Anda di halaman 1dari 7

No.

Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

2.1.1 Panduan Halal


1. Pengertian Halal dan Haram
a. Halal adalah boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan makanan termasuk
halal kecuali secara khusus disebutkan dalam Al-Qur’an atau Hadits.
b. Haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan dengan
larangan yang tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan
dengan siksaan Allah di akherat. Bahkan terkadang juga terancam saksi
syariah di dunia ini
2. Dasar Al-Qur’an dan Fatwa MUI
Halal dan haram berdasarkan Al-Qur’an :
a. Al-Baqarah 168 : “Hai sekalian umat manusia makanlah dari apa yang ada di
bumi ini secara halal dan baik. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah
syetan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.”
b. Al-Baqarah 172-173 : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezki
yang baik-baik yang kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada
Allah, jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah. Sesungguhnya Allah
hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan binatang
yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa dalam keadaan
terpaksa, sedangkan ia tidak berkehendak dan tidak melampaui batas, maka
tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
c. Al-Anam 145 : “Katakanlah, saya tidak mendapat pada apa yang diwahyukan
kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang memakannya, kecuali bangkai,
darah yang tercucur, daging babi karena ia kotor atau binatang yang
disembelih dengan atas nama selain Allah. Barangsiapa dalam keadaan
terpaksa, sedangkan ia tidak berkehendak dan tidak melampaui batas, maka
tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
d. Al-Maidah 3 : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, hewan
yang disembelih dengan atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul,
yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang
kalian sempat menyembelihnya. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang
yang disembelih di sisi berhala.”
e. Al-Maidah 90-91 : “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum
khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-


perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu
hendak menimbulkan permusuhan dan perbencian diantara kalian lantaran
meminum khamr dan berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan
shalat, maka apakah kalian berhenti dari mengerjakan pekerjaan itu.”
f. Al-Maidah 96 : “Dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan
makanannya.”
g. Al-A’raf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan
mengharamkan kepada mereka segala yang kotor.”

2.2 Tim Manajemen Halal


2.2.1. Anggota Tim Manajemen Halal
Untuk menjalankan Sistem Jaminan Halal di perusahaan, dengan ini kami
menunjuk anggota dibawah ini sebagai Tim Manajemen Halal perusahaan. Surat
keputusan Tim Manajemen Halal dapat dilihat pada lampiran 1 :

1) Dwiky Irfandani Pramuda(Ketua)


2) Nurmala (Anggota)

3) Cucu Jubaedah (Anggota)


4) Chandra Sukmawati(Anggota)

5) Deden Suhendar (Anggota)


2.2.2 Persyaratan dari Tim Manajemen Halal adalah sebagai berikut :
a) Pegawai tetap perusahaan.
b) Ketua Tim Manajemen Halaldiutamakan seorang muslim.
c) Tim Manajemen Halal mencakup semua bagian yang terlibat dalam aktivitas
kritis.
d) Tim Manajemen Halal harus mengerti dan memahami persyaratan sertifikasi
halal (Kriteria, Kebijakan dan Prosedur pada HAS 23000) sesuai dengan
tugas, tanggung jawab dan wewenangnya masing-masing.
e) Diangkat melalui surat penunjukan dari manajemen puncak atau bentuk
penunjukkan lain yang berlaku di perusahaan
dandiberikewenanganuntukmelakukantindakan yang
diperlukandalammelaksanakan proses produksi halal.
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

1.2.3. Tugas, Tanggungjawab, dan Wewenang Tim Manajemen Halal adalah:


1. Tugas, tanggungjawab dan wewenang Manajemen Puncak / Pimpinan Perusahaan :
a. Merumuskan kebijakan halal dan mendiseminasikan kebijakan halal kepada
semua stake holder.
b.Menunjuk Tim Manajemen Halal.
c.Manajemen puncak berkomitmen untuk menyediakan sumberdaya yang
dibutuhkan untuk perencanaan, penerapan, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan
SJH. Sumberdaya yang diperlukan berupa sumberdaya manusia, sarana/fasilitas,
prosedur dan pembiayaan.
2. Tugas, tanggungjawab, dan wewenang Ketua Tim Manajemen Halal:
a. Menyusun, mengelola, dan mengevaluasi Sistem Jaminan Halal.
b. Melakukan koordinasi pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.
c. Membuat Daftar Bahan.
d. Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pelatihan internal halal.
e. Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi audit internal halal.
f. Melakukan tindakan perbaikan terhadap hasil audit internal.
g. Melakukan penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria (jika ada).
h. Menyusun dan mengirimkan laporan berkala pelaksanaan SJH ke LPPOM MUI
Jabar.
i. Melakukan komunikasi kepada LPPOM MUI Jabar.
3. Tugas, tanggungjawab dan wewenang bagian R&D :
a. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur seleksi bahan baru.
b. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur formulasi produk dan
pengembangan produk baru.
c. Melakukan komunikasi dengan Ketua Tim Manajemen Halal dalam formulasi
dan pembuatan produk baru.
4. Tugas, tanggungjawab dan wewenang bagian Purchasing:
a. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur pembelian sesuai dengan
daftar bahan yang telah disetujui LPPOM MUI Jabar.
b. Melakukan komunikasi dengan Ketua Tim Manajemen Halal dalam pembelian
bahan baru dan atau pemilihan pemasok baru.
5. Tugas, tanggungjawab dan wewenang bagian QA/QC/QS:
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

a. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur pemeriksaan bahan datang


yang dapat menjamin konsistensi bahan sesuai dengan daftar bahan yang telah
disetujui oleh LPPOM MUI Jabar.
b. Melakukan komunikasi dengan Ketua Tim Manajemen Halal terhadap setiap
penyimpangan dan ketidakcocokan bahan dengan dokumen pendukung bahan.
c. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur kemampuan telusur.
d. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur pencucian fasilitas produksi
dan peralatan pembantu.
6. Tugas, tanggungjawab dan wewenang bagian PPIC dan Produksi:
a. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur perencanaan produksi
dan produksi yang dapat menjamin kehalalan produk.
b. Memastikan fasilitas produksi bebas dari bahan dari babi atau turunannya.
c. Melakukan pemantauan produksi yang bersih dan bebas dari bahan haram dan
najis.
d. Menjalankan produksi sesuai dengan formula produk standar.
e. Melakukan komunikasi dengan Ketua Tim Manajemen Halal dalam hal proses
produksi halal.
7. Tugas, tanggungjawab dan wewenang bagian Warehouse :
a. Menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi prosedur penyimpanan dan
penanganan bahan/produk yang dapat menjamin kehalalan bahan dan produk
yang disimpan serta menghindari terjadinya kontaminasi dari segala sesuatu yang
haram dan najis.
b. Melaksanakan penyimpanan bahan dan produk sesuai dengan daftar bahan dan
produk yang telah disetujui oleh LPPOM MUI Jabar.
c. Melakukan komunikasi dengan Ketua Tim Manajemen Halal dalam sistem keluar
masuknya bahan dari dan ke dalam gudang.

2.3 Pelatihan dan Edukasi


2.3.1 Semua pemangku kepentingan (stake holders) perusahaan yang terkait dengan
aktifitas kritis akan mendapat pelatihan tentang Sistem Jaminan Halal, baik
internal maupun eksternal.
2.3.2 Tujuan pelatihan Sistem Jaminan Halal :
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

a) Meningkatkan pemahaman Tim Manajemen Halal tentang persyaratan


sertifikasi halal LPPOM MUI (HAS 23000).
b) Meningkatkan pemahaman Tim Manajemen Halal dan karyawan terhadap
hukum-hukum Islam tentang pentingnya kehalalan suatu produk.
c) Menjadikan karyawan peduli terhadap proses produksi halal dan mampu
menerapkannya di tingkat operasional.
2.3.3 Pelatihan (internal atau eksternal) dilaksanakan secara terjadwal minimal setahun
sekali atau lebih sering jika diperlukan. Perencanaan pelatihan dapat dilihat pada
lampiran 2.
2.3.4 Evaluasi Pelatihan (internal atau eksternal) dilakukan melalui pre test dan post
test.
2.3.5 Edukasi tentang Sistem Jaminan Halal yang akan kami laksanakan di perusahaan
diantaranya dalam bentuk :
a) Briefing (Rapat Pengarahan)
b) Penerbitan Memo Internal
c) Pembuatan spanduk, poster atau leaflet, slogan, stiker atau tulisan dan artikel
artikel tentang peduli halal di lingkungan perusahaan.
2.4 Bahan
2.4.1. Kami hanya akan menggunakan bahan yang disetujui oleh LPPOM MUI untuk
menghasilkan produk yang disertifikasi.
2.4.2. Kami akan membuat Daftar Bahan (bahan baku, bahan tambahan dan bahan
penolong) yang digunakan untuk menghasilkan produk yang disertifikasi, di tanda
tangani oleh Ketua Tim Manajemen Halal, pimpinan perusahaan dan dikirimkan
ke LPPOM MUI untuk di tanda tangani oleh LPPOM MUI. Format Daftar Bahan
yang digunakan untuk seluruh produk yang disertifikasi halal dapat dilihat pada
lampiran 3.
2.4.3. Status kehalalan bahan yang digunakan untuk proses produksi mengacu pada
Daftar Bahan yang disetujui oleh LPPOM MUI. Daftar Bahan ini di distribusikan
kebagian yang terkait dengan aktivitas kritis.
Perbaikan Daftar bahan dilakukan bila terjadi perubahan bahan atau produsen
bahan. Perbaikan Daftar bahan (jika ada) dikirimkan ke LPPOM MUI untuk
ditanda tangani oleh LPPOM MUI setiap enam bulan sekali.
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

2.5 Produk
2.5.1. Kami hanya akan memproduksi produk halal dengan nama produk yang tidak
menggunakan nama yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau ibadah
yang tidak sesuai dengan syariah Islam, dan karakteristik / profil sensori, serta
tidak memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah kepada produk
haram atau yang telahdinyatakan haram berdasarkan fatwa MUI.
2.5.2. Kami akan membuat Daftar Produk dan Matriks Bahan vs Produk untuk semua
produk yang disertifikasi halal. Matriks Bahan vs Produk dapat dilihat pada
lampiran 4.
2.5.4. Kami akan mendaftarkan seluruh Produk pangan eceran (retail) dengan merk
sama yang beredar di Indonesia. Untuk produk pangan bukan eceran (non retail)
yang mempunyai merk/brand dan hanya didaftarkan sebagian, maka kami akan
mencantumkan logo halal MUI untuk produk yang disertifikasi.

2.6 Fasilitas Produksi


2.6.1. Fasilitas produksi yang kami pakai hanya untuk menghasilkan produk halal.
2.6.2. Penyimpanan material danproduk di gudangatau di gudang antara
(temporary warehouse) akan menjamin tidak adanya kontaminasi silang dengan
bahan atau produk haram atau najis.
2.6.3. Pengambilan sampel (bahan dan produk) akan menjamin tidak adanya
kontaminasi silang dengan bahan / produk yang haram atau najis.
2.6.4 Tempat / fasilitas pencucian peralatan tidak boleh digunakan bersama atau
bergantian dengan peralatan yang kontak dengan bahan yang berasal dari babi
atau turunannya.
2.6.5. Kami akan membuat diagram alir proses produksiuntukproduk yang disertifikasi
halal. Diagram alir proses produksi dapat dilihat pada lampiran 5.
2.6.6. Kami akan meminta persetujuan dari LPPOM MUI setiap penambahan fasilitas
produksi baru untuk produk yang sudah disertifikasi.

2.7 Prosedur Tertulis untuk Aktivitas Kritis


Dalam rangka menjaga kehalalan produk secara konsisten, kami akan menerapkan
prosedur sebagai berikut adalah :
1) Dalam pembuatan produk baru, Tim Manajemen Halal akan memilih bahan yang
telah ada pada daftar bahan yang telah disetujui oleh LPPOM MUI.
No. Bagian

BCM MANUAL SISTEM


JAMINAN HALAL
Tgl. Berlaku

No. Revisi

PT. Bersama Cipta Mandiri Paraf

2) Jika harus menggunakan bahan diluar daftar bahan tersebut


(bahan baru / bahan lama dengan produsen baru), maka Tim Manajemen Halal
akan meminta persetujuan tertulis dari LPPOM sebelum menggunakan bahan
tersebut. Contoh surat pengantar permohonan ijin bahan baku dapat dilihat pada
lampiran 6.
3) Melaksanakan pembelian bahan yang sesuai dengan daftar bahan yang telah
disetujui oleh LPPOM MUI.
4) Pembelian bahan baru / bahan lama dengan produsen baru dilaksanakan setelah
ada bukti tertulis persetujuan dari LPPOM MUI.
5) Mencatat semua transaksi pembelian dan menyimpan bukti-bukti
pembelianlengkap dengan merk serta kodenya.
6) Setiap bahan datang sebelum digunakan produksi diperiksa kesesuaian antara
informasi pada label kemasan dan bahan dengan informasi yang tercantum dalam
dokumen pendukung bahan. Informasi yang diperiksa mencakup nama bahan,
nama produsen, Negara produsen dan adanya logo halal bila dipersyaratkan.
7) Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan daftar bahan yang telah disetujui
oleh LPPOM MUI.
8) Melakukan proses produksi yang bersih dan bebas dari bahan haram dan najis.
9) Meminta persetujuan tertulis dari LPPOM setiap penambahan fasilitas produksi.
Surat permintaan persetujuan penambahan fasilitas baru dapat dilihat pada
lampiran 7.
10) Melakukan penyimpanan bahan dan produk yang dapat menjamin bebas dari
kontaminasi segala sesuatu yang haram dan najis.
11) Memastikan produk halal perusahaan terdistribusi dengan baik yaitu tidak
terkontaminasi silang dengan produk lain yang diragukan kehalalannya.
12) Mendaftarkan produk baru dengan merk yang sama untuk disertifikasi halal
sebelum dijual di pasaran.
Perusahaan menyusun prosedur tertulis mengenai pelaksanaan aktivitas kritis yang
terintegrasi dengan prosedur sistem mutu lain. Kemudian disosialisasikan ke tim manajemen
halal dan semua karyawan yang terlibat dalam aktivitas kritis dan akan