Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AKUAKULTUR
PENDEDARAN IKAN
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dasar – dasar akuakultur
Pembimbing Agung K , S.Pi

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pembenihan ikan nila merupakan usaha bududaya yang sangat produktif, meskipun
jumlah telurnya relative sedikit namun frekuensi pemijahan ikan nila cukup sering. Ikan nila di
kawinkan setiap bulan sampai usia produktifnya habis.
Ikan nila mudah memijah secara alami. Bahkan ikan ini gampang sekali memijah secara
liar di kolam-kolam budidaya, sehingga kepadatan ikan nila meningkat. Tidak seperti ikan mas
atau ikan lele yang memerluka banyak rekayasa. Pengaturan hanya diperlukan untuk mengelola
agar pemijahan berlangsung terkendali, tetapi kepadatan ikan nila tersebut menyebabkan
pertumbuhan menjadi lambat, sehingga diperlukan waktu yang lama agar dicapai ukuran
konsumsi yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah di atas dilakukan
pemijahan buatan dengan menggunakan metode kawin suntik. Dengan pengelolaan yang tepat
pembenihan ikan nila akan menjadi usaha yang menguntungkan. Pada kesempatan kali ini akan
diulas apa saja yang perlu dipersiapkan untuk memulai pembenihan ikan nila.
Ikan nila memilih toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya. Sehingga bisa
dipelihara di daratan rendah yang beraiar payau maupun daratan yang tinggi dengan suhu yang
rendah. Ikan nila dapat hidup pada kisaran suhu 18-38oC, suhu yang baik untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan 25-30oC. PH (keasaman) dari air pada kisaran 7-8 dan kadar garam yang
ditolerir antara 0-29 permil.
Ikan nila termasuk jenis ikan omnivore (pemakan tumbuhan dan hewan) jenis makanan
yang di butuhkan tergantung umurnya. Stadia larva makan utamanya crustacean kecil dan
benthos, benih lebih menyukai jenis zooplankton (rotofera, moina, dapnia). Alga yang menempel
dipelihara insentif dikolam jarring apung diberi makan berupa pelet, ikan nila biasanya
berkembangbiak pada musim hujan, frekuensi memijah 4 minggu sekali, betina besar 300 gr
jumlah telurnya 500-1000 butir, betina mengeram telurnya di mulut (mouth breeder) 6-8 hari.

1.2 Tujuan
Tujuan Tugas Akhir ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
mahasiswa di bidang Teknologi Budaya Perikanan yang berkembang saat ini. Penyesuaian diri
dengan situasi yang sebenarnya, mengumpulkan informasi dan menulis laporan.

1.3 Manfaat
Manfaat Tugas Akhir ini secara khusus mahasiswa di harapkan memperoleh pengalaman
yang mencakup tinjauan tentang perusahaan, dan kegiatan- kegiatan praktek yang berhubungan
langsung dengan teknologi. Dan mempersiapkan mahasiswa untuk belajar bekerja secara
mandiri. Bekerja dalam satu tim dan mengembangkan potensi dan keahlian di bidang budidaya
perikanan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Nila


Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlida
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang termasuk dalam famili
Cichlidae dan merupakan ikan asal Afrika (Boyd, 2004). Ikan ini merupakan jenis ikan yang di
introduksi dari luar negeri, ikan tersebut berasal dari Afrika bagian Timur di sungai Nil, danau
Tangayika, dan Kenya lalu dibawa ke Eropa, Amerika, Negara Timur Tengah dan Asia. Di
Indonesia benih ikan nila secara resmi didatangkan dari Taiwan oleh Balai Penelitian Perikanan
Air Tawar pada tahun 1969. Ikan ini merupakan spesies ikan yang berukuran besar antara 200 -
400 gram, sifat omnivora sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan dan tumbuhan
(Amri dan Khairuman, 2003).
Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan perairan dengan
kadar Dissolved Oxygen (DO) antara 2,0 - 2,5 mg/l. Secara umum nilai pH air pada budidaya
ikan nila antara 5 sampai 10 tetapi nilai pH optimum adalah berkisar 6 - 9. Ikan nila umumnya
hidup di perairan tawar, seperti sungai, danau, waduk, rawa, sawah dan saluran irigasi, memiliki
toleransi terhadap salinitas sehingga ikan nila dapat hidup dan berkembang biak di perairan
payau dengan salinitas 20 - 25‰ (Ghufran, M. 2011)
Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan Oreochromis nilocitus memang berbeda
dengan kelompok ikan tilapia. Secara umum bentuk tubuh ikan nila memanjang dan ramping,
dengan sisik- sisik berukuran besar. Bentuk matanya besar dan menonjol dengan tepi matanya
berwarna putih. Gurat sisi (linea literalis) terputus dibagian tengah tubuh, kemudian berlanjut
lagi akan tetapi letaknya lebih kebawah di bandingkan dengan letak garis yang memanjang di
atas sirip dada. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip duburnya memiliki jari- jari lemah, tetapi
keras dan tajam seperti duri. Sirip punggung dan sirip dada berwarna hitam sedangkan pinggir
sirip punggung berwarna abu-abu kehitaman.

2.2 Syarat Hidup Ikan Nila


Suhu kolam yang masih bisa di tolerir ikan nila adalah 15-37′ derajat celcius. Suhu
optimum untuk petumbuhan ikan adalah 25- 30’C. Sementara untuk pemijahan, suhu ideal untuk
bisa menghasilkan telur dan larva berkisar 22-37’C.
Ikan nila sebaiknya hidup di air dengan kadar oksigen terlarut lebih dari 3 PPM. jika
kurang dari 3PPM, bisa menghambat laju pertumbuhan. Normalnya pertumbuhan ikan nila
4bulan mencapai 300-400 gram. Untuk menambah oksigen yang masuk biasanya dibuat saluran
air.
Derajat keasaman atau PH idealnya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan nila
adalah 7. Jika PH terlalu rendah atau asam bisa di netralisir dengan memberikan kapur. jika PH
terlalu tinggi atau basa, perlu di berikan belerang dalam bentuk serbuk. di indonesia kebanyakan
tanah bersifat asam sehingga belerang jarang di gunakan.
Ikan nila mampu tumbuh baik di perairan payau dengan kadar garam kurang dari 25
PPM. Jika kadar garam lebih dari 25 PPM pertumbuhan ikan nila akan terganggu sehingga
menjadi lambat dan mudah terserang penyakit jenis hot spot.
Tingkat kekeruhan kolam atau perairan untuk ikan nila juga berpengaruh terhadap
pertumbuhan ikan nila. Tingkat kekeruhan bisa di ukur dengan keeping secci, tingkat kekeruhan
yang baik dapat di lihat jarak pandang dari permukaan air ke ikan. Jarak pandang yang baik
berkisar 30-40 CM dari permukaan air.
Kondisi air harus terbebas dari pencemaran bahan kimia yang dapat mematikan plankton
makanan khas ikan alami.Kandungan karbondioksida maksimum pada Syarat hidup ikan nila
adalah 5 mg/liter

2.3 Kebiasaan Ikan Nila


Salah satu kelebihan ikan nila adalah pada Kebiasaan Makan Ikan Nila yang memakan
segalanya (omnivora). Makana nya bisa berupa tumbuhan, daging, serangga, ikan jenis lain,
maupun plankton. Karena itu, ikan nila juga relatif hemat pakan.
Pada masa larva, setelah cadangan makanan berupa kuning telur habis, benih nila akan
memakan zooplankton yang tersedia di alam. Setelah berumur lebih dari satu minggu, anakan
ikan nila juga akan memakan lumut atau alga yang ada pada lingkungannya. Dan ikan dewasa,
tumbuhan yang ada di air sekitar merupakan makanan nya. Sementara itu, jika ikan nila di
perlihara secara intensif, perlu penambahan pakan berupa pelet untuk memacu pertumbuhan
supaya optimal. Hal ini mulai di lakukan setelah larva nila mulai menjadi benih. Pelet di berikan
berdasarkan biomassa, berikut asumsi perhitungannya.

2.4 Macam-Macam Ikan Nila


Gift
Nila Gift (genetic improvement of farmed tilapias) pertama kali dikembangkan oleh
International center for Living Aquatic Research Management (ICLARM) pada tahun 1987
dengan dukungan dari Asian Development Bank dan Unites Nations Development Programe
(UNDP). strain ini merupakan hasil seleksi dan persilangan ikan nila dari Kenya, Israel, Senegal,
Ghana, Singapura, Thailand, Mesir dan Taiwan.
Best
Strain nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapias) merupakan salah satu ikan nila
unggulan yang dihasilkan pada tahun 2008. Nila jenis ini memiliki fisik yang mirip dangan nila
gift. Pasalnya, nila BEST lahir dari hasil seleksi menggunakan populasi dasar yang salah
satunya bersumber dari ikan nila gift generasi keenam.
Gesit
Nila gesit merupakan salah satu strain unggulan yang sangat disukai petani. Pasalnya,
strain ini mampu tumbuh sangat cepat dan mampu menghasilkan larva jantan dengan persentase
hidup hingga 98%. Dilihat dari pertumbuhannya, nila gesit pada umur 4-5 bulan memiliki
panjang 8 cm dan dapat mencapai bobot 500-600 gram/ekor.
Citralada
Nila citralada merupakan strain dari Thailand yang diintroduksi pada tahun 1989.
Citralada merupakan salah satu strain ikan nila merah. Penampakan fisik ikan nila citralada
secara umum hampir sama dengan ikan nila merah lainnya. Namun, nila citralada mempunyai
warna tubuh lebih terang dan garis vertikal pada tubuh yang lebih jelas dibandingkan
dengan strain nila merah lainnya. Selain itu, sirip ekor nya juga lebih panjang. strain citralada di
negara-negara Asia Tenggara biasa digunakan sebagai subtitusi ikan kalap merah, khususnya nila
citralada yang dihasilkan dari budi daya ditambak.
Hitam 69
Nila hitam 69 merupakan strain ikan nila yang pertama kali didatangkan dari Taiwan.
Setelah melalui uji coba, ikan nila ini disebarluaskan dimasyarakkat dan dalam waktu singkat
sudah menyebar ke seluruh daerah di indonesia. Begitu akrabnya masyarakat dengan ikan nila
jenis ini, sehingga tidak heran jika ada yang menyebutnya dengan ikan nila lokal. ikan nila lokal
memiliki warna tubuh abu-abu atau hitam terutama dibagian atas. Tubuh bagian bawah (perut
dan dada) berwarna agak putih kehitaman atau kekuningan.
Nifi
Nila nifi merupakan salah satu strain ikan nila merah. Warnanya yang merah atau putih
dan kuning kemerahan menjadikan ikan ini mempunyai daya tarik tersendir bagi konsumen. Ikan
nila ini dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan ikan nila lokal. Keunggulan lainnya yakni
mampu menghasilkan keturunan yang dominan jantan. Nila nifi pertama kali didatangkan dari
Thailand pada tahun 1989. Karena berbagai keunggulannya, strain ini cepat opuler di sentra-
sentra perikanan air tawar di Indonesia.
Nirwana
Ini menghasilkan strain nirwana dan dikenalkan di masyarakat sejak akhir tahun 2006.
Sejak dirilis, nila strain nirwana banyak disukai Nirwana merupakan kepanjangan dari “Nila Ras
Wanayasa”. Sesuai namanya, nila ini berasal dari Wanayasa,Purwakarta, Jawa
Barat. Strain nirwana merupakan hasil pemuliaan genetis dari nila ggift dan nila get dari Filipina
yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa di Purwakarta dan FPK
, Institut Pertanian Bogor.
Cangkringan
Sesuai namanya, ikan nila strain cangkringan merupakam nila yang berasal cangkringan.
Ikan nila merah ini merupakan hasil pemuliaan genetis dari strain nifi,citralada,singapura dan
filipina oleh BAT atau BBI Cangkringan. Strain ini sebenarnya belum secara resmi dirilis ke
masyarakat.
Larasati
Ikan nila strain larasati dikenal juga dengan nila janti. Ikan nila strain ini merupakan hasil
pemuliaan BBI Janti di Klaten. Salah satu strain ini adalah memiliki keseragaman warna sampai
90%. Warnanya sendiri didominasi merah.

2.5 Hama dan Penyakit


2.5.1 Hama
Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa,membunuh dan
mempengaruhi produktivitas ikan, baik secara langsung maupun secara bertahap. Hama bersifat
sebagai organisma yang memangsa (predator), perusak dan kompetitor (penyaing). Sebagai
predator (organisme pemangsa), yakni makhluk yang menyerang dan memangsa ikan yang
biasanya mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dari ikan itu sendiri. Hama sering
menyerang ikan bila masuk dalam lingkungan perairan yang sedang dilakukan pemeliharaan
ikan. Masuknya hama dapat bersama saluran pemasukan air maupun sengaja datang melalui
pematang untuk memangsa ikan yang ada.
Hama yang menyerang ikan biasanya datang dari luar melalui aliran air, udara atau darat.
Hama yang berasal dari dalam biasanya akibat persiapan kolam yang kurang sempurna. Oleh
karena itu untuk mencegah hama ini masuk kedalam wadah budidaya dapat dilakukan
penyaringan pada saluran pemasukan dan pemagaran pematang. Hama ikan banyak sekali
jenisnya antara lain larva serangga, serangga air, ikan carnivora, ular, biawak, buaya , notonecta
atau bebeasan, larva cybister atau ucrit, berang-berang atau lisang, larva capung, trisipan. Hama
menyerang ikan hanya pada saat ikan masih kecil atau bila populasi ikan terlalu padat.
Sedangkan bila ikan mulai gesit gerakannya umumnya hama sulit memangsanya. Hama yang
menyerang ikan budidaya biasanya berupa ular, belut, ikan liar pemangsa. Sedangkan hama yang
menyerang larva dan benih ikan biasanya notonecta atau bebeasan, larva cybister atau ucrit.
Ikan-ikan kecil yang masuk ke dalam wadah juga akan mengganggu. Meskipun bukan hama,
tetapi ikan kecil-kecil itu menjadi pesaing bagi ikan dalam hal mencari makan dan memperoleh
oksigen.

2.5.2 Penyakit
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh
organisme lain, pakan, maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang kehidupan ikan.
Dengan demikian timbulnya serangan penyakit ikan di kolam merupakan hasil interaksi yang
tidak serasi antara ikan, kondisi lingkungan dengan organisme penyakit. Interaksi yang tidak
serasi ini telah menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang
dimikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit.
Perkembangan dan keseriusan suatu penyakit dalam akuakultur meliputi suatu interaksi
yang kompleks antara tingkat virulensi patogen, derajat imunitas inang, kondisi fisiologis dan
genetic hewan, stress dan padat tebaran. Secara umum faktor-faktor yang terkait dengan
timbulnya penyakit merupakan interaksi dari 3 faktor, yaitu inang, patogen, dan lingkungan atau
stressor eksternal (yaitu perubahan di lingkungan yang tidak menguntungkan, tingkat higienik
yang buruk dan stress) (Austin dan Austin, 1999),
Sakit pada ikan yaitu suatu keadaan abnormal yang ditandai dengan penurunan
kemampuan ikan secara gradual dalam mempertahankan fungsi-fungsi fisiologik normal. Pada
keadaan tersebut ikan dalam kondisi tidak seimbang fisiologisnya serta tidak mampu beradaptasi
atau menyesuaikan diri dengn kondisi lingkungan. Timbulnya sakit dapat akibat infeksi patogen
yang dapat berupa bakteri, virus, fungi atau parasit. Sakit dapat pula akibat defisiensi atau
malnutrisi, atau sebab-sebab lain. Ikan yang sakit akibat infeksi dikatakan sebagai ikan terkena
penyakit infeksi, demikian pula jika ikan sakit akibat defisiensi nutrien dapat dikatakan sebagai
ikan terkena penyakit defisiensi nutrien.

2.6 Pembenihan
Pembenihan adalah proses perkembangbiakan ikan baik secara alami, secara semi alami,
maupun secara buatan antara induk jantan dan unduk betina agar menghasilkan benih yang sehat,
tidak cacat, dan banyak (dalam jumlah besar). Kegiatan pembenihan ini meliputi pemeliharaan
induk, pemijahan, penetesan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih. Kemudian pada
kegiatan pemeliharaan induk, pemijahan, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih dilakukan
manajemen pakan dan manajemen kualitas air.
2.7 Pemijahan
Pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina yang
mengeluarkan sel telur betina, sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh ikan ( eksternal).
Dalam budidaya ikan , teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu :
pemijahan ikan secara alami, pemijahan ikan secara semi alami dan pemijan ikan secara buatan.
Pemijahan secara alami yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia, terjadi
secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon). Pemijahan secara alami, yaitu pemijahan
ikan yang terajadi dengan memberikan rangsahan hormone untuk mempercepat kematangan
gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan


Praktikum ini dilaksanakan hari Rabu, 16 Desember 2020 di Politeknik Negeri
Lampung.

3.2 Metode atau prosedur pelaksanaan


Adapun metode yang digunakan dalam Praktik Kerja Industri adalah :
1. Metode Partisifatif
Dalam metode ini mahasiswa langsung turun kelapangan untuk melakukan semua
kegiatan pemijahan dengan bantuan pembimbing lapangan yang memberikan arahan sehingga
dapat meningkatkan wawasan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang
didapat dibangku kuliah.
2. Metode Studi Pustaka
Metode pustaka ini dengan cara membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan
pendederan ikan nila .
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Kolam


Persiapan kolam yang dimaksud adalah Persiapan kolam pemeliharaan benih/ kolam
pendederan. Luas kolam tidak lebih dari 15 x 20 m2. Dengan kedalam air sekitar 50 –
70 cm dengan kepadatan 100 ekor/m2. Adapun proses pengeringan berlangsung selama 2 – 3
hari tergantung cuaca dan pengeringan di hentikan jika tanah sudah mulai retak. Selama proses
pengeringan berlangsung, perbaikan pematang air, pintu air, dan pembalikan tanah dasar. Proses
persiapan kolam dapat di lihat pada Gambar 4.

4.2 Proses Pengapuran


Proses pengapuran berfungsi untuk menaikan nilai pH kolam, selain itu
jugadapat membunuh hama dan penyakit yang ada di dalam kolam. Dosis pengapuran berkisar
antara 25 – 50 gram/ m2

4.3 Proses Pemupukan


Setelah melakukan proses persiapan kolam kemudian memupuk lahan untuk
meninngkatkan kesuburan tanah dan menumbuhkan pakan alami .pupuk yang diberikan berupa
pupuk kandang dari kotoran sapi ,ayam atau puyuh.

4.4 Pengisian Air


Setelah proses pengapuran dan pemupukan selesai, maka kolam di isi air dengan
ketinggian 50 cm dan di biarkan selama 5 – 7 hari, agar air mengendap dan bahan
organik menumbuhkan plankton yang berguna sebagai makanan untuk benih ikan. Dan
pada hari ke 7 ketinggian air di tambah hingga 70 – 100 cm. Setelah sehari semalam air kolam
tersebut ditebari ikan, pada saat itu fitoplankton mulai tumbuh yang di tandai dengan perubahan
warna pada air kolam menjadi kuning kehijauan.

4.5 Penebaran Benih


Setelah kolam siap, benih ikan nila langsung bisa ditebar. Padat tebar kolam sebanyak 15
hingga 30 ekor per m2. Asumsinya, jika bibit yang ditebar memiliki berat 10 hingga 20 gram per
ekor, maka saat dipanen akan memiliki ukuran 300 gram per ekor.
Namun sebelum menebar secara masal harus dilakukan adaptasi untuk mengetahui
apakah ikan bisa hidup dengan baik di kolam yang telah dibuat atau tidak. Caranya masukkan
ikan dalam wadah yang dibuka tutupnya, kemudian masukkan ke dalam kolam. Biarkan sampai
ikan keluar sendiri ke kolam.

4.6 Proses Pemeliharaan Benih


Kolam pendederan yang telah disapkan sebelumnya ditebar benih dengan
kepadatan 100 ekor/m2. Kolam-kolam pendederan yang ada di BBI Jati
umumnya berukuran 300m2.
Penebaran larva ini disesuaikan dengan luasan kolampemeliharan. Untuk kolam yang uk
uran 300 m2 ditebar larva sebanyak 30.000 ekor.
Selama masa pemeliharaan dilakukan pemberian pakan dengan dosis 10 -15 % dari bobot
biomassa ikan. Pakan yang diberikan untuk minggu (I) pertama adalah pakan Crumble
(Hancuran) dengan protein 30 – 35 %. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pagi,
siang, dan sore hari dengan cara menebar pakan di sekeliling kolam.
Pemberian pakan pada minggu (II) kedua sama dengan pemberian pakan pada minggu (I
) pertama, hanya pada minggu (II) kedua dosis pakan yang diberikan adalah 5 – 10 % dari bobot
biomassa. Selama masa pemeliharaan penggantian air dilakukan setelah benih berumur 10 hari
yaitu dengan cara menurunkan air 30 – 50 % dan kemudian menabahkannya kembali seperti
keadaan semula.
Minggu ke (III) ketiga pemeliharaan benih, pakan yang diberikan adalah pakan
yang berbentuk pelet ukuran 1 mil. Pemberian pakan ini disesuaikan dengan bentuk mulut
ikan. Dosis pakan yang diberikan 5% dan mulai dibiasakan pemberian pakan pada satu titik
pemberian. Tujuannya adalah agar benih yang dipelihara mudah di awasi dan dikontrol baik
kesehatan, pertumbuhan maupun kelangsungan hidup.
Alat panen dapat menyebabkan lecet pada benih. Oleh karena itu, alat panen harus
terbuat dari bahan yang halus.Bila menggunakan waring, bahannya harus dari kain.
Sementara hapanya harus terbuat dari kait teriling atau dari bahan nilon halus.
Penampungan dalam hapa tidak boleh terlalu padat karena dapat menyebabka ikan mabuk.
Sebelum ditangani lebih lanjut, benih hasil panen dibiarkan selama semalam agar segar kembali,

4.7 Kualitas Air


Pada saat proses pemeliharaan berlangsung kualitas air dijaga agar tetap pada
kisaran yang layak sebagai media pemeliharaan dari penetasan telur sehingga mendukung
proses perkembangan telur sampai menjadi larva dan benih. Data kualitas air selama proses
pemeliharaan larva sampai benih, dapat dilihat pada table berikut :

NO Parameter Kualitas Air Kisaran

1 Suhu 250 - 300 C

2 pH Kecerahan 6,5 – 8,5

3 >30 -50 cm

4.8 Penanggulangan penyakit


Hama dan penyakit dapat menyebabkan gagalnya usaha pendederan. Oleh sebab itu,
langkah yang paling tepat adalah pencegahan. Hama yang umum menyerang benih ikan adalah
sero, ular atau belut. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membersihkan
lingkungan kolam agar hama-hama tersebut tidak bersarang. Untuk pencegahan penyakit,
kualitas air kolam harus dijaga dan pemberian pakan harus sesuai kebutuhan ikan (Judantari,
dkk, 2008).

4.9 Pemanenan
Usaha pendederan ikan nila biasanya selama 30-45 hari (mulai pendederan I sampai
pendederan II), tergantung permintaan pasar atau pertumbuhan ikan. Apabila telah sampai batas
waktu yang telah ditentukan dilakukan pemanenan.
Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan total kolam. Pegeringan kolam
dilkukan secara bertahap, pada saat menjelang subuh. Pada pagi hari air kolam yang tersisa
hanya pada bagian saluran tengah atau kamalir saja. Biasanya benih berkumpul disaluran
tersebut. Agar benih tidak setres, sebaiknya air dialirkan masuk sedikit. Benih-benih ditangkap
secara hati-hati dengan menggunakan ayakan atau seser. Selanjutnya ditampung ditempat khusus
dalam happa atau waring yang ditempatkan diselokkan yang airnya mengalir atau dikolam dan
biarkan selama 30 menit sampai benih berenang normal. Selanjutnya benih dihitung dengan cara
ditakar dengan menggunakan literan, kemudian dianggkut atau ditebarkan ke kolam lain yang
telah disiapkan (Judantari, dkk, 2008).
Pendederan yang dikelola dengan baik dan benar, tingkat kelangsungan hidup (Survival
Rate/SR) bisa mencapai 80-90% dari jumlah benih yang ditebar. Artinya, selama pemeliharaan,
benih ikan nila yang mengalami kematian hanya berkisar 10-20% (Judantari, dkk, 2008).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Usaha dalam budidaya pembeniha iakn nila ini sangat produktif karena frekuensi
pemijahan ikan nila cukup sering meskipun jumlah telurnya relatif sedikit. Tetapi ikan nila
merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang mempunyai rasa daging yang enak dan tebal. Dan
ikan nila ini mudah memijah secara alami, bahkan ikan nila ini gampang sekali memijah secara
liar di kolam-kolam budidaya. Tidak seperti ikan lele dan ikan mas yang memelurkan banyak
rekayasa. Ikan nila ini pun memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, bisa di
pelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang tinngi dengan suhu yang
rendah.

5.2 Saran
Semua pasti mengingimkan pembenihan ikan nila ini yang menghasilkan hasil baik untuk
para petani. Jadi untuk para petani yang membenihkan ikan nila harus memijahkannya dengan
baik agar hasil benih baik dan bisa dibudidayakan secara baik, agar tidak mengalami kerugian.

Anda mungkin juga menyukai