Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN KARSINOMA

Oleh:

DISUSUN OLEH TK. 2.B:

Ni KAdek Tika Diyanti (P07120219072)

Kadek Melinda Sukmadewi (P07120219073)

Kadek Fransiska Sintya Dewi (P07120219074)

Kadek Ena Ardiyanti (P07120219075)

Ni Made Winda Permatasari (P07120219076)

Ni Luh Putu Marsela Dewi ( P07120219077)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PRODI DIV KEPERAWATAN
TAHUN 2020

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN KARSINOMA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang
disebut lesi prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab
utama kanker leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Saat
ini terdapat 138 jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi yang 40 di
antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Beberapa tipe HPV virus
risiko rendah jarang menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang lain bersifat
virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat
menyebabkan pertumbuhan abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya
HPV tipe risiko tinggi yang dapat memicu kanker. Virus HPV risiko tinggi
yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 7,16, 18, 31, 33,
35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan mungkin masih terdapat beberapa
tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90%
kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Yang membedakan antara
HPV risiko tinggi dengan HPV risiko rendah adalah satu asam amino saja.
Asam amino tersebut adalah aspartat pada HPV risiko tinggi dan glisin pada
HPV risiko rendah dan sedang (Gastout et al, 1996).
Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker
leher rahim. Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki resiko
kemungkinan terkena kanker leher rahim sebesar 5%. Dinyatakan pula bahwa
tidak terdapat perbedaan probabilitas terjadinya kanker serviks pada infeksi
HPV-16 dan infeksi HPV-18 baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan
(Bosch et al, 2002). Akan tetapi sifat onkogenik HPV-18 lebih tinggi daripada
HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana transformasi HPV-18 adalah
5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16.

2. Penyebab/Faktor Predisposisi

Etiologi kanker servik idiopatik atau belum diketahuipasti, namun ada


beberapa faktor resiko dan faktor predisposisi yang menonjolyaitu:
a. Umur
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual. penelitian
menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan
seksual maka semakin besar kemungkinan mendapat kanker servik.
Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
b. Jumlah Kehamilan danPartus
Kanker servik dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin
sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat kanker
servik
c. JumlahPerkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti
pasangan mempunyai faktor resiko yang sangat besar terhadap kanker
serviks
d. InfeksiVirus
HPV adalah virus penyebab kutil genitalis yang ditularkan melalui
hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16,
18, 45, dan 46. Penyebab lainnya yaitu terdapatnya virus Virus herpes
simplex Sito megalo virus
e. Sosialekonomi
Kanker servik banyak dijumpai pada golongan social ekonomi rendah.
Mungkin faktor social ekonomi erat kaitannnya dengan gizi,
imunitas, dan kebersihan perorangan. Pada golongan sosial ekonomi
rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang. Hal ini
mempengaruhi imunitas tubuh.
f. Hygine danSirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita
yang pasangannya belum disirkumsisi hal ini karena pada pria non
sirkumsisi higine penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-
kumpulansmegma.
g. Merokok dan AKDR ( Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Merokok akan Merangsang terbentuknya sel kanker sedangkan
pemakaian AKDR akan terpengaruh terhadap servik yaitu bermula
dari adanya erosi servik yang kemudian menjadi infeksi yang berupa
radang yang terus menerus. Hal ini dapat sebagai pencetus
terbentuknya kanker serviks. ( yatim,faisal, 2005 )

3. Pathway

Virus HPV Virus herpes simplex Faktor-faktor resiko


Sito megalo virus

Ca Cerviks

Pendarahan Pengobatan Luka

Psikologis
- Hipovolemi Eksternal radiasi Bau busuk

- Anemia
Kurang
pengetahuan Bau busuk Nyeri
Kelelahan
akut

Intoleransi Gangguan
Ansietas Citra Tubuh
aktivitas

Kulit merah, Depresi sumsum Mulut kering


kering tulang stomatitis

Resiko gangguan Hb
kerusakan
integritas kulit Anemia

Sel kurang O2

Gastrointestin kurang O2

Hipovolemia Mual, muntah

Defisit Nutrisi
4. Klasifikasi
Klasifikasi dari Ca. Serviks (FIGO,1978)
a. Stadium0 : Karsinoma intraepithelial. Stadium ini tidak
dimasukkan kedalam statistic terapeutikuntukkarsinomainvasive.
b. StadiumI : karsinoma terbatas padaserviks
c. StadiumIa : karsinoma invasive hanya ditemukan
secaramikroskopik
d. StadiumIb : lesi infasif > 5mm
e. StadiumIb1 : lesi klinis berukuran <4mm
f. Stadium Ib2 : lesi klinis >4mm
g. Stadium II : karsinoma meluas melampaui serviks, tetapi
belum meluas pada dinding panggul, karsinoma melibatkan vagina
tetapi tidak sampai 1/3 bagianbawah
h. StadiumIIa: mengenai vagina tetapi tidak jelas mengenaiparametrium
i. StadiumIIb: jelas sampai ke parametrium, tetapi belum sampai
kedindingpanggul
j. StadiumIII : karsinoma keluar sampai dinding
panggul, tumormencapai1/3 bawahvagina
k. StadiumIIIa :tidakmencapaidindingpanggultapi1/3bawahvagina
terkena
l. StadiumIIIb : perluasan ke dinding panggul atau
hidronefrosis atau ginjal tidakberfungsi.
m. StadiumIV : proses keganasan telah keluar dari dinding panggul kecil
dan melibatkan mukosa rectum dan atau vesika urinaria atau telah
bermetastase keluar panggul atau ketempat yang jauh.
n. StadiumIVa : penyebaran sampai organdidekatnya
o. StadiumIVb : telah bermetastase jauh.

5. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda dini kanker serviks kebanyakan tidak menimbulkan gejala. Akan
tetapi, dalam perjalanannya akan menimbulkan gejala seperti:
a. Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis
jaringan.
b. Perdarahan yang terjadi diluar senggama (tingkat II dan III)
c. Perdarahan yang dialami segera setelah senggama (75-80%)
d. Perdarahan spontan saat defekasi
e. Perdarahan spontan pervaginam
Pada tahap lanjut keluhan berupa:
a. Cairan pervaginam berbau busuk
b. Nyeri panggul
c. Nyeri pinggang dan pinggul
d. Sering berkemih
e. Buang air kecil atau besar yang sakit
f. Gejala penyakit yang redidif
g. Anemi akibat perdarahan berulang
h. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sitologi
Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes papanicolaous (tes
PAP)sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat
ketelitiannyamelebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah
cara Skriningsel - sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk
kemudiandiseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.
b. Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan
kolposkopi,suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop
bertenagarendah dengan sumber cahaya didalamnya ( pembesaran 6 -
40 kali ).Kalau pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel -
sel yangmengalami eksfoliasi, maka kolposkopi menilai perubahan
pola epiteldan vascular serviks yang mencerminkan perubahan
biokimia danperubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks.
c. Biopsi
Biopsi dilakukan didaerah abnormal jika SSP (sistem saraf
pusat)terlihat seluruhnya dengan kolposkopi. Jika SSP tidak
terlihatseluruhnya atau hanya terlihat sebagian kelainan didalam
kanalisserviskalis tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil
secarakonisasi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsy
harustajam sehingga harus diawetkan dalam larutan formalin 10%.
d. Konisasi
Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan
servikssedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut
(konus),dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk
tujuandiagnostik, tindakan konisasi selalu dilanjutkan dengan kuretase.
Batasjaringan yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan
kolposkopi.Jika karena suatu hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat
dilakukan,dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini digunakan
pewarnaan denganlarutan lugol (yodium 5g, kalium yodida 10g, air
100ml) dan eksisidilakukan diluar daerah dengan tes positif (daerah
yang tidak berwarnaoleh larutan lugol). Konikasi diagnostik dilakukan
pada keadaan -keadaan sebagai berikut :
1. Proses dicurigai berada di endoserviks.
2. Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
3. Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar specimen biopsy.
4. Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik.
e. Tes Schiller Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan
yodium. Pada serviks normal akan membentuk bayangan yang terjadi
pada sel epitel serviks karena adanya glikogen. Sedangkan pada sel
epitel serviks yang mengandung kanker akan menunjukkan warna
yang tidak berubah karena tidak ada glikogen (Prayetni, 1997).
f. Radiologi
a) Pelvik limphangiografiya
Dapatmenunjukkan adanya gangguan pada saluran pelvik atau
peroartik limfe.
b) Pemeriksaan intravena urografi
Dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut, yang dapat
menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal. Pemeriksaan
radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih
dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP),
enema barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging
(MRI) atau scan CT abdomen / pelvis digunakan untuk menilai
penyebaran lokal dari tumor dan / atau terkenanya nodus limpa
regional.

7. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan pada stadium awal, dapat dilakukan operasi sedangkanstadium
lanjut hanya dengan pengobatan dan penyinaran. Tolak ukurkeberhasilan
pengobatan yang biasa digunakan adalah angka harapanhidup 5 tahun.
Harapan hidup 5 tahun sangat tergantung dari stadiumatau derajatnya
beberapa peneliti menyebutkan bahwa angka harapanhidup untuk kanker leher
rahim akan menurun dengan stadium yang lebihlanjut.
Pada penderita kanker leher rahim ini juga mendapatkan sitistatika
dalam ginekologi.Penggolongan obat sitostatika antara lain :
a. Golongan yang terdiri atas obat - obatan yang mematikan semua sel
pada siklus termasuk obat - obatan non spesifik.
b. Golongan obat - obatan yang memastikan pada fase tertentu darimana
proliferasi termasuk obat fase spesifik.
c. Golongan obat yang merusak sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel
lebih besar, termasuk obat - obatan siklus spesifik.

8. Komplikasi
Komplikasi berkaitan dengan intervensi pembedahan sudah sangat
menurun yang berhubungan dengan peningkatan teknik-teknik
pembedahan tersebut. Komplikasi tersebut meliputi: fistula uretra, disfungsi
kandung kemih, emboli pulmonal, limfosit, infeksi pelvis, obstruksi usus besar
dan fistula rektovaginal.
Komplikasi yang dialami segera saat terapi radiasi adalah reaksi kulit,
sistitis radiasi dan enteritis. Komplikasi berkaitan pada kemoterapi tergantung
pada kombinasi obat yang digunakan. Masalah efek samping yang sering
terjadi adalah supresi sumsum tulang, mual dan muntah karena penggunaan
kemoterapi yang mengandung sisplatin. ( Gale Danielle, 2000
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
b. Riwayat keluarga
c. Status kesehatan:
 Status kesehatan saat ini
 Status kesehatan masa lalu
 Riwayat penyakit keluarga
d. Pola fungsi kesehatan Gordon
a) Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
Kanker serviks dapat diakibatkan oleh higiene yang
kurang baik pada daerah kewanitaan. Kebiasaan
menggunakan bahan pembersih vagina yang
mengandung zat – zat kimia juga dapat mempengaruhi
terjadinya kanker serviks.
b) Pola istirahat dan tidur.
Pola istirahat dan tidur pasien dapat terganggu akibat
dari nyeri akibat progresivitas dari kanker serviks
ataupun karena gangguan pada saat
kehamilan.gangguan pola tidur juga dapat terjadi akibat
dari depresi yang dialami oleh ibu.
c) Pola eliminasi
Dapat terjadi inkontinensia urine akibat dari uterus
yang menekan kandung kemih. Dapat pula terjadi
disuria serta hematuria. Selain itu biisa juga terjadi
inkontinensia alvi akibat dari peningkatan tekanan otot
abdominal
d) Pola nutrisi dan metabolik
Asupan nutrisi pada Ibu dengan kanker serviks harus
banyak. Kaji jenis makanan yang biasa dimakan oleh
Ibu serta pantau berat badan Ibu . Kanker serviks pada
Ibu yang sedang hamil juga dapat mengganggu dari
perkembangan janin.
e) Pola kognitif – perseptual
Pada Ibu dengan kanker serviks biasanya terjadi
gangguan pada pada panca indra meliputi penglihatan,
pendengaran, penciuman, perabaan, pengecap. Bila
sudah metastase ke organ tubuh
f) Pola persepsi dan konsep diri
Pasien kadang merasa malu terhadap orang sekitar
karena mempunyai penyakit kanker serviks, akibat dari
persepsi yang salah dari masyarakat. Dimana salah satu
etiologi dari kanker serviks adalah akibat dari sering
berganti – ganti pasangan seksual.
g) Pola aktivitas dan latihan.
Kaji apakah penyakit mempengaruhi pola aktivitas dan
latihan. Dengan skor kemampuan perawatan diri (0=
mandiri, 1= alat bantu, 2= dibantu orang lain, 3=
dibantu orang lain dan alat, 4= tergantung total).
h) Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah terdapat perubahan pola seksulitas dan
reproduksi pasien selama pasien menderita penyakit
ini. Pada pola seksualitas pasien akan terganggu akibat
dari rasa nyeri yang selalu dirasakan (dispareuni) serta
adanya perdarahan setelah berhubungan. Serta keluar
cairan encer (keputihan) yang berbau busuk dari
vagina.
i) Pola manajemen koping stress
Kaji bagaimana pasien mengatasi masalah-masalahnya.
Bagaimana manajemen koping pasien. Apakah pasien
dapat menerima kondisinya setelah sakit.
j)  Pola peran – hubungan
Bagaimana pola peran hubungan pasien dengan
keluarga atau lingkungan sekitarnya. Apakah penyakit
ini dapat mempengaruhi pola peran dan hubungannya.
k)  Pola keyakinan dan nilai
Kaji apakah penyakit pasien mempengaruhi pola
keyakinan dan nilai yang diyakini.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Defisit nutrisi berhubungan dengan kurang asupan makanan
b. Ansietas berhubungan dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi :
kurang pengetahuan
c. Risiko gangguan kerusakan integritas kulit dibuktikan dengan
terapi radiasi
d. Risiko infeksi ditandai dengan imunosupresi
e. Nyeri akut berhubungan dengan trauma
f. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
g. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan Penyakit
h. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak

3.Rencana Keperawatan
N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (SIKI) Rasional
O (SDKI) Hasil (SLKI)
1. Defisit Setelah diberikan Managemen Nutrisi 1. Mengidentifikasi status
Nutrisi
asuhan keperawatan (I. 03119) nutrisi
selama x jam Observasi 2.Mengidentifikasi alergi
diharpakan : 1. Identifikasi status dan intolrenasi makanan
Status Nutrisi nutrisi 3. Memonitor asupan
(L.03030) Membaik, 2. Identifikasi alergi makanan
dengan kriteria hasil: dan intoleransi 4. Memonitor beratbadan
1. Porsi makanan makanan 5. Memberikan makanan
yang dihabiskan 3. Monitor asupan tnggi serat untuk mencegah
meningkat (5) makanan konstpasi
4. Monitor berat 6. Memfaslitasi menetukan
2. Kekuatan otot
badan pedoman diet
pengunyah
Terapeutik 7. Memberikan makanan
menigkat (5)
1. Berikan makanan tinggi kalori
3. Kekuatan otot tinggi serat untuk 8. Memberikan suplemen
menelan mencegah makanan
meningkat (5) konstipasi 9. Mengajarkan diet yang di
2. Fasilitasi programkan
4. Perasaan cepat
menentukan
kenyang
pedoman diet
menurun (5)
(mis. piramida
5. Berat badan makanan)
membaik (5) 3. Berikan makanan
tinggi kalori dan
6. Indeks Masa
protein
Tubuh (IMT)
4. Berikan suplemen
membaik (5)
makanan, jika
7. Nafsu makan perlu
membaik (5) Edukasi
1. Ajarkan diet yang
8. Frekuensi makan
diprogramkan
membaik (5)
Bising usus Kolaborasi
membaik (5)
1. Kolaborasi
pemberian
medikasi sebelum
makan (mis.
pereda nyeri,
antlemetik), jika
perlu
2. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan, jika
perlu
2. Ansietas Setelah dilakukan Tanda-tanda vital 1. Memonitor tanda-
yang
asuhan keperawatan 1. Monitor tanda-tanda tanda vital
berhubunga
n dengan selama ….x… jam vital 2. Mengidentifikasi
perubahan
diharapkan cemas Tehnik menenangkan orang-orang terdekat
dalam
status pasien teratasi 2. Identifikasi orang- klien yang bisa
kesehatan
dengan kriteria hasil: orang terdekat klien membantu klien
ditandai
dengan 1. Tingkat yang bisa membantu 3. Menganjurkan orang
gelisah
kecemasan klien tua atau keluarga
a. Perasaan 3. Anjurkan orang tua pasien untuk berada
gelisah dari atau keluarga pasien di sisi klien
skala 3 untuk berada di sisi 4. Menganjurkan
(sedang) klien keluarga dan orang
ditingkatkan 4. Anjurkan keluarga tua memberikan
ke skala 5 dan orang tua 5. Memonitor tanda-
(tidak ada) memberikan tanda vital
b. Rasa takut kenyamanan pada 6. Mengidentifikasi
yang klien (pelukan) orang-orang terdekat
disampaikan Terapi relaksasi klien yang bisa
secara lisan Minta klien untuk membantu klien
dari skala 4 rileks dan merasakan 7. Menganjurkan orang
(ringan) sensasi yang tua atau keluarga
ditingkatkan terjadiTanda-tanda vital pasien untuk berada
ke skala 5 5. Monitor tanda-tanda di sisi klien
(tidak ada) vital 8. Menganjurkan
2. Tingkat rasa takut Tehnik menenangkan keluarga dan orang
Ketakutan dari skala 6. Identifikasi orang- tua memberikan
4 (ringan) orang terdekat klien kenyamanan pada
ditingkatkan ke skala yang bisa membantu klien (pelukan)
5 (tidak ada) klien
7. Anjurkan orang tua
atau keluarga pasien
untuk berada di sisi
klien
8. Anjurkan keluarga
dan orang tua
memberikan
kenyamanan pada
klien (pelukan)
Terapi relaksasi
Minta klien untuk
rileks dan merasakan
sensasi yang terjadi
3, Risiko Setelah diberikan Perawatan 1. Mengidentifikas
. gangguan
asuhan keperawatan integritas Kulit ipenyebab
kerusakan
integritas selama …x… jam, gangguan
kulit - Observasi
diharapkan integritas integritas kulit
dibuktikan
- Identifikasipe
dengan kulit dan jaringan 2. Mengubah
terapi nyebab
meningkat posisi tiap 2 jam
radiasi
gangguan
Integritas kulit dan sekali
integritas kulit
jaringan 3. Membersihkan
- Terapeutik
(L.141250) pernieal dengan air
- Ubah posisi
1. Kerusakan hangat
tiap 2 jam
jaringan 4. Melakukan
menurun sekali pemijatan pada area
2. Kerusakan - Bersihkan penonjol tulang
lapisan kulit pernieal 5. Menganjurkan
menurun dengan air menggunakan
Elastisitas hangat pelembab
meningkat
- Lakukan 6. Menganjurkan
pemijatan minum air yang
pada area cukup
penonjol 7. Menganjurkan
tulang meningkatkan
- Edukasi asupan nutrisi
- Anjurkan
menggunak
an
pelembab
- Anjurkan
minum air
yang cukup
- Anjurkan
meningkatk
an asupan
nutrisi

4. Risiko Tingkat Infeksi Pencegahan Infeksi


infeksi
Setelah dilakukan Observasi
ditandai
dengan tindakan keperawatn  Monitor tanda 1. Memonitor tanda
imunosupre
selama …x… jam, dan gejala dan gejala infeksi
si
maka diharapkan infeksi local local dan sistemik
tingkat infeksi dan sistemik 2. Membatasi jumlah
menurun dengan pengunjung
Terapeutik
kriteria hasil: 3. Mempertahankan
 Batasi jumlah
1. demam menurun Teknik aseptic pada
2. Kemerahan pengunjung pasien berisiko
menurun  Pertahankan tinggi
3. Nyeri menurun Teknik aseptic 4. Menjealskan tanda
4. kadar sel darah pada pasien dan gejala infeksi
putih membaik
berisiko tinggi 5. Mengajarkan cara
memeriksa luka
Edukasi
operasi
 Jealskan tanda
6. Menganjurkan
dan gejala
meningkatkan
infeksi
asupan cairan dan
 Ajarkan cara
nutrisi
memeriksa luka
operasi

Anjurkan
meningkatkan asupan
cairan dan nutrisi
5. Nyeri akut Setelah diberikan Manajemen Nyeri 1. Mengdentifikasi
berhubunga
asuhan keperawatan 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
n dengan
Agen selama ....x…. jam lokasi, durasi, frekuensi,
pencedera
maka tingkat nyeri karakteristik, kualitas, intensitas
fisik
menurun dengan durasi, nyeri
kriteria hasil: frekuensi, 2. Memberikan teknik
.1. keluhan nyeri kualitas, nonfarmakologis
menurun intensitas nyeri untuk mengurangi
2. meringis menurun 2. Berikan teknik rasa nyeri
nonfarmakolog 3. Memfaasilitasi
Kontrol Nyeri is untuk istirahat dan tidur
meningkat dengan mengurangi 4. Menjelaskan
kriteria hasil: rasa nyeri (mis. penyebab, periode,
1. Melaporkan nyeri TENS, dan pemicu nyeri
terkontrol meningkat hypnosis, 5. Menjelaskan strategi
akupresur, meredakan nyeri
terapi music,
biofeedback,
terapi pijat,
aromaterapi,
teknik
imajinasi
terbimbing,
kompres
hangat/dingin,
terapi bermain)
3. Fasilitasi
istirahat dan
tidur
4. Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
5. Jelaskan strategi
meredakan
nyeri
6. Hipovolemi Setelah dilakukan Manajemen 1. Memeriksa tanda
a b/d
tindakan hipovolemia dan gejala
kehilangan
cairan aktif keperawatan selama Observasi hipovolemia
…x24 jam status - Periksa tanda 2. Memonitor intake
cairan pasien dan gejala dan output cairan
membaik hipovolemia 3. Menghitung
- Monitor intake kebutuhan cairan
Kriteria Hasil : dan output 4. Memberikan posisi
1. Kekuatan cairan modified
nadi Terapeutik trendeleburg
meningkat - Hitung 5. Memberikan asupan
2. Outpun urine kebutuhan cairan oral
meningkat cairan 6. Menganjurkan
3. Membran - Berikan posisi memperbanyak
mukosa modified asupan cairan oral
lembap trendeleburg 7. Menganjurkan
meningkat - Berikan asupan menghindari
4. Ortopnea cairan oral perubahan posisi
menurun Edukasi mendadak
5. Frekuensi - Anjurkan 8. Mengkolaborasi
nadi memperbanyak pemberian cairan IV
membaik asupan cairan
6. Turgor kulit oral
membaik - Anjurkan
menghindari
perubahan
posisi
mendadak
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
cairan IV
7. Gangguan Setelah dilakukan Promosi Citra Tubuh 1. Mengdentifikasi
Citra asuhan keperawatan Observasi : harapan citra tubuh
Tubuh b.d selama ...x... jam 1. Identifikasi berdasarkan tahap
gangguan diharapkan citra harapan citra perkembangan
psikososial tubuh meningkat tubuh berdasarkan 2. Mengidentifikasi
d.d dengan kriteria hasil: tahap budaya, agama, jenis
mengungka 1. Menyentuh perkembangan kelamin, dan umur
pkan bagian tubuh 2. Identifikasi terkait citra tubuh
perasaan meningkat budaya, agama, 3. Mengidentifikasi
negatif 2. Verbalisasi jenis kelamin, dan perubahan citra
tentang perasaan negatif umur terkait citra tubuh yang
perubahan tentang tubuh mengakibatkan
tubuh perubahan 3. Identifikasi isolasi diri
tubuh menurun perubahan citra 4. Memonitor frekuensi
3. Verbalisasi tubuh yang pernyataan kritik
kekhawatiran mengakibatkan
pada penolakan/ isolasi diri terhadap diri sendiri
reaksi orang 4. Monitor frekuensi 5. Memonitor apakah
lain menurun pernyataan kritik pasien bisa melihat
4. Verbalisasi terhadap diri bagian tubuh yang
perubahan gaya sendiri berbeda
hidup menurun 5. Monitor apakah 6. Mendiskusikan
5. Fokus pada pasien bisa melihat perubahan tubuh dan
bagian tubuh bagian tubuh yang fungsinya
menurun berbeda 7. Mendiskusikan
6. Hubungan perubahan
Terapeutik :
sosial membaik penampilan fisik
6. Diskusikan
terhadap harga diri
perubahan tubuh
8. Mendiskusikan
dan fungsinya
kondisi stres yang
7. Diskusikan
mempengaruhi citra
perubahan
tubuh
penampilan fisik
9. Mendiskusikan cara
terhadap harga diri
pengembangan
8. Diskusikan
harapan citra tubuh
kondisi stres yang
secara realistis
mempengaruhi
10. Mendiskusikan
citra tubuh (mis,
persepsi pasien dan
luka, penyakit)
keluarga tentang
9. Diskusikan cara
perubahan citra
pengembangan
tubuh
harapan citra
11. Menjelaskan kepada
tubuh secara
keluarga tentang
realistis
perawatan
10. Diskusikan
perubahan citra
persepsi pasien
tubuh
dan keluarga
13. Anjurkan
tentang perubahan
mengungkapkan
citra tubuh
Edukasi : gambaran diri terhadap
11. Jelaskan kepada citra tubuh
keluarga tentang
perawatan
perubahan citra
tubuh
12. Anjurkan
mengungkapkan
gambaran diri
terhadap citra
tubuh

Latih peningkatan
penampilan diri (mis,
berdandan/ berhias)
8 Intoleransi Setelah dilakukan Terapi Aktivitas
aktifitas intervensi Observasi 1. Mengidentifikasi
berhubunga keperawatan selama - Identifikasi defisit tingkat
n dengan … x 24 jam defisit tingkat aktivitas
imobilitas Tolerasi aktifitas aktivitas 2. Mengindentifikasi
meningkat - Indentifikasi strategi
strategi meningkatkan
Kriteria Hasil : meningkatkan partisipasi dalam
- Keluhan lelah partisipasi aktivitas
menurun dalam aktivitas 3. Mengidentifikasi
- Dispnea saat - Identifikasi makna aktivitas rutin
aktivitas makna aktivitas 4. Memfasilitasi fokus
menurun rutin dalam kemampuan,
- Dispnea Terapeutik bukan defisit yang
setelah - Fasilitasi fokus dialami
aktivitas dalam 5. Menyepakati
menurun kemampuan, komitmen untuk
- Persasaan bukan defisit meningkatkan
lemah yang dialami frekuensi dan
menurun - Sepakati rentang aktivitas
- Frekuensi komitmen untuk 6. Meliibatkan
nadi meningkatkan keluarga dalam
membaik frekuensi dan aktivitas
rentang aktivitas 7. Menjelaskan metode
- Libatkan aktivitas fisik sehari-
keluarga dalam hari
aktivitas 8. Mengajarkan cara
Edukasi melakukan aktivitas
- Jelaskan metode yang di pilih
aktivitas fisik 9. Menganjurkan untuk
sehari-hari melakukan aktivitas
- Ajarkan cara fisik
melakukan
aktivitas yang di
pilih
- Anjurkan untuk
melakukan
aktivitas fisik
Kolaborasi
Kolaborasi dengan
terapis okupasi

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah
dibuat.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi sumatif dan formatif menggunakan SOAP.
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN TUMOR
MEDIASTINUM

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Mediastinum terletak diantara rongga paru kanan dan rongga paru kiri.
Mediastinum, bagian tengah dari rongga thoraks, dapat dibagi menjadi tiga bagian untuk
klasifikasi komponen anatomi dan proses penyakit :

1. Mediastinum anterior terletak diantara sternum dan permukaan anterior


jantung dan vena cava. Mediastinum bagian depan termasuk kelenjar
timus atau sisanya, arteri dan vena mamma interna, nodus limfatikus dan
lemak.
2. Mediastinum tengah terletak diantara vena cava dan trakea. Mediastinum
tengah terdiri atas perikardium dan isinya, aorta asenden dan transversa,
vena cava superior dan inferior, arteri dan vena brachiocephalica, nervus
frenikus, batang nervus vagus atas, trakea, bronkus utama dan nodus
limfatikusnya yang berhubungan, dan arteri dan vena pulmonal bagian
tengah.
3. Bagian posterior dari mediastinum tengah merupakan mediastinum
posterior. Mediastinum posterior berisi aorta desenden, esofagus, duktus
torasikus, vena azygos dan hemiazygos, dan nodus limfatikus.
Secara garis besar mediastinum dibagi atas 4 bagian penting, antara lain :

1. Mediastinum superior, mulai pintu atas rongga dada sampai ke vertebra


torakal ke-5
2. Mediastinum anterior, dari garis batas mediastinum superior ke diafargma
didepan jantung
3. Mediastinum posterior, dari garis batas mediastinum superior ke
diafragmadi belakang jantung
4. Mediastinum medial (tengah), dari garis batas mediastinum superior ke
diafragma diantaramediastinum anterior dan posterior. (Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia, 2006)
2. PENGERTIAN

Tumor adalah suatu benjolan abnormal yanga ada pada tubuh, sedangkan
mediastinum adalah suatu rongga yang terdapat antara paru-paru kanan dan paru-
paru kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar,
trakea, kelenjartimus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya.
(dr. Agus Rahmadi, 2010).
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum
yaitu rongga di antara paru-paru kanan dan kiri yang berisi jantung, aorta, dan
arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan
ikat, kelenjar getah bening dan salurannya. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,
2003). Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di mediastinum yaitu
rongga imaginer di antara paru kiri dan kanan. Mediastinum berisi jantung,
pembuluh darah besar, trakea, timus, kelenjar getah bening dan jaringan ikat.
(Elisna Syahruddin,2009).
Sehingga, tumor mediastinum merupakan suatu kondisi dimana timbulnya
hiperplasia sel-sel jaringan (tulang, penyokong) pada area tertentu (mediastinum)
secara progresif dalam bentuk jaringan longgar yang menimbulkan manifestasi
tumor (pembesaran) pada mediastinum. (Robbin & Kumar, 2007).

3. KLASIFIKASI
1. Timoma
Timoma adalah tumor yang berasal dari epitel thymus. Ini adalah tumor
yang banyak terdapat dalam mediastinum bagian depan atas. Merupakan
20% dari tumor mediastinum. Terdiri dari timoma jinak, ganas dan kista
timus dengan hiperplasia. Bentuk tumornya bulat, berlobus dan merupakan
massa yang mengisi antara sambungan pembuluh darah dan jantung,
dimana mengisis hampir seluruh retrostenal. Gambaran histologiknya
dapat sangat bervariasi dan dapat terjadi komponen limfositik atau tidak.
Malignitas ditentukan oleh pertumbuhan infiltrate di dalam organ-organ
sekelilingnya dan tidak dalam bentuk histologiknya. Pada 50% kasus
terdapat keluhan lokal. Thymoma juga dapat berhubungan dengan
myasthenia gravis, pure red cell aplasia dan hipogama globulinemia.
Bagian terbesar Thymoma mempunyai perjalanan klinis benigna.
Metastase jarak jauh jarang terjadi. (Aru W. Sudoyo, 2006)
Tahapan atau stage dari Timoma:
a. Stage I : belum invasi ke sekitar
b) Stage II : invasi s/d pleura mediastinalis
c) Stage III : invasi s/d pericardium
d) Stage IV : Limphogen / hematogen
2. Teratoma (Mesoderm)
Teratoma merupakan neoplasma yang terdiri dari beberapa unsur jaringan
yang asing pada daerah dimana tumor tersebut muncul. Teratoma paling
sering ditemukan pada mediatinum anterior. Teratoma yang histologik
benigna mengandung terutama derivate ectoderm (kulit) dan entoderm
(usus).Penderita dengan kelainan ini adalah yang pertama-tama perlu
mendapat perhatian untuk penanganan dan pembedahan. Mengenai
teratoma benigna, dahulu disebut kista dermoid, prognosisnya cukup baik.
Pada teratoma maligna, tergantung pada hasil terapi pembedahan radikal
dan tipe histologiknya, tapi ini harus diikuti dengan radioterapi atau
kemoterapi. (Aru W. Sudoyo, 2006)
3. Limfoma
Secara keseluruhan, limfoma merupakan keganasan yang paling sering
pada mediastinum. Limfoma adalah tipe kanker yang terjadi pada limfosit
(tipe sel darah putih pada sistem kekebalan tubuh vertebrata). Terdapat
banyak tipe limfoma. Pada abad ke-19 dan abad ke-20, penyakit ini
disebut penyakit Hodgkin karena ditemukan oleh Thomas Hodgkin tahun
1832. Dapat disebabkan tumornya sendiri, seperti lazimnya tumor
mediastinum lain, atau dapat pula sebagai akibat manifestasi penyakit
sistem getah bening antara lain panas badan, limfadenopati, hepatomegali
atau splenomegali. Diagnosa dapat ditegakkan dengan biopsi kelenjar
getah bening terutama kelenjar skalenus, pemeriksaan sumsum tulang dan
darah tepi (Alsagaf&Mukhty, 2002).
4. Tumor neurogenik
Tumor Neurogen merupakan tumor mediastinal yang banyak terdapat,
manifestasinya hampir selalu sebagai tumor bulat atau oval, berbatas licin,
terletak jauh di mediastinum belakang. Tumor ini dapat berasal dari saraf
intercostalis, ganglia simpatis, dan dari sel-sel yang mempunyai ciri
kemoreseptor. Tumor ini dapat terjadi pada semua umur, tetapi relative
frekuensi pada umur anak. Banyak Tumor Nerogenik menimbulkan
beberapa gejala dan ditemukan pada foto thorax rutin. Gejala biasanya
merupakan akibat dari penekanan pada struktur yang berdekatan. Nyeri
dada atau punggung biasanya akibat kompresi atau invasi tumor pada
nervus interkostalis atau erosi tulang yang berdekatan. Batuk dan dispneu
merupakan gejala yang berhubungan dengan kompresi batang
trakeobronchus. Sewaktu tumor tumbuh lebih besar di dalam mediastinum
posterosuperior, maka tumor ini bisa menyebabkan sindrom pancoast atau
Horner karena kompresi peleksus brakhialis atau rantai simpatis servikalis.
5. Kista Bronkhogenik
Kista Bronkogenik kebanyakan mempunyai dinding cukup tipis, yang
terdiri dari jaringan ikat, jaringan otot dan kadang-kadang tulang rawan.
Kista ini dilapisi epitel rambut getar atau planoselular dan terisi lendir
putih susu atau jernih. Kista bronkus terletak menempel pada trakea atau
bronkus utama, kebanyakan dorsal dan selalu dekat dengan bifurkatio.
Kista ini dapat tetap asimptomatik tetapi dapat juga menimbulkan keluhan
karena kompresi trakea, bronki utama atau esophagus. Kecuali itu terdapat
bahaya infeksi dan perforasi sehingga kalau ditemukan diperlukan
pengangkatan dengan pembedahan. Gejala dari kista ini adalah batuk,
sesak napas s/d sianosis.(Aru W. Sudoyo, 2006).

4. ETIOLOGI
Ada dua jenis faktor penyebab tumor mediastinum, antara lain :
1. Faktor Endogen (dari dalam)
a) Faktor genetik (biomolekuler)
Perubahan genetik termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal
dan pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan perkembangan
tumor.
2. Faktor Eksogen
a) Penyebab Kimiawi
Tumor mediastinum ini bisa disebabkan oleh asupan zat kimia ke
dalam rongga mediastinum penderita. Di beberapa negara maju yang
banyak terdapat industri kimia, otomatis penduduknya banyak yang
bekerja di pabrik tersebut, maka kemungkinan besar akan terkena
tumor mediastinum. Secara khusus, mereka yang bekerja sebagai
pembersih cerobong asap sangat rentan terkena tumor ini. Beberapa zat
karsinogenseperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,
polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan tumor
mediastinum. Risiko tumor mediastinum di antara pekerja yang
menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada
masyarakat umum. (Amin, 2006)
b) Faktor Fisik
Jika kaitannya fisik, tumor ini sangat erat hubungannya dengan
kejadian trauma akibat pukulan yang berulang-ulang maupun karena
penyinaran yang eksploitatif. Maksud dari penyinaran disini bisa
karena sinar ultraviolet yang berasal dari sinar matahari maupun jenis
sinar lainnya seperti sinar x atau radiasi bom atom.
c) Merokok
Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah
diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada
perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok
yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya
berhenti merokok (Stoppler,2010).
d) Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok
pasif, atau mengisap asap rokok orang lain di dalam ruang tertutup,
dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi
mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat
dua kali (Wilson, 2005).
e) Faktor Nutrisi
Salah satu contoh utama adalah dianggapnya aflaktosin yang
dihasilkan oleh jamur pada kacang dan padi-padian sebagai pencetus
timbulnya tumor.
f) Penyebab Bioorganisme
Misalnya virus, pernah dianggap sebagai kunci penyebab tumor
dengan ditemukannya hubungan virus dengan penyakit tumor pada
binatang percobaan. Namun ternyata konsep itu tidak berkembang
lanjut pada manusia. (Amin, 2006).

5. TANDA DAN GEJALA


Seperti penyakit berbahaya lainnya, tumor mediastinum juga memberikan
gejala gejala tertentu jika penyakit ini menyerang seseorang. Di antara
beberapa gejala yang ditimbulkannya ialah sebagai berikut :
1. Pasien menderita batukdengan/tanpa dahak (dahak putih, dapat juga
purulen), batuk berdarah lebih dari 3 minggu karena adanya tekanan pada
trakea atau bronchi utama. Adanya tekanan pada nervus pagus,
menyebabkan batuk dan spasme yang berkelanjutan
2. Mengalami gangguan menelan atau terasa nyeri ketika menelan makanan
atau minuman sebagai dampak dari tekanan esophagus
3. Suara menjadi serak kareana nerves laryngeus inferior tertekan, sehingga
sangat sulit untuk berbicara.
4. Nyeri di dinding dada akibat penekanan saraf.
5. Mengeluh sesak nafas
6. Rasa lelah mungkin menjadi gejala yang disajikan oleh pasien dengan
tumor mediastinum, gejala tersebut disebabkan oleh kompresi local atau
invasi oleh neoplasma dari struktur mediastinum yang berdekatan.
7. Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan
rasa nyeri yang hebat.
Disamping itu, gejala-gejala lainnya yang biasanya kurang disadari, dapat
berupa berkurangnya nafsu makan sehingga pasien mengalami penurunan
berat badan.Rasa nyeri dada juga bisa terjadi dan biasanya penderita tidak
menyadari kalau sakit dadanya itu disebabkan karena adanya tumor
mediastinum.(Nurarif & Kusuma, 2015)

6. PATOFISIOLOGI
Sebagaimana bentuk kanker atau karsinoma lain, penyebab dari timbulnya
karsinoma jaringanmediastinum belum diketahui secara pasti, namun diduga
berbagai faktor predisposisi yang kompleks berperan dalam menimbulkan
manifestasi tumbuhnya jaringan atau sel-sel kanker padajaringan
mediastinum.Adanya pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi dalam
waktu yang relatif singkatmaupun timbul dalam suatu proses yang memakan
waktu bertahun-tahun untuk menimbulkanmanifestasi klinik. Adakalanya
berbagai bentuk karsinoma sulit terdeteksi secara pasti dancepat oleh tim
kesehatan. Diperlukan berbagai pemeriksaan akurat untuk
menentukanmasalah adanya kanker pada suatu jaringan.Dengan semakin
meningkatnya volume massa sel-sel yang berproliferasi (pertumbuhan atau
berkembangbiakan pesat untuk menghasilkan jaringan baru, bagian, sel, atau
keturuna) maka secaramekanik menimbulkan desakan pada jaringan
sekitarnya. Pelepasan berbagai substansia padajaringan normal seperti
prostalandin, radikal bebas dan protein-protein reaktif secaraberlebihan
sebagai ikutan dari timbulnya karsinoma meningkatkan daya rusak sel-sel
kanker terhadap jaringan sekitarnya, terutama jaringan yang memiliki ikatan
yang relatif lemah.Kanker sebagai bentuk jaringan progresif yang memiliki
ikatan yang longgarmengakibatkan sel-sel yang dihasilkan dari jaringan
kanker lebih mudah untuk pecah danmenyebar ke berbagai organ tubuh
lainnya (metastase) melalui kelenjar, pembuluh darahmaupun melalui
peristiwa mekanis dalam tubuh.Adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada
mediastinum secara mekanik menyebabkanpenekanan (direct pressure/indirect
pressure) serta dapat menimbulkan destruksi jaringan sekitar yang
menimbulkan manifestasi seperti penyakit infeksi pernafasan lain seperti
sesaknafas, nyeri inspirasi, peningkatan produksi sputum, bahkan batuk darah
atau lendir berwarnamerah (hemaptoe) manakala telah melibatkan banyak
kerusakan pembuluh darah. Kondisi kanker juga meningkatkan resiko
timbulnya infeksi sekunde, sehingga kadangkalamanifestasi klinik yang lebih
menonjol mengarah pada infeksi saluran nafassepertipneumonia, tuberkulosis
walaupun mungkin secara klinik pada kanker ini kurang dijumpai gejala
demam yang menonjol.(Elizabeth, J. Corwin.2008)

Gambar 1 : Pohon masalah tumor mediastinum

Eksogen :

Perokok aktif/pasif
Faktor fisik Endogen :
Adanya zat yang
Faktor nutrisi bersifat initiation Faktor genetik
Faktor kimiawi
Faktor Bioorganisme
Struktur dasar
DNA berubah

Terjadi
perubahan
struktur sel

Terbentuk formasi Pembelahan sel Memicu terbentuknya sel


tumor di rongga dada tidak terbatas tumor

TUMOR
MEDIASTINUM
Ostruksi jaringan

Penekanan trakea atau Nervus Penurunan kadar Trauma Jaringan


bronkus, atau adanya pagus O2 ke jaringan
sekret tertekan

Batuk dengan/ Kesulitan menelan Tubuh terasa Nyeri


tanpa dahak letih atau lemas

Anoreksia
Bersihan jalan napas Intoleransi Aktivitas
tidak efektif
Sering terbangaun
Gangguan Pemenuhan Prognosis buruk
Nutrisi : defisit nutrisi
Gangguan pola
Ansietas tidur

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Prosedur Radiologi
a) Foto thoraks
Dari foto thoraks PA atau lateral untuk menentukan lokasi tumor
anterior, medial atau posterior,ukuran dan lokasi tumor.
b) Tomografi
Dapat menentukan lokasi tumor, mendeteksi klasifikasi pada lesi yang
sering ditemukan pada kista dermoid, tumor tiroid, dan kadang-kadang
timoma.
c) CT-scan toraks dengan kontras
Dengan memberikan gambaran anatomi potongan melintang yang
memuaskan bagi mediastinum, CT-scan mampu memisahkan massa
mediastinum dari struktur mediastinum lainnya.Dapat
mendeskripsikan lokasi, kelainan tumor secara lebih baik, kemungkina
jenis tumor, misalnya pada teratoma dan timoma, menentukan stage
pada kasus timoma dengan cara mencari apakah telah terjadi invasi
atau belum, mempermudah pelaksanaan pengambilan bahan untuk
pemeriksaan sitologi, serta untuk menentukan luas radiasi beberapa
jenis tumor mediastiinum bila dilakukan CT-Scan Toraks dan CT-Scan
abdomen.
d) Esofagografi
Pemeriksaan ini dianjurkan dilakukan bila ada dugaan invasi atau
penekanan pada esofagus.
e) USG
Ultrasonografi bermanfaat dalam menggambarkan struktur kista dan
lokasinya di dalam mediastinum. Fluoroskopi dan barium enema bisa
membantu lebih lanjut dalam menggambarkan bentuk massa dan
hubungannya dengan struktur mediastinum lain, terutama esofagus dan
pembuluh darah besar.
3. Prosedur Endoskopi
a) Bronkoskopi
Dilakukan bila ada indikasi operasi, dapat memberikan informasi
tentang penekanan tumor terhadap saluran nafas beserta lokasinya.
Bronkoskopi sering dapat digunakan untuk membedakan antara tumor
mediastinum dengan kanker paru primer.
b) Mediastinoskopi
Tindakan ini dilakukan bila tumor berlokasi di mediastinum anterior.
c) Elektromagnestic Navigation Diagnostic Bronchoscopy
Tindakan ini merupakan metode yang aman untuk mengambil sampel
lesi-lesi yang terletak agak ke perifer dimana bronkoskopi biasa tidak
bisa mencapainya. Selain itu tindakan ini dapat digunakan untuk
mengambil sampel lesi tumor mediastinum dengan cara Tranbroncial
Needle Bronchoscopy Aspiration (TNBA), dimana dapat memberikan
hasil diagnostik yang tinggi serta tidak dipengaruhi oleh besar kecil
dan lokasi tumor.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a) Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).Dilakukan untuk mengkaji
adanya/ tahap karsinoma.
b) Pemeriksaan fungsi paru dan GDA. Dapat dilakukan untuk mengkaji
kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
Hasil pemeriksaan rutin laboratorium sering tidak memberikan informasi
yang berkaitan dengan tumor, tetapi terkadang LED meningkat pada
limfoma, Hb: menurun/normal, Analisa Gas Darah: asidosis respiratorik,
penurunan kadar oksigen darah dan kadar karbon darah
meningkat/normal,Elektrolit: Natrium/kalsium menurun/normal.

8. PENATALAKSANAAN MEDIS

a) Pembedahan, tindakan pembedahan memegang peranan utama dalam


penanggulangan tumor.

b) Terapi obat : Kemoterapi, kemoterapi telah menunjukkan kemampuannya


dalam mengobati beberapa jenis tumor.

c) Radioterapi, masalah dalam radioterapi adalah membunuh sel kanker dan


sel jaringan normal. Sedangkan tujuan radioterapi adalah meninggikan
kemampuan untuk membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah
mungkin pada sel normal.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1. Data Subjektif:
a) Anamnesis
Kaji keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal
penyakit kanker paru.Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-
kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring
(wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia
merupakan keadaan yang mendukung.
1) Identitas :Umur : Karsinoma cenderung ditemukan pada usia dewas
2) Riwayat Masuk : Keluhan utama yang sering muncul saat masuk
adalah adanya sesak nafas dan nyeri dada yang berulang tidak
khas; mungkin disertai/tidak disertai dengan batuk atau batuk darah
3) Riwayat Penyakit Dahulu :Predileksi penyakit saluran pernafasan
lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu
yang relatif lama dan berulang, adanya riwayat tumor pada organ
lain, baik pada diri sendiri maupun dari keluarga. Penyakit paru,
jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis
penderita. Perokok berat dan kronis, terpajan terhadap lingkungan
karsinogen, penyakit paru kronis sebelumnya yang telah
mengakibatkan pembentukan jaringan parut dan fibrosis pada
jaringan paru.
4) Keadaan umum : lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
5) Nyeri/ kenyamanan.Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada
tahap dini dan tidak selalu pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak
dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi. Nyeri bahu/ tangan
(khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma) Nyeri abdomen
hilang timbul.
6) Pernafasan. Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari
biasanya dan atau produksi sputum. Nafas pendek, Pekerja yang
terpajan polutan, debu industri, Serak, paralysis pita suara.
Riwayat merokok. Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja.
Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi). Krekels/
mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara),
krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang
mengalami lesi). Hemoptisis.
7) Keamanan. Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau
karsinoma) Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil)
8) Pola makan : nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan
terjadi kesulitan menelan (disfagia), penurunan berat badan.
9) Pola minum : frekuensi minum meningkat (rasa haus)
10) Pola tidur : susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada.
11) Aktivitas : keletihan, kelemahan. (Alimul H , A. Aziz. 2012)
1. Data Objektif
a) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan
berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran
kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan
pleuritis dengan cairan pleura.
1) Inspeksi
Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan
warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Fokus inspeksi pada
setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi,
simetris. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal
bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata
kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis),
dan lain-lain.
2) Auskultasi
Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan
suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat
yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah :
bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus. Suara tidak normal
yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :
(a) Rales: suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-
saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales
halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
(b) Ronchi: nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat
inspirasi maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan
hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru.
(c) Wheezing: bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai
pada fase inspirasimaupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis
akut, asma.
(d) Pleura Friction Rub: bunyi yangterdengar “kering” seperti
suara gosokanamplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan
peradangan pleura.
3) Palpasi
Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba.
Tangan dan jari- jari adalah instrumen yang sensitif digunakan
untuk mengumpulkan data, misalnya tentang : temperatur, turgor,
bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran.Langkah-langkah yang perlu
diperhatikan selama palpasi :
(a) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai
(b) Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
(c) Kuku jari perawat harus dipotong pendek
(d) Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.Misalnya :
adanya tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
4) Perkusi
Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk
dan konsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya
sebagai alat untuk menghasilkan suara.Adapun suara-suara yang
dijumpai pada perkusi adalah :
(a) Sonor: suara perkusi jaringan yang normal.
(b) Redup: suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di
daerah paru-paru pada pneumonia.
(c) Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi
daerah jantung, perkusi daerah hepar.
(d) Hipersonor/timpani: suara perkusi pada daerah yang lebih
berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien
asthma kronik. (Kozier. 2011)
b) Data Penunjang

1) Foto dada, PA dan lateral


2) CT scan/MRI
3) Bronchoscope
4) Bitologi
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Berisihan jalan nafas tidak efektif b/d adaptasi fisik tidak adekuat sekunder
terhadap penekanan jaringan paru oleh sel tumor.
2. Nyeri akut berhubungan b/d agen cidera (karsinoma), penekanan saraf
oleh tumor paru
3. Defisit nutrisi b/d ketidakmampuan untuk menelan makanan, anoreksia,
kelelahan, batuk dan dyspnea.
4. Gangguan pola tidur b/d sering terbangun oleh rasa sakit penekanan saraf
5. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen
6. Ansietas b/d perubahan status kesehatan penyakit

3.Rencana keperawatan

N DIAGNOSA (SDKI) TUJUAN INTERVENSI (SIKI) Rasional


O (SLKI)
1. Berisihan jalan nafas Setelah dilakukan Manajemen jalan napas 1. Memonitor
tidak efektif b/d asuhan Observasi pola napas
pada
adaptasi fisik tidak keperawatan 1. Monitor pola napas
pasien
adekuat sekunder selama ...x... jam 2. Monitor bunyi napas 2. Memonitor
terhadap penekanan diharapkan Terapeutik bunyi
napas
jaringan paru oleh sel bersihan jalan 3. Pertahankan
3. Memperta
tumor. napas meningkat kepatenan jalan hankan
dengan kriteria napas kepatenan
jalan napas
hasil: 4. Posisikan semi
4. Memposisi
1. Batuk fowler atau fowler kan semi
efetif 5. Berikan minuman fowler atau
meningkat hangat fowler
5. Memberik
2. Produksi Edukasi an
sputum 6. Ajarkan teknik minuman
menurun batuk efektif hangat
6. Mengajark
3. Mengi 7. Anjurkan minum
an teknik
menurun cairan 200 ml/ hari cara batuk
4. Wheezing Kolaborasi efektif
dengan
menurun 8. Kolaborasi
benar
5. Dispnea pemberian 7. Menganjur
menurun bronkodilator, jika kan minum
cairan 200
6. Frekuensi perlu
ml/ hari
napas 8. Mengkolab
membaik orasi
7. Pola napas pemberian
bronkodila
membaik tor

2. Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri 1. Mengident


berhubungan b/d agen asuhan Observasi: ifikasi
cidera (karsinoma), keperawatan 1. Identifikasi lokasi, lokasi,
penekanan saraf oleh selama ...x... jam karakteristik, durasi, karakteristi
tumor paru diharapkan frekuensi, kualitas, k, durasi,
tingkat nyeri intensitas nyeri frekuensi,
menurun dengan 2. Identifikasi skala nyeri kualitas,
kriteria hasil: 3. Identifikasi respons intensitas
1. Keluhan nyeri non verbal nyeri
nyeri 4. Identifikasi faktor yang 2. Mengident
menurun memperberat dan ifikasi
2. Meringis memperingan nyeri skala nyeri
menurun 5. Identifikasi 3. Mengident
3. Sikap pengetahuan dan ifikasi
protektif keyakinan tentang respons
menurun nyeri nyeri non
4. Gelisah 6. Identifikasi pengaruh verbal
menurun budaya terhadap 4. Mengident
5. Menarik diri respons nyeri ifikasi
menurun 7. Identifikasi pengaruh faktor yang
6. Berfokus nyeri pada kualitas memperber
pada diri hidup at dan
sendiri 8. Monitor keberhasilan mempering
menurun terapi komplementer an nyeri
7. Frekuensi yang sudah diberikan 5. Mengident
nadi 9. Monitor efek samping ifikasi
membaik penggunaan analgetik pengetahua
8. Pola nafas n dan
Terapeutik :
membaik keyakinan
9. Tekanan 10. Berikan teknik tentang
darah nonfarmakologis untuk nyeri
membaik mengurangi rasa nyeri 6. Mengident
10. Proses (mis, TENS, hipnosis, ifikasi
berfikir akupuntur, terapi pengaruh
membaik musik, terapi pijat, budaya
11. Fokus aromaterapi, teknik terhadap
membaik imajinasi terbimbing, respons
12. Prilaku kompres hangat/ nyeri
membaik dingin, terapi bermain) 7. Mengident
13. Nafsu makan 11. Kontrol lingkungan ifikasi
membaik yang memperberat rasa pengaruh
nyeri (mis, suhu nyeri pada
Pola tidur
ruangan, pencahayaan, kualitas
membaik
kebisingan) hidup
12. Fasilitasi istirahat dan 8. Memonitor
tidur keberhasila
13. Pertimbangkan jenis n terapi
dan sumber nyeri kompleme
dalam pemilihan nter yang
strategi meredakan sudah
nyeri diberika
9. Memonitor
Edukasi :
efek
14. Jelaskan penyebab, samping
periode, dan pemicu penggunaa
nyeri n analgetik
15. Jelaskan strategi 10. Memberik
meredakan nyeri an teknik
nonfarmak
16. Anjurkan memonitor
ologis
nyeri secara mandiri untuk
17. Anjurkan mengurang
menggunakan i rasa nyeri
11. Mengkontr
analgetik secara tepat ol
18. Ajarkan teknik lingkungan
nonfarmakologis untuk yang
memperber
mengurangi rasa nyeri
at rasa
nyeri
Kolaborasi :
12. Memfasilit
Kolaborasi asi istirahat
dan tidur
pemberian analgetik,
jika perlu 13. Memperti
mbangkan
jenis dan
sumber
nyeri
dalam
pemilihan
strategi
meredakan
nyeri
14. Menjelask
an
penyebab,
periode,
dan
pemicu
nyeri
15. Menjelask
an strategi
cara
meredakan
nyeri
16. Menganjur
kan
memonitor
nyeri
secara
mandiri
17. Menganjur
kan
mengguna
kan
analgetik
secara
tepat
18. Mengajark
an teknik
nonfarmak
ologis
untuk
mengurang
i rasa nyeri
19. Mengkolab
orasi
pemberian
analgetik

4. Defisit nutrisi b/d Setelah diberikan Terapi Aktivitas 1. Mengidenti


ketidakmampuan asuhan fikasi
Observasi
untuk menelan keperawatan defisit
makanan, anoreksia, selama x jam - Identifikasi defisit tingkat
kelelahan, batuk dan diharpakan : tingkat aktivitas aktivitas
dyspnea. - Indentifikasi strategi 2. Menginden
Status Nutrisi
meningkatkan tifikasi
(L.03030)
partisipasi dalam strategi
Membaik, dengan
aktivitas meningkatk
kriteria hasil:
- Identifikasi makna an
9. Porsi makanan aktivitas rutin partisipasi
yang dalam
Terapeutik
dihabiskan aktivitas
meningkat (5) - Fasilitasi fokus
3. Mengidenti
dalam kemampuan,
10. Kekuatan otot fikasi
bukan defisit yang
pengunyah makna
dialami
menigkat (5) aktivitas
- Sepakati komitmen
rutin
11. Kekuatan otot untuk meningkatkan
4. Memfasilit
menelan frekuensi dan
asi fokus
meningkat (5) rentang aktivitas
dalam
- Libatkan keluarga
12. Perasaan cepat kemampua
dalam aktivitas
kenyang n, bukan
Edukasi defisit yang
menurun (5)
dialami
- Jelaskan metode
13. Berat badan
5. Menypakati
aktivitas fisik sehari-
membaik (5)
komitmen
hari
14. Indeks Masa untuk
- Ajarkan cara
Tubuh (IMT) melakukan aktivitas meningkatk
membaik (5) yang di pilih an
- Anjurkan untuk frekuensi
15. Nafsu makan
melakukan aktivitas dan rentang
membaik (5)
fisik aktivitas
16. Frekuensi 6. Melibatkan
Kolaborasi
makan keluarga
membaik (5) Kolaborasi dengan terapis dalam
okupasi aktivitas
Bising usus
7. Menjelaska
membaik (5)
n metode
aktivitas
fisik sehari-
hari
8. Mengajarka
n cara
melakukan
aktivitas
yang di
pilih
9. Menganjur
kan untuk
melakukan
aktivitas
fisik
5. Gangguan pola Setelah diberikan Tanda-tanda vital 1. Memonitor
tidursering terbangun asuhan tanda-tanda
1. Monitor tanda-tanda
oleh rasa sakit keperawatan vital
vital
penekanan saraf selama x jam
diharpakan pola Tehnik menenangkan
2. Mengidenti
tidur membaik 2. Identifikasi orang-orang
fikasi
dengan kriteria terdekat klien yang bisa
orang-
hasil : membantu klien orang
terdekat
- Keluhan 3. Anjurkan keluarga dan
klien yang
tidur orang tua memberikan
bisa
menurun kenyamanan pada klien
membantu
- Keluhan (pelukan)
klien
sering
Terapi relaksasi 3. Anjurkan
terjaga
Minta klien untuk rileks dan keluarga
menurun
merasakan sensasi yang dan orang
- Keluhan
terjadiTanda-tanda vital tua
tidak puas
memberika
tidur 4. Monitor tanda-tanda vital
n
menurun
Tehnik menenangkan kenyamana
- Keluhan
n pada
pola tidur 5. Identifikasi orang-orang
klien
berubah terdekat klien yang bisa
(pelukan)
menurun membantu klien
4. Monitor
- Keluhan
6. Anjurkan orang tua atau
tanda-tanda
istirhat
keluarga pasien untuk
vital
tidak
berada di sisi klien.
Tehnik
cukuop
7. Anjurkan keluarga dan menenangk
menurun
orang tua memberikan an
kenyamanan pada klien 5. Mengidenti
(pelukan) fikasi
orang-
Terapi relaksasi
orang
Minta klien untuk rileks dan terdekat
merasakan sensasi yang klien yang
terjadi bisa
membantu
klien
6. Mengajurk
an orang
tua atau
keluarga
pasien
untuk
berada di
sisi klien.
7. Menganjur
kan orang
tua atau
keluarga
pasien
untuk
berada di
sisi klien.

5. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Terapi Aktivitas


b/d intervensi
Observasi
ketidakseimbangan keperawatan
8. Identifikasi defisit 8. Mengidentifik
suplai oksigen selama … x 24 asi defisit
jam tingkat aktivitas tingkat
9. Indentifikasi strategi aktivitas
Tolerasi aktifitas 9. Indentifikasi
meningkatkan
meningkat strategi
partisipasi dalam
Kriteria Hasil : aktivitas meningkatkan

10. Identifikasi makna partisipasi


9. Keluhan
aktivitas rutin dalam
lelah
aktivitas
menurun Terapeutik
10. mengIdentifik
10. Dispnea
11. Fasilitasi fokus asi makna
saat
dalam kemampuan, aktivitas rutin
aktivitas
bukan defisit yang 11. Fasilitasi
menurun
11. Dispnea dialami fokus dalam
setelah 12. Sepakati komitmen kemampuan,
aktivitas untuk meningkatkan bukan defisit
menurun frekuensi dan yang dialami
12. Persasaan rentang aktivitas 12. Sepakati
lemah 13. Libatkan keluarga komitmen
menurun dalam aktivitas untuk
13. Frekuensi meningkatkan
Edukasi
nadi frekuensi dan
membaik 14. Jelaskan metode rentang
aktivitas fisik sehari- aktivitas
hari 13. Melibatkan
15. Ajarkan cara keluarga
melakukan aktivitas dalam
yang di pilih aktivitas
16. Anjurkan untuk 14. Menjelaskan
melakukan aktivitas metode
fisik aktivitas fisik

Kolaborasi sehari-hari
15. mengajarkan
Kolaborasi dengan terapis
cara
okupasi
melakukan
aktivitas yang
di pilih
16. Anjurkan
untuk
melakukan
aktivitas fisik

6. Ansietas b/d Setelah dilakukan Tanda-tanda vital


perubahan status asuhan 17. Monitor tanda-tanda 17. Monitor
kesehatan penyakit keperawatan vital tanda-
selama ….x… tanda vital
Tehnik menenangkan
jam diharapkan 18. Mengiden
cemas pasien 18. Identifikasi orang- tifikasi
teratasi dengan orang terdekat klien orang-
kriteria hasil: yang bisa membantu orang
klien terdekat
3. Tingkat
19. Anjurkan orang tua klien yang
kecemasan
atau keluarga pasien bisa
c. Perasaan membantu
untuk berada di sisi klien
gelisah klien
dari skala 20. Anjurkan keluarga
19. Anjurkan
3 (sedang) dan orang tua
orang tua
ditingkatka memberikan kenyamanan
atau
n ke skala pada klien (pelukan)
keluarga
5 (tidak Terapi relaksasi pasien
ada) untuk
Minta klien untuk rileks dan
d. Rasa takut berada di
merasakan sensasi yang
yang sisi klien
terjadiTanda-tanda vital
disampaika 20. Anjurkan
21. Monitor tanda-tanda
n secara keluarga
vital
lisan dari dan orang

skala 4 Tehnik menenangkan tua

(ringan) memberik
22. Identifikasi orang-
ditingkatka an
orang terdekat klien yang
n ke skala kenyaman
bisa membantu klien
5 (tidak an pada
23. Anjurkan orang tua klien
ada)
atau keluarga pasien (pelukan)
4. Tingkat rasa
untuk berada di sisi klien 21. Monitor
takut
24. Anjurkan keluarga tanda-
Ketakutan dari dan orang tua tanda vital
skala 4 (ringan) memberikan kenyamanan 22. Identifikas
ditingkatkan ke pada klien (pelukan) i orang-
skala 5 (tidak ada) orang
Terapi relaksasi
terdekat
Minta klien untuk rileks dan klien yang
merasakan sensasi yang bisa
terjadi membantu
klien
23. Menganju
rkan
orang tua
atau
keluarga
pasien
24. Menganju
rkan
keluarga
dan orang
tua
memberik
an
kenyaman
an pada
klien
(pelukan)
DAFTAR PUSATAKA

Nurarif, Huda Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:Mediaction
Bulechek, G.M. Butcher, H.K. Dochterman, J.M. Wagner, C.M. 2016. Nursing
Interventions Classification (NIC). Singapore : Elsevier Global Rights.
Moorhead, S. Johnson, M. Maas, M.L. Swanson, E. 2016. Nursing Outcomes
Classification (NOC). Singapore: Elsevier Global Rights.
Alimul H , A. Aziz. 2012. Buku Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika
Barbara, Kozier. 2011. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses &
Praktik Edisi 7 Volume 2. Jakarta : EGC
Brunner and Suddarth’s .2007. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. (Edisi
kedelapan). Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG

Mubarak, Wahit Iqbal.2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia : teori dan
alikasi dalam praktik. Jakarta: EGC

Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis


Medis & NANDA NIC – NOC Edisi revisi jilid 1. Yogyakarta: Mediaction

Potter, Patricia A., Perry, Anne G.2010.Fundamental Keperawatan, Edisi 7


Buku 3.Jakarta: Salemba Medika
Potter, Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, Proses, dan
Praktik, Edisi 4.Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta :
EGC

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi I. Jakarta: DPP


PPNI
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia:Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi I. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi I. Jakarta: DPP PPNI