Anda di halaman 1dari 3

Nama :Iswandi

Nim : 205168008
Makul : Manajemen Org & SDM LKS

KASUS:
Belakangan ini di banyak kejaidian pada peusahaan untuk menghadapi karyawan
‘nakal’. Seperti Kasus-kasus indisiplin karyawan, terlambat masuk kerja diakui sulit untuk
dihindarkan, hampir di semua organisasi selalu saja ada orang-orang yang ingin menyimpang
dari prosedur dan kesepakatan. Kalau sudah begini, bagaimana orang Manajemen Sumber
Daya Manusia (MSDM) menangani bila ada karyawannya yang ‘nakal’? Misalnya pada kasus:
Sering Terlambat masuk kerja

ANALISA :
Seorang karyawan yang terlambat 45 menit datang ke kantor dengan tidak sengaja
karena ada halangan seperti ban bocor, hal ini perlu dimaklumi oleh seorang manajer. Namun
apabila keterlambatan 45 menit oleh karyawan dilakukan sengaja setiap hari. Karena karyawan
tersebut yakin dari kebiasaannya itu, gajinya tak akan dipotong oleh perusahaan yang menganut
sama rata dimana hanya ada gaji pokok. Perilaku ini yang dikhawatirkan pleh perusahaan
kerana kalau di biarkan maka akan menular kepada para rekannya, yang juga berakibat
menggangu produktivitas perusahaan.

Dari contoh kasus tersebut, perlu mendapat perhatian serius dari manajemen. Perusahan
perlu untuk menegakkan kedisiplinan terhadap karyawannya. Disiplin dibagi menjadi dua
yakni disiplin preventif dan disiplin korektif.
Disiplin preventif untuk pencegahan agar karyawan disiplin melakukan aturan yang ada dalam
perusahaan sehingga tidak melakukan pelanggaran seperti dua kasus tersebut.
Disiplin korektif berupa hukuman, yang diberikan bila karyawan sudah melakukan
pelanggaran supaya karyawan dapat memperbaiki pelanggarannya, menghalangi karyawan
lain melakukan kegiatan serupa, dan menjaga standar kelompok agar tetap konsisten dan
efektif. Untuk pelanggaran yang sudah dilakukan berulang-ulang, perusahaan melakukan
disiplin progresif yakni melalui tahap-tahap :
1. Teguran lisan oleh manajer
2. Teguran tertulis dengan catatan file personalia
3. Skorsing pekerjaan hingga 3 hari
4. Skorsing pekerjaan hingga satu minggu
5. Penurunan jabatan (demosi)
6. Pemecatan

KESIMPULAN :
Dari studi kasus mengenai keterlambatan karyawan dikarenakan tipe masalah karyawan di
kantor. Tipe masalah di kantor dapat dibagi tiga yakni; terlalu santai, tidak menyadari
kesalahannya, dan yang menyadari kesalahannya lalu memperbaikinya. Perusahaan perlu
memperhatikan masalah ini dengan serius dengan menegakkan kedisiplinan. Untuk mengatasi
karyawan tersebut di gunakan disiplin preventif dan preventif korektif. Dapat juga perusahaan
memilih disiplin progresif untuk menindak karyawan yang telah melakukan pelanggaran
berulang-ulang.

SOLUSI:
1. Posisikan diri pada sudut pandang orang bermasalah. Kenali persepsinya terhadap
pekerjaannya untuk mengetahui akar masalah, mengapa ia menjadi orang bermasalah.
Setelah akarnya didapat, diskusikan dengannya untuk mengatasi masalahnya.
2. Berikan solusi, bukan sekadar kritik. Orang cenderung defensif terhadap kritik, tapi
lebih terbuka bila diajak duduk bersama membicarakan masalah, dan bagaimana
solusinya. Bawahan merasa dimanfaatkan, jika tidak dilibatkan dalam penyelesaian
masalahnya. Orang cenderung destruktif ketimbang kooperatif, jika sekadar dikritik.
3. Berikan perhatian dan pengertian. Ajak ia berbicara dari hati ke hati, bahwa ia pun
bagian dari tim yang sangat penting bagi keberhasilan secara keseluruhan. Tegaskan
kontribusi setiap orang penting bagi keberhasilan perusahaan.
4. Berikan apresiasi dan dukungan. Orang bermasalah, terlebih yang tergolong low self
esteem, cenderung amat irasional dan sulit diajak berbicara secara rasional. Untuk itu,
atasan atau koleganya, harus rajin memberi apresiasi jika ia melakukan pekerjaannya
dengan baik. Apresiasi tak harus berupa hadiah, bisa pujian atau sekadar tepukan di
pundaknya. Bisa pula melibatkannya dalam proyek yang sekiranya ia sanggup
menggarapnya. Keberhasilan proyek bisa membangkitkan rasa percaya dirinya.
5. Orang bermasalah tipe high self esteem, mesti pula diajak bicara dari hati ke hati.
Tipe ini cenderung memiliki harga diri tinggi, jangan sekali-kali merendahkan egonya
dengan mengatakan bahwa ia tak bisa bekerja sendiri. Berilah kesan bahwa ia sangat
dibutuhkan rekan-rekannya agar bisa mencapai hasil maksimal.