 GB N N
7 M.Kenzi 11-11-2020 L 2 5.4 59 GB N N
8 Atin Astika Salma 21-02-2020 P 11 8.9 70 GB N N
9 Joan Eljaz Alfaqih 15-12-2020 L 1 4.7 53 GB N N
10 M. Rakha Alfarizi 25-06-2020 L 7 10 74 GB T N
11 Riyojimo Rama 19-06-2020 L 7 9.9 77 GB T K
12 Auliya Mauliida 12-11-2020 P 2 5.2 58 GB N N
13 M. Jain Azmi 22-12-2020 L 1 5.5 56 GB N N
M. Sultan N
14 21-08-2020 L 5 8.2 68 GB N
Al.Mahesa
15 Ratban Abhi Seva 19-03-2020 L 10 9.8 71 GB N N
16 M. Al Fitri 23-06-2020 L 7 8.3 67 GB N N
17 Keysa Rizqia Zafira 19-09-2020 P 4 7.5 63 GB N N
18 Afita Qonita 21-08-2020 P 5 8.3 66 GB N N
19 Maira Alma 10-08-2020 P 5 6.1 63 GB N N
20 Muhammad Rifa’i 02-12-2020 L 2 5.5 62 GB N K
21 Jilian Nur Ayra 11-06-2020 P 7 7.3 69 GB N N
22 M. Muzayyin 10-08-2020 L 5 5.7 62 GK N N
23 Sheza Adreena 15-10-2020 P 3 5.4 61 GB N N
24 Siti Hamidah 19-09-2020 P 4 7.8 68 GB T N
Keterangan :
- BB : Berat Badan
- PB : Panjang Badan
- GB : Gizi Baik
- GK : Gizi Kurang
- N : Normal
- P : Pendek
- T : Tinggi
- K : Kurus

VII. Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan UKM pelayanan gizi berupa kegiatan pengukuran tinggi badan/panjang
badan, penimbangan berat badan, dan penentuan status gizi terhadap bayi dan balita.
Pelaksanaan kegiatan ini sudah berjalan dengan baik. Dalam pelaksanaannya, hasil
pengukuran yang didapat dilakukan untuk menilai status gizi balita baik menurut BB/U,
PB/U, dan BB/PB. Pada pelaksanaan pengukuran, terdapat 24 balita dari kalangan usia yang
berbeda-beda dan berat serta tinggi atau panjang badan yang bervariasi.
Penilaian status gizi balita berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U),
didapatkan dari hasil pengukuran yang telah dilakukan pada 24 balita di Posyandu Merpati
Pembuang Hulu II diperoleh hasil 3 orang mengalami gizi kurang dan 21 orang mempunyai
status gizi baik.
Indikator selanjutnya, penilaian status gizi balita berdasarkan indeks panjang badan
menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U). Hasil pengukuran yang
didapatkan dari 24 balita di Posyandu Merpati Pembuang Hulu II adalah 1 orang memiliki
status pendek, 3 orang memiliki status tinggi, dan sisanya berstatus normal dengan jumlah 20
orang.
Berikutnya, penilaian status gizi balita berdasarkan indeks berat badan menurut
panjang badan (BB/PB) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Dari hasil
pengukuran didapatkan dari 24 balita di Posyandu Merpati Pembuang Hulu II adalah 2 orang
memiliki status kurus dan 30 orang lainnya berstatus normal.
Hasil pengukuran yang dilakukan pada balita dicatat dan dilakukan plotting pada
Kartu Menuju Sehat Balita (KMS-Balita). Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui
memantau pertumbuhan dan kesehatan balita.
Untuk evaluasi dari hasil yang telah didapatkan pada pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan balita berdasarkan pengukuran antropometri. Orang tua perlu diedukasi untuk
meningkatkan kesadaran sebisa mungkin memberikan perhatian lebih pada anak, karena
tumbuh kembang anak yang baik berawal dari intensitas perhatian, asupan gizi seimbang,
cukup, dan rutin. Tidak hanya itu, orang tua harus rutin membawa balita ke posyandu setiap
bulannya agar parameter pertumbuhan anak terpantau dan pemberian vaksinasi terpenuhi
sesuai dengan usia.

Pembuang Hulu, 2 Februari 2021

Dokter Internsip Dokter Pendamping Internsip


dr. Elena Silvia Tara/dr. Faridah dr. Nani Haryati Syamsi