Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CA Cerviks
Di Ruang 9 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
Dwi Handayani S.
Fitri Octavia H.P
Ida Maryati Tri R.
Adelia Rochma

PKRS
RSU Dr.SAIFUL ANWAR
MALANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan Acara Penyuluhan yang berjudul “Ca Cerviks” di Ruang Rawat Inap 9 RSUD
Dr. Saiful Anwar Malang yang akan dilaksanakan pada hari KAMIS tanggal 7 Januari 2015
yang disusun oleh:

MAHASISWA:

Dwi Handayani Sundoro


Fitri Octavia H.P
Ida Maryati Tri R.
Adelia Rochma

Telah disetujui dan disahkan pada:


Hari :
Tanggal :

Telah Disetujui Oleh:

Mengetahui,
Pembimbing Klinik Kepala Urusan Ruang 9

_________________________ _______________________
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Ca Cerviks
Waktu : 30 menit
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien
Hari/Tanggal : Kamis, 7 Januari 2015
Tempat : Ruang 9
Metode : 1. Pengarahan (ceramah)
2. Tanya Jawab
Media : Proyektor (PPT)

A. LATAR BELAKANG
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim / serviks yang
abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan ke arah displasia atau mengarah pada
keganasan. Kanker ini biasanya menyerang wanita yang pernah atau sedang berada
dalam status sexually active. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur,
terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35 - 55 tahun. Akan tetapi, tidak
mustahil wanita yang mudapun dapat menderita penyakit ini, asalkan memiliki faktor
risikonya.
Perkembangan neoplasma ganas di serviks tidak menghalangi untuk
terjadinya kehamilan. Terdapat kemungkinan 1 di antara 3000 kehamilan bagi seorang
wanita penderita kanker serviks. Namun, adanya kanker serviks memberi pengaruh yang
tidak baik dalam kehamilan, persalinan, dan nifas. Kanker serviks dapat memicu
terjadinya abortus akibat pendarahan dan hambatan dalam pertumbuhan janin karena
pertumbuhan neoplasma tersebut. Apabila penyakit ini tidak diobati lebih lanjut, pada
kira-kira dua pertiga usia kehamilan penderita menjelang cukup bulan, dapat terjadi
kematian janin. (Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan, Ilmu Kebidanan.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo)
Pengaruh kanker serviks pada waktu persalinan, antara lain kekakuan serviks
karena jaringan kanker yang terbentuk, akan menghambat proses persalinan (khususnya
Kala I). Bila tumor yang terbentuk lunak dan hanya terbatas pada sebagian serviks,
pembukaan pada waktu persalinan dapat menjadi lengkap dan bayi bisa lahir spontan.
Dalam masa nifas, sering terjadi infeksi.  
Adapun penyebab pasti terjadinya perubahan sel-sel normal mulut rahim
menjadi se-sel yang ganas tidak diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi perubahan tersebut, antara lain : hubungan seksual pada usia
dini  (< 17 tahun), hubungan seksual multi partner, infeksi HPV (Human Papilloma Virus),
dan genetik (namun, persentasenya sangat kecil).
Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu :
usia, melahirkan lebih dari 3x, personal hygiene, status sosial ekonomi, terpajan virus
terutama virus HIV, dan kebiasaan merokok.
Beberapa gejala yang bisa timbul pada penderita kanker serviks, antara lain :
keputihan atau keluarnya cairan encer dan berbau busuk dari vagina, pendarahan,
hematuria, anemia, kelemahan pada ekstremitas bawah, timbul nyeri panggul (pelvis)
atau di perut bagian bawah. Pada stadium lanjut, badan menjadi lebih kurus, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan rektum, bahkan bisa menyebabkan
terbentuknya vesikovaginal atau rektovaginal, hingga timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.
Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher
rahim, sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang.
Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari
jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Kematian pada kasus
kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada
dalam stadium lanjut.
(Sjaifoellah Noer. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2.Jakarta :
FKUI)
Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan
penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Kini, cara terbaik yang bisa
dilakukan untuk mencegah kanker ini adalah melalui skrining yang dinamakan Pap
Smear. Pap smear adalah suatu pemeriksaan sitologi untuk mengetahui adanya
keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan
tidak menimbulkan rasa sakit. Dengan adanya upaya deteksi dini ini, diharapkan angka
kejadian kanker serviks dapat ditekan pada tahun - tahun berikutnya.

B. Tujuan instruksional umum


Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, pasien dan keluarga pasien dapat
mengetahui, memahami tentang Ca Cerviks
C. Tujuan instruksional khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini, pasien dan keluarga pasien mampu:
1. Mengetahui, memahami definisi ca cerviks

2. Mengetahui dan memahami penyebab ca cerviks

3. Mengetahui dan memahami tanda-gejala ca cerviks

4. Mengetahui dan memahami pencegahan ca cerviks


5. Mengetahui dan memahami penanganan ca cerviks

D. Metode
a. Ceramah
b. Diskusi

E. Analisa Situasi
a. Peserta
Jumlah peserta diperkirakan sebanyak 5 - 10 orang merupakan keluarga atau
pasien dari R.9

b. Pengajar / Fasilitator
Fasilitator adalah mahasiswa profesi jurusan keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya Malang

F. Alat Bantu dan Media


1. Leaflet
2. LCD

G. Materi Pembelajaran (terlampir)


a. Pengertian Ca Cervix
b. Penyebab Ca Cervix
c. Tanda Gejala Ca Cervix
d. Pengobatan Ca Cervix
e. Pencegahan Ca Cervix

H. KEGIATAN
Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan peserta Metode Media
Kegiatan
Pendahuluan 5 menit 1. Menjelaskan 1. Mendengarka
cakupan materi n dan
dan berkenalan memperhatika
2. Menjelaskan n
tujuan diberikan 2. Mendengarka
penyuluhan n dan
tentang ca cerviks memperhatika
3. Menggali tingkat n
pengetahuan awal 3. Menjawab
peserta pertanyaan
Penyajian 15 menit 1. Menjelaskan 1. Mendenga ceramah Proye
pengertian ca rkan dan ktor
cerviks memperh (PPT)
2. Menjelaskan atikan dan
penyebab ca cerviks leaflet
3. Menjelaskan tanda-
gejala ca cerviks
4. Menjelaskan
penanganan ca
cerviks
5. Menjelaskan
pencegahan ca
cerviks

Penutup 10 menit Menutup pertemuan 1. Menjawab Diskusi


1. Membuka sesi 2. Bertanya Ceramah
tanya jawab jika 3. , Tanya,
masih ada yang Memperhatikan Jawab
kurang jelas
2. Memberikan
pertanyaan kepada
pesrta
3. Meminta klien atau
salah satu keluarga
untuk mereview
materi yang telah
disampaikan
4. d. Menyimpulkan
materi yang
diberikan

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media: leaflet dan LCD
d. Ketersediaan ruangan
2. Evaluasi Proses
a. Fase dilalui sesuai waktu yang direncanakan
b. Mendapat respon dari audiens berupa:
1) Bertanya hal yang belum diketahui
2) Menjawab pertanyaan penyuluh dengan kriteria 75% jawaban yang
disebutkan benar
c. Suasana penyuluhan tertib
d. penyaji menguasai materi dan mampu melakukan komunikasi 2 arah dan
menguasai materi
3. Evaluasi Hasil
Kriteria hasil:
Peserta mampu menjelaskan:

a. Pengertian Ca Cervix
b. Penyebab Ca Cervix
c. Tanda Gejala Ca Cervix
d. Pengobatan Ca Cervix
e. Pencegahan Ca Cervix
Materi Penyuluhan
1. DEFINISI dan KLASIFIKASI
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di
daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa
kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher
rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah
rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker leher
rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher
rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel
kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Klasifikasi kanker serviks
Penentuan tahapan klinis penting dalam memperkirakan penyebaran penyakit,
membantu prognosis rencana tindakan, dan memberikan arti perbandingan dari metode
terapi. Tahapan stadium klinis yang dipakai sekarang ialah pembagian yang ditentukan
oleh The International Federation Of Gynecologi And Obstetric (FIGO) tahun 1976.
Pembagian ini didasarkan atas pemeriksaan klinik, radiologi, suktase endoserviks dan
biopsi. Tahapan –tahapan tersebut yaitu :
a. Karsinoma pre invasif
b. Karsinoma in-situ, karsinoma intraepitel
c. Kasinoma invasive
Tabel 2.1. Stadium kanker serviks menurut klasifikasi FIGO (Wiknyosastro (1997)

Jenis histopatologis pada kanker serviks


Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu ± 90% merupakan
karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma 5% dan jenis lain sebanyak 5%.
Karsinoma skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang berasal dari
skuamosa dengan pertandukan atau tidak, dan kadang-kadang tumor itu sendiri
berdiferensiasi buruk atau dari sel-sel yang disebut small cell, berbentuk kumparan atau
kecil serta bulat seta mempunyai batas tumor stroma tidak jelas. Sel ini berasal dari sel
basal atau reserved cell. Sedang adenokarsinoma terlihat sebagai sel-sel yang berasal
dari epitel torak endoserviks, atau dari kelenjar endoserviks yang mengeluarkan mukus
(Notodiharjo, 2002). Klasifikasi histologik kanker serviks ada beberapa, di antaranya :
a. Skuamous carcinoma
• Keratinizing
• Large cell non keratinizing
• Small cell non keratinizing
• Verrucous

b. Adeno carcinoma
• Endocervical
• Endometroid (adenocanthoma)
• Clear cell - paramesonephric
• Clear cell - mesonephric
• Serous
• Intestinal
c. Mixed carcinoma
• Adenosquamous
• Mucoepidermoid
• Glossy cell
• Adenoid cystic
d. Undifferentiated carcinoma
e. Carcinoma tumor
f. Malignant melanoma
g. Maliganant non-epithelial tumors
• Sarcoma : mixed mullerian, leiomysarcoma, rhabdomyosarcoma
• Lymphoma
2. ETIOLOGI dan FAKTOR RISIKO
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut lesi
prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker leher rahim
adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Saat ini terdapat 138 jenis HPV yang
sudah dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan
seksual. Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang menimbulkan kanker, sedangkan
tipe yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah
dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV
tipe risiko tinggi yang dapat memicu kanker. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan
melalui hubungan seksual adalah tipe 7,16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68,
69, dan mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim
disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Yang membedakan antara HPV risiko tinggi dengan
HPV risiko rendah adalah satu asam amino saja. Asam amino tersebut adalah aspartat
pada HPV risiko tinggi dan glisin pada HPV risiko rendah dan sedang (Gastout et al,
1996). Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker leher
rahim. Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki resiko kemungkinan
terkena kanker leher rahim sebesar 5%. Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat
perbedaan probabilitas terjadinya kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV-18
baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan (Bosch et al, 2002). Akan tetapi sifat
onkogenik HPV-18 lebih tinggi daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana
transformasi HPV-18 adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16. Selain itu,
didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat meningkatkan virulensi virus
dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16 berhubungan dengan skuamous cell
carcinoma serviks sedangkan HPV-18 berhubungan dengan adenocarcinoma serviks.
Prognosis dari adenocarcinoma kanker serviks lebih buruk dibandingkan squamous cell
carcinoma. Peran infeksi HPV sebagai faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati
kesepakatan, tanpa mengecilkan arti faktor risiko minor seperti umur, paritas, aktivitas
seksual dini/prilaku seksual, dan meroko, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain dan
beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan HSV-2 (Hacker,
2000).
Faktor resiko kanker leher rahim Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi
kanker serviks yaitu :
• Usia
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua
usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim.
Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari
meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta
makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.
• Usia pertama kali menikah.
Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan
hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar
daripada mereka yang menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya
dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan
hanya
dilihat dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel
mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel
mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita
yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah
usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks.
Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan
terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk
zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah
sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh
lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati,
sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah
sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas
20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.
• Aktivitas seksual
Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan.
Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah
satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan
mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga
menjadi kanker.
• Penggunaan antiseptik.
Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun
deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.
• Merokok
Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker
serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan,
lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada
di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping
meropakan ko-karsinogen infeksi virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir
sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-
paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah
nikotin yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.
• Penyakit kelamin
Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena penyakit akibat
hubungan seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus HPV diduga sebagai
penyebab utama terjadinya kanker leher rahim sehingga wanita yang mempunyai
riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker leher rahim.
• Paritas (jumlah kelahiran).
Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak
persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan
yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena
penyakit kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan
berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya
dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus
(HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
• Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama.
Penggunaan kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari 4 tahun
dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi oral mungkin
dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim karena jaringan leher rahim merupakan
salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid perempuan. Hingga tahun 2004,
telah dilakukan studi epidemiologis tentang hubungan antara kanker leher rahim dan
penggunaan kontrasepsi oral. Meskipun demikian, efek penggunaan kontrasepsi oral
terhadap risiko kanker leher rahim masih kontroversional. Sebagai contoh, penelitian
yang dilakukan oleh Khasbiyah (2004) dengan menggunakan studi kasus kontrol.
Hasil studi tidak menemukan adanya peningkatan risiko pada perempuan pengguna
atau mantan pengguna kontrasepsi oral karena hasil penelitian tidak memperlihatkan
hubungan dengan nilai p>0,05.
• Defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi tertentu seperti
betakaroten dan vitamin A serta asam folat, berhubungna dengan peningkatan resiko
terhadap displasia ringan dan sedang.. Namun sampasaat ini tdak ada indikasi bahwa
perbaikan defisensi gizi tersebut akan enurunkan resiko.
• Sosial ekonomi
Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan hubungan yang kuat antara
kejadian kanker serviks dengan tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini juga
diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada
wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan rendah. Faktor defisiensi nutrisi,
multilaritas dan kebersihan genitalia juga dduga berhubungan dengan masalah
tersebut.
• Pasangan seksual
Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks mulai menjadi bahan yang
menarik untuk diteliti. Penggunaan kondom yang frekuen ternyata memberi resiko
yang rendah terhadap terjadinya kanker serviks. Rendahnya kebersihan genetalia
yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi pembahasan panjang terhadap
kejadian kanker serviks. Jumlah pasangan ganda selain istri juga merupakan factor
resiko yang lain.
3. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai
dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang
keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami
segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala
karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada
gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid,
amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan
intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada
penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid.
Nyeri dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal.
Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari
vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva.
Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Menurut Baird
(1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan
setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering
terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang
cair sampai menggumpal. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki,
hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter. Perdarahan rektum
dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut.
Pada pemeriksaan Pap Smear ditemukannya sel-sel abnormal di bagian bawah serviks
yang dapat dideteksi melalui, atau yang baru-baru ini disosialisasikan yaitu dengan
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat. Sering kali kanker serviks tidak menimbulkan
gejala. Namun bila sudah berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-
gejala seperti pendarahan serta keputihan pada vagina yang tidak normal, sakit saat
buang air kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual (Wiknjosastro, 1997).
4. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar),
seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun
melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Dengan
pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa
kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear
setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika
penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani
histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif maupun
paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan penyebabnya
sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan. Sedangkan tindakan
paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi
adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan
serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium
klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien sebaiknya sebelum menopause,
atau bila keadaan umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65
tahun. Pasien juga harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit
jantung, ginjal dan hepar.
b. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan
parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV
sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan tujuannya
yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel
kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar
getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan
jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter.
Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B.
Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat
paliatif yang diberikan secara selektif pada stadium IV A. Terapi penyinaran efektif
untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada
radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal
yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat di
rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6
minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat radioaktif terdapat di
dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan
selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa
diulang beberapa kali selama 1-2 minggu. Efek samping dari terapi penyinaran
adalah iritasi rektum dan vagina, kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium
berhenti berfungsi (Gale & Charette, 2000).
c. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus,
tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh
sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi
tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiag nosis. Beberapa kanker
mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan
pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya diberikan untuk
mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant. Dalam beberapa
kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit dalam periode waktu yang
lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase
akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang
lebih baik. Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase
karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang
memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker serviks antara lain
CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan
lain –lain (Prayetni, 1997).
d. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh
dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah
menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon,
yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.
5. PENCEGAHAN
Pengendalian kanker serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
pencegahan prmer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi kesehatan
masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain adalah dengan
pencegahan primer dan pencegaan sekunder.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap orang
untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kanker
serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat untuk
mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin muda, pasangan seksual
ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan
imuisasi HPV pada kelompok masyarakat
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan skrining
kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker serviks secara
dibni sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan kanker
serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif ke invasive memerlukan waktu
sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana dan
sensitive untuk mwndeteksi karsinoa pra invasive. Bila diobati dengan baik, karsinoma
pra invasive mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa kasus
pada fase invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program skrining
dengan pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap mear test dan telah dilakukan di
Negara-negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukimampu menurunkan
tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun waktu 20 tahun
(WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker serviks, yaitu
:
Pencegahan Tingkat Pertama
a.    Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
• Kampanye kesadaran masyarakat
• Program pendidikan kesehatan masyarakat
• Promosi kesehatan
b.    Pencegahan khusus, misalnya :
• Interfensi sumber keterpaparan
• Kemopreventif
Pencegahan Tingkat Kedua
a.  Diagnosis dini, misalnya screening
b.  Pengobatan, misalnya :
• Kemoterapi
• Bedah
Pencegahan Tingkat Ketiga
Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker umumnya ialah
secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan radioterapi dan operasi radikal
kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan karena umumnya
yang dioperasi penderita yang masih muda dan umumnya baik.
Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Anda dapat
melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV dan akhirnya menderita
kanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat Anda lakukan dalam kehidupan sehari-
hari antara lain :
• Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk
merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena,
vitamin A, C, dan E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher
rahim.
• Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat
meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
• Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.
• Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.
• Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.
• Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan
sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.
• Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap
smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.
• Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
• Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini
dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.