Anda di halaman 1dari 76

LAPORAN PENDAHULUAN

Antenal Care, Intranatal Care, Postnatal Care, Neonatal Care dan


Kontrasepsi
Untuk memenuhi tugas Profesi Ners Departemen Maternitas
di Ruang Cempaka, Poli Obgyn RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar

Disusun oleh:
I WAYAN GEDE SARASWASTA
140070300011111
PSIK A 2011

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2016
ANTENATAL CARE

A. PENGERTIAN ANC
Pelayanan antenatal Pelayanan antenatal adalah pelayanan
kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum,
bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa
kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang
meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah,
pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi
minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Perencanaan Jadwal
pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) : - sampai 28
minggu : 4 minggu sekali - 28 - 36 minggu : 2 minggu sekali - di atas 36
minggu : 1 minggu sekali Kecuali jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang
memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering
dan intensif.
B. TUJUAN ANTENATAL CARE
1. menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
2. menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
3. menentukan status kesehatan ibu dan janin
4. menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya faktor
risiko kehamilan
5. menentukan rencana pemeriksaan/ penatalaksanaan selanjutnya
C. PELAKSANAAN ANTENATAL CARE
1. Anamnesa
Pada tahapan ini, pemeriksa menanyakan mengenai:
a. Identitas klien
Pemeriksa menanyakan mengenai nama pasien, umur, alamat,
pendidikan, pekerjaan, nama suami, umur, alamat, pendidikan,
pekerjaan dan nomor yang bisa dihubungi.
Dengan mengetahui usia klien maka dapat diketahui resiko yang
mungkin dapat terjadi, seperti bila klien hamil pada saat usia lebih dari
30 tahun maka resiko kehamilan yang dapat terjadi adalah ketuban
pecah dini, pre eklamsia, dan eklamsia. Sedangkan bila klien hamil
pada saat usia kurang dari 20 tahun maka kemungkinan resiko
kehamilan yang dapat terjadi adalah distosia, abortus, preeklamsia,
dan ketuban pecah dini. Usia ideal untuk hamil adalah 20-30 tahun.
Pada usia ini sistem reproduksi wanita sudah matang dan siap untuk
menerima kehamilan.
b. Riwayat kesehatan saat ini
Hal yang perlu ditanyakan antara lain: keluhan saat kehamilan, HPHT,
saat ini kehamilan yang keberapa, apakah sudah pernah control ke
bidan sebelumnya.
Dengan mengetahui HPHT maka dapat diketahui pula perkiraan
tanggal partus. Cara menghitung perkiraan partus yaitu dengan : (Hari
+7), (Bulan-3), (Tahun +1). Sehingga dengan mengetahui perkiraan
tanggal partus, maka ibu dan keluarga dapat menyiapkan dirinya
menjelang persalinan.
c. Riwayat kesehatan terdahulu
Hal-hal yang perlu diketahui antara lain: riwayat kehamilan yang lalu,
riwayat persalinan, jumlah anak hidup, kondisi anak saat lahir, riwayat
penyulit saat kelahiran, riwayat penyakit yang diderita saat hamil dulu,
riwayat nifas, dan alat kontrasepsi yang digunakan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Perlu diktahui mengenai: apakah terdapat keluarga yang mengalami
kecacatan saat lahir, darah tinggi, stroke, diabetes, dan penyakit
lainnya yang dapat diturunkan.
e. Alergi
Perlu juga diketahui mengenai apakah ibu alergi dengan makanan,
plester, obat, serta obat-obatan yang dikonsumsi saat ini atau yang
sering dikonsumsi.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang perlu diperiksa antara lain:
a. Head to toe
- Kepala: apakah ada anemia konjungtiva dan sclera ikterus
- Leher: apakah ada deviasi trakea, apakah ada distensi vena
jugularis
- Dada: apakah ada kemerahan pada payudara, apakah ada rasa
nyeri di payudara, bagaimana areola nya, apakah ada putting
susu yang mengalami retraksi
- Perut: adanya linea nigra dan striae gravidarum
- Perineum: apakah ada kemerahan, lesi, atau rasa nyeri
- Ektremitas: apakah ada edema
b. Berat badan dan tinggi badan
Berat badan pada pasien normal akan naik lebih dari 15 kg pada saat
hamil. Namun, bila sebelum hamil BB klien < 45 kg atau > 75 kg maka
kemungkinan memiliki masalah atau penyulit kehamilan juga akan
semakin besar. Untuk tinggi badan, klien dengan TB < 145 cm dapat
mengalami distosia karena PAP yang sempit.
c. TTV
Pemeriksaan TTV meliputi RR, nadi, TD, suhu. Tekanan darah
diastole pada ibu hamil menandakan sirkulasi darah ke janin. Bila
lebih dari 140/90 mmHg maka harus dicurigai preeklamsi
3. Leopold 1
Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui bagian janin yang berada di
PAP serta mengukur tinggi fundus uterus.
4. Leopold 2
Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui bagian janin yang berada di
sisi samping perut ibu serta mengukur DJJ janin. DJJ janin lebih cepat
dari nadi ibu. Normalnya 120-160 x/mnt. Bila lebih atau kurang maka
janin kemungkinan besar mengalami distress.
5. Leopold 3
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah bagian bayi sudah
masuk di PAP atau belum. Bila belum maka pemeriksaan dihentikan.
6. Leopold 4
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak bagian
tubuh bayi yang sudah masuk PAP.
7. Pengukuran lingkar perut, distance crista iliaka, distance spinal, dan
bodiloque
Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui apakah ibu bisa menjalani
persalinan normal atau tidak. Sehingga ia bisa jauh-jauh hari
merencanakan persalinannya. Lingkar perut normalnya 90-102 cm,
distance crista iliaka 26-30 cm, distance spina iliaka 23-26 cm, serta
bodiloque 18-20 cm.
8. Mengkomunikasikan hasil pemeriksaan, pemberian saran, dan imunisasi
TT
Hasil pemeriksaan perlu dikomunikasikan pada pasien. Selain tu
pemeriksa juga perlu memberikan saran seperti bila pasien merupakan
wanita yang bekerja maka perlu disarankan untuk istirahat setiap 2 jam
sekali selama 15 menit, selalu menjaga kebersihan payudara dan apabila
putting payudara mengalami retraksi maka pasien disarankan untuk
memberkan tarikan perlahan pada putting. Untuk nutrisi ibu harus minum
minimal 90 tablet Fe selama masa kehamilan. Pemberian imunisasi TT
dapat dilakukan bila usia kandungan sudah memasuki 4 bulan. Hal ini
dilakukan karena janin sudah dinilai kuat dan tidak ada reaksi penolakan
oleh antibody.

D. PHATWAY (terlampir)

E. ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
1) Aktifitas dan istirahat
 Tekanan darah lebih rendah dari pada normal pada 8-12 minggu
pertama. Kembali pada tingkat normal pada separuh waktu kehamilan
akhir
 Denyut nadi meningkat 10-15x/menit
 Mur-mur sistolik pendek dapat terjadi sehubungan dengan
peningkatan volume darah
 Varises pada ekstremitas bawah dan edema terutama pada trimester
III
 Episode sinkope
2) Integritas Ego
 Menunjukkan perubahan persepsi diri
 Body image rendah
3) Eliminasi
 Perubahan pada konsistensi dan frekuensi defekasi
 Peningkatan frekuensi berkemih
 Peningkatan berat jenis urin
 Timbulnya hemoroid
4) Makanan dan Cairan
 Mual, muntah terutama pada trimester I, nyeri uluh hati sering terjadi
 Peningkatan berat badan 2-4 Kg pada trimester I, 11-12 Kg pada
trimester II &III
 Membran mukosa kering, hipertropi jaringan, gusi mudah terjadi
perdarahan
 Hb dan Ht rendah, mungkin di temui anemia fisiologis
 Glukus dan edema
5) Nyeri dan Ketidaknyamanan
 Kram kaki
 Nyeri tekan dan bengkak pada payudara
 Kontraksi brakson hicks setelah 28 minggu
 Nyeri punggung
6) Pernafasan
 Mukosa nampak lebih merah dari biasanya
 Frekwensi pernafasan dapat meningkat relatif terhadap ukuran / tinggi
uterus
 Pernafasan thorakal
7) Keamanan
 Suhu tubuh 36 – 37ºC
 DJJ terdengar pada usia kehamilan 17 –20 minggu
 Gerakan janin terasa pada usia kehamilan 20 minggu
 Quickening pada usia kehamilan 16 – 20 minggu
 Ballotement ada pada bulan ke 4 dan ke 5
8) Sexualitas
 Berhentinya menstruasi
 Perubahan respon / aktifitas seksual
 Leukhorea
 Peningkatan secara progresif ukuran uterus
 Payudara membesar, hiperpigmentasi pada areola
 Perubahan pigmentasi kloasma, lineanigra, palmaleritema,
spindernevi, strie gravidarum
 Tanda-tanda hegar, chadwick positif
9) Interaksi sosial
 Bingung atau meragukan perubahan peran yang diantisipasi
 Tahap maturasi / perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan
stressor kehamilan
 Respon anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan
mendukung sampai disfungsional
10)  Penyuluhan/ Pembelajaran
Harapan individu terhadap kehamilan persalinan, melahirkan tergantung
pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman, paritas, keinginan terhadap
anak, dan keadaan ekonomi
11)  Pemeriksaan Diagnostik
 Darah : Hb, golongan darah, skrening HIV, hepatitis
 Skrening untuk TBC paru, tuberubela
 Tes serum HSG

II. ANALISA DATA


DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : Perubahan fisiologis Mual
Mengatakan mual, ↓
muntah, mengatakan Peningkatan HCG
tidak nafsu makan, ↓
lemas dan pusing Mual muntah
DO : ↓
Muntah, tampak Sulit makan / tidak nafsu makan
lemas, kulit pucat ↓
Mual
DS : Kehamilan pertama Defisiensi
Mengatakan tidak ↓ Pengetahuan
tahu persiapan dan Perubahan fisiologis dan
hal yang harus psikologis kehamilan
diperhatikan ibu ↓
hamil, mengatakan Kurang pajanan informasi
tidak mengetahui ↓
pentingnya menjaga Tidak mengetahui hal-hal yang
tekanan darah, harus diperhatikan pada ibu
nutrisi dan aktivitas hamil
untuk ibu hamil ↓
DO : Defisiensi Pengetahuan
Jarang periksa
kehamilan, tidak
mengetahui berat
badan dan tinggi
badan, tidak mampu
menyebutkan tanda
bahaya umum
kehamilan
DS : Kehamilan trimester ketiga Ansietas
Mengatakan takut ↓
akan proses Mendekati persalinan
persalinan, ↓
mengatakan tidak Cemas menghadapi proses
bisa tidur, sering persalinan
banyak pikiran ↓
DO : Ansietas
Raut wajah tampak
khawatir, tampak
bingung, sulit
berkonsentrasi

III. PRIORITAS DIAGNOSA


1. Mual berhubungan dengan kehamilan ditandai dengan kurang nafsu
makan, melaporkan mual
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan
informasi ditandai dengan melaporkan adanya masalah tentang
pengetahuan tentang kehamilan
3. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan (kehamilan), stress
ditandai dengan melaporkan kecemasan terhadap persalinan,
bingung
IV. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Mual Setelah dilakukan tindakan NIC : Fluid Management
keperawatan selama 1x15 menit, - Monitor status hidrasi
klien dapat mengatasi mual dengan (Kelembaban membran mukosa,
kriteria hasi : vital sign adekuat)
NOC : Comfort Level, Nutritional - Anjurkan untuk makan pelan-
Status pelan
- Klien dapat mengidentifikasi hal- - Jelaskan untuk menggunakan
hal yang mengurangi mual napas dalam untuk menekan
- Nutrisi klien dapat terjaga adekuat reflek mual
- Klien dapat melaporkan bebas dari - Batasi minum 1 jam sebelum, 1
mual jam sesudah dan selama makan
- Instruksikan untuk menghindari
bau makanan yang menyengat
2 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan NIC :
Pengetahuan keperawatan selama 1 x 30 menit, - Kaji tingkat pengetahuan klien
klien dapat bertambah dan keluarga
pengetahuannya dengan kriteria hasil - Jelaskan perubahan pada
: kehamilan dan tanda bahaya
NOC : Knowledge : Health Behaviour umum
1. Klien mampu mengenali - Gambarkan tanda dan gejala
perubahan pada saat kehamilan yang muncul terkait kehamilan
2. Klien mampu melaksanakan - Identifikasi kemungkinan
prosedur yang dijelaskan secara penyebab
benar - Sediakan informasi pada klien
3. Klien mampu menjelaskan kembali tentang kondisi dengan cara
apa yang dijelaskan perawat/tim yang tepat
kesehatan lain - Sediakan informasi bagi
keluarga tentang kemajuan
klient
- Diskusikan pilihan terapi yang
tepat untuk klien
3 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC : Anxiety Reduction
keperawatan selama 1x 30 menit, - Nyatakan dengan jelas harapan
klien dapat mengetahui cara terhadap perilaku klien
mengatasi kecemasan dengan kriteria - Jelaskan semua prosedur
hasil : menghadapi persalinan dan
NOC : Anxiety Control, Coping persiapan yang diperlukan
- Klien mampu mengidentifikasi dan - Berikan informasi factual
mengungkapkan gejala cemas mengenai tindakan
- Klien mampu mengungkapkan dan - Libatkan keluarga untuk
menunjukkan tehnik untuk mendampingi klien
mengontrol cemas - Bantu klien mengenal situasi
- Postur tubuh, ekspresi wajah, yang menimbulkan kecemasan
bahasa tubuh dan tingkat - Dorong klien untuk

aktivitas menunjukkan mengungkapkan perasaan,


ketakutan, persepsi
berkurangnya kecemasan
- Instruksikan untuk
menggunakan tehnik relaksasi

INTRANATAL CARE
A. Definisi Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan
janin turun ke dalam jalan lahir. Sedangkan definisi kelahiran adalah
proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir.
Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Persalinan adalah proses
dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu.
Persalinan dianggap normal jika proses yang terjadi pada kehamilan
cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit ( Dep.kes RI,
2002). Pesalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi
pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri
dan uri,tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.

B. Tanda dan Gejala


1. Tanda–tanda permulaan persalinan yang terjadi beberapa
minggu sebelum persalinan adalah :
a. Lightening / settling / dropping yaitu kepala turun memasuki pintu
atas panggul. Pada primigravida terjadi saat 4–6 minggu terakhir
kehamilan, sedangkan pada multigravida terjadi saat partus mulai.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c. Perasaan sering atau susah kencing (polakisuria), karena
kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit perut dan dipinggang karena kontraksi lemah dari
uterus.
e. Serviks menjadi lebih lembek dan mulai mendatar, sekresinyapun
akan bertambah bisa bercampur darah (Departemen Kesehatan
Jawa Tengah, 2004).
2. Tanda–tanda pasti persalinan yang terjadi beberapa saat
sebelum persalinan adalah :
 Terjadinya his persalinan yang bersifat :
1.) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.
2.) Sifatnya teratur, interval semakin pendek dan kekuatanya
semakin besar.
3.) Semakin ibu beraktivitas kekuatan his akan semakin besar.
 Pengeluaran lendir dan darah (bloody show) yang lebih banyak
karena
robekan kecil pada serviks.
 Pengeluaran cairan yang terjadi pada beberapa kasus ketuban
pecah, dan dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan
berlangsung dalam waktu 24 jam kemudian.
 Pada pemeriksaan dalam serviks telah mendatar dan pembukaan
telah ada (Departemen Kesehatan Jawa Tengah, 2004).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan dan
kelahiran
 Usia Ibu
 Berat badan ibu
 Jarak kelahiran
 Berat bayi dan usia gestasi
 Posisi fetus
 Kondisi selaput ketuban
 Tempat menempelnya plasenta dan Faktor psikologi
C. Penyebab
Pada akhir kehamilan, uterus secara progresif lebih peka sapaio
akhirnya mulai berkontraksi kuat secara ritmik dengan kekuatan
sedemikian rupa sehingga bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan aktivitas
uterus yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi sedikitnya ada 2 kategori
pengaruh utama yang menyebabkan timbulnya puncak kontraksi yang
berperan dalam persalinan :
1. Faktor Hormonal Yang Menyebabkan Peningkatan Kontraksi Uterus
a. Rasio Estrogen Terhadap Progesteron
Progesteron menghambat kontraksi uterus selama
kehamilan, sedangkan estrogen cenderung meningkatkan
derajat kontraktilitas uterus, sedikitnya terjadi karena estrogen
meningkatkan jumlah gap jungtion antara sel-sel otot polos
uterus yang berdekatan.
Baik estrogen maupun progesteron disekresikan dalam
jumlah yang secara progresif makin bertambah selama
kehamilan, tetapi mulai kehamilan bulan ke-7 dan seterusnya
sekresi estrogen terus meningkat sedangkan sekresi progesteron
tetap konstan atau mungkin sedikit menurun. Oleh karena itu
diduga bahwa rasio estrogen terhadap progesteron cukup
meningkat menjelang akhir kehamilan, sehingga paling tidak
berperan sebagian dalam peningkatan kontraksi uterus.
b. Pengaruh oksitosin pada uterus
Oksitosin merupakan suatu hormon yang disekresikan
oleh neurohipofise yang secara khusus menyebabkan kontraksi
uterus. 3 alasan peranan oksitosin :
1) Otot uterus meningkatkan jumlah reseptor-reseptor
oksitoksin, oleh karena itu meningkatkan responnya
terhadap dosis oksitosin yang diberikan selama beberapa
bulan terakhir kehamilan.
2) Kecepatan sekresi oksitosin oleh neurohipofise sangat
meningkat pada saat persalinan.
3) Iritasi oleh regangan pada serviks uteri, dapat menyebabkan
kelenjar hipofise posterior meningkatkan sekresi
oksitosinnya.
c. Pengaruh Hormon Fetus Pada Uterus
Kelenjar hipopisis fetus juga mensekresikan oksitoksin
yang jumlahnya semakin meningkat, dan kelenjar adrenalnya
mensekresikan sejumlah besar kortisol yang merupakan suatu
stimulan uterus. Selain itu, membran fetus melepaskan
prostagladin dalam kosentrasi tinggi pada saat persalinan.
Prostagladin meningkatkan intensitas kontraksi uterus.
2. Faktor Mekanis Yang Meningkatkan Kontraktilitas Uterus
a. Regangan otot-otot uterus
Regangan sederhana otot-otot polos meningkatkan kontraktilitas
otot-otot tersebut. Selanjutnya regangan intermitten seperti yang
terjadi berulang-ulang pada uterus karena pergerakan fetus juga
meningkatkan kontraksi otot polos.
b. Regangan atau iritasi serviks
Regangan atau iritasi saraf pada serviks mengawali timbulnya
refleks pada korpus uteri, tetapi efek ini juga secara sederhana
dapat terjadi akibat transmisi iogenik sinyal-sinyal dari serviks ke
korpus uterus.

D. Tahapan persalinan
1) Kala I (kala pembukaan)
a. Tanda dan gejala :
 His sudah Adekuat
 Penipisan dan pembukaan serviks sekurang – kurangnya 3 cm
 Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur
darah
b. His dianggap Adekuat bila :
 His bersifat teratur, minimal 2x tiap 10 menit dan berlangsung
sedikitnya 40 detik
 Uterus mengeras pada waktu kontraksi, sehingga tidak
didapatkan cekungan lagi bila dilakukan penekanan diujung
jari
 Serviks membuka.
c. Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2
fase :
1) Fase laten : berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi
sangat lembut sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
2) Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi, yakni :
a) Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm
b) Fase dilaktasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan
brlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c) Fase diselarasi : pembukaan menjadi lambat kembali.
Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap
( 10 cm )
Fase – fase tersebut dijumpai pada primigavida. Pada multigrafida
pun terjadi demikian, akan tetapi fase laten, aktif, dan diselerasi terjadi
lebih pendek.
Pemeriksaan dalam
1) perabaan serviks
a. lunak dan pendataran serviks
b. masih tebal atau tipis
c. pembukaan dan arah serviks
2) ketuban
a. sudah pecah atau belum
b. pembukaan hampit lengkap : pecahkan ketuban
3) bagian terendah dan posisinya
a. leopold 3 dan 4
b. kepala : keras, bulat teraba sutura
c. letak kepala : penurunan kadar bidang  hodge, ada caput
succadeneum atau tidak, berapa besarnya
d. bokong dikenal : lunak, deminatornya tulang sacrum
4) sifat flour albus
5) keadaan patologis : tumor, kekakuan serviks, halangan penurunan
bagian terendah
Pemeriksaan dalam idealnya dilakukan minimal 4 jam sekali
Bidang Hodge : untuk menentukan sampai dimanakah bagian
terendah janin turun dalam panggul
H I      : bidang hodge yang sudah dibentuk pada lingkaran PAP dengan
bagian    atas simfisis dan promontorium
H II     : sejajar dengan hodge I, setinggi bagian bawah simfisis
H III    : sejajar hodge I, II, setinggi spina ischiadica kiri dan kanan
H IV    : sejajar bidang hodge I,II,III setinggi os coccigeus  

2) Kala II
Persalinan kala II dimilai ketika pembukaan lengkap dan
berakhir dengan lahirnya seluruh janin
Tanda dan gejala :
 Ibu ingin meneran
 Perineum menonjol
 Vulva dan anus membuka
 Meningkatnya pengeluaran darah dan lendir
 Kepala telah turun didasar panggul
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2-
3 menit sekali, kepala janin biasanya sudah masuk diruang panggul,
maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang
secara reflektoris menimbulkan  rasa meneran. Pada primigravida
kala II berlangsung rata-rata 45 –60 menit, dan multipara 15-30 menit.
3) Kala III (kala uri)
a. Persalinan kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir
dengan lahirnya plasenta.
b. Kontraksi dengan amplitudo sama dengan kala I dan II
c. Terjadi penciutan permukaan kavum uteri (tempat implantasi
plasenta)
Pelepasan plasenta
a.      Menurut Matthew Duncan           : dimulai dari pinggir plasenta
(margina)
b.      Menurut Schutze                           : dimulai dari tengah
c. Kombinasi keduanya
Cara Menguji
a. Perasat Kustner
Tangan kanan : tali pusat, tangan kiri → fundus uteri taki pusat
masuk kembali → belum lepas, tetap/tidak masuk → lepas
b.      Perasat Klein
Ibu dimnta mengedan → tali pusat turun kebawah, berhenti
mengedan → tali pusat tetap → lepas tali pusat mesuk kembali
→ belum lepas
c.      Peerasat Strassinan
Tangan kanan → menarik sedikit tali pusat tangan kiri →
mengetok-ngetok fundus uteri terasa getaran : belum lepas

Tanda pelepasan plasenta


a. Perubahan entuk uterus dan TFU
Setelah bayi dilahirkan dan sebelum meomitrium menyesuaikan
dengan perubahan ukuran rongga uterus, uterus berada dalam
bentuk diskoid dan TFU berada dibawah umbilikus.
Setalah uterus berkontraksi dan plasenta didorong kebawah,
bentuk uterus menjadi globular dan TFU menjadi diatas pusat
( sering kali mengarah kesisi kanan ). Biasanya plasenta lepas
dalam 15 – 30 menit, dapat ditunggu sampai 1 jam.
b.      Tali pusat memanjang
Semburan darah yamg tiba – tiba yang diikuti dengan
memanjangnya tali pusat keluar vagina menandakan kelepasan
plasenta dari dinding uterus.
c.       Semburan darah tiba – tiba
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu
mendorong plasenta keluar bersama bantuan dari gravitasi.
Semburan darah yang tiba – tiba menandakan bahwa kantung
yang terjadi retroplasenta telah robek ketika plasenta memisah.
Hal-Hal yang perlu diperhatikan
a) Perdarahan
b) Kelengkapan plasenta
c) Ada tidaknya plasenta suksenturiata
d) Kontraksi rahim, lakukan massage ringan pada korpus uteri
e) Pengosongan kandung kemih >> mencegah atonia uteri
f) Pemberian uterotunika bila perlu
g) Observasi ruptur perineium atau luka episiotomi yang ada >>
hecting
Tertinggalnya sebagian jaringan plasenta
a) Perdarahan peurperium berkepanjangan
b) Bahaya infeksi
c) Polip plasenta
d) Degenerasi gana >> kuriokarsinoma
4) Kala IV
Kala IV adalah kala pemulihan masa yang kritis ibu dan anaknya,
bukan hanya proses pemulihan secara fisisk setelah melahirkan tetapi
juga mengawali hubungan yang baru selama satu sampai dua
jam.  Pada kala IV ibu masih membutuhkan pengawasan yang
intensive karena perdarahan dapat terjadi, misalnya karena atonia
uteri, robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah
perdarahan normal adalah 100 – 300 cc, bila perdarahan diatas 500
cc maka dianggap patologi. Perlu diingat ibu tidak boleh ditinggalkan
sendiri dan belum boleh dipindahkan ke kamarnya.
Hal – hal yang harus diperhatikan
a) Kontraksi uterus harus baik
b) Tidak ada perdarahan pervagina atau alat genetalia lain
c) Plasenta dan selaput ketuban harus telah lahir lengkap
d) Kandung kemih harus kosong
e) Luka perineum terawat baik, tidak ada hematoma
f) Bayi dalam keadaan baik
g) Ibu dalam keadaan baik

E. KOMPLIKASI
1). Perdarahan masa nifas
Perdarahan postpartum atau pendarahan pasca persalinan adalah
perdarahan dengan jumlah lebih dari 500 ml setelah bayi lahir. Ada
dua jenis menurut waktunya, yaitu perdarahan dalam 24 jam pertama
setelah melahirkan dan perdarahan nifas. Perdarahan post partum
dalam 24 jam pertama biasanya masih berada dalam pengawasan
ketat dokter. Dalam dua jam pertama, kondisi terus dipantau, salah
satunya untuk mengetahui apakah terdapat perdarahan post partum.
Sementara itu, perdarahan masa nifas dapat terjadi ketika sudah tidak
berada di rumah sakit lagi. Oleh karena itu harus waspada terhadap
kemungkinan terjadinya perdarahan post partum.
2). Infeksi paska persalinan (post partum)
Infeksi post partum adalah infeksi yang terjadi setelah ibu
melahirkan. Keadaan ini ditandai oleh peningkatan suhu tubuh, yang
dilakukan pada dua kali pemeriksaan, selang waktu enam jam dalam
24 jam pertama setelah persalinan. Jika suhu tubuh mencapai 38
derajat celcius dan tidak ditemukan penyebab lainnya (misalnya
bronhitis), maka dikatakan bahwa telah terjadi infeksi post partum.
Infeksi yang secara langsung berhubungan dengan proses persalinan
adalah infeksi pada rahim, daerah sekitar rahim, atau vagina. Infeksi
ginjal juga terjadi segera setelah persalinan.
3). Ruptur uteri
Secara sederhana ruptur uteri adalah robekan pada rahim atau
rahim tidak utuh. Terdapat keadaan yang meningkatkan kejadian
ruptur uteri, misalnya ibu yang mengalami operasi caesar pada
kehamilan sebelumnya. Selain itu, kehamilan dengan janin yang terlalu
besar, kehamilan dengan peregangan rahim yang berlebihan, seperti
pada kehamilan kembar, dapat pula menyebabkan rahim sangat
teregang dan menipis sehingga robek
4). Trauma perineum
Parineum adalah otot, kulit, dan jaringan yang ada diantara
kelamin dan anus. Trauma perineum adalah luka pada perineum
sering terjadi saat proses persalinan. Hal ini karena desakan kepala
atau bagian tubuh janin secara tiba-tiba, sehingga kulit dan jaringan
perineum robek

F. PATHWAY (terlampir)

G. ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
1) Aktifitas dan istirahat
 Tekanan darah lebih rendah dari pada normal pada 8-12 minggu
pertama. Kembali pada tingkat normal pada separuh waktu kehamilan
akhir
 Denyut nadi meningkat 10-15x/menit
 Mur-mur sistolik pendek dapat terjadi sehubungan dengan
peningkatan volume darah
 Varises pada ekstremitas bawah dan edema terutama pada trimester
III
 Episode sinkope
2) Integritas Ego
 Menunjukkan perubahan persepsi diri
 Body image rendah
3) Eliminasi
 Perubahan pada konsistensi dan frekuensi defekasi
 Peningkatan frekuensi berkemih
 Peningkatan berat jenis urin
 Timbulnya hemoroid
4) Makanan dan Cairan
 Mual, muntah terutama pada trimester I, nyeri uluh hati sering terjadi
 Peningkatan berat badan 2-4 Kg pada trimester I, 11-12 Kg pada
trimester II &III
 Membran mukosa kering, hipertropi jaringan, gusi mudah terjadi
perdarahan
 Hb dan Ht rendah, mungkin di temui anemia fisiologis
 Glukus dan edema

5) Nyeri dan Ketidaknyamanan


 Kram kaki
 Nyeri tekan dan bengkak pada payudara
 Kontraksi brakson hicks setelah 28 minggu
 Nyeri punggung
6) Pernafasan
 Mukosa nampak lebih merah dari biasanya
 Frekwensi pernafasan dapat meningkat relatif terhadap ukuran / tinggi
uterus
 Pernafasan thorakal
7) Keamanan
 Suhu tubuh 36 – 37ºC
 DJJ terdengar pada usia kehamilan 17 –20 minggu
 Gerakan janin terasa pada usia kehamilan 20 minggu
 Quickening pada usia kehamilan 16 – 20 minggu
 Ballotement ada pada bulan ke 4 dan ke 5
8) Sexualitas
 Berhentinya menstruasi
 Perubahan respon / aktifitas seksual
 Leukhorea
 Peningkatan secara progresif ukuran uterus
 Payudara membesar, hiperpigmentasi pada areola
 Perubahan pigmentasi kloasma, lineanigra, palmaleritema,
spindernevi, strie gravidarum
 Tanda-tanda hegar, chadwick positif
9) Interaksi sosial
 Bingung atau meragukan perubahan peran yang diantisipasi
 Tahap maturasi / perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan
stressor kehamilan
 Respon anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan
mendukung sampai disfungsional
10)  Penyuluhan/ Pembelajaran
Harapan individu terhadap kehamilan persalinan, melahirkan tergantung
pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman, paritas, keinginan terhadap
anak, dan keadaan ekonomi
11)  Pemeriksaan Diagnostik
 Darah : Hb, golongan darah, skrening HIV, hepatitis
 Skrening untuk TBC paru, tuberubela
 Tes serum HSG
II. ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : Peningkatan kontraksi Gangguan rasa
Klien mengatakan ↓ nyaman
adanya dorongan Adanya dorongan meneran
meneran ↓
DO : Dilatasi sreviks
Kontraksi uterus ↓
Persalinan Janin menekan perineum
memanjang ↓
Menekan organ pencernaan
bagian bawah dan uretra
DS : Kehamilan pertama Risiko cedera janin
Klien tidak ↓
merasakan adanya Perubahan fisiologis dan
his psikologis kehamilan
DO : ↓
Kontraksi uterus Kelainan his
lemah ↓
Persalinan Tidak ada his
memanjang ↓
Persalinan memanjang
DS : Kehamilan pertama Risiko tinggi cedera
Klien tidak ↓ maternal
merasakan adanya Perubahan fisiologis dan
his psikologis kehamilan
DO : ↓
Kontraksi uterus Kelainan his
lemah ↓
Persalinan Tidak ada his
memanjang ↓
Persalinan memanjang

III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1 Gangguan rasa Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji derajat ketidak nyamanan
nyaman nyeri keperawatan selama 1 x 3 jam malalui isyarat verbal dan non
berhubungan pasien dapat beradaptasi terhadap verbal.
dengan nyeri dengan KH : 2. Jelaskan penyebab nyeri.
peningkatan 1. Tampak rileks diantara kontraksi 3. Ajarkan klien cara mengontrol
frekuensi dan 2. Dapat mengontrol penyebab nyeri dengan menggunakan
intensitas kontraksi nyeri tehnik pernapasan / relaksasi
uterus. - yang tepat dan masase
pinggang.
4. Bantu tindakan kenyamanan,
misalnya: gosokan pada kaki,
punggung, tekanan sakral,
perubahan posisi.
5. Anjurkan klien untuk berkemih
setiap 1-2 jam, palpasi diatas
simpisis untuk menentukan ada
tidaknya distensi setelah blok
syaraf.
6. Hitung waktu dan catat
frekuensi, intensitas dan pola
kontraksi uterus setiap 30
menit.
7. Monitor vital signs.
2 Resiko cedera Setelah dilakukan tindakan 2. Lakukan palpasi (leopold) untuk
terhadap janin keperawatan kurang lebih selama 1 x menentukan posisi janin,
behubungan 3 jam tidak terjadi cedera pada janin berbaring dan presentasi.
dengan hipoksia dengan KH : 3. Hitung DJJ dan perhatikan
jaringan. 1. DJJ dalam batas normal perubahan periodik pada
respon terhadap kontraksi
uterus.
4. Catat kemajuan persalinan.

3 Resti cedera Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau aktivitas uterus, catat


terhadap maternal keperawatan kurang lebih 1 x 2 jam frekuensi, durasi dan intensitas
berhubungan tidak terjadi cedera pada maternal kontraksi.
dengan dengan KH : 2. Lakukan tirah baring saat
perlambatan 1. Klien mengatakan resiko dan persalinan menjadi lebih
mortilitas gastric, alasan dan intervensi khusus intensif. Hindari meninggalkan
dorongan fisiologis. sudah dimengerti. klien tanpa perhatian.
2. Klien kooperatif untuk 3. Tempatkan klien pada posisi
melindungi diri sendiri / janin agak tegak miring kiri.
dari cedera. 4. Berikan perawatan perineal
3. Klien bebas dari cedera / setiap 4 jam.
komplikasi. 5. Pantau suhu dan nadi.
6. Berikan es batu atau cairan
jernih pada klien bila
memungkinkan, hindari
makanan padat.
7. Anjurkan klien untuk bernafas
pendek dan cepat atau meniup
bila ada dorongan untuk
mengejan.
POST NATAL CARE

A. Defenisi Post Partum


Post partum atau puerpurium (masa nifas) adalah masa penyesuaian fisik
dan fisiologis tubuh kembali mendekati sebelum hamil. Masa puerpurium
atau masa nifas dimulai setelah selesainya partus dan berakhir setelah kira-
kira 6 minggu atau 40 hari, pada periode ini tubuh terus mengalami
perubahan dan pemulihan kembali ke keadaan sebelum hamil.

Periode dibagi menjadi 3 periode yaitu :

1. Immediately Post Partum : 4 jam pertama


2. Early Post Partum : minggu pertama
3. Late Post Partum : minggu kedua sampai dengan minggu
keenam
Nifas juga dibagi dalam 3 periode yaitu :

1. Puerpurium dini
Kepulihan dimana telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam
agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2. Puerpurium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6 – 8 minggu

3. Remote Puerpurium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
selama hamil atau waktu peralihan mempunyai komplikasi waktu untuk
sehat sempurna bila berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

B. Tujuan
1. Memantau adaptasi fisiologis dan psikologis
2. Meningkatkan pemulihan fungsi tubuh
3. Meningkatkan istirahat dan kenyamanan
4. Meningkatkan hubungan orang tua dan bayi
5. Meningkatkan peluang merawat bayi
6. Teaching self care dan bayi.
Dalam masa nifas alat-alat genitalia interna maupum eksterna akan
berangsur -angsur pulih kembali. Perubahan-perubahan alat genitalia ini
dalam keseluruhannya disebut Involusi. Disamping involusi ini juga terjadi
perubahan-perubahan lainnya yakni hemokonsentrasi dan proses laktasi.

C. Involusi
Setelah bayi dihirkan kemudian placenta uterus menjadi keras karena
kontraksi dan relaksasi otot-ototnya.

1. Tinggi funsus uteri


Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uteri

Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram


750 gram
Placenta lahir 2 jari dibawah pusat
Pertengahan pusat 500 gram
1 minggu
simpisis
350 gram
2 minggu
Tidak teraba diatas
simpisis
50 gram
6 minggu Bertambah kecil
80 gram
8 minggu Sebesar normal

Uteri menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang


lebih kurang 15 cm, lebar lebih kurang 12 cm, dan tebal lebih kurang 10
cm, dinding uterus lebih kurang 5 cm. Bekas inplantasi placenta
merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol kedalam cavum uteri
segera setelah pesalinan, penonjolan tersebut diameternya  7,5 cm
setelah 2 minggu diameter 3,5 cm dan pada 6 minggu mencapai 2,4 mm.

Pada keadaan normal berat uterus lebih kurang 30 gram,


perubahan ini berhubungan erat dengan keadaan momentum yang
mengalami perubahan yang bersifat proteolisis. Otot-otot jelas
berkontraksi segera pada post partum, pembuluh-pembuluh darah yang
berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir.

2. Serviks
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks adalah segera
postpartum bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ni
disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah dan pada
perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin.

Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh


darah, konsistensinya lunak.

 Setelah janin lahir : dapat dimasukkan tangan pemeriksa


 Setelah 2 jam postpartum : 2 – 3 jari pemeriksa
 Setelah 1 minggu : 1 jari pemeriksa
Pada saat post partum pinggir ostium eksternum tidak rata tapi
retak-retak karena robekan pada saat persalinan. Pada akhir minggu
pertama lingkaran retraksi berhubungan bagian atas dari canalis
servikalis, oleh karena hyperplasia dan retraksi serviks, robekan serviks
menjadi sembuh, tapi masih terdapat retakan pada pinggir ostium
eksternum. Vagina pada minggu ke-3 post partum mulai kembali normal.

3. Endometrium
Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya
trombosis, degenerasi dan nekrosis terutama ditempat implantasi
placenta.

 Pada hari I tebalnya 2 – 5 mm, pemukaan kasar akibat pelepasan


desidua dan selaput janin.
 Setelah 3 hari permukaan mulai rata akibat lepasnya sel-sel dan
bagian yang mengalami degenerasi sebagian besar endometrium
terlepas.
 Regenerasi endometrium terjadi dan sisa-sisa sel desidua basalis
yang memakan waktu 2 – 3 minggu, jaringan-jaringan di tempat
implantasi placenta mengalami proses yang sama ialah degenerasi
dan kemudian terlepas. Pelepasan jaringan berdegenerasi ini
berlangsung lengkap. Dengan demikian tidak ada pembentukan
jaringan parut pada bekas impalntasi placenta.
4. Ligamentum-ligamentum, diafragma pelvis, fascia berangsur-angsur
Cepat kembali seperti semula.
Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendur mengakibatkan uterus
jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh ‘ kandungannya
turun’, setelah melahirkan oleh karena ligamentum fascia jaringan
penunjang alat desidua tersebut juga otot-otot dinding perut dengan
dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu. Pada
hari ke-2 post partum setelah dapat diberikan fisioterapi.

5. Luka-luka jalan lahir


Luka-luka jalan lahir seperti episiotomi yang telah dijahit, luka pada
vagina dan serviks umumnya bila tidak seberapa luas akan sembuh
permanent, kecuali bila terdapat infeksi, infeksi mungkin mengakibatkan
salulitis yang dapat menjalar ke sentral terjadi keadaan sepsis.

D. Hemokonsentrasi
Pada masa hamil didapat hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt
antara sirkulasi ibu dan plasenta, setelah melahirkan, shunt akan hilang
dengan tiba-tiba. Volume darah pada ibu relative akan bertambah, keadaan
ini menimbulkan beban pada jantung, sehingga dapat menimbulkan
dekompensasi kordis pada penderita vitium kordis, keadaan ini dapat diatasi
dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi
sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Hal ini terjadi pada hari-
hari ke-3 sampai 15 hari post partum.

E. Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada
kelenjar-kelenjar mamma untuk menghadapi laktasi ini, perubahan yang
terdapat pada kedua mammae antara lain sebagai berikut.

1. Proliferasi jaringan terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mammae dan


lemak.
2. Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat
dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum).
3. Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam
mammae, pembuluh vena berdilatasi dan tampak dengan jelas.
4. Setelah partus, permukaan menekan estrogen dan progesterone
terhadap hipofisis hilang, timbul pengaruh hormone-hormon hipofisis
kembali, antara lain laktogenik hormone (prolaktin) yang akan
mengakibatkan kelenjar-kelenjar terisi air susu pengaruh hormone
oksitosin mengakibatkan miophthelium kelenjar-kelenjar susu
berkontraksi sehingga terjadi pengeluaran susu.
Umumnya produksi air susu baru berlangsung benar pada hari ke-
2 sampai ke-3 post partum. Pada hari-hari pertama air susu mengandung
kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental daripada air susu,
mengandung banyak protein, albumin dan globulin dan benda-benda
kolostrum dengan diameter 0,001 – 0,025 mm. Karena mengandung
banyak protein dan mudah dicerna maka sebaiknya kolostrum jangan
dibuang. Selain pengaruh hormonal tersebut, salah satu rangsangan
terbaik untuk mengeluarkan air susu adalah dengan menyusui bagi ibu
sendiri.

Kadar prolaktin akan meningkat dengan perangsangan fisik pada


putting mammae sendiri dan gonadotropin menurun pada laktasi, tetapi
meningkat lagi pada waktu frekuensi menetekkan.

Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke atas,


mengakibatkan oksitosin dihasilkan sehingga air susu dapat dikeluarkan
dan pula, sebagai efek sampingan.

Memperbaiki involusi uterus. Keuntungan lain menyusui bayi


sendiri ialah akan menjelmanya rasa kasih saying sehingga bertumbuh
suatu pertalian yang intim antara ibu dan anak. Air susu ibu (ASI)
mempunyai sidat melindungi bayi terhadap infeksi seperti gastroenteritis,
radang jalan pernapasan dan paru-paru, ototos media. Sambungan air
susu ibu mengandung lactoferin, lysozyme, dan immuno globulin A.

F. Perubahan lain Saat Nifas


1. After pain atau mules-mules sesudah partus akibat kontraksi uterus,
kadang-kadang sangat menganggu selama 2 -3 hari post partum,
perasaan mules ini lebih terasa bila wanita tersebut sedang menyusui,
perasaan sakit ibu pun timbul bila masih terdapat sisa-sisa dan selaput
ketuban, sisa placenta atau gumpalan darah di dalam kavum uteri.
2. Vital Sign
 Suhu
a. Saat partus lebih 37,2 C
b. Sesudah partus naik 0,5 C
c. 12 jari pertama suhu kembali normal
d. suhu lebih 38 C mungkin ada infeksi.
 Nadi
a. 60 – 80 kali/menit
b. segera setelah partus bradikardi.
 Tekanan darah
Tekanan darah meningkat karena upaya persalinan dan keletihan,
hal ini akan normal kembali dalam waktu 1 jam.

3. Pengeluaran per vaginam


Lokhea adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina
dalam masa nifas.

 Hari 1 – 3 : lokhea rubra


Terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, sisa-sisa verniks kaseosa, lanugo dan mekonium. Dalam
keadaan abnormal ; bekuan banyak, bau agak busuk, mengganti
pembalut terus menerus.

 Hari 3 – 7 : lokhea sanguinolenta


Berwarna merah kuning, berisi darah dan lender.

 Hari 7 – 14 : lokhea serosa


Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi.

 Setelah 2 minggu : lokhea alba


Cairan putih, bau agak sedikit amis.

Keadaan abnormal dari pengeluaran lokhea yaitu :

 Perdarahan berkepanjangan
 Pengeluaran lokhea tertahan (lokheastatis)
 Lokhea purulenta, berisi nanah, dan berbau busuk
 Rasa nyeri yang berlebihan
 Dengan memperhatikan bentuk perubahan, dapat diduga
 Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan
 Terjadi infeksi intrauteri.
4. Vital sign setelah kelahiran anak
 Temperature
Selama 24 jam pertama mungkin kenaikan menjadi 38 C (100,4F)
disebabkan oleh efek dehidrasi dari persalinan, kerja otot yang
berlebihan selama kala II dan fluktuasi hormone. Setelah 24 jam
wanita keluara dari febris.

 Nadi
Nadi panjang dengan stroke volume dan cardiac output, sisa
kenaikan pada jam pertama atau demikian setelah melahirkan anak.
Kemudian mulai berkurang rata-rata yang tidak diketahui. Dalam 8
sampai 10 minggu setelah kelahiran anak, harus turun ke rata-rata
sebelum hamil.

 Pernapasan
Pernapasan akan jauh ke dalam keadaan normal wanita sebelum
persalinan.

 Tekanan darah
Tekanan darah berubah rendah semua. Atosiatik hipotensi adalah
indikasi merasa pusing atau pusing tiba-tiba setelah bangun, dapat
terjadi 48 jam pertama dihasilkan oleh spraichnic engorgement yang
mungkin terjadi setelah persalinan.

Penyimpangan dan Kondisi Normal dan Penyebab Masalah :

 Diagnosis sepsis puepuralis adalah jika kenaikan pada maternal suhu


mancepai 38C (100,4F) catatan setelah 24 jam pertama setelah
kelahiran anak dan berulang-ulang atau berlangsung dalam 2 hari.
Kemungkinan lain adalah mastitis endometritis, infeksi traktus urinarius
dan infeksi sitemik lainnya, milk fever.
 Kecepatan rata-rata nadi atau satu yang bertambah mungkin indikasi
hipovolemik akibat perdarahan.
 Hipoventilasi mungkin mengikuti keadaan luar biasa tingginya sub
arakhnoid (spiral) block.
 Tekanan darah rendah mungkin refleks dan hipovolemik sekunder dan
perdarahan kenaikan menunjukkan bahwa kemungkinannya disebabkan
terlalu banyak menggunakan vasopressor atau medikasi oksitosin.
System Kardiovaskular

 Volume darah
Perubahan dalam volume darah tergantung beberapa factor
sebagai contoh kehilangan darah selama melahirkan anak, mobilisasi dan
ekskresi air ekstra vaskuler ( fisiologi edema).

Kehamilan menyebabkan hipovolume (bertambahnya paling


sedikit 40% lebih dari nilai keadaan sebelum hamil mendekati aterm).
Memenuhi lebih toleransi kehilangan darah selama kehilangan anak.

Wanita kehilangan 500 – 400 cc darah selama persalinan


pervaginam pada janin tunggal dan kira-kira dua kali selama persalinan
cesarean. Respon wanita pada kehilangan darah selama awal
puerpurium berbeda dan wanita yang tidak hamil.

o Eliminasi simulasi uteroplasenta mengurangi ukuran dasar


vaskularisasi maternal 10% sampai 15%.
o Kehilangan fungsi endokrin placenta melepaskan stimulus untuk
vasodilatasi.
o Mobilisasi air ekstra vaskuler disimpan selam terjadi kehamilan syok
hipovolemik kadang-kadang tidak terjadi dengan normalnya
kehilangan darah.
 Cardiac output
Rata-rata nadi, stroke volumedan cardiac output meningkat seluruhnya
pada kehamilan secara tiba-tiba setelah persalinantetap meningkat
mengalir terus ke utero placenta dan berkencing kemudian kembali
kesirkulasi umum.

Nilai kenaikan tanpa memperhatikan tipe persalinan atau menggunakan


konduksi anastesi.

 Neurologi
Berubah selama puerperium diakibatkan reaksi kebalikan dan adaptasi
maternal ke kehamilan dan diakibatkan selama kehamilan dan
melahirkan. Sakit kepala saat postpartum mungkin disebabkan kondisi
yang bermacam-macam termasuk kehamilan dengan Hipertensi (PIH),
stress dan keluarnya cairan cerebrospinal kedalam ekstra dural selamam
penempatan jarum dari epidural atau anestesi spiral.

Sistem Muskuloskeletal

Adaptaasi system musculoskeletal ibu yang terjadi selama kehamilan


merupakan kebalikan pada puerperium, adaptasi termasuk relaksasi dan
hipermobilisasi dan tulang-tulang dan perubahan pusat gravitasi pada ibu
disebabkan membesarnya uterus, stabilisasi tulang-tulang komplet 6-8
minggu setelah kelahiran.

Sistem Integument

Cloasma pada kehamilan kadang-kadang menghilang pada akhir


kehamilan. Hiperpigmentasi pada aerola dan linea nigra mungkin tidak
susut hilang secara sempurna setelah kelahiran bagian daripada dada,
abdomen, pinggul dan paha mungkin menghilang tetapi kadang-kadang
tidak hilang. Tidak normalnya vascular seperti spider angiomas (revi),
palmar interna dan regresi epulis umum dalam respon terhadap aliran
yang deras menurun.

After Pains

After pains adalah rasa sakit yang mencengkeram (kram) pada abdomen
bagioan bawah, yang sering dijumpai pada hari ke-7 hingga ke-10 post
natal. Gejala ini paling sering ditemukan pada multipara karena uterus
yang teregang, penuh dua kali lipat cenderung lebih kendor daripada
uterus primipara dan demikian harus berkontraksi lebih kuat untuk
menghasilak involusi.

Gejala ini biasa terjadi ketika ibu sedang menyusui bayinya. Karena
pengisapan putting menimbulkan pelepasan oksitosin yang membuat
uterus kontraksi. Kontraksi postnatal yang terjadi ketika menyusui adalah
cara alami untuk mencegah pendarahan post natal. Pemberian obat-
obatan analgesic seperti kodein atau parasetamol sekitar 1 jam sebelum
jam menyusui tiba akan mengurangi rasa sakit pada serangan afterpains
tersebut.
G. Perawatan Post Partum
1. Mobilisasi
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan. Ibu harus istirahat ,
tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan kemudian boleh miring-
miring kekiri dan kekanan untuk mencegah adanya trombosis dan
tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk dan latihan-latihan
senam, hari ke-3 jalan-jalan, hari ke-4 atau 5 boleh dipulangkan.
Mobolisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi
persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.

2. Diet
Makanan harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya
makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-
sayuran dan buah-buahan.

3. Miksi
Berkemih harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Kadang-kadang
wanita mengalami sulit kencing karena sfingter uretra ditekan oleh kepala
janin dan spasme oleh iritasi m.sphincter ani selama persalinan, juga oleh
karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan.
Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing sebaiknya dilakukan
kateterisasi.

4. Defekasi
Dorong air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih
sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak merah dapat
diberikan obat laksans per oral atau per rectal. Bila masih belum bisa
dilakukan klisma.

5. Perawatan
Mammae
Kedua mammae harus sudah dirawat selama kehamilan, areolam
mammae dan putting susu dicuci teratur dengan sabun dan diberi minyak
atau cream, agar tetap lemas, jangan sampai mudah lecet atau pecah-
pecah sebelum menyusui mamae harus dibuat lemas dengan melakukan
massage secara menyeluruh. Setelah areola mammae dan putting susu
dibersihkan, barulah bayi dususui, bila bayi meninggal, laktasi harus
dihentikan dengan cara :

 Pembalutan mammae sampai tertekan


 Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan
periodel, etomocryptin sehingga pengeluaran LH berlebihan.
H. Pemeriksaan Post Natal
Ada kebiasaan atau kepercayaan bahwa wanita bersalin baru boleh
keluar rumah setelah habis nifas yaitu 40 hari. Bagi wanita dengan
persalinan normal ini baik dan dilakukan pemeriksaan kembali 6 minggu
setelah persalinan normal bagi wanita dengan persalinan luar biasa harus
kembali untuk control seminggu kemudian.

Pemeriksaan post natal antara lain meliputi :

a. Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan dan sebagainya.


b. Keadaan umum : suhu badan, selera makan, dan lain-lain.
c. Payudara : ASI dan putting susu.
d. Dinding perut apakah ada hernia
e. Keadaan perineum
f. Kandung kemih, apakah ada sistokel dan uretrokel.
g. Rectum, apakah ada rektrokel dan pemeriksaan tonus muskulus spingter
ani.
h. Adanya flour albus
i. Keadaan serviks, uterus dan adneksa.
Nasehat untuk ibu post natal :

a. Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan


b. Sebaiknya bayi disusui
c. Kerjakan gymnastic (senam nifas)
d. Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk
menjarangkan anak.
e. Bawalah bayi anda untuk memperoleh informasi.
I. Adaptasi Psikososial Pada Postpartum
Fase-fase transisi :

 Fase antisipasi kehamilan


Fase antisipasi menjadi orang tua, membuat keputusan dan harapan
membagi pekerjaaan dalam keluarga.

 Fase bulan madu (periode post partum)


Kontak lebih lama dan rutin, menggali keadaan anggota keluarga yang
baru

Menurut Rubin, fase adaptasi ibu :

1. Taking In
 Dependent, kelelahan
 Pasif
 Focus pada diri sendiri
 Perlu tidur dan makan
Taking in ini timbul pada jam pertama kelahiran sampai 1-2 hari

2. Taking Hold
 Dependent
 Independence
 Focus melibatkan bayi
 Melakukan perawatan diri sendiri
 Waktu yang baik untuk penyuluhan
 Dapat menerima tanggung jawab
3. Letting Go
 Independent pada pecan yang baru
 Letting go terganti pada hari-hari terakhir pada minggu pertama
persalinan.

J. PATHWAY (terlampir)

K. ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
Pengkajian pada ibu post partum menurut Doenges, 2001 adalah
sebagai berikut :
 Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
 Bagaimana keadaan ibu saat ini ?
 Bagaimana perasaa ibu setelah melahirkan ?
2. Pola nutrisi dan metabolik
 Apakah klien merasa kehausan setelah melahirkan ?
 Apakah klien merasa lapar setelah melahirkan ?
 Apakah klien kehilangan nafsu makan atau merasa mual ?
 Apakah ibu mengalami penurunan BB setelah melahirkan ?
3. Pola aktivitas setelah melahirkan
 Apakah ibu tampak kelelahan atau keletihan ?
 Apakah ibu toleransi terhadap aktivitas sedang atau ringan ?
 Apakah ibu tampak mengantuk ?
4. Pola eliminasi
 Apakah ada diuresis setelah persalinan ?
 Adakan nyeri dalam BAB pasca persalinan ?
5. Neuro sensori
 Apakah ibu merasa tidak nyaman ?
 Apakah ibu merasa nyeri di bagian tubuh tertentunya ?
 Bagaimana nyeri yang ibu raskan ?
 Kaji melalui pengkajian P, Q, R, S, T ?
 Apakah nyerinya menggangu aktivitas dan istirahatnya ?
6. Pola persepsi dan konsep diri
 Bagaimana pandangan ibu terhadap dirinya saat ini
 Adakah permasalahan yang berhubungan dengan perubahan
penampilan tubuhnya saat ini ?
7. Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum
- Pemeriksaan TTV
- Pengkajian tanda-tanda anemia
- Pengkajian tanda-tanda edema atau tromboflebitis
- Pemeriksaan reflek
- Kaji adanya varises
- Kaji CVAT ( cortical vertebra area tenderness )
 Payudara
- Pengkajian daerah areola ( pecah, pendek, rata )
- Kaji adanya abses
- Kaji adanya nyeri tekan
- Observasi adanya pembengkakanatau ASI terhenti
- Kaji pengeluaran ASI
 Abdomen atau uterus
- Observasi posisi uterus atau tiggi fundus uteri
- Kaji adnanya kontraksi uterus
- Observasi ukuran kandung kemih
 Vulva atau perineum
- Observasi pengeluaran lokhea
- Observasi penjahitan lacerasi atau luka episiotomi
- Kaji adanya pembengkakan
- Kaji adnya luka
- Kaji adanya hemoroid

8. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan darah
Beberapa uji laboratorium biasa segera dilakukan pada
periodepasca partum. Nilai hemoglobin dan hematokrit seringkali
dibutuhkan pada hari pertama pada partumuntuk mengkaji
kehilangan darah pada melahirkan.
 Pemeriksaan urin
Pegambilan sampel urin dilakukan dengan menggunakan cateter
atau dengan tehnik pengambilan bersih (clean-cath) spisimen ini
dikirim ke laboratorium untuk dilakukan urinalisis rutin atau kultur
dan sensitivitas terutama jika cateter indwelling di pakai selama
pasca inpartum. Selain itu catatan prenatal ibu harus di kaji untuk
menentukan status rubelle dan rhesus dan kebutuhan therapy
yang mungkin (Bobak, 2004).

II. ANALISA DATA


DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : Proses persalinan Kekurangan volume
Klien mengatakan ↓ cairan
badan terasa lemah Penggunaan energy dan
dan lelah kekuatan mengedan yang
DO : berlebihan
Klien tampak lelah, ↓
bibir klien kering, Perdarahan
terjadi perdarahan ↓
post partum Kekurangan volume cairan
DS : Proses involusi dan luka Nyeri Akut
Klien mengatakan epiostomy
merasa tidak nyaman ↓
di daerah perut dan Uterus berkontraksi, luka jahitan
genetalia ↓
DO : Nyeri tajam saat bergerak
TFU 1 jari di bawah ↓
pusat, ekspresi Nyeri Akut
wajah meringis,
lochia warna merah
tua
DS : Kehamilan trimester ketiga Resiko Infeksi
Ibu mengatakan ↓
terdapat luka di Mendekati persalinan
kemaluannya dan ↓
rasanya sakit Cemas menghadapi proses
DO : persalinan
Terdapat jahitan luka ↓
epiostomy, luka Ansietas
tampak basah

III. RENCANA KEPERAWATAN


No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Kekurangan volume Setelah diberikan askep ibu 1. Ajarkan ibu agar massage sendiri
cairan diharapkan tidak kekurangan volume fundus uteri.
cairan dengan KE : 2. Pertahankan cairan peroral 1,5-2
1. Cairan masuk dan keluar Liter/hari
seimbang, 3. Observasi perubahan suhu, nadi,
2. Hb/Ht dalam batas normal (12,0- tensi.
16,0 gr/dL) 4. Periksa ulang kadar Hb/Ht.
2 Nyeri Akut Setelah diberikan asuhan 1. Kaji ulang skala nyeri
keperawatan diharapkan nyeri ibu 2. Anjurkan ibu agar
berkurang dengan criteria evaluasi : menggunakan teknik relaksasi
1. Skala nyeri 0-1 dan distraksi rasa nyeri

2. Ibu mengatakan nyerinya 3. Motivasi : untuk

berkurang sampai hilang mobilisasi sesuai indikasi


4. Berikan kompres
3. Tidak merasa nyeri saat mobilisasi
hangat
4. Tanda vital dalam batas normal .
5. Delegasi pemberian
5. S = 37 C . N = 80x/menit , TD =
analgetik
120/80 mmHG , R = 18 – 20 x /
menit
3 Resiko Infeksi Setelah diberikan askep diharapkan 1. Kaji lochea (warna, bau, jumlah)
infeksi pada ibu tidak terjadi dengan kontraksi uterus dan kondisi
KE : jahitan episiotomi.
1. Dapat mendemonstrasikan 2. Sarankan pada ibu agar
teknik untuk menurunkan mengganti pembalut tiap 4 jam.
resiko infeksi 3. Pantau tanda-tanda vital.
2. Tidak terdapat tanda-tanda 4. Lakukan rendam bokong.
infeksi. 5. Sarankan ibu membersihkan
perineal dari depan ke belakang.
NEONATAL CARE
A. Pengertian
 Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirrnya biasanya
dengan usia gestasi 38 – 42 minggu (Dona L. Wong, 2003).
 Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Depkes RI, 2005).
 Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir
langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat
(M. Sholeh Khosim, 2007).
 Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran
(Saifuddin, 2002).

B. Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir


Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
a. Sistem pernapasan
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
1) Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang
bercabnga dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur
percabangan bronkus proses ini terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun,
sampai jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun
janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III.
Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL
sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan
alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya
jumlah surfaktan
2) Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
 Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernafasan di otak.
 Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru
selama persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru -
paru secara mekanis. Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler
dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan
berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
 Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan
merangsang pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan
pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah
frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.
 Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
3) Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
 Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
 Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak
lesitin /sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi
surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat
sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi
surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan
membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps
pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat
akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan
kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa.
Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya
sudah terganggu.
4) Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi
melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas
keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan secar sectio sesaria
kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-
paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan
napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa
cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe
dan darah.
5) Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia,
pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi,
berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang
berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan,
yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas
dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan
merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.

b. Sistem peredaran darah


Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.Untuk
membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan
besar :
1) Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2) Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan
dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah
aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam sistem pembuluh darah :
 Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena
berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan
penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini
membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru
untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
 Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-
paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada
pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh
darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan
volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan
atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan
penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat
menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali
pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.

c. Pengaturan suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke
lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air
ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan suhu
tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini
merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak
coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai
100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa
guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak
coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini
akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia
kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.

d. Metabolisme glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi
harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi
baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1) Melalui penggunaan ASI
2) Melaui penggunaan cadangan glikogen
3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan
membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya terjadi jika bayi
mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang sehat akan menyimpan
glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam
rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan
hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran.
Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama
kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada
jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan
(prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan
pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena
simpanan energi berkurang (digunakan sebelum lahir).
Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas,meliputi; kejang-kejang
halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi,lunglai dan menolak makanan.
Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang
hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak.

e. Sistem gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek
gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lahir.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir
dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk bayi baru
lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat
bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering
oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.

f. Sistem kekebalan tubuh


Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan
neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang
akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri
dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut
beberapa contoh kekebalan alami:
1) perlindungan oleh kulit membran mukosa
2) fungsi saringan saluran napas
3) pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
4) perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang
membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah
ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan
memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan
pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan
terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak.
Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem
kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi
infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan
terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI
dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi
sangat penting.

C. Kriteria bayi normal


a. Masa gestasi cukup bulan: 37-40 minggu
b. Berat lahir 2500-4000 gram
c. Lahir tidak dalam keadaan asfiksia: (lahir menangis keras, nafas spontan dan
teratur, skor Apgar >7.
d. Tidak terdapat kelainan kongenital berat

D. Ciri-ciri Umum Bayi Baru Lahir Normal

a. Berat badan                     : 2500 – 4000 gram


b. Panjang badan                 : 48 – 52 cm
c. Lingkar kepala                 : 33 – 35 cm
d. Lingkar dada                   :  30 – 38 cm
e. Masa kehamilan               :  37 – 42 minggu
f. Denyut jantung                :  180x/mnt, turun 120x/mnt
g. Respirasi                          :  80x/mnt, turun 30 – 60 x/mnt
h. Kulit kemerahan licin
i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genitalia                         
Wanita :  Labya mayora sudah menutupi labya minora
Laki-laki :  Testis sudah turun
k. Refleks hisap dan menelan, refleks moro, graft refleks sudah baik
l. Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama
m. Suhu  :  36,5 – 37º C (Asuhan Bayi Baru Lahir, 2000).
E. Masa reaksi Bayi Baru Lahir Normal
a. Reaktif I
Terjadi 15 – 30 menit pertama sesudah lahir
 Bayi menggerakkan kepala
 Takikardi terjadi dalam 3 menit pertama
 Respirasi cepat, cuping hidung dan retraksi
 Suhu tubuh turun diikuti aktivitas, tonus otot meningkat
 Stimulasi para simpatis (bayi tidak menangis)
 Reaksi khas dan respon
b. Reaktif II
 Respirasi cepat, tonus cepat, warna kulit berubah
 Mucus oral menetap
 Bayi responsif terhadap sentuhan, denyut jantung stabil
 Pengeluaran mekonium
 Stabilitas vasomotor dan pernapasan ireguler (mulut, hidung)

F. Penanganan Bayi Baru Lahir


Menurut Prawirohardjo, (2002) tujuan utama perawatan bayi segera sesudah
lahir, adalah:
a. Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak
langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara
sebagai berikut :
 Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
 Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang
 Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang
dibungkus kasa steril.
 Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan
kain.

b. Memotong dan Merawat Tali Pusat


Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu
menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan.
Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat
dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru.
Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodin
10% serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan atau setiap
tali basah / kotor.
Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa talipusat telah diklem
dengan baik, untuk mencegah terjadinya perdarahan, membungkus ujung potongan
tali pusat adalah kerja tambahan.
c. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya
dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru
lahir harus dibungkus hangat.
d. Memberi Vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan, semua bayi baru lahir normal dan
cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi
resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg I.M
e. Memberi Obat Tetes / Salep Mata
Dibeberapa negara perawatan mata bayi baru lahir secara hukum diharuskan
untuk mencegah terjadinya oplitalmic neonatorum. Di daerah dimana prevalensi
gonorhoe tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam bayi
lahir. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual)
f. Identifikasi Bayi
g. Pemantauan Bayi Baru Lahir
Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi
normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang
memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut
petugas kesehatan.
2 jam pertama sesudah lahir meliputi :
 Kemampuan menghisap kuat atau lemah
 Bayi tampak aktif atau lunglai
 Bayi kemerahan atau biru

Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya. Penolong


persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah
kesehatan yang memerlukan tindak lanjut seperti :
 Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan
 Gangguan pernapasan
 Hipotermia
 Infeksi
 Catat bawaan dan trauma lahir

G. Reflek-reflek Untuk Menilai Keadaan Bayi


a. Reflek Moro
Reflek ini terjadi karena adanya reaksi miring terhadap rangsangan
mendadak. Refleksnya simetris dan terjadi pada 8 minggu pertama setelah lahir.
Tidak adanya refleks moro menandakan terjadinya kerusakan atau
ketidakmatangan otak.
b. Refleks Rooting / Refleks Dasar
Dalam memberikan reaksi terhadap belaian di pipi atau sisi mulut, bayi akan
menoleh ke arah sumber rangsangan dan membuka mulutnya siap untuk
menghisap.
c. Refleks Menyedot dan Menelan / Refleks Sucking
Berkembang dengan baik pada bayi normal dan dikoordinasikan dengan
pernafasan. Ini penting untuk pemberian makan yang aman dan gizi yang
memadai.
d. Refleks Mengedip dan Refleks Mata
Melindungi mata dari trauma.
e. Refleks Graphs / Plantar
Genggaman tangan diperoleh dengan menempatkan jari atau pensil di dalam
telapak tangan bayi yang akan menggenggam dengan erat. Reaksi yang sama
dapat ditunjukkan dengan membelai bagian bawah tumit (genggam telapak kaki).
f. Refleks Walking / Berjalan dan Melangkah
Jika disangga secara tegak dengan kaki menyentuh permukaan yang rata,
bayi akan terangsang untuk berjalan.
g. Refleks Tonik Neck
Pada posisi terlentang lengan disamping tubuh tempat kepala menoleh
kearah itu terulur sedangkan lengan sebelah terkulai.

h. Refleks Tarik
Jika didudukkan tegak, kepala bayi pada awalnya akan terkulai ke belakang
lalu bergerak ke kanan sesaat sebelum akhirnya tertunduk ke arah depan
(Asuhan Bayi Baru Lahir, 2000).

H. Tabel Penilaian Bayi Baru Lahir Normal


Sistem Penilaian APGAR
Tanda 0 1 2
A : Appearance colour (warna Biru atau Tubuh kemerahan, Seluruh tubuh
kulit) pucat ekstremitas biru kemerahan
   : Pulse (Heart Rate) Tidak ada Dibawah 100x/mnt Diatas 100x/mnt
frekuensi jantung
  : Grimace Tidak ada Sedikit gerakan Menangis, baik
    (reaksi terhadap mimik atau bersin
rangsangan)
  : Activity Lumpuh Ekstremitas dalam Gerakan aktif
    (Tonus otot) fleksi sedikit
   : Respiration Tidak ada Lemah, tidak Menangis kuat
    (usaha nafas) teratur

Penilaiannya :
 Asfiksia berat (nilai apgar 0 – 3)
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali
 Asfiksia ringan/ sedang ( nilai apgar 4 – 6 ).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas normal
kembali.
 Bayi normal (nilai apgar 7 – 10).
I. Penilaian Bayi Untuk Tanda-tanda Kegawatan
Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa
tanda-tanda berikut :
 Sesak nafas
 Frekuensi pernapasan 60x/mnt
 Gerak retraksi di dada
 Malas minum
 Panas atau suhu bayi rendah
 Kurang aktif
 Berat lahir rendah (1500 – 2500 gr) dengan kesulitan minum

Tanda-tanda bayi sakit berat


 Sulit minum
 Sianosis sentral (lidah biru)
 Perut kembung
 Periode Apnea
 Kejang / periode kejang-kejang kecil
 Merintih
 Perdarahan
 Sangat kuning
 Berat badan lahir < 1500 gr  (Prawirohardjo, 2002).
J. Phatway (terlampir)
K. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Pengkajian fisik
a) Pengukuran umum :
 Lingkar kepala 33-35 cm
 Lingkar dada 30,5-33 cm
 Lingkat kepala 2-3 cm > dari lingkar dada
 Panjang kepala ke tumit 48-53 cm
 BBL 2700-4000 gram
b) Tanda vital :
 Suhu 36,50C-370C (aksila),
 Frekwensi jantung 120-140 x/m (apical),
 Pernafasan 30-60x/m
c) Kulit :
 Saat lahir: merah terang, menggembung, halus
 Hari kedua-ketiga: merah muda, mengelupas, kering
 Vernik kaseosa
 Lanugo
 Edema sekitar mata, wajah, kaki, punggung tangan, telapak, dan skrotum
atau labia
d) Kepala
 Fontanel anterior: bentuk berlian, 2,5-4,0 cm
 Fontanel posterior:bentuk segitiga 0,5-1 cm
 Fontanel harus datar, lunak danpadat
 Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sututa
ke sutura.
e) Mata :
 Kelopak biasanya edema, mata tertutup
 Warna agak abu-abu, biru gelap, coklat
 Tidak ada air mata
 Ada refleks merah, reflek pupil (repon cahaya), refleks berkedip (respon
cahaya atau sentuhan)
 Fiksasi rudimenter pada obyek dan kemampuan mengikuti ke garis tengah
f) Telinga :
 Posisi puncak pinna berada pada garis horizontal bersama bagian luar
kantus mata
 Reflek moro atau refleks terkejut ditimbulkan oleh bunyi keras dan tiab-tiba
 Pina lentur adanya kartilago.
g) Hidung : patensi nasal, rabas nasal-mukus putih encer, bersin
h) Mulut dan tenggorok :
 Utuh, palatum arkus-tinggi, uvula di garis tengah, frenulum lidah, frenulum
bibir atas
 Reflek menghisap kuat dan terkoordinasi, reflek rooting
 Refleks gag, refleks ekstrusi
 Salivasi minimal atau tidak ada, menangis keras
i) Leher : Pendek, gemuk, biasanya dikelilingi oleh lipatan kulir, reflek leher tonik,
refleks neck-righting, refleks otolith righting
j) Dada :
 Diameter anterior posteriordan lateral sama
 Retraksi sternal sedikit terlihat selama inspirasi
 Terlihat prosesusxifoideus pembesaran dada.
k) Paru-paru :
 Pernafasan utamanya adalah pernafasan abdominal
 Reflek batuk tidak ada saat lahir, ada setelah 1-2 hari.
 Bunyi nafas bronchial sama secara bilateral
l) Jantung :
 Apeks: ruang intercostal ke4-5, sebelah lateral batas kiri sternum
 Nada S2 sedikit lebih tajam dan lebih tinggi daripada S1
m) Abdomen :
 Bentuk silindris
 Hepar: dapat diraba 2-3 cm dibawah marjin kostal kanan
 Limpa: puncak dapat diraba pada akhir minggu pertama
 Ginjal: dapat diraba 1-2 cm diatas umbilicus
 Pusat umbilicus: putih kebiruan pada saat lahir dengan 2 arteri dan 1 vena
 Nadi femoral bilateral sama
n) Genetalia
wanita :
 Labia dan klitoris biasanya edema
 Labia minora lebih besar dari labia mayora
 Meatus uretral di belakang klitoris
 Verniks kaseosa di antara labia
 Berkemih dalam 24 jam
pria :
 Testis sudah turun
o) Punggung dan rektum :
 Spina utuh, tidak ada lubang masa, atau kurva menonjol
 Refleks melengkung, batang tubuh
 Wink anal
 Lubang anal paten
 Lintasan mekonium dalam 36 jam
p) Ekstremitas :
 10 jari kaki dan tangan
 rentang gerak penuh
 punggung kuku merah muda, dengan sianosis sementara segera setelah
lahir
  fleksi ekstremitas atas dan bawah
 telapak biasanya datar
 ekstremitas simetris
 tonus otot sama secara bilateral, terutama tahanan pada fleksi berlawanan
 nadi brakialis bilateral sama.
q) Sistem neuromuskuler:
 Ekstremitas biasanya mempertahankan derajat fleksi
 Ekstensi ekstremitas diikuti dengan posisi fleksi sebelumnya.
 Kelambatan kepala saat duduk, tetapi mampu menahan kepala agar tetap
tegak walaupun sementara
 Mampu memutar kepala dari satu sisi kesisi lain ketika tengkuran
 Mampu menahan kepala dalam garis horizontal dengan punggung bila
tengkurap.

2) Pengkajian usia gestasi


3) Observasi status tidur dan aktivitas
 Tidur regular: 4-5 jam/hari, 10-20 menit/siklus mata tertutup, pernafasan
regular, Tak ada gerakan kecuali sentakan tubuh yang tiba-tiba.
 Tidur ireguler: 12-15 jam/hari, 20-45 menit/siklus tidur, mata tertutup,
pernafasan tidak teratur, sedikit kedutan pada otot.
 Mengantuk: bervariasi, mata mungkin terbuka, pernafasan ireguler, gerakan
tubuh aktif.
 Inaktivitas sadar: 2-3 jam/hari. Berespon terhadap lingkungan dengan
gerakan aktif dan mencari obyek pada rentang dekat.
 Terbangun dan menangis: 1-4 jam/hari. Mungkin dengan merengek dan
sedikit gerakan tubuh, berlanjut pada menangis keras dan marah serta
gerakan ekstremitas yang tidak terkoordinasi.
4) Observasi perilaku kedekatan orang tua
 Bila bayi dibawa ke orang tua, apakah mereka meraih anak dan memanggil
namanya?
 Apakah orang tua membicarakan tentang anaknya dalam hal identifikasi/
 Kapan orang tua menggendong bayi, kontak tubuh seperti apa yang terjadi?
 Ketika bayi bangun, stimulasi apa yang dilakukan?
 Seberapa nyaman keleihatan orang tua dalam merawat bayi?
 Tipe afeksi apa yang ditunjuukan pada bayi baru lahir, seperti tersenyum,
membelai, mencium atau menimang?
 Bila bayi rewel, tehnik kenyamanan apa yang dilakukan orang tua?
b. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas tidak efektif
2) resiko infeksi
3) resiko ketidakseimbangan suhu tubuh dengan faktor resiko paparan
dingin/sejuk: perubahan suhu infra uteri ke extra uteri.
c. Rencana Keperawatan
Dianogsa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Bersihan jalan Setelah dilakukan Manajemen Jalan Nafas (3140) :
nafas tak efektif b.d tindakan keperawatan - Buka jalan nafas
obstruksi jalan selama … X 24 jam, - Posisikan klien untuk memak-
nafas : banyaknya klien diharapkan simalkan ventilasi
mucus. mampu menunjukan - Identifikasi klien perlunya pema-
jalan nafas yang sangan alat jalan nafas buatan
Batasan paten dengan - Keluarkan sekret dengan suction
karakteristik : indicator : - Auskultasi suara nafas, catat
- Dyspuea adanya suara tambahan
- Cyanosis Status Respirasi : - Monitor respirasi dan ststus O2
- Kelainan suara Patensi Jalan Nafas
nafas (kracles) (0410) : Suction Jalan Nafas (3160) :
- Mata melebar - Pasien tampak - Auskultasi suara nafas sebelum
- Produksi sputan tenang (tidak dan sesudah suctioning
- Gelisah cemas) - Informasikan pada keluarga
- Perubahan - RR: 30-60X/menit tentang suctioning
frekwensi dan - Irama nafas teratur - Berikan O2 dengan
irama nafas - Pengeluaran menggunakan nasal untuk
sputum pada jalan memfasilitasi suction
nafas nasotracheal
- Tidak ada suara - Gunakan alat yang steril setiap
nafas tambahan melakukan tindakan
- Warna kulit - Berikan waktu istirahat pada
kemerahan klien setelah kateter dikeluarkan
dari naso trakeal
- 6.       Hentikan suction dan
berikan O2 jika klien menunjukan
bradikadi, peningkatan saturasi
O2, dll.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan Mengontrol Infeksi (6540) :
tindakan keperawatan - Bersihkan box / incubator setelah
Batasan selama…X 24 jam, dipakai bayi lain
karakteristik: pasien diharapkan - Pertahankan teknik isolasi bagi
- Prosedur invasif terhindar dari tanda bayi ber-penyakit menular
- Malnutrisi dan gejala infeksi - Batasi pengunjung
- Ketidakadekuatan dengan indicator : - Instruksikan pada pengunjung
imun buatan Status Imun (0702) : untuk cuci tangan sebelum dan
- RR : 30-60X/menit sesudah berkunjung
- Irama napas teratur - Gunakan sabun antimikrobia
- Suhu 36-37˚ C untuk cuci tangan
- Integritas kulit baik - Cuci tangan sebelum dan
- Integritas nukosa sesudah mela-kukan tindakan
baik keperawatan
- Leukosit dalam - Pakai sarung tangan dan baju
batas normal sebagai pelindung
- Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
- Ganti letak IV perifer dan line
kontrol dan dressing sesuai
ketentuan
- Tingkatkan intake nutrisi
- Beri antibiotik bila perlu.

Mencegah Infeksi (6550)


- Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
- Batasi pengunjung
- Skrining pengunjung terhadap
penyakit menular
- Pertahankan teknik aseptik pada
bayi beresiko
- Bila perlu pertahankan teknik
isolasi
- Beri perawatan kulit pada area
eritema
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, dan drainase
- Dorong masukan nutrisi yang
cukup
- Berikan antibiotik sesuai program
3. Resiko Setelah dilakukan Mengatur temperature (3900) :
ketidakseimbangan tindakan keperawatan - Monitor temperatur klien sampai
suhu tubuh b.d selama…X 24 jam stabil
faktor resiko diharapkan klien - Monitor nadi, pernafasan
paparan dingin / terhindar dari ketidak- - Monitor warna kult
sejuk : perubahan seimbangan suhu - Monitor tanda dan gejala
suhu intrauteri ke tubuh dengan hipotermi / hipertermi
extrauteri. indicator : - Perhatikan keadekuatan intake
Termoregulasi cairan
Neonatus (0801) : - Pertahankan panas suhu tubuh
- Suhu axila 36-37˚ C bayi (missal : segera ganti
- RR : 30-60 X/menit pakaian jika basah)
- HR 120-140 X/menit - Bungkus bayi dengan segera
- Warna kulit merah setelah lahir untuk mencegah
muda kehilangan panas
- Tidak ada distress - Jelaskan kepada keluarga tanda
respirasi dan gejala hipotermi / hipertermi
- Hidrasi adekuat - Letakkan bayi setelah lahir di
- Tidak menggigil bawah lampu sorot / sumber
- Bayi tidak gelisah panas
- Bayi tidak letargi - Jelaskan kepada keluarga cara
untuk mencegah kehilangan
panas / mencegah panas bayi
berlebih
- Tempatkan bayi di atas kasur
dan berikan selimut.

KONTRASEPSI

A Definisi
Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah kehamilan (Sarwono, 2005).
Kontrasepsi merupakan metode yang dapat digunakan untuk menyelamatkan ibu dan anak
akibat melahirkan pada usia muda (fase menunda atau mencegah kehamilan), jarak
kelahiran yang terlalu dekat (fase menjarangkan kehamilan) dan melahirkan pada usia tua
(fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan).
B Tujuan
Kontrasepsi bertujuan untuk pasangan yang ingin menunda kehamilan,
menjarangkan kehamilan setelah persalinan atau setelah keguguran, selain itu pemberian
kontrasepsi berupa pil berguna dalam penekanan Luteinizing Hormon (LH) yang dapat
mempengaruhi kadar HCG dalam kasus molahidatidosa.
Perencanaan pemilihan kontrasepsi apa yang akan dipakai nantinya harus rasional.

Fase menunda Fase menjarangkan kehamilan Fase tidak hamil lagi


20 35
kehamilan
 Pil  IUD  IUD  Steril
 IUD  Suntikan  Suntikan  IUD
 Sederhana  Pil  Minipil  Implan
 Implan  Implan  Pil  Suntikan
 Suntikan  Sederhana  Implan  Sederhana
 Sederhana  Pil
 Steril
Tabel 1. Urutan Pemilihan Kontrasepsi yang Rasional
C Syarat
- Persetujuan tindakan medis oleh pasangan suami istri atau diri sendiri
- Tidak hamil
Klien tidak hamil apabila :
1. Tidak senggama sejak haid terakhir
2. Sedang memakai metode efektif secara baik dan benar
3. Sekarang dalam 7 hari pertama haid terakhir
4. Sekarang dalam 6 minggu pasca persalinan
5. Sekarang dalam 7 hari pasca keguguran
6. Sedang menyusui dan tidak haid
Langkah-langkah yang bisa ditempuh dalam memilih metode kontrasepsi kehamilan
adalah :
1. Percaya pada diri sendiri.
2. Bekerjasama dengan suami
3. Mentaati aturan metode secara tertib
D Metode Sederhana
a. Tanpa menggunakan alat
KB Alamiah
1. Metode kalender ( ogino-knaus )
Prinsip
Menghindari senggama pada saat subur / sekitar ovulasi. Perkiraan masa subur : 14
hari sebelum haid + 2 hari. Sperma mampu bertahan palinglama 72 jam dalam saluran
reproduksi wanita.
Karakteristik masa subur
Viskositas cairan vagina meningkat akibat pengaruh estrogen tinggi, uji rentang lendir
vagina (Spinbarkeitt) panjang. Ovulasi dapat diketahui dengan pemeriksaan lendir
cervix, suhu basal dan sitologivaginal. Menentukan masa subur isteri dipakai 3
patokan :
- Ovulasi terjadi 14+2 hari sebelum haid yang akan datang
- Sperma dalam saluran reproduksi wanita dapat hidup dan membuahi dalam 72
jam setelah ovuasi
- Ovum dapat bertahan hidup sampai 24 jam setelah ovulasi. Jika siklus haid tidak
teratur : hati-hati dalam perhitungan.
2. Metode suhu badan basal ( termal )
Menjelang ovulasi suhu basal badan akan turun. Kurang lebih 24 jam sesudah ovulasi
suhu basal badan akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi.
Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan saat ovulasi. Suhu basal badan
dicatat dengan teliti setiap hari. Suhu basal maksudnya adalah suhu yang diukur di
waktu pagi segera sesudah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apapun.
3. Coitus Interuptus
Cara ini merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh manusia, dan
mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang. Senggama
terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan
kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar
pria, dan setelah itu masih ada wakru kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu
yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina.
Keuntungannya cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat, maupun persiapan, akan
tetapi kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri
yang besar dari pihak pria. Beberapa pria karenafaktor jasmani dan emosional tidak
dapt mempergunakan cara ini.
4. Metode Amenore Laktasi
Dengan menyusui, akan keluar hormon prolaktin yang menyebabkan amenore dan
anovulasi infertilitas makin tinggi kadar prolaktin, makin besar kejadian anovulasi.
Menyusui harus dilakukan secara penuh / full dan sering. Dengan menyusui penuh,
efektifitas kontrasepsi alami akan bertahan 3-6 bulan.
b. Dengan menggunakan alat
Mekanis ( barrier )
1. Kondom
Prinsip kerja kondom adalah sebagai perisai dari penis sewaktu melakukan koitus,
dan mencegah pengumpulan sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silindris dengan
pinggir yang tebal pada ujung yang terbuka, sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai
penampung sperma. Diameternya biasanya kira-kira 31-36,5 mm dan panjang lebih kurang
19mm. Kondom dilapisi dengan pelicin yang bersifat spermatisid.
Keuntungan kondom selain untuk memberi perlindungan terhadap penyakit
kelamin, dapat juga sebagai kontrasepsi. Kekurangannya ialah ada kalanya pasangan yang
mempergunakannya merasakan selaput karet tersebut sebagai peghalang dalam
kenikmatan sewaktu melakukan koitus. Adapula pasangan yang tidak menyukai kondom
adanya asosiasi dengan soal pelacuran. Sebab-sebab kegagalan memakai kondom ialah
bocor atau koyaknya alat tersebut atau tumpahnya seperma akibat tidak dikeluarkannya
penis setelah terjadi ejakulasi. Efek samping penggunaan kondom tidak ada, kecuali ada
alergi terhadap bahan untuk membuat karet.
Mengenai pemakaian kondom perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
 Jangan melakukan koitus sebelum kondom terpasang dengan baik.
 Pasanglah kondom sepanjang penis yang sedang ereksi. Pada pria yang tidak
sirkumsisi, preputium harus ditarik terlebih dahulu.
 Tinggalkan sebagian kecil dari ujung kondom untuk menampung sperma. Pada
kondom yang mempunyai kantong kecil ujungnya, keluarkanlah udara terlebih
dahulu sebelum kondom dipasang.
 Pergunakanlah bahan pelicin secukupnya pada permukaan kondom untuk
mencegah terjadinya robekan.
 Keluarkanlah penis dari vagina sewaktu masih dalam keadaan ereksi dan tahanlah
kondom pada tempatnya ketika penis dikeluarkan dari vagina supaya sperma tidak
tumpah.
Gambar 1. Kondom
2. Diafrgama
Dewasa ini diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk
dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak
dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan
mempunyai sifat seperti per.
Ukuran diafragma vaginal yang beredar di pasaran mempunyai diameter antara
55 sampai 100mm. Tiap-tiap ukuran mempunyai perbedaan diameter masing-masing 5 mm.
Besarnya ukuran diafragma yang akan dipakai oleh akseptor ditentukan secara individual.
Diafragma dimasukkan kedalam vagina sebelum koitus untuk menjaga sperma
tidak masuk ke uterus. Untuk memperkuat efek diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke
dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma vaginal sering dianjurkan dalam
hal:
 Keadaan dimana tidak tersedia cara lebih baik.
 Jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak dibutuhkan
perlindungan terus menerus;
 Jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus dihentikan untuk sementara
waktu oleh karene sesuatu sebab.
Pada keadaan-keadaan tertentu pemakaian diafragma tidak dapat dibenarkan,
misalnya pada:
 Sistokel yang berat
 Prolapsus uteri
 Fistula vagina
 Hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uteri
Diafragma paling cocok untuk dipakai pada wanita dengan dasar panggul yang
tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik.
Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek sampingan. Efek
sampingan mungkin disebabkan oleh reaksi alergik terhadap obat-obat spermatisida yang
dipergunakan, atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan di dalam
vagina jika diafragma dibiarkan terlalu lama disitu.
Kekurangan dari penggunaan diafragma vagina adalah: 1) diperlukan motivsi
yang cukup kuat; 2) Umumnya hanya cocok untuk wanita terpelajar dan tidak untuk
digunakan secara massal; 3) Pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan;
4) tingkat kegagalan lebih tinggi daripada pil atau AKDR.
Manfaat dari penggunaan diafragma adalah: 1) hampir tidak ada efek sampingan;
2) dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup memuaskan; 3)
dapat dipakai untuk pengganti pil atau AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh
mempergunakan pil atau AKDR karena sebab-sebab tertentu.
Cara pemakaian diafragma vaginal
Jika akseptor telah setuju mempergunakan cara ini, terlabih dahulu ditentukan
ukuran diafragma yang akan dipakai, dengan mengukur jarak antara simfisis bagian bawah
dan forniks vaginae posterior dengan menggunakan jari telunjuk dari jari tengah tangan
dokter, yang dimasukkan kedalam vagina akseptor. Kemudian, kepadanya diterangkan
anatomi alat-alat genitalia bagian dalam dari wanita, dan dijelaskan serta di demonstrasikan
cara memasang diafragma vaginal. Pinggir mangkuk dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk,
dan diafragma dimasukkan kedalam vagina sesuai dengan sumbunya.

Gambar 2. Diafragma vaginal

Cara Penyimpanan diafragma vaginal


Setelah dipakai, diafragma vaginal dicuci dengan sabun dan air dingin sampai
bersih, lalu dikeringkan dengan kain halus, dan kemudian diberi bedak. Diafragma vaginal
harus disimpan ditempat yang tidak terkena panas. Sekali-sekali diafragma vaginal harus
diperiksa, apakah tidak bocor atau apakah cincin mangkuk tidak rusak. Jika dijaga dengan
baik, diafragma dapat digunakan untuk selama kira-kira 1-1,5 tahun.
Kimiawi
1. Spermisid
Sediaan berbentuk vaginal suppositoria, cream/jelly, atau film/tissue, dimasukkan
ke dalam vagina 15-30 menit sebelum sanggama. Keuntungan : murah, dapat dipakai
berulang-ulang, membunuh kuman.
Macam-macam : Vaginal cream, Vaginal foam, Vaginal Jelly, Vaginal
Suppositoria, Vaginal Tablet ( busa ), Vaginal soluble film.
Gambar 3. Spermisida
2.5 Metode Modern
Kontrasepsi hormonal
Dibawah pengaruh hipothalamus, hipofisis mengeluarkan menurut urutan
tertentu Follicle Stimulating Hormon (FSH) Luteinizing Hormone (LH). Hormon-hormon ini
dapat merangsang ovarium untuk membuat estrogen dan progesteron. Dua hormon terakhir
ini menumbuhkan endometrium pada waktu daur haid, dalam keseimbangan yang tertentu,
menyebabkan ovulasi, dan akhirnya penurunan kadarnya mengakibatkan disintegrasi
endometrium dan haid. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa baik estrogen maupun
progesteron dapat mencegah ovulasi. Pengetahuan ini menjadi dasar untuk menggunakan
kombinasi estrogen dan progesteron sebagai cara kontrasepsi dan jalan mencegah
terjadinya ovulasi.
Pil-pil hormonal terdiri atas komponen estrogen dan komponen progestagen,
atau oleh salah satu dari komponen itu. Hormon steroid sintetik dalam metabolismenya
sangat berbeda dari hormone steroid yang dikeluarkan oleh ovarium. Umumnya dapat
dikatakan bahwa komponen estrogen dalam pil dengan jalan menekan sekresi FSH
menghalangi maturasi folikel dan ovarium. Karena pengaruh estrogen dari ovarium tidak
ada, tidak terdapat pengeluaran LH. Ditengah-tengah daur haid kurang terdapat FSH dan
tidak ada peningkatan kadar LH menyebabkan ovulasi terganggu. Pengaruh komponen
progestagen dalam pil kombinasi memperkuat khasiat estrogen untuk mencegah ovulasi,
sehingga dalam 95-98% tidak terjadi ovulasi. Selanjutnya, estrogen dalam dosis tinggi dapat
pula mempercepat perjalanan ovum dan menyulitkan terjadinya implantasi dalam
endometrium dari ovum yang sudah dibuahi.
Komponen progestagen dalam pil kombinasi seperti tersebut diatas memperkuat
daya estrogen untuk mencegah ovulasi. Progestagen sendiri dalam dosis tinggi dapat
menghambat ovulasi, akan tetapi tidak pada dosis rendah. Selanjutnya progestagen
mempunyai khasiat sebagai berikut:
1) Lendir serviks uteri menjadi lebih ketal, sehingga menghalangi penetrasi
spermatosoon untuk masuk kedalam uterus.
2) Kapasitasi spermatosoon yang perlu untuk memasuki ovum terganggu.
3) Beberapa progestagen tertentu, seperti noretinodrel mempunyai efek
antiestrogenik terhadap endometrium, sehingga menyulitkan mplantasi ovum yang
sudah dibuahi.
Per-oral (pil)
1. Pil oral kombinasi ( POK )
Pil kombinasi merupakan pil kontrasepsi yang saat ini dianggap paling efektif. Selain
mencegah terjadinya ovulasi, pil juga mempunya efek lain terhadap traktus genitalis, seperti
menimbulkan perubahan-perubahan pada lendir cerviks, sehingga menjadi kurang banyak
dan kental, yang mengakibatkan sperma tidak dapat memasuki cavum uteri. Juga terjadi
perubahan-perubahan motilitas tuba fallopi dan uterus. Dewasa ini terdapat banyak macam
pil kombinasi, tergantung dari jenis dan dosis estrogen serta jenis progesteron yang dipakai.
Efek Samping
Hormon-hormon dalam pil harus cukup kuat untuk dapat mengubah proses biologik,
sehingga ovulasi tidak terjadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kadang-kadang
timbul efek samping. Efek tersebut pada umumnya ditemukan pada pil kombinasi dengan
kelebihan estrogen atau peda pil dengan kelebihan progesteron. Perlu juga diketahui behwa
antara jenis-jenis progestagen terdapat perbedaan mengenai efek tambahan, yakni efek
estrogenik, atau efek androgenik, atau efek metabolik.

Efek Karena Kelebihan Estrogen


Efek-efek yang sering terdapat ialah, rasa mual, retensi cairan, sakit kepala, nyeri
pada mamae, flour albus. Rasa mual kadang-kadang disertai muntah, diare, dan perut
kembung. Retensi cairan disebabkan oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium, dan
dapat meningkatkan berat badan. Sakit kepala sebagian juga disebabkan oleh retensi
cairan. Kepada penderita pemberian garam perlu dikurangi, dan dapat diberikan obat
diuretik.
Kadang-kadang efek samping demikian mengganggu akseptor, sehingga ia hendak
menghentikan minum pil. Dalam keadaan demikian, ia diharuskan minum pil dengan pil
kombinasi yang mengandung dosis estrogen rendah, oleh karena tidak jarang efek itu
berkurang dalam beberapa bulan. Akan tetapi, kadang-kadang pemakaian pil terpaksa
dihentikan, dan harus dianjurkan kontrasepsi lain. Ada indikasi bahwa pemakaian pil dapat
menimbulkan hipertensi pada wanita yang sebelumnya tidak menderita penyakit tersebut.
Akan tetapi biasanya hipertensi tidak tinggi, mempengaruhi terutama tekanan sistolik, dan
kembali kepada keadaan normal setelah pil dihentikan. Akan tetapi, pengaruh kepada
mereka yang sudah menderita hipertensi lebih nyata,. Ada bukti-bukti bahwa minum pil yang
cukup lama dengan dosis estrogen yang tinggi dapat menyebabkan pembesaran mioma
uteri, akan tetapi biasanya pembesaran itu berhenti jika pemakaian pil dihentikan.
Pemakaian pil kadang-kadang dapat menyembuhkan pertumbuhan endometrium yang
berlebihan dibawah pengaruh estrogen.
Rendahnya dosis estrogen dalam pil dapat mengakibatkan spotting dan breaktrough
bleeding dalam masa intermenstruum.
Efek Karena kelebihan Progestagen
Progestagen dalam dosis yang berlebihan dapat menyebabkan perdarahan tidak
teratur, bertambahnya nafsu makan disertai bertambahnya berat badan, akne, alopesia,
kadang-kadang mamae mengecil, flour albus hipomenorea. Bertambahnya berat badan
karena progestagen kiranya disebabkan oleh bertambahnya nafsu makan dan efek
metabolik hormon. Akne dan alopesia bisa timbul karena efek androgenik dari jenis
progestagen yang dipakai dalam pil. Progestagen dapat menyebabkan mengecilnya
mamae, jika hal ini tidak disenangi oleh akseptor, dapat diberikan kepadanya pil dengan
estrogen lebih banyak.
Flour albus yang kadang-kadang ditemukan pada pil dengan progestagen dalam
dosis tinggi, mungkin disebabkan oleh meningkatnya infeksi dengan kandida albikans.
Kadang-kadang wanita yang minum pi dengan kelebihan progestagen menderita depresi.
Ada alasan kuat bahwa depresi itu timbul pada wanita yang sehat, akan tetapi pada wanita
yang sebelumnya sudah secara emosional tidak stabil.
Efek samping yang berat
Bahaya yang dikhawatirkan dengan pil adalah trombo-emboli, termasuk
tromboflebitis, emboli paru-paru, dan trombosis otak. Mengenai hal ini laporan-laporan
dalam kepustakaan sering kali bertentangan. Yang dapat dipakai sebagai pegangan ialah,
bahwa kemungkinan untuk terjadinya trombo emboli pada wanita yang minum pil, lebih
besar apabila ada faktor-faktor yang memberikan predisposisi, seperti merokok, hipertensi,
diabetes melitus, obesitas.
Kontraindikasi
Tidak semua wanita dapat menggunakan pil kombinasi untuk kontrasepsi.
Kontraindikasi terhadap penggunaannya dapat dibagi dalam kontraindikasi mutlak dan
relatif.
 Kontraindikasi mutlak
1. Adanya tumor yang dipengaruhi estrogen
2. Penyakit-penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun
3. Pernah mengalami tromboflebitis, tromboemboli, kelainan serebro-vaskuler
4. Diabetes mellitus
5. Kehamilan
 Kontraindikasi relatif
1. Depresi
2. migrain
3. Mioma uteri
4. Hipertensi
5. Oligomenorea
Pemberian pil kombinasi kepada wanita yang mempunyai kelainan tersebut harus
diawasi secara teratur dan terus-menerus, sekurang-kurangnya sekali dalam tiga bulan.
Kelebihan pil kombinasi
1. Efektifitasnya dapat dipercaya ( Daya guna teoritis hampir 100 %, daya guna pemakaian
95-98 %
2. Frekuensi koitus tidak perlu diatur
3. siklus haid teratur
4. Keluhan-keluhan disminore yang primer menjadi berkurang
Kekurangan pil kombinasi
1. Harus diminum tiap hari sehingga kadang-kadang merepotkan
2. Motivasi harus kuat
3. Adanya efek samping walaupun sementara, seperti mual, sakit kepala, muntah, buah
dada menjadi nyeri
4. Kadang-kadang setelah minum pil dapat minum amenore yang persisten
Cara Pemakaian Pil Kombinasi
Ada pil kombinasi yang dalam satu bungkus berisi 21 (atau 22) pil dan ada yang
berisi 28 pil. Pil yang berjumlah 21-22 diminum mulai hari ke 5 haid tiap hari satu pil terus
menerus, dan kemudian berhenti jika isi bungkus habis, sebaiknya pil diminum pada waktu
tertentu, misalnya malam sebelum tidur. Beberapa hari setelah minum pil dihentikan,
biasanya terjadi withdrawal bleeding dan pil pada bungkus kedua dimulai hari ke-5 dari
permulaan perdarahan. Apabila tidak terjadi withdrawal bleeding, maka pil pada bungkus
kedua mulai diminum 7 hari setelah pil pada bungkus pertama habis. Pil dalam bungkus 28
pil diminum tiap malam terus menerus. Pada hari pertama haid pil yang inaktif mulai
diminum, dan dipilih pil menurut hari yang ditentukan dalam bungkus. Keuntungan minum pil
berjumlah 28 biji adalah bahwa karena pil ini diminum tiap hari terus menerus, tidak mudah
dilupakan. Jika lupa meminumnya, pil tersebut hendaknya diminum keesokkan paginya,
sedang pil untuk hari tersebut diminum pada waktu yang biasa. Jika lupa minum pil dua hari
berturut-turut, dapat diminum 2 pil keesokan harinya dan 2 pil lusanya. Selanjutnya dalam
hal demikian, dipergunakan cara kontrasepsi yang lain selama sisa hari dari siklus yang
bersangkutan. Demikian pula hendaknya jika mulai minum pil, digunakan cara kontrasepsi
lain selama sedikitnya 2 minggu. Petunjuk umum untu hal ini ialah: Anggaplah bungkus
pertama belum aman
Sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sediaan apus (Papanicolaou
smear) dan pemeriksaan mamae setahun sekali pada pemakai pil.
2. Mini pil
Pada Tahun 1965 Rudell dkk. Menemukan bahwa pemberian progestagen
(khlormadinon asetat) dalam dosis kecil (0,5 mg per hari) menyebabkan wanita tersebut
menjadi infertile. Mini pill bukan merupakan penghambat ovulasi oleh karena selama
memakan pil mini ini ovulasi kadang-kadang masih dapat terjadi. Efek utamanya ialah
terhadap lendir serviks, dan juga terhadap endometrium, sehingga nidasi blastokista tidak
dapat terjadi. Mini pill ini umumnya tidak dipakai sebagai kontrasepsi.
3. Morning After pil
Pada tahun 1966 Morris dan Van Wagenen ( Amerika serikat ) menemukan bahwa
estrogen dalam dosis tinggi dapat mencegah kehamilan jika diberikan segera setelah coitus
yang tidak dilindungi. Penyelidikan mereka lakukan pada wanita sukarelawan dan wanita
yang diperkosa. Kepada sebagian wanita-wanita tersebut diberikan 50 mg dietilstilbestrol
( DES) dan kepada sebagian lagi diberikan 0,5 sampai 2 mg sehari selama 4-5 hari setelah
terjadinya koitus. Kegagalan cara ini dilaporkan dalam 2,4 % dari jumlah kasus. Kiranya
dengan cara ini dapat dihalangi implantasi blastokista dalam endometrium.
Cara Pemberian :
- Bentuk pil : diminum pertama kali dalam batas waktu sampai 3 hari setelah
sanggama
- Dosis berikutnya diminum 12 jam kemudian setelah dosis pertama
- Batas waktu sampai 7 hari pasca senggama, kegagalan : 0.1% - 2.0% jika dimulai
dalam 72 jam pasca senggama sebelum ovulasi. Jika sudah terjadi kehamilan, tidak
bermanfaat lagi. Jika sudah terjadi kehamilan, tidak bermanfaatlagi.
Masalahnya, umumnya pasien baru datang sesudah terlambat haid (sekitar 2-3
minggu setelah kemungkinan ovulasi / fertilisasi), dan bukannya pada hari sesudah
senggama tanpa proteksi tersebut.

Amenore sesudah minum pill (post pill amenorrhea)


Sembilan puluh delapan persen (98%) wanita yang minum pil dapat haid lagi disertai
dengan ovulasi dalam 3 bulan setelah pil dihentikan. Pada 2% yang lain haid mulai lagi
kadang-kadang memerlukan waktu sampai 2 tahun.
Makin lama amenore berlangsung, makin kecil kemungkinan bahwa keadaan
menjadi normal kembali. Walaupun lamanya mnum pil dan umur yang bersangkutan
memegang peranan dalam timbulnya amenorea, namun ada juga yang menderita kelainan
tersebut sesudah minum pil tidak lebih dari 3 bulan. Mengenai sebab timbulnya amenore
sesudah minum pil ada 2 kemungkinan: pemakaian pil menghambat pengeluaran releasing
factor dari hipotalamus, sedang kemungkinan lain ialah bahya sebabnya terletak pada
ovarium. Perlu dipikirkan pula behwa amenore sekunder itu mempunyai sebab-sebab lain
diluar pemakaian pil.
b. Injeksi / suntikan
1. Depo Provera
Depo-provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan
kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. Obat ini
termasuk obat depot. Noristerat juga termasuk dalam golongan ini.
Mekanisme Kerja
1. Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan
Releasing Factor dari hipotalamus.
2. lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui
serviks uteri.
3. Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi
4. Kecepatan transpor ovum melalui tuba berubah
Keuntungan metoda depot ialah: 1) efektifitas tinggi; 2) sederhana pemakaiannya; 3)
cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4 x setahun); 4) reversibel; 5) cocok
untuk ibu-ibu yang menyusui anak.
Kekurangan metoda depot ialah: 1) sering menimbulkan perdarahan yang tidak tertatur
(spotting, breakthrough bleeding), dan lain-lain; 2) dapat menimbulkan amenore. Obat
suntikan cocok digunakan bagi ibu-ibu yang beru saja ersalin dan sedang menyusui
anaknya.
Waktu Pemberian dan dosis
Depo Provera sangat cocok untuk program postpartum oleh karena tidak
mengganggu laktasi, dan terjadinya amenore setelah suntikan Depo Provera tidak akan
mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa post partum, Depo Provera
disuntikkan sebelum ibu meninggalkan Rumah Sakit, sebaiknya sesudah air susu ibu
terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 s/d hari ke-5. Depo Provera disuntukkan dalam dosis
150mg/cc sekali 3 bulan. Suntikan harus intramuskulus dalam.
c. Sub-kutis/bawah kulit : Implant
Norplant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang
diungkus dalam kapsul silastic-silicone dan disusukkan dibawah kulit adalh sebanyak 6
kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dan berisi 36 mg levonorgestrel.
Setiap hari sebanyak 30 mcg levonorgestrel dilepaskan ke dalam darah secara difusi melalui
dinding kapsul. Levonorgestrel adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB
seperti mini-pill atau kombinasi atau pun pada AKDR yang bioaktif.
Mekanisme kerja :
- Mengentalkan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma.
- Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium sehingga tidak cocok untuk
implantasi zygote.
- Pada sebagian kasus dapat pula menghalangi terjadinya ovulasi.
- Efek kontrasepsi norplabt merupakan gabungan dari ketiga mekanisme kerja
tersebut di atas. Daya guna norplant cukup tingi. Kepustakaan melaporkan
kegagalan norplant antara 0,3 – 0,5 perseratus tahun wanita.

Kelebihan norplant antara lain adalah


1. Cara ini cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang
mengandung estrogen
2. Perdarahan yang terjadi lebih ringan
3. Tidak menaikkan tekanan darah,
4. Resiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan
pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
5. Selain itu cara Norplant ini dapat digunakan untuk jangka panjang ( 5 tahun
dan bersifat reversibel. Menurut data-data klinis yang ada dalam waktu satu
tahun setelah pengangkatan Norplant, 80 % sampai 90 % wanita daat menjadi
hamil kembali.
Efek samping Norplant
1. Gangguan pola haid, seperti terjadinya spotting, perdarahan memanjang atau
lebih sering berdarah ( metrorrhagia ),
2. Amenore,
3. Mual-mual, anoreksia, pening, sakit kepala,
4. Kadang-kadang terjadi perubahan pada libido dan berat badan,
5. Timbulnya akne.
6. Oleh karena jumlah progestin yang dikeluarkan ke dalam darah sangat kecil,
maka efek samping yang terjadi tidak sesering pada penggunaaan KB.
Indikasi Norplant adalah
1. Wanita-wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama
tetapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR
2. Wanita-wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung
estrogen
Kontraindikasi Norplant adalah
1. Kehamilan atau disangka hamil
2. Penderita penyakit hati
3. Kanker payudara
4. Kelainan jiwa ( psikosis, neurosis ),
5. varikosis
6.. Riwayat kehamilan ektopik
7. Diabetes mellitus
8. Kelainan kardiovaskuler.

Waktu pemasangan Norplant


Sewaktu haid berlangsung atau masa pra-ovulasi dari siklus haid, sehingga
adanya kehamilan dapat disingkirkan.
Macam-macam
- Norplant 6 batang
- Norplant 2 batang
- Impanon /Norplant 1 batang
2. Intra Uterine Device ( IUD )/ Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR )
PRINSIP
Menimbulkan reaksi inflamasi lokal dalam endometrium kavum uteri sehingga
menghambat terjadinya implantasi. Bentuk spiral / melingkar bertujuan untuk memperluas
permukaan kontak dengan dinding kavum uteri. Setelah diteliti ternyata BUKAN abortif. IUD
diduga juga menghambat motilitas tuba sehingga memaksa sperma "berenang" melawan
arus.

Gambar 4. Model IUD

Gambar 5. Gambaran IUD yang terpasang pada cavum uteri


Keuntungan AKDR
 Efektivitasnya tinggi. Sangat efektif → 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1
tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan)
 AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
 Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
 Tidak mempengaruhi hubungan seksual
 Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A)
 Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
 Dapat dipasang segera estela melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
 Dapat pigunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
 Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
 Membantu mencegah kehamilan ektopik
Efek samping AKDR
 Perdarahan
 Rasa nyeri dan kejang di perut
 Gangguan pada suami→ benang AKDR keluar dari portio uteri terlalu pendek atau
terlalu panjang.
Komplikasi AKDR
 Infeksi → adanya infeksi sub akut atau menahun pada traktus genitalis sebelum
pemasangan AKDR
 Perforasi : umumnya perforasi terjadi sewaktu pemasangan AKDR walaupun bisa
terjadi pula kemudian. Permulaan hanya ujung AKDR saja yang menembus dinding
uterus, tetapi lama-kelamaan dengan adanya kontraksi uterus AKDR terdorong lebih
jauh sehingga menembus dinding uterus sehingga akhirnya sampai ke rongga perut.
Kontraindikasi pemasangan AKDR
Kontraindikasi relatif:
 Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus
 Insufisiensi serviks uteri
 Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas sectio sesaria, enukleasi
mioma
 Kelainan jinak serviks uteri, seperti erotio portio uteri.
Kontraindikasi absolut:
 Kehamilan
 Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis
 Adanya tumor ganas pada traktus genitalis
 Adanya metroragia yang belum disembuhkan
 Pasangan yang tidak lestari.

Pemasangan AKDR
AKDR dapat dipasang dalam keadaan berikut:
 Sewaktu haid sedang berlangsung
 Post partum
 Post abortus
 Beberapa hari setelah haid berakhir

3. Sterilisasi
- Vasektomi pada pria
Pengikatan / pemotongan vas deferens kiri dan kanan pad pria untuk mencegah transport
spermatozoa dari testis melalui vasa ke arah uretra. Dilakukan dengan cara operasi, dapat
dengan operasi kecil atau (minor Surgery)

Gambar 6. Vasektomi
Seorang yang telah mengalami vasectomy baru dapat dikatakan betul-betul steril jika
dia telah mengalami 8-12 kali ejakulasi setelah vasectomy. Oleh karena itu sebelum hal
tersebut diatas tercapai, yang bersangkutan dianjurkan pada saat koitus memakai
kontrasepsi lain.
Komplikasi vasectomy antara lain adalah infeksi pada sayatan, reasa nyari,
terjadinya hematoma karena perdarahan kapiler, epididimitis dan granuloma.
Kegagalan vasectomy dapat terjadi oleh karena terjadi rekanalisasi spontan,
gagal mengenal dan memotong vas deferens, tidak diketahui adanya anomali vas deferns
misalnya ada 2 vas deferens pada kanan atau kiri, koitus dilakukan sebelum kantong
seminalnya batul-betul kosong.
Tubektomi
Pengikatan / pemotongan tuba falopii kiri dan kanan pada wanita untuk mencegah
transport ovum dari ovarium melalui tuba ke arah uterus.
Dilakukan dengan cara operasi (laparotomi / laparoskopi), dengan berbagai metode.
Efektifitas tinggi, reversibilitas rendah, sehingga disebut kontrasepsi mantap.
Manfaat:
Kontrasepsi
 Sangat efektif (0,2-4 kehamilan per 100 perempan selama tahun pertama
penggunaan)
 Permanen
 Tidak mempengaruhi proses menyusui (breast feeding)
 Tidak bergantung pada faktor senggama
 Pembedahan sederhana dapat dilakukan dengan anastesi lokal
 Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
 Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon
ovarium.
Nonkontrasepsi
Berkurangnya resiko kanker ovarium.
Sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi syarat berikut:
1. Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup
2. Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup
3. Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup
Pada konfrensi khusus perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia di Medan (3-5 Juni
1976) dianjurkan umur diantara 25-40 tahun dengan jumlah anak sebagai berikut:
1. umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih
2. umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih
3. umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih
Yang sebaiknya tidak menjalani tubektomi:
 Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
 Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)
 Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau
dikontrol)
 Tidak boleh menjalani pembedahan
 Belum memberikan persetujuan tertulis
Kapan Dilakukan:
 Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional pasien
tersebut tidak hamil.
 Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstrasi (fase proliferasi)
 Pasca persalinan:
- minilap: didalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu
- laparoskopi: tidak tepat untuk klien-klien pasca persalinan
 Pasca keguguran:
- Triwulan pertama: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik
(minilap atau laparoskopi)
Triwulan kedua: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)
F. PATHWAY (terlampir)
G. ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
Data Subyektif
a. Identitas
Yang dikaji meliputi biodata dan suami mulai dari nama, umur, suku, agama,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat, no. telp.
b. Keluhan Utama
Dikaji keluhan klien yang berhubungan dengan penggunaan KB suntik kombinasi
tersebut antara lain amenorea/ perdarahan tidak terjadi, perdarahan bercak,
meningkatnya/ menurunnya BB.
c. Riwayat KB
Dikaji apakah klien pernah menjadi akseptor KB lain sebelum menggunakan KB
kombinasi dan sudah berapa lama menjadi akseptor KB tersebut.
d. Riwayat Obstetri Lalu
Dikaji riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
e. Riwayat Menstruasi Lalu
Dikaji menarche pada umur berapa, siklus haid, lamanya haid, sifat darah haid,
dysmenorhea atau tidak, flour albus atau tidak.
f. Riwayat Kesehatan Klien
Dikaji apakah klien menderita penyakit jantung, hipertensi, kanker payudara, DM,
dan TBC.
g. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien ada yang menderita penyakit jantung, DM, TBC,
hipertensi dan kanker payudara.
h. Pola Kehidupan
Dikaji meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola istirahat, pola aktivitas, pola aktivitas
seksual, pola personal hygiene, dan kebiasaan sehari-hari.

Data Obyektif
1) Pemeriksaan Umum
Meliputi pemeriksaan pada tekanan darah, nadi, pernafasan, BB, TB, suhu badan,
kesadaran.
2) Pemeriksaan Khusus
a. Wajah : dilihat adanya bercak hitam (chloasma) adanya oedem, conjungtiva
tidak pucat, sklera tidak ikterus.
b. Leher : diraba adanya pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe, adanya
bendungan vena jugularis.
c. Dada : dilihat bentuk mammae, diraba adanya massa pada payudara.
d. Genetalia : dilihat dari condiloma aquminata, dilihat dan diraba adanya infeksi
kelenjar bartholini dan kelenjar skene.
e. Ekstremitas : dilihat adanya eodem pada ekstrimitas bawah dan ekstrimitas
atas, adanya varices pada ekstremitas bawah.

II. ANALISA DATA


No Data Etiologi Masalah
1 DS : Penggunaan alat Ansietas
Klien mengatakan kontrasepsi
khawatir untuk ↓
menggunakan alat Adanya efek samping
kontrasepsi dari kontrasepsi

Haid tidak teratur

Perubahan pola haid

Cemas
III. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Ansietas berhubungan dengan terjadinya efek samping dari alat kontrasepsi
tertentu ditandai dengan klien mengatakan khawatir untuk menggunakan alat
kontrasepsi

IV. RENCANA KEPERAWATAN


No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC : Anxiety Reduction
keperawatan selama 1 x 30 menit, - Nyatakan dengan jelas
klien dapat mengatasi kecemasannya harapan terhadap perilaku
dengan kriteria hasil : klien
NOC : Anxiety Control, Coping - Jelaskan semua prosedur
- Klien mampu mengidentifikasi dan penggunaan alat kontrasepsi
mengungkapkan gejala cemas serta efek samping yang
- Klien mampu mengungkapkan ditimbulkan
dan menunjukkan tehnik untuk - Berikan informasi factual
mengontrol cemas mengenai dampak dari efek
- Postur tubuh, ekspresi wajah, samping
bahasa tubuh dan tingkat - Libatkan keluarga untuk

aktivitas menunjukkan mendampingi klien


- Bantu klien mengenal situasi
berkurangnya kecemasan
yang menimbulkan
kecemasan
- Dorong klien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
- Berikan kesempatan
bertanya tentang
keuntungan dan kerugian
alat kontrasepsi
- Berikan dukungan
psikososial
DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, 2002. Kontrasepsi; Dalam Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka sarwono,
Jakarta

Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (1994), Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK Unpad, Bandung.

Hacker Moore (1999), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Hanifa Wikyasastro (1997), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo,
Jakarta.