Anda di halaman 1dari 6

Angka kejadian kasus 

Methicillin-resistant Staphylococcus
Aureus atau MRSA semakin tinggi

Dalam Menempuh Mata Kuliah Manajemen Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi

Disusun Oleh :
Nama : BUDI ISTRIAWAN
NIM : 2018-103-0035

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2019
Topic 3: Epidemiologi Infeksi rumah sakit
Dr. Elsye Maria Rosa.,M.Kep

PERTANYAAN:
1. Bagaimana tanggapan anda mengenai Kasus MRSA tsb diatas (walaupun
informasi tahun 2017), apakah masih relevan dengan kondisi sekarang, atau
makin buruhk?
JAWABAN :
Strain Staphylococcus aureus (MRSA) yang resistan terhadap metisilin atau
Staphylococcus . aureus yang resistan terhadap beberapa obat, awalnya digambarkan pada
1960-an, muncul pada dekade terakhir sebagai penyebab infeksi nosokomial yang
bertanggung jawab atas penyakit fatal yang berpotensi berkembang secara cepat, termasuk
pneumonia yang mengancam jiwa, necrotizing fasciitis, endocarditis, osteomielitis, sepsis
berat, dan toksinosa seperti sindrom syok toksik (Monecke et al., 2011)
Berbagai faktor risiko independen MRSA yang multifaktorial telah dilaporkan dalam
literatur dan termasuk imunosupresi, hemodialisis, malperfusi perifer, usia lanjut,
perpanjangan rawat inap di rumah sakit, perawatan di fasilitas perawatan jangka panjang
(Long Term Care Facilities), tidak memadainya terapi antimikroba, penggunaan alat bantu
seperti NGT, Dolley catheter dan lainnya , diabetes yang membutuhkan insulin, dan ulkus
dekubitus (Naves, Trindade and Gontijo Filho, 2012).
Saat ini, S. Aureus resisten methicillin terkait kesehatan.(HA-MRSA) dikaitkan
dengan mortalitas dan morbiditas yang signifikan (lebih lama tinggal di rumah sakit) dan
membebankan beban ekonomi yang serius pada sumber daya kesehatan. Di Eropa, data dari
European Antimicrobial Resistance Surveillance System (EARSS) melaporkan bahwa
prevalensi HA-MRSA dalam perawatan akut dan pengaturan jangka panjang berkisar antara
1% dan 24% dengan variasi antar negara yang cukup besar. Literatur tambahan dari survei
panEropa menunjukkan bahwa MRSA mempengaruhi> 150.000 pasien setiap tahun di Uni
Eropa (UE) dan menyumbang 380 juta Euro dalam biaya tambahan di rumah sakit untuk
sistem perawatan kesehatan Uni Eropa dan bahwa rata-rata kelebihan biaya per MRSA-
pasien positif berkisar antara 5.700 hingga 10.000 Euro (Kong, Johnson and Jabra-Rizk,
2016).
Di Amerika Serikat (AS), Isolat persentase tinggi S. aureas yang merupakan penyebab
nomor satu infeksi nosokomial adalah resisten metisilin . Sebuah survei sebelumnya,
mengumpulkan data rawat inap nasional 1999-2005 menunjukkan bahwa rawat inap terkait
MRSA dua kali lipat dari 127.036 menjadi 278.203 . Laporan lain juga menunjukkan bahwa,
pada tahun 2005, diperkirakan ada 94.360 infeksi MRSA invasif di AS di mana 18.000
pasien kehilangan nyawa , suatu proporsi yang lebih tinggi daripada kematian terkait HIV /
AIDS (States et al., 2007).
Di asia sendiri, benua dengan wilayah paling tinggi tingkat populasinya, merupakan
salah satu wilayah dengan tingkat prevalensi tertinggi terkait healthcare-associated
methicillin-resistant Staphylococcus aureus (HA-MRSA) serta community-associated
methicillin-resistant S. aureus (CA-MRSA). Kebanyakan rumah sakit di Asia endemik
terhadap MRSA dengan estimasi kejadian 28% di Hongkong dan Indonesia hingga lebih dari
70% di korea pada penelitian di tahun 2010 (Chen and Huang, 2014).
Penggunaan antibiotik pada ternak telah berakibat terjadi peningkatan resistensi
terhadap bakteri patogen maupun bakteri penyebab zoonosis seperti infeksi S. aureus.
Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pengunaan antibiotik akan
memberi konstribusi terhadap meningkatnya resistensi antibiotik. Pada pemeliharaan broiler,
antibiotik sering diberikan dalam waktu yang lama dengan dosis rendah untuk pencegahan
penyakit bakterial dan untuk memacu pertumbuhan. Hal ini mengakibatkan situasi ancaman
MRSA di Indonesia tetap menjadi ancaman yang serius karena belum ada pengaturan
penggunaan antibiotik pada peternakan di Indonesia (Jackson et al., 2004).

2. Faktor-faktor apa yang dapat mencegah peningkatan kasus MRSA tersebut


(anggap anda sebagai Manajer dan Pimpinan di RS yang memiliki kasus MRSA
yang tinggi)

JAWABAN :
Bakteri S. aureus membangun kekebalan methicillin setelah bertahun-tahun antibiotik
ini digunakan untuk mengatasi infeksi. Banyak kasus infeksi MRSA biasanya karena kontak
kulit dengan orang yang terinfeksi atau berbagi barang yang sudah tercemar bakteri tersebut.
Selain itu, orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah karena operasi,
pengobatan kanker, cuci darah, juga memiliki kesempatan lebih besar mengalami infeksi
MRSA.
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko terkena MRSA.
1. Dirawat di rumah sakit (mengunjungi, rawat inap, bekerja)
2. Berpartisipasi dalam olahraga kontak. MRSA dapat menyebar dengan mudah
melalui luka dan lecet serta kontak kulit ke kulit
3. Tinggal dalam kondisi yang penuh sesak dan tidak sehat
4. Pria berhubungan seks dengan pria. Homoseksual memiliki risiko lebih tinggi
terkena infeksi MRSA
Manajemen RS mengeluarkan pedoman skrining dan penanganan MRSA untuk
mencegah terjadinya MRSA yang terdiri atas Semua kasus MRSA (infeksi atau kolonisasi)
harus ditempatkan di kamar isolasi atau dipantau dengan tidakan pencegahan kontak
transmisi pada saat mereka ditangani di rumah sakit.
Semua pasien yang rawat inap untuk setiap fasilitas pelayanan kesehatan 12 bulan
terakhir (definisi pasien beresiko karier MRSA) harus disaring dengan hidung swab untuk
menyingkirkan MRSA, nasal swab yang sama harus digunakan untuk kedua hidung. Semua
pasien dirawat di ICU yang akan dilakukan skrining MRSA (swab hidung sebaiknya juga
ditambah swab dari ketiak dan pangkal paha). Semua pasien yang MRSA, pada sampel
skrening awal positif dengan atau klinis MRSA maka harus dirawat di ruang isolasi atau
dengan pemantauan tindakan pencegahan transmisi kontak. Jika perlu dan memungkinkan
disiapkan bangsal isolasi untuk pasien MRSA
Jika ruang isolasi tidak tersedia untuk pasien MRSA positif, petugas ruangan
menghubungi komite PPI untuk mendapatkan solusi sesuai dengan kondisi ruangan yang
tersedia memastikan bahwa tidakan pencegahan isolasi standar diamati semua perawat, staf
medis dan tambahan menghadiri kepada pasien. Pasien dengan MRSA sebaiknya tidak
dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain kecuali untuk pemeriksaan penunjang seperti
radiologi, tetapi petugas di bagian radiologi harus diberitahukan kondisi pasien dan
diinformasikan cara pencegahan penularan MRSA.
Edukasi diberikan kepada setiap petugas kesehatan tentang tindakan pencegahan yang
perlu diambil untuk mencegah penyebaran penyakit. Edukasi/ penjelasan sederhana diberikan
kepada pasien dan keluarga: seperti mengapa isolasi diperlukan dan apa tujuan dari isolasi
tersebut. Isolasi pasien dapat dihentikan 24 jam setelah tiga kali dikonfirmasi hasil skrening
MRSA negative.
Jika pasien dievakuasi atau di pindahkan ke rumah sakit lain atau lembaga perawatan
kesehatan, harus ada catatan tertulis sebagai pemberitahuan bahwa pasien adalah kasus
MRSA sehingga mereka dapat melaksanakan prosedur penanganan yang sesuai. Hal ini juga
berlaku untuk pasien yang dikirim ke klinik rawat jalan untuk pengobatan lanjut. Perawat
dengan lesi kulit yang merawat paien positif MRSA harus melaporkan ke kepala perawat
untuk dilakukan pemeriksaan lanjut. Kepala perawat bersama tim PPI menindak lanjuti
masalah tersebut.
Gunakan masker filter sarung tangan dan celemek plastic setiap menangani pasien
dengan kondisi kulit ekspoliatif, infeksi pernafasan dan selama melakukan memungkinkan
penyebaran melalui infeksi droplet dll. Semua APD yang digunakan untuk menangani pasien
MRSA harus segera dibuang ke tempat limbah medis yang diletakkan sebelum meninggalkan
ruangan pasien. Linen kotor pasien MRSA mempunyai wadah khusus sebelum dibuang dan
tidak boleh dibawah melalui koridur tempat orang lalu lalang. Pengunjung tidak perlu
memakai masker, sarung tangan atau celemek plastic tetapi harus mencuci tangan mereka
sebelum meninggalkan ruangan pasien. Status pasien dan seluruh pemeriksaan penunjang
tidak boleh dibawah ke ruang pasien. Troli makanan dan lain-lain tidak boleh masuk ke
ruangan pasien.
Siapkan hal tersebut di bawah ini yang khusus digunakan untuk pasien MRSA sebagai
berikut : a. 1 kotak masker filter b. 1 kotak sarung tangan yang nonsteril c. 1 botol handrub d.
Celemek plastic e. Sphygnomanometer tersebut f. Stetoskop dan thermometer yang
ditinggalkan di ruang pasien atau bilik (sebaiknya 1 set satu pasien). Gunakan desinfektan
fenolik untuk desinfeksi pintu ruangan, tempat tidur, perabot, bell, peralatan, televisi dan
monitor ICU dan tirai yang akan dikirim untuk dicuci. Pasien MRSA yang perlu penanganan
di ruang opersi harus ditempatkan dalam daftar terakhir jadwal operasi.
Perawatan luka MRSA harus dilakukan dengan menggunakan APD, masker filter,
sarung tangan dan celemek plastic ketika melakukan ganti. Handuk pembalut sekali pakai
steril harus digunakan untuk menutup luka. Gaun pelindung yang terinfeksi harus segera
dibuang krdlam kantong plastic limbah medik. Ganti balut pasien dengan luka MRSA harus
mendapat giliran terakhir untuk mencegah kontaminasi silang. Bila petugas ruangan belum
paham penanganan pasien MRSA hubungi komite PPI untuk mendapat penjelasan lebih
lanjut UNIT TERKAIT 1. Seluruh instalasiperawatan 2. Kamar operasi 3. Instalasi CSSD 4.
Komite PPI
DAFTAR PUSTAKA

Chen, C. J. and Huang, Y. C. (2014) ‘New epidemiology of Staphylococcus aureus


infection in Asia. (Themed Section: New epidemiology of Staphylococcus aureus
infections.)’, Clinical Microbiology and Infection, 20, pp. 605–623.
Kong, E. F., Johnson, J. K. and Jabra-Rizk, M. A. (2016) ‘Community-associated
methicillin resistant Staphylococcus aureus: An Enemy amidst Us’, Public Library of Science
Pathogens, 6(10), pp. 1–7. doi: 10.1371/journal.ppat.1005837.
Monecke, S. et al. (2011) ‘A field guide to pandemic, epidemic and sporadic clones of
methicillin-resistant Staphylococcus aureus’, PLoS ONE, 6(4). doi:
10.1371/journal.pone.0017936.
Naves, K. S. C., Trindade, N. V. da and Gontijo Filho, P. P. (2012) ‘Methicillin-
resistant Staphylococcus aureus bloodstream infection: risk factors and clinical outcome in
nonintensive-care units’, Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical, 45(2), pp.
189–193. doi: 10.1590/s0037-86822012000200010.
States, U. et al. (2007) ‘Hospitalizations and Deaths Caused by Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus ’, Centre of Diseases Control, 13(12), pp. 1840–1846