Anda di halaman 1dari 78

TEKNIK SELEKSI DAN IDENTIFIKASI

BAKTERI

HOTLINA NAINGGOLAN
OUTLINE

• Metode Seleksi Mikroba


• Metode identifikasi bakteri menggunakan teknik
pewarnaan dinding sel
• Metode identifikasi bakteri menggunakan reaksi
biokimia
• Metode identifikasi bakteri secara molekular
SELEKSI

• Tujuan : mendapatkan galur/ strain dengan kinerja terbaik


• Untuk memperoleh galur murni
• Kualitas dan kuantitas lebih tinggi
• Tidak menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki
• Perubahan morfologi sel menjadi bentuk yang lebih mudah dipisahkan
dari produk

• Pendekatan genetika untuk memperbaiki kualitas mikroba :


• Mutasi
• Rekombinasi
• Taksonomi (klasifikasi) : penataan teratur unit-unit ke dalam kelompok satuan yang
lebih besar
• hirarkhi klasifikasi : spesies  genus  familia  orde  kelas  filum atau divisi
• Nomenklatur : penamaan satuan-satuan yang dicirikan dan dibatasi oleh klasifikasi
• binomial nomenklatur : menggunakan nama kombinasi biner
• Latin, misalnya Rhizopus oryzae
• Identifikasi : penggunaan kriteria yang ditetapkan untuk klasifikasi dan nomenklatur
untuk mengidentifikasi mikroba dengan membandingkan dengan ciri-ciri/ karakteristik
yang ada
• Contoh identifikasi bakteri :
- tidak terdapat bakteroklorofil
- sel tidak berbentuk filamen
- Gram positif
- berbentuk batang
- menghasilkan endospora
- Katalase positif
- Aerobik
- Nitrit negatif

Identifikasi Kapang : berdasarkan spora dan miselium

Identifikasi khamir : berdasarkan spora & kemampuan memfermentasi gula


sebagai sumber karbon
IDENTIFIKASI
• Setelah diperoleh kultur murni, dilakukan identifikasi
• Metode untuk identifikasi mikroba adalah dengan menggunakan ciri/karakteristik :
1. Morfologis
Pengamatan ukuran, bentuk dan susunan sel, adanya
flagela, kapsul atau spora dengan bantuan mikroskop,
baik dengan pewarnaan maupun tidak
2. Nutrisional
Penentuan senyawa kimia dan kondisi fisik khusus
(suhu, cahaya, gas) yang diperlukan untuk
pertumbuhan mikroba
3. Kultural
Penentuan tampilan pertumbuhan pada berbagai
macam media, baik cair maupun padat (bentuk koloni,
permukaan koloni, tepi koloni, warna dll)
4. Metabolik
Identifikasi & pengukuran perubahan kimiawi yang dilakukan mikroba ( kemampuan
mikroba untuk mengubah karbohidrat menjadi asam organik; gula menjadi asam dll)
Contoh : E. coli dapat memfermentasi laktosa, sedangkan Salmonella typhi tidak
dapat
5. Susunan Kimiawi
Penentuan susunan kimiawi berbagai komponen sel (dinding sel, nukleus, membran
dll)
6. Susunan Antigen (Serologi)
Penelaahan sifat antigen – antibodi yang khas
* Antigen : substansi (sel mikroba) yang menstimulasi produksi antibodi saat
diinjeksikan ke hewan
7. Patogenik
Penentuan potensi suatu mikroba untuk menimbulkan penyakit
8. Genetik
Kajian berdasarkan untaian DNA mikroba menggunakan DNA Probe
Karakteristik Morfologis
(Pengamatan ukuran, bentuk dan susunan sel, adanya flagela,
kapsul atau spora dengan bantuan mikroskop, baik dengan
pewarnaan maupun tidak)

Aspergillus E. coli

Streptomyces Penicillium
Bentuk & Susunan Sel

Sel Bakteri
Karakteristik Kultural
 Tampilan pertumbuhan pada media padat
(bentuk koloni, tepi koloni, permukaan koloni dll)
PEMELIHARAAN & PENGAWETAN KULTUR MURNI
• Tujuan :
menjaga sampai periode tertentu mikroba tetap dalam kondisi hidup
(viable), mencegah terjadinya perubahan genetik & tidak
terkontaminasi --> harus mampu melestarikan karakteristik spesies
mikroba selama diawetkan
• Cara :
1. Pemindahan Secara Periodik
Kultur mikroba secara periodik dipindahkan ke media baru/segar,
contoh : media agar miring
Komposisi media & suhu serta interval waktu pemindahan harus
tepat dan disimpan pada suhu dingin (50C)
 murah & mudah, tapi tidak cocok untuk penyimpanan jangka
panjang
 bakteri 2-3 minggu, fungi 3-4 minggu
2. Pelapisan Kultur dgn Minyak Mineral
• Permukaan agar miring atau media cair dilapisi dengan minyak
mineral steril (parafin) +/- 0,5 inci
• Keuntungan : dapat memindahkan sebagian mikroba di bawah
permukaan minyak mineral dg jarum Ose, lalu diinokulasi ke
media segar dengan tetap mempertahankan kultur awal
• Lapisan parafin menjadikan kondisi anaerob dan mencegah
pengeringan medium
• mikroba dorman  pengawetan dapat beberapa tahun
3. Liofilisasi  Pengeringan beku (freeze-drying)
• Sel mikroba dikering-bekukan & aktivitas metabolisme stop (dorman) 
efektif untuk bakteri (dapat tetap hidup & tidak berubah selama
bertahun-tahun
• Cara :
• media berisi senyawa pelindung/penstabil : susu, serum, natrium
glutamat dll
• suspensi mikroba (±0,2 ml) ditempatkan dalam ampul (vial) kaca
• Perendalam dalam es kering + alkohol (-780C)  beku
• Ampul dihubungkan dengan kondensor & pompa vakum  kering
(sublimasi)
• Ampul ditutup dengan melelehkan ampul kaca tsb dlm keadaan vakum
 penyimpanan pada suhu 40 C
• Keuntungan : Cocok untuk penyimpanan jangka panjang (tahunan) &
kemungkinan perubahan kecil & Wadah penyimpanan kecil
Freeze drying Chamber

Sampel

Kondensor

Pompa vakum
Foto Alat Freeze Dryer
4. Penyimpanan pada Suhu Sangat Rendah (Cryopreservation)
• Menggunakan nitrogen cair (sekitar -156 sampai-1960C) Sel
dibekukan dengan diberi bahan pelindung beku (gliserol
atau dimetil sulfoksida)  mencegah pembentukkan kristal
es & meningkatkan ketahanan hidup sel mikroba
• Contoh beku disimpan dalam lemari pendingin nitrogen cair
• Cocok untuk kapang
• Kelebihan : hampir sama dgn liofilisasi & kultur yg tidak
dapat diawetkan dengan liofilisasi, dapat dengan cara ini
PEMANTAUAN VIABILITAS DAN KESTABILAN MIKROBA

• Sebelum dan sesudah penyimpanan, sebaiknya


viabilitas mikroba diperiksa, sehingga mikroba
yang mati selama penyimpanan dapat diketahui

• Sebaiknya diperiksa pula morfologi dan


karakteristik biokimianya,
 Bandingkan dengan referensi
METODE IDENTIFIKASI MIKROBA MELALUI TEHNIK
PEWARNAAN
PEWARNAAN BAKTERI

 Kunci  Magnification (perbesaran) & Resolution


Contrast
 Untuk melihat bentuk sel bakteri  (warna) spesimen
harus kontras dengan latar belakang dari lapang pandang
mikroskop
 Sitoplasma pada dasarnya transparan, sehingga sulit untuk
dilihat dengan mikroskop tanpa pewarnaan
 Satu pewarnaan dapat menentukan/ membedakan 
morfologi sel, ukuran, dan susunan
PEWARNAAN BAKTERI

 Cat pewarna (stains)  larutan yang berisi pelarut


(akuades atau ethanol) dan molekul pewarna (biasanya
derivat dari benzena) yang disebut Chromogen
 Bagian chromogen yang dapat mewarnai sel di sebut
Chromophore

 Prinsip : zat warna akan bergabung secara kimiawi dengan


protoplasma bakteri

 Fungsi : mengamati morfologi, struktur dan sifat bakteri


STAIN CATEGORIES
Morphological – size, shape, arrangement
• Simple stain
• Negative stain

Differential – cell wall composition


• Gram stain
• Acid-fast stain

Structural – cell structures


• Endospore stain
• Capsule stain
• Flagell stain
• Mycoplasma
SIMPLE STAIN
Tujuan  Untuk membedakan bentuk, ukuran, dan
susunan sel bakteri

Prinsip:

Surface of most
bacterial cell

Hanya menggunakan 1 macam cat pewarna


 Methylene Blue
 Safranin
 Crystal violet
Slide Preparation
1. Clean slide
2. LABEL
3. Smear in circle
Broth
Solid + H20
4. Air dry first
5. Heat fix (usually)
Kill organism
Adhere to slide
6. Problems
Too thick
Wash off specimen
NEGATIVE STAIN
 Teknik untuk menentukan morfologi dan
sususan sel bakteri yang tidak tahan panas
(fiksasi), ex : Treponema
 Dipakai untuk mengamati bakteri yang sukar
terwarnai secara langsung
 Dipakai untuk menentukan ukuran sel  teknik
ini dapat meminimalkan penyusutan sel

 Menggunakan zat warna nigrosin, congo red


 Prinsip : pewarna asam akan mewarnai latar
belakang, sedangkan sel tidak akan terwarnai
NEGATIVE STAIN
 Prinsip:
Chromogen  acid  membawa muatan negatif
Muatan negatif di permukaan sel bakteri menolak
muatan negatif chromogen  sel tidak terwarnai,
background yang terwarnai
GRAM STAIN
 Untuk membedakan antara bakteri Gram positif
dan Gram negatif
 Untuk menentukan morfologi sel, susunan sel,
dan ukuran sel bakteri
 Dapat digunakan sebagai dugaan awal dalam
suatu identifikasi
 Primary stain  crystal violet
 Mordant  iodine
 Decolorizer  Alkohol/ acetone
 Counter stain  safranin
GRAM STAIN
 Dasar Pembeda  struktur dinding sel
GRAM STAIN
 Gram negative cell walls have a higher lipid content and
a thinner peptidoglycan layer than Gram positive cell
walls  the decolorizer extracts the lipid, making the
Gram negative wall more porous and incapable of
retaining the crystal violet-iodine complex

 THE DECOLORIZATION step is the MOST CRUCIAL and


most likely source of Gram stain inconsistency

Age of the culture also affects gram stain consistency


 Older cultures  may lose their ability to resist
decolorization and give artifactual Gram negative result
 Cultures 24 hours old or less are the best for this
procedure
Time Frame
1) 1 minute
2) 1 minute
3) 15 seconds
4) 1 minute
ACID FAST STAIN
Purpose:
 To identification of acid-fast bacili
 Preliminary diagnosis of tbc

Principle
 The presence of mycolic acids in the cell walls of acid
fast organisms in the cytological basis for this
differential stain
 Mycolic acid is waxy substance that gives acid fast cells
a higher affinity for the primary stain and resistance to
decolorization by an acid alcohol solution

Method: Beda:
 Ziehl-Neelsen (ZN) method ZN menggunakan pemanasan
 Kinyoun (K) method K  cold stain
ACID FAST STAIN
ZN Method:
 Phenolic compound  carbolfuchsin (as the primary
stain  lipid soluble and penetrates the waxy cell wall)
 Staining by carbolfuchsin is further enhanched by steam
heating the preparation to melt the wax and allow the
stain to move into the cell
 Decolorizer  acid alcohol (decolorize non acid fast
cells)
 Counterstain  methylene blue

K-Method:
 Same with ZN methode, but without the use of heat
 Less sensitive than ZN method
 Counterstain  brilliant green or methylene blue
ACID FAST STAIN
Other Staining
 Fluorescent dyes, such as auramine or rhodamine
 Actually preferable to traditional carbolfuchsin stains
for examination of direct smears because of their
higher sensitivity
 The fluorochrome combines specifically with mycolic
acid
 Acid alcohol is used for decolorization
 Potassium permanganate is the counterstain
 When observed under the microscope with UV
illuminations, acid-fast cells are yellow against a dark
background and nonacid fast cells are not seen
ENDOSPORE STAIN
Purpose:
 To detect the presence and location of spores in
bacterial cells (ex: Bacillus & Clostridium)

Principle
 Pora resiten terhadap panas dan kimia oleh karena
membrane luar ditutupi protein keratin
 proses pemanasan akan membuka lapisan spora dan
memudahkan masuknya zat warna, impermeabilitas dari
spora akan melindungi zat yang mewarnai spora dari
perlakuan pelunturan atau penambahan zat pewarna sel
vegetatif
ENDOSPORE STAIN

Schaeffer Fulton method


 Primary stain  malachite green  stiming emulsi
bakteri (alternatif  biarkan sampel terendam MG
selama 15 menit atau lebih)
 Malachite Green larut dalam air dan afinitasnya lemah
dengan materi2 selular, sehingga sel vegetative dapat di
staining ulang kembali dengan counter stain (safranin)
CAPSULE STAIN
Purpose:
 To detect cells capable of producing an extracelluar
capsule
 Capsule production increase virulence in some
bacteria, by making them less vulnerable to
phagocytosis

Principle
 Capsules composed of mucoid polysaccharides or
polypeptides
 The capsule stain technique takes advantage of this
phenomenon by staining around the cells
CAPSULE STAIN
 An acidic stain such as congo red or nigrosin that stain
the background
 Basic stain that colorizes the cell
 The capsule remains unstained and appears as a white
halo between the cells and the colored background
CAPSULE STAIN
Metode pengecatan kapsul
• Metode Burry
Cat yg dipakai Safranin / Methylene Blue
• Metode Stitt Hiss
Cat yg dipakai Basic Fuchsin dgn Alkohol
• Metode Welch
Cat yg dipakai Carbol Fuchsin dgn NaCl
• Metode Anthony
Kristal Violet dgn CuSO4
CAPSULE STAIN (metode burry)
FLAGELL STAIN
Purpose:
 The flagella stain allows direct observation of flagella
 Presense and arrangement of flagella may be useful in
identifying bacterial species

Principle:
 mordant akan meningkatkan afinitas flagel untuk
menyerap zat warna. Koloidal garam asam tanat
menyebabkan presipitat pada dinding sel dan flagel,
sehingga tampak lebih besar dan terwarna dengan
karbolfuhksin
FLAGEL STAIN
Pembuatan Preparat Pengecatan
1. Objek glass dibersihkan 1. Preparat digenangi dengan
dan disterilkan dengan larutan Mordant dan
melewatkan di atas api didiamkan selama 10 menit
sebanyak 3x 2. Preparat dicuci dengan air
2. Sebanyak 1 tetes sampel mengalir
bakteri diteteskan di tepi 3. Preparat digenangi dengan
objek glass menggunakan cat Carbol Fuchsin selama 5
pipet tetes steril menit
3. Objek glass dimiringkan 4. Preparat dicuci dengan air
hingga tetesan tadi mengalir
mengalir ke ujung yang lain 5. Periksa dibawah mikroskop
4. Objek glass dikeringkan di dengan perbesaran 1000X
incubator pada suhu 560C dengan imersi oil
FLAGEL STAIN
Fungsi Mordant  mengintensifkan pengecatan
dengan memperbesar bentuk dan diameter flagel

Mordant yang terdiri dari :


 5 cc Larutan jenuh Kalium aluin dalam
aquadest
 2 cc Larutan Asam Tanin 20% dalam aquadest
 2 cc Larutan HgCl2 jenuh dalam aquadest
 0,4 cc Larutan Basich Fuchsin jenuh dalam
Alkohol 96%
CONTOH BAKTERI GRAM POSITIF
CONTOH BAKTERI GRAM NEGATIF
METODE IDENTIFIKASI BAKTERI MENGGUNAKAN
TEHNIK UJI BIOKIMIA

• Setiap bakteri memiliki kemampuan dalam menggunakan enzim


yang dimilikinya untuk degradasi karbohidrat, lemak, protein, dan
asam amino
• Metabolisme atau penggunaan dari molekul organik ini biasanya
menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk identifikasi dan
karakterisasi bakteri
JENIS METODE BIOKIMIA DENGAN UJI ENZIM

• Uji Katalase
• Uji coagulase
• Uji pyrase
• Uji hippurate hidrolisis
• Uji oksidase
• Uji indole
• Uji DNAse
• Uji ONPG (B-galaktosidase)
ANALISIS KIMIA MELALUI JALUR METABOLISME

• Oksidasi dan fermentasi karbohidrat


• Uji oksidasi fermentasi
• Fermentasi karbohidarat pada TSIA
• Uji Methyl Red
• Uji Voges Proskauer

• Degradasi Asam Amino


• Reaksi dekarboksilase-dihidrolase
• Reasi deaminasi
• Reaksi decarboksilasi dan deamninasi
• Utilisasi (Pemanfaatan) Substrat Tunggal
• Uji Utilisasi sitrat
• Uji utilsasi asetat
• Uji utilisasi asetamide • Establising Inhibitor Profile
• Uji kerentanan Bacitracin
• Uji kerentanan Bacitratin dan
Sufamethoxazole-trimethoprim
• Uji kerentanan novobiocin
• Uji kerentanan vancomycin
1. UJI KATALASE
• Tujuan:
• Difrensiasi bakteri Microco-cocaceae (termasuk
staphylococcus) yang katalase positif dari spsies • Interpretasi:
streptococcus yang katalase negate • Positif  cepat terjadi
• Difrensiasi Listeria monocytogenes dan buble atau effervescence
corynebacteria (katalase positif) dari bakteri gram • Negatif  buble hanya
positif, dan bacilli yang tidak berspora
sedikit dan terbentuk
• Dasar: setelah 30 detik
• Enzim katalase mengkatalisi pelepasan air dan
oksigen dari hydrogen peroksida
2. UJI KOAGULASE
• Tujuan:
• Untuk menentukan kemampuan organisme memproduksi koagulase
yang berfungsi untuk penggumpalan plasma
• Untuk membedakan patogenik koagulase positif staphylococcus dari
nonpatogenik koalgulase negatif staphylococcucus

• Dasar:
• Koagulase adalah enzim yang mengkonversi soluble fibrinogen ke soluble fibrin
• Dua bentuk koagulase
• Koagulase terikat (factor penggumpalan)  terdeteksi pada slide uji
koagulase, dimana secara langsung mengkonveri insoluble fibrin dan
menyebabkan staphylococci menggumpal bersama
• Koagulase Babas  terdeteksi pada koagulase tube test, bereaksi dengan
factor globulin plasma membentuk factor thrombin  staphylothrombin 
katalisasi konversi fibrinogen menjadi insoluble fibrin
• Interpretasi:
• Slide koagulase Test
• Positif  gumpalan fibrin putin pada plasma
• Negatif  suspense halus
• Tube Koagulase Test
• Positif  formasi gumpalan fibrin
• Negatif  tidak ada gumpalan yang terbentuk
3. UJI PYRASE (PYR)
• Tujuan:
• Untuk menentukan kemampuan organisme menghidrolisis substrat L-pyrrolidonyl-
beta-napthylamide
• Untu mendiffrensiasi spesies Renterococcus dari spesies nonenterococcus.
• Untuk identifikasi stresptococcus pyogenes

• Dasar:
• Interpretasi
• Positive – pink to cherry red
color
• Negative – no color
4. UJI HIPPURATE HIDROLISIS
• Tujuan:
• Untuk menentukan kemampuan organisme
Interpretasi:
untuk memproduksi hippuricase yang
• Positive – deep purple color
menghidrolisis substrat hippurate
• Negative – slightly yellow pink
• Digunakan untuk identifikasi Streptococcus or colorless
agalactiae, Camphylobacter jejuni and
Listeria monocytogenes

• Dasar:
• Produk akhir hidrolisis substrat hippurate oleh
enzim hippuricase termasuk glisin dan asam
benzoat.
• Glycine dideaminasi oleh agen pengoksidasi,
ninhidrin, yang berkurang selama proses.
• Produk akhir oksidasi ninhidrin bereaksi untuk
membentuk produk berwarna ungu
5. UJI OKSIDASE
• Tujuan:
• Untuk mengskrinning koloni yang diduga Enterobacteriaceae e(all negative).
• Identifikasi koloni yang diduga adalah golongan aromonas, pseudomonas,
meisseria, camphylobacter dan pasteurella

• Dasar:
• Uji oksidase sitokrom menggunakan pewarna
reagen tertentu, seperti p-fenilendiamin
dihidroklorida yang menggantikan oksigen
sebagai akseptor elektron buatan
• Tidak berwarna dalam keadaan tereduksi.
• Keberadaan oksidase sitokrom dan oksigen
atmosfer, p-fenilendiamin teroksidasi
membentuk biru indophenol.
• Interpretasi
• Positive – blue/ dark purple/black
color
• Negative – no color development
6. UJI INDOLE
• Tujuan:
• Membedakan Enterobacteriaceae berdasarkan kemampuan memproduksi indole dari
tryptophan
• Untuk mengidentifikasi mikroba yang memfermentasikan laktosa Enterobacteriaceae,
Escherichia coli(indol positive) from Klebsiella pneumoniae(indol negative)
• Untuk menentukan:
• Proteus mirabilis – indole negative
• Proteus vulgaris – indole positive

• Dasar:
• Bakteri yang memiliki enzim tryptophanase mampu menghidrolisis dan deaminasi triptofan
dengan produksi indole, asam piruvat dan amonia.
• Sebuah kompleks merah terbentuk ketika indole bereaksi dengan kelompok aldehyde dari
p-dimethylaminobenzal dehyde, bahan kimia aktif dalam pereaksi (Reagen) Kovac dan
Ehrlich.
• Interpretasi
• Positive – red ring
• Negative – no color development
• Variable results – orange color
• Rapid spot test
• paradimethylaminocinnamaldehyde –
blue green
• paradimethylaminobenzaldehyde –
bright pink color
7. UJI DEOKSIRIBOSE ATAU UJI DNA HIDROLISIS

• Tujuan:
• Untuk mendeteksi aktivitas DNAse pada spesies bakteri aerobic
• Intuk diffrensiasi non-fermenting bakteri gram negatif seperti Staphylococcus aureus dan
Serratia marcescens

• Dasar:
• Metachromatic dyes
• Komleks Toluidine Blue dengan DNA  hidrolisis DNA dengan inokulasi mikroorganisme
menyebabkan perubahan struktur dye (pewarna) menghasilka warna merah muda
• Komleks Methyl green dengan DNA  jika organisme ditumbuhkan pada medium hidrolisis
DNA  warna hijau akan memudar dan koloni dikelilingi zona yang tidak berwarna
• Interpretasi:
Toluidine blue Methyl green

Positive rose pink clear zone

Negative no change no clearing


8. UJI ONPG (B-GALAKTOSIDASE)
• Tujuan:
• Menentukan laju cepat atau lambat nya fermentasi strain
• Deteksi lambatnya fermentasi laktosa pada strain Escherichia coli
• Membedakan beberapa spesie Citrobacter dan sub spesies arizonae (ONPG
positif) ari subsoesies Salmonella (ONPG negatif)
• Spesifikasi Shigella

• Dasar:
• Lactosa Permease  aktifasi transfer laktosa ke sel
bakteri
• Beta galaktosidase  degradasi laktoso menjadi glukosa
dan galaktosa

• Interpretasi:
• Positif – warna kuning diantara 20 menit sampai 24 jam
• Negatif- no color, tidak ada perubahan warna setelah 24
jam
9. UJI UREASE
• Tujuan:
• Menentukan kemmapuan orgamisme memproduksi enzyme urease yang
dihidrolisis urea
• Identifikasi kecepatan produksi urease (Proteus dan Morganella) dan
lambatnya produksi urease (Klebsiella pneumoniae dan species Enterobacter)

• Dasar:
• Urease akan memisahkan molekul urea menjadi ammonia (NH3), CO2 dan air
(H2O)
• Reaksi ammonia pada larutan akan membentuk senyawa alkaline, ammonium
carbonate yang mengahasilkan peningkatan pH pada media dan mengubah
warna dengan indicator merah muda -merah
• Interpretasi:
• Agar
• Positif urease cepat  merah
• Positif  urease lambat  sedikit merah
• Negatif  kuning
• Broth urea
• Positif  merah
• Negatif  tidak ada perubahan warna atau terlihat seperti
kuning pucat yang samar
METODE IDENTIFIKASI MENGGUNAKAN TEHNIK
BIOMOLEKULAR
TEHNIK MOLEKULAR

• PCR (poli chain reaction)


• Spektrometrik (MS)
• ELISA
PCR

https://www.abmgood.com/marketing/knowledge_base/polymerase_chain_reaction_introduct
ion.php
ELISA (ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAYS)

• Dapat digunakan untuk deteksi obat antimikroba

https://www.bosterbio.com/protocol-and-troubleshooting/elisa-principle
ANALISIS MIKROBA SECARA MOLEKULAR
• Diperlukan jika identifikasi bakteri harus dilakukan secara cepat
• Untuk bakteri yang susah teridentifikasi dan memerlukan waktu yang lama
• e.g., Mycobacteria
• Untuk organisme berbahaya
• e.g., Histoplasma, Coccidiodes
• Untuk organisme yang belum ada uji yang reliable (belum dapat diandalkan)
• e.g., HIV, HCV
• High-volume test
• e.g., S. pyogenes, N. gonorrhoeae, C. trachomatis
• Deteksi gen organisme yang resisten
• Genotyping
• Klasifikasi
• Penemuan organisme baru
TUGAS

• Dibagi 3 kelompok:
• Buat makalah mekanisme kerja:
• PCR (poli chain reaction)
• Spektrometrik (MS)
• ELISA
untuk identifikasi mikroba