Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka


Kajian pustaka ini menguraikan tentang teori-teori dan pengertian-pengertian
yang mendukung penelitian. Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan penulis
dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang
digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu,
penulis tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul
penelitian penulis. Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai
referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut
merupakan penelitian terdahulu berupa beberapa jurnal terkait dengan penelitian
yang dilakukan penulis.
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Metode Hasil Penelitian
Penelitian

1. Sri Dian Cahyani Hubungan Antara Asosiatif Hasil penelitian ini


(2015) Bauran Pemasaran Dengan menunjukkan bahwa
Dengan Minat Pasien Pendekatan terdapat hubungan yang
Berkunjung Di Instalasi Potong positif dan signifikan
Rawat Jalan Rumah Lintang antara dimensi marketing
Sakit Ortopedi (Cross mix dengan minat
Prof.Dr.R.Soeharso Sectional) kunjungan pasien, kecuali
Surakarta Tahun 2016 Dan Point dimensi process, product,
Time people, dan promotion. Di
Approach mensi yang memiliki
hubungan paling kuat
dengan minat kunjungan
pasien adalah
dimensi price
2. Christian (2015) Pengaruh Bauran Survei Hasil penelitian ini
Pemasaran Terhadap Lapangan menunjukkan bahwa
Kepercayaan Pasien adanya pengaruh bauran
Serta Dampaknya Pada pemasaran terhadap

6
Reputasi Puskesmas kepercayaan yang
Pada Pasien Poliklinik signifikan secara
Umum Puskesmas Puter simultan. Dan secara
Dinas Kesehatan Kota parsial yang paling
Bandung memiliki pengaruh
adalah bauran lingkungan
fisik dan proses jasa,
pengaruh kepercayaan
terhadap reputasi, dan
pengaruh bauran
pemasaran terhadap
reputasi secara signifikan
3. Suciana Aprilia Hubungan Bauran Kuantitaif Hasil penelitian
Angraeni (2017) Pemasaran Dengan menunjukan bahwa
Loyalitas Pasien Poli variabel yang
Gigi Di Puskesmas berhubungan dengan
Batua Kota Makassar bauran pemasaran sangat
Tahun 2016 berpengarauh dengan
loyalitas pasien poli gigi
puskesmas yang meliputi
produk, tempat, petugas
kesehatan, proses, fasilitas
fisik, dan promosi
4. Novi Henriyati Pengaruh Bauran Analisis Hasil penelitian
Rahmi, Pemasaran Jasa Dan Deskriptif mnunjukkan bahwa
Sampurno, Kualitas Pelayanan Metode bauran pemasaran dan
Wahono Kesehatan Puskesmas Potong kualitas pelayanan
Sumaryono Bojang Nangka Lintang kesehatan berpengaruh
(2019) Terhadap Kepuasan Atau Cross secara parsial maupun
Pasien BPJS Sectional bersama-sama terhadap
kepuasan pasien BPJS

7
5. Iztihadun Nisa Hubungan Bauran Deskriptif Hasil penelitian
(2019) Pemasaran Terhadap Kuantitatif menemukan bahwa
Keputusan Pasien Dengan terdapat hubungan antara
Memilih Unit Rawat Rancangan produk (product), lokasi
Jalan Di Rumah Sakit Penelitian (place), promosi
Universitas Ahmad Crosectional (promotion), dan orang
Dahlan Yogyakarta (people) terhadap
keputusan pasien dalam
memilih unit rawat jalan
di Rumah Sakit
Universitas Ahmad
Dahlan, dan variabel yang
memiliki kekuatan paling
kuat hubungannya
terhadap keputusan pasien
adalah variabel produk
(product) dan pendukung
fisik (physical evidence)

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran merupakan kegiatan penting dalam perusahaan yang ditujukan

untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat melalui suatu produk yang

diharapkan dapat memberikan manfaat bagi konsumen, selain itu pemasaran

ditujukan untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

Menurut Harper, dkk (2000:4) Pemasaran adalah suatu proses sosial yang

melibatkan kegiatankegiatan penting yang memungkinkan individu dan

perusahaan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui

pertukaran dengan pihak lain dan untuk mengembangkan hubungan pertukaran.

8
Menurut Setiyaningrum dkk (2015:1) Pemasaran adalah sebuah subjek yang

sangat penting dan dinamis, karena pemasaran menyangkut kegiatan sehari-hari

dalam sebuah masyarakat.

Menurut Kotler dan Keller (2016: 27) Marketing is a societal process by

which individuals and groups obtain what they need and want through creating,

offering, and freely exchanging products and services of value with others.

Menurut AMA (Asosiasi Pemasaran Amerika) yang dikutip oleh Kotler dan

Keller (2016: 27) mendefinisikan Marketing is the activity, set of institution, and

and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings

that have value for customers, clients, partners, and society at large.

Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran bertujuan

untuk mencapai sasaran dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen

dengan berbagai cara yaitu dengan merancang produk, menentukan harga,

melakukan promosi, membangun hubungan dengan pelanggan, memberikan

kepuasan bagi konsumen dan mendapatkan keuntungan untuk organisasi.

2.2.2 Manajemen Pemasaran

Manajemen pemasaran memiliki peran yang sangat penting dalam

perusahaan. Diantaranya, merencanakan suatu produk baru dan memilih pangsa

pasar yang sesuai serta memperkenalkan produk baru kepada masyarakat luas.

Pengertian manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller (2016: 27)

marketing management as the art and science of choosing target markets and

getting, keeping, and growing customers through delivering and communicating

superior customers value. Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu untuk

memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan

9
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai

pelanggan yang unggul.

Sedangkan Menurut Djaslim Saladim (2016: 3) Manajemen Pemasaran

sebagai suatu analisis, perencanaan, penerapan, pengendalian program yang

dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran

yang menguntungkan dengan sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan-

tujuan organisasi. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen

pemasaran merupakan ilmu yang dapat diaplikasikan dalam suatu organisasi atau

perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan melalui

proses merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan

program yang melibatakan konsep pemasaran.

2.2.3 Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Bauran pemasaran (marketing mix) mempunyai peranan yang sangat

penting dalam mempengaruhi pelanggan untuk membeli produk atau jasa yang

ditawarkan pasar, oleh karena itu bauran pemasaran (marketing mix) dikatakan

sebagai suatu perangkat yang akan menunjukkan tingkat keberhasilan pemasaran.

Menurut Kotler dan Armstrong (2016: 47) Bauran pemasaran (marketing mix)

mencakup empat (4) hal pokok dan dapat dikontrol oleh perusahaan yang meliputi

produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi (promotion).

Menurut Kotler dan Amstrong (2016: 51) pengertian bauran pemasaran

(marketing mix) adalah marketing mix is the set of tactical marketing tools that

the firm blends to produce the response it wans in target markets. Sedangkan

pengertian lainnya dari Buchari Alma (2016: 205), memberikan definsi tentang

bauran pemasaran (marketing mix) sebagai suatu strategi mencampuri kegiatan-

10
kegiatan pemasaran, agar dicari kombinasi maksimal sehingga mendatangkan

hasil yang memuaskan. Marketing mix terdiri atas empat komponen atau disebut

4P yaitu product, price, place dan promotion.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut peneliti sampai pada pemahaman

bahwa bauran pemasaran (marketing mix) merupakan suatu alat pemasaran yang

dijadikan strategi dalam kegiatan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan

yang optimal. Sementara itu seperangkat alat-alat pemasaran tersebut

diklasifikasikan menjadi empat (4) kelompok yang luas yang disebut 4P

pemasaran, sedangkan dalam pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran

tambahan seperti people (orang), physical evidence (fasilitas fisik) dan process

(proses) sehingga dikenal 7P maka dapat disimpulkan bauran pemasaran jasa

yaitu product, price, place, promotion, people, physical evidence, process.

Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Amstrong (2016: 62) sebagai berikut:

1. Produk

Produk (product), adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan

pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan

mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil

tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa.

2. Harga

Harga (price), adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan

menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus

menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos

angkut dan berbagai variabel yang bersangkutan.

3. Distribusi

11
Distribusi (place), yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan yang

dipakai untuk menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani pasar

sasaran, serta mengembangkan sistem distribusi untuk pengirim dan

perniagaan produk secara fisik.

4. Promosi

Promosi (promotion), adalah suatu yang digunakan untuk memberitahukan dan

membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui

iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi.

Dalam pemasaran jasa ada elemen-elemen lain yang bisa dikontrol dan

dikoordinasikan untuk keperluan komunikasi dan memuaskan konsumen jasa,

elemen tersebut adalah 3P, sehingga bauran pemasarannya menjadi 7P, yaitu:

1. Orang

Orang (People) adalah semua pelaku yang memainkan peranan penting dalam

penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen dari

orang adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan konsumen lain. Semua sikap

dan tindakan karyawan, cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan

memiliki pengaruh terhadap keberhasilan penyampaian jasa.

2. Fasilitas Fisik

Fasilitas Fisik (Physical Evidence), merupakan hal nyata yang turut

mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan produk

atau jasa yang ditawarkan. Unsur yang termasuk dalam sarana fisik antara lain

lingkungan atau bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan

barang-barang.

3. Proses
Proses (process), adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran

12
aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa. Elemen proses ini

memiliki arti sesuatu untuk menyampaikan jasa. Proses dalam jasa merupakan

faktor utama dalam bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan senang

merasakan sistem penyerahan jasa sebagai bagian jasa itu sendiri.

Dari ketujuh alat-alat pemasaran di atas mencerminkan penjual terhadap alat

pemasar yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang

pemasar, setiap alat pemasaran dirancang untuk memberikan manfaat kepada

pelanggan. Jadi, perusahaan pemenang adalah perusahaan yang dapat memenuhi

kebutuhan konsumen/ pelanggan secara ekonomis, mudah dan dengan komunikasi

yang efektif.

2.2.3 Keputusan Pembelian

Pengertian mengenai perilaku konsumen oleh perusahaan selaku produsen

sangat penting dan perlu diperhatikan lebih lanjut. Menurut Kotler dan Keller

(2016:199) perilaku konsumen merujuk pada perilaku membeli konsumen yang

membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi. Seluruh konsumen akhir yang

digabungkan akan membentuk pasar konsumen.

Para pemasar harus melihat lebih jauh bermacam-macam faktor yang

mempengaruhi para konsumen dan mengembangkan pemahaman mengenai cara

konsumen melakukan keputusan pembelian. Kita dapat membedakan lima peran

yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian:

1. Pencetus

Pencetus adalah orang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli

produk atau jasa.

2. Pemberi Pengaruh

13
Pemberi pengaruh adalah orang yang pandangan atau sarannya mempengaruhi

keputusan.

3. Pengambil Keputusan

Pengambil keputusan adalah orang yang mengambil keputusan mengenai

setiap komponen keputusan pembelian-apakah membeli, tidak membeli,

bagaimana cara membeli, dan dimana akan membeli.

4. Pembeli

Pembeli adalah orang yang melakukan pembelian yang sesungguhnya.

5. Pemakai

Pemakai adalah seseorang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau

jasa tertentu.

Ada beberapa tipe perilaku keputusan dalam membeli. Semakin kompleks

keputusan biasanya akan melibatkan semakin banyak pihak yang terkait dan

semakin banyak pertimbangan. Empat jenis perilaku pembelian menurut Kotler

dan Keller (2016: 199) antara lain:

1. Perilaku pembelian yang rumit

Konsumen terlibat dalam perilaku pembelian yang rumit bila mereka sangat

terlibat dalam pembelian dan sadar akan adanya perbedaan besar antarmerek.

2. Perilaku pembelian pengurangan ketidaknyamanan

Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian namun melihat

sedikit perbedaan antarmerek. Keterlibatan yang tinggi disadari oleh fakta

bahwa pembelian tersebut mahal, jarang dilakukan, dan berisiko.

3. Perilaku pembelian karena kebiasaan

14
Banyak produk dibeli pada kondisi rendahnya keterlibatan konsumen dan tidak

adanya perbedaan antar merek yang signifikan.

4. Perilaku pembelian yang mencari variasi

Beberapa situasi pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah

tetapi perbedaan antar merek signifikan. Dalam situasi ini, konsumen sering

melakukan peralihan merek. Peralihan merek terjadi karena mencari variasi

dan bukannya karena ketidakpuasan.

Hal ini menyimpulkan bahwa ada beberapa jenis perilaku dalam keputusan

pembelian, yang masing-masing perilaku konsumen dipengaruhi oleh kebiasaan,

merek, situasi, dan juga banyaknya pilihan alternatif yang ada. Perilaku pembelian

untuk produk makanan cenderung masuk ke dalam tipe perilaku yang ketiga yaitu

membeli karena kebiasaan, tetapi bisa juga masuk tipe perilaku membeli yang

mencari keragaman.

2.2.4 Proses Keputusan Pembelian

Menurut Kotler dan Keller (2016:195), ada lima tahap yang dilalui

konsumen dalam mengambil suatu keputusan pembelian yaitu:

1. Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.

Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal.

2. Pencarian Informasi

Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari

informasi yang lebih banyak. Kita dapat membaginya ke dalam dua level

rangsangan. Situasi pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan

penguatan perhatian. Pada level itu orang hanya sekedar lebih peka terhadap

15
informasi produk. Pada level selanjutnya, orang itu mungkin masuk ke

pencarian informasi secara aktif yaitu mencari bahan bacaan, menelepon

teman, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.

3. Evaluasi Alternatif

Pasar harus tahu tentang evaluasi alternatif, yaitu bagaimana konsumen

mengolah informasi merek yang bersaing dan membuat penilaian akhir. Tidak

ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh semua konsumen

atau oleh satu konsumen dalam semua situasi pembelian. Bagaimana cara

konsumen mengevaluasi alternatif bergantung pada konsumen pribadi dan

situasi pembelian tertentu.

4. Keputusan Pembelian

Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek

yang ada di dalam kumpulan pilihan. Konsumen tersebut juga dapat

membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai. Namun, dua faktor

berikut dapat berada di antara niat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor

pertama adalah sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi

alternatif yang disukai seseorang. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak

terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat pembelian.

5. Perilaku Pasca pembelian

Setelah pencarian evaluasi keputusan membeli produk, konsumen akan

mengalami level kepuasan pasca pembelian. Jika kinerja produk lebih rendah

daripada harapan, pelanggan akan kecewa. Jika ternyata sesuai harapan,

pelanggan akan puas; jika melebihi harapan, pembeli akan sangat puas.

2.2.5 Pengertian Puskesmas

16
Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah penyelenggara pelayanan

kesehatan tingkat primer yang bertangungjawab atas kesehatan masyarakat di

wilayah kerjanya. Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana fungsional

yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran

serta masyarakat di bidang kesehatan dan pusat pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan kegiatan secara meyeluruh, terpadu dan berkesinambunngan

pada masyarakat yang ada di wilayah kerjanya (Gurning, 2018).

Puskemas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan,

dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Puskesmas dalam penyelenggaraanya memilki tujuan yaitu mendukung

tercapainya pembangunan kesehatan Nasional. Puskesmas juga bertujuan untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara merata di wilayah kerjanya

dengan meningkatkan kasadaran, kemauan, serta kemampuan masyarakat untuk

hidup sehat (Suhadi, 2015).

2.2.6 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Puskesmas merupakan salah satu jenis pelayanan tingkat pertama yang

memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional. Penyelenggaraan

puskesmas dilaksanankan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan serta

menyukseskan program jaminan kesehatan nasional. Dalam pelaksanaanya

Puskesmas memiliki prinsip yang menjadi pokok dasar dalam

penyelenggaraannya, prinsip-prinsip tersebut yaitu meliputi :

1. Paradigma Sehat

17
Paradigma sehat yaitu Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan

untuk berkomitmen dalam upaya pencegahan dan mengurangi resiko kesehatan

yang dihadapi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

2. Pertangungjawaban Wilayah

Berdasarkan prinsip pertangungjawaban wilayah yaitu Puskesmas

mengerakkan dan bertangung jawab terhadap pembangunan kesehatan di

wilayah kerjanya.

3. Kemandirian Masyarakat

Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga,

kelompok, dan masyarakat.

4. Pemerataan

Puskesmas menyelengarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat diakses dan

terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara adil tanpa

membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.

5. Teknologi Tepat Guna

Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan

teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan, mudah

dimanfatkan dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan.

6. Keterpaduan Dan Kesinambungan

7. Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggaraan

Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan

(UKP) lintas sektor serta melaksanakan Sistem Rujukan yang didukung dengan

manajemen Puskesmas (Kemenkes RI, 2014).

2.2.7 Fungsi Puskesmas

18
Dalam pelaksaan tugas, Puskesmas memiliki fungsi yang diatur dalam

Permenkes RI nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat yang

menyatakan bahwa, penyelenggaraan Puskesmas terdiri dari 2 (dua) fungsi yaitu

penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama dan

penyelenggraan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama di wilayah

kerjanya. Dalam menyelenggarakan fungsi UKM tingkat pertama Puskesmas

berwenang untuk:

1. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan

masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan

2. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan

3. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat

4. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah

dalam bidang kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang

berkerjasama dengan sektor terkait lainnya

5. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya

kesehatan berbasis masyarakat

6. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas

7. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan

8. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan

cakupan pelayanan kesehatan

9. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk

dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penaggulangan

penyakit.

19
Selanjutnya terdapat beberapa poin penyelenggraan fungsi Puskesmas dalam

UKP, yaitu:

1. Menyelenggarankan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,

berkesinambungan dan bermutu

2. Menyelengarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif

dan preventif

3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,

keluarga, kelompok maupun masyarakat

4. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan

keselamatan pasien, petugas, dan pengunjung

5. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan

kerja sama inter dan intra profesi

6. Melaksanakan rekam medis

7. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi mutu dan akses pelayanan

kesehatan

8. Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

9. Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan

kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya

10. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem

rujukan.

2.2.8 Program Pokok Puskesmas

Dalam penyelenggaraan Puskesmas untuk mencapai visi pembangunan

kesehatan melalui Puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju

20
Indonesia sehat. Untuk mewujudkan itu Puskesmas memiliki program pokok

sebagai acuan dalam proses pelaksanaannya, program pokok tersebut yaitu:

1. Upaya kesehatan ibu dan anak

2. Upaya keluarga berencana

3. Upaya peningkatan gizi

4. Upaya kesehatan lingkungan

5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

6. Upaya penyuluhan kesehatan

7. Upaya kesehatan sekolah

8. Upaya kesehatan olahraga

9. Upaya kesehatan masyarakat

10. Upaya kesehatan kerja

11. Upaya kesehatan gigi dan mulut

12. Upaya kesehatan jiwa

13. Upaya kesehatan mata

14. Upaya kesehatan laboratorium (Suhadi, 2015).

Program diatas merupakan program pokok atau tugas pokok Puskesmas

sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer yang memberikan pelayanan

promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan promotif berupa

penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan

masyarakat. Pelayanan preventif yaitu upaya pencegahan melalui pemberdayaan

masyarakat seperti mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan,

pemeriksaan kesehatan secara berkala dan upaya pemeliharaan diri lainnya.

Pelayan kuratif yaitu upaya pengobatan yang dilakukan kepada masyarakat

21
sekitar. Serta upaya rehabilitatif yaitu upaya pemulihan kesehatan pada keadaan

sebelumnya.

22