Anda di halaman 1dari 5

NAMA : Adha Irhamna Maladi

NIM : 4518091026

BEHAVIOR TALLYING DAN CHARTING

A. Behavior Tallying

Dalam penggunaan teknik pencatatan behavior tallyng perlu dipahami secara


mendalam jenis tingkah laku yang akan diamati. Tingkah laku sebagai target behavior
pada dasarnya dapat dipisahkan ke dalam 2 unit analisis, sebagai berikut :

1. Tingkah laku yang diskrit, yaitu tingkah laku yang dapat dihitung atau tingkah laku
yang dengan segera dapat diidentifikasi mulai dan selesainya. Misalnya,
menendang bola, memukul, melempar ke tempat sampah, dan menginterupsi
prkataan orang lain. Tingkah laku seperti yang disebutkan dicatat dalam bentuk
frekuensi, berapa kali tingkah laku muncul, maka kemudian di-tally.
2. Tingkah laku nondiskrit, yaitu tingkah laku yang yang sulit dimasukkan dalam unit
yang diskrit karena sulit ditentukan awal dan akhirnya dari perilaku tersebut untuk
diukur dalam satuan hitungan. Misalnya, menangis, berjalan di ruangan, duduk di
latai, mendengarkan musik, dan melihat keluar jendela. Tingkah laku ini seperti
dicatat dalam durasi berapa lama tingkah laku itu terjadi sepanjang pengamatan.

Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan dari keduanya dapat dilihat dari
contoh berikut :

Contoh pencatatan dengan frekuensi

Nama :A

Tingkah laku : Memukul kepada anak lain


Hari Tally Total
1 7 8
2 10 12
3 8 9
4 10 12
5 5 6
Rata-rata per hari 9,4 memukul

Contoh pencatatan dengan durasi

Nama :B

Tingah laku : Berjalan-jalan di ruang kelas

Hari Waktu Jumlah (menit)


1 09.50 – 09.22
09.27 – 09.30 39
14.03 – 14.10
14.18 – 14.30
2 09.00 – 09.30
14.10 – 14.21 43
14.28 – 14.30
3 09.00 – 09.30 48
14.00 – 14.18
Rata-rata 43,3 menit/hari

Kedua tingkah laku tersebut, baik yang dicatat dengan frekuensi atau durasi
berguna untuk menetukan atau mengukur baseline dari suatu perilaku yang tidak
diharapkan sebelum dibuat program terapi untuk mengubah tingkah laku yang tidak
diharpkan tersebut. Tujuannya adalah untuk bisa mengubah tingkah laku yang tidak
diharapkan. Dalam hal ini teknik pencatatan behavior tallyng dapat digunakan untuk
memperoleh tujuan yang dimaksudkan.
Misalnya, apabila ada perilaku negatif dan berlebihan yang tidak sesuai denga
usianya atau tahapan perkembangannya, maka denga diketahui baseline-nya dapat
disusun program treatment guna mengurangi munculnya tingkah laku yang tidak
diharapkan tersebut. Dana apabila perilaku yang diharapkan muncul di usia tertentu atau
tahap perkembangan tertentu ternyata tidak muncul, maka dengan diketahui baseline-
nya dapat disusun program treatment guna meningkatkan pemunculan tingkah laku
yang diharapkan tersebut. Setelah treatment kemudian diukur lagi yang tidak
diharapkan tersebut, kemudian dibandingkan dengan keadaan baseline, apakah terjadi
perubahan yang diharapkan atau tidak.

Behavior tallyng merupakan teknik pencatatan yang bersifat closed method, di


mana tidak ada data mentah untuk data yang telah diamati. Namun, sudah merupakan
data yang sudah jadi hasil dari pengamatan observer. Hampir semua pendekatan
kuantitatif bersifat closed method, sehingga perlu digabung dengan teknik lain yang
berupa narasi sehingga data lebih komprehensif.

Keuntungan pencatatan behavior tallyng

1. Suatu pengukuran kuantitatif sebagai strategi dasar untuk mengetahui adanya


perubahan tingkah laku yang di observasi.
2. Cara pegerjaannya cepat, observer tidak perlu secara terperinci melakukan
pencatatan, hanya me-tally saja perilaku yang muncul.
3. Mengukur frekuensi terjadinya tingkah laku secara objektif.

Kelemahan pencatatan behavior tallyng

1. Data mentah hilang, tidak ada pencatatan secara detail mengenai tingkah laku yang
terjadi.
2. Hanya dapat mengukur satu jenis tingkah laku saja, sehingga hasilnya sangat
spesifik.
3. Mesih memungkinkan terjadinya bias dalam proses pencatatannya.
B. Charting atau Graphing

Pada dasarnya charting atau graphing merupakan perluasan dari bentuk teknik behavior
tallying yang model pencatatannya dalam bentuk diagram atau grafis.

Chart Title
100%
80% Series 3
Series 2
60%
Series 1
Axis Title 40%
20%
0%
Category 1 1

maaf saya lupa bagaimana cara kerjanya mohon diperbaiki kalau ada yang tau

12

10

8 Column1
Column2
6
Column3
4 Column4
Column5
2

0
1 2 3 4 5 6

Charting akan memudahkan observer dalam menginterpretasi data yang


diperoleh menggunakan pencatatan behavior tallying. Selain itu, orang akan lebih
mudah membaca data yang ditampilkan melalui grafik atau diagram dibandingkan
dalam bentuk tabel

C. Sistematika Laporan Behavior Tallying dan Charting


Secara umum tidak ada format khusus untuk melaporkan pengambilan data
menggunakan teknik pencatatan ini. Hanya menurut hemat penulis, di bawah ini
merupakan contoh sistematika laporan untuk teknik pencatatan behavior tallying dan
charting.

1. Latar belakang
2. Landasan teoretis
3. Perancangan
a. Tujuan
b. Definisi Operasional Tingkah laku yang akan diobservasi
c. Teknik pengambilan data
1) Subjek
2) Setting (waktu dan tempat)
3) Sampling data (data apa dan bagaimana pengambilannya)
4) Prosedur pelaksanaan (teknis mengenai cara pengambilan data)
5) Pengolahan datanya
4. Hasil dan pembahasan
5. Kesimpulan