Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN HIV/AIDS

PADA PENGGUNA NAPZA

Oleh Kelompok 3
Anggota:

1. Ni Kadek Tika Diyanti (P07120219072)


2. Kadek Melinda Sukmadewi (P07120219073)
3. Kadek Fransiska Sintya Dewi (P07120219074)
4. Kadek Ena Ardiyanti (P07120219075)
5. Ni Made Winda Permatasari (P07120219076)
6. Ni Luh Putu Marsela Dewi (P07120219077)
7. Putu Lydia Kusuma Riawan (P07120219078)
8. Ni Nyoman Triyana Sari (P07120219079)
9. Ni Putu Dyah Aditya Pradnyani (P07120219080)
10. Ni Luh Sulistia Dewi (P07120219081)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2021
LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN PASIEN HIV/AIDS PADA PENGGUNA NAPZA
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
a) Definisi HIV
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit kekurangan
sistem imun yang disebabkan oleh retrovirus HIV tipe 1 atau HIV tipe 2
(Copstead dan Banasik, 2012). Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara
progresif menghancurkan sel-sel darah putih infeksi oleh HIV biasanya
berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif,
menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama
pada orang dewasa) (Bararah dan Jauhar. 2013). HIV (Human
Immunodeficiency Virus). Termasuk salah satu retrovirus yang secara khusus
menyerang sel darah putih (sel T). Retrovirus adalah virus ARN hewan yang
mempunyai tahap ADN. Virus tersebut mempunyai suatu enzim, yaitu enzim
transkriptase balik yang mengubah rantai tunggal ARN (sebagai cetakan)
menjadi rantai ganda kopian ADN (cADN). Selanjutnya, cADN bergabung
dengan ADN inang mengikuti replikasi ADN inang. Pada saat ADN inang
mengalami replikasi, secara langsung ADN virus ikut mengalami replikasi.
b) Definisi AIDS
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh
manusia akibat infeksi virus HIV. Pengertian AIDS menurut beberapa ahli
antara lain:
1) AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana
mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah
200 atau kurang )dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges,
1999).
2) AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan
hasil akhir dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005)
c) Definisi Napza
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat
yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama
otak/susunan saraf pusat,sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik,
psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta
ketergantungan (dependensi) terhadap napza . Istilah napza umumnya
digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya
penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. Napza sering
disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga
menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Adapun jenis jenis napza:
1) Heroin : Serbuk putih seperti tepung yang bersifat opioid atau menekan
nyeri dan juga depresan SSP.
2) Kokain : Di olah dari pohon Coca yang punya sifat halusinogenik.
3) Putau: golongan heroin, berbentuk bubuk.
4) Ganja : berisi zat kimia delta-9-tetra hidrokanbinol, berasal dari daun
Cannabis yang dikeringkan, Konsumsi dengan cara dihisap seperti
rokok tetapi menggunakan hidung
5) Shabu-shabu : kristal yang berisi methamphetamine, dikonsumsi
dengan menggunakan alat khusus yang disebut Bong kemudian dibakar.
6) Ekstasi: methylendioxy methamphetamine dalam bentuk tablet atau
kapsul, mampu meningkatkan ketahanan seseorang (disalahgunakan
untuk aktivitas seksual dan aktivitas hiburan dimalam hari).
7) Diazepam,Nipam, Megadon : obat yang jika dikonsumsi secara berlebih
menimbulkan efek halusinogenik.
8) Alkohol : minuman yang berisi produk fermentasi menghasilkan etanol,
dengan kadar diatas 40 % mampu menyebabkan depresi susunan saraf
pusat, dalam kadar tinggi bisa memicu Sirosis hepatic, hepatitis
alkoholik maupun gangguan system persarafan.
2. Penyebab/Faktor Predisposisi
Penggunaan narkoba adalah penyebab utama infeksi HIV baru. Penggunaan alat
suntik, terutama semprit, secara bergantian dapat menularkan HIV, virus hepatitis dan
infeksi lain. Penggunaan alkohol dan narkoba, walaupun belum sampai pada
ketergantungan, dapat meningkatkan kemungkinan dilakukan hubungan seks yang
tidak aman dan meningkatkan risiko infeksi menular seksual. Penggunaan narkoba
(NAPZA) suntikan dan alkohol adalah faktor besar dalam penyebaran infeksi
HIV.Penggunaan narkoba suntikan bertanggung jawab untuk sepertiga infeksi HIV
yang baru. Alat-alat yang dipakai secara bergantian untuk memakai narkoba dapat
membawa HIV dan hepatitis virus, dan penggunaan narkoba dan alkohol juga dikaitkan
dengan hubungan seks secara tidak aman. Infeksi HIV menyebar secara mudah bila
orang memakai alat suntik secara bergantian dalam penggunaan narkoba.
Penggunaan alat bergantian juga menularkan virus hepatitis B, virus hepatitis C,
dan penyakit gawat lain. Darah yang terinfeksi terdapat pada semprit (insul) kemudian
disuntikkan bersama dengan narkoba saat pengguna berikut memakai semprit tersebut.
Ini adalah cara termudah untuk menularkan HIV karena darah yang terinfeksi langsung
dimasukkan pada aliran darah orang lain.
3. Pohon Masalah

Biologis Psikologis Sosial Spiritual Kultural

HIV/AIDS

Penurunan CD4+ dan peningkatan HIV/RNA

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)


(ODHA)

Sariawan Penyakit akut, kronis, terminal


Tekanan Sosial
(Stigma dan Diskriminasi)
Kehilangan, Berduka, Mersa sedih
- Menarik Diri
Defisit Nutrisi
- Tidak berminat/menolak
Mempengaruhi psikososial berinteraksi dengan Penguatan negative berulang, harga
orang lain atau diri rendah kronis
lingkungan
Kondisi melemah, stres, dan
- Tidak bergairah/ lesu
depresi Menilai diri negatif

Ancaman ter hadap konsep


diri Isolasi Sosial
Kehilangan kepercayaan pada
kekuatan spiritual

Kekhawatiran ,Merasa Gelisah


Keputusasaan, gangguang spiritual

Ansietas Distres Spiritual


4. Klasifikasi
Potensi penularan HIV dari pengguna NAPZA suntik ke masyarakat umum.
Metode yang digunakan untuk perhitungan potensi penularan didasarkan pada konsep
probabilitas. Penularan HIV dari penggunan NAPZA suntik ke masyarakat umum
dapat terjadi jika pengguna NAPZA suntik melakukan hubungan seksual tanpa
menggunakan kondom. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa potensi penyebaran
HIV dari pengguna NAPZA suntik ke masyarakat umum sangat besar. Dari 27,300
pengguna NAPZA suntik di DKI (tahun 2000) akan ada 1.062—3.368 kasus baru HIV
per tahun, atau akan ada 389 – 1.245 kasus baru HIV per tahun per 10.000 pengguna
NAPZA suntik. Untuk meminimalkan potensi penyebaran HIV dari pengguna NAPZA
suntik ke masyarakat umum perlu dilaksanakan beberapa strategi antara
lain:penggunaan alat suntik yang steril, detoksifikasi dan mencari pengganti suntikan,
komunikasi informasi dan edukasi mengenai dampak buruk NAPZA dan HIV/AIDS,
mengurangi peredaran NAPZA, kampanye kondom dengan cara meningkatkan akses
pengguna NAPZA terhadap kondom, dan peningkatan peran aktif masyarakat dalam
pemberantasan NAPZA serta menerima bekas pengguna NAPZA yang telah sembuh
tanpa diskriminasi.
5. Gejala Klinis
a. Penurunan kesadaran Penurunan kesadaran adalah kondisi saat kesadaran menurun
sebagai akibat berbagai macam gangguan atau penyakit. Gangguan tersebut
akhirnya mengacaukan fungsi reticular activating system secara langsung maupun
tidak langsung yang menyebabkan orang tersebut tidak sadar.overdosis dari
penggunaan napza dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
b. Frekuensi pernapasan < 12 kali/menit karena overdosis atau kelebihan dosis dari
penggunaan napza.
c. Pupil miosis Miosis, atau miosis, adalah penyempitan pupil yang berlebihan.
Miosis disebabkan oleh penggunaan napza dengan dosis tinggi. Pasien juga
menunjukkan miosis pada kedua kelopak mata dan pandangan yang lalai ke
kamera, tanda perubahan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh efek obat
penenang.
d. Adanya riwayat pemakaian morfin/heroin/terdapat tanda bekas jarum suntik
(needle track sign).
e. Hati: terjadi hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan
seksual.
f. Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS Para pengguna NAPZA dikenal
dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seks demi
mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit menular seksual yang
terjadi adalah: kencing nanah (GO), raja singa (shipilis), dll. Dan juga pengguna
NAPZA yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama membuat angka
penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui
jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan
dari ibu ke janin.
g. Alat reproduksi: sering terjadi kemandulan.
h. Kulit: terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik,
sehingga mereka sering menggunakan baju berlengan panjang.
i. Komplikasi pada kehamilan.
j. Ibu: anemia, infeksi pada vagina, hepatitis, AIDS.
k. Kandungan: abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati.
l. Janin: pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. VCT ( Visite Conselling test) VCT atau voluntary counselling and testing diartikan
sebagai konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS). Layanan ini bertujuan untuk
membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS.
VCT bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik penyedia
layanan VCT.VCT bersifat rahasia dan dilakukan secara sukarela. Artinya, hanya
dilakukan atas inisiatif dan persetujuan pihak yang datang ke penyedia layanan
VCT untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan selama VCT pun terjaga
kerahasiaannya.
b. Detoksifikasi medis Dalam detoksifikasi, akan dilakukan sejumlah pemeriksaan
fisik dan mental pada pecandu narkoba, termasuk skrining infeksi menular seksual,
HIV/AIDS, dan lain-lain. Selain itu, dokter juga akan memutuskan apakah pasien
memerlukan obat-obatan tertentu agar tidak mengalami gejala putus obat (sakau)
yang disesuaikan dengan jenis narkoba dan derajat keparahan. Teknik detoksifikasi
yang biasa dilakukan, antara lain:
1) Cold turkey, yakni mengurung pecandu pada fase sakau tanpa memberikan
obat lain (2 minggu).
2) Terapi substitusi, yakni terapi yang khusus digunakan bagi pecandu heroin
atau opioid. Kebutuhan heroin akan diganti dengan metadhone, codein,
morfin, atau naltrekson.
3) Terapi simptomatik, yakni memberikan obat yang disesuaikan dengan
keluhan pecandu narkoba.

c. Rehabilitasi primer ( non medis ) Dalam tahapan ini, beberapa program yang
dilakukan ada 3. Yaitu:
1) Therapeutic communities (TC). Tujuannya adalah membantu pasien
mengenal dirinya melalui lima area pengembangan kepribadian, yaitu
emosi atau psikologis, manajemen perilaku, intelektual dan spiritual,
pendidikan, serta keterampilan untuk bebas dari narkoba.
2) Criminon. Tahapan ini bertujuan untuk membina pecandu agar tidak
kembali melakukan kejahatan. Pembinaan spiritual. Tujuannya adalah
untuk mengembalikan nilai-nilai moral atau agama untuk menjadi manusia
yang lebih baik. Selain itu,Di tahapan ini pecandu narkoba dapat diajarkan
untuk bermeditasi agar mereka mampu menenangkan pikiran serta
mengendalikan diri dari “godaan” barang haram tersebut.
3) Di tahapan ini, pecandu narkoba lebih ditekankan pada sugestisugesti
positif. Sebab, narkoba tidak memberikan dampak positif apapun dalam
jangka panjang. Selain itu, pecandu juga akan diberikan sugesti bahwa
narkoba akan membuat mereka terlihat aneh dan kehilangan sosok diri
sendiri.
7. Penatalaksanaan Medis
a. VCT (Visite Conselling test) VCT atau voluntary counselling and testing diartikan
sebagai konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS). Layanan ini bertujuan untuk
membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS.
VCT bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik penyedia
layanan VCT.VCT bersifat rahasia dan dilakukan secara sukarela. Artinya, hanya
dilakukan atas inisiatif dan persetujuan pihak yang datang ke penyedia layanan
VCT untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan selama VCT pun terjaga
kerahasiaannya.
b. Detoksifikasi Adalah proses menghilangkan racun( zat narkotika atau adiktif lain)
dari tubuh.Teknik detoksifikasi yang biasa dilakukan, antara lain:
1) Cold turkey, yakni mengurung pecandu pada fase sakau tanpa memberikan
obat lain (2 minggu).
2) Terapi substitusi, yakni terapi yang khusus digunakan bagi pecandu heroin
atau opioid. Kebutuhan heroin akan diganti dengan metadhone, codein,
morfin, atau naltrekson.
3) Terapi simptomatik, yakni memberikan obat yang disesuaikan dengan
keluhan pecandu narkoba.
Penatalaksanaan Non Medis
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan komplementer
tradisional-alternatif atau sering disebut dengan CAM (Complementary Alternative
Medicine) adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan,
dan efektivitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik. Artinya
pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat
dipakai sebagai pendamping terapi konvesional/medis. Sedangkan pengobatan
alternatif adalah jenis pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada
umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut
melalui pendidikan yang lain/ non medis.
Terapi komplementer ini bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem– sistem
tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat
menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya
mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau
mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang baik dan
lengkap serta perawatan yang tepat.
Pengobatan tradisional, komplementer dan alternatif telah digunakan oleh beberapa
orang yang hidup dengan HIV dalam upaya untuk menyembuhkan HIV. Faktor utama
yang mempengaruhi keputusan mereka untuk memilih pengobatan tradisional,
komplementer dan alternatif untuk menyembuhkan HIV dan membahas implikasi
untuk penelitian penyembuhan HIV. Mereka yang memutuskan untuk menjalani
pengobatan medis tradisional, komplementer dan alternatif dapat dipengaruhi oleh
sistem kesehatan, dinamika budaya dan sosial, dan keyakinan dan preferensi individu
mereka sendiri. Faktor – faktor yang sama ini dapat mempengaruhi partisipasi dalam
penelitian penyembuhan HIV. Orang yang mencari pengobatan medis tradisional,
komplementer dan alternatif mungkin menghadapi tantangan khusus karena mereka
direkrut, disetujui, dan dipertahankan dalam studi penelitian penyembuhan HIV.
Untuk mengatasi tantangan potensial ini, terdapat solusi yang berfokus pada
komunikasi dan pendidikan yang disesuaikan dengan budaya, penelitian ilmu sosial
formatif, dan kemitraan masyarakat dengan pemangku kepentingan utama. Kondisi
sosial yang telah mempromosikan pengobatan medis tradisional, komplementer dan
alternatif kemungkinan akan berdampak pada bagaimana orang yang hidup dengan
HIV berpartisipasi dan mengalami uji coba remisi HIV.
Terlepas dari tantangan potensial, itu akan terjadi penting untuk melibatkan mereka
yang sebelumnya telah mencari pengobatan tradisional untuk HIV dalam penelitian
penyembuhan HIV.
1) Akupuntur dan Respon Relaksasi (RR)
Kemajuan pengobatan telah mengubah penyakit human immunodeficiency
virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) menjadi penyakit
kronis yang dapat ditangani. kualitas hidup penderita HIV/AIDS telah menjadi
hasil kesehatan yang penting. Beberapa penelitian telah menunjukkan efek
individu dari pengobatan terapi akupunktur dan respon relaksasi (RR) dalam
meningkatkan kualitas hidup pasien dengan HIV / AIDS. Banyak pasien
menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif (CAM) untuk
membantu meringankan gejala terkait HIV dan meningkatkan imunitas tubuh.
Akupunktur dan respon relaksasi (RR) adalah pengobatan yang umum biasa
digunakan. Akupunktur dan RR dianggap memiliki ciri-ciri umum yang sama-
sama menginduksi ketenangan dan relaksasi yang mendalam dalam pikiran dan
tubuh. Ciri-ciri bersama dari 2 terapi ini dapat saling melengkapi karena
akupunktur memfasilitasi efek RR, sedangkan RR mempersiapkan tubuh untuk
lebih responsif terhadap akupunktur. Meskipun cara akupunktur dan RR
efeknya tidak dipahami dengan baik dan tetap menjadi bidang penyelidikan
ilmiah, penelitian telah menemukan respons fisiologis dan neurologis serupa
yang dihasilkan oleh kedua terapi ini. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan
bahwa akupunktur mempercepat pelepasan opioid endogen. peptida (misalnya,
endorfin, enkefalin) di sistem saraf pusat. Demikian pula, pelepasan
neurotransmitter opioid dan nitric oxide juga telah dihipotesiskan dan
didemonstrasikan dalam penelitian yang menjelaskan efek kesehatan dari
RR.Efek klinis dari masing-masing terapi ini telah dipelajari secara luas.
Efek dari akupunktur untuk meredakan gejala dan meningkatkan kualitas
hidup terapi akupuntur dan RR menghasilkan efek menguntungkan untuk
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, mengurangi tekanan psikologis, dan
meningkatkan Kualitas hidup di antara pasien dengan HIV / AIDS.
Fokus utama perawatan akupunktur adalah untuk memberikan dukungan
bagi sistem kekebalan, kedua, penanganan gejala ditangani. Semua pengobatan
diberikan menurut penilaian klinis ahli akupunktur,setiap perawatan terdiri dari
poin-poin yang ditentukan agar optimal sesuai dengan standar perawatan.
Pengobatan individual dipraktekkan oleh sebagian besar ahli akupunktur
dan dianggap sebagai norma untuk pengobatan akupunktur. Rencana
perawatan akupunktur biasanya merekomendasikan perawatan mingguan
selama 45-60 menit namun, dalam beberapa kasus lebih dari 1 pengobatan per
minggu dapat terjadi.
Kemudian untuk perawatan Respon Relaksasi (RR) biasanya digunakan
teknik yaitu mendengarkan kaset yang berisi instruksi.
Adapun teknik terapi RR yaitu:
a. kesadaran pernapasan
b. pengulangan kata, suara, frase, atau doa secara mental
c. autogenik (self-hypnosis)
d. pemindaian tubuh terpandu
e. visualisasi penyembuhan diri
f. citra terpandu.
Teknik ini biasanya digunakan untuk memunculkan respons relaksasi. Pita
untuk masing-masing teknik ini disiapkan, dan setiap pita digunakan dalam 2
perawatan akupunktur. Instruksi untuk masing-masing teknik RR ini
berlangsung selama 20 menit. Karena durasi sesi akupunktur adalah 45-60
menit, musik lembut ditambahkan setelah instruksi RR di sisa kaset, yang
digunakan selama pengobatan akupunktur. Juga diminta untuk mempraktikkan
RR di rumah dua kali sehari dengan mendengarkan kaset dengan instruksi
untuk mendapatkan RR. Hasil ini memberi kesan bahwa menambahkan RR
pada pengobatan akupunktur dapat meningkatkan peningkatan kualitas hidup
pasien dengan HIV.
2) Meditasi Transendental
Meditasi Transendental adalah program pengurangan stres perilaku yang
menggabungkan pendekatan pikiran-tubuh, dan menunjukkan efektivitas
dalam meningkatkan hasil melalui pengurangan stres. Stres terlibat dalam
patogenesis dan perkembangan HIV. Dan menurut penelitian salah satu jurnal
mengevaluasi kelayakan penerapan Meditasi Transendental dan pengaruhnya
terhadap hasil pada orang dengan HIV kelompok Meditasi Transendental
menunjukkan hasil yang signifikan dalam peningkatan vitalitas. Dan intervensi
TM pengurangan stres perilaku adalah dapat diterima pada orang dengan HIV
dan terdapat peningkatan HRQoL (Health Related Quality Of Life) generik dan
khusus HIV.
Ditinjau dari aspek psikologis, terapi meditasi MT terbukti bermanfaat
untuk mengurangi rasa cemas, stres, marah, dan rasa permusuhan yang kerap
terjadi pada pasien HIV AIDS.
3) Terapi Spiritual
Konsep kedokteran modern mengenai pengobatan menggunakan
pertimbangan aspek biopsikososial. Artinya pengobatan tidak hanya berusaha
untuk mengembalikan fungsi fisik seseorang tetapi juga fungsi psikis dan
sosial. Pendekatan ini menepatkan kembali pengobatan spiritual sebagai salah
satu cara pengobatan dalam upaya penyembuhan penderita.
Di Indonesia pengobatan spiritual biasanya dikaitkan dengan agama.
Seseorang pemeluk agama Islam misalnya cenderung untuk menjalani
pengobatan spiritual yang dilaksanakan sesuai ajaran agama Islam, misalnya
berzikir, berdoa, berpuasa, sholat hajat dll.
Dalam agama lain juga terdapat kegiatan ritual untuk penyembuhan baik
yang dibimbing oleh rohaniawan maupun yang dilakukan sendiri. ODHA dapat
memilih untuk menjalankana pengobatan spiritual yang sesuai dengan
agamanya atau pengobatan spiritual yang berlaku umum. Apabila memilih
pengobatan spiritual yang sesuai dengan agamanya maka kegiatan tersebut
tidak asing lagi baginya serta mendukung jemaah yang dikenal dan akrab akan
mempermudah sosialisasi
4) Tanaman Obat
WHO melaporkan bahwa secara global hanya 21,7 juta (19,1 juta-22,6 juta)
orang yang memiliki akses ke terapi antiretroviral hingga 2017. Saat ini, terapi
antiretroviral (ART) tersedia untuk mengendalikan HIV tetapi memiliki efek
samping terkait yang serius seperti lipodistrofi. Karena keterbatasan, terkait
dengan ART, para peneliti di seluruh dunia mencoba untuk mengeksplorasi dan
mengembangkan obat yang lebih handal dan aman dari sumber daya alam
untuk mengelola infeksi HIV.
Berbagai macam tanaman obat telah dipelajari dan dilaporkan memiliki
potensi yang signifikan terhadap HIV. Tumbuhan seperti Rheum palmatum L.,
Rheum officinale, Trigonostem axyphophylloides, Vatica astrotricha,
Vernonia amygdalina, Hypoxias pelargonium, Sidoides hemerocallidea dan
Sutherlandia frutescens dll memiliki khasiat yang tinggi untuk menyembuhkan
HIV.
Mekanisme kerja pastinya masih belum diketahui tetapi berbagai
fitokonstituen yang diisolasi dari tanaman obat seperti alkaloid, flavonoid,
polifenol, terpenoid, tanin, protein dan kumarin berpotensi mengganggu siklus
hidup HIV serta berperan sebagai imunomodulator untuk meningkatkan sistem
kekebalan pasien yang terinfeksi tanpa efek samping yang dilaporkan dengan
baik. Obat-obatan dari sumber daya alam seperti tanaman obat tetap menjadi
pilihan yang populer untuk mengobati berbagai penyakit menular maupun
tidak menular. Telah dilaporkan dengan baik bahwa tanaman obat dengan
sedikit atau tanpa efek samping digunakan untuk pengobatan HIV / AIDS.
Tanaman obat tidak hanya mempengaruhi replikasi partikel virus tetapi juga
bertindak sebagai imunomodulator dan stimulan kekebalan karena potensi
sumber antioksidan dan senyawa nutraceutical. Sejumlah jamu yang memiliki
aktivitas anti-HIV telah dilaporkan dalam literatur.
8. Komplikasi
a. Komplikasi Medik
Biasanya digunakan dalam jumlah cukup banyak dan waktu yang cukup lama.
Pengaruhnya pada:
1) Otak dan susunan saraf pusat.
a) gangguan daya ingat
b) gangguan perhatian/konsentrasi
c) gangguan bertindak rasional
d) gangguan persepsi, sehingga menimbulkan halusinasi
e) gangguan motivasi, sehingga malas bersekolah dan bekerja
f) gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan yang baik dan
yang buruk
2) Pada saluran napas: dapat terjadi radang paru (bronchopneomia),
pembengkakan paru (oedema paru).
3) Jantung: peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung
4) Hati: terjadi hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan
seksual
5) Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDSPara pengguna NAPZA
dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan
seks demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit menular
seksual yang terjadi adalah: kencing nanah (GO), raja singa (shipilis), dll. Dan
juga pengguna NAPZA yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS
menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi
darah dan penularan dari ibu ke janin
6) Alat reproduksi: sering terjadi kemandulan.
7) Kulit: terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik,
sehingga mereka sering menggunakan baju berlengan panjang.
8) Komplikasi pada kehamilan:
a) Ibu: anemia, infeksi pada vagina, hepatitis, AIDS.
b) Kandungan: abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati.
c) Janin: pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
b. Dampak Sosial
1) Lingkungan keluarga
- Suasana ketentraman dalam keluarga akan terganggu, sering terjadi
pertengkaran.
- Orang tua merasa resah karena barang berharga sering hilang.
- Perilaku menyimpang/asosial anak (berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup
bebas) menjadi aib keluarga.
- Putus sekolah atau nganggur karena dikeluarkan dari sekolahan atau
pekerjaan.
- Menjadi putus asa, karena kesulitan biaya untuk pengobatan dan
rehabilitasi.
2) Di sekolah
- Merusak disiplin dan motivasi belajar
- Meningkatnya tingkat kenakalan: membolos, tawuran
- Mempengaruhi peningkatan penyalahgunaan ter-hadap sesamanya (teman
sebaya).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Meliputi nama lengkap, tempat/tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama, alamat,
pendidikan, pekerjaan, asal suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, no medical
record (MR), nama orang tua, dan pekerjaan orang tua.
b. Identitas Penanggung Jawab
Meliputi nama, umur, pekerjaan dan hubungan dengan pasien.
c. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien
pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan
utamaseharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality,
Regio, Skala,dan Time).
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji status kesehatan pasien saat dilakukannya pengkajian.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat kesehatan dahulu terutama yang berkaitan dengan gangguan
pemenuhankebutuhan eliminasi urin dan fekal. Ataupun riwayat dirawat di
rumah sakit atau pembedahan
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji riwayat kesehatan keluarga untuk mengetahui apakah ada
penyakitketurunan di keluarga pasien.
5) Pola nutrisi/metabolisme
Mengkaji diet khsusus yang diterapkan pasien, perubahan BB, dan gambaran
diet pasien dalam sehari untuk mengetahui adanya konsumsi makanan yang
mengganggueliminasi urin atau fekal
6) Pola eliminasi
Kaji kebiasaan defekasi dan/atau berkemih serta masalah yang dialami. Ada
atautidaknya konstipasi, diare, inkontinensia, retensi, dan gangguan lainnya.
Kaji penggunaan alat bantu
7) Pola aktivitas/ olahraga
Pola aktivitas terkait dengan ketidakmampuan pasien yang disebabkan oleh
kondisikesehatan tertentu atau penggunaan alat bantu yang mempengaruhi
kebiasaaneliminasi pasien.
8) Pola istirahat tidur
Kebiasaan tidur pasien dan masalah yang dialami
9) Pola kognitif – perseptif
Kaji status mental pasien, kemampuan bicara, ansietas, ketidaknyamanan,
pendengaran dan penglihatan.
10) Pola peran hubungan
Kaji pekerjaan pasien, sistem pendukung, ada/tidaknya masalah keluarga
berkenaandengan masalah di rumah sakit.
11) Pola seksualitas/ reproduksi
Kaji adanya masalah seksualitas pasien.
12) Pola koping - toleransi stress
Keadaan emosi pasien, hal yang dilakukan jika ada masalah, dan penggunaan
obatuntuk menghilangkan stress.
13) Pola keyakinan-nilai
Agama yang dianut pasien dan pengaruhnya terhadap kehidupan.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut SDKI, 2016, Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penyakit
HIV/AIDS pada pengguna Napza berkaitan dengan bio-psiko-sosial-kultural, yaitu:
a. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (penyakit HIV/AIDS)
dibuktikan dengan berat bedan menurun minimal 10 % di bawah rentang lokal,
sariawan dan diare.
b. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri dibuktikan dengan
merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak
gelisah, merasa tidak berdaya.
c. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan menjalin hubungan yang
memuaskan dibuktikan dengan merasa ingin sendiri, merasa tidak aman di tempat
umum, menarik diri, tidak berminat/menolak berinteraksi dengan orang lain atau
lingkungan, tidak bergairah/lesu.
d. Distres spiritual berhubungan dengan menjelang ajal, kondisi penyakit kronis,
kematian orang terdekat, perubahan pola hidup, kesepian, pengasingan diri,
pengasingan sosial, gangguan sosio kultural, peningkatan ketergantungan pada
orang lain, kejadian hidup yang tidak, diharapkan dibuktikan dengan
mempertanyakan makna/tujuan hidupnya, menyatakan hidupnya terasa
tidak/kurangbermakna, merasa menderita/tidak berdaya, tidak mampu beribadah,
marah pada tuhan, menyatakan hidupnya terasa tidak/kurang tenang, mengeluh
tidak dapat menerima (kurang pasrah), merasa bersalah, merasa terasing,
menyatakan telah diabaikan, menolak berinteraksi dengan orang
terdekat/pemimpin spiritual, tidak mampu berkreativitas (mis. Menyanyi,
mendengarkan musik, menulis), koping tidak efektif, tidak berminat pada
alam/literatur spiritual
3. Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
Defisit nutrisi berhubungan Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama Manajemen Nutrisi
dengan faktor psikologis keperawatan selama … x … Manajemen Nutrisi 1. Mengetahui status nutrisi
(penyakit HIV/AIDS) jam, maka diharapkan Status Observasi: pasien
dibuktikandengan berat bedan Nutrisi membaik (L.03030) 1. Identifikasistatus nutrisi 2. Untuk mengetahui makanan
menurun minimal 10 % di dengan kriteria hasil sebagai 2. Identifikasi makanan yang yang disukai pasien dan untuk
bawah rentang lokal, sariawan berikut: disukai menambah nafsu makan pasien
dan diare. 1. Porsi makan yang 3. Identifikasi kebutuhan 3. Agar mengetahui kebutuhan
dihabiskan meningkat 4. kalori dan jenis kalori dan nutrient yang tepat
2. Nyeri abdomen menurun nutrientIdentifikasi perlunya untuk pasien
3. Sariawan menurun penggunaan selang nasogastric 4. Agar pasien tetapdapat
4. Berat badan membaik 5. Monitor asupan makanan memenuhi kebutuhan nutrinya
5. Indeks massa tubuh 6. Monitor berat badan jika pasien tidak bisa makan
membaik 6. Nafsu makan Terapeutik: melalui mulut
membaik 7. Sajikan makanan secara 5. Agar asupan makanan
7. Bising usus membaik menarik dan suhu yang sesuai pasien sesuai kebutuhan
Membarane mukosa membaik 8. Berikan makanan tinggi 6. Mengetahui adanya
serat untuk mencegah penurunan atau kenaikan pada
konstipasi berat badan pasien
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
9. Berikan makanan tinggi 7. Agar pasien memiliki nafsu
kalori dan tinggi protein makan
10. Berikan suplemen 8. Makanan tinggi serat dapat
makanan, jika perlu Edukasi: membantu mencegah
11. Anjurkan posisi duduk, terjadinya konstipasi
jika mampu 9. Untuk menambah berat
Kolaborasi: badan pasien dan memenuhi
12. Kolaborasi pemberian kebutuhan kalori dan
medikasi sebelum makan (mis. proteinnya
Pereda nyeri), jika perlu 10. Untuk menambah nafsu
13. Kolaborasi dengan ahli gizi makan pasien jika pasien tetap
untuk menentukan jumlah tidak mau makan
kalori dan jenis nutrient yang 11. Untuk memudahkan pasien
dibutuhkan, jika perlu dalam mencerna makanan
12. agar saat makan pasien
tidak merasakan nyeri
13. untuk memastikan
kebutuhan kalori dan jenis
nutrient yang diberikan ke
pasien tepat
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
Promosi Berat Badan Promosi Berat Badan
Observasi: 1. mengetahui faktor apa saja
1. Identifikasi kemungkinan yang menyebabkan berat
penyebab BB kurang badan pasien menurun
2. monitor jumlah kalori yang 2. agar jumlah kalori yang
dikomsumsi seharihari dikonsumsi pasien tepat
3. monitor berat badan kebutuhan
4. monitor albumin, limfosit, 3. mengetahui perubahan berat
dan elektrolit, serum badan pasien mempermudah
Terapeutik: mengetahui perubahan pada
5. Sediakan makanan yang albumin, limfosit dan
tepat sesuai kondisi pasien elektrolit, serum pasien
6. Hidangkan makanan secara 5. bertujuan untuk pemenuhan
menarik kebutuhan kalori dan protein
7. Berikan suplemen, jika perlu pasien
Edukasi: 6. untuk menambah nafsu
8. Jelaskan jenis makanan yang makan pasien
bergizi tinggi, namun tetap 7. agar pasien memiliki nafsu
terjangkau untuk makan jika diberikan
suplemen
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
9. Jelaskan peningkatan asupan 8. agar pasien mengetahui jenis
kalori yang dibutuhkan makanan apa saja yang
memiliki gizi tinggi
9. agar kebutuhan kalori pasien
terpenuhi dan berat badan
pasien kembali ke ideal
Ansietas berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama :
ancaman terhadap konsep diri keperawatan ...x... jam Reduksi Ansietas ( I. 09314) 1. Mengetahui perubahan
dibuktikan dengan merasa diharapkan: Observasi : tingkat ansietas
bingung, merasa khawatir Tingkat Ansietas (L. 09093) 1. Identifikasi saat tingkat 2. Mengetahui keputusan
dengan akibat dari kondisi menurun dengan kriteria hasil : ansietas berubah (mis. pasien
yang dihadapi, tampak gelisah, 1. Verbalisasi kebingungan kondisi, waktu, stresor) 3. Mengetahui tanda-tanda
merasa tidak berdaya menurun 2. Identifikasi kemampuan ansietas
2. Verbalisasi khawatir akibat mengambil keputusan 4. Agar pasien percaya
kondisi yang dihadapi 3. Monitor tanda-tanda terhadap perawat
menurun ansietas (verbal dan 5. Agar rasa cemas pasien
3. Perilaku gelisah menurun nonverbal) berkurang
4. Perilaku tegang menurun Terapeutik : 6. Mengetahui situasi yang
5. Keluhan pusing menurun membuat pasien ansietas
6. Anoreksia menurun
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
7. Palpitasi menurun 4. Ciptakan suasana terapeutik 7. Agar pasien merasa
8. Frekuensi pernapasan untuk menumbuhkan nyaman
menurun kepercayaan 8. Agar pasien merasa
9. Frekuensi nadi menurun 5. Temani pasien untuk nyaman dan yakin
10. Tekanan darah menurun mengurangi kecemasan, 9. Agar pasien merasa
11. Diaforesis menurun jika memungkinkan nyaman
12. Tremor menurun 6. Pahami situasi yang 10. Mengetahui situasi yang
13. Pucat menurun membuat ansietas memicu kecemasan
14. Konsentrasi membaik 7. Dengarkan dengan penuh 11. Membantu pasien untuk
15. Pola tidur membaik perhatian mengetahui kondisi pasien
16. Perasaan keberdayaan 8. Gunakan pendekatan yang kedepannya
membaik tenang dan meyakinkan 12. Agar pasien prosedur, dan
17. Kontak mata membaik 9. Tempatkan barang pribadi sensasi yang akan dialami
18. Pola berkemih membaik yang memberikan 13. Agar pasien mengetahui
19. Orientasi membaik kenyamanan diagnosis, pengobatan, dan
10. Motivasi mengidentifikasi prognosis
situasi yang memicu 14. Agar pasien merasa
kecemasan. nyaman
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
11. Diskusikan perencanaan 15. Agar pasien tidak
realistis tentang peristiwa melakukan kegiatan
yang akan datang berlebihan
Edukasi : 16. agar pasien merasa lebih
12. Jelaskan prosedur, lega
termasuk sensasi yang 17. Agar pasien merasa lebih
mungkin dialami tenang
13. Informasikan secara faktual 18. Mampu menjaga
mengenai diagnosis, pertahanan diri
pengobatan, dan prognosis 19. Agar pasien dapat
14. Anjurkan keluarga untuk melakukan teknik relaksasi
tetap bersama pasien, jika 20. Memberikan efek
perlu ketenangan pada pasien
15. Anjurkan melakukan
kegiatan yang tidak
kompetitif, sesuai
kebutuhan
16. Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsi
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
17. Latih kegiatan pengalihan
untuk mengurangi
ketegangan
18. Latih penggunaan
mekanisme pertahanan diri
yang tepat
19. Latih teknik relaksasi
Kolaborasi :
20. Kolaborasi pemberian obat
antiansietas, jika perlu
Isolasi sosial berhubungan Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama Intervensi Utama
dengan ketidakmampuan keperawatan selama ...x... jam Promosi Sosialisasi (I.13498) Promosi Sosialisasi (I.13498)
menjalin hubungan yang diharapkan Keterlibatan Observasi Observasi
memuaskan dibuktikan dengan Sosial (L. 13116) meningkat 1. Identifikasi kemampuan 1. Untuk mengidentifikasi
merasa ingin sendiri, merasa dengan kriteria hasil : melakukan interaksi dengan kemampuan melakukan
tidak aman di tempat umum, 1. Minat interaksi meningkat orang lain interaksi dengan orang lain
menarik diri, tidak 2. Verbalisasi tujuan yang 2. Identifikasi hambatan 2. Untuk mengidentifikasi
berminat/menolak berinteraksi jelas meningkat melakukan interaksi dengan hambatan melakukan
dengan orang lain atau 3. Minat terhadap aktivitas orang lain interaksi dengan orang lain
meningkat Terapeutik Terapeutik
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
lingkungan, tidak 4. Verbalisasi isolasi menurun 3. Motivasi meningkatkan 3. Untuk memotivasi
bergairah/lesu. 5. Verbalisasi ketidakamanan keterlibatan dalam suatu meningkatkan keterlibatan
di tempat umum menurun hubungan dalam suatu hubungan
6. Perilaku menarik diri 4. Motivasi kesabaran dalam 4. Untuk motivasi kesabaran
menurun mengembangkan suatu dalam mengembangkan
7. Verbalisasi perasaan hubungan suatu hubungan
berbeda dengan orang lain 5. Motivasi berpartisipasi 5. Untuk memotivasi
menurun dalam aktivitas baru dan berpartisipasi dalam
8. Verbalisasi preokupasi kegiatan kelompok aktivitas baru dan kegiatan
dengan pikiran sendiri 6. Motivasi berinteraksi di luar kelompok
menurun lingkungan (mis. jalan-jalan 6. Untuk memotivasi
9. Afek murung/sedih ke toko buku) berinteraksi di luar
menurun 7. Diskusikan kekuatan dan lingkungan (mis. jalan-jalan
10. Perilaku bermusuhan keterbatasan dalam ke toko buku)
menurun berkomunikasi dengan 7. Mendiskusikan kekuatan
11. Perilaku sesuai dengan orang lain dan keterbatasan dalam
harapan orang lain membaik 8. Diskusikan perencanaan berkomunikasi dengan
12. Perilaku bertujuan membaik kegiatan di masa depan orang lain
13. Kontak mata membaik 9. Berikan umpan balik positif
dalam perawatan diri
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
14. Tugas perkembangan sesuai 10. Berikan umpan balik positif 8. Untuk mendiskusikan
usia membaik pada setiap peningkatan perencanaan kegiatan di
kemampuan masa depan
Edukasi 9. Untuk memberikan umpan
11. Anjurkan berinteraksi balik positif dalam
dengan orang lain secara perawatan diri
bertahap 10. Untuk memberikan umpan
12. Anjurkan ikut serta balik positif pada setiap
kegiatan sosial dan peningkatan kemampuan
kemasyarakatan Edukasi
13. Anjurkan berbagi 11. Untuk menganjurkan
pengalaman dengan orang berinteraksi dengan orang
lain lain secara bertahap
14. Anjurkan meningkatkan 12. Untuk menganjurkan ikut
kejujuran diri dan serta kegiatan sosial dan
menghormati hak orang lain kemasyarakatan
15. Anjurkan penggunaan alat 13. Untuk menganjurkan
bantu (mis. kacamata dan berbagi pengalaman dengan
alat bantu dengar) orang lain
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
16. Anjurkan membuat 14. Untuk menganjurkan
perencanaan kelompok meningkatkan kejujuran
kecil untuk kegiatan khusus diri dan menghormati hak
17. Latih bermain peran untuk orang lain
meningkatkan keterampilan 15. Untuk menganjurkan
komunikasi penggunaan alat bantu (mis.
18. Latih mengekspresikan kacamata dan alat bantu
marah dengan tepat dengar)
16. Agar mempunyai rencana
kelompok kecil untuk
kegiatan khusus
17. Untuk melatih bermain
peran untuk meningkatkan
keterampilan komunikasi
Untuk melatih
mengekspresikan marah
dengan tepat
Distres spiritual berhubungan Setelah dilakukan asuhan Dukungan spiritual (I.09276) Dukungan Spiritual
dengan menjelang ajal, kondisi keperawatan ..x..jam Observasi : (L09276) Observasi:
penyakit kronis, kematian diharapkan Status Spiritual
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
orang terdekat, perubahan pola (L.01006) membaik dengan 1. Identifikasi perasaan 1. Untuk mengetahui perasaan
hidup, kesepian, pengasingan kriteria hasil: khawatir, kesepian dan khawatir, kesepian dan
diri, pengasingan sosial, 1. Verbalisasi makna dan ketidakberdayaan ketidakberdayaan
gangguan sosio kultural, tujuan hidup meningkat 2. Identifikasi pandangan 2. Untuk mengetahui
peningkatan ketergantungan 2. Verbalisasi kepuasan tentang hubungan antara pandangan tentang hubungan
pada orang lain, kejadian hidup tehadap makna hidup spiritiual dan kesehatan antara spiritiual dan kesehatan
yang tidak, diharapkan meningkat 3. Identifikasi harapan dan 3. Untuk mengetahui harapan
dibuktikan dengan 3. Verbalisasi perasaan kekuatan pasien dan kekuatan pasien
mempertanyakan makna/tujuan keberdayaan meningkat 4. Identifikasi ketaatan dalam 4. Untuk mengetahui ketaatan
hidupnya, menyatakan 4. Verbalisasi perasaan tenang beragama pasien dalam beragama
hidupnya terasa meningkat Terapeutik: Terapeutik:
tidak/kurangbermakna, merasa 5. Verbalisasi penerimaan 5. Berikan kesempatan 5. Untuk dapat memberikan
menderita/tidak berdaya, tidak meningkat mengekspresikan perasaan kesempatan mengekspresikan
mampu beribadah, marah pada 6. Verbalisasi percaya pada tentang penyakit dan kematian perasaan tentang penyakit dan
tuhan, menyatakan hidupnya orang lain meningkat 6. Berikan kesempatan kematian
terasa tidak/kurang tenang, 7. Perilaku marah pada Tuhan mengekspresikan dan 6. Untuk dapat memberikan
mengeluh tidak dapat menurun meredakan marah secara tepat kesempatan mengekspresikan
menerima (kurang pasrah), 8. Verbalisasi perasaan 7. Yakinkan bahwa perawat dan meredakan marah secara
merasa bersalah, merasa bersalah menurun bersedia mendukung selama tepat
terasing, menyatakan telah masa ketidakberdayaan
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
diabaikan, menolak 9. Verbalisasi perasaan asing 8. Sediakan privasi dan waktu 7. Untuk dapat meyakinkan
berinteraksi dengan orang menurun tenang untuk aktivitas spiritual bahwa perawat bersedia
terdekat/pemimpin spiritual, 10. Verbalisasi perasaan 9. Diskusikan keyakinan mendukung selama masa
tidak mampu berkreativitas diabaikan menurun tentang makna dan tujuan ketidakberdayaan
(mis. Menyanyi, 11. Verbalisasi menyalahkan hidup, jika perlu 8. Untuk dapat meyediakan
mendengarkan musik, diri sendiri menurun 10. Fasilitasi melakukan privasi dan waktu tenang untuk
menulis), koping tidak efektif, 12. Mimpi buruk menurun kegiatan ibadah aktivitas spiritual
tidak berminat pada 13. Perasaan takut menurun Edukasi : 9. Untuk dapat mendiskusikan
alam/literatur spiritual 14. Penghindaran aktivitas 11. Anjurkan berinteraksi keyakinan tentang makna dan
tempat, orang terkait trauma dengan keluarga, teman, tujuan hidup, jika perlu
menurun dan/atau orang lain 10. Untuk dapat menfasilitasi
15. Kewaspadaan berlebihan 12. Anjurkan berpartisipasi melakukan kegiatan ibadah
menurun dalam kelompok pendukung Edukasi :
16. Perilaku merusak diri 13. Ajarkan metode relaksasi, 11. Agar dapat menganjurkan
menurun meditasi, dan imajinasi berinteraksi dengan keluarga,
17. Kemampuan beribadah terbimbing teman, dan/atau orang lain
membaik Kolaborasi : 12. Agar dapat menganjurkan
18. Interaksi dengan orang 14. Atur kunjungan dengan berpartisipasi dalam kelompok
terdekat/ pemimpin spiritual rohaniawan (mis, ustadz, pendukung
membaik pendeta, romo, biksu)
Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
19. Koping membaik 13. Agar pasien dapat mengerti
20. Memori membaik metode relaksasi, meditasi, dan
21. Interpretasi realitas imajinasi terbimbing
membaik Kolaborasi :
14. Agar dapat mengatur
kunjungan dengan rohaniawan
(mis, ustadz, pendeta, romo,
biksu)
DAFTAR PUSTAKA

Ambarawati, Fitri Respati dan Nita Nasution. 2012. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Cakrawala Ilmu
Ambarawati, Fitri Respati dan Nita Nasution.2012. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Cakrawala Ilmu
Amalia, Rizka. 2018. Gambaran Perubahan Psikososial dan Sistem Pendukung pada Orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) di Rumah Cemara Gegerkalong Bandung. JPKI 2018 volume 4 no. 1:
79.

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.Suzanne C.
Smeltzer, Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth ed. 8.
Jakarta: EC
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses – Proses
Penyakit . Jakarta : EGC

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC


PPNI, Tim Pokja DPP, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI PPNI,
Tim Pokja DPP. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI PPNI, Tim
Pokja DPP. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Nn. A
DENGAN HIV/AIDS
DI RSUP SANGLAH
PADA TANGGAL 02 Maret 2021

Kasus :
Nn. A berumur 23 tahun datang ke RSUP Sanglah pada tanggal 01 Maret 2021 dengan
diagnosa B24. Pasien menceritakan bahwa sebelumnya pasien mempunyai pasangan yang mengidap
HIV dan pasien pernah melakukan hubungan seksual. Saat pasien mengetahui bahwa pasangannya
mengidap HIV pasien langsung memeriksakan dirinya dengan mengikuti beberapa tes HIV dan
hasilnya pasien dinyatakan positif HIV sejak 5 bulan yang lalu. Selama 5 bulan pasien baru hari ini
memberanikan diri untuk berkonsultasi mengenai penyakit yang dideritanya. Pasien mengatakan jika
dirinya merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi karena takut akan
dikucilkan oleh teman-temannya maupun tetangganya dan pasien merasa tidak berdaya untuk
menghadapi situasi yang akan terjadi. Selain itu, muka pasien juga tampak pucat seperti sulit tidur
dan tampak gelisah. Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil kesadaran Nn. A Composmetis,
Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi : 97x/menit, Respirasi : 20x/menit, Suhu : 370C.

A. Pengkajian keperawatan
1) Identitas pasien
Nama : Nn. A
Umur : 23 Tahun
Tanggal lahir : 10 Januari 1998
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Belum menikah
Agama : Hindu
Suku : Bali
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Jalan Cempaka No. 10
Tanggal MRS : 01 Maret 2021
Tanggal pengkajian : 02 Maret 2021
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. M
Umur : 48 Tahun
Agama : Hindu
Suku : Bali
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Jalan Cempaka No. 10
Hubungan dengan pasien : Ayah pasien

2) Alasan dirawat
Nn. A berumur 23 tahun datang ke RSUP Sanglah pada tanggal 01 Maret 2021 dengan
diagnosa B24. Sebelumnya pasien mempunyai pasangan yang mengidap HIV dan pernah
melakukan hubungan seksual. Saat pasien mengetahui bahwa pasangannya mengidap HIV
pasien langsung memeriksakan dirinya dan hasilnya pasien dinyatakan positif HIV sejak 5
bulan yang lalu, dan pasien merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang
dihadapi karena takut akan dikucilkan oleh teman-temannya maupun tetangganya dan pasien
merasa tidak berdaya untuk menghadapi situasi yang akan terjadi. Selain itu, muka pasien
juga tampak pucat seperti sulit tidur dan tampak gelisah.
3) Riwayat penyakit
a) Riwayat kesehatan saat ini
Pasien mengatakan bahwa dirinya merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari
kondisi yang dihadapi karena takut akan dikucilkan oleh teman-temannya maupun
tetangganya dan pasien merasa tidak berdaya untuk menghadapi situasi yang akan
terjadi. Selain itu, muka pasien juga tampak pucat dan tampak gelisah.
b) Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit serius sebelumnya.
c) Riwayat alergi
Pasien mengatakan tidak ada riwayat alergi
4) Riwayat kesehatan keluarga
Di antara keluarga pasien, tidak ada yang menderita penyakit yang sama, tidak mempunyai
riwayat penyakit keturunan seperti DM, Hipertensi, Asma, dan lain-lain
5) Data bio-psiko-sosio-spiritual
1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
− Sebelum MRS : Pasien mengatakan hubungannya dengan teman-temannya
dan tetangganya baik-baik saja.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan pada saat sakit pasien merasa takut akan
dikucilkan oleh teman-temannya dan tetangganya karena penyakit yang
dideritanya.
2. Pola Nutrisi dan Metabolik
− Sebelum MRS : Pasien makan sekitar 3x sehari dengan berbagai macam lauk
pauk, dan minum air putih dengan cukup.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan mengalami penurunan nafsu makan dan
tidak berselera.
3. Pola Eliminasi
− Sebelum MRS : Sebelum MRS pasien BAB 1x sehari dengan feses padat,
warna kecoklatan tidak ada lendir. Sedangka frekuensi BAK pasien normal dengan
warna kuning dan bau khas urine.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan BAB 2x sehari dengan feses cair, warna
kecoklatan tidak ada lendir. Sedangkan, frekunesi BAK pasien normal dengan
warna kuning dan bau khas urine.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Kemampuan perawatan Sebelum sakit Selama sakit
diri
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4

Makan/Minum  

Toileting  

Berpakaian  

Mobilitas di TT  

Berpindah  

Ambulasi / ROM  

Keterangan :
0 = mandiri
1 = alat bantu
2 = dibantu orang lain
3 = dibantu orang lain dan alat
4 = tergantung total
5. Pola Istirahat dan Tidur
− Sebelum MRS : Pasien mengatakan tidur dengan rentang waktu 7-8 jam per
hari, pasien mengatakan tidurnya nyenyak, terkadang terbangun untuk BAK atau
minum air.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan sulit tidur, merasa gelisah, mengalami gangguan
karena takut akan penyakit yang dideritanya sehingga sulit untuk mendapatkan
tidur dengan tenang.
6. Pola Persepsi dan Kognitif
− Sebelum MRS : Cara bicara pasien baik-baik saja (normal).
− Setelah MRS : Pasien berbicara dengan nada gelisah karena merasa takut
dengan yang akan dihadapinya.
7. Pola Persepsi dan Konsep Diri
− Sebelum MRS :
Harga diri : Tidak Bermasalah
Body Image : Tidak Bermasalah
Ideal Diri : Tidak Bermasalah
Peran : Tidak Bermasalah
Identitas Diri : Tidak Bermasalah
− Setelah MRS :
Harga diri : Pasien mengatakan merasa malu dengan kondisi penyakit
yang dideritanya dengan teman-temannya atau tetangganya.
Body Image : Pasien merasa tubuhnya kurus dan terdapat kantung mata
sehingga pasien tampak pucat.
Ideal Diri : Bermasalah, pasien ingin bersosialisasi dengan teman-
temannya atau tetangganya.
Peran : Bermasalah
Identitas Diri : Selama sakit, pasien merasa takut bertemu dengan teman-
temannya dan tetangganya.
8. Pola Peran dan Hubungan
− Sebelum MRS : Pasien mengatakan dapat menjalin hubungan baik antara anggota
keluarga, teman-temannya, dan dapat melakukan interaksi dengan tetangganya
− Setelah MRS : Pasien mengatakan mengalami perubahan yang dapat mengganggu
hubungan antara anggota keluarga, teman-temannya karena merasa takut jika
bertemu dengan orang lain atau dipandang harga diri rendah, bahkan merasa dirinya
terasingkan
9. Pola Seksual dan Reproduksi
− Sebelum MRS : Pasien tidak pernah mengalami masalah seksual.
− Setelah MRS : Pasien merasa khawatir dan gelisah akan penyakit yang dideritanya
akibat dari berhubungan seksual dengan pasangannya.
10. Pola Pertahanan Diri (Koping-Toleransi Stres)
− Sebelum MRS : Jika ada hal yang membuat pasien cemas atau gelisah
biasanya dirinya bercerita dengan orang tua dan juga teman-temannya.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan lebih menutup diri karena ia tidak tahu
harus bercerita mengenai kegelisahannya kepada siapa
11. Pola Keyakinan dan Nilai
− Sebelum MRS : Pasien rajin bersembahyang, ia percaya dengan apa yang
diberikan Tuhan adalah hal terbaik dan pasien selalu bersyukur atas rahmat Tuhan.
− Setelah MRS : Pasien mengatakan selalu berdoa agar bisa diberi kesehatan
dan umur yang panjang.
6) Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum
a. Kesadaran : Composmentis
GCS : 15
Eye :4
Motorik : 6
Verbal : 5
b. Tanda-Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
S : 370C
RR : 20x/menit
N : 97x/menit
2) Keadaan umum :
• Sakit/ nyeri : 1. ringan 2. sedang 3. berat
Skala nyeri : 0
Nyeri di daerah : -
• Status gizi : 1. gemuk 2. normal 3. kurus
BB : 40 kg
TB : 160 cm
• Sikap : 1. tenang 2. gelisah 3. menahan nyeri
• Personal hygiene : 1. bersih 2. kotor 3. lain-lain ……….
• Orientasi waktu/ tempat/ orang : 1. baik 2. terganggu…….…
3) Pemeriksaan fisik Head To Toe
1. Kepala
• Bentuk : 1. mesochepale 2. mikrochepale 3. hidrochepale 4. lain- lain……………
• Lesi/ luka : 1. hematom 2. perdarahan 3. luka sobek 4. lain-lain………….
2. Rambut
• Warna : hitam
• Kelainan : -
3. Mata
• Penglihatan : 1. normal 2. kaca mata/ lensa 3. lain-lain…
• Sklera : 1. ikterik 2. tidak ikterik
• Konjungtiva : 1. anemis 2. tidak anemis
• Pupil : 1. isokor 2.anisokor 3. midriasis 4. katarak
• Kelainan : kebutaan kanak/kiri……….
4. Hidung
• Penghidu : 1. normal 2. flu
• Sekret/ darah/ polip : -
• Tarikan caping hidung: 1. ya 2. tidak
5. Telinga
• Pendengaran : 1. normal 2. kerusakan 3. tuli kanan/kiri 4. tinnitus 5. alat bantu
dengar 6. lainnya
• Skret/ cairan/ darah : 1. ada/tidak 2. bau…….. 3. warna………
6. Mulut dan Gigi
• Bibir : 1. lembab 2. kering 3. cianosis 4. pecah-pacah
• Mulut dan tenggorokan: 1. normal 2. lesi 3. stomatitis
• Gigi : 1. penuh/normal 2. ompong 3. lain-lain:
7. Leher
• Pembesaran tyroid : 1. ya 2. tidak
• Lesi : 1. tidak 2. ya, di sebelah…….
• Nadi karotis : 1. teraba 2. tidak
• Pembesaran limfoid : 1. ya 2. tidak
8. Thorax
• Jantung :
1. nadi 97x/ menit,
2. kekuatan: kuat/ lemah
3. irama : teratur/ tidak
4. lain-lain…………….
• Paru :
1. frekuensi nafas : teratur/ tidak
2. kualitas : normal/ dalam/ dangkal
3. suara nafas : vesikuler/ ronchi/ wheezing
4. batuk : ya/ tidak
5. sumbatan jalan nafas : sputum/ lendir/ darah/ ludah
• Retraksi dada : 1. ada 2. tidak ada
9. Abdomen
• Peristaltik usus :
1. Ada: 20x/menit
2. tidak ada
3. hiperperistaltik
4. lain-lain…
• Kembung : 1. ya 2. tidak
• Nyeri tekan : 1. tidak 2. ya di kuadran……../bagian….
• Ascites : 1. ada 2. tidak ada
10. Genetalia
• Pimosis : 1. ya 2. tidak
• Alat Bantu : 1. ya 2. tidak
• Kelainan : 1. tidak 2. ya, berupa
11. Kulit
• Turgor : 1. elastis 2. kering 3. lain-lain
• Laserasi : 1. luka 2. memar 3.lain-lain di daerah……....
• Warna kulit : 1. normal (putih/sawo matang/ hitam) 2. pucat 3. cianosis 4. ikterik
5. lain-lain.………
12. Ekstermitas
• ROM : 1. penuh 2. terbatas
• Hemiplegi/parese : 1. tidak 2. ya, kanan/kiri
• Akral : 1. hangat 2. dingin
• Capillary refill time : 1. < 2 detik 2. > 2 detik
• Edema : 1. tidak ada 2. ada di daerah
7) Pemeriksaan penunjang
-
B. Diagnosis Keperawatan
1) Analisa Data
No Data Fokus Etiologi Masalah

1 DS: Asupan nutrisi kurangdari kebutuhan Defisit Nutrisi


Pasien mengeluh nafsu ↓
makan berkurang, sariawan, Faktor psikologis (akibat penyakit yang
demam, merasa capek, diderita)
mudah lelah, letih, lesu, flu, ↓
pusing, diare dan mengalami Nafsu menurun, Sariawan, Demam,
penurunan berat badan dari Penurunan Berat Badan, Diare
60 kg menjadi 54 kg. ↓
AIDS
DO:

Berat badan pasien menurun
Defisit Nutrisi
drastis, pasien mengalami
sariawan dan diare.

2 DS : Seks bebas Ansietas


− Pasien mengatakan ia
merasa bingung HIV/AIDS
− Pasien mengatakan
khawatir dengan akibat Takut dikucilkan
dari kondisi yang
dihadapi Merasa khawatir, bingung, dan tidak
− Pasien mengatakan berdaya
merasa tidak berdaya
menghadapi situasi yang Ansietas
akan terjadi
DO :
− Pasien tampak pucat
karena sulit tidur
− Pasien tampak gelisah

2) Rumusan Diagnosis Keperawatan


a. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (penyakit HIV/AIDS)
dibuktikandengan berat bedan menurun minimal 10 % di bawah rentang lokal, sariawan
dan diare.
b. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri dibuktikan dengan merasa
bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak gelisah,
sulit tidur, merasa tidak berdaya, muka tampak pucat
C. Perencanaan Keperawatan
No. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama Manajemen Nutrisi
keperawatan selama 2 x 24 Manajemen Nutrisi 1. Mengetahui status nutrisi
jam, maka diharapkan status Observasi: pasien
nutrisi membaik (L.03030) 1. Identifikasi status nutrisi Untuk mengetahui
dengan kriteria hasil sebagai 2. Identifikasi makanan makanan yang disukai
berikut: yang disukai pasien dan untuk
1. Porsi makan yang 3. Identifikasi kebutuhan menambah nafsu makan
dihabiskan meningkat 4. kalori dan jenis nutrient pasien
2. Nyeri abdomen menurun Identifikasi perlunya 3. Agar mengetahui
3. Sariawan menurun penggunaan selang kebutuhan kalori dan
4. Berat badan membaik nasogastric nutrient yang tepat untuk
5. Indeks massa tubuh 5. Monitor asupan makanan pasien
membaik 6. Monitor berat badan 4. Agar pasien
6. Nafsu makan membaik Terapeutik: tetapdapat memenuhi
7. Bising usus membaik 7. Sajikan makanan secara kebutuhan nutrinya jika
8. Membarane mukosa menarik dan suhu yang pasien tidak bisa makan
membaik sesuai melalui mulut
8. Berikan makanan tinggi 5. Agar asupan
serat untuk mencegah makanan pasien sesuai
konstipasi kebutuhan
9. Berikan makanan tinggi 6. Mengetahui adanya
kalori dan tinggi protein penurunan atau kenaikan
10. Berikan suplemen pada berat badan pasien
makanan, jika perlu 7. Agar pasien
Edukasi: memiliki nafsu makan
11. Anjurkan posisi duduk, 8. Makanan tinggi serat
jika mampu dapat membantu
Kolaborasi: mencegah terjadinya
12. Kolaborasi pemberian konstipasi
medikasi sebelum makan 10. Untuk menambah berat
(mis. Pereda nyeri), jika badan pasien dan
perlu memenuhi kebutuhan
13. Kolaborasi dengan ahli gizi kalori dan proteinnya
untuk menentukan jumlah Untuk menambah nafsu
kalori dan jenis nutrient makan pasien jika pasien
yang dibutuhkan, jika perlu tetap tidak mau makan
11. Untuk memudahkan
pasien dalam
mencerna makanan
12. agar saat makan pasien
tidak merasakan nyeri
13. untuk memastikan
kebutuhan kalori dan
Promosi Berat Badan jenis nutrient yang
Observasi: diberikan ke pasien tepat
1. Identifikasi kemungkinan
penyebab BB kurang Promosi Berat Badan
2. monitor jumlah kalori yang 1. mengetahui faktor apa
dikomsumsi sehari- hari saja yang menyebabkan
3. monitor berat badan berat badan pasien
4. monitor albumin, menurun
limfosit, dan elektrolit, 2. agar jumlah kalori yang
serum dikonsumsi pasien
Terapeutik: tepat kebutuhan
6. Sediakan makanan yang 3. mengetahui perubahan
tepat sesuai kondisi pasien berat badan pasien
Hidangkan makanan mempermudah
secara menarik mengetahui perubahan
7. Berikan suplemen, jika pada
perlu albumin, limfosit dan
Edukasi: elektrolit, serum pasien
8. Jelaskan jenis makanan 5. bertujuan untuk
yang bergizi tinggi, namun pemenuhan kebutuhan
tetap terjangkau kalori dan protein pasien
9. Jelaskan peningkatan 6. untuk menambah
asupan kalori yang nafsu makan pasien
dibutuhkan 7. agar pasien memiliki
nafsu untuk makan jika
diberikan suplemen
8. agar pasien
mengetahui jenis
makanan apa saja yang
memiliki gizi tinggi
9. agar kebutuhan
kalori pasien
terpenuhi dan berat badan
pasienKembali ke ideal
2 Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama
keperawatan selama 1x8 jam Reduksi Ansietas (I.09314)
diharapkan Tingkat Ansietas Observasi :
menurun dengan kriteria hasil : 1. Identifikasi saat tingkat 2. Untuk mengetahui
1. Verbalisasi kebingungan ansietas berubah (mis. perubahan tingkat ansietas
menurun kondisi, waktu, stresor) pada pasien
3. Mengetahui tanda-tanda
ansietas pada pasien
2. Verbalisasi khawatir akibat 2. Monitor tanda-tanda
kondisi yang dihadapi ansietas (verbal dan
menurun nonverbal) 4. Agar rasa cemas pasien
3. Perilaku gelisah menurun Terapeutik : berkurang
4. Pucat menurun 3. Temani pasien untuk 5. Menenangkan dan
5. Perasaan keberdayaan mengurangi kecemasan meyakinkan pasien
membaik 4. Gunakan pendekatan yang 6. Membantu pasien untuk
tenang dan meyakinkan mengetahui peristiwa yang
5. Diskusikan perencanaan akan dihadapi
realistis tentang peristiwa
yang akan datang 7. Agar pasien merasa nyaman
Edukasi : dan tidak merasa sendiri
6. Anjurkan keluarga untuk
tetap bersama pasien, jika 8. Agar pasien merasa lebih
perlu tenang
7. Anjurkan mengungkapkan 9. Agar pasien memiliki
perasaan dan persepsi sistem pertahanan diri
8. Latih penggunaan
mekanisme pertahanan diri 10. Agar pasien merasa lebih
yang tepat tenang
9. Latih teknik relaksasi
11. Memberikan efek
Kolaborasi : ketenangan pada pasien
10. Kolaborasi pemberian obat
antiansietas
D. Implementasi
No. Tanggal/jam Impelementasi Evaluasi Paraf
Dx
1 02 Maret 2021 1. Mengidentifikasi status nutrisi Ds: pasien mengatakan
08.00 wita merasa kurus
Do: status nutrisi pasien tampak
kurang dari kebutuhannya

08.15 wita 2. Mengidentifikasi makanan Ds: pasien mengatakan dirinya


yang disukai menyukai makanan seperti
sayur- sayuran
Do: pasien tampak mau
memberi tahu makanan yang
disukainya

08.30 Wita 3. Mengidentifikasi kebutuhan Ds: -


kalori dan jenis nutrient Do: kalori yang dibutuhkan
pasien kurang lebih sekitar 25
kal
4. Mengidentifikasi perlunya Ds: pasien mengatakan dirinya
08.45 Wita penggunaan selang tidak mau menggunakan
nasogastric selang nasogastric
Do: pasien tampak menolak
untuk menggunakan selang
nasogastric dan mengatakan
masih bisa makan
melalui oral namun secara
perlahan
08.55 Wita 5. Memonitor asupan makanan Ds: pasien mengatakan nafsu
makannya berkurang
Do: asupan makan pasien masih
kurang dari kebutuhan yang
seharusnya
09.10 wita 6. Memonitor berat badan Ds: pasien mengatakan
berat badannya terus menurun
Do: berat badan pasien
menurun secara drastic dari
55kg menjadi
46kg
7. Menyajikan makanan Ds: pasien mengatakan dirinya
09.45 wita secara menarik dan suhu menyukai makanan dengan
yang sesuai suhu hangat
Do: pasien tampak menyukai
saat diberikan makanan
dengan suhu
Hangat

09.50 wita 8. Memberikan makanan tinggi Ds: -


serat untuk mencegah Do: pasien tampak mau
konstipasi mengonsumsi makanan tinggi
serat yang diberikan seperti
brokoli dan
buah alpukat
9. Memberikan makanan Ds: -
10.10 wita tinggi kalori dan tinggi Do: pasien tampak
protein mengonsumsi makanan yang
disediakan yaitu makanan
tinggi serat dan tinggi
protein namun sedikit

10. Memberikan suplemen Ds: pasien mengatakan ingin


10.35 wita makanan, jika perlu mengonsumsu suplemen karna
nafsu makannya tidak baik
Do: pasien tampak kooperatif
untuk mengonsumsi suplemen
untuk menambah nafsu
makananya
11.00 wita 11. Menganjurkan posisi duduk, Ds: pasien mengatakan mau
jika mampu untuk duduk karna merasa
bosan berbaring saja
Do: pasien tampak kooperatif

11.15 wita 12. Mengkolaborasikan Ds: -


pemberian medikasi sebelum Do: pasien tampak bersedia
makan (mis. Pereda nyeri), menerima obat Pereda nyeri
jika perlu karena ia mengalami
nyeri/keram dibagian abdomen

13. Mengkolaborasikan dengan Ds: -


11.40 wita ahli gizi untuk menentukan Do: kebutuhan kalori dan jenis
jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan
nutrient yang dibutuhkan, jika pasien harus sesuai dengan
perlu kebutuhannya
saat ini

14. Mengidentifikasi Ds: pasien mengatakan


11.55 wita kemungkinan penyebab BB semenjak dirinya terinfeksi
kurang hiv, nafsu makannya menjadi
turun
Do: berat badan pasien tampak
berkuran dikarenakan nafsu
makan pasien yang hilang dan
perutnya
merasa kram/nyeri saat makan

15. Memonitor jumlah kalori Ds: -


12.00 yang dikomsumsi sehari-hari Do: pasien tampak mau
memakan makanan yang
disediakan dengan jumlah
kalori sesuai kebutuhan Pasien
12.10 wita 16. Memonitor berat badan Ds: -
Do: berat badan pasien saat ini
tampak ada kemajuan dari 46kg
menjadi 47kg

17. Memonitor albumin, limfosit, Ds: -


13.20 wita dan elektrolit, serum Do: pasien tampak mau
berpartisipasi dalam
pemeriksaan albumin,
limfosit, elektrolit dan
serum di ruang laboratorium

18. Menyediakan makanan yang Ds: pasien mengatakan dirinya


13.45 wita tepat sesuai kondisi pasien akan berusaha untuk memakan
makananya agar ia cepat
sembuh
Do: pasien tampak
mau mengonsumsi
makanan yang disediakan
namun dalam porsi yang Kecil

14.00 wita 19. Menghidangkan makanan Ds: pasien mengatakan


secara menarik dirinya menyukai makanan
yang saat ini Disajikan
Do: pasien tampak menyukai
makanan yang disediakan

20. Memberikan suplemen, jika Ds: pasien mengatakan mau


14.05 wita perlu mengonsumsi suplemen untuk
menambah nafsu makan
Do: pasien tampak kooperatif
21. Menjelaskan jenis makanan Ds: pasien mengatakan ia
14.20 wita yang bergizi tinggi, namun sudah mengerti dan jadi
tetap terjangkau mengetahui makanan yang
bergizi tinggi
Do: pasien tampak memahami
dan aktif bertanya tentang apa
yang ia belum pahami

22. Menjelaskan peningkatan Ds: pasien mengatakan


14.30 wita asupan kalori yang bersedia meningkatkan asupan
dibutuhkan kalori untuk memenuhi
kebutuhan
Do: pasien tampak bersedia
untuk meningkatkan asupan
kalorinya
2 03 Maret 2021 1. Mengidentifikasi saat tingkat DS : Pasien merasa bingung,
08.00 WITA ansietas berubah (mis. kondisi, khawatir, tidak berdaya karena
waktu, stresor) penyakit yang dideritanya.
DO : Pasien tampak pucat dan
gelisah.
2. Mengkaji tanda-tanda ansietas
(verbal dan nonverbal)
08.15 WITA 3. Menemani pasien untuk DS : Pasien mengatakan
mengurangi kecemasan khawatir, bingung, tidak
berdaya, dan takut dikucilkan
karena penyakit yang
dideritanya.
DO : Pasien tampak percaya
dengan perawat dan mau
menceritakan keluhan dan
perasaannya saat ini.

08.45 4. Menggunakan pendekatan DS : -


WITA yang tenang dan meyakinkan DO : Pasien tampak mau ikut
berdiskusi mengenai
perencanaan realistis tentang
peristiwa yang akan datang

09.00 5. Anjurkan mengungkapkan DS : Keluarga pasien


WITA perasaan dan persepsi mengatakan mau menemani
pasien selama di rumah sakit
DO : Keluarga pasien tampak
mengerti akan kondisi yang
tengah dihadapi
6. Mendiskusikan perencanaan DS : -
11.00 realistis tentang peristiwa yang DO : Pasien tampak mau
WITA akan datang mendengarkan instruksi perawat

7. Menganjurkan keluarga untuk DS : Pasien mengatakan sudah


11.15 tetap bersama pasien lumayan lebih rileks saat
WITA diberikan teknik relaksasi
DO : Pasien tampak nyaman dan
rileks
15.00 8. Melatih penggunaan DS : Pasien mengatakan mau
WITA mekanisme pertahanan diri diberikan obat antiansietas
yang tepat DO : Pasien tampak menurut
mengikutin anjuran perawat
9. Melatih teknik relaksasi
10. Mengkolaborasikan pemberian
obat antiansietas
E. Evaluasi
No. Tanggal/jam Evaluasi Paraf
Dx
1 04 Maret 2021 S : pasien mengatakan ia merasa
08.00 Wita berat badannya mulai bertambah,
adanya sedikit nafsu makan,
sariawan dibagian mulutnya
berkurang dan kram dibagian perut
juga berkurang setelah diberikan
obat Pereda nyeri.
O : Berat badan pasien tampak
membaik dari 54 kg menjadi 55 kg.
Dengan tanda- tanda vital
pasien:Kesadaran: Composmentis
TD : 100/60 mmHg
N : 80
x/menit
RR: 22
x/menit
S: 37,0 0C

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan dan pertahankan


intervensi
2 04 Maret 2021 S:
16.00 WITA − Pasien mengatakan perasaan
bingung sudah berkurang
− Pasien mengatakan rasa
khawatir sudah sedikit
berkurang
− Pasien mengatakan perasaan
tidak berdaya menghadapi
situasi yang akan terjadi sudah
sedikit membaik
O:
− Pucat pada muka pasien karena
sulit tidur sudah sedikit
menurun
− Rasa gelisah pasien sudah
sedikit menurun
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi 9 dan 10
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 05 Maret 2021

Nama Mahasiswa Nama Mahasiswa

(Ni Luh Sulistia Dewi) (Kadek Ena Ardiyanti)


NIM: P07120219081 NIM: P07120219075
Nama Pembimbing/CT

(VM Endang SP Rahayu, S,Kp, M.Pd)


NIP. 195812191985032005