Anda di halaman 1dari 9

STRATEGI REVITALISASI MINDSET PENCARI KERJA (Job Seeker)

KEPADA PENCIPTA KERJA (Job Creator)

Ricky Ekaputra Foeh*)

Abstrak
Setiap tahunnya angka pengangguran terus bertambah. Memasuki 2011 pengangguran terbuka sekarang
sebesar 9,25 juta jiwa, sedangkan data pengangguran terdidik menunjukkan kecenderungan semakin
meningkat dari tahun ke tahunnya. Hal ini menjadi sebuah fenomena yang semakin mengkhawatirkan
karena membuktikan bahwa pola pikir para sarjana umumnya berorientasi menjadi pegawai negeri atau
karyawan swasta, padahal lapangan kerja baik di swasta dan negeri sangat terbatas dibanding angkatan
kerja. Sistem Pendidikan di Indonesia justru melahirkan para pencari kerja baru, bukan pencipta lapangan
kerja. Mindset (pola pikir) kaum intelek mesti di revitalisasi agar terpola menjadi job creator ketimbang
menjadi job seeker.

Kata Kunci: Mindset, Pencari Kerja, Pencipta Kerja, Kewirausahaan

Pendahuluan diidentikan dengan usaha mikro, kecil


dan menengah.
Setiap manusia membutuhkan
makanan, minuman, tempat tinggal, Fenomena yang muncul adalah
kepuasan dan kebutuhan fisik lainnya banyaknya lulusan perguruan tinggi yang
selain dari kebutuhan akan rasa aman dan lebih memilih menjadi pegawai
perlindungan dari gangguan fisik dan negeri/karyawan swasta (employee)
emosional yang merugikan. Untuk ketimbang membuka lapangan kerja.
memenuhi akan semua kebutuhan Sikap mandiri dengan tidak
tersebut seseorang harus bekerja. Lewat menggantungkan harapan untuk bekerja
pekerjaan ada upah yang diterima. kantoran, atau menjadi
Pekerjaan yang dilakukan dapat melalui Pegawai/karyawan (employee),
sektor formal yang mana adalah kegiatan tampaknya belum akrab dalam benak
usaha yang berlangsung secara formal sebagian besar para calon sarjana.
kelembagaan seperti pada kantor kantor Mereka berasumsi bahwa ketika lulus
pemerintahan, perusahaan, dan badan kuliah, kemudian mendapat pekerjaan
usaha, sedangkan sector informal kantoran, atau menjadi
*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 1
Pegawai/karyawan (employee), akan sesuatu. Proses mencari tentu memakan
menjamin masa depan mereka kelak. waktu yang tidak menentu.
Padahal kesempatan kerja pada organisasi
Fakta menunjukkan pilihan yang
pemerintahan hanya dibuka setiap tahun,
diambil oleh sebagian besar lulusan kita
bagi mereka yang berminat menjadi PNS
saat ini lebih banyak menciptakan
dengan tujuan untuk mengisi lowongan
pengangguran dibandingkan
mereka yang telah pensiun, meninggal
meningkatkan jumlah lapangan kerja.
dunia atau keluar dari pekerjaannya.
Sebagai akibat dari belum pulihnya iklim
Jumlah lowongan yang tersedia sangat
investasi, terbatas peluang kerja, dan
sedikit jika dibandingkan dengan jumlah
bertambahnya angkatan kerja baru dari
yang melamar. Hal ini mendorong adanya
pendidikan diploma dan sarjana sebesar
persaingan yang sangat ketat diantara
1,5 juta jiwa hingga 2 juta jiwa per
para peserta tes. Semuanya berlomba
tahunnya maka tidak mengherankan
menjadi yang terbaik agar direkrut. Bagi
jumlah pengangguran terus bertambah
mereka yang tidak lulus tes akan
setiap tahunnya.
menambah deretan jumlah angkatan kerja
yang semakin bertambah dan bertambah.
Sudah saatnya, kita perlu
merevitalisasi mindset (pola pikir)
Pilihan yang diambil tidaklah
seorang lulusan perguruan tinggi dari
keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya
seorang pencari kerja menjadi seorang
benar. Coba kita tanya kepada para
pencipta kerja, semangat kewirausahaan
mahasiswa, para calon sarjana tentang
harus ditanamkan dalam diri generasi
rencana mereka setelah lulus kuliah nanti.
bangsa kita sejak dini. Sikap keragu-
Akan muncul berbagai jawaban praktis-
raguan, untuk berpindah dari kuadran
pragmatis yaitu “mencari kerja”., jika kita
“employee” ke kuadran
cermati lebih jauh hal ini menyiratkan
“pengusaha/pemilik usaha” harus
sebuah ketidakpastian. Apakah kita lantas
dihilangkan. Kendati untuk memulai
membiarkan mereka terus berusaha
suatu usaha membutuhkan setidaknya
mencari pekerjaan, karena, mencari
keberanian untuk mengexplorasi ide
adalah sama dengan belum menemukan
bisnis dan menjadikannya bernilai.

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 2


Pola pikir yang kita anut selama ini nilainya menjadi lebih tinggi dari
harus diperbaiki secara tepat antara lain: sebelumnya.

1) Tidak mempunyai keyakinan, Berwirausaha artinya


gantikan dengan sebuah menciptakan sesuatu yang tidak ada
keyakinan yang kokoh untuk menjadi ada dan bermakna bagi manusia
menjadi yang terbaik melalui tindakan kreatif dan inovatif.
2) Tidak mempunyai tujuan Wirausahawan cenderung menggunakan
hidup yang jelas, gantikan energinya untuk melakukan dan
dengan menetapkan tujuan membangun suatu kegiatan. Seorang
hidup yang jelas dan mantap wirausahawan yang tahu bagaimana
3) Tidak mempunyai strategi menemukan sesuatu, merangkai, dan
yang ampuh mengatasi mengendalikan sumber-sumber (yang
kesulitan hidup, gantikan kadang-kadang dimiliki oleh orang lain)
dengan belajar dari orang lain untuk mewujudkan tujuannya.
dan berpikirlah secara
Pandangan penulis ini di pertegas
komprehensif untuk mengatasi
dengan pandangan Richard Cantillon
setiap persoalan yang dihadapi
(1775) tentang Kewirausahaan yang
4) Tidak mempunyai rencana
didefinisikan sebagai bekerja sendiri
yang realistic, gantikan
(self-employment). Seorang
dengan tetapkan rencana yang
wirausahawan membeli barang saat ini
masuk akal untuk dapat
pada harga tertentu dan menjualnya pada
dicapai dalam kurun waktu
masa yang akan datang dengan harga
tertentu dengan cara yang
tidak menentu.
elegan.

Frank Knight (1921)


Wirausaha dan Kewirausahaan
mendefinisikan wirausahawan mencoba
Dalam pandangan penulis, untuk memprediksi dan menyikapi
wirausaha adalah seseorang yang perubahan pasar. Definisi ini menekankan
mengkombinasikan sumber daya, tenaga pada peranan wirausahawan dalam
kerja, material dan aset-aset lain sehingga menghadapi ketidakpastian pada

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 3


dinamika pasar. Seorang worausahawan Harvey Leibenstein (1968),
disyaratkan untuk melaksanakan fungsi- Kewirausahaan mencakup kegiatan-
fungsi manajerial mendasar seperti kegiatann yang dibutuhkan untuk
pengarahan dan pengawasan. menciptakan atau melaksanakan
perusahaan pada saat semua pasar belum
Joseph Schumpeter (1934),
terbentuk atau belum teridentifikasi
memberikan arti Wirausahawan adalah
dengan jelas, atau komponen fungsi
seorang inovator yang
produksinya belum diketahui
mengimplementasikan
sepenuhnya.
perubahanperubahan di dalam pasar
melalui kombinasi-kombinasi baru. Peter F. Drucker, berpendapat
Kombinasi baru tersebut bisa dalam bahwa Kewirausahaan merupakan
bentuk (1) memperkenalkan produk baru kemampuan dalam menciptakan sesuatu
atau dengan kualitas baru, (2) yang baru dan berbeda. Pengertian ini
memperkenalkan metoda produksi baru, mengandung maksud bahwa seorang
(3) membuka pasar yang baru (new wirausahan adalah orang yang memiliki
market), (4) Memperoleh sumber pasokan kemampuan untuk menciptakan sesuatu
baru dari bahan atau komponen baru, atau yang baru, berbeda dari yang lain. Atau
(5) menjalankan organisasi baru pada mampu menciptakan sesuatu yang
suatu industri. Schumpeter mengkaitkan berbeda dengan yang sudah ada
wirausaha dengan konsep inovasi yang sebelumnya.
diterapkan dalam konteks bisnis serta
Zimmerer dan Scarborough,
mengkaitkannya dengan kombinasi
berpendapat kewirausahaan sebagai suatu
sumber daya.
proses penerapan kreativitas dan inovasi
Penrose (1963), berujar bahwa dalam memecahkan persoalan dan
Kegiatan kewirausahaan mencakup menemukan peluang untuk memperbaiki
indentifikasi peluang-peluang di dalam kehidupan (usaha).
system ekonomi. Kapasitas atau
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik
kemampuan manajerial berbeda dengan
dari berbagai pengertian tersebut adalah
kapasitas kewirausahaan.
bahwa

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 4


1. Seorang wirausahawan selalu manajerial tanpa menjalankan
diharuskan menghadapi resiko fungsi kewirausahaannya. Jadi
atau peluang yang muncul, serta kewirausahaan bias bersifat
sering dikaitkan dengan tindakan sementara atau kondisional.
yang kreatif dan innovatif. Kewirausahaan adalah proses
Wirausahawan adalah orang yang penciptaan sesuatu yang berbeda
merubah nilai sumber daya, nilainya dengan menggunakan
tenaga kerja, bahan dan faktor usaha dan waktu yang diperlukan,
produksi lainnya menjadi lebih memikul resiko finansial,
besar daripada sebelumnya dan psikologi dan sosial yang
juga orang yang melakukan menyertainya, serta menerima
perubahan, inovasi dan cara-cara balas jasa moneter dan kepuasan
baru. Selain itu, seorang pribadi.
wirausahawan menjalankan
Lulusan Perguruan Tinggi dan
peranan manajerial dalam
Kewirausahaan
kegiatannya, tetapi manajemen
rutin pada operasi yang sedang
Keengganan lulusan perguruan
berjalan tidak digolongkan
tinggi memilih menjadi wirausahawan
sebagai kewirausahaan. Seorang
salah satunya karena terjebak dalam
individu mungkin menunjukkan
mitos yang terbentuk dan berkembang
fungsi.
dalam masyarakat kita bahwa diperlukan
2. Kewirausahaan dipandang sebagai
modal yang besar untuk memulai suatu
fungsi yang mencakup eksploitasi
usaha, padahal tidak demikian adanya.
peluangpeluang yang muncul di
Memang benar bahwa semua usaha
pasar. Eksploitasi tersebut
membutuhkan modal untuk bisa berjalan;
sebagian besar berhubungan
juga benar bahwa banyak bisnis jatuh
dengan pengarahan dan atau
karena tidak didukung keuangan yang
kombinasi input yang produktif.
memadai. Namun ketidakmampuan
kewirausahaan ketika membentuk
manajemen, lemahnya pemahaman
sebuah organisasi, tetapi
terhadap persoalan keuangan; investasi
selanjutnya menjalankan fungsi
yang buruk dan perencanaan yang jelek

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 5


adalah sejumlah variabel yang wirausaha sehingga banyak
menentukan jatuh bangunnya sebuah wirausaha tangguh yang berasal
usaha. Banyak wirausahawan sukses dari suku tersebut. Namun secara
berhasil mengatasi persoalan kekurangan umum kultur masyarakat
uang dalam menjalankan usahanya Indonesia masih mengagungkan
dengan cara yang elegan. Bahkan ada profesi yang relatif “tanpa resiko”
wirausahawan yang sanggup memulai misalnya menjadi pegawai negeri,
usaha dengan kemungkinan berhasil 98% bekerja di perusahaan besar.
(Tung Desem Waringin, 2005). Pilihan lebih banyak berada para
kuadran kanan (Employee. Lihat.
Strategi Perubahan Mindset dari Job
Robert Kiyosaki)
Seeker menjadi Job creator
2. Penciptaan Iklim Usaha
1. Keluarga Membangun Kultur
berwirausaha Era krisis moneter yang melanda
Indonesia awal tahun 1997
Kultur (budaya) berwirausaha
menyebabkan banyak industri
suatu keluarga atau suku atau
besar tumbang, usaha skala kecil
golongan bahkan bangsa sangat
sulit tumbuh. Hal ini membuat
berpengaruh terhadap kemunculan
pemerintah Indonesia
wirausaha-wirausaha baru yang
kebingungan mengatasinya
tangguh. Kultur berwirausaha
dikarenakan berkaitan dengan
tidak dapat ditanamkan dalam
timpangnya struktur usaha
sekejap. Memerlukan waktu
(industri) yang terlalu memihak
cukup banyak untuk membangun
pada industri besar.
kultur kewirausahaan Setiap
keluarga harus menanamkan jiwa Peran pemerintah ini juga bukan
wirausaha sejak dini dalam diri pada pemberian modal, tetapi
anak-anak mereka. lebih pada membina kemampuan
industri kecil dan membuat suatu
Kultur beberapa suku di Indonesia
kondisi yang mendorong
memang mengagungkan profesi
kemampuan industri kecil dalam

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 6


mengakses modal, (Pardede, Mengoptimalkan balai latihan
2000). Atau dengan kata lain, kerja (BLK). Dengan
pemerintah harus membina pengoptimalan BLK maka,
kemampuan industri kecil dalam kekurangan daya serap perguruan
menghitung modal optimum yang tinggi bisa diantisipasi.
diperlukan, kemampuan Disebutkannya, saat ini BLK
menyusun suatu proposal belum begitu termanfaatkan untuk
pendanaan ke lembaga-lembaga mengatasi pengangguran. Begitu
pemberi modal, serta pula dengan BLK-BLK, banyak
mengeluarkan kebijakan atau yang belum berkembang dengan
peraturan yang lebih memihak baik terutama dalam penyerapan
industri kecil dalam pemberian para lulusan untuk masuk ke
kredit. dunia kerja. "Saat ini, yang saya
lihat belum ada perhatian
3. Pembenahan Dunia Pendidikan
pemerintah untuk pembenahan
kearah itu,
Pola pikir para sarjana yang
umumnya masih berorientasi
5. Peningkatan akses modal
untuk menjadi karyawan harus
diubah. Oleh Karena itu peran Pemerintah melalui lembaga
lembaga pendidikan sebagai pusat perbankan dan keuangan diminta
inkubasi pembentukan manusia membuka akses modal bagi calon
Indonesia seutuhnya, perlu di tata wirausaha, karena selama ini
kembali. Struktur kurikulum kita mereka masih kesulitan
yang cenderung menghasil lulusan mendapatkannya untuk
yang „siap pakai‟ bukan lulusan meningkatkan taraf hidup.
yang „siap menghasilkan‟.
6. Pendampingan calon wirausaha
4. Optimalisasi Balai Pelatihan
Satu hal yang tidak kalah
Kewirusahaan
pentingnya adalah pendampingan
yang dilakukan oleh lembaga

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 7


swadaya masyarakat, perbankan, Daftar Rujukan
konsultan, dan stakeholder
lainnya sehingga memberikan Aqila S (2010) Tips dan Trik
kemudahan serta pencerahan bagi mendapatkan modal usaha &
para calon wirausaha. Seringkali mengelolanya. Penerbit Mitra
lemahnya pendampingan Pelajar.Yogyakarta.
mengakibatkan modal usaha yang Edward. Dj (2009) Rahasia Sukses 25
telah dibagikan kepada calon Pengusaha UKM. Penerbit Gagas
wirausaha, tidak terpakai dengan Bisnis. Jakarta.
baik. Para calon wirausaha lebih Kasmir (2009). Kewirausahaan. Penerbit
sering melakukan konsumsi PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta
terhadap modal yang diberikan. Kiyosaki Robert T. 2000. Rich Dad's
Akibatnya, modal mereka terpakai Cashflow Quadrant: Rich Dad's
habis sedangkan usaha belum Guide to Financial Freedom,
dapat berjalan dengan baik. Bagian 2. Warner Books, USA
Nitisusastro M (2010). Kewirausahaan
Kesimpulan
dan Manajemen Usaha Kecil.
Penerbit Alfabeta, Bandung.
Membangun semangat
Pardede, F.R. 2000. Analisis Kebijakan
kewirausahaan yang tangguh ditengah
Pengembangan Industri Kecil di
tengah masyarakat kita yang masih
Indonesia. Tesis Magister
mengantungkan harapan yang tinggi pada
Program Studi Teknik dan
pilihan menjadi karyawan seringkali
Manajemen Industri. Institut
mengalami benturan. Jika kita
Teknologi Bandung.
menginginkan system perekonomian
Prasetyo A.H (2010). Sukses Mengelola
yang kuat maka mau tidak mau kita harus
Keuangan Usaha Mikro Kecil
berubah, dengan mengambil pilihan
Menengah. Penerbit Kompas
sebagai seorang wirausaha. Wirausaha
Gramedia, Jakarta.
menyumbang begitu banyak pemasukan
Sumarsono S (2010). Kewirausahaan.
bagi bangsa kita, disamping mengurangi
Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
pengangguran. Selamat berwirausaha.

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 8


Syamsuddin MA & Susanta G (2009).
Cara Mudah Mendirikan dan
Mengelola UMKM. Penerbit Raih
Asia Sukses, Jakarta.
Tung Desem Waringin (2005). Financial
Revolution. Penerbit Gramedia
Pustaka, Jakarta.
Zimmerer T.W & Scarborough N.M
(2002). Pengantar
Kewirausahaan dan Manajemen
Bisnis Kecil. Pearson Education
Asia Pte.Ltd, Jakarta

*)Dosen Jurusan Administrasi Niaga FISIP Undana Kupang NTT Page 9