Anda di halaman 1dari 8

e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

ANALISIS 4C DALAM PEMBERIAN KREDIT TANPA JAMINAN DI


LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD) DUSUN BANGKANG, DESA
BAKTISERAGA, KECAMATAN BULELENG
1Komang Mitha Mustika Putri,
1Nyoman Trisna Herawati, 2I Gusti Purnamawati

Jurusan Akuntansi Program S1


Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: {mithamustika65@gmail.com)

Abstrak
Seiring menigkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kredit, kredit menjadi
salah satu menculnya lembaga keuangan yang semakin banyak. Pemberian kredit
tanpa jaminan merupakan pemberian kredit dengan tanpa adanya jaminan materiil
(anggunan fisik). Dengan adanya permberian kredit tanpa jaminan LPD menerapkan
prinsip 4C (Character,Capital,capacity,Condition Of Economi) agar bisa mencegah
terjadinya resiko kredit di LPD Dusun Bangkang Desa Baktiseraga.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui (1)alasan mengapa LPD Dusun
Bangkang Desa Baktiseraga menerapkan program pemberian kredit tanpa jaminan.
(2)bagaimana prosedur pemberian kredit tanpa jaminan yang dilakukan pada LPD
Dusun Bangkang Desa Bakriseraga.(3)bagaimana penerapan prinsip 4C terhadap
pengambilan keputusan kredit tanpa jaminan pada LPD Dusun Bangkang Desa
Baktiseraga.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang
menekankan pada deskripsi dengan presepsi dan prilaku manusia. Data dihimpun
dengan cara wawancara mendalam, observasi studi dokumentasi. Ini dilakukan untuk
mendapatkan informasi tentang analisis 4C dalam pemberian kredit tanpa jaminan di
LPD. Teknik analisis data yang digunakan antara lain (1)reduksi data; (2)penyajian
data; dan (3)menarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1)pemberian kredit tanpa jaminan ini
untuk membantu dan mensejahtrakan masyarakat pakraman yang berkrama desa di
Dusun Bangkang Desa Baktiseraga, selain itu LPD ingin memberikan kepercayaan
kepada masyarakat pakraman yang berkrama desa; (2) prosedur dalam proses
pemberian kredit tanpa jaminan ini hanya menerapkan prinsip 4c; (3)LPD lebih
mekankan pada prinsip Character dan Capacity, sedangkan prinsip Capital dan
Condition Of Economi digunakan sebagai pendukung untuk menguatkan data calon
debitur. Namun yang terpenting adalah prinsip Character karena dengan prinsip ini
pihak LPD dapat menilai kesungguhan calon debitur.

Kata kunci: Prinsip 4C, Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Pemberian Kredit Tanpa
Jaminan

Abstract

As society's demand for credit increases, credit becomes one of the factors
growing more financial institution. The granting of no collateral credit is a credit without
any material collateral (physical collateral). By the permission of no collateral credit,
LPD applied the principle of 4C (Character, Capital, Capacity, Condition of Economy)
in order to prevent the occurrence of credit risk at LPD of Dusun Bangkang,
Baktiseraga Village.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

The purpose of this research is to know (1) the reason why LPD of Dusun Bangkang,
Baktiseraga Village implemented the granting of no collateral credit program, (2) how
the procedure of granting no collateral credit was done at LPD Dusun Bangkang,
Baktiseraga Village, (3) how the 4C principle was implemented to decision making on
no collateral credit at LPD of Dusun Bangkang, Baktiseraga Village.
This study was conducted by using qualitative method that emphasized the
description with the perception and human behavior. The data were collected by in-
depth interview, documentation study observation. This was done to obtain
information about 4C analysis in the granting of a credit without any collateral at the
LPD. Data analysis techniques used included (1) data reduction, (2) data presentation,
and (3) data conclusion.
The result of this study indicated that (1) the granting of no collateral credit is to
assist and make the customary community located in Dusun Bangkang, Baktiseraga
Village prosperous, furthermore the LPD wanted to give confidence to the customary
community of Bangkang village; (2) the procedure in the process of granting no
collateral credit was by applying 4C principle only; (3) the LPD emphasized more on
Character and Capacity principles, while Capital and Condition of Economy principles
were used as supporting to strengthen the data of prospective debtors. However, the
most important is the principle of Character because by this principle the LPD could
assess the seriousness of prospective debtors.

Keywords: 4C Principle, Village Credit Institution (LPD), no collateral credit

PENDAHULUAN kompleks. Volume transaksi semakin


Berdasarkan Surat Keputusan besar, serta adanya tuntunan untuk
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi menyediakan pelaporan keuangan dengan
Bali tahun 2006, Lembaga Pengkreditan lebih cepat dan akurat. LPD perlu
Desa merupakan badan usaha keuangan menyampaikan hasil kerjanya dalam
milik desa dan masing-masing desa dapat bentuk laporan keuangan yang memadai,
memiliki satu Lembaga Pengkreditan untuk mempertebal kepercayaan
Desa. Lembaga Pengkreditan Desa masyarakat akan keberadaan LPD.
berdasarkan Peraturan daerah Provinsi Laporan keuangan terdiri dari Neraca,
Bali Nomor 8 tahun 2002 Pasal 2 Laporan laba rugi, laporan perubahan
merupakan badan usaha keuangan milik modal, laporan arus kas dan laporan atas
desa yang melaksanakan kegiatan usaha catatan transaksi (Standar Akuntansi
dilingkungan desa dan untuk krama desa. Keuangan, 2009)
LPD sebagai suatu Badan Usaha Simpan Menurut pasal 1 angkat 11 Undang-
Pinjam yang dimiliki oleh desa adat yang Undang nomor 10 tahun 1998 tentang
berfungsi dan bertujuan utama untuk perubahan Undang-Undang Nomor 7
mendorong pembangunan ekonomi tahun 1992 kredit adalah penyediaan uang
masyarakat desa melalui tabungan yang atau tagihan yang dapat dipersamakan
terarah serta penyaluran modal yang dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
efektif. LPD mempunyai peran sebagai kesepakatan pinjam meminjam antara
lembaga yang berperan untuk bank dengan pihak lain yang mewajibkan
meningkatkan kesejahteraan rakyat pihak peminjam untuk melunasi utangnya
melalui pembangunan ekonomi setelah jangka waktu tertentu dengan
kerakyatan, di samping LPD sebagai pemberian bunga. Dalam proses
sumber pendapatan asli desa adat, karena pemberian kredit sangat diperlukan
20% dari keuntungan yang diperoleh LPD adanya ketelitian dalam memilih debitur
diperuntukkan bagi peningkatan dan tidak mungkin dilakukan secara
keberdayaan desa adat. sembarang, karena resiko kredit macet
Perkembangan LPD dalam kondisi akan semakin besar jika pemberian kredit
persaingan yang semakin yang ketat tersebut dilakuka secara sembarang.
menyebabkan aktivitas operasional dan Analisis yang bisa dilakukan dalam
manajerial LPD menjadi semakin pemberian kredit untuk memadai apakah
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

seseorang/badan bisa atau layak survey) atau penelitian benda (metode


mendapatkan kredit adalah analisi 5c, observasi).
yaitu Character (Watak), Capacity Data dihimpun dengan cara
(kemampuan), Capital (modal), Condition wawancara mendalam, observasi dan
(kondisi), Collateral (jaminan). studi dokumentasi. Analisis data dilakukan
Dari 21 Lemabaga Perkreditan Desa melalui tiga tahapan, antara lain (1)
(LPD) di kecamatan Buleleng ada salah reduksi data; 2) penyajian data; dan (3)
satu LPD yang memberikan menarik kesimpulan, sejalan dengan yang
pinjaman/kredit tanpa jaminan yaitu LPD dikatakan oleh Moleong (2004) dalam
Dusun Bangkang Desa Baktiseraga. Andriani (2014).
Pinjaman/kredit tanpa jaminan atau
dikenal dengan istilah unsecured loan, PEMBAHASAN
adalah pinjaman tanpa adanya suatu aset Gambaran Umum LPD Dusun
yang dijadikan jaminan atas pinjaman Bangkang Desa Baktiseraga
tersebut. Oleh karena itu tidak adanya Desa Baktiseraga lahir pada
jaminan yang menjamin pinjaman tersebut tanggal 1 April 1968 dengan Skp.Bapak
maka keputusan permberian kredit semata Bupati Daerah Tingkat II Buleleng Tanggal
adalah berdasarkan pada riwayat kredit 3 Mei 1968 nomor : 75/Pembd.1/81/68.
dari pemohon kredit secara pribadi, atau Sebelumnya menurut cerita orang – orang
dalam arti kata lain bahwa kemampuan tua yang masih hidup menuturkan bahwa
melaksanakan kewajiban pembayaran pada pemerintahan penjajah Hindia
kembali pinjaman adalah pengganti Belanda, dimana daerah Buleleng masih
jaminan. diperintah oleh Seorang Raja atau disebut
Berkaitan dengan hal tersebut, maka Regent, masyarakat yang tinggal di
beberapa permasalahan penelitian yang banjar Bangkang, Tista, Seraya dan
akan dijawab dalam penelitian ini, yaitu: Galiran pernah berstatus didalam satu
1)Mengapa LPD Dusun Bangkang perbekelan yang dipimpin oleh seorang
Desa Baktiseraga menerapkan program Kepala Desa yang lumrah disebut
pemeberian kredit tanpa jaminan? keperbekelan.
2)Bagaimana prosedur pemberian kredit Dengan adanya peraturan
tanpa jaminan yang dilakukan pada Pemerintah tentang ketentuan sistem
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) pada pemerintahan pedesaan yang baru maka
Desa Baktiseraga, Dusun Bangkang ? sekitar awal tahun 1963 ketiga status
3)Bagaimana penerapan prinsip 4C perbekelan disatukan kembali menjadi
terhadap pengambilan keputusan kredit satu Desa Baktiseraga yang ditetapkan
tanpa jaminan pada Lembaga Perkreditan dengan Sk. Bupati tertanggal 3 Mei 1968
Desa (LPD) pada Desa Baktiseraga, Nomor 75/Pemd.1/81/68 yang
Dusun Bangkang ? menetapkan untuk nama Desa Perbekelan
yang baru itu bernama “DESA
METODE BAKTISERAGA” di bawah pimpinan
Pelaksanaan penelitian ini seorang kepala desa atau perbekel,
menggunakan pada persepsi dan perilaku Secara etimologi atau suku kata perkataan
manusia. Data dalam penelitian ini BAKTISERAGA disusun dengan
dikumpulkan dari sumber primer yaitu menggabungkan empat suku kata yang
sumber dari penelitian yang diambil dari suku kata awal nama keempat
diperoleh secara langsung dari sumber banjar yang ada di keperbekelan desa
aslinya yang berupa wawancara, jajak BAKTISERAGA yaitu suku kata BAK
pendapat dari individu atau kelompok diambil dari huruf awal banjar
(orang) maupun hasil observasi dari suatu BANGKANG, suku kata TIS diambil dari
obyek, kejadian atau hasil pengujian suku awal banjar TISTA, SRA diambilkan
(benda). Dengan kata lain, peneliti dari suku awal banjar SRAYA, dan suku
membutuhkan pengumpulan data dengan kata GA diambil dari suku awal banjar
cara menjawab pertayaan riset (metode GALIRAN yang setelah semuanya
dirangkaikan menjadila “BAKTISERAGA”
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

mengandung filsafat menggalang seperti pernikahan, pendidikan dan lain-


persatuan serta berbakti selalu dengan lain. 3)Pemberian Kredit Tanpa Jaminan,
semangat pengabdian yang tinggi Kredit tanpa jaminan merupakan
mensukseskan semua program pemberian kredit dengan tanpa adanya
pemerintahan didalam mewujudkan cita- jaminan materiil (anggunan fisik).
cita perjuangan masyarakat adil dan Pemberian begitu selektif yang
makmur tanpa pamrih sesuai dengan diperuntukan untuk nasabah besar yang
semangat jiwa perjuangan revolusi sudah teruji bonafiditas, kejujuran, serta
merebut kemerdekaan Republik Indonesia ketaatannya baik dalam transaksi
Tahun 1945. perbankan maupun oleh kegiatan usaha
Pada Tingkat I Bali Nomor 8 Tahun yang dijalaninya. Pinjaman tanpa jaminan
2002, Lembaga Perkreditan Desa (LPD) adalah pinjaman tanpa adanya suatu
merupakan badan usaha keungan milik asset yang dijadikan jaminan atas
desa Pakraman yang melaksanakan pinjaman tersebut. Oleh karena tidak
kegiatan usaha dilingkungan desa untuk adanya jaminan yang menjamin jaminan
karma desa. Lembaga Perkreditan Desa tersebut. Maka keputusan pemberian
(LPD) sebagai lembaga keuangan kredit semata adalah berdasarkan pada
memiliki lapangan usaha sebagai berikut : riwayat kredit dari pemohon kredit secara
1. Memberikan pinjaman hanya kepada pribadi, atau dalam arti kata lain bahwa
karma desa, 2. Menyimpan kelebihan kemampuan melaksanakan kewajiban
liquiditasnya pada BPD Bali dengan pembayaran kembali adalah pengganti
imbalan bunga bersaing dan pelayanan jaminan.
yang memadai, 3.
Memberikan/Menghimpun dana dari
karma desa dalam bentuk tabungan dan Alasan LPD Dusun Bangkang Desa
deposito, 4. Menerima pinjaman dari Baktiseraga menerapkan Kebijakan
lembaga-lembaga keuangan maksimal Pemberian Kredit Tanpa Jaminan
sebesar 100% dari jumlah modal, Berdasarkan hasil wawancara dan
termasuk cadangan dan laba ditahan, observasi yang telah peneliti lakukan, LPD
kecuali batasan lain dalam jumlah Dusun Bangkang menerapkan kebijakan
pinjaman atau dukungan/bantuan modal. pemberian kredit tanpa jaminan kepada
Selain keempat aktivitas tersebut, LPD penduduk yang berkrama desa Dusun
Dusun Bangkang Desa Baktiseraga juga Bangkang dengan tujuan ingin membantu
bekerjasama dengan PT. PLN penduduk yang berkrama desa di Dusun
Bangkang dan mensejahtrakan penduduk
Prosedur LPD dan Komposisi kredit yang berkrama desa di Dusun Bangkang
Dalam melakukan kegiatannya, Desa Baktiseraga.
LPD Dusun Bangkang Desa Baktiseraga Hal ini diperkuat dengan hasil
tidak berbeda dengan kegiatan LPD wawancara yang telah dilakukan dengan
lainnya, yaitu menghimpun dana dari Kepala LPD Dusun Bangkang Desa
mesyarakat kemudian menyalurkan Baktiseraga dan Bendesa Dusun
kembali kepada masyarakat. Produk yang Bangkang Desa Baktiseraga. Pada saat
dimiliki LPD Dusun Bangkang Desa diwawancarai diwaktu yang berbeda
Baktiseraga untuk mendukung kegiatan Kepala LPD menjelaskan alasannya
tersebut antara lain adalah tabungan dan membuat kebijakan kredit tanpa jaminan
kredit. Berikut adalah macam kredit yang ini. Beliau mengatakan :
ditawarkan oleh LPD, 1) Kredit Modal “…kredit tanpa jaminan niki
Usaha, Kredit Modal Usaha adalah kredit (ini) muncul karena kita ingin
yang diberikan oleh bank untuk membantu masyakarat dan kita
menambah modal usaha nasabah. juga ingin mensejahtrakan
2)kredit Multiguna, Kredit Multiguna masyarakat yang berkarama desa
adalah kredit yang diberikan oleh di pakraman deriki (disini). Selain
lembaga keuangan atau bank untuk itu pemberian kredit tanpa jaminan
memenuhi kebutuhan nasabah lainnya, niki (ini) muncul karena kita juga
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

ingin memberikan kepercayaan “...awalnya di LPD dulu,


kepada masyarakat yang berkrama peminjam meminta persetujuan
desa di pakraman deriki (disini), suami istri, lalu datang ke LPD
karena sebagian besar masyarakat dengan surat permohonan kredit,
disini adalah keluarga” karena tidak meggunakan jaminan
Hal serupa yang juga jadi tidak perlu membawa surat
dikatakan oleh Kelian Desa yang jaminan, habis itu dia cari tanda
terlukis pada kutipan wawancara tangan sebagai pengesahan ke
dibawah ini : badan pengawas, lalu kembali lagi
“nggih (iya), kita disini ingin ke LPD besoknya uang sudah
membantu masyarakat yang cair.”
berkrama desa di pakraman deriki Dari kutipan wawancara di atas,
(ini). Selain itu sebagian besar dapat dilihat bahwa prosedur pemberian
masyarakat yang berkrama desa di kredit yang ada di LPD Dusun Bangkang
pakraman deriki (ini) adalah Desa Baktiseraga masih terbilang
keluarga, jadi tiyang disini sederhana.
memberikan kepercayaan kepada Dalam tahap pengidentifikasian
masyarakat yang berkrama desa di calon debitur seharusnya ada penilaian
pakraman deriki (ini).” yang benar-benar menjamin si peminjam
uang dapat membayar angsuran. Seperti
Dari kutipan wawancara di atas yang ada pada 5c, yang dijelaskan oleh
dilihat bahwa selain ingin membantu dan (Kasmir, 2004) bahwa 5c tersebut
mensejahtrakan masyarakat yang meliputi (1) Charakter, (2) Capacity (3)
berkrama desa di pakraman tersebut, Capital (4) Collateral (5) Condision of
LPD juga memberikan kepercayaan Economy. Tetapi dalam LPD Dusun
kepada masyarakat karena sebagian Bangkang hanya menggunakan prinsip
besar masyarakat yang berkarama desa 4C yaitu : (1) Character (Watak),
di pakraman desa ini adalah keluarga. Character Merupakan data tentang
kepribadian dari calon pelanggan seperti
Prosedur Kredit Tanpa Jaminan LPD sifat-sifat pribadi, kebiasaan-
Dusun Bangkang Desa Baktiseraga kebiasaannya, cara hidup, keadaan dan
Dalam prosesnya prosedur latar belakang keluarga maupun hobinya.
pemberian kredit ini masih menggunakan Kegunaan dari penilaian tesebut untuk
sistem manual. Selain itu dokumen- mengetahui sampai sejauh mana
dokumen penting hanya dibuat satu iktikad/kemauan calon - calon debitur
rangkap yang nantinya akan disimpan untuk memenuhi kewajibannya
sebagai arsip oleh LPD. Seharusnya (wiilingness to pay) sesuai dengan janji
dokumen-dokumen dalam proses kredit yang telah ditetapkan. Pemberian kredit
ini dibuat 4 rangkap, 3 rangkap untuk atas dasar kepercayaan, sedangkan yang
masing-masing badan pengawas dan 1 mendasari suatu kepercayaan, yaitu
rangkap disimpan di LPD. Dengan begitu adanya keyakinan dari pihak bank bahwa
jika terjadi masalah dalam proses kredit, calon debitur memiliki moral, watak dan
badan pengawas dapat mengeluarkan sifat-sifat pribadi yang positif dan
pendapatnya karena memiliki bukti koperatif. Karakter merupakan faktor yang
berupa dokumen-dokumen pada proses dominan, sebab walaupun calon debitur
kredit. tersebut cukup mampu untuk
Hasil wawancara yang telah menyelesaikan hutangnya, kalau tidak
dilakukan dengan Kepala LPD Dusun mempunyai itikad yang baik tentu akan
Baktiseraga mulai dari beberapa proses membawa kesulitan bagi bank
yang dilalui sampai kredit itu dicairkan dikemudian hari. (2) Capacity
juga menunjukan sistem pengendalian (Kemampuan), Capacity dalam hal ini
yang lemah. Pada saat diwawancarai merupakan suatu penilaian kepada calon
Kepala LPD menjelaskan proses debitur mengenai kemampuan melunasi
pemberian kredit, beliau mengatakan : kewajiban-kewajibannya dari kegiatan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

usaha yang dilakukannya yang akan mendapatkan pinjaman. Salah satu cara
dibiayai dengan kredit dari bank. Jadi yang dilakukan adalah dengan
jelaslah maksud penilaian dari terhadap menerapkan prinsip 5c. Tetapi dalam LPD
capacity ini untuk menilai sampai sejauh Dusun Bangkang hanya menggunakan
mana hasil usaha yang akan prinsip 4C yaitu : 1) Character (Watak),
diperolehnya tersebut akan mampu untuk Character Merupakan data tentang
melunasinya tepat pada waktunya sesuai kepribadian dari calon pelanggan seperti
dengan perjanjian yang telah disepakati sifat-sifat pribadi, kebiasaan-
(Mulyono,1993). Capacity merupakan kebiasaannya, cara hidup, keadaan dan
ukuran dari ability to pay atau latar belakang keluarga maupun hobinya.
kemampuan dalam membayar. (3) Capital Kegunaan dari penilaian tesebut untuk
(Modal), Capital adalah kondisi kekayaan mengetahui sampai sejauh mana
yang dimiliki oleh perusahaan yang iktikad/kemauan calon - calon debitur
dikelolanya. Hal ini bisa dilihat dari untuk memenuhi kewajibannya
neraca, laporan rugi-laba, struktur (wiilingness to pay) sesuai dengan janji
permodalan, ratio-ratio keuntungan yang yang telah ditetapkan. Pemberian kredit
diperoleh seperti return on equity, return atas dasar kepercayaan, sedangkan yang
on investment. Dari kondisi di atas bisa mendasari suatu kepercayaan, yaitu
dinilai apakah layak calon pelanggan adanya keyakinan dari pihak bank bahwa
diberi pembiayaan, dan beberapa besar calon debitur memiliki moral, watak dan
plafon pembiayaan yang layak diberikan. sifat-sifat pribadi yang positif dan
(4) Condition (Kondisi), Kredit yang koperatif. Karakter merupakan faktor yang
diberikan juga perlu mempertimbangkan dominan, sebab walaupun calon debitur
kondisi ekonomi yang dikaitkan dengan tersebut cukup mampu untuk
prospek usaha calon debitur. menyelesaikan hutangnya, kalau tidak
Hasil wawancara Kepala LPD mempunyai itikad yang baik tentu akan
Dusun Bangkang Desa Baktiseraga membawa kesulitan bagi bank
menyebutkan : dikemudian hari. 2) Capacity
“… pertama dilihat dulu dari (Kemampuan), Capacity dalam hal ini
karakternya, jika seandainya si merupakan suatu penilaian kepada calon
nasabah pernah mengalami kredit debitur mengenai kemampuan melunasi
macet . . . tergantung sekarang, kewajiban-kewajibannya dari kegiatan
kalau misalnya macetnya itu karena usaha yang dilakukannya yang akan
nasabah tidak ada jalan lagi untuk dibiayai dengan kredit dari bank. Jadi
membayar dan bisa kami atasi dia jelaslah maksud penilaian dari terhadap
boleh pinjam lagi tapi setengah dari capacity ini untuk menilai sampai sejauh
yang diajukan. Nah kalau macetnya mana hasil usaha yang akan
itu disengaja kita blacklist mungkin diperolehnya tersebut akan mampu untuk
selisih berapa tahun baru dikasi tapi melunasinya tepat pada waktunya sesuai
juga dapet setengah. Karena dengan perjanjian yang telah disepakati
dimata kita dikasik kredit satu juta (Mulyono,1993). Capacity merupakan
baru dibayar lima ratus ribu dia ukuran dari ability to pay atau
sudah macet. Berarti kemampuan dalam membayar. 3)Capital
kemampuannya cuma setengah.” adalah kondisi kekayaan yang dimiliki
Jika dikaitkan dengan prinsip 4c oleh perusahaan yang dikelolanya. Hal ini
dalam pemberian kredit tanpa jaminan ini bisa dilihat dari neraca, laporan rugi-laba,
pengelola kredit sangat memperhatikan struktur permodalan, ratio-ratio
karakter nasabah. keuntungan yang diperoleh seperti return
on equity, return on investment. Dari
Penerapan Prinsip 4c Dalam kondisi di atas bisa dinilai apakah layak
Pengambilan Keputusan Pemberian calon pelanggan diberi pembiayaan, dan
Kredit Tanpa Jaminan beberapa besar plafon pembiayaan yang
Sebelum memberikan kredit kepada layak diberikan. 4)Condition (Kondisi),
nasabah layak atau tidak untuk Kredit yang diberikan juga perlu
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

mempertimbangkan kondisi ekonomi mau membayarkan kewajiban debitur


yang dikaitkan dengan prospek usaha tersebut. Dengan demikian antisipasi
calon debitur. Permasalahan mengenai terjadinya resiko terhadap hal yang tidak
Condition of economy erat kaitannya diinginkan bukan hanya dari penilaian
dengan faktor politik, peraturan kekayaan saja, tetapi terjadinya hal yang
perundang-undangan negara dan merugikan kedepannya juga harus
perbankan pada saat itu serta keadaan diantisipasi. Salah satu cara menghadapi
lain yang mempengaruhi pemasaran resiko tersebut adalah menjalin kerja
seperti Gempa bumi, tsunami, dan sama dengan pihak asuransi. Dengan
longsor. Jadi dalam pemberian kredit kata lain LPD Dusun Bangkang Desa
tanpa jaminan dengan menggunakan Baktiseraga mendaftarkan debiturnya
penerapan prinsip 4c ini, LPD Dusun asuransi jiwa. Jika terjadi resiko
Bangkang Desa Baktiseraga lebih meninggal dunia, uang LPD yang
menekankan pada Character calon dipinjam nasabah sudah terlindungi oleh
debitur. Untuk mengetahui Character asuransi. Hal tersebut merupakan salah
calon debitur ini pihak LPD melihat dari satu bentuk pengendalian resiko kredit
kemampuan membayar dimasa lalu. Jika dimasa depan.
calon debitur pernah meminjam uang
tetapi calon debitur tidak pernah KESIMPULAN DAN SARAN
membayar kewajibannya maka LPD akan Kesimpulan
mempertimbangkan untuk memberikan Berdasarkan penelitian yang telah
pinjaman lagi. Selain itu LPD juga melihat dilakukan oleh peneliti mengenai Analisis
karakter calon debitur dimata masyarakat 4c Dalam Pemberian Kredit Tanpa
lingkungan tempat tinggalnya, apakah Jaminan di Lembaga Perkreditan Desa
sering bermasalah atau tidak, melihat (LPD) Dusun Bangkang Desa
Capacity calon debitur. Yang dinilai Baktiseraga, maka kesimpulan yang
prinsip ini adalah jumlah peghasilan dapat menjawab permasalahan dalam
setelah dikurang pengeluarannya setiap penelitian ini adalah pemberian kredit
bulan, apakah sisa penghasilan tersebut tanpa jaminan ini dengan alasan untuk
cukup untuk memenuhi kewajibannya membantu dan mensejahtrakan
yang akan dibebankan kepada calon masyarakat pakraman yang berkrama
debitur. Hal ini dimaksudkan agar desa di Dusun Bangkang Desa
nantinya jika calon debitur memiliki Baktiseraga, selain itu juga LPD Dusun
kebutuhan yang tak terduga, Bangkang ingin memberikan kepercayaan
kewajibannya terhadap LPD tetap kepada masyarakat pakraman yang
terpenuhi. Sedangkan untuk prinsip berkrama desa di Dusun Bangkang Desa
Capital dan Condition of Economy hanya Baktiseraga. prosedur dalam proses
digunakan sebagai pendukung laporan pemberian kredit tanpa jaminan ini hanya
untuk menguatkan data calon debitur. menerapkan prinsip 4c dan prosedur ini
Walaupun dengan 4c kita bisa masih terlihat sederhana. Dalam
mengurangi resiko terjadinya kredit pemberian kredit tanpa jaminan, LPD
macet, tetapi masih ada faktor lain yang Dusun Bangkang Desa Baktiseraga lebih
mengakibatkan LPD merugi. Kematian menkankan pada prinsip Character dan
dari pinjaman bisa jadi faktor yang Capacity, sedangkan prinsip Capital dan
mengakibatkan kerugian, maka dari itu Condition of Economy digunakan sebagai
LPD seharusnya juga mengantisipasi, hal pendukung untuk menguat data calon
tersebut belum nampak di LPD Dusun debitur. Namun yang terpenting adalah
Bangkang Desa Baktiseraga. Dengan prinsip Character, karena dengan melihat
mengandalkan ahli waris, belum tentu prinsip ini pihak LPD dapat menilai
bisa dijadikan alat sebagai pengendalian kesungguhan calon debitur. Apabilah
resiko dimasa depan. Jika ahli warisnya salah satu dri prinsip Capital dan
bersedia dan mau membayarkan Condition of Economy tidak terpenuhi
kewajibannya itu tidak masalah. Tapi asalkan Character dan Capacity calon
pasti ada kemungkinan si ahli waris tidak debitur terpenuhi.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol: 8 No: 2 Tahun 2017)

Dilihat dari data yang ada Atmadja, Anantawikrama Tungga, D.P.


walaupun dengan 4c sudah bisa Vijaya, K.A.K. Saputra. 2013.
mengurangi resiko terjadinya kredit Akuntansi Manajemen Sektor
macet, tetapi seharusnya pihak LPD dan Publik. Singaraja:
peminjam membuat surat perjanjian. Jika
tidak ada surat perjanjian dan kurangnya Dwipa, Agung. 2015. Pengertian, Peran
penerapan 4c maka akan menimbulkan dan Fungsi Lembaga
masalah kredit macet dan masalah- Penfkreditan Desa (LPD).
masalah lainnya.
Hasibua, Melayu, 2001. Dasar-dasar
Saran Perbankan, Edisi Pertama, PT.
Setelah melihat dan mengamati Bumi Aksara. Jakarta.
secara langsung, penulis ingin
memberikan saran yang diharapkan dapat Ikata Akuntansi Indonesia (IAI). 2001.
bermanfaat bagi pihak LPD Dusun Standar Profesionl Akuntan
Bangkang Desa Baktiseraga. Sebaiknya Publik, IAI, Jakarta: Selemba
dalam hal pemberian kredit dengan Empat.
menerapkan prinsip 4c ini, pihak LPD
harus lebih selektif dalam menentukan Supramono, SH. 1997. Perbankan dan
calon debitur mana yang layak untuk Masalah Kredit, Penerbit
diberikan kredit agar nantinya tidak terjadi Djambatan, Jakarta.
resiko kredit seperti kredit macet yang
menjadi masalah LPD. Bagi peneliti
Kasmir, (2004). Bank dan Lembaga
selanjutnya agar melakukan penelitian
Keuangan Lainnya. Jakarta : PT.
dengan ruang lingkup yang lebih luas.,
Raja Grafindo Persada.
agar hasil penelitian dapat dibandingkan
dan menemukan hasil yang lebih teruji.
Mardison. 2012. Sistem Pendukung
Keputusan Dalam Pencairan
DAFTAR PUSTAKA Kredit Nasabah Bank
Dengan menggunakan Logika
Fuzzy Dan Bahasa
Amanina. 2011. Evaluasi Terhadap
Pemrograman Java. Jurnal
Pengendalian Intern Pada
Teknologi Informasi &
Proses Pemberian Kredit
Pendidikanvol. 5 No. 1 Maret
Mikro. Skripsi. Universitas
2012.
Ponogoro: Semarang.
Provinsi Bali. 2002. Peraturan Daerah
Anggara. 2011. Integritas Moral Dalam
Provinsi Bali Nomor 3 Tahun
Konteks Pengambilan Keputusan
2007 Tentang Perubahan Atas
Etis. Institut Teknologi Bandung.
Peraturan Daerah Provinsi Bali
Volume 10 Number 1 2011.
Nomor 8 Tahun 2002 Tentang
Lembaga Perkreditan Desa.
Atmadja, A,W,T. 2014. Buku Ajar
Metedologi Penelitian. Jakarta:
Graha ilmu.