Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN

TIMBANG TERIMA PASIEN DAN PENDELAGASIAN TUGAS

Dosen Pembimbing :
KOMALA SARI S.Kep,Ns, M.Kep

Disusun Oleh :
GERA ALFIANA NIM:181813005

PROGRAM STUDI D-3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
TANJUNGPINANG
TA. 2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan
mengoptimalkan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi
mandiri perawat. Hal ini dapat diwujudkan dengan baik melalui
komunikasi efektif antar perawat, maupun dengan tim kesehatan yang lain.
Salah satu bentuk komunikasi yang harus ditingkatkan efektivitasnya
adalah saat penggunaan shift (timbang terima pasien).
Timbang terima pasien (operan) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan pasien. Timbang terima pasien harus dilakukan seefektif mungkin
dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan
mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan/belum dan
perkembangan pasien saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat
sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan
sempurna. Timbang terima dilakukan saat perawat primer keperawatan
kepada perawat primer (penanggung jaawab) dinas sore atau dinas malam
secara tertulis dan lisan. (Nursalam, 2008)
Pendelegasian merupakan elemen yang esensial pada fase pengarahan
dalam proses manajemen karena sebagian besar tugas yang diselesaikan
oleh manajer (tingkat bawah, menengah dan atas) bukan hanya hasil usaha
mereka sendiri, tetapi juga hasil usaha pegawai. Bagi manajer,
pendelegasian bukan merupakan pilihan tetapi suatu keharusan. Ada
banyak tugas yang sering kali harus diselesaikan oleh satu orang. Dalam
situasi ini, pendelegasian sering terkait erat dengan produktivitas.
Ada banyak alasan yang tepat untuk melakukan pendelegasian. Kadang
kala manajer harus mendelegasikan tugas rutin sehingga mereka dapat
menangani masalah yang lebih kompleks atau yang membutuhkan keahlian
dengan tingkat yang lebih tinggi. Manajer dapat mendelegasikan tugas jika
seseorang telah dipersiapkan dengan lebih baik atau memiliki keahlian
yang tinggi atau lebih cakap tentang cara menyelesaikan masalah.
Pendelegasian juga dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran atau
“pemberian” kesempatan kepada pegawai. Pegawai yang tidak
didelegasikan tanggung jawab yang sesuai dapat menjadi bosan, tidak
produktif, dan tidak efektif (Marquis, 2010).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami serta menerapkan konsep
timbang terima dan pendelegasian dalam keperawatan.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui konsep timbang terima dalam keperawatan
b. Untuk mengetahui konsep pendelegasian dalam keperawatan
c. Untuk menerapkan di roleplay konsep timbang terima dalam
keperawatan
d. Untuk menerapkan di role play konsep pendelegasian dalam
keperawatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Timbang Terima


1. Pengertian Timbang Terima
Menurut Nursalam (2011) definisi timbang terima adalah suatu cara
dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan
dengan keadaan klien. Timbang terima merupakan kegiatan yang harus
dilakukan sebelum pergantian dinas. Selain laporan antar dinas, dapat
disampaikan juga informasi yang berkaitan dengan rencana kegiatan
yang telah atau belum dilaksanakan.
Timbang terima merupakan komunikasi yang terjadi pada saat
perawat melakukan pergantian dinas, dan memiliki tujuan yang spesifik
yaitu mengomunikasikan informasi tentang keadaan pasien pada asuhan
keperawatan sebelumnya.
Saat ini telah terjadi perubahan pada proses timbang terima yang
dulu hanya menggunakan laporan verbal, laporan tertulis ataupun
rekaman tape recorder menjadi pada kebutuhan dan masalah pasien
serta lebih melibatkan pasien dalam pemberian asuhan keperawatan
(Anderson, 2006). Laporan pertukaran tugas atau change of shift report
(CSR) terjadi 3 kali dalam sehari pada setiap unit keperawatan di semua
tipe lingkungan perawatan kesehatan. Setelah berakhirnya jam kerja,
perawat melaporkan informasi tentang klien pada perawatn shift
berikutnya. Perawat mengkomunikasikan informasi tentang klien
sehingga semua anggota tim dapat membuat keputusan terbaik tentnag
klien dan perawatanya. Laporan itu berisi tentang informasi penting
yang berhubungan dengan proses keperawatan secara holistik dan
perawatan yang aman bagi klien (Pooter, 2005).

2. Tujuan Timbang Terima


Menurut Australian Health Care and Hospitals Association/
AHCHA (2009) tujuan timbang terima adalah untuk mengidentifikasi,
mengembangkan dan meningkatkan timbang terima klinis dalam
berbagai pengaturan kesehatan.

Menurut Nursalam (2015) tujuan dilaksanakan timbang terima


adalah:
a. Tujuan umum
Mengomunikasikan keadaan pasien dan menyampaikan
informasi yang penting.
b. Tujuan khusus
i. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien (data fokus).
ii. Menyampaikan hal yang sudah/ belum dilakukan dalam
asuhan keperawatan kepada pasien.
iii. Menyampaikan hal-hal penting yang harus ditindaklanjuti
oleh perawat dinas berikutnya.
iv. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya

3. Prinsip Timbang Terima


Friesen, White dan Byers (2009) memperkenalkan enam standar
prinsip timbang terima pasien, yaitu :
a. Kepemimpinan dalam timbang terima pasien
Semakin luas proses timbang terima (lebih banyak peserta
dalam kegiatan timbang terima), peran pemimpin menjadi sangat
penting untuk mengelola timbang terima pasien di klinis. Pemimpin
harus memiliki pemahaman yang komprehensif dari proses timbang
terima pasien dan perannya sebagai pemimpin. Tindakan segera
harus dilakukan oleh pemimpin pada eskalasi pasien yang
memburuk.
b. Pemahaman tentang timbang terima pasien
Mengatur sedemikian rupa agar timbul suatu pemahaman bahwa
timbang terima pasien harus dilaksanakan dan merupakan bagian
penting dari pekerjaan sehari-hari dari perawat dalam merawat
pasien. Memastikan bahwa staf bersedia untuk menghadiri timbang
terima pasien yang relevan untuk mereka. Meninjau jadwal dinas
staf klinis untuk memastikan mereka hadir dan mendukung kegiatan
timbang terima pasien. Membuat solusi-solusi inovatif yang
diperlukan untuk memperkuat pentingnya kehadiran staf pada saat
timbang terima pasien.

c. Peserta yang mengikuti timbang terima pasien


Mengidentifikasi dan mengorientasikan peserta, melibatkan
mereka dalam tinjauan berkala tentang proses timbang terima
pasien. Mengidentifikasi staf yang harus hadir, jika memungkinkan
pasien dan keluarga harus dilibatkan dan dimasukkan sebagai
peserta dalam kegiatan timbang terima pasien. Dalam tim multi
disiplin, timbang terima pasien harus terstruktur dan memungkinkan
anggota multiprofesi hadir untuk pasiennya yang relevan.
d. Waktu timbang terima pasien
Mengatur waktu yang disepakati, durasi dan frekuensi untuk
timbang terima pasien. Hal ini sangat direkomendasikan, dimana
strategi ini memungkinkan untuk dapat memperkuat ketepatan
waktu. Timbang terima pasien tidak hanya pada pergantian jadwal
kerja, tapi setiap kali terjadi perubahan tanggung jawab misalnya
ketika pasien diantar dari bangsal ke tempat lain untuk suatu
pemeriksaan. Ketepatan waktu timbang terima sangat penting untuk
memastikan proses perawatan yang berkelanjutan, aman dan efektif.
e. Tempat timbang terima pasien
Sebaiknya, timbang terima pasien terjadi secara tatap muka dan
di sisi tempat tidur pasien. Jika tidak dapat dilakukan, maka pilihan
lain harus dipertimbangkan untuk memastikan timbang terima
pasien berlangsung efektif dan aman. Untuk komunikasi yang
efektif, pastikan bahwa tempat timbang terima pasien bebas dari
gangguan misalnya kebisingan di bangsal secara umum atau bunyi
alat telekomunikasi.
f. Proses timbang terima pasien
i. Standar protocol
Standar protokol harus jelas mengidentifikasi pasien dan
peran peserta, kondisi klinis dari pasien, daftar
pengamatan/pencatatan terakhir yang paling penting, latar
belakang yang relevan tentang situasi klinis pasien, penilaian
dan tindakan yang perlu dilakukan.

ii. Kondisi pasien memburuk


Pada kondisi pasien memburuk, meningkatkan pengelolaan
pasien secara cepat dan tepat pada penurunan kondisi yang
terdeteksi.
iii. Informasi kritis lainnya
Prioritaskan informasi penting lainnya, misalnya: tindakan
yang luar biasa, rencana pemindahan pasien, kesehatan kerja
dan risiko keselamatan kerja atau tekanan yang dialami oleh
staf.

4. Langkah-Langkah Pelaksanaan Timbang Terima


Menurut Nursalam (2011) langkah-langkah dalam pelaksanaan
timbang terima adalah:
a. Kedua kelompok dinas dalam keadaan sudah siap.
b. Dinas yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu
mempersiapkan hal-hal apa yang akan disampaikan.
c. Perawat primer menyampaikan kepada penanggung jawab dinas
yang selanjutnya meliputi:
i. Kondisi atau keadaan pasien secara umum.
ii. Tindak lanjut untuk dinas yang menerima timbang terima.
iii. Rencana kerja untuk dinas yang menerima timbang terima.
iv. Penyampaian timbang terima harus dilakukan secara jelas dan
tidak terburu-buru.
v. Perawat primer dan anggota kedua dinas bersama-sama secara
langsung melihat keadaan pasien.

5. Prosedur Timbang Terima

Tahap Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana


Persiapa 1. Timbang terima 5 Nurse PP dan PA
n dilaksanakan setiap pergantian menit Station
shift/operan
2. Prinsip timbang terima,
semua pasien baru masuk dan pasien
yang dilakukan timbang terima
khususnya pasien yang memliki
permasalahan yang belum/dapat
teratasi serta yang membutuhkan
observasi lebih lanjut.
3. PP menyampaikan timbang
terima pada PP berikutnya, hak yang
perlu disampaikan dalam timbang
terima :
a. Jumlah
b. Identitas klien dan diagnosis
medis
c. Data (keluhan/ subjektif dan
objektif)
d. Masalah keperawatan yang
masih muncul
e. Intervensi keperawatan yang
sudah dan belum dilaksanakan
(secara umum)
f. Internvensi kolaboratif dan
dependen
g. Rencana umum dan persiapan
yang perlu dilakukan (persiapan
operasi, pemeriksaan penunjang
dan lain-lain)
Pelaksan Nurse Station 20 Nurse KARU,
aan 1. Kedua kelompok dinas sudah siap menit Station PP dan PA
(shift jaga)
2. Kelompok yang akan bertugas
menyiapkan buku catatan
3. Kepala ruang membuka acara
timbang terima
4. Penyampaian yang jelas, singkat
dan padat oleh perawat jaga (NIC).
5. Perawat jaga shift selanjutnya
dapat melakukan klarifikasi, tanya
jawab dan melakukan validasi
terhadap hal-hal yang telah
ditimbang terimakan dan berhak
menanyakan mengenai hal-hal
yang kurang jelas.
Di bed pasien
6. Kepala ruang menyampaikan
salam dan PP menanyakan
kebutuhan dasar pasien Ruang
7. Perawat jaga selanjutnya mengkaji Perawat
secara penuh terhadap masalah an
keperawatan, kebutuhan dan
tindakan yang telah/ belum
dilaksanakan serta hal-hal penting
lainnya selama masa perawatan
8. Hal-hal yang sifatnya khusus dan
memerlukan perincian yang
matang sebaiknya dicatat secara
khusus untuk kemudian
diserahterimakan kepada petugas
berikutnya
Post- 1. Diskusi 5 Nurse KARU,
timbang 2. Pelaporan untuk timbang terima menit Station PP dan PA
terima dituliskan secara langsung pada
format timbang terima yang
ditandatangani oleh PP yang jaga
saat itu dan PP yang jaga
berikutnya diketahui oleh Kepala
Ruang
3. Ditutup oleh kepala ruangan

6. Hal-hal yang perlu diperhatikan


Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika timbang terima, adalah:
1. Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift
2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab pasien (PP)
3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan tugas dinas
4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis dan
menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan
pasien
5. Timbang terima harus berorientsai pada permasalahan pasien
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume
suara yang cukup sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar
sesuatu yang rahasia bagi klien. Sesuatu yang dianggap rahasia
sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di dekat pasien
7. Sesuatu yang mungkin membuat klien terkejut dan shock sebaiknya
dibicarakan di nurse station.
7. Alur Timbang Terima

Situation

Data Demografi Diagnosis Keperawatan


Diagnosis Medis (Data)

Background

Riwayat Keperawatan

Assesment :
KU; TTV; GCS; Skala
Nyeri; Skala Risiko
Jatuh; dan ROS (point
yang penting)

Recomendation
1. Tindakan yang sudah
2. Dilanjutkan
3. Stop
4. Modifikasi
5. Strategi baru
B. Pendelegasian
1. Pengertian Pendelegasian
Pendelegasian adalah proses penyerahan tugas dari seseorang
kepada orang lain. Pendelegasian merupakan pengambilan keputusan,
tugas-tugas mana yang dikerjakan manajer sendiri serta mana yang
diserahkan kepada dan dikerjakan oleh orang lain (karyawan/ staf).
Pendelegasian ditujukan sebagai proses pembelajaran kepada
karyawan/ staf, serta pengembangan keperibadian dan tanggung jawab
karyawan yang menerima tugas dari pimpinan. Syarat dari penyerahan
tugas adalah karyawan/ staf yang berkompeten dan dipercaya untuk
menerima penyerahan tugas tersebut.
Pendelegasian bukan semata-mata hanya penyerahan tugas, tetapi
juga berikut tanggung jawab pelaksanaannya oleh mereka yang
menerima tugas tersebut. Dalam hal ini termasuk otoritas
pelaksanaannya walaupun menggunakan atas nama pimpinan.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu
elemen penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan
bidan menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif
dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi
wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang
kepada bawahannya.
Ada empat kegiatan dalam delegasi wewenang:
a. Manager perawat menetapkan dan memberikan tugas dan
tujuannya kepada orang yang diberi pelimpahan
b. Manajer melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk
mencapai tujuan
c. Perawat yang menerima delegasi baik eksplisit maupun implisit
menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab
d. Manajer perawat menerima pertanggungjawaban (akontabilitas)
atas hasil yang telah dicapai.
Kegiatan yang tidak boleh didelegasikan
a. Aktivitas yang memerlukan pengkajian dan keputusan selama
pelaksanaan.
b. Pengkajian fisik, psikologis, sosial yang memerlukan keputusan,
rujukan, dan intervensi atau tindak lanjut.
c. Penyusunan dan evaluasi rencana keperawatan.

2. Prinsip Utama Pendelegasian


a. Tugas teknis, hampir semua tugas teknis didelegasikan oleh
supervisor kepada stafnya.
b. Tugas manajerial, tidak dapat didelegasikan semuanya karena tugas
tersebut memerlukan supervisi dan pemberian wewenang.
Misalnya, staf dapat menyusun suatu perencanaan, anggaran
pembelian. Tetapi tugas untuk membuat persetujuan, rekomendasi,
pelaksanaan masih merupakan hak dan wewenang seorang
supervisor.

3. Cara Pendelegasian
a. Seleksi dan susun tugas
Sediakan waktu yang cukup untuk menyusun daftar tugas-tugas
yang harus dilimpahkan secara rasional dan dapat dilaksanakan oleh
staf. Kemudian menyiapkan laporan yang kontinyu, menjawab
setiap pertanyaan, menyiapkan jadual berurutan dengan kriteria
waktu yang diperlukan dan pentingnya bagi institusi.
b. Seleksi orang yang tepat
Pilih orang yang sesuai untuk melaksanakan tugas limpah
tersebut berdasarkan kemampuan dan persyaratan lainnya.
c. Berikan arahan dan motivasi kepada staf
Salah satu kesalahan dalam pendelegasian adalah ketiadaan
arahan yang jelas.
d. Lakukan supervisi yang tepat.
Anda harus bisa menentukan kapan dan apa yang perlu
dilakukan supervisi dan bantuan. Sepanjang kontrol penting,
tergantung bagaimana staf melihatnya.
e. Overcontrol, kontrol yang terlalu berlebihan akan merusak delegasi
yang diberikan.
f. Undercontrol, kontrol yang kurang juga akan berdampak buruk
terhadap delegasi, dimana staf akan tidak produktif melaksanakan
tugas limpah dan berdampak secara signifikan terhadap hasil yang
diharapkan.

4. Tempat dan waktu pendelegasian dapat dilaksanakan :


a. Tugas rutin
Tugas rutin seperti wawancara lamaran pekaryaaan,
bertanggung jawab terhadap masalah-masalah yang kecil, dan
menyeleksi surat merupakan tugas biasa dan dapat didelegasi oleh
staf
b. Tugas yang tidak mencukupi waktunya
Pendelegasian dapat dilaksanakan pada tugas-tugas tertentu
karena manajer tidak mempunyai cukup waktu untuk
mengerjakannya. Ugas tersebut akan dilaksanakan oleh manajer jika
mempunyai waktu untuk menyelesaikannya
c. Penyelesaian masalah
Pendelegasian diberikan dengan tujuan memberikan
pengalaman/ tantangan kepada staf untuk menyelesaikannya. Staf
akan termotivasi apabila mereka menerimanya sebaga suatu
tantangan. Oleh karena itu, perlu perhatian dan bimbingan khusus
dalam membantu staf untuk menyelesaikan tugas yang dilimpahkan
kepadanya.
d. Meningkatan kemampuan
Pendelegasian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
staf dan tim. Dengan pengelolaan yang sesuai, pelimpahan akan
menjadikan suatu latihan bagi staf untuk belajar.
e. Kapan pendelegasian tidak diperlukan
Tidak semua jenis tugas dapat didelegasikan. Seorang manajer
harus berhati-hati dalam mendelegasikan jenis tugas tertentu.

5. Konsep Dasar Pendelegasian Yang Efektif


Pendelegasian yang baik tergantung pada keseimbangan antara
komponen tanggung jawab, kemampuan dan wewenang. Tanggung
jawab (responsibility) adalah suatu rasa tanggung jawab terhadap
penerimaan suatu tugas. Kemampuan (accountability) adalah
kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas yang didelegasikan.
Wewenang (authorirty) adalah pemberian hak dan kekuasaan kepada
delegasi untuk mengambil suatu keputusan terhadap tugas yang
dilimpahkan.
Lima konsep yang mendasari efektifitas dalam pendelegasian. Lima
konsep tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Pendelegasian bukan suatu sistem untuk mengurangi tanggung
jawab, tetapi suatu cara untuk membuat tanggung jawab menjadi
bermakna. Manajer keperawatan sering mendelegasikan tanggung
jawabnya kepada staf dalam melaksanakan asuhan terhadap pasien.
Misalnya, dalam penerapan model asuhan keperawatan profesional
primer seorang perawat primer (PP) melimpahkan tanggung
jawabnya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada perawat
pendamping/ associate (PA) perawat primer memberikan tanggung
jawab yang penuh dalam merawat pasien yang di delegsikan .
b. Tanggung jawab dan otoritas harus didelegasikan secara seimbang.
Perawat primer menyusun tujuan tindakan keperawatan. Tanggung
jawab untuk melaksanakan tujuan/ rencana didelegasikan kepada
staf yang sesuai atau menguasai kasus yang dilimpahkan. Kemudian
PP memberikan wewenang kepada PA untuk mengambil semua
keputusan menyangkut keadaan pasien dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Proses tersebut meliputi:
i. Pengkajian kebutuhan pasien;
ii. Identifikasi tugas yang dapat dilaksanakan dengan
bantuan orang lain;
iii. Mendidik dan memberikan pelatihan supaya tugas dapat
dilaksanakan dengan aman dan kompeten;
iv. Proses mengumpulkan kompetensi dalam membantu
seseorang ;
v. Ketersediaan superfisi yang cukup oleh pp;
vi. Proses evaluasi yang terus menerus dalam membantu
seseorang ;
vii. Proses komunikasi tentang keadaan pasien antara PP dan
PA
c. Proses pelimpahan membuat seseorang melaksanakan tanggung
jawabnya, mengembangkan wewenang yang dilimpahkan dan
mengembangkan kemampuan dalam mencapai tujuan organisasi.
Keberhasilan pelimpahan ditentukanoleh :
i. Intervensi keperawatan yang diperlukan
ii. Siapa yang siap dan sesuai melaksanakan tugas tersebut
iii. Bantuan apa yang diperlukan
iv. Hasil apa yang diharapkan
d. Konsep tentang dukungan perlu diberikan kepada anggota.
Dukungan yang penting adalah menciptakan suasana yang asertif.
Setelah PA melaksanakan tugas yang dilimpahkan, maka PP harus
menunjukan rasa percaya kepada PA untuk melaksanakan
keperawatan secara mandiri. Jika masalah timbul maka PP harus
menanyakan “apa yang bisa kita lakukan?”. Empowering meliputi
pemberian wewenang seseorang untuk melaksanakan tugas secara
kritis otonomi, menciptakan kemudahan dalam melaksanakan tugas,
serta membangun rasa kebersamaan dan hubungan yang serasi.
e. Seorang delegasi harus terlibat aktif. Seorang delegasi harus dapat
menganalisa otonomi yang dilimpahkan untuk dapat terlibat aktif.
Keterbukaan akan mempermudah komunikasi antara PP dan PA.
6. Ketidakefektifan dalam pendelegasian
Pendelegasian dalam praktek keperawatan profesional sering
ditemukan mengalami masalah, dimana proses pendelegasian tidak
dilaksanakn secara efektif. Ketidakefektifan atau kesalahan yang sering
ditemukan dapat dibedakan menjadi tiga hal, yaitu under-delegation,
over-delegation, improper-delegation.
a. Pendelegasian yang terlalu sedikit (Under-delegation)
Manajer keperawatan sering berasumsi bahwa jika mereka
melakukannya sendiri, maka akan menjadi lebih baik dan lebih
cepat dari pada didelegasikan ke orang lain. Misalnya, manajer
sering berpikir “saya bisa mengerjakan ini lebih baik, bila staf yang
mengerjakan akan memerlukan waktu yang lama”. Keadaan ini
berdampak terhadap proses pendelegasian wewenang, dimana orang
yang menerima tugas hanya diberikan wewenang yang sangat
terbatas dan sering terjadi ketidakjelasan wewenang yang harus
dilakukan, sehingga tugas tersebut tidak dapat diselesaikan dengan
baik.
Masalah lain adalah kekhawatiran seseorang bahwa mereka
tidak mampu melakukan seperti apa yang dilakukan staf/ orang
yang didelegasikan, karena tanggung jawab yang diberikan hanya
sedikit dan sering merasa bosan, malas, dan tidak efektif.
Pendelegasian yang tepat akan dapat meningkatkan kepuasan kerja
dan meningkatkan hubungan yang kondusif  antara manajer dan
staf.
b. Pendelegasian yang berlebihan (Over-delegation)
Pendelegasian yang berlebihan kepada staf, akan berdampak
terhadap pengunaan waktu yang sia-sia. Hal ini disebabkan
keterbatasan manajer  untuk monitor dan menghabiskan waktu
dalam tugas organisasi. Staf akan merasa terbebani dan sering
ditemukan penyalahgunaan wewenang yang diberikan. Misalnya,
staf sering bertanya “saya tidak tahu apa yang manajer harapkan“
atau “saya lebih senang bantuan supervisi dari manajer terus
menerus”.
c. Pendelegasian yang tidak tepat ( improper- delegation)
Pendelegasian menjadi tidak efektif bila diberikan kepada orang
yang tidak tepat karena alasan faktor suka atau tidak suka.
Pendelegasian tersebut tidak akan memperoleh hasil yang baik
karena adanya kecenderungan manajer menilai pekerjaan staf
berdasarkan unsur subjektivitas.

7. Pedoman Pelimpahan Wewenang yang Efektif


Proses pendelegasian harus didahului dengan informasi yang jelas.
Pendelegasian yang jelas harus mengandung informasi mengenai :
a. Tujuan spesifik
Tujuan yang spesifik dan jelas baik secara fisik maupun psikis
harus jelas sebagai parameter kepada siapa pendelegasian itu dibuat.
b. Target Waktu
Seorang PP atau Ners harus memberikan target waktu dalam
memberikan pendelegasian kepada PA. Pada perencanaan
keperawatan kepada pasien, PP harus menuliskan target waktu yang
jelas sebagai indikator keberhasilan asuhan keperawatan.
c. Pelaksanaan tindakan keperawatan
PP harus mengidentifikasi dan memberikan petunjuk intervensi
keperawatan yang sesuai terhadap kebutuhan pasien. Tahap
pengkajian dan pengambilan keputusan harus didiskusikan sebelum
tindakan dilaksanakan.

8. Penerapan Pendelegasian
Delegasi dilaksanakan di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas
oleh Kepala Ruangan kepada Ketua Tim, Ketua Tim kepada Perawat
Pelaksana. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan
tugas dan wewenang. Pendelegasian tugas ini dilakukan secara
berjenjang. Penerapannya dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Pendelegasian terencana
Merupakan pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai
konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan di ruang MPKP.
Bentuknya dapat berupa :
i. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Ketua Tim
untuk menggantikan tugas sementara karena alasan tertentu
ii. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Penanggung
Jawab Shift
iii. Pendelegasian Ketua Tim kepada Perawat Pelaksana dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan
b. Pendelegasian insidentil
Terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan
hadir maka pendelegasian tugas harus dilakukan. Dalam hal ini
yang mengatur pendelegasian adalah Kepala Seksi Perawatan,
Kepala Ruangan, Ketua Tim atau Penanggung Jawab Shift,
tergantung pada personil yang berhalangan.
BAB III
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

A. SOP Timbang Terima

I Pengertian Timbang terima sering disebut operan (over hand)


adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima
sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien
(data fokus).
II Tujuan Pasien segera memperoleh pelayanan keperawatan dan
pengobatan sesuai dengan kebutuhan.
III Indikasi Pasien dalam kondisi stabil.
Pasien dalam tahap maintainance.
V Persiapan Lakukan pengkajian awal dengan membaca Rekam
Perawat Medis pasien.
VI Persiapan Alat 1. Alat tulis.
2. Rekam Medik Pasien.
3. Buku catatan.
4. Lembar Pengkajian Ruangan.

Renstra Operan
a. Pelaksanaan Operan
Hari/ tanggal :
Pukul :
Topik :
Tempat :
b. Metode
1. Diskusi
2. Tanya jawab
c. Media
1. Status klien
2. Buku Operan
3. Alat tulis
4. Sarana dan prasarana perawatan
d. Pengorganisasian
Kepala ruangan :
Perawat primer (pagi) :
Perawat primer (sore) :
Perawat associate (pagi) :
Perawat associate (sore) :
Perawat associate (malam) :
Perawat associate (libur) :
Pembimbing/ supervisor :
e. Uraian kegiatan
1. Prolog
Pada hari....... jam....... seluruh perawat ( PP dan PA) shift pagi dan
sore serta kepala ruangan berkumpul di nurse station untuk
melakukan operan.
2. Sesi I di Nurse station
Kepela ruangan memimpin dan membuka acara yang didahului
dengan doa dan kemudian mempersilahkan PP dinas pagi untuk
melaporkan keadaan dan perkembangan pasien selama bertugas
kepada PP yang akan berdinas selanjutnya (sore). PP dan PA shift
sore memberikan klarifikasi keluhan, intervensi keperawatan yang
sudah dan belum dilaksanakan (secara umum), intervensi
kolaboratif dan dependen, rencana umum dan persiapan yang perlu
dilakukan (persiapan operasi, pemeriksaan penunjang dll), hal yang
belum jelas atas laporan yang telah disampaikan. Setelah
melakukan timbang terima di nurse station berupa laporan tertulis
dan lisan, kemudian diteruskan di ruang perawatan pasien
3. Sesi II di Ruang Perawatan pasien
Seluruh perawat dan kepala ruangan bersama-sama melihat
ketempat pasien. PP dinas selanjutnya mengklarifikasi dan
memvalidasi data langsung kepada pasien atau keluarga yang
mengalami masalah khusus. Untuk pasien yang tidak mengalami
masalah khusus, kunjungan tetap dilaksanakan. Lama kunjungan
tidak lebih lima menit perpasien. Bila terdapat hal-hal yang bersifat
rahasia bagi pasien dan keluarga perlu diklarifikasi, maka dapat
dilakukan di nurse station setelah kunjungan kepasien berakhir.
4. Epilog
Kembali ke nurse station. Diskusi tentang keadaan pasien yang
bersifat rahasia. Setelah proses operan selesai dilakukan, maka
kedua PP menandatangani laporan operan dengan diketahui oleh
kepala ruangan.
f. Evaluasi
1. Struktur (input)
Pada operan, sarana dan prasarana yang menunjang telah tersedia
antara lain: catatan timbang terima, status klien dan kelompok shift
oepran. Kepala ruang selalu memimpin kegiatan operan yang
dilaksanakan pada pergantian shift, yaitu malam ke pagi dan pagi
ke sore. Kegiatan operan pada shift sore ke malam dipimpin oleh
perawat primer yang bertugas pada saat itu.
2. Proses
Proses operan dipimpin oleh kepala ruang dan dilaksanakan oleh
seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift.
Perawat primer mengoperkan ke perawat primer berikutnya yang
akan mengganti shift. Operan pertama dilakukan di nurse station
kemudian ke ruang perawatan pasien dan kembali lagi ke nurse
station. Isi operan mencakup jumlah pasien, diagnosis keperawatan,
dan intervensi yang belum/sudah dilakukan. Waktu unutuk setiap
pasien tidak lebih dari lima menit saat klarifikasi ke pasien.
3. Hasil
Operan dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap perawat
dapat mengetahui perkembangan pasien. Komunikasi antar perawat
berjalan dengan baik.
FORMAT OPERAN PENDERITA
Nama Pasien : Kamar :
Umur : Dx. Medis :
Tanggal :

Asuhan Operan
Sift Pagi Sift Sore Sift Malam
Keperawatan
Masalah Keperawatan
S: S: S:
Data Fokus O: O: O:
(Subyektif dan Obyektif) A: A: A:
P: P: P:
Intervensi yang sudah
dilakukan
Intervensi yang belum
Dilakukan
Hal-hal yang perlu di
Perhatikan (Lab, Obat,-
Advis Medis)
Tanda Tangan PP PP Pagi: PP Sore: PP Malam:
PP Sore: PP Malam: PP Pagi:

Karu: Karu:
Lampiran Format Timbang Terima
Sistem Pendokumentasian Dengan SBAR

SBAR merupakan kerangka acuan dalam pelaporan kondisi pasien yang


memerlukan perhatian atau tindakan segera.
S : Situation (Kondisi Terkini Yang Terjadi Pada Pasien)
 Sebutkan nama pasien, umur, tanggal masuk, dan hari perawatan, serta
dokter yang merawat.
 Sebutkan diagnose medis dan masalah keperawatan yang belum atau
sudah teratasi/ keluhan.
B : Backround (Info Penting yang Berhubungan dengan Kondisi Pasien
Terkini)
 Jelaskan intervensi yang telah dilakukan dan respons pasien dari setiap
diagnosis keperawatan
 Sebutkan riwayat alergi, riwayat pembedahan, pemasangan alat invasif,
dan obat-obatan termasuk cairan infuse yang digunakan.
 Jelaskan pengetahuan pasien dan keluarga terhadap diagnosis medis
A : Assessment (Hasil Pengkajian Dari Kondisi Pasien Saat Ini)
 Jelaskan secara lengkap hasil pengkajian pasien terkini seperti tanda-
tanda vital, skor nyeri, tingkat kesadaran, braden score, status restrain,
risiko jatuh, pivas score, status nutrisi, kemampuan eliminasi, dan lain-
lain.
 Jelaskan informasi klinik lain yang mendukung.
R : Recommendation
 Rekomendasi interveensi keperawatan yang telah dan perlu dilanjutkan
(refer to nursing care plan) termasuk discharge planning dan edukasi
pasien dan keluarga.
B. SOP Pendelegasian
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENDELEGASIAN
Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan
Pengertian
wewenang kepada bawahannya.
   Memberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab kepada
perawat secara proporsional
    Memberi kesempatan kepada perawat untuk mengembangkan diri
Tujuan
    Meningkatkan mekanisme kerja organisasi
    Mendorong perawat untuk berorientasi pada target dan sekaligus
kualitas
    Kepala Bagian Keperwatan

Kebijakan     Kepala Ruang


    Perawat Primer
Petugas Perawat
    Membuat perencanaan ke depan dan mencegah masalah.

    Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis


    Menyetujui standar kerja
    Menyelaraskan tugas atau kewajiban dengan kemampuan bawahan
    Melatih dan mengembangkan staf bawahan dengan memberikan
tugas dan wewenang baik secara tertulis maupun lisan.
Prosedur     Melakukan kontrol dan mengkoordinasikan pekerjaan bawahan
Pelaksanaan dengan mengukur pencapaian tujuan berdasarkan standar serta
memberikan umpan balik prestasi yang dicapai.
    Kunjungi bawahan lebih sering dan dengarkan keluhan-keluhannya.
    Bantu mereka untuk memecahkan masalahnya dengan memberikan
ide-ide baru yang bermanfaat.
    Memberikan ‘reward’ atas hasil yang dicapai.
10.  Jangan mengambil kembali tugas yang sudah didelegasikan.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Timbang terima adalah adalah suatu cara dalam menyampaikan dan
menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang
terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift.
Selain laporan antar shift, dapat disampaikan pula informasi-informasi
yang berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum
dilaksanakan.
Timbang terima bertujuan untuk penghubung informasi mengenai
keadaan klien secara menyeluruh sehingga tercapai asuhan keperawatan
yang optimal. Pelaksanaan dapat berjalan dengan lancar sesuai
perencanaan dan semua personal dapat melaksanakan kegiatan sesuai
peran masing-masing.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen
penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan
menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam
melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi wewenang adalah
proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada bawahannya.
Pendelegasian bukan semata-mata hanya penyerahan tugas, tetapi juga
berikut tanggung jawab pelaksanaannya oleh mereka yang menerima tugas
tersebut. Dalam hal ini termasuk otoritas pelaksanaannya walaupun
menggunakan atas nama pimpinan.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa keperawatan memahami bagaimana cara
melakukan timbang terima dan pendelegasian dengan baik. Dan dapat
diaplikasikan dalam praktik.
DAFTAR PUSTAKA
Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Edisi 5 . Jakarta : Salemba Medika

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik


Keperawatan Profesional. Edisi 3 . Jakarta : Salemba Medika
AHHA (Australian Health Care and Hospitals Association). 2009. Clinical
handover : system change, leadership and principles
Frisen,M.A, White, S.V, & Byers, J.F. 2009. Handoff: implications for nurses,
nurses first, vol.2 , issue 3 may/ june 2009
Nursalam. 2008. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam praktik
keperawatan profesional Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Potter, Patricia. 2005. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktek.
Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai