Anda di halaman 1dari 33

SEMINAR MATERNITAS

Comparing the Estimation of Postpartum Hemorrhage Using Weighting


Method and National Guideline with the Postpartum Hemorrhage Estimation
by Midwifes

Nahid Golmakani, Khosheh Khaleghinezhad, Selmeh Dadgar, Majid


Hashempor, Nosrat Baharian

Oleh:
KELOMPOK 1

I Wayan Gede Saraswasta 140070300011111


Dsk Made Diah Purnamasari 140070300011106
Elmi Alfia Muqorobin 140070300011112
Khona’ah Toyyibah 140070300011107
Shinta Ardiana Puspita 140070300011098
Eka Fitri Cahyani 140070300011103
Meida Untari 140070300011097
Giovanny Sumeinar 140070300011101
Anita ika Lestari 140070300011099
Dwi Handayani Sundoro 140070300011114

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
KATA PENGANTAR
1
2

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Hidayah-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan Departemen Maternitas dengan judul “The Effect of
late Pregnancy Consumption of Date Fruit on Labour and Delivery “.Ketertarikan
penulis akan topik ini didasari pada banyaknya kejadian persalinan kala 1 lama di
kamar bersalin RSUD Ngudi Waluyo. Penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ns. Fransiska Imavike, S.Kep, M.Nurs, selaku dosen pembimbing


Departemen Maternitas Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
2. Ibu Imroatus Sholikah, SST, selaku Kepala Ruang Cempaka yang telah
memberikan kesempatan pada kami untuk menimba ilmu di Ruang Cempaka.
3. Ibu Ns. Hesti Swastikawati, S. Kep, selaku Clinical Instructur departemen
Maternitas di Ruang Cempaka RSUD Ngudi Waluyo.
4. Pihak-pihak yang secara tidak langsung membantu proses penyelesaian
makalah inii.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan Departemen Maternitas ini
masih kurang sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri untuk segala saran
dan kritik yang membangun bagi penulis, sehingga dapat bermanfaat untuk
penulis khususnya dan masyarakat secara umum.

Malang, Juni 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
3

1.1. Latar Belakang


Perdarahan postpartum adalah perdarahan 500 cc atau lebih setelah kala III
selesai (setelah plasenta lahir). Pengukuran darah yang keluar sukar untuk
dilakukan secara tepat. Jenis perdarahan dibagi dalam perdarahan postpartum dini
bila perdarahan terjadi dalam 24 jam pertama dan perdarahan postpartum lambat
bila perdarahan terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan
postpartum dini antara lain atonia uteri, laserasi jalan lahir, hematoma, sisa plasenta,
ruptura uteri dan inversio uteri. Sedangkan penyebab utama dari perdarahan
potpartum lambat adalah tertinggalnya sebagian besar plasenta, subinvolusi di
daerah insersi plasenta, dan dari luka bekas seksio sesaria (Wiknjosastro, 2005).
Komplikasi perdarahan pascapartum adalah Syok hemoragi (Hipovolemik) dan
kematian dapat terjadi akibat perdarahan yang tiba-tiba dan perdarahan yang
berlebihan (Bobak, 2002)
Sebagian besar penyebab kematian ibu di seluruh dunia muncul selama dan
setelah persalinan yaitu perdarahan (25%), infeksi (15%), eklampsia (12%), unsafe
abortion (13%), obstruksi (8%), penyebab lainya (27%). Oleh karena itu mencegah
kematian dan kesakitan maternal-neonatal adalah prioritas utama dalam
meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak (WHO, 2006).
Sebagian besar ahli mengakatergorikan perdarahan berdsarkan perkiraan
secara visual. Perkiraan kehilangan darah biasanya 100 – 150 ml lebih sedikit
dibandingkan jumlah yang sebenarnya, dan sebagai hasilnya, perdarahan yang
diperkirakan menjadi kurang dari 500 ml pada 30 – 50% kasus perdarahan.
Salah satu metode untuk memperkirakan kehilangan darah adalah dengan
menggunakan Pedoman Nasional yang disediakan oleh Maternal Health Office.
Pedoman ini terdiri dari 2 bagian umum: bagian pertama terkait memberikan
pelayanan kesehatan selama persalinan normal dan bagian kedua adalah terkait
sikap dalam memberikan pelayanan. Memperkirakan banyaknya darah yang hilang
dibahas dalam bagian kedua, termasuk gambar yang memperlihatkan 4 pad yang
terisi darah dan perkiraan jumlah darah pada setiap pad.
Metode lain yang digunakan adalah dengan menimbang. Metode ini
merupakan salah satu metode kuno untuk memperkirakan jumlah perdarahan. Lee
4

et al., membandingkan metode gravimetric dan laboratorium untuk menghitung


quantitas perdarahan selama pembedahan hewan. Pada penelitian tersebut
didapatkan bahwa adanya hubungan yang cukup tinggi antara metode gravimetric
dan laboratorium yang mengindikasikan bahwa penggunaan metode penimbangan
adalah metode yang tepat untuk memperkirakan jumlah darah yang hilang.
Penggunaan metode penimbangan merupakan metode yang cukup
memakan waktu, namun metode visual merupakan metode yang paling sering
digunakan dan metode lama untuk memperkirakan jumlah kehilangan darah pada
pascapersalinan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang membandingkan
perhitungan perdarahan antara metode penimbangan dengan menggunakan
Pedoman Nasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perdarahan Postpartum


2.1.1. Pengertian Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau
lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir) (Wiknjosastro, 2000). Fase
dalam persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari 4 cm
sampai penurunan kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks sudah
membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala janin sudah tampak, kemudian
dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan lahirnya bayi dan
berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan postpartum terjadi setelah
kala III persalinan selesai (Saifuddin, 2002).
Perdarahan postpartum ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat
dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat wanita jatuh ke dalam syok,
ataupun merupakan perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus
menerus dan ini juga berbahaya karena akhirnya jumlah perdarahan menjadi
banyak yang mengakibatkan wanita menjadi lemas dan juga jatuh dalam syok.

2.1.2. Penyebab Perdarahan Postpartum


Penyebab perdarahan Postpartum antara lain :
1. Atonia uteri 50% - 60%
2. Retensio plasenta 16% - 17%
3. Sisa plasenta 23% - 24%
4. Laserasi jalan lahir 4% - 5%
5. Kelainan darah 0,5% - 0,8% (Mochtar, 1995).

2.1.3. Klasifikasi Perdarahan Postpartum


Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu (Manuaba, 1998) :
1. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan
yang terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama

5
6

perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta,


sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak
dalam 2 jam pertama.
2. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan
pascapersalinan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran.
Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang
tertinggal.

2.1.4. Gejala Klinik Perdarahan Postpartum


Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10%
dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru
tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%. Gejala klinik berupa perdarahan
pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah
tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah
rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain
(Wiknjosastro, 2005).

2.1.5. Diagnosis Perdarahan Postpartum


Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel
berikut ini :

Tabel 2.1. Diagnosis Perdarahan Post Partum


Gejala dan Tanda
Gejala dan Tanda yang Diagnosis
No yang Kadang-
Selalu Ada Kemungkinan
kadang ada
- Uterus tidak - Syok Atonia Uteri
berkontraksi dan
lembek
- Perdarahan segera
setalah anak lahir
(Perdarahan
7

Pascapersalinan
Primer atau P3)
- Perdarahan segera - Pucat Robekan Jalan
(P3) - Lemah Lahir
- Darah segar yang - Menggigil
mengalir segera
setelah bayi lahir
(P3)
- Uterus kontraksi
baik
- Plasenta lengkap
- Plasenta belum lahir - Tali pusat putus Retensio Plasenta
segera setelah 30 akibat traksi
menit berlebihan
- Perdarahan segera - Inversion uteri
(P3) akibat tarikan
- Uterus kontraksi - Perdarahan
baik lanjutan
- Plasenta atau - Uterus Tertinggalnya
sebagian selaput berkontraksi Sebagian Plasenta
(mengandung tetapi tingggi
pembuluh darah) fundus tidak
tidak lengkap) berkurang
- Perdarahan segera
(P3)
- Uterus tidak teraba - Syok Inversio Plasenta
- Lumen vagina terisi neurogenic
massa - Pucat dan
- Tampak tali pusat Limbung
(jika plasenta belum
lahir)
- Perdarahan segera
8

(P3)
- Nyeri sedikit atau
berat

- Sub-involusi uterus - Anemia - Perdarahan


- Nyeri tekan perut - Demam terlambat
bawah - Endometritis
- Perdarahan lebih atau sisa
dari 24 jam setelah plasenta
persalinan. (terinfeksi atau
Perdarahan tidak)
sekunder atau P2S
- Perdarahan
bervariasi (ringan
atau berat, terus
menerus atau tidak
teratur) dan berbau
(jika disertai infeksi)

- Perdarahan segera - Syok Robekan diding


(P3) (Perdarahan - Nyeri tekan uterus (rupture
intraabdominal dan perut uteri)
atau vaginum) - Denyut nadi ibu
- Nyeri perut berat cepat

Sumber: Saifuddin, 2002

2.2. Perdarahan Postpartum Primer


2.2.1. Pengertian Perdarahan Postpartum Primer
Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang
terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan
9

postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan
jalan lahir dan inversio uteri (Manuaba, 1998).
2.2.2. Penyebab Perdarahan Postpartum Primer
1. Atonia Uteri
Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi
setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh,
melebar, lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh
darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan.
Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang
terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau
lepas keseluruhan (Faisal, 2008).
Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan
bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan
perdarahan pasca persalinan. Miometrum lapisan tengah tersusun
sebagai anyaman dan ditembus oeh pembuluh darah. Masing-masing
serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga tiap-tiap dua buah
serabut kira-kira berbentuk angka delapan. Setelah partus, dengan
adanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan
menjepit pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk
berkontraksi ini akan menyebabkan terjadinya pendarahan pasca
persalinan (Faisal, 2008).
Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat :
a. Partus lama
b. Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil, seperti
pada hamil kembar, hidramnion atau janin besar
c. Multiparitas
d. Anestesi yang dalam
e. Anestesi lumbal
Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul karena
salah penanganan kala III persalinan, yaitu memijat uterus dan
mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta, dimana
10

sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus (Wiknjosastro,


2005).
2. Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir
setengah jam setelah janin lahir. Hal tersebut disebabkan (Wiknjosastro,
2005) :
a. Plasenta belum lepas dari dinding uterus
b. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan,
tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini
merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta belum
lepas dari dinding uterus disebabkan :
a. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta
(plasenta adhesiva)
b. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis
menembus desidua sampai miometrium (plasenta akreta)
c. Plasenta merekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis
menembus sampai di bawah peritoneum (plasenta perkreta).
Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar,
disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah
penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran kontriksi pada bagian
bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio
plasenta).
3. Sisa Plasenta
Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus tidak
dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan
perdarahan. Perdarahan postpartum yang terjadi segera jarang
disebabkan oleh retensi potongan-potongan kecil plasenta. Inspeksi
plasenta segera setelah persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin.
Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harus dieksplorasi dan
potongan plasenta dikeluarkan (Faisal, 2008).
11

4. Robekan Jalan Lahir


Robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri.
Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik
biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau vagina (Saifuddin,
2002). Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan
perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum juga perlu
dilakukan setelah persalinan.
Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah
yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir
selalu harus dievaluasi yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga
dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum, vagina,
serviks, dan robekan uterus (ruptura uteri). Perdarahan dapat dalam
bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat
arterill atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan
sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam dan
pemeriksaan spekulum setelah sumber perdarahan diketahui dengan
pasti, perdarahan dihentikan dengan melakukan ligasi (Manuaba, 1998).
5. Inversio Uteri
Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk ke
dalam kavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi perlahan
(Manuaba, 1998).
Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri,
sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri.
Peristiwa ini jarang sekali ditemukan, terjadi tiba-tiba dalam kala III atau
segera setelah plasenta keluar. Sebab inversio uteri yang tersering
adalah kesalahan dalam memimpin kala III, yaitu menekan fundus uteri
terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta yang belum terlepas
dari insersinya. Menurut perkembangannya inversio uteri dibagi dalam
beberapa tingkat (Wiknjosastro, 2005) :
a. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri, tetapi belum keluar
dari ruang tersebut
12

b. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk ke dalam vagina


c. Uterus dengan vagina semuanya terbalik, untuk sebagian besar
terletak di luar vagina.
Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas. Akan
tetapi, apabila kelainan itu sejak awal tumbuh dengan cepat, seringkali
timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok.

2.3. Penanganan Perdarahan Postpartum Primer


2.3.1. Pencegahan Perdarahan Postpartum Primer
Penanganan terbaik perdarahan postpartum adalah pencegahan.
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang
disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. Tindakan pencegahan
tidak saja dilakukan sewaktu bersalin, namun sudah dimulai sejak wanita
hamil dengan antenatal care yang baik. Pengawasan antenatal memberikan
manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan secara dini, sehingga
dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan
persalinannya. Kunjungan pelayanan antenatal bagi ibu hamil paling sedikit 4
kali kunjungan dengan distribusi sekali pada trimester I, sekali trimester II,
dan dua kali pada trimester III.
Anemia dalam kehamilan harus diobati karena perdarahan dalam
batas-batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah anemia.
Kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan yang banyak, kematian
janin dalam uterus dan solusio plasenta. Apabila sebelumnya penderita
sudah mengalami perdarahan postpartum, persalinan harus berlangsung di
rumah sakit. Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar
Hb, golongan darah dan bila mungkin tersedia donor darah. Sambil
mengawasi persalinan, dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan
penguat rahim (uterus tonikum). Setelah ketuban pecah kepala janin mulai
membuka vulva, infus dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan ampul
methergin atau kombinasi 5 satuan sintosinon (sintometrin intravena)
(Mochtar, 1995).
13

Dalam kala III uterus jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum
plasenta lepas dari dindingnya. Penggunaan oksitosin sangat penting untuk
mencegah perdarahan postpartum. Sepuluh satuan oksitosin diberikan
intramuskulus segera setelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan
plasenta. Sesudah plasenta lahir hendaknya diberikan 0,2 mg ergometrin
intramuskulus. Kadang-kadang pemberian ergometrin, setelah bahu depan
bayi lahir dengan tekanan pada fundus uteri plasenta dapat dikeluarkan
dengan segera tanpa banyak perdarahan. Namun salah satu kerugian dari
pemberian ergometrin setelah bahu depan bayi lahir adalah kemungkinan
terjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gemelli
yang tidak diketahui sebelumnya (Wiknjosastro, 2005).
Pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir dua hal harus
dilakukan, yakni menghentikan perdarahan secepat mungkin dan mengatasi
akibat perdarahan. Setelah plasenta lahir perlu ditentukan apakah disini
dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir.
Jika plasenta belum lahir (retensio plasenta), segera dilakukan tindakan
untuk mengeluarkannya (Wiknjosastro, 2005).

2.3.2. Manajemen Aktif Kala III


Manajemen aktif persalinan kala III terdiri atas intervensi yang
direncanakan untuk mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan
kontraksi rahim dan untuk mencegah perdarahan pasca persalinan dengan
menghindari atonia uteri, komponennya adalah (Shane, 2002) :
1. Memberikan obat uterotonika (untuk kontraksi rahim) dalam
waktu dua menit setelah kelahiran bayi
Penyuntikan obat uterotonika segera setelah melahirkan bayi
adalah salah satu intervensi paling penting yang digunakan untuk
mencegah perdarahan pasca persalinan. Obat uterotonika yang
paling umum digunakan adalah oxytocin yang terbukti sangat efektif
dalam mengurangi kasus perdarahan pasca persalinan dan
persalinan lama. Syntometrine (campuran ergometrine dan oxytocin)
14

ternyata lebih efektif dari oxytocin saja. Namun, syntometrine


dikaitkan dengan lebih banyak efek samping seperti sakit kepala,
mual, muntah, dan tekanan darah tinggi. Prostaglandin juga efektif
untuk mengendalikan perdarahan, tetapi secara umum lebih mahal
dan memiliki bebagai efek samping termasuk diarrhea, muntah dan
sakit perut.
2. Menjepit dan memotong tali pusat segera setelah melahirkan
Pada manajemen aktif persalinan kala III, tali pusat segera dijepit
dan dipotong setelah persalinan, untuk memungkinkan intervensi
manajemen aktif lain. Penjepitan segera dapat mengurangi jumlah
darah plasenta yang dialirkan pada bayi yang baru lahir. Diperkirakan
penjepitan tali pusat secara dini dapat mencegah 20% sampai 50%
darah janin mengalir dari plasenta ke bayi. Berkurangnya aliran darah
mengakibatkan tingkat hematokrit dan hemoglobin yang lebih rendah
pada bayi baru lahir, dan dapat mempunyai pengaruh anemia zat besi
pada pertumbuhan bayi. Satu kemungkinan manfaat bagi bayi pada
penjepitan dini adalah potensi berkurangnya penularan penyakit dari
darah pada kelahiran seperti HIV.
3. Melakukan penegangan tali pusat terkendali sambil secara
bersamaan melakukan tekanan terhadap rahim melalui perut
Penegangan tali pusat terkendali mencakup menarik tali pusat ke
bawah dengan sangat hati-hati begitu rahim telah berkontraksi, sambil
secara bersamaan memberikan tekanan ke atas pada rahim dengan
mendorong perut sedikit di atas tulang pinggang. Dengan
melakukannya hanya selama kontraksi rahim, maka mendorong tali
pusat secara hati-hati ini membantu plasenta untuk keluar. Tegangan
pada tali pusat harus dihentikan setelah 30 atau 40 detik bila plasenta
tidak turun, tetapi tegangan dapat diusahakan lagi pada kontraksi
rahim yang berikut.

2.4. Faktor yang Memengaruhi Perdarahan Postpartum Primer


15

2.4.1. Umur
Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih
dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan
yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia
dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang
dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi
seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi
normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan
terutama perdarahan akan lebih besar (Faisal, 2008).
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada
wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali
lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun.
Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun
(Wiknjosastro, 2005)
Menurut BKKBN (2007) bahwa jika ingin memiliki kesehatan
reproduksi yang prima seyogyanya harus menghindari “4 terlalu” dimana dua
diantaranya adalah menyangkut dengan usia ibu. T yang pertama yaitu
terlalu muda artinya hamil pada usia kurang dari 20 tahun. Adapun risiko
yang mungkin terjadi jika hamil di bawah 20 tahun antara lain keguguran,
preeklampsia (tekanan darah tiggi, oedema, proteinuria), eklampsia
(keracunan kehamilan), timbulnya kesulitan persalinan karena sistem
reproduksi belum sempurna, bayi lahir sebelum waktunya, Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR), fistula vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina),
fistula retrovaginal (keluarnya gas dan tinja dari vagina) dan kanker leher
rahim. T yang kedua adalah terlalu tua artinya hamil di atas usia 35 tahun.
Risiko yang mungkin terjadi jika hamil pada usia terlalu tua ini antara lain
adalah terjadinya keguguran, preeklampsia, eklampsia, timbulnya kesulitan
pada persalinan, perdarahan, BBLR dan cacat bawaan (Suryani, 2008).
Menurut penelitian Pardosi (2005), bahwa pada tingkat kepercayaan
95% ibu yang berumur di bawah 20 tahun atau di atas 30 tahun memiliki
16

risiko mengalami perdarahan postpartum 3,3 kali lebih besar dibandingkan


ibu yang berumur 20 sampai 29 tahun. Selain itu penelitian Najah (2004)
menyatakan bahwa pada tingkat kepercayaan 95% umur ibu di bawah 20
tahun dan di atas 35 tahun bermakna sebagai faktor risiko yang
memengaruhi perdarahan postpartum.

2.4.2. Pendidikan
Menurut Depkes RI (2002), pendidikan yang dijalani seseorang
memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir, dimana seseorang
yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih
rasional, umumnya terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru
dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah.
Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada
masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan (praktik)
untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan
kesehatannya. Perubahan atau tindakan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan ini didasarkan kepada
pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran (Notoatmodjo,
2003).
Wanita dengan pendidikan lebih tinggi cenderung untuk menikah
pada usia yang lebih tua, menunda kehamilan, mau mengikuti Keluarga
Berencana (KB), dan mencari pelayanan antenatal dan persalinan. Selain itu,
mereka juga tidak akan mencari pertolongan dukun bila hamil atau bersalin
dan juga dapat memilih makanan yang bergizi.
Menurut Thadeus dan Maine (1990) yang dikutip dari Suryani (2008),
dari beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan
adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan pelayanan obstetri
dan tingkat pendidikan ibu.
2.4.3. Paritas
Paritas merupakan faktor risiko yang memengaruhi perdarahan
postpartum primer. Pada paritas yang rendah (paritas 1) dapat menyebabkan
17

ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan sehingga ibu hamil tidak


mampu dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan,
persalinan dan nifas. Sedangkan semakin sering wanita mengalami
kehamilan dan melahirkan (paritas lebih dari 3) maka uterus semakin lemah
sehingga besar risiko komplikasi kehamilan (Manuaba, 1998).
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut
perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal.
Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian
perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi
kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan
obstetrik yang lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi
atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas
tinggi adalah tidak direncanakan (Wiknjosastro, 2005). Menurut penelitian
Herianto (2003) bahwa paritas lebih dari 3 bermakna sebagai faktor risiko
yang memengaruhi perdarahan postpartum primer (OR=2,87; 95% CI
1,23;6,73). Penelitian Miswarti (2007) menyatakan proporsi ibu yang
mengalami perdarahan postpartum primer dengan paritas 1 sebesar 12%,
paritas 2-3 sebesar 40% dan paritas lebih dari 3 sebesar 48%, serta terdapat
hubungan yang signifikan antara paritas dengan perdarahan postpartum
primer. Demikian juga dengan penelitian Milaraswati (2008) menyatakan
bahwa proporsi ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer dengan
paritas >4 yaitu 69% dan didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara paritas dengan perdarahan postpartum primer.

2.4.4. Jarak Antar Kelahiran


Jarak antar kelahiran adalah waktu sejak kelahiran sebelumnya
sampai terjadinya kelahiran berikutnya. Jarak antar kelahiran yang terlalu
dekat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi kehamilan. Menurut Moir
dan Meyerscough (1972) yang dikutip Suryani (2008) menyebutkan jarak
antar kelahiran sebagai faktor predisposisi perdarahan postpartum karena
persalinan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang singkat akan
18

mengakibatkan kontraksi uterus menjadi kurang baik. Selama kehamilan


berikutnya dibutuhkan 2-4 tahun agar kondisi tubuh ibu kembali seperti
kondisi sebelumnya. Bila jarak antar kelahiran dengan anak sebelumnya
kurang dari 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik.
Kehamilan dalam keadaan ini perlu diwaspadai karena ada kemungkinan
terjadinya perdarahan pasca persalinan.
Menurut penelitian Yuniarti (2004) proporsi kasus dengan jarak antar
kelahiran kurang dari 2 tahun sebesar 41% dengan OR jarak antar kelahiran
2,82. Hal ini berarti ibu yang memiliki jarak antar kelahiran kurang dari 2
tahun berisiko 2,82 kali mengalami perdarahan pasca persalinan.

2.4.5. Riwayat Persalinan Buruk Sebelumnya


Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan
hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila riwayat persalinan yang lalu
buruk petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam
persalinan yang akan berlangsung. Riwayat persalinan buruk ini dapat
berupa abortus, kematian janin, eklampsi dan preeklampsi, sectio caesarea,
persalinan sulit atau lama, janin besar, infeksi dan pernah mengalami
perdarahan antepartum dan postpartum.
Menurut Sulistiowati (2001) yang dikutip Suryani (2008), bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat persalinan buruk
sebelumnya dengan perdarahan pasca persalinan dan menemukan OR 2,4
kali pada ibu yang memiliki riwayat persalinan buruk dibanding dengan ibu
yang tidak memiliki riwayat persalinan buruk.

2.4.6. Anemia
Menurut World Health Organization (WHO) anemia pada ibu hamil
adalah kondisi dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari
11,0 gr%.
Volume darah ibu hamil bertambah lebih kurang sampai 50% yang
menyebabkan konsentrasi sel darah merah mengalami penurunan.
19

Bertambahnya sel darah merah masih kurang dibandingkan dengan


bertambahnya plasma darah sehingga terjadi pengenceran darah.
Perbandingan tersebut adalah plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin
19%. Keadaan ini tidak normal bila konsentrasi turun terlalu rendah yang
menyebabkan hemoglobin sampai <11 gr%. Meningkatnya volume darah
berarti meningkatkan pula jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk
memproduksi sel-sel darah merah sehingga tubuh dapat menormalkan
konsentrasi hemoglobin sebagai protein pengankut oksigen (Winkjosastro,
2000).
Anemia dapat mengurangi daya tahan tubuh ibu dan meninggikan
frekuensi komplikasi kehamilan serta persalinan. Anemia juga menyebabkan
peningkatan risiko perdarahan pasca persalinan. Rasa cepat lelah pada
penderita anemia disebabkan metabolisme energi oleh otot tidak berjalan
secara sempurna karena kekurangan oksigen. Selama hamil diperlukan lebih
banyak zat besi untuk menghasilkan sel darah merah karena ibu harus
memenuhi kebutuhan janin dan dirinya sendiri dan saat bersalin ibu
membutuhkan hemoglobin untuk memberikan energi agar otot-otot uterus
dapat berkontraksi dengan baik.
Pemeriksaan dan pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan
menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan dengan alat sahli dapat
digolongkan sebagai berikut (Manuaba, 1998) :
1. Hb > 11,0 gr% disebut tidak anemia
2. Hb 9,0 gr% - 10,9 gr% disebut anemia ringan
3. Hb 7,0 gr% - 8,9 gr% disebut anemia sedang
4. Hb < 6,9 gr% disebut anemia berat
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan,
yaitu pada trimester I dan trimester III.
Menurut penelitian Herianto (2003) bahwa anemia bermakna sebagai
faktor risiko yang mempengaruhi perdarahan postpartum primer. Ibu yang
mengalami anemia berisiko 2,8 kali mengalami perdarahan postpartum
20

primer dibanding ibu yang tidak mengalami anemia (OR= 2,76; 95% CI
1,25;6,12).

2.5. Pengaruh Paritas terhadap Perdarahan Postpartum Primer


Paritas atau para adalah wanita yang pernah melahirkan bayi (Manuaba,
1998). Paritas adalah keadaan seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak
yang dapat hidup (Dorland, 2002).
Menurut Prawirohardjo (2002), paritas dapat dibedakan menjadi primipara,
multipara dan grandemultipara.
1. Primipara
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak yang
cukup besar untuk hidup di dunia luar.
2. Multipara
Multipara adalah wanita yang telah melahirkan anak lebih dari satu kali
3. Grandemultipara
Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau
lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan.
Kematian maternal lebih banyak terjadi dalam 24 jam pertama postpartum
yang sebagian besar karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Sebab yang paling
umum dari perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pascapersalinan atau
yang biasa disebut perdarahan postpartum primer adalah kegagalan rahim untuk
berkontraksi sebagaimana mestinya setelah melahirkan, plasenta yang tertinggal
dan uterus yang turun atau inversi. Dari beberapa sebab perdarahan tersebut, salah
satu faktor pemicunya adalah paritas (Milaraswati, 2008).
Pada paritas yang rendah (paritas 1), menyebabkan ketidaksiapan ibu dalam
menghadapi persalinan sehingga ibu hamil tidak mampu dalam menangani
komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas. Pada paritas tinggi
(lebih dari 3), fungsi reproduksi mengalami penurunan, otot uterus terlalu regang dan
kurang dapat berkontraksi dengan baik sehingga kemungkinan terjadi perdarahan
pascapersalinan menjadi lebih besar (Manuaba, 1998).
21

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode diskriptif dan data dianalisis dengan
menggunakan statistik deskriptif dengan uji t. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada
112 wanita yang bersalin di Omolbanin Mashhad. Penelitian dilakukan dari bulan
November 2012 hingga Mei 2013 tanggal.

3.2. Partisipan
Partisipan yang mengikutri penelitian memiliki kriteria inklusi yaitu :
1. Wanita yang melakukan persalinan di omolbanin mashhad dalam kurun
waktu november 2012 hingga mei 2013
2. Usia kehamilan dari 37-42 minggu
3. Kehamilan tunggal dengan cephalic presentasi
4. Berat neonatal dari 2500 - 4000 g
5. Evaluasi VT pelebaran4 - 6 cm
6. Kontraksi uterus yang teratur berlangsung 30 - 90 detik, dan 2 - 5
kontraksi
setiap 10 menit,
Tidak ada faktor risiko dari ibu (baik dari kebidanan atau kondisi medis
lainya).

3.3. Prosedur Penelitian


Penelitian deskrptif ini dilakukan pada 112 wanita di Omolbanin Maternity
Departement of Mashhad dalam periode 6 bulan pada bulan November 2012 hingga
mei 2013. Kriteria Inklusi :
a. ±5 hari sebelum partus
b. Usia kehamilan 37-42 minggu
c. Kehamilan tunggal dengan presentasi kepala
d. Berat neonates 2500-4000 gram
22

e. Evaluasi VT 4-6 cm dengan kontraksi uterus yang teratur yang


berlangsung 2-5x.10’.30-90’’
f. Ibu tanpa faktor resiko
Dalam penelitian ini dimulai dengan menjelaskan procedure penelitian,
setelah mengambil informed consent, peneliti menyeleksi dan memilih responden
yang sesuai dengan kriteria inklusi. Kemudian responden dilakukan wawancara
untuk melengkapi data demografi melalui form pengkajian kebidanan. Ketika
penelitian dimulai, pengisian catatan perkembangan, partograf berdasarkan hasil
observasi peneliti, tanda-tanda vital dan kontraksi harus juga tercatat.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil seleksi kasus, observasi dan
bentuk wawancara dimana dibagi dalam beberapa tahap.
a. Tahap Pertama : Mengisi checklist kriteria inklusi
b. Tahap Kedua : wawancara dan observasi. Dimana bentuk wawancara
meliputi : data demografi, karakteristik, riwayat kehamilan sebelumnya,
dan riwayat kehamilan saat ini. Bentuk observasi meliputi : informasi 4
kala persalinan, observasi tanda-tanda vital dan kontraksi dari kala 1
sampai kala 4 persalinan.
c. Tahap Ketiga : Setelah pengeluaran janin, plasenta dan sisa sisa
membrane secara lengkap dengan maneuver brent dan menekan pada
uterus untuk menghalau pembekuan plasenta, underpad diletakkan
dibawah ibu postpartum kemudian ditimbang secara hati-hati. Setelah itu
10 IU oksitosin di suntik secara IM (Intramuscular) ke dalam otot gluteal.
Jika area perineum memerlukan repair karena episiotomy atau rupture
semua alas yang digunakan ditimbang sebelum, selama dan sesudah
repair dan pada proses tampon serviks. Semua data yang didapat
dicatat dalam bentuk lembar observasi.
d. Tahap Keempat : kuantitas perdarahan diperkirakan oleh bidan yang
bertanggung jawab dengan menggunakan Pedoman Nasional dan
kemudian underpad yang menjadi alas ibu postpartum diganti dan
ditimbang oleh peneliti pada 1 jam pertama dan 1 jam kedua setelah
melahirkan. Underpad ditimbang dengan menggunakan Bellini Scale
(error : 0,1 dalam 2 kg) untuk estimasi kehilangan darah. Selanjutnya
23

bidan diminta untuk menandai gambar dibawah ini berdasarkan


perdarahan pada 1 jam pertama dan 1 jam kedua setelah melahirkan.
Data ini dicatat dalam bentuk observasi untuk menentukan derajat
perdarahan.

Gambar 3.1 Gambar Estimasi Perdarahan Pascapersalinan National


Guideline

3.4. Program Intervensi


1. Penelitian ini dilakukan pada 112 wanita untuk dalam waktu enam bulan,
dari bulan November 2012 hingga Mei 2013.
2. Metode untuk pengambilan sample adalah dengan kriteria inklusi yaitu,
kurang dari lima pengiriman, usia kehamilan 37-42 minggu, kehamilan
tunggal dengan presentasi kepala, berat badan bayi dari 2500-4000
gram, PAP 4 - 6 cm, dengan kontraksi uterus yang teratur yang
berlangsung 30 - 90 detik, dan 2 - 5 kontraksi setiap 10 menit, tanpa
faktor risiko ibu (tidak ada bidan atau kondisi medis).
3. Para wanita diberikan penjelasan mengenai tujuan dan metode
penelitian. Kemudian mengambil form informed consent dan dilengkapi
sampai selesai.
4. Kemudian para wanita diwawancarai untuk melengkapi data demografi
dan data di form obstetric.
5. Alat pengumpulan data dilakukan dengan lembar checklist dari seleksi
kasus, observasi dan wawancara. Checklist pertama berisi kriteria
24

seleksi kasus. Checklist kedua berisi dua bentuk: bentuk wawancara dan
observasi
6. Bentuk wawancara meliputi tiga bagian: karakteristik demografi, sejarah
kehamilan sebelumnya, dan riwayat kehamilan saat ini. Bentuk observasi
termasuk empat bagian: Informasi tentang empat tahap persalinan. Dan
yang terakhir form kontrol untuk TTV dan kontraksi
7. Setelah janin, plasenta, dan membran oleh manuver Brent, dan
gumpalan darah plasenta keluar, kemudian 10 unit oksitosin disuntik
intramuskular (IM) ke dalam otot gluteal. Jika daerah perineum
diperlukan perbaikan karena episiotomi atau ruptur, semua kain kassa
ditimbang sebelum, selama, dan setelah perbaikan dan juga tampon.
Kemudian dicatat dalam bentuk observasi.
8. Pada tahap keempat, kuantitas perdarahan diperkirakan oleh bidan yang
bertanggung jawab, menggunakan Pedoman Nasional yang disediakan
oleh Dinas Kesehatan Ibu. Bidan diminta untuk menandai gambar berikut
berdasarkan perdarahan di jam pertama dan kedua setelah melahirkan
[Gambar 1]
9. Perlu dicatat bahwa jika ibu melahirkan bayi dan memiliki perdarahan
lebih dari 500 ml dan tidak mengalami intervensi kontraksi uterus,
seperti, pijat manual, tambahan resep oksitosin atau Methergine, maka
mereka dikeluarkan dari penelitian. Kasus-kasus ini dirujuk ke dokter
kandungan

3.5. Pengumpulan Data


Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif yang dilakukan pada 112 wanita
di rumah sakit bersalin di omolbanin, Mashald yang dilakukan selama 6 bulan dari
bulan November 2012 hingga bulan Mei 2013. Kriteria inklusi dalam penelitian ini
adalah pasien post partum (5 menit setelah melahirkan), usia kehamilan 37-42
minggu, kehamilan tunggal dengan presentasi kepala, bayi dengan berat badan lahir
2500-4000 g, eval Vt 4 - 6 cm pada saat masuk rumah sakit, dengan kontraksi
25

uterus yang teratur yang berlangsung selama 30 - 90 detik, dan kontraksi 2-5 kali
setiap 10 menit, dengan ibu tanpa factor resiko.
Alat ukur utuk penelitian ini menggunakan metode seleksi kasus, wawancara
dan observasi. Alat ukur untuk penelitian ini menggunakan pedoman Nasional yang
diberikan oleh dinas kesehatan yang terdiri dari beberapa kriteria :
1. Perdarahan sedikit adalah kehilangan darah dan lochia sekitar 10 ml
atau kurang atau underpad yang terken darah kurang dari 5 cm.
2. Perdarahan Ringan adalah kehilngan darah dan Lochia sekitar 10 - 25
ml atau underpad yang terkena darah kurang dari 10 cm.
3. Perdarahan Moderat adalah kehilangan darah dan Lochia sekitar 25 - 50
ml atau underpad terkena darah kurang dari 15 cm
4. Perdarahan Berat / berlimpah jika terjadi perdarahan dan Lochia sekitar
50 - 80 ml atau satu underpad yang terkena darah dalam dua jam.
5. Perdarahan berlebihan adalah ketika satu undepad penuh darah dalam
waktu 15 menit atau darah terakumulasi di bawah ibu post partum.
Gumpalan yang keluar lebih besar dari lemon atau terjadi perdarahan
tiba-tiba yang menjadi indikator perdarahan yang berlebihan.
Setelah data terkumpul, lalu data dianalisis dengan menggunakan statistik
deskriptif dan uji t. Dengn Tingkat signifikansi P <0,05.

3.6. Hasil Penelitian


Subyek dalam penelitan ini adalah wanita berusia sekitar 25
tahun. Sebanyak 33% dari subyek penelitian berpendidikan sekolah tinggi dan
sebanyak 97,3% merupakan seorang pembantu rumah tangga; 49% dari subyek
adalah primipara, 29,5% memiliki dua anak, dan 21,5% memiliki tiga atau lebih anak;
51,8% dari subyek tidak pernah menjalani persalinan normal sebelumnya, 32,1%
pernah menjalani persalinan normal sebanyak satu kali, 14,2% pernah menjalani
persalinan normal sebanyak dua kali, dan 1,9% pernah menjalani persalinan normal
sebanyak tiga atau lebih; 7,1% dari suyek pernah menjalani kuret sebelumnya dan
92,9% menyatakan tidak ada riwayat kuret sebelumnya. Tidak ada satupun subyek
penelitian yang memiliki riwayat infeksi cairan ketuban ataupun adhesi plasenta.
26

Rata-rata usia kehamilan adalah 39-40 minggu. Rata-rata jarak kehamilan antara 4-
5 tahun.
Menurut hasil penelitian, perbedaan yang signifikan ditemukan antara
taksiran kehilangan darah berdasarkan metode pembobotan dan pedoman nasional
pada jam pertama setelah melahirkan yaitu menurut metode pembobotan sebesar
62,68 cc sedangkan menurut pedoman nasional sebesar 45,31 cc (tabel 3.1).

Tabel 3.1 Perbandingan taksiran perdarahan postpartum menggunakan metode


pembobotan dan menurut pedoman nasional pada perdarahan postpartum 1 jam setelah
persalinan.
No. Variabel
Mean T test df p
Taksiran kehilangan darah
1 Metode Gravimetri 62,68 -25,415 111 0,000
2 Pedoman Nasional 42,31

Ada juga perbedaan yang signifikan antara taksiran kehilangan darah


berdasarkan metode pembobotan dan pedoman nasional pada jam kedua yaitu
menurut metode pembobotan sebesar 41,26 cc sedangkan menurut pedoman
nasional sebesar 30,24 cc (tabel 3.2).

Tabel 3.2. Perbandingan taksiran perdarahan postpartum menggunakan metode


pembobotan dan menurut pedoman nasional pada perdarahan postpartum 2 jam setelah
persalinan
No. Variabel
Mean T test df p
Taksiran kehilangan darah
1 Metode Gravimetri 41,26 -20,064 111 0,000
2 Pedoman Nasional 30,24

3.7. Diskusi
27

Perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab utama dari kematian ibu


terutama dinegara berkembang. Sekitar 536.000 kematian ibu di dunia disebabkan
oleh perdarahan pasca persalinan. Perdarahan selama persalinan biasanya diukur
oleh bidan/perawat dengan melihat perdarahan pada pembalut/underpad (visual
metode), namun hal tersebut memiliki resiko tingkat kesalahan yang tinggi. Oleh
karena itu jurnal ini ingin membandingkan antara penggunaan metode visual yang
sesuai dengan pedoman nasional dengan metode penimbangan untuk
memperkirakan jumlah darah yang hilang pasca persalinan. Berdasarkan hasil
penelitian didapatkan bahwa metode penimbangan lebih akurat dalam
memperkirakan jumlah perdarahan postpartum dibandingkan dengan metode visual.
Dimana pada penelitian Kandri et al disebutkan perkiraan jumlah kehilangan darah
dengan metode visual menunjukkan hasil 30% lebih sedikit dibandingkan dengan
metode penimbangan.
Dalam hasil jurnal ini didapatkan perbedaan yang signifikan antara
penggunaan metode visual dengan metode penimbangan ( p= 0,000). Kehilangan
darah pada satu jam pertama post partum menggunakan metode visual didapatkan
13.848 cc sedangkan dengan metode penimbangan didapatkan 16.858 cc, dan pada
dua jam pertama post partum didapatkan kehilangan darah 8439 cc dengan metode
visual sedangkan dengan metode penimbangan didapatkan 10.518 cc. Perbedaan
yang signifikan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu yang pertama
metode visual ini memiliki tingkat subjektifitas yang tinggi dimana jika dilakukan oleh
orang yang belum berpengalaman atau belum terlatih kesalahan dalam
memperkirakan kehilangan darah sering terjadi. Hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya oleh Bose et al, dimana disebutkan hasil pengukuran yang buruk
karena kurangnya edukasi/latihan dalam memperkirakan perdarahan dengan
melihat kondisi pembalut. Kedua, faktor kualitas dari setiap pembalut yang meliputi:
daya serap dan ukuran pembalut berbeda-beda sehingga akan mempengaruhi hasil.
Jadi meskipun dalam metode visual telah terdapat skala untuk menentukan jumlah
perdarahan dengan melihat panjang pembalut yang terisi darah, namun tetap
hasilnya masih kurang akurat dibandingkan dengan metode penimbangan.
28

Pada studi ini dijelaskan bahwa metode penimbangan ini sangat sederhana
dan mudah untuk diterapkan karena tidak membutuhkan keahlian khusus dan
peralatan yang banyak hanya membutuhkan wadah penampung dan timbangan. Hal
ini merupakan kelebihan dari metode ini dibandingan dengan metode visual. Namun
disebutkan juga bahwa terdapat beberapa kekurangan dari metode penimbangan ini
antara lain : memakan waktu karena harus menimbang pembalut sebelum dan
setelah digunakan dan beberapa tenaga kesehatan tidak menyukai prosedur ini
karena dianggap infeksius. Beberapa kelemahannya juga seperti kesalahan
pengukuran karena disebabkan tercampurnya cairan darah dengan urin di dalam
pembalut sehingga dapat mempengaruhi hasil penimbangan. Namun, dalam
penelitian ini hal tersebut dapat dikontrol dengan mengosongkan kandung kemih
sebelum dipasangkan pembalut. Pada penelitian oleh Lee et al yang
membandingkan antara penggunaan metode gravimetri (ditimbang) dengan metode
laboratorium untuk memperkirakan perdarahan selama operasi dan disebutkan
bahwa kedua metode ini sangat berhubungan yang mengindikasikan bahwa
penggunaan metode penimbangan merupakan metode yang tepat untuk mengukur
kehilangan darah.
Mengkaji faktor risiko dan memperkirakan jumlah perdarahan yang hilang
pasca persalinan merupakan hal penting yang dibutuhkan untuk mencegah kondisi
fatal yang bisa terjadi serta mencegah keterlambatan diagnosis dan keterlambatan
penanganan perdarahan. Diagnosa keperawatan yang dapat muncul dengan
perdarahan pasca persalinan diantaranya resiko kekurangan volume cairan dengan
kriteria hasil pada NOC : blood loss severity dengan salah satu indikatornya ialah
visible blood loss dan intervensi keperawatan berdasarkan NIC : fluid management
yakni count or weigh diapers, as appropriate. Sehingga pengukuran jumlah
kehilangan darah merupakan salah satu intervensi mandiri perawat yang perlu
diperhatikan. Apabila masalah keperawatan risiko kekurangan volume cairan gagal
diatasi, maka akan menimbulkan masalah keperawatan yang lain yakni risiko syok
yang bisa berujung pada kematian ibu post partum. Oleh karena itu metode
penimbangan dalam penelitian dalam jurnal ini dapat menjadi pertimbangan perawat
29

dalam menentukan metode yang digunakan dalam memperkirakan kehilangan


darah.
3.8. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
3.8.1. Kelebihan Jurnal
1. Dalam jurnal ini dijelaskan bagaimana cara kerja masing-masing
metode yang digunakan yaitu weighting method dan National
Guideline yang digunakan dalam manajemen postpartum
haemorrage
2. Pengaplikasian jurnal ini memungkinkan untuk diterapkan di
Indonesia.
3. Penelitian jurnal ini dapat memberikan pengetahuan pada
petugas kamar bersalin mengenai metode yang dapat
digunakan dalam pengukuran jumlah perdarahan ibu post
partum
4. Dalam jurnal ini telah dijelaskan batasan waktu maksimal dalam
pengukuran perdarahan pada kedua metode
5. Metode yang digunakan dalam penelitian jurnal merupakan
metode yang tidak membutuhkan banyak keahlian.
3.8.2. Kekurangan Jurnal
1. Dalam jurnal ini tidak dijelaskan mengenai standart yang
digunakan dalam pengkonversian angka pada National
guideline.
2. Pada poin pembahasan tidak dijelaskan faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi mengapa metode pengukuran (weighting
method) dianggap lebih akurat.
3. Dalam penelitian ini tidak diberikan penjelasan secara spesifik
mengenai jenis timbangan yang digunakan dalam pengukuran
perdarahan postpartum.

3.9. Pembahasan Perbandingan dengan Jurnal Lain


30

No. Penulis Tahun, Judul Isi


Negara
1 Hanan M.F. Al 2010 Visual Penelitian pada jurnal ini
Kadri, Arab estimation bertujuan untuk
Bedayah K. Al Saudi versus membandingkan keakuratan
Anazi, Hani M. gravimetric jumlah perdarahan post partum
Tamim measurement of hasil estimasi oleh petugas
postpartum kesehatan (dengan
blood loss : a membandingkan estimasi dari
prospective dua penyedia layanan
cohort study kesehatan) dibandingkan
dengan pengukuran
menggunakan metode
gravimetrik.
Hasilnya terdapat perbedaan
yang signifikan antara estimasi
petugas kesehatan dan metode
gravimetrik, dimana terjadi
kesalahan pengukuran
sebanyak 30% dari
penggunaan estimasi
perdarahan oleh petugas
kesehatan dibandingkan
dengan menggunakan metode
gravimetrik. Oleh karena itu
penggunaan pedoman dalam
memperkirakan jumlah
perdarahan postpartum lebih
memberikan hasil yang akurat.

2 Sharon 2008 Improved Penelitian ini dilakukan karena


Maslovitz, Gad Israel accuracy of banyaknya kesalahan tenaga
31

Barkai, postpartum kesehatan dalam


Josseph B. blood loss memperkirakan jumlah
Lessing, estimation as perdarahan yang terjadi pada
Amitai Zip, assessed by post partum. Tujuan penelitian
Ariel Mani simulation ini adalah untuk menilai akurasi
perkiraan kehilangan darah
oleh tim obstetri selama
skenario simulasi Perdarahan
postpartum (PPH). Hasilnya
setelah dilakukan penelitian ini
ternyata Akurasi estimasi
kehilangan darah selama
simulasi PPH adalah 50-60%.
Pengukuran pada interval yang
telah ditentukan secara
signifikan meningkatkan akurasi
estimasi tersebut.

3.10. Penerapan di Indonesia


Di Indonesia, menilai jumlah perdarahan masih banyak dilakukan dengan
cara visual seperti halnya yang terdapat di dalam jurnal. Hal tersebut terkait
dengan efisiensi dalam hal sarana prasarana serta waktu. Namun, seperti yang
direkomendasikan oleh peneliti jurnal, metode penghitungan visual kurang akurat
karena dipengaruhi subyektifitas bidan/perawat dimana menurut Kadri et al,
metode visual 30% kurang akurat. Faktor-faktor yang mempengaruhi masih
banyaknya digunakan metode visual di Indonesia oleh perawat maupun bidan
diantaranya seperti yang sudah dijelaskan di dalam jurnal yakni perlunya adanya
tambahan timbangan di ruangan, perlunya waktu lebih yang disediakan oleh
petugas untuk menghitung setiap pembalut sebelum dan sesudah post partum,
serta kemauan dari petugas sendiri yang tidak mau terlalu terpajan oleh darah ibu
nifas dengan HPP. Oleh karena itu, belum banyak yang menerapkan teknik
penimbangan khususnya dengan menggunakan Bellini scale (dengan tingkat
32

kesalahan 0,1 dalam 2 kg). Untuk meningkatkan kemampuan penilaian klinis


perawat maternitas maupun bidan dalam menentukan jumlah perdarahan post
partum, perlu ditingkatkan sosialisasi terkait metode lain, yakni metode
penimbangan.
Penghitungan jumlah perdarahan post partum dapat membantu untuk
menekan angka kematian maternal. Di Indonesia sendiri, angka kejadian HPP 5-
15% di Indonesia. Masih tingginya angka HPP di Indonesia adalah salah satunya
terjadi karena keterlambatan diagnosis. Penggunaan metode timbangan di
Indonesia digunakan salah satunya dalam menimbang output bayi yang biasanya
diterapkan di ruang perinatologi. Prinsip yang digunakan pun sama yakni
menggunakan timbangan dengan menimbang pads/diapers sebelum dan
sesudah. Walaupun sudah pernah diterapkan pada ruang perinatologi, penerapan
penimbangan pads/diapers masih sangat jarang diterapkan di ruang obstetri.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus HPP diantaranya adalah
risiko kekurangan volum cairan. Hal tersebut didasarkan pada salah satu kriteria
hasil pada NOC, yakni blood loss severity yang di dalamnya terdapat indikator
visible blood loss. Pemantauan perdarahan post partum dengan metode
menimbang pada jurnal ini sesuai dengan intervensi pada NIC fluid management
yakni count or weigh diapers, as appropriate.
Apabila masalah keperawatan risiko kekurangan volume cairan gagal
diatasi, maka akan menimbulkan masalah keperawatan yang lain yakni risiko syok
yang bisa berujung pada kematian ibu post partum. Masalah keperawatan syok
dapat diselesaikan melalui asuhan keperawatan dengan intervensi NIC Shock
Management : Volume melalui poin monitor for sudden loss of blood, severe
dehydration, and persistent bleeding.
Perhitungan perdarahan post partum dengan menggunakan metode
penimbangan sangat mungkin diaplikasikan di Indonesia karena hanya
membutuhkan peralatan yang tidak rumit seperti timbangan dan kontainer. Namun
perlu dipertimbangkan kembali jenis timbangan yang digunakan karena di dalam
jurnal tidak disebutkan secara spesifik. Selain itu, terkait kualitas dari pembalut
sendiri yang memiliki perbedaan dalam hal ukuran dan tingkat penyerapan. Perlu
33

dibuat suatu parameter yang menkonversikan berbagai jenis pembalut agar saat
dilakukan penimbangan memiliki angka yang sama. Perawat maupun bidan juga
perlu mendapatkan pemaparan khusus mengenai metode penimbangan
mengingat angka kejadian HPP yang masih tinggi dan penghitungan perdarahan
post partum yang belum terpadu.