Anda di halaman 1dari 11

THEMOONDOGGIES

Arifin Saddoen in umum

Contoh Autobiografi Panjang, Tokoh, Anak SMA, Diri Sendiri, Tokoh Pahlawan dll

Contoh AutoBiografi – pengertian Autobiografi adalah tulisan mengenai gambaran tentang kejadian-
kejadian yang di alami oleh seseorang dalam hidupnya yang mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadinya yang di tulis oleh individu itu sendiri. Jadi, autobiografi merupakan biografi
yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan.

Autobiografi hampir sama dengan biografi. Perbedaannya hanya terletak pada siapa yang menulis nya.
Jika autobiografi itu di tulis sendiri oleh orang yang bersangkutan. Berbeda dengan biografi yang di tulis
oleh orang lain. Fungsi kedua teks ini sama- sama bertujuan untuk memberikan informasi kepada si
pembaca.

Berikut beberapa contoh autobiografi sebagai berikut.

Contents

1 Contoh Autobiografi Panjang

2 Contoh Autobiografi Tokoh

3 Contoh Autobiografi Anak SMA

4 Contoh Autobiografi Diri Sendiri yang Menarik

5 Contoh Autobiografi Pahlawan

Contoh Autobiografi Panjang

contoh autobiografi panjang


hipwe.com

Nama saya Zainatul Istiana Ulfa, namun biasa di panggil Uul. Saya anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakak
pertama daya laki – laki dan kakak kedua saya perempuan. Saya lahir di sebuah kampung yang bernama
Wediombo pada 21 Mei 2002. Saya di besarkan oleh kedua orangtua saya disana dengan penuh kasih
sayang dari orang -orang di sekitar saya.

Ayah saya bernama Sulaiman Lubis, sedangkan Ibu saya bernama Siti Rahmah Wati. Ayah saya bekerja
sebagai karyawan di salah satu pabrik di kabupaten, sedangkan ibu adalah seorang penjahit di desa
kami. Saat ini saya duduk di bangku kelas sebelas (XI) di SMK negeri di daerah kami dengan mengambil
keahlian Teknik Komputer dan Jaringan(TKJ).

Jarak kelahiranku dan kedua kakakku memang terbilang jauh. Kakak yang pertama lahir pada tahun
1988, kakak yang kedua lahir pada tahun 1993, sedangkan saya lahir pada tahun 1997.

Kakak pertama saya bernama Zaenul Bakri yang saat ini bekerja sebagai guru. Kakak kedua ku, bernama
Alifia Zaeni Purbaningtyas saat ini menjalani sekolah Strata Dua (S2) di salah satu universitas di kota
Jogja. Kakak pertama ku menikah dengan seorang perempuan yang bernama Naela Syafataini yang juga
berprofesi sebagai guru di sekolah yang sama dengan kakak saya. Dari pernikahan tersebut, kakak dan
istrinya di karuniai satu orang anak yang saat ini berusia 2 tahun. Laela Qomariyah, itulah nama anak
mereka yang sekaligus adalah keponakan ku.

Kakak ku dan istrinya tinggal di rumah yang tidak jauh dengan tempat tinggal ku dan orang tua. Hanya
berjarak sekitar 2 kilo meter. Seringkali aku berkunjung ke rumah kakak ku dan istrinya walau hanya
sekedar meminta es krim rasa coklat. Kakakku yang kedua, pernah akan menikah ketika lulus dari strata
satu (S1) namun pernikahan itu tidak jadi di laksanakan dikarenakan suatu hal yang menghalangi
pernikahan tersebut. Hingga akhirnya kakak ku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya, dan
sampai saat ini belum ada rencana untuk menikah.

Aku di besarkan oleh keluarga yang bukan berasal dari keturunan darah biru. Ayah dan ibu ku berasal
dari keluarga sederhana yang mana orangtua beliau atau kakek nenek ku adalah seorang petani.
Namun, dengan kehidupan yang sederhana ini kami tidak pernah merasa malu atau gengsi karena
banyaknya harta tidak akan bisa membeli kebahagiaan.
Meskipun dari keluarga sederhana, ayah dan ibu mampu membiayai sekolah anak- anaknya sampai
jenjang perguruan tinggi. Kami tidak pernah meminta apapun yang kami rasa kurang penting. Ayah dan
ibu senantiasa mengasihi kami dan selalu memberikan yang terbaik untuk anak- anaknya. Kami tidak
tahu harus membalas seberapa besar untuk ketulusan mereka selama ini. Kami sangat menyayangi
mereka, lebih. Mereka lah yang mengenal kan pada kami betapa indah hidup dan banyak hal yang mesti
kami syukuri. Saya tidak pernah menyesal hidup sederhana karena selalu ada mereka yang tidak pernah
berhenti men- support kami.

Saya mempunyai hobi menggambar atau melukis. Setiap hari selalu kusempatkan tanganku untuk
memberikan curahan pada kertas. Meskipun masih terlihat amatir, namun saya selalu melakukannya.
Saya percaya bahwa sesuatu yang di lakukan dengan bersungguh -sungguh maka tidak akan
memberikan hasil yang sia – sia. Selain itu saya juga mempunyai hobi bermain basket. Di sekolah kami,
ada grub basket yang beranggotakan para siswi dan saya tergabung dalam kelompok tersebut. Setiap
hari Jum’at dan Sabtu sore, kami selalu melakukan latihan di lapangan basket sekolah. Ayah, ibu, serta
kakak- kakak selalu mensupport semua hobbi saya. Saya tidak pernah menyesal dan selalu berlatih
dengan sungguh- sungguh.

Di hari Minggu, saya biasanya membantu ibu menyelesaikan orderan menjahitnya.meskipun hanya
sekedar membantu memasangkan kancing atau hal hal ringan yang lain. Karena saya belum bisa
membantu menjahit pakaian dengan mesin, namun setidaknya sedikit membantu pekerjaan ibu
menjahit.

Ayah dan ibu merupakan orang yang taat agama. Mereka selalu mengingat kan kami untuk sholat,
puasa, untuk menyisihkan uang saku kami untuk infak, atau melakukan ibadah – ibadah yang lain.
Pernah suatu hari, ketika saya sedang asyik bermain, saat itu saya masih duduk di kelas dua SMP. Saya
tidak sholat Dhuhur karena saya berfikir untuk melakukannya nanti saja saat saya fikir waktunya masih
lama. Namun ternyata saya terlena karena keasyikan bermain. Hingga tiba waktu ashar saya belum juga
menunaikan sholat Dhuhur. Ketika ayah bertanya pada saya apakah sudah sholat dhuhur, saya hanya
diam. Tentu ayah tahu bahwa saya belum sholat, lantas ayah langsung menasehati saya dengan panjang
lebar.ketika itu saya sangat merasa bersalah, karena memang ayah sudah mengingatkan saya untuk
sholat ketika bermain. Sejak kecil, ayah dan ibu memang selalu mengajari kami untuk melaksanakan
sholat dimanapun kami berada. Ayah dan ibu menancapkan betul – betul nasehat itu.

Setiap magrib, ayah selau menyempatkan waktu untuk mengajari mengaji anak- anaknya, selain itu atau
juga mengajarkan ilmu ilmu agama yang lain. Kalau saja ayah tak memaksa kami belajar agama, mungkin
sekarang saya sudah mengikuti pergaulan dan gaya hidup remaja umumnya. Saya selalu bersyukur,
karena di lahirkan dalam keluarga sangat hebat

Saya mulai masuk sekolah dasar (SD) pada tahun 2008 yang mana ketika itu saya berusia 6 tahun. Yang
mengantarkan saya ke sekolah dasar untuk pertama kalinya adalah kakak saya yang pertama. Dimana
pada saat itu kakak saya sedang libur semester kuliah. Kakak sayam memang orang yang selalu
berambisi untuk mencari ilmu. Di selalu berpesan untuk tidak membuang- buang waktu hanya untuk
bermain. Ketika kakak tidak ada kegiatan, kakak selalu menyempatkan untuk mengajari saya
mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yamg saya bawa dari sekolah. Lebih seringnya kakak selalu bercerita
tentang dongeng – dongeng yang selalu membuat saya senang mendengar ceritanya. Saya tidak pernah
bosan mendengarkannya. Dia adalah pendongeng yang sangat menarik.

Pada tahun 2014 saya lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD). Ayah mengajak ku untuk mendaftar di SMP
Negeri 2 di kecamatan. Dan memang untuk urusan memilih sekolah saya selalu menurut ayah, karena
ayah pasti lebih tahu mana sekolah yang cocok dan baik untuk saya. Saat itu, kakak saya yang pertama
sudah bekerja menjadi guru di salah satu sekolah. Sedangkan kakak saya yang kedua saat itu sedang
menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) nya.

Dikarenakan kakak kedua mengambil pendidikan di luar kota, menjadikan kami sangat jarang bertemu.
Kakak selalu pulang sebulan sekali. Kakak saya sangat beruntung karena mendapat beasiswa untuk
menyelesaikan kuliahnya. Yang mana ini menjadi meringankan beban ayah dan ibu. Kedua kakak saya
memang sama- sama orang yang tidak ingin menyusahkan ayah dan ibu. Saya bangga mempunyai kakak
seperti mereka. Mereka seperti ayah dan ibu, selalu hebat.

Pada tahun 2015, kakak pertama saya menikah dengan perempuan yang juga berprofesi sebagai guru di
sekolah yang sama. Kakak ipar saya merupakan seorang wanita cantik yang selalu di balut dengan jilbab.
Kebetulan kakak ipar saya bukan berasal dari luar kabupaten. Dia orang baik, meskipun sedikit cerewet.
Empat (4) bulan setelah menikah, kakak bisa membeli rumah dari tabungannya. Kakak memang memilih
rumah yang tidak jauh dari rumah ayah dan ibu, dan memang tidak juh dari sekolah tempat kakak saya
dan kakak ipar mengabdi menjadi guru. Meskipun sudah menikah, kakak saya tidak berubah. Dia
tetaplah kakak yang selalu baik.

Pada tahun 2017, saya lulus dari SMP. Alhamdulillah, karena doa ayah ibu, dan saudara -saudara saya
dapat lulus dengan nilai terbaik di sekolah. Pada tahun itu, sebenarnya kakak kedua saya melaksanakan
pernikahan nya tepat satu hari setelah kelulusan saya dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun,
suatu hal terjadi hingga akhirnya pernikahan kakak saya tidak jadi berlangsung. Hal itu membuat kakak
saya sedih. Namun bagaimanapun kakak saya masih punya masa depan yang harus di wujudkan. Ayah
dan ibu selalu menenangkan kakak. Kemudian kakak memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya.
Kakak mencari info info tentang beasiswa. Kemudian kakak mendaftar beasiswa LPDP dan di terima.
Kakak melanjutkan pendidikan strata dua (S2) nya di Jogja.

Dua minggu setelah pengumuman kelulusan adalah pengumuman di terimanya di SMA negeri 1 di
Kabupaten. Dan saat kth saya memamg mendaftar dan mengikuti tes masuk SMA negeri 1 atas perintah
ayah. Namun alhasil, saya belum di terima di sekolah tersebut. Awalnya, saya merasa sedih karena tidak
di terima karena hal itu menyebabkan saya harus masuk di sekolah swasta dimana biaya yang di
perlukan untuk masuk sekolah swasta tidaklah sedikit jika di banding sekolah negeri. Namun ayah selalu
menghibur ku dan tanpa sepengetahuan ku, ternyata ayah mendaftarkan saya ke SMK Negeri yang
ternyata masih membuka gelombang terakhir.

Satu hari sebelum tes di laksanakan, ayah memberitahu ku untuk belajar karena esok akan
melaksanakan tes di salah satu sekolah namun ayah tidak memberitahu saya dimana saya
didaftarkannya. Saya belajar sungguh- sungguh karena tidak mau mengecewakan ayah dan ibu yang
selalu berjuang demi kami anak- anaknya. Dua minggu setelah tes, ayah mengambilkan hasil dari tes
tersebut. Ketika ayah pulang, ayah langsung memberikan selamat karena ternyata saya di terima di
sekolah tersebut. Ayah dan ibu sangat senang, karena saya di terima di sekolah negeri.

Hari pertama masuk sekolah, saya sangat bersemangat, saya ingin seperti kedua kakak saya, oleh karena
itu saya harus bersemangat. Meskipun dengan teman baru, saya berusaha untuk akrab dengan mereka.
Hingga satu tahun berlalu. Setelah ini, adalah kenaikan kelas. Saya sangat senang. Namun hingga suatu
hari saya terbangun dan mendengar percakapan ayah ibu, yang ternyata sedang membicarakan masalah
ekonomi keluarga yang sedang kering, karena uang yang ayah dapat digunakan untuk berobat kakek dan
orderan jahitan ibu sedang sepi- sepinya. Sempat saat itu saya berfikir untuk tidak melanjutkan sekolah,
karena saat itu saya juga diharuskan membayar daftar ulang sekolah. Sempat saya berbicara kepada ibu
untuk saya tidak melanjutkan sekolah. Ibu malah memarahi saya bahwa saya harus tetap sekolah. Tentu
saya sangat sedih, dan sekalipun ibu tidak pernah menampakkan kesedihannya di depan saya.

Hingga suatu hari, ayah pulang dari bekerja dengan wajah sumringah. Ternyata ayah telah dinaikkan
pangkat oleh pemilik pabrik karena kerja ayah tidak pernah buruk. Saya sangat bersyukur mendengar
hal tersebut. Hingga saat ini saya masih bisa melanjutkan sekolah, saya sangat bersyukur. Ayah memang
sosok yang hebat.
Contoh Autobiografi Tokoh

www.google.co.id

Ahmad Warson Munawwir atau yang biasa di panggil kiai Warson, merupakan salah satu putra dari KH.
M. Munawwir yang merupakan salah satu kiai termasyhur. Kiai Warson lahir pada 30 Nopember 1934.
Ayah Kiai Warson, yaitu Kiai Munawwir merupakan pemegang mata rantai sanad Al Qur’an dari
Rasulullah SAW.

READ 9+ Contoh Resensi Buku, Fiksi, Non Fiksi, Novel, Cerpen, Film, Ilmiah, Pengetahuan, Cerita dll

Beliau menguasai tujuh variasi bacaan Al Qur’an atau qira’ah sab’ah. Para santri dan muridnya yang
tersebar lhas di berbagai daerah membuatnya terkenal sebagai mahaguru Al Qur’an di tanah air. Kiayi
Warson lahir setelah 24 tahun di bukanya Pondok Pesantren Krapyak yang mana pesantren ini di
didirikan pada tahun 1910. Kiai Warson lahir dari jalur istri kedua KH. Munawwir yaitu Hj. Sukis.

Usia delapan tahun, kiai Warson menjadi yatim piatu setelah wafat ayahanda KH. M. Munawwir. Kiai
Warson kemudian menimba ilmu di rumah sendiri dalam asuhan kakak ipar sekaligus guru yaitu Kiai Ali
Ma’shum. Ketika berumus 11 tahun, Kiai Warson mulai mengajar di Pondok pesantren Krapyak hingga
tahun 1981 dalam usia kurang lebih 47 tahun.

Kiai Warson menikah pada usia 36 tahun tepatnya pada tahun 1970. Beliau menikahi Nyai Hj, Khusnul
Khotimah yang berasal dari Purworejo. Secara garis keturunan, kiai Warson dan Nyai Khusnul Khotimah
masih satu garis keturunan. Usia kiai Warson dan Nyai Khusnul Khotimah terpaut 16 tahun. Dari
pernikahan beliau, beliau dianugerahi seorang putra dan puteri yang di beri nama H. Muhammad Fairuz
dan Hj. Qorry Aina.

Sekitar tahun 1957 ketika kiai Warson berusia 23 tahun, kiai Warson mulai menyusun kamus Arab-
Indonesia yang di kenal dengan kamus Al Munawwir. Pada tahun 1972, kamus Al Munawwir telah
selesai di tulis. Kamus itu bertebalkan 1591 halaman. Kamus ini merupakan hasil kerja keras Kiai Warson
dalam penyusunannya. Saat ini kamus tersebut telah menyebar luas bukan hanya di dalam negeri
bahkan di luar negeri juga.

Contoh Autobiografi Anak SMA

www.google.co.id
Namaku Ikhsan Mahbub Ali. Itulah nama yang diberikan kedua orang tuaku pada seorang bayi merah
yang lahir pada 26 Maret 1999. Aku biasa di panggil bobi oleh orang- orang di sekitarku. Ayah seorang
nelayan yang bernama Suhadi. Ibu bernama Fatma Isaroh yang setiap paginya berjualan ikan di pasar.
Aku adalah satu- satunya anak laki- laki di keluarga kami dan memang aku adalah anak tunggal. Aku lahir
dan di besarkan di sebuah daerah di pesisir pantai .

Tempat itu menyimpan berjuta cerita tentang ku dan kehidupan ku. Aku bukan berasal dari keluarga
berada. Namun dengan hasil berlayar ayah dan ibu yang berjualan di pasar, semua itu dapat mencukupi
biaya kebutuhan kami sehari- hari. Setiap sepulang sekolah aku selalu membantu ayah menyiapkan apa
saja yang di butuhkan untuk berlayar sembari bermain – main.

Aku masuk sekolah dasar ketika berusia enam (6) tahun, yakni pada tahun 2005. Jarak antara rumah
dengan sekolah terhitung cukup jauh, karena harus menempuh perjalanan 6, 5 kilometer dan
membutuhkan waktu kurang lebih 25 menit untuk sampai di sekolah dengan menggunakan sepeda.
Setiap paginya, temanku selalu menjemput ku untuk berangkat ke sekolah dengan menggunakan
sepeda uniknya yang dia dapatkan dari ayahnya.

Aku bukan sosok murid yang tergolong pandai, bahkan aku adalah murid yang mempunyai kemampuan
rata- rata. Namun beruntung nya, ayah dan ibu tidak pernah memaksa ataupun memarahi aku karena
tidak pernah mendapat peringkat 5 besar di kelas. Mereka selalu mendukungku dan selalu menemaniku
ketika aku harus belajar. Hingga pada tahun 2011 akhirnya aku lulus dari sekolah dasar bersama teman
temanku yang lainnya.

Suatu hal yang tak pernah ku duga sebelumnya terjadi di hari kelulusan ku. Aku di panggil naik ke
panggung untuk mendapatkan piagam penghargaan sebagai siswa dengan nilai terbaik ke- tiga.
Meskipun tidak menjadi yang terbaik, menjadi yang nomor tiga pun itu sangat istimewa untuk ku.
Karena selama ini aku tidak tergolong dalam siswa yang pandai. Semua ini adalah karena do’a dari kedua
orang tuaku yang tak pernah berhenti mendoakan aku.

Setelah lulus sekolah dasar, aku melanjutkan di sekolah menengah yang tak jauh dari sekolah dasarku.
Setelah masuk di sekolah menengah, aku mulai menyukai bidang olah raga bulu tangkis. Dari mata
pelajaran penjaskes itu, aku mulai menekuni olah raga tersebut. Aku sering ikut latihan bulu tangkis dj
luar jam mata pelajaran penjaskes tersebut. Ketika di rumah pun aku biasanya mengajak ayah untuk
bermain denganku. Tentu saja itu kami lakukan ketika ayah belum berangkat melaut. Aku membeli raket
dari uang saku yang aku tabug yang di berikan jbu ketika hendak berangkat ke sekolah. Sesekali, ketika
hari libur, aku membantu ayah melalut. Ayah selalu mengajariku tehnik yang benar sebagai nelayan. Aku
tidak pernah malu dengan keadaan ayahku yang sebagai nelayan.

Ketika mulai masuk di kelas akhir, yaitu kelas sembilan. Aku membaca pengumuman diadakan nya
lomba bulu tangkis tingkat kabupaten. Dimana hadiahnya adalah beasiswa masuk di SMA favorit di
kabupaten. Sempat terfikir untuk aku ikut lomba tersebut, toh jika aku bisa menang tentu akan
meringankan biaya kedua orang tua ku untuk sekolahku ke SMA. Karena untuk melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun sebelum mendadtar lomba tersebut,
tentunya aku meminta izin kepada ayah dan ibu, dan ternyata mereka langsung memberikan aku izin.
Esoknya aku langsung mendaftar kepada guru penjaskes kami, dan ternyata masih diadakan seleksi siapa
saja yang berhak mengikuti lomba tersebut.

Setelah seleksi dilakukan, hasil pengumuman ditempel pada papan pengumuman sekolah. Delapan
orang yang terpilih akan mewakili sekolah kami untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dan ternyata nama
saya ada di urutan. Nomor delapan, yang artinya saya lolos seleksi. Kompetisi dilakukan satu setengah
bulan lagi dan kami terus berlatih.

Akhirnya hari itu berlangsung dan hal yang tidak ku sangka, aku bisa memenangkan kompetisi tersebut.
Guru- guru ku sempat terheran, karena memang ada teman ku yang sangat jago. Orang tuaku adalah
orang yang paling percaya bahwa aku akan menjadi pemenangnya. Dan itu memang benar terjadi.

Setelah lulus, aku benar-benar melanjutkan di SMA favorit yaitu SMA Negeri 1. Ayahku membelikanku
motor untuk aku sekolah, karena jaraknya memang cukup jauh. Ternyata ayah selama ini memang
mengumpulkan uang untuk membelikanku motor untuk akses aku sekolah. Mungkin ini nukana motor
yang tergolong sangat bagus. Karena memang aku yang menginginkan motor jni dari dahulu. Semenjak
SMA, aku mulai jarang membantu menyiapkan peralatan ayaah ketika melaut, karena memang waktu
sekolah yang lebih panjang karena di tambaha dengn ekstrakulikuler. Karena itu, aku menyempatkan
ketika liburan untuk membantu ayah.

Saat ini aku duduk di kelas sebelas (dua SMA), dan aku di ajukan menjadi kandidat ketua OSIS. Awalnya
aku tak menyetujui nya, namun karena ini merupakan perintah dari WAKA Kesiswaan, mak aku
menurutinya. Dan hal yang mengejutkan, aku terpilih menjadi ketua OSIS di sekolah kami.
Dan jni benar- benar suatu hal yang tak terduga. Karena tidak pernah terfikir oleh ku sebelumnya jika
aku bisa terpilih menjadi ketua OSIS. Ini pengalaman pertama menjadi bagian inti di suatu organisasi.
Memang sebelumnya aku ikut organisasi, namun tidak pernah menjadi bagian inti. Dengan menjadi
ketua OSIS ini, aku harus bertanggung jawab dengan apa yang telah diamanahkan kepadaku. Ayah ibu
selalu mendukungku dan berpesan untuk bertanggung jawab dan melakukan tugas dengan sungguh-
sungguh.

Contoh Autobiografi Diri Sendiri yang Menarik

pastiguna.com

Nama saya Celline Andita Pratiwi. Teman- teman biasa memanggil saya dengan nama Dita. Saya lahir
dan di besarkan oleh ayah dan ibu saya di desa yang bernama Sewon pada 22 Agustus 2003. Ayah saya
adalah seorang guru penjaskes yang bernama Sutrisno, sedangkan ibu saya adalah seorang ibu rumah
tangga yang bernama Zaenab. Saya di lahirkan dari dua bersaudara sementara saya adalah anak
terakhir.

Saya mulai masuk sekolah di TK Dharma Wanita pada tahun 2008. Itu merupakan sekolah pertama saya.
Kala itu saya memasuki usia lima tahun. Dan lulus dri TK ktika umur 2010 ketika usia saya mendekati
tujuh tahun. Hal selalu saya ingat ketik a belajar di TK adalah keseruan bermain bersama teman- teman.
Pada tahun setelah saya lulus TK, saya melanjutkan sekolah di MI Miftahul Huda. Saya lulus dari bangku
Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2016. Ketika di sekolah dasar saya mulai suka menari. Setiap ada
perlombaan tari, saya selalu di ajukan untuk mengikuti lomba tersebut untuk mewakili sekolah kami.
Saya pernah tiga kali memenangkan lomba tari tingkat kabupaten. Hal ini menjadi prestasi saya semasa
SD.

Setelah lulus SD, saya melanjutkan sekolah di MTs Negeri Sewon. Masuk ke sekolah baru, aku
menemukan banyak teman baru dan ternyata ada yang jago menari. Ketika ada waktu luang, kami
menyempatkan diri untuk menari bersama. Dengan senang hati dia mengajari tari yang belum aku
kuasai. Aku belajar banyak darinya. Dan saat ini, aku duduk di kelas VIII (delapan) yang artinya berarti
tahun depan aku akan menghadapi ujian nasional (UN). Mulai dari sini aku harus lebih bersungguh-
sungguh dalam belajar. Karena aku tidak ingin mengecewakan pihak yang selama ini selalu bekerja keras
memperjuangkanku, terutama ayah dan ibu.

Contoh Autobiografi Pahlawan

www.google.co.id
Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat dan lebih di kenal dengan R.A Karini adalah seorang wanita yang
lahir di Rembang, pada 21 April 1879. Ayah beliau bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibu
beliau bernama Ngasirah. R.A Kartini mempunyai sepuluh saudara kandung dan saudara tiri, diantaranya
adalah R.M Slamet Sosroningrat, P. A Sosrobusoni, R.A Roekmini, R.A Soelastri, R.A Kardinah, Drs. R.M.P
Sosrokartono, R.M Muljono, R.A Kartinah, R. M Rawito, R. M Soemarti.

R.A Kartini disekolahkan oleh ayahnya di Europese Lagere School (ELS) sampi berumur 12 tahun. R.A
Kartini juga belajar bahasa Belanda di sekolah tersebut. Karena keadaan kebiasaan adat, setelah sekolah
R.A Kartini harus dipingit atau tinggal di rumah saja.

R.A Kartini tertarik dengan pola pikir perempuan di Eropa semenjak surat menyurat dengan temannya
yang berada di Belanda dan membaca majalah ataupun surat kabar darinya. Dari situ Kartini merasa
bahwa perempuan di pribumi masih sangat tertinggal. Oleh karena itu Kartini berusaha memajukan
kedudukan perempuan pribumi.

Kartini dinikahkan oleh ayahnya ketika usia 24 tahun dengan seorang bangsawan yang bernama K.R.M.
Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang saat itu menjabat sebagai bupati Rembang. R.A Kartini Wafat
beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya yang lahir pada tanggal 13 September 1904 dan di
beri nama Soesalit Djojoadhiningrat. Beliau di makamkan di desa Bulu kabupaten Rembang.

Sangat banyak sekali jasa R.A Kartini dalam memajukan bangsa terutama perannya terhadap wanita
pribumi.

Sekian beberapa contoh tentang autobiografi. Semoga artikel ini bisa menjadi referensi yang baik dan
mempermudah dalam pembuatan autobiografi. Semoga bermanfaat.

Next Read: Sifat dan Fakta Anak Pertama yang Unik dan Jarang Diketahui Oleh Banyak Orang Tua »

contoh

Related Post

25 Kerajinan Tangan Dari Kain Flanel Yang Bisa Anda Buat Sendiri
Pengertian Demokrasi, Macam Macam, Ciri Ciri, Prinsip Dan Contohnya

Kerajaan Majapahit, Sejarah, Sistem Pemerintahan Dan Peninggalannya

50 Gambar Perspektif, Pengertian, Contoh, teknik dan berbagai tipe

Sejarah Komputer Dari Generasi Ke Generasi, Gambar Dan Penjelasan

18 Fakta Anak Kedua Beserta Kepribadian Unik Yang Harus DiKetahui

All Rights Reserved | View Non-AMP Version

Powered by AMPforWP