Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK AGENDA III

Kedudukan Dan Peran PNS Dalam NKRI


PELATIHAN DASAR CPNS TAHUN 2021

TUGAS KELOMPOK I
Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan publik
serta semakin kritisnya masyarakat terhadap prosedur birokrasi menjadi
tantangan tersendiri dalam mewujudkan pelayanan yang prima (mudah,
cepat dan murah). Di satu sisi masih banyak terjadi fenomena ego sektoral,
baik secara internal dalam instansi maupun eksternal antar instansi,
semakin menambah komplek permasalahan menuju pelayanan prima.
1. Diskusikan, bagaimana harapan masyarakat terhadap pelayanan publik
yang diberikan oleh pemerintah, kemudian berikan contoh-contoh
langkah konkrit (perbaikan-perbaikan) yang telah dilakukan oleh
pemerintah untuk memenuhi harapan masyarakat tersebut!
2. Diskusikan bagaimana pendekatan Whole of Government (WOG) yang
dapat diimplementasikan dalam permasalahan tersebut!

Hasil Diskusi :
1. Pendapat Febriana Kusumawati (No. Presensi 04):
Harapan masyarakat terhadap pelayanan publik:
Pelayanan publik semestinya dilakukan berdasarkan prinsip:
partisipatif, transparan, responsif, tidak diskriminatif, mudah dan murah,
efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan. Begitu juga
harapan masyarakat. Masyarakat mengharapkan pelayanan publik
sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya
pelayanan publik juga masih ada yang tidak sesuai dengan prinsip-
prinsip tersebut. Misalnya pelayanan yang prosesnya berbelit-belit,
diskriminatif antara yang kaya dengan yang miskin, dimintai “uang jasa”
maupun pungutan liar lainnya, pelayanan yang tidak responsif, tidak
transparan, dan lain sebagainya. Namun demikian, pemerintah juga
sudah berupaya melakukan perbaikan agar pelayanan kepada
masyarakat dapat menjadi lebih baik dan bermutu.
Berikut adalah beberapa contoh perbaikan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk memenuhi harapan masyarakat:
 Ombudsman RI mengembangkan aplikasi Sistem Informasi
Manajemen Pelayanan Terintegrasi secara Elektronik (Simpel). Hal ini
dilakukan karena kantor perwakilan Ombudsman hanya ada di ibukota
provinsi, sehingga mungkin kurang bisa terjangkau oleh masyarakat
yang tempat tinggalnya jauh dari ibukota provinsi.
 Pelayanan publik berbasis aplikasi juga akan dikembangkan oleh
Polri. Misalnya pada ujian SIM, pembuatan STNK dan BPKB akan
dilakukan secara online dengan aplikasi dan kartu dikirim dengan
sistem delivery.
 Pada penerimaan CPNS dahulu masih dilakukan secara tidak
transparan, sehingga masih terdapat praktik “orang dalam” yang tentu
sangat merugikan peserta yang benar-benar mempunyai kemampuan
dan pengetahuan yang lebih. Akan tetapi saat ini, penerimaan CPNS
sudah dilakukan dengan jauh lebih bagus dan sudah dapat dikatakan
transparan. Hal tersebut dibuktikan dengan tes berbasis komputer
(CBT) secara online dan hasilnya langsung dapat dipantau oleh siapa
saja melalui live score di youtube dari awal tes hingga tes berakhir.
Bagi peserta yang ketahuan berbuat curang (misalnya menggunakan
jasa joki) juga langsung didiskualifikasi. Selain itu juga diberikan masa
sanggah yang dapat digunakan oleh peserta untuk menyanggah hasil
tes apabila terdapat ketidaksesuaian. Namun demikian masih juga
terdapat instansi yang belum memperlihatkan hasil tes secara
transparan sehingga para peserta menilai masih ada celah
kecurangan pada sistem tersebut.
 Adanya aplikasi JKN Mobile dan pelayanan BPJS secara online
melalui Pandawa juga mempermudah masyarakat jika akan
melakukan pengubahan data karena tidak perlu datang ke kantor
BPJS. Pelayanan secara online juga dilakukan secara nasional, tidak
harus sesuai dengan tempat tinggal yang tertera pada kartu/KTP
karena datanya sudah terintegrasi. Akan tetapi, terkadang persyaratan
yang digunakan berbeda antara daerah satu dengan yang lain, ada
yang mudah dan ada juga yang agak berbelit-belit.
Pendekatan Whole of Government yang dapat diimplementasikan:
Perlu adanya kerja sama antara gubernur, bupati, maupun
walikota agar manfaat program-program tersebut dapat dirasakan oleh
masyarakat. Selain itu, diperlukan juga integrasi data sehingga data
masyarakat dapat diakses menggunakan satu aplikasi yang sama.
Dengan demikian, tidak perlu lagi dilakukan input data yang berulang-
ulang. Kemudian bagi masyarakat yang merasa belum memperoleh
pelayanan yang memuaskan berhak mengadukan penyelenggaraan
pelayanan publik kepada Pemerintah Daerah,Ombudsman, dan/atau
DPRD agar segera ditindaklanjuti kepada instansi terkait.

2. Pendapat Kurnianto Wahyu Wibowo (No. 40 )


- Masyarakat memiliki harapan yang besar akan pelayanan yang
mudah, murah, dan cepat untuk pelayanan publik yang bersifat
esensial.
- Contoh : Pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang hilang di
luar kota. Misal KTP orang Pontianak hilang di Surabaya dan yang
bersangkutan sedang bertempat tinggal di Surabaya. Orang tersebut
tidak perlu kembali ke Pontianak, cukup mencari surat keterangan
kehilangan dari Kepolisian di kantor Polisi setempat di Surabaya.
Kemudian yang bersangkutan datang ke Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil (Dukcapil) setempat membawa surat tersebut untuk
mencetak KTP. Sebagai catatan, saat di Dukcapil tersebut hanya
diperbolehkan mencetak KTP saja, tidak boleh ada perubahan
elemen data kependudukan. Kepengurusan tesebut tidak dipungut
biaya/ bersifat gratis.
- Whole of Government (WOG) yang dapat diimplementasikan dalam
permasalahan tersebut adalah kerjasama antara Dukcapil di setiap
daerah dengan pihak Kepolisian di seluruh wilayah Indonesia
sehingga sesuai dengan harapan masyarakat yang mudah tidak
berbelit-belit, murah tanpa biaya, dan cepat dapat ditangani dengan
segera.

3. Pendapat Zunita Nur Fitriana (No.12)


Pelayanan public menjadi salah satu elemen yang penting dalam
pemerintahan. Disisi lain, pandemi covid membuat pelayanan publik
mengalami kendala karena minimnya pelayanan secara langsung. Untuk
itu, pengembangan penggunaan IT melalui pelayanan online diharapkan
sebagai salah satu alternatifuntuk meminimalisir kontak langsung.
Harapan masyarakat melalui pelayanan online ini, layanan dapat
dilakukan secara cepat melalui web, sehingga dapat mengurangi
mobilitas masyarakat yang harus ke datang instansi pemerintah. Selain
itu, dapat mengurangi penggunaan berkas fisik. Namun, pelayanan
online kenyataannya masih banyak mengalami kendala salah satunya
ialah pelayanan disukcapil online..Di jawa tengah, kab/kota telah
menggunakan pelayanan online untuk administrasi kependudukan.
Namun dalam praktiknya masih banyak kendala seperti pemahaman
masyarakat tentang prosedur pelayanan online masih minim, serta
keterbatasan fitur layanan. Contoh:

- Seperti 2 daerah di jawa tengah di kab. A, fitur layanan akta ketika


diakses sering muncul pemberitahuan pelayanan telah penuh
meskipun diakses pada pagi hari atau mencoba di waktu yang lain,
sedangkan di kab. B fitur tersebut dapat diakses dengan mudah. Hal
tersebut, akan memunculkan masalah baru yakni praktik KKN karena
terdesaknya masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang cepat
dan mudah. Disisi lain, belum banyak masyarakat yang mendapatkan
informasi mengenai pelayanan online ini, sehingga masyarakat
banyak yang masih menggunakan prosedur lama secara door to door.
- Untuk itu pendekatan Whoke of Government dapat digunakan melalui
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengadakan sosialisasi dari tingkat desa yang dilakukan oleh
pemerintah desa tentang prosedur pelayanan online.
b. Menyediakan helpdesk di pemerintah desa bagi masyarakat yang
kesulitan untuk menggunakan layanan online.
c. Setiap Kab/Kota mengembangkan web pelayanan agar dapat lebih
meningkatkan pelayanan secara lebih luas.

4. Pendapat Feby Kristiyani (No.19)


- Harapan masyarakat kepada pelayanan publik di Indonesia adalah
pelayanan yang mudah tanpa berbelit-belit dan tidak ada tambahan
biaya(pungli), serta pelayanan maksimal selama jam kerja.
Contoh:
- Pengurusan kehilangan dokumen STNK di Samsat tidak memerlukan
waktu yang lama dalam proses pembuatan dokumen duplikat STNK.
Sudah tidak ada lagi biaya-biaya tambahan (pungli) yang
mengatasnamakan biaya adminitrasi.
- Pendekatan Whole Of Government yang dilakukan adalah bekerja
sama dengan ahli program agar semua pelayanan di Samsat dapat di
akses masyarakat melalui sistem online.

5. Pendapat Dwi Setiawan (No.08)


Perkembangan teknologi membuat pergeseran pola pikir yang kompleks
menjadi pola pikir yang sederhana. Manusia lebih condong melakukan
hal hal yang sederhana tetapi sudah dapat menjangkau semua kegiatan
dengan bantuan perkembangan teknologi yang sangat luar biasa. Hal
inilah yang mendasari pola pelayanan publik yang terintegrasi.
Masyarakat banyak berharap pola pelayanan publik menjadi lebih
mudah, sederhana dan tentunya cepat. Berbagai pelayanan publik
berupa barang, jasa, maupun regulatif diharapkan dapat menjadi satu
pintu yang mudah. Selain itu, berbagai macam pungutan yang tidak
semestinya ada. Masa pandemi covid 19, membuat berbagai instansi
untuk berlomba lomba melakukan pelayanan publik yang maksimal
dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Berbagai contoh
pelayanan publik yang sudah menyesuaikan dengan perkembangan
zaman di antaranya :
a. Pembuatan kartu NPWP yang dapat dilakukan dari rumah
b. Pembuatan dokumen kependudukan seperti akte lahir, kartu
keluarga dan sebagainya dapat dilakukan dari rumah
c. Pembayaran pajak kendaraan tahunan yang tidak mengharuskan
wajib pajak datang ke kantor samsat
d. Penerimaan hasil belajar peserta didik yang dilakukan melalui daring
e. Pengurusan legalisir ijazah dengan cara online
Dan sebagainya
Beberapa contoh kasus di atas adalah salah bentuk perubahan pola
pelayanan publik yang menyesuaikan perkembangan zaman di masa
pandemi covid 19. Selain itu, pemerintah juga sudah melakukan pola
pelayanan dengan prinsip terintegrasi dengan membangun Mall
Pelayanan Publik di berbagai daerah. Tempat ini diharapkan dapat
mempermudah pola pelayanan publik yang terintegrasi dalam satu
tempat.
Pendekatan Whole of Government
Dengan adanya Mall pelayanan publik ini, instansi-instansi yang
melakukan pelayanan publik dapat saling berkoordinasi. Sebagai contoh,
Masyarakat yang ingin melakukan perubahan data pada BPKB
kendaraan atas nama sendiri, padahal KTP dan KK masih menggunakan
data lama yang belum direvisi. Sebelum mengurus di Samsat, harus
mengurus data kependudukan di Dukcapil. Instansi-instansi ini berada
dalam satu tempat di Mall pelayanan publik memudahkan masyarakat
untuk dilayani secara maksimal.

6. Pendapat Reiza Adha Mayditta (No.31)


Saat ini, harapan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik
sangatlah tinggi. Masyarakat menuntut pelayanan yang cepat, mudah,
ringkas, dan praktis. Sikap kritis masyarakat seperti ini tentu saja harus
disikapi dengan cerdas. Ditambah lagi, dalam menghadapi era tatanan
normal baru (the new normal), pemerintah diharapkan dapat
menumbuhkan inovasi pelayanan publik berbasis digital, mudah, jelas,
adil, dan transparan. Inovasi-inovasi perlu dimunculkan agar pelayanan
publik ditengah pandemi tetap optimal.

Ada banyak langkah konkrit yang telah dilakukan oleh pemerintah


untuk memenuhi harapan masyarakat tersebut khususnya di masa
pandemi seperti ini, salah satunya adalah upaya Kementerian
Kesehatan dalam melakukan pelayanan publik yaitu berupa relaksasi,
percepatan dan kemudahan proses perizinan Alat Kesehatan dan
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) yang digunakan untuk
penanggulangan COVID-19. Berikut ini merupakan gambar Alur
Pelayanan Perizinan Alkes dan PKRT sebelum pandemi COVID-19, saat
pandemi COVID-19, dan perbedaan antara keduanya.
Alur Pelayanan Perizinan Alkes dan PKRT sebelum pandemi COVID-19

Alur Pelayanan Perizinan Alkes dan PKRT saat pandemi COVID-19


Perbandingan antara sebelum dan saat COVID-19

Perbedaan dari kedua gambar Alur diatas adalah Alkes dan


PKRT yang digunakan untuk penanganan COVID-19 mendapatkan
percepatan pelayanan izin edar, dimana mekanisme relaksasi
percepatan dilakukan dengan One Day Service (ODS) seperti yang
tercantum dalam tabel.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga membentuk Layanan
“Help Desk Alkes dan PKRT produk Penanganan COVID-19”, sebagai
layanan konsultasi bagi pelaku usaha di bidang Alkes dan PKRT agar
mendapatkan layanan konsutasi terkait proses registrasi khusus untuk
produk Alkes dan PKRT yang ditujukan dalam penanganan COVID-
19.
Penggunaan teknologi informasi/ digitalisasi ini tidak hanya
dapat mempercepat akses Alat Kesehatan dan PKRT kepada
masyarakat, namun juga membuat Kementerian Kesehatan tetap
mampu melakukan pelayanan publik secara optimal di tengah kendala
pandemi COVID-19 ini khususnya dalam penyediaan Alat Kesehatan
dan PKRT untuk penanganan COVID-19.
Pendekatan Whole of Government (WOG) sudah
diimplementasikan dengan melakukan langkah – langkah yang cepat,
tepat, fokus, terpadu, dan sinergis antar kementerian/lembaga dan
pemerintah daerah. Diantaranya adalah dengan adanya Peraturan
Menteri Kesehatan No. 7/2020, tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 51 Tahun 2014 tentang Pemasukan Alat
Kesehatan Melalui Mekanisme Jalur Khusus (Special Access
Scheme). Dengan adanya kebijakan tersebut, importir cukup meminta
rekomendasi izin dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB), sehingga wajib izin edar atau SAS tidak diperlukan lagi.
Pelonggaran ketentuan impor itu juga sejalan dengan Keputusan
Presiden No. 9/2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan
Covid-19, di mana tata niaga impor alat cukup dengan rekomendasi
pengecualian dari BNPB melalui sistem INSW. Mekanisme ini
merupakan sinergi antara Lembaga National Single Window (LNSW),
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Direktorat
Jenderal Bea Cukai (DJBC), Kementerian Kesehatan, dan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tugas kita saat ini adalah
mengoptimalkan sosialisasi terkait izin edar alkes dan PKRT ini
kepada masyarakat luas, terutama pelaku usaha di bidang alkes dan
PKRT.

Sumber :
Pedoman Pelayanan Izin Edar Alat Kesehatan (Kemenkes RI, 2016)
Pedoman Pelayanan Publik - Izin Edar Alat Kesehatan dan PKRT
Selama Kondisi Pandemi COVID-19 (Kemenkes RI, 2020)

7. Pendapat Erniati (No.33)


- Harapan masyarakat terhadap pelayanan publik
Pelayanan publik merupakan kegiatan umum yang
dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan dan BUMN/BUMD berupa
barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah
satu bentuk pelayanan publik yang paling mendasar dalam
pembuatan administrasi kependudukan atau dokumen
kependudukan seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, Akta Kematian dan
lain – lain yaitu pelayanan terhadap pembuatan Surat Keterangan
Pengantar Administrasi Kependudukan dari Desa atau Kelurahan.
Pada kenyataannya di Balai Desa atau Kelurahan, masih
menggunakan sistem yang berbeda – beda dalam pembuatan surat
tersebut. Terdapat Balai Desa atau Kelurahan yang sudah
menggunakan format surat berupa ketikan langsung dan ada juga
yang masih masih manual (tulis tangan) sehingga informasi dalam
surat tersebut kurang jelas dan berakibat pada kurangnya
keberhasilan dalam pelayanan serta rendahnya kepuasan
masyarakat terhadap hal tersebut.
Masyarakat berharap agar pembuatan Surat Keterangan
Pengantar Administrasi Kependudukan dibuat secara cepat dan
tepat. Hal ini dikarenakan semakin cepat dan tepatnya pembuatan
surat tersebut, maka masyarakat akan merasa puas dengan
pelayanan yang diberikan. Dari sisi pemberi pelayanan juga akan
meningkatkan keberhasilan pelayanan dalam wujud pelayanan yang
publik yang baik.
Langkah konkrit yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya
perbaikan pelayanan tersebut adalah pembuatan aplikasi
kependudukan tingkat Desa atau Kelurahan. Pada aplikasi tersebut,
petugas pemberi pelayanan hanya cukup menginput NIK (Nomor
Induk Kependudukan) Pemohon dan selanjutnya secara otomatis
akan muncul format Surat Keterangan Pengantar Administrasi
Kependudukan yang diminta. Hal ini dikarenakan, pada aplikasi
tersebut sudah terdapat Database kependudukan warga Desa atau
Kelurahan sehingga identitas yang dibutuhkan sudah tersedia.
- Pendekatan Whole of Government (WOG) yang dapat
diimplementasikan dalam permasalahan tersebut
Perlu adanya kerjasama antara Pemerintah Desa atau
Kelurahan dengan Pemerintah Kecamatan, Dukcapil, KUA,
Perbankan, Sekolah, Dinas Sosial dan lain – lainnya khususnya
dalam keseragaman format Surat Pengantar Administrasi
Kependudukan. Melalui upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten
dapat berkontribusi dalam memberikan pelayanan publik yang baik
untuk mewujudkan pelayanan yang prima.

8. Pendapat Yosie Renda Cahyo Yuwono (30)


Perubahan era yang sangat cepat saat ini menuntut adanya
penyesuaian di segala lini, maju pesatnya teknologi mempunyai
andil yang sangat berperan. Masyarakat saat ini sudah dimudahkan
dalam mendapatkan informasi, semua informasi di dunia dengan
cepat di dapatkan dalam satu genggaman. Dalam hal pelayanan
publik pun ada perubahan yang besar, pelayan public di tuntut untuk
melayani dengan cepat tepat murah dan akuntabel. Indonesia
sebagai Negara dengan jumlah penduduk ketiga terbesar, memiliki
tantangan yang luar biasa dalam melayani masyarakatnya, baik
dalam bentuk pengaturan maupun bentuk pelayanan lain yang
dibutuhkan masyarakat.
Besarnya peran pemerintah dalam melakukan evaluasi terhadap
kualitas pelayanan instansi. Faktanya praktek pungutan liar juga
masih dilakukan oleh beberapa oknum , pungutan liar berperan
penting dalam seberapa cepat pelayanan publik yang masyarakat
dapatkan. Berdasarkan permasalahan diatas Provinsi Jawa Tengah
pada era kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo meresponnya
dengan sebuah visi “Menuju Jawa Tengah Sejahtera dan Berdikari
Tetep Mboten Korupsi Mboten Ngapusi”, dengan tujuan
menyediakan pelayanan publik yang cepat, tepat, murah dan
akuntabel bagi masyarakat Jawa Tengah pada khususnya. Jika
dapat disimpulkan masyarakat menginginkan pelayanan publik yang
cepat tepat , tanpa adanya pungutan liar . Pemerintah Jawa Tengah
mendengar masukan tersebut dengan menerapkan pelayanan
public berbasis teknologi, dengan tujuan meminimalkan tatap muka
langsung antara petugas dengan masyarakat, seperti contoh dalam
sistem pemerintahan pemerintah Provinsi menerapkan GRMS
(Government Resources Management System) , pada bidang
perpajakan Samsat Jawa Tengah juga telah membuat aplikasi
Sakpole E-Samsat yang merupakan aplikasi yang dibuat untuk
memudahkan masyarakat dalam hal pelayanan segala perpajakan
kendaraan bermotor, Pemerintah juga membuat aplikasi “Jalan
Cantik” fungsinya untuk melaporkan secara online jalan yang rusak
di wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Pendekatan Whole of Government
Peran birokrasi sebagai pelayan publik memang masih belum bisa
dikatakan optimal, masih banyaknya politisasi birokrasi di era
reformasi ini. Birokrasi masih belum efisien , ditandai dengan
adanya tumpang tindih kegiatan atau urusan antar instansi
Memuaskan semua pihak bukanlah hal yang mudah, bagaimanapun
kita berusaha memuaskan orang lain, komplain akan selalu ada ,
dan pada dasarnya komplain dan masukan dari masyarakat adalah
tolak ukur penilaian seberapa baik pelayanan public yang dilakukan
Pemerintah. Maka perlunya dibuat sebuah wadah yang menampung
saran dan kritik dari masyarakat guna sebagai bahan evaluasi
pelayanan publik yang dilakukan Pemerintah.Dalam hal ini
Pemerintah juga sudah membuat aplikasi Lapor Gub! yang
merupakan media komunikasi masyarakat kepada gubernur
melaporkan permasalahan yang ada disekitarnya. Aplikasi Lapor
Gub! lalu meneruskan ke OPD yang terkait sehingga dapat di tindak
lanjuti secara cepat.. Pentingnya koordinasi antar OPD, Stakeholder
dan Masyarakat sangat dibutuhkan , guna menciptakan pelayanan
publik yang cepat, tepat sasaran, murah dan akuntabel di Provinsi
Jawa Tengah.
9. Pendapat Aizzatun Nikmah (No. 20)
Harapan masyarakat saat ini yang terkait dengan penempatan formasi
CPNS semoga lebih terdistribusi merata. Berdasarkan hasil
penemuan, terdapat disparitas mengenai formasi yang disediakan
oleh BKD dan kebutuhan Sekolah akan guru. Misalkan saja di sekolah
A yang sudah tercukupi akan adanya guru maple Z, ternyata
mendapatkan tambahan CPNS baru dengan maple Z. Hal tersebut
menjadikan beban bagi pihak sekolah karena harus mengatur
pembagian jam mengajar sedemikian hingga baik guru CPNS baru
maupun guru lama mendapatkan hak jam mengajar sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disisi lain, terdapat
deficit guru di sekolah A yang menyebabkan guru yang mengampu
mata pelajaran tertentu harus memiliki beban jam yang berlebih
ditambah lagi dengan beban tugas administrasi. Hal tersebut
seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan untuk adanya pengadaan guru baru.
Harapannya dengan adanya tambahan guru baru yang sesuai dengan
kebutuhan sekolah, kinerja guru mapel dapat lebih focus dan optimal.
Terdapat beberapa solusi yang telah dilakukan oleh pemerintah
untuk mengatasi masalah tersebut. Mengenai masalah yang berkaitan
dengan pembagian jam, pihak sekolah telah berkonsultasi dengan
pihak Cabang Dinas Pendidikan untuk mendapatkan solusi.
Berdasarkan hasil konsultasi, untuk memenuhi jam mengajar, terdapat
beberapa guru yang diberikan jabatan atau tugas tambahan yang
setara dengan 12 JP. Selain solusi tersebut, terdapat beberapa
sekolah yang juga akhirnya memindahkan guru tersebut ke sekolah
lain. Sedangkan untuk mengatasi masalah defisit guru, pihak
pemerintah dalam hal ini Kemendikbud telah memulai pendaftaran
PPPK. Harapannya, dengan adanya solusi tersebut, permasalahan
mengenai kekurangan maupun kelebihan jam mengajar dapat teratasi
sehingga guru dapat menjalankan tupoksinya untuk mencerdaskan
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendekatan Whole OF Government


Berdasarkan hasil paparan diatas, terdapat beberapa instansi
Pendidikan yang terkait. Instansi tersebut adalah pihak Badan
Kepegawaian Daerah, Sekolah, Cabang Dinas Pendidikan, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kemendikbud. Instansi tersebut
yang berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan akan guru dan wadah
untuk berkonsultasi terkait dengan pembagian hak dan kewajiban
tenaga pendidik.
Kesimpulan hasil diskusi :
.............................................................................................................P