Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AKUAKULTUR
PACKING DAN TRANSPORTASI IKAN
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dasar – dasar akuakultur
Pembimbing Agung K , S.Pi

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Transportasi ikan hidup adalah memindahkan biota perairan dalam keadaan hidup dengan
diberi tindakan untuk menjaga agar derajat kelulusan hidup (survival rate) tetap tinggi hingga di
tempat tujuan. Transportasi ikan hidup dibagi menjadi dua, yaitu transportasi menggunakan
media air atau transportasi basah dan transportasi tanpa media air atau transportasi kering
(Miranti 2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi transportasi ikan hidup dapat dibagi menjadi
beberapa macam diantaranya jenis ikan dan kepadatan. Kepadatan ikan adalah bobot ikan yang
berada dalam suatu wadah dan waktu tertentu. Kepadatan ikan yang dapat diangkut tiap wadah,
dengan atau tanpa kematian ikan merupakan persoalan penting dalam pengangkutan. Tingkat
kepadatan ikan perlu mendapatkan perhatian lebih, karena bila ikan diangkut pada kepadatan
yang terlalu tinggi, kadar glikogen dalam plasma darah meningkat dan mempengaruhi kondisi
ikan (Jurnianto 1996 dalam Suwandi dan Saputra 2010). Hal ini yang membuat perlu
dilakukannya pengamatan mengenai pengaruh jenis ikan dan kepadatan dalam transportasi hidup
biota perairan.

Tujuan

Tujuan dari praktikum materi pengangkutan ikan hidup adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara pengangkutan ikan hidup; dan
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemingsanan ikan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengangkutan ikan merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menempatkan ikan
dalam lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan asalnya, dimana lingkungan baru
tersebut dikondisikan sama seperti lingkungan asalnya sehingga dapat mengurangi tingkat
kematian. Berdasarkan ukuran ikan yang diangkut, pengangkutan ikan hidup dibedakan atas
pengangkutan ukuran benih dan ukuran konsumsi, ikan yang diangkut dalam keadaan hidup
lebih banyak didominasi oleh jenis ikan darat atau ikan air tawar daripada ikan laut dan payau.
Jenis ikan darat yang umumnya diangkut dalam keadaan hidup antara lain ikan mas, gurami,
mujair, dan lele. Sementara untuk jenis ikan laut dan payau diangkut dalam keadaan hidup
adalah ikan bandeng, udang, lobster, rajungan, dan kepiting (Hadiwiyoto, 1993).
Distribusi dan pengangkutan ikan ke pasar atau pabrik penanganan, pengolah ikan
konsumsi lebih menguntungkan dalam keadaan hidup daripada yang telah mengalami
penanganan beku. Hal ini disebabkan biaya operasi dalam pengangkutan ikan hidup lebih rendah
dibandingkan pengangkutan ikan beku. Saat ini, di pasar internasional terdapat kecenderungan
pergeseran permintaan dari bentuk beku ke bentuk hidup. Peluang ini perlu dimanfaatkan untuk
komoditas ikan tertentu khususnya udang. Penyebabnya, permintaan akan komoditas ikan atau
udang masih terbuka dan harga udang hidup dapat mencapai dua kali harga udang beku
(Junianto, 2003).
Untuk pengangkutan ikan ukuran komsumsi misalnya, sangat diharapkan dapat
mempertahankan kualitas ikan melalui dari daerah pemanenan sampai daerah pemasaran. Ikan
untuk ukuran konsumsi ukurannya yang biasa dipasarkan adalah 500 sampai 1000 gram. Pada
transportasi ikan ukuran konsumsi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan ikan
dalam air dan tanpa air atau dalarn kondisi lembab (Martyshev. 1983)

Pengangkutan ikan hidup dalam air menurut Berka (1986) biasanya dilakukan dalam dua
sistem :

a. Sistem Terbuka

Pada sistem terbuka ini, air dalam wadah dapat berhubungan langsung dengan udara luar,
sistem ini banyak dilakukan untuk pengangkutan jarak yang relatif dekat. Wadah dapat berupa
plastik atau logam, untuk jarak yang agak jauh dilakukan aerasi.

b. Sistem Tertutup

Sistem ini mempunyai tingkat efisiensi yang relatif tinggi pada jarak dan waktu terutama
dalam penggunaan tempat. Wadah dapat menggunakan kantong plastik atau kemasan lain yang
tertutup rapat.
Media yang digunakan pada pengangkutan ikan hidup dapat dibedakan atas
pengangkutan ikan hidup dengan menggunakan media air antara lain proses sistem terbuka dan
sistem tertutup dan pengangkutan ikan hidup dengan media non air antara lain wadah dan media
kemasan. Sedangkan berdasarkan ukuran ikan yang diangkut, pengangkutan ikan hidup
dibedakan atas pengangkutan ukuran benih dan ukuran konsumsi, ikan yang diangkut dalam
keadaan hidup lebih banyak didominasi oleh jenis ikan darat atau ikan air tawar daripada ikan
laut dan payau. Jenis ikan darat yang umumnya diangkut dalam keadaan hidup antara lain ikan
mas, gurami, mujair, dan lele. Sementara untuk jenis ikan laut dan payau diangkut dalam
keadaan hidup adalah ikan bandeng, udang, lobster, rajungan, dan kepiting (Moeljanto, 1992).
Di Indonesia teknologi penanganan ikan hidup dalam media tanpa air belum banyak
dipelajari. Suatu percobaan yang dilakukan oleh Research Institute of Fish Technology (Balai
Penelitian Perikanan Laut (terhadap 5 kg ikan jenis Cyprinus carpio yang dimasukkan dalam
tangki air dan ditambahkan dengan es (es : air = 1 : 3) sehingga suhu air mencapai 10-12°C dapat
bertahan hidup selama 5 jam (Djazuli dan Handayani, 1992)
BAB III

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum dasar dasar akuakultur dilaksanakan pada hari rabu, 30 Desember 2020 pukul
15.30 wib sampai dengan selesai secara daring di kolam perikanan ,program studi budidaya
perikanan, Fakultas peternakan Politeknik Negeri Lampung

Alat dan Bahan


 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum materi pengangkutan ikan hidup adalah sebagai
berikut:
Tabel 27. Alat yang digunakan pada Praktikum Materi Pengangkutan Ikan Hidup

N
Nama Alat Ketelitian Fungsi
No

1 Sebagai wadah ikan saat diberi penambahan


Baskom -
1 es

Box
2
- Sebagai wadah ikan yang telah pingsan
2 styrofoam kecil

3
Termometer 1°C Untuk mengukur suhu
3

4 Untuk menghitung lama waktu ikan pingsan


Stopwatch 1s
4 sampai sadar kembali

 Bahan

No Nama Bahan Jumlah Fungsi


Ikan Nila (Oreochromis
1. 3 ekor Sebagai sampel uji
niloticus)
2. Es curai 400 gr Untuk membuat ikan pingsan
Sebagai media tempat hidup
3. Air 1 liter
ikan
Untuk menutupi es dan ikan saat
4. Sekam padi Secukupnya di masukkan dalam box
styrofoam kecil
Langkah Kerja

1. Ikan yang akan diangkut harus diberok dahulu. Yaitu ditampung dalam bak dengan aliran
air bersih, dan tidak diberi pakan tambahan. Tujuan pemberokan adalah untuk
mengeluarkan kotoran dari tubuh ikan. Karena ikan yang baru dipanen banyak
mengandung kotorannya
2. Ikan harus diseleksi terlebih dahulu, yaitu dilakukan pemisahan antara ikan yang
berukuran besar, sedang dan kecil. Tujuan seleksi adalah agar ukuran ikan menjadi
seragam, sehingga bila diangkut tidak terjadi persaingan yang terlalu jauh sesama ikan
yang diangkut.
3. kemudian ikan ditenangkan dengan cara menahan suhu air sebagai media hidup pada
suhu 20°C dengan cara pemberian es selama 12 jam.
4. Setelah ikan tenang ikan dibius dengan cara memberikan es curai
5. Kemudian ikan di susun dalam box styrofoarm dimana bagian paling bawah dan atas
diletakkan sekam padi secara selang seling.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Hasil yang diperoleh pada praktikum pengangkutan ikan hidup adalah sebagai berikut:

Tabel 29. Hasil Pemingsanan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Waktu Perlakuan Tingkah Laku Ikan


Jumlah
(menit ke- Suhu (°C)
es (gram) Ikan 1 Ikan 2 Ikan 3
)
0 - 29 berenang aktif berenang aktif berenang aktif
berenang berenang loncatberenang
1 200 15
loncat loncat
berenang berenang lemas berenang
2 200 14
lemas lemas
berenang berenang berenang
3 200 14
miring miring miring
berenang berenang lemas berenang
4 400 12 lemas dan dan miring lemas dan
miring miring
diam, bergerak diam, bergerak diam, bergerak
5 400 10 sebentar sebentar sebentar
6 400 9 pingsan pingsan Pingsan

Tabel 30. Hasil Penyadaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Secara Bertahap
Perubahan Tingkah Laku Ikan
Waktu (men Suhu
it ke-) (°C) Ikan 1 Ikan 2 Ikan 3
operculum bergerak operculum operculum
0 28
lamban bergerak lamban bergerak lamban
operculum bergerak operculum operculum
1 28
cepat bergerak cepat bergerak cepat
2 28 berenang miring berenang miring berenang miring
3 28 berenang miring berenang miring berenang miring

4 28 berenang normal berenang normal berenang normal


diam,bernafas diam, bernafas diam, bernafas
5 28
normal normal normal
6 28 berenang aktif berenang aktif berenang aktif

7 28 ikan sehat ikan sehat ikan sehat

8 28 berenang aktif berenang aktif berenang aktif

9 28 berenang normal berenang normal berenang normal


ikan sehat, berenang ikan sehat, Ikan sehat,berenang
10 28
normal berenang normal normal
Pembahasan

Sampel yang digunakan pada praktikum materi pengangkutan ikan hidup adalah
ikan Nila (Oreochromis niloticus) hias. Ikan diletakkan dalam wadah berisi air kemudian diberi
perlakuan penambahan es sebanyak 200 gram secara bertahap hingga semua ikan dalam wadah
benar-benar pingsan yang dicirikan dengan tubuh ikan miring dan pasif atau diam. Jumlah es
yang dibutuhkan untuk membuat semua ikan dalam wadah pingsan pada kelompok 5
sebanyak 400 gram dan suhu air berisi es tersebut sebesar 9°C. Ukuran tubuh ikan sangat
mempengaruhi proses tingkat kecepatan pemingsanan, jika ikan tersebut berukuran besar maka
ikan tersebut akan mengalami proses kecepatan pemingsanan yang berlangsung lambat
sedangkan ikan berukuran kecil kecepatan pemingsanan akan berlangsung cepat.
Hal ini sesuai dengan pendapat menurut Junianto (2003), bahwa pemingsanan pada ikan
dipengaruhi oleh tebal tidaknya kulit rangka yang menutupi saraf ikan. Semakin besar ikan
semakin tebal pula rangka yang menutupi saraf tersebut. Sehingga ikan tersebut cepat atau lama
akan mengalami pemingsanan. Pemberian es secara bertahap dan secara langsung juga
mempengaruhi cepat tidaknya pemingsanan ikan dan juga jumlah es diberikan pada media.
Semakin banyak es yang diberikan pada ikan maka semakin cepat pula mengalami pemingsanan
dan jika es yang diberikan sedikit maka proses pemingsanan akan berlangsung lama.
Hasil dari pemingsanan ikan Nila (Oreochromis niloticus) hias menggunakan suhu
rendah dapat menyebabkan metabolisme dalam tubuh ikan menjadi terganggu karena
penggunaan suhu rendah akan mempengaruhi syaraf ikan yang berfungsi sebagai penerima
rangsang sehingga rangsangan dari luar tidak diteruskan oleh neurit atau axon. Akhirnya, ikan
atau organisme tersebut akan diam atau pingsan walaupun sebenarnya masih hidup. Menurut
Junianto (2003), pemakaian suhu dingin dalam pengangkutan ikan dapat menyebabkan
metabolisme dalam tubuh ikan menjadi rendah. Apabila pengangkutan ikan dengan metode
pemingsanan dilakukan untuk jarak yang jauh dapat mengakibatkan kematian pada ikan terbebut
kecuali jika suhu dalam wadah pengangkutan disesuaikan dengan suhu lingkungan hidupnya.
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum materi pengangkutan ikan hidup adalah
sebagai berikut:

Pengangkutan ikan hidup dapat dilakukan dengan sistem terbuka dan tertutup, sistem
tertutup adalah dengan memingsankan ikan hidup dengan cara menurunkan suhunya dengan
penambahan es sampai ikan menjadi pingsan;
Faktor yang mempengaruhi proses pemingsanan antara lain : suhu perairan, kadar
oksigen, kondisi biologis ikan, ukuran ikan, komposisi kimia dan cara pengangkutan ikan

Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum materi pengangkutan ikan hidup adalah
sebagai berikut:
1. Sebaiknya jenis ikan yang digunakan dalam praktikum materi pengangkutan ikan hidup
lebih bervariasi jenisnya sehingga dapat dibandingkan hasilnya.
2. Sebaiknya es yang digunakan pada praktikum materi pengangkutan ikan hidup
menggunakan es curai yang memiliki partikel es paling kecil sehingga pendinginan saat
pengangkutan ikan hidup lebih maksimal.

Anda mungkin juga menyukai