Anda di halaman 1dari 12

GANGGUAN YANG TERJADI PADA SISTEM JOINTING PADA SALURAN

KABEL TEGANGAN MENENGAH 20 KV

Nurmiati Pasra1; Andi Makkulau2; Muhamamd Hasil Adnan3


Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknik PLN
1nurmiati@sttpln.ac.id,2andi.mk@sttpln.ac.id,3muhammadhasilnan@gmail.com

Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknik PLN

Abstract : In distributing electrical energy to customers, required a reliable power system.


Disturbances in a system of electricity can not be avoided. Generally disruption of the
underground channels, prone to disturbance occurs in cable connections (Jointing).
Interference that occurs in SKTM in jointing that is existence of partial discharge. From the
cable test results of a feeder Debur B 329 to B 162 this is a very bad cable condition. The
location of the bad cable is at a distance of 59 to 91 m and 190 to 220 m, with a capacity
of 0.272 µF and a frequency of 353.98 Hz. The cable testing to determine the existance
on the cable channel and location of the occurance of interference so that it can be done
immediately repair or replacement on the cable that has interference.

Keywords : Cable, disturbance, jointing

Abstrak : Dalam menyalurkan energi listrik ke pelanggan, diperlukan sistem tenaga listrik
yang handal.Gangguanpada suatu sistem tenaga listrik tidak dapat dihindari. Umumnya
gangguan pada saluran bawah tanah, titik rawan gangguan terjadi pada sambungan
kabel (jointing). Gangguan yang terjadi pada SKTM pada jointing yaitu adanya Partial
Discharge. Pengujian kabel pada penyulang Debur B 329 sampai B 162 kondisi kabel
dalam keadaan sangat buruk. Letak kondisi kabel yang buruk ada pada jarak 59 sampai
91 m dan 190 sampai 220 m, dengan kapasitas 0.272 µF dan frekuensi 353.98 Hz.Maka
dilakukanlah pengujian kabel untuk mengetahui adanya gangguan pada saluran kabel
dan letak terjadinya gangguan sehingga dapat segera dilakukan perbaikan atau
penggantian pada kabel yang mengalami gangguan.

Kata Kunci : Kabel, gangguan, jointing

I. PENDAHULUAN mencakup pengaturan, pemindahan dan


penyaluran tenaga listrik dari pusat
Dalam menyalurkan energi listrik ke pembangkit kepada konsumen dengan
pelanggan, diperlukan sistem tenaga listrik efektif serta menjamin kelangsungan
yang handal dan baik. Penyaluran energi penyaluran dan pelayanan. Penyaluran
listrik yang dimaksud adalah penyaluran energi listrik dapat dilakukan dengan dua
dari saluran distribusi ke beban-beban cara, yaitu penyaluran di udara (overhead
yang membutuhkan energi listrik, beban- line) dan penyaluran di dalam tanah
beban tersebut adalah beban rumah (underground line). Dimana pengaturan
tangga, industri-industri dan lain tegangan dari sistem kabel bawah tanah
sebagainya. Energi listrik dapat disalurkan lebih efisien dibandingkan dengan saluran
ke konsumen melalui suatu sistem udara. Pada suatu sistem tenaga listrik
jaringan yang terdiri dari unit pembangkit tidak dapat dihindari adanya gangguan,
dan unit penyalur, berupa perlengkapan walaupun sudah didesain sebaik mungkin.
tenaga listrik yang terpasang pada gardu Hal ini disebabkan adanya kegagalan
gardu, baik gardu induk maupun gardu isolasi pada sistem tenaga listrik ataupun
distribusi yang dioperasikan secara adanya kerusakan yang terjadi pada kabel
otomatis dan manual. Kegiatannya jaringan tegangan menengah (JTM).

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 1


Umumnya dalam saluran bawah tanah, Sistem distribusi merupakan
titik rawan gangguan terjadi pada subsistem tersendiri yang terdiri dari pusat
sambungan kabel (jointing). Jointing pengatur (Distribution Control Center,
adalah penghubung antar kabel, yang DCC), saluran tegangan menengah (6 kv
mana sangat dibutuhkan karena jarak dan 20 kv atau tegangan distrbusi primer)
antara gardu induk ke beban bervariasi yang merupakan saluran udara atau kabel
dan panjang kabel terbatas. tanah. Gardu distribusi tegangan
menengah yang terdiri dari panel-panel
distribusi tegangan rendah (380 V, 220 V)
II KAJIAN LITERATUR yang menghasilkan tegangan kerja/
2.1 Proses Pendistribusian Energi tegangan jala-jala untuk industry dan
Listrik konsumen.

Gambar 1 Proses Pendistribusian Energi Listrik

Setelah tenaga listrik dibangkitkan trafo step-up di GITET hingga


oleh suatu pusat pembangkit listrik, tegangannya menjadi 500 kv, kemudian
selanjutnya tenaga listrik disalurkan dialirkan melalui SUTET untuk menuju ke
melalui jaringan transmisi. Dari jaringan konsumen pemakai tegangan tinggi,
transmisi selanjutnya didistribusikan sebelum ke konsumen pemakai tegangan
kepada para konsumen tenaga listrik tinggi tegangan terlebih dahulu diturunkan
melalui jaringan distribusi tenaga listrik. dari TET menjadi TT yaitu sekitar 150 kv,
Pada pembangkit tenaga listik biasanya tegangan tersebut diturunkan melalui trafo
pembangkitan energi listrik pada tegangan step-down yang berada di Gardu Induk
menengah (6-20 kV). Pada sistem tenaga (GI). Setelah itu listrik dialirkan melalui
listrik besar atau jika pembangkit tenaga SUTT menuju ke konsumen pemakai
listrik terletak jauh dari pemakai, maka tegangan menengah (TM), tegangan
tegangannya perlu dinaikkan melalui diturunkan kembali oleh gardu induk
saluran transmisi dari tegangan melalui trafo step-down, dari tegangan
menengah (TM) menjadi tegangan tinggi tinggi menjadi tegangan menengah yaitu
(TT) bahkan tegangan ekstra tinggi (TET). sekitar 20 kV. Mendekati pusat pemakaian
Pada pembangkit tegangan yang tenaga listrik yang umum, energy listrik
dikeluarkan oleh generator yaitu 16 kv yang dialirkan melalui JTM tegangan
kemudian dinaikkan tegangannya melalui diturunkan, dari TM menjadi TR oleh trafo

2 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018


step-down di gardu distribusi, tegangan- memenuhi kriteria engineering keamanan
nya yaitu 220 dan 380 volt, yang ketenagalistrikan, termasuk didalamnya
kemudian didistribusikan ke pemakai oleh adalah jarak aman minimal antara fase
gardu distribusi melalui JTR (Jaringan dengan lingkungan dan antara fase
Tegangan Rendah). dengan tanah, bila jaringan tersebut
menggunakan saluran udara atau
2.2 Klasifikasi Jaringan Distribusi ketahanan isolasi jika menggunakan kabel
Tegangan Menengah udara pilin tegangan menengah atau
kabel bawah tanah tegangan menengah
Sistem distribusi tenaga listrik
serta kemudian dalam hal pengoperasian
didefinisikan sebagai bagian dari sistem
atau pemeliharaan jaringan dalam
tenaga listrik yang menghubungkan gardu
keadaan bertegangan (PDKB) pada
induk/pusat pembangkit listrik dengan
jaringan utama. Hal ini dimaksudkan
konsumen. Sedangkan jaringan distribusi
sebagai usaha menjaga keandalan
adalah sarana dari sistem distribusi
kontinyuitas pelayanan konsumen
tenaga listrik di dalam menyalurkan
Ukuran dimensi konstruksi selain
energy ke konsumen. Dalam menyalurkan
untuk pemenuhan syarat pendistribusian
tenaga listrik ke pusat beban, suatu sistem
daya, juga wajib memperhatikan syarat
distribusi harus disesuaikan dengan
ketahanan isolasi penghantar untuk
kondisi setempat dengan memperhatikan
keamanan pada tegangan 20 kv. Lingkup
faktor beban, lokasi beban, perkembang-
jaringan tegangan menengah pada sistem
an dimasa mendatang, keandalan serta
distribusi di Indonesia dimulai dari terminal
nilai ekonomisnya. Berdasarkan tegangan
keluar (out-going) pemutus tenaga dari
pengenalnya sistem jaringan distribusi
transformator penurun tegangan gardu
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
induk atau transformator penaik tegangan
1. Sistem jaringan tegangan primer atau pada pembangkit untuk sistem distribusi
jaringan tegangan menengah (JTM), skala kecil, hingga peralatan pemisah/
yaitu berupa saluran kabel tegangan proteksi sisi masuk (in-coming)
menengah (SKTM) dan saluran udara transformator distribusi 20 kV – 231/ 400
tegangan menengah (SUTM). V.
Jaringan ini menghubungkan sisi
sekunder trafo daya di gardu induk 2.3 Jaringan Tegangan Menengah
menuju ke gardu distribusi, besar
Konstruksi jaringan tenaga listrik
tegangan yang disalurkan adalah 6
tegangan menengah dapat dikelompokkan
kv, 12 kv atau 20 kv.
menjadi 3 macam konstruksi, yaitu :
2. Jaringan tegangan distribusi sekunder
1. Saluran Udara Tegangan Menengah
atau jaringan tegangan rendah (JTR),
(SUTM) adalah sebagai konstruksi
salurannya bisa berupa SKTM atau
termurah untuk penyaluran tenaga
SUTM yang menghubungkan gardu
listrik pada daya yang sama.
distribusi / sisi sekunder trafo
Konstruksi ini terbanyak digunakan
distribusi ke konsumen. Tegangan
untuk konsumen jaringan tegangan
sistem yang digunakan adalah 220
menengah yang digunakan di
volt dan 380 volt.
Indonesia. Ciri utama jaringan ini
Pada pendistribusian tenaga listrik ke adalah penggunaan penghantar
pengguna tenaga listrik di suatu kawasan, telanjang yang ditopang dengan
pengguna sistem tegangan menengah isolator pada tiang besi/beton.
sebagai jaringan utama adalah upaya Penggunaan penghantar telanjang
utama menghindarkan rugi-rugi penyalur- dengan sendirinya harus diperhatikan
an (losses) dengan kualitas persyaratan faktor yang terkait dengan
tegangan yang harus dipenuhi. keselamatan ketenagalistrikan seperti
Dengan ditetapkannya standar jarak aman minimum yang harus
tegangan menengah sebagai tegangan dipenuhi penghantar bertegangan 20
operasi yang digunakan di Indonesia kv tersebut antar fasa atau dengan
adalah 20 kv, konstruksi JTM wajib bangunan atau dengan tanaman atau

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 3


dengan jangkauan manusia.Termasuk langsung adalah termurah bila
dalam kelompok yang diklasifikasikan dibandingkan dengan penggunaan
SUTM adalah juga bila penghantar conduit atau bahkan tunneling
berisolasi setengah AAAC-S (All Alloy (terowongan beton).
Aluminium Conductor with XLPE
Penggunaan SKTM sebagai jaringan
Insulated). Penggunaan penghantar
utama pendistribusian tenaga listrik
ini tidak menjamin keamanan
adalah sebagai upaya utama peningkatan
terhadap tegangan sentuh. Saluran
kualitas pendistribusian. Penggunaan
Udara Tegangan Menengah (SUTM)
SKTM akan memperkecil resiko
dipersyaratkan akan tetapi untuk
kegagalan operasi akibat faktor eksternal/
mengurangi resiko gangguan
meningkatkan keamanan ketenaga-
temporer khususnya akibat sentuhan
listrikan. Selain lebih aman, namun
tanaman.
penggunaan SKTM lebih mahal untuk
2. Saluran Kabel Udara Tegangan penyaluran daya yang sama, sebagai
Menengah (SKUTM), untuk lebih akibat konstruksi isolasi penuh penghantar
meningkatkan keamanan dan per fase dan pelindung mekanis yang
keandalan penyaluran tenaga listrik, dipersyaratkan sesuai keamanan
penggunaan penghantar telanjang ketenagalistrikan.
atau penghantar berisolasi setengah Penerapan instalasi SKTM seringkali
pada konstruksi jaringan saluran tidak dapat lepas dari instalasi saluran
udara tegangan menengah 20 kv, udara tegangan menengah sebagai satu
dapat juga digantikan dengan kesatuan sistem distribusi sehingga
konstruksi penghantar berisolasi masalah tansisi konstruksi diantaranya
penuh yang dipilin. Isolasi penghantar tetap harus dijadikan perhatian.
tiap fase tidak perlu dilindungi dengan Konfigurasi (SKTM) sangat
pelindung mekanis. Berat kabel pilin menentukan mutu pelayanan yang akan
menjadi pertimbangan terhadap diperoleh khususnya mengenai
pemilihan kekuatan beban kerja tian kontinyuitas pelayanan. Pada dasarnya
beton penopangnya. konfigurasi saluran kabel tegangan
menengah terdiri dari 2 konfigurasi, yaitu :
a. Konfigurasi Radial
Suatu sistem disebut radial jika daya
yang disalurkan dari sumber ke konsumen
hanya dalam satu arah melayani beban
yang jauh dari penyulang utama,
ditambahkan saluran cabang karena daya
yang disalurkan hanya dalam satu arah
maka kerapatan arusnya berbeda-beda.
Daerah yang dekat gardu induk
Gambar 2. Saluran Kabel Udara mempunyai kerapatan arus yang bebeda.
Tegangan Menengah

3. Saluran Kabel Tegangan Menengah


(SKTM). Konstruksi SKTM adalah
konstruksi yang aman dan andal
untuk mendistribusikan tenaga listrik
tegangan menengah, tetapi relatif
lebih mahal untuk penyaluran daya
yang sama. Keadaan ini
dimungkinkan dengan konstruksi
isolasi penghantar per fase dan
pelindung mekanis yang
dipersyaratkan. Pada rentang biaya
yang diperlukan, konstruksi ditanam Gambar 3 Konfigurasi Jaringan Radial

4 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018


b. Konfigurasi Spindle
Secara keseluruhan dari beberapa
penyulang yang menghubungkan gardu
induk dan gardu hubung serta ditandai
dengan adanya penyulang “express”
merupakan kofigurasi spindle. Sistem
gardu distribusi ini terdapat disepanjang
saluran kerja dan terhubung secara seri.
Saluran kerja yang masuk ke gardu
dihubungkan oleh sakelar pemisah, Gambar 5. Void pada bagian dalam
sedangkan saluran yang keluar dari gardu isolasi kabel
dihubungkan oleh sebuah sakelar beban.
Sistem jaringan distribusi spindle sangat 1. Mekanisme Terjadinya Partial
cocok untuk memenuhi kebutuhan- Discharge
kebutuhan antara lain : Proses pembuatan pada isolator
diharapkan memberikan distribusi stress
elektrik secara merata dari elektroda
bertegangan. Hal tersebut sangat sulit
untuk dicapai karena dalam setiap
pembuatan bahan isolasi tetap
menghasilkan rongga didalamnya.
Mekanisme terjadinya partial discharge
salah satunya disebabkan oleh adanya
celah atau rongga pada bahan
isolasi.Pada bahan isolasi padat rongga
yang terdapat pada bahan isolasi tersebut
biasanya diisi oleh udara/gas yang
Gambar 4. Konfigurasi Jaringan Spindel mempunyai permeabilitas bahan lebih
rendah dari sekelilingnya. Mekanisme
2.4. Partial Discharge terjadinya partial discharge pada rongga
udara yang terdapat pada bahan isolasi ini
Partial discharge (peluahan parsial) terjadi efek kapasitansi secara sebagian.
adalah peristiwa pelepasan/loncatan Efek kapasitansi yang terjadi mempunyai
bunga api listrik yang terjadi pada suatu kekuatan bahan yang lebih rendah,
bagian isolasi (pada rongga dalam atau sehingga menyebabkan busur api. Busur
pada permukaan) sebagai akibat adanya api ini menandakan loncatan muatan pada
beda potensial yang tinggi dalam isolasi rongga tersebut. Selanjutnya busur api
tersebut. Partial discharge dapat terjadi akan teredam dan mulai melakukan
pada bahan isolasi padat, cair maupun pengisian muatan sampai menemukan
bahan isolasi gas. Partial discharge timbul rongga lagi untuk melepasnya kembali.
dalam rongga udara pada bahan isolasi Fenomena pelepasan muatan yang
listrik atau penghubung material (jointing singkat dan pengisian yang lama ini terjadi
atau terminasi). Lokasi terjadinya secara berulang separti ini disebut
discharge mungkin sama, tetapi sebagai peluahan sebagian (partial
magnitude dan jumlah pulsa yang di discharge). Apabila terjadi secara terus
hasilkannya bisa saja berbeda tergantung menerus maka akan dapat merusak
waktu, tegangan, temperatur, beban dan bahan isolasi.
kelembapan, serta adanya background
noise dapat mempengaruhi hasil 2. Pengaruh Pada Bahan Isolasi Padat
pendeteksian. Kuat arus pelepasan Ketika pada rongga mengalami
muatan sebagian ini tidak dibatasi melalui loncatan muatan, sisi yang saling
tahanan dalam dari sumber tegangan berhadapan pada rongga sesaat menjadi
melainkan dibatasi oleh isi muatan, anoda dan katoda. Pada saat itu terjadi
kapasitansi dan bagian efek muatan tumbukan pada anoda oleh electron yang
ruang. mempunyai energy yang cukup untuk

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 5


melepaskan ikatan kimia bahan isolasi.
Begitu pula terjadi pada katoda oleh ion
positif yang menyebabkan kerusakan
dengan meningkatnya temperature
permukaan dan ketidakstabilan suhu.
Aktivitas partial discharge dalam
bahan isolasi padat akan membentuk
beberapa pengaruh diantaranya adalah :
a. Pemohonan Elektrik, pohon-pohon
elektrik/listrik merupakan kondisi
Gambar 7. Pemohonan Air
kegagalan listrik pada suatu isolasi
bahan padat yang memiliki bentuk
struktur seperti pohon, dan tidak
III. METODOLOGI PENELITIAN
simetris bentuknya. Kondisi ini dapat
terjadi akibat adanya kontaminan 3.1. Penandaan Kabel
ataupun void pada suatu isolasi yang
dikenai tegangan, dimana void Penandaan pada kabel biasanya
tersebut gagal menahan medan listrik terletak pada permukaan selubung luar
yang berakibat struktur seperti pohon. kabel serta pada kemasan (drum). Pada
Kondisi ini paling sering terjadi pada permukaan selubung luar harus diberi
isolasi kabel bawah tanah, dimana hal tanda pengenal dengan cetak timbul yang
ini sangat berbahaya bagi jelas, tidak mudah terhapus, dengan jarak
kelangsungan isolasi kabel tersebut. antara tidak melebihi 50 cm. Penandaan
Semakin bertambahnya waktu maka tersebut antara lain berisi :
dapat menyebabkan perluasan area 1. Tanda standar SPLN 43.
dari pemohonan listrik ini, yang dapat 2. Tanda pengenal produsen.
mengakibatkan kegagalan isolasi. 3. Kode pengenal jenis kabel.
4. Jumlah inti dan luas penampang.
5. Tegangan pengenal.
6. Tanda Pengenal Badan Penguji.
Kabel tegangan menengah inti tiga
berisolasi XLPE menggunakan kode
pengenal jenis kabel (nomenklatur) seperti
tabel 1

Tabel 1. Kode pengenal jenis kabel

Gambar 6. Pemohonan Listrik Huruf


Komponen
Kode
b. Pemohonan Air, disebabkan oleh
Kabel jenis standar dengan
peresapan air yang proses sedang N
tembaga sebagai penghantar
menyebar keseluruh bagian melalui
lapisan pelindung isolasi. Pada isolasi Kabel jenis standar dengan
polietilena oleh peluahan elektrik NA alumunium sebagai
karena bahan polietilena penghantar
mengandung uap air dikenal sebagai
Isolasi XLPE (polietilen ikat
pemohonan air. Pemohonan air bisa 2X
silang)
menyebabkan suatu kerusakan
didalam bahan isolasi karena Penghantar konsentris pada
CE
merupakan gejala awal pemohonan masing-masing inti
elektrik yang bisa mempercepat
kegagalan. Y Selubung dalam PVC

2Y Selubung luar PE (polietilen)

6 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018


Y Selubung luar PVC c. Apabila terdapat bad jointing
dapat terlihat pada proses
Perisai kawat baja galvanis kalibrasi.
FGb
pipih d. Dengan melakukan kalibrasi
dapat ditentukan range partial
Perisai kawatbaja galvanis
RGb discharge terkecil mendekati
bulat
range noise di lapangan.
B Perisai pita baja galvanis 3. Measurement kabel
a. Proses ini bertujuan untuk
Penghantar dipilin bulat mendapatkan data PDIV dan
Cm
dipadatkan PDEV pada range tegangan yang
sudah ditentukan.
Penandaan kode pengenal b. PDIV: Partial discharge inception
dilengkapi dengan jumlah inti, luas voltage adalah tegangan dimana
penampang penghantar serta tegangan partial discharge pertama
pengenal Uo/U. Selubung luar kabel harus terdeteksi pada segment yang di
berwarna merah. Pada setiap kemasan kerjakan.
harus tercantum penandaan yang jelas, c. PDEV: Partial discharge
mudah dibaca dan tidak mudah terhapus. exception voltage adalah
Penandaan pada kemasan sekurang- tegangan dimana partial
kurangnya adalah : discharge terakhir muncul.
1. Nama standar SPLN 43 d. Jika PDIV diamati lebih rendah
2. Tanda Pengenal Produsen dari Uo maka selama operasi
3. Kode pengenal jenis kabel normal partial discharge aktif
4. Luas penampang penghantar dalam kabel.
5. Tegangan pengenal e. Jika PDIV hanya diatas tegangan
6. Panjang kabel dalam meter nominal dan PDEV lebih rendah
7. Arah gulungan dengan tanda anak dari tegangan nominal maka jika
panah terjadi tegangan lebih dalam
8. Berat bersih dan kotor (sebagai sistem kabel dapat memicu
informasi untuk transportasi) partial discharge dan partial
dischargeakan tetap aktif dalam
3.2 Pengujian Kabel sistem kabel walaupun tegangan
kembali normal.
Langkah-langkah pengujian kabel
f. Jika PDIV dan PDEV lebih tinggi
XLPE 20 kV
dari tegangan nominal, maka
1. Menentukan panjang kabel dan lokasi
partial discharge hanya akan
jointing
muncul ketika ada tegangan lebih
a. Proses ini sangat penting untuk
dalam sistem kabel. partial
dalam menentukan lokasi partial
discharge akan hilang ketika
discharge pada proses analisa.
tegangan sistem kembali ke
b. Dengan menggunakan TDR (time
tegangan nominal.
domain refelector), perbedaan
g. Pada measurement kabel terbagi
waktu antara pulsa pertama dan
menjadi 6 tahapan yaitu
refleksi tambahan dari joint dapat
measurement 0xUo, 0.5xUo,
di ukur / dapat di lihat.
0.7xUo, 1xU0, 1.5xUo, 1.7xUo
2. Kalibrasi
(dilakukan per fasa).
a. Kualitas kalibrasi sangat penting
h. Pada tahap 0xUo dapat dilihat
karena mempengaruhi keseluruh-
range noise di lapangan sehingga
an pengukuran partial discharge.
dapat di tentukan skala partial
b. Kalibrasi dilakukan untuk
discharge level terendah.
mengkalibrasi partial discharge
i. Pada tahap 0.5xUo sampai
dan kecepatan propagansi partial
1.7xUo menentukan nilai PDIV
discharge.
dan PDEV (nilai PDIV dan PDEV
tidak selalu ada).

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 7


Pada langkah-langkah tersebut (jointing) karena suhu udara, kelembaban
diatas, hal-hal yang perlu diperhatikan tanah, proses penyambungan yang
sebagai berikut : kurang baik, kualitas jointing yang kurang
1. Pengecekan nilai partial discharge baik maupun faktor lainnya.
pada tegangan 1.7xUo, apakah
tingkat partial discharge melebihi 4.1. Kegagalan Saluran Kabel Tegangan
standar pada tegangan 1.7xUo. Menengah
2. Pengecekkan nilai PDIV dan PDEV,
Kegagalan kabel SKTM yang dimana
apakah nilai PDIV dan PDEV kurang
kebanyakan berada pada aksesoris
dari Uo.
kabelbukan pada kabel, kegagalan ini
3. Melakukan PD mapping.
banyak terjadi pada sambungan kabel.
a. Apakah partial discharge terjadi
Sambungan kabel merupakan aksesoris
pada koneksi deteksi sistem
jenis sambungan kabel yang berfungsi
dengan sistem kabel.
untuk menyambungkan kembali kabel
b. Apakah partial discharge terjadi
yang terputus. Perlu adanya pemahaman
sepanjang sistem kabel atau
jenis kabel yang akan disambung untuk
pada jointing pada tegangan
menyesuaikan jenis/tipe sambungan yang
1xUo dan perhatikan nilainya.
diperlukan supaya lebih tepat. Memiliki
4. Pengecekkan lokasi dan nilai partial
berbagai macam bentuk atau tipe, jenis
discharge pada PD mapping.
dan ukuran mengikuti ukuran yang
5. Jika pada langkah 1 partial discharge
disesuaikan dengan kabel atau keperluan
melebihi standar maka dilanjutkan ke
yang akan dipakai. Tegangan Rendah
proses berikutnya.
(LV), Tegangan Menengah (MV),
6. Jika pada langkah 1 partial discharge
Tegangan Tinggi (HV), keterangan ini
tidak melebihi standar maka kabel
sangat diperlukan untuk menentukan jenis
dapat dikatakan baik.
aksesoris yang dipakai untuk menghindari
7. Jika nilai PDIV dan PDEV kurang dari
kesalahan pemasangan yang akan
Uo maka di lanjutkan ke langkah
mengakibatkan gangguan pada jaringan.
berikutnya.
Sambungan kabel seperti yang
8. Jika nilai PDIV dan PDEV tidak
diketahui adalah berfungsi untuk
kurang dari Uo maka kabel butuh
menyambung dua buah ujung kabel. Baik
perhatiaan
yang sejenis maupun tidak sejenis. Hal ini
9. Jika partial discharge terjadi pada
dilakukan karena beberapa alasan, antara
koneksi deteksi sistem dengan sistem
lain adalah karena keterbatasan panjang
kabel maka perlu pengecekkan
kabel, adanya gangguan pada kabel dan
terminasi indoor dan lanjutkan ke
perkembangan kawasan yang memaksa
langkah berikutnya.
kabel tersebut dipotong dan disambung
10. Jika partial discharge tidak terjadi
kembali untuk memenuhi perkembangan
pada koneksi deteksi sistem dengan
tadi. Prinsip dalam setiap sambungan
sistem kabel maka kabel buruk.
kabel adalah mengembalikan bentuk dan
11. Jika partial discharge terjadi
karakteristik ujung kabel menjadi sama
sepanjang sistem kabel maka pada
atau bahkan lebih baik dari kabel itu
tegangan Uo maka perlu perhatiaan
sendiri. Pada hal ini menggunakan sistem
kembali.
sambungan HEATSHRINK. Yaitu menciut
12. Jika partial dischargebanyak terjadi
bila dipanaskan pada suhu 1100 C
pada titik jointing maka perlu revisi
Ada beberapa alasan mengapa
jointing.
aksesoris dari kabel yang lebih rentan
mengalami kegagalan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Mengalami tekanan mekanik dan
thermal lebih tinggi.
Dampak dari tingginya gangguan
2. Dilakukan penyambungan dilapangan
pada kabel 20 kV yang disebabkan oleh
sehingga sangat tinggi kemungkinan
beberapa faktor diantaranya kerusakan
terdapat kecacatan.
yang terjadi pada sambungan kabel

8 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018


3. Tidak dilakukan pengetesan 3. Human Handling (Penanganan
ketahanan seperti yang dilakukan Manusia)
pada kabel baru.
Saat penyambungan antar kabel yang
4. Kualitas dari hasil penyambungan
dilakukan dilapangan dapat menyebabkan
berdasarkan dari kemampuan dan
kegagalan kabel, hal ini disebabkan
pengalaman pekerja dilapangan.
adanya benda asing (debu atau kotoran)
Gangguan dapat terjadi karena yang menempel didalam sambungan
kerusakan mekanis akibat pekerjaan- kabel.
pekerjaan (penggalian) di dekat lintasan Kerusakan pada sambungan kabel ini
kabel. Hal ini dapat segera menimbulkan terjadi dikarenakan adanya timbul partial
gangguan, tetapi jika kerusakannya discharge (PD), timbulnya partial
sedikit, gangguan dapat terjadi beberapa discharge dikarenakan adanya void yaitu
bulan kemudian. Masuknya kelembaban rongga udara dalam bahan isolasi listrik
ke dalam kabel adalah alasan utama atau penghubung material (jointing atau
untuk gangguan jenis ini. terminasi). Lokasi terjadinya partial
Alasan-alasan lain yang menjadi discharge mungkin sama, tetapi
rusaknya sambungan kabel yaitu sebagai magnitude dan jumlah pulsa yang
berikut: dihasilkan bisa saja berbeda tergantung
waktu, tegangan, temperature, beban dan
1. Operational Stresses (Tekanan
kelembaban, serta adanya background
Operasional)
noise dapat mempengaruhi hasil
Pada sistem kabel beban selalu pendeteksi.
berubah-ubah yang menyebabkan Apabila arus yang mengalir melalui
perubahan suhu dan hasil dari bergeser kabel dengan sambungan yang tidak
(transversal strengths) pada sistem kabel. kencang atau tidak sesuai dengan standar
Hasil dari tekanan axial pada sambungan perancangan maka sambungan ini akan
kabel, aksesoris dapat bergeser dan menimbulkan panas yang berlebih
menyebabkan meningkatnya tekanan dikarenakan ada celah pada sambungan
didalam kabel. Kemungkinan dapat terjadi kabel, hal ini akan menimbulkan partial
pada instalasi joint kabel. Dan juga discharge. Jika hal ini dibiarkan secara
perubahan beban dan arus hubung terus menerus akan mengakibatkan
singkat didalam sistem kabel dapat kerusakan atau terbakarnya sambungan
menyebabkan tekanan mekanik pada kabel, sehingga kondisi ini perlu
konektor pada joint kabel. Jika kabel diperhatikan ketika melakukan
mengalami tekanan mekanik dapat pemasangan atau penyambungan kabel,
menyebabkan penurunan kemampuan dimana harus dipasang serapat mungkin
dari konektor di joint kabel, hal ini akan untuk menghindari adanya rongga udara
meningkatkan suhu pada kabel. (void). Sedangkan apabila kondisi
2. Environmental Stresses (Tekanan sambungan kabel sudah rusak akibat
Lingkungan) partial discharge maka perlu dilakukan
pergantian sambungan.
Kondisi lingkungan sangat
mempengaruhi kondisi kabel yang dapat Tabel 2 Status kondisi dan resiko terhadap
menyebabkan gangguan kabel. pelepasan muatan dan tegangan
Kelembaban tanah, tanah yang berpolusi Resiko
dan tekanan pada tanah merupakan No. Point kegagalan Status Warna
kabel
beberapa contoh dari tekanan lingkungan. Sangat
Jika kabel berada di tanah yang lembab 1. 6 Sangat tinggi
buruk
dapat menyebabkan tekanan mekanik 2. 5 Tinggi Buruk
Cukup
pada kabel tersebut. Hal ini dapat 3. 4 Waspada
buruk
menyebabkan kerusakan pada pelindung Cukup
4. 3 Rendah
dari air dan menyebabkan penurunan dari baik
Sangant
kualitas isolasi. 5. 2
rendah
Baik

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 9


4.2 Data Hasil Pengujian Kabel Tabel 5 Hasil pengujian kabel pada penyulang
debur B 329 sampai B 162
Tabel 3 Jumlah Gangguan SKTM Pada L1 L2 L3
Sistem Jointing Bulan Januari-Desember 2016
Groundnoise [Pc] 89 96 94
Jumlah Jumlah
No. Bulan
Gangguan
No. Bulan
Gangguan
PDIV [KV RMS] - - -
1. Januari 4 7. Juli 5 PDEV [KV RMS] 8.3 - -
2. Februari 4 8. Agustus 4 PDmax [pc]
3. Maret 10 9. September 5 - - -
4. April 5 10. Oktober 9 (PDIV)
5. Mei 5 11. November 5 PDavg [pc] (PDIV) - - -
6. Juni 6 12. Desember 10
Total 72 PDmax [pc] (Uo) 235 232 13
PDavg [pc] (Uo) 158 121 83
PDmax [pc]
Berdasarkan data gangguan (1.7xUo)
12494 21952 11949
sambungan kabel merupakan salah satu PDavg [pc]
7959 11168 8944
gangguan yang sering terjadi setiap bulan (1.7xUo)
pada jaringan tegangan menengah PDmax [pc]
- - -
diamati sebanyak 72 kali gangguan (2xUo)
selama bulan Januari-Desember 2016. PDavg [pc] (2xUo) - - -
Capacitance [uF] 0.272 0.272 0.272
Tabel 4 Hasil pengujian kabel pada penyulang Frequency [Hz] 353.98 353.98 353.98
debur B 329 sampai B 162 Diel. Losses 1.4% 1.5% 1.4%

B 329 MG kuning
B 162 Fluomatic Parameter partial discharge pada tabel 5

L1,L2,L3 : 1. PDIV (Partial Discharge Inception


Panjang Kabel : 220 m Voltage) adalah tegangan dimana
partial discharge pertama terdeteksi
Letak Joint Joint ke Jenis Kabel pada komponen tersebut.
59 m 1 XLPE 2. PDEV (Partial Discharge Exception
91 m 2 XLPE Voltage) adalah tegangan dimana
120 m 3 XLPE partial discharge tidak ada.
156 m 4 XLPE 3. PDmax at PDIV yaitu maksimum
190 m 5 XLPE partial discharge magnitude/level
yang terjadi saat PDIV.
Hasil pengujian penyulang Debur B 4. PDavg at PDIV yaitu rata-rata partial
329 sampai B162 pada tabel 4.3 sebagai discharge magnitude/ level yang
berikut : terjadi pada saat PDIV.
1. Kabel yang digunakan adalah kabel 5. PDmax at Uo yaitu maksimum partial
jenis isolasi XLPE, panjang kabel discharge magnitude/level yang
yang digunakan adalah 220 meter. terjadi saat tegangan nominal (Uo).
2. Jointing yang digunakan sebanyak 5 6. PDavg at Uo yaitu rata-rata partial
buah, letak jointing pertama (1) ada discharge magnitude/level yang
pada jarak 59 meter, jointing kedua terjadi saat tegangan nominal (Uo).
(2) ada pada jarak 91 meter, jointing 7. PDmax at 1.7xUo yaitu maksimum
ketiga (3) ada pada jarak 120 meter, partial discharge magnitude/ level
jointing keempat (4) ada pada jarak yang terjadi saat tegangan 1.7xUo.
156 meter, dan jointing kelima (5) 8. PDavg at 1.7xUo yaitu rata-rata partial
terletak pada jarak 190 meter. discharge magnitude/ level yang
3. Tegangan nominal pada kabel adalah terjadi saat tegangan 1.7xUo.
20 9. PDaccurence yaitu banyaknya partial
(RMS) = 11.50 kV. discharge yang terjadi.
√3
10. Dielectrical Losses adalah rugi-rugi
dielectricel pada kabel

10 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018


Gambar 8 Grafik letak lokasi partial discharge pada penyulang debur
B 329 sampai B 162

Keterangan gambar 8 2. Hasil pengujian pada phasa 2 (L2) :


L1 : phasa 1 kabel XLPE (warna merah) a. Ground Noise yang terdeteksi
L2 : phasa 2 kabel XLPE (warna kuning) sebesar 96 pC.
L3 : phasa 3 kabel XLPE (warna biru) b. PDmax at Uo terdeteksi sebesar
Penyulang : Debur B 329 sampai B 162 232 pC dibawah 500 pC (baik).
Kubikel : MG Kuning dan Floumatic c. PDavg at Uo terdeteksi sebesar
Uo : tegangan nominal pada kabel 121 pC dibawah 500 pC (baik).
d. PDmax at 1.7 x Uo terdeteksi
Analisa dari hasil pengujian sebesar 21.952 pC diatas 1000
penyulang Debur B 329 sampai B162 pC (buruk).
pada tabel 5 dan gambar 8 sebagai e. PDavg at 1.7 x Uo terdeteksi
berikut : sebesar 11.168 pC diatas 1000
1. Hasil pengujian pada phasa 1 (L1) : pC (buruk).
a. Ground Noise yang terdeteksi f. Dielectrical losses terdeteksi
sebesar 89 pC. sebesar 1.5%
b. PDEV yang dihasilkan sebesar 3. Hasil pengujian pada phasa 3 (L3) :
8.3 kv dibawah tegangan a. Ground Noise yang terdeteksi
nominal, kondisi kabel buruk. sebesar 94 pC
c. PDmax at Uo terdeteksi sebesar b. PDmax at Uo terdeteksi sebesar
235 pC dibawah 500 pc (baik). 113 pC dibawah 500 pC (baik).
d. PDavg at Uo terdeteksi sebesar c. PDavg at Uo terdeteksi sebesar
158 pC dibawah 500 pc (baik). 83 pC dibawah 500 pC (baik).
e. PDmax at 1.7 x Uo terdeteksi d. PDmax at 1.7 x Uo terdeteksi
sebesar 12.494 pC diatas 1000 sebesar 11.949 pC diatas 1000
pC (buruk). pC (buruk).
f. PDavg at 1.7 x Uo terdeteksi e. PDavg at 1.7 x Uo terdeteksi
sebesar 7959 pC diatas 1000 pC sebesar 8944 pc diatas 1000 pC
(buruk). (buruk).
g. Dielectrical losses terdeteksi f. Dielectrical losses terdeteksi
sebesar 1.4% sebesar 1.4%

Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018 | 11


4. Letak kondisi kabel yang buruk ada V. KESIMPULAN
pada jarak 59 sampai 91 m dan 190
sampai 220 m. 1. Penyebab terjadinya kerusakan pada
5. Dari hasil pengujian penyulang Debur saluran kabel tegangan menengah
B 329 sampai B 162 yaitu pada phasa pada sistem jointing yaitu, mengalami
1, phasa 2, dan phasa 3 mempunyai tekanan mekanik dan thermal lebih
kapasitansi sebesar 0.272 µF dan tinggi, dilakukan penyambungan
frequensi sebesar 353.98 Hz. Sesuai dilapangan sehingga sangat tinggi
tabel 4.2 masuk dalam point 6, kemungkinan terdapat kecacatan dan
keadaan sangat buruk, akibatnya tidak dilakukan pengetesan
resiko kegagalan kabel sangat tinggi. ketahanan seperti yang dilakukan
6. Setelah dilakukan pengujian maka pada kabel baru.
dapat memberikan informasi tentang 2. Dari hasil pengujian kabel pada
kondisi kabel, Karena diketahui penyulang Debur B 329 sampai B
kondisi kabel sangat buruk, maka 162, kondisi kabel tersebut dalam
dilakukanlah penggantian kabel. kondisi sangat buruk, akibatnya resiko
Setelah dilakukan penggantian, kegagalan kabel sangat tinggi karena
sistem dapat di operasikan kembali partial discharge yang terdeteksi
seperti semula. Apabila berfungsi dibawah tegangan nominal (11.50 kV)
dengan baik, maka tidak perlu yaitu sebesar 8.3 kV.
pengetesan ulang. 3. Besar muatan partial discharge yang
terdeteksi melebihi 1000 pC yaitu
Tabel 6 Status Kondisi Kabel Pada Penyulang pada phasa 1 sebesar 12.494 pC,
Debur B 329 sampai B 16 (Kategori Sumbu X) phasa 2 sebesar 21.952 pC, dan
Kategori phasa 3 sebesar 11.949 pC.
No. Symbol Status Point
sumbu X
PD muncul
dibawah DAFTAR PUSTAKA
1. X < Uo Buruk 3
tegangan
nominal
PD muncul 1. Syamsir Abduh, 2013,“Kabel Bawah
diatas Tanah, Gangguan Kabel Bawah
tegangan Tanah, Sambungan Kabel”
nominal Uo < X < Cukup 2. PT PLN (Persero), 2010,“Buku 5
2. 2
dan 20 kv buruk
dibawah Standar Konstruksi Jaringan
tegangan Tegangan Menengah Tenaga Listrik”
20 kv 3. PT PLN (Persero), 2010, “Buku 4
PD muncul Standar Konstruksi Gardu Distribusi
diatas Dan Gardu Hubung Tenaga Listrik”
3. 20 kv < X Baik 1
tegangan
20 kv 4. Pungkie Oktharia Hermawan, 2012,
“Analisis Partial Discharge Pada
Tabel 7 Status Kondisi Kabel Pada Penyulang Pengujian Kabel XLPE Tegangan
Debur B 329 sampai B 162 Menengah Satu Inti Dan Tiga Inti”,
(Kategori Sumbu Y) Skripsi, Fakultas Teknik Univesitas
Indonesia Departemen Teknik Elektro
Kategori
No.
sumbu Y
Symbol Status Point 5. Wahyudi SN, 2014. “Teori Tentang
Jaringan Distribusi, Gardu Distribusi,
Besar muatan
1 PD diatas
Y > 1000
Buruk 3
Dasar-Dasar Listrik”
pC
1000 pC.
Besar muatan
500 pC <
PD diantara Cukup
2. Y < 1000 2
500 pC sampai buruk
pC
1000 pC.
Besar muatan
Y < 500
3. PD dibwah Baik 1
pC
dari 500 Pc

12 | Jurnal Sutet Vol. 8 No.1 Januari - Juni 2018

Anda mungkin juga menyukai