Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM REKAYASA JALAN


MODUL VI

PERIODE III (2020/2021)

Kelompok 5
Nama Mahasiswa/NIM : Givson Gabriel/104118029

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
UNIVERSITAS PERTAMINA
2020
PENGUJIAN PENETRASI BAHAN BITUMEN
Givson Gabriel*, Fathur Yufara5, Geraldo Josua5, Muhammad Faishal5, Ribka Maya5
5
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur, Universitas Pertamina
*Corresponding author: givsong@gmail.com

Abstrak : Pada tanggal 25 November 2020 pada pukul 11.00 – 13.00 telah dilaksanakan secara online melalui
Microsoft Teams praktikum Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen yang bertujuan untuk mendapatkan nilai
penetrasi 40 bitumen sampel uji dengan mengacu pada prosedur pelaksanaan dan perhitungan AASHTO T-49-
68 dan ASTM D-5-71 serta menentukan identifikasi nilai penetrasi 40 bitumen sampel uji. Pada pengujian ini
digunakan dua sampel bitumen dengan pemberian perilaku yang sama. Didapatkanlah nilai penetrasi bitumen
sampel I dan sampel II lalu diambil rata-ratanya senilai 7.565 mm. Dengan melihat pada acuan yang dipakai,
sampel bitumem bagus untuk digunakan pada percobaan selanjutnya.
Kata kunci : Bitumen, Penetrasi, Perilaku Sama, Acuan, Sampel Bagus

Abstract : On November 25, 2020 at 11.00 - 13.00, it has been held out online through
Microsoft Teams, the Bitumen Material Penetration Testing practicum with the purposes to
obtain a penetration value of 40 bitumen test samples by referring to the implementation and
calculation procedures of AASHTO T-49-68 and ASTM D-5 -71 and determine the
identification of the penetration value of 40 bitumen test samples. In this test, two samples
of bitumen were used with the same behavior. Obtained the bitumen penetration value
sample I and sample II and then taken the average value of 7.565 mm. By looking at the
references used, the bitumem sample is good for use in future experiments.
Keywords : Bitumen, Penetration, Same Behavior, Reference, Good Sample

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada struktur perkerasan lentur banyak aspek yang harus ditinjau, salah satunya
adalah material. Bitumen merupakan bahan material penyusun sebuah perkerasan
jalan hasil penyulingan minyak, baik rigid pavement maupun flexural pavement.
Tanpa bitumen, tidak ada kelekatan antar material satu dengan yang lainnya. Oleh
karena itu, dalam pembuatan perkerasan jalan, perlunya melakukan studi atau
pengujian terhadap sifat dari bitumen sendiri, diantaranya penetrasi bitumen. Dengan
melakukan Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen, didapatkanlah kuantitas dan kualitas
yang mengacu pada AASHTO T-49-68 dan ASTM D-5-71, baik atau buruknya
material didapatkan dari identifikasi spesifikasi bitumen.

2. Rumusan Masalah
a. Berapa nilai penetrasi 40 bitumen sampel uji dengan mengacu pada prosedur
pelaksanaan dan perhitungan AASHTO T-49-68 dan ASTM D-5-71?
b. Bagaimana spesifikasi nilai penetrasi 40 bitumen sampel uji?

3. Tujuan Penelitian
a. Mendapatkan nilai penetrasi 40 bitumen sampel uji dengan mengacu pada
prosedur pelaksanaan dan perhitungan AASHTO T-49-68 dan ASTM D-5-71.
b. Menentukan spesifikasi nilai penetrasi 40 bitumen sampel uji.
4. Dasar Teori
Aspal adalah bahan berwarna hitam/coklat tua, bersifat perekat, terutama terdiri
dari bitumen yang didapat dari alam atau
dari proses pembuatan minyak bumi. Sedangkan bitumen adalah bahan
berwarna hitam, dapat bersifat padat/keras (asphaltine) dapat juga bersifat lembek
(malthine).Untuk mengetahui tingkat kekerasan aspal maka perlu dilakukan.
Pengujian penetrasi aspal adalah suatu pengujian yang di gunakan untuk menentukan
nilai penetrasi pada aspal sehingga dapat diketahui mutunya. Pengujian penetrasi
aspal ini menggunakan alat yang bernama penetration test, alat inilah yang akan
membantu kita untuk menentukan seberapa besar penetrasi aspal yang di uji.
Aspal merupakan bahan pengikat agregat yang mutu dan jumlahnya sangat
menentukan keberhasilan suatu campuran beraspal yang merupakan bahan jalan.
Salah satu jenis pengujian dalam menentukan persyaratan mutu aspal adalah
penetrasi aspal yang merupakan sifat rheologi aspal yaitu kekerasan aspal.
Pembagian kekerasan dan kekenyalan aspal berdasarkan British standard, membagi
nilai penetrasi tersebut menjadi 10 macam, dengan rentang nialai penetrasi 15 s/d 40,
sedangkan AASTHO mendefinisikan nilai pen 40 – 50 sebagai nialai pen untuk
material sebagai bahan bitumen terlembek/terlunak.
- Aspal penetrasi 40/50 : bila jarum penetrasi benda pada range (40-50).
- Aspal penetrasi 60/70 : bila jarum penetrasi benda pada range (60-70).
- Aspal penetrasi 85/100 : bila jarum penetrasi benda pada range (85-100).
- Aspal penetrasi 120/150 : bila jarum penetrasi benda pada range (120-150).
- Aspal penetrasi 200/300 : bila jarum penetrasi benda pada range (200-300).
Di Indonesia umumnya dipergunakan aspal semen dengan penetrasi 60/70 dan
85/100. Aspal dengan penetrasi 60/70 biasanya diaplikasikan untuk kasus jalan
dengan volume lalu lintas, sedang atau tinggi dan cocok untuk daerah dengan cuaca
iklim panas.
Dari sudut pandang rekayasa, ragam dari komposisi unsur aspal biasanya tidak
ditinjau lebih lanjut, untuk menggambarkan karakteristik ragam respon aspal tersebut
diperkenalkan beberapa parameter, salah satunya adalah Pen (penetrasi). Nilai ini
menggambarkan kekerasan asapl pada suhu standar yaitu 25°C , yang diambila dari
pengukur kedalaman penetrasi jarum standar (5 gram/100 gram) dalam rentang
waktu standar (5 detik). Penetrasi sangat sensitif terhadap suhu, pengukuran di atas
suhu kamar menghasilkan nilai yang berbeda variasi suhu terhadap nilai penetrasi.
Nilai penetrasi dinyatakan sebagai rata rata sekurang kurangnya dari 3
pembacaan. Berdasarkan SNI 06 – 2456 – 1991 nilai penetrasi dinyatakan sebagai
rata-rata sekurang-kurangnya dari tiga pembacaan dengan ketentuan bahwa hasil
pembacaan tidak melampaui ketentuan dibawah ini :
Tabel 6. 1 Batas Nilai Penetrasi
METODE PENELITIAN
1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen, yaitu:
alat penetrasi/penetrometer (yang dapat menggerakkan pemegang jarum naik turun
tanpa gesekan dan dapat mengukur penetrasi sampai 0,1 mm), pemegang jarum
(seberat (47,5 ± 0,05) gram yang dapat dilepas dengan mudah dari alat penetrasi),
pemberat ((50 ± 0,05) gram untuk pengukuran penetrasi dengan beban 100 gram),
jarum penetrasi (stainless steel mutu 44˚C atau HRC 54 sampai 60 dengan ujung
jarum berbentuk kerucut terpancung, cawan logam atau gelas (bentuk silinder dengan
dasar yang rata-rata berukuran seperti pada Tabel 6.2, tempat air (untuk benda uji
ditempatkan di bawah alat penetrasi di mana mempunyai isi tidak kurang dari 350
ml dan tinggi yang cukup untuk merendam benda uji tanpa gerak, dan stopwatch
(untuk pengukuran penetrasi dengan tangan dengan skala pembagian terkecil 0,1
detik atau kurang dari kesalahan tertinggi 0,1 detik, untuk pengukuran penetrasi
dengan alat, otomatis kesalahan alat tersebut tidak boleh melebihi 0,1 detik).
Tabel 6. 2 Pengaturan Alat Penetrasi

Bahan yang digunakan pada praktikum Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen,


yaitu: aspal keras (digunakan pada pembuatan campuran aspal panas) dan air.

2. Cara Kerja
Diawali dengan aspal dipanaskan secara perlahan dan diaduk hingga cukup cair
untuk dapat dituangkan. Pemanasan aspal untuk tidak lebih dari 60˚C di atas titik
lembek. Waktu pemanasan tidak boleh melebihi 30 menit. Aspal diaduk perlahan-
lahan agar udara tidak masuk kedalam aspal tersebut. Setelah merata, aspal cair
dituangkan ke dalam tempat contoh dan biarkan hingga dingin. Tinggi contoh dalam
tempat tersebut tidak boleh kurang dari angka penetrasi ditambah 10 mm. Buat dua
benda uji. Tutuplah benda uji agar bebas dari debu dan diamkan pada suhu ruang
selama 1 sampai 1,5 jam untuk benda uji kecil dan 1,5 sampai 2 jam untuk benda uji
besar. Selanjutnya meletakkan benda uji di dalam tempat air yang kecil yang telah
berada pada suhu yang ditentukan dan mendiamkannya selama 1 sampai 1,5 jam.
Setelah itu memeriksa pemegang jarum agar jarum dapat dipasang dengan baik,
kemudian membersihkan jarum penetrasi dengan toluene atau pelarut lain, lalu
mengeringkan jarum tersebut dengan lap bersih dan memasangkannya pada
pemegang jarum. Lalu meletakkan pemberat 100 gram di atas jarum sehingga
diperoleh beban sebesar (100 ± 0,1) gram. Selanjutnya memindahkan tempat air ke
bawah alat penetrasi. Selanjutnya memutar arloji penetrometer, kemudian angka
penetrasi yang berhimpit dengan jarum petunjuk dibaca dan di catat dengan
pembulatan hingga angka 0,1 mm terdekat. Setelah itu menurunkan jarum perlahan-
lahan hingga jarum tersebut menyentuh permukaan benda uji, kemudian mengatur
angka 0 di arloji penetrometer sehingga jarum penunjuk berhimpit dengannya.
Selanjutnya melepaskan pemegang jarum dan stopwatch sehingga berjalan serentak
selama jangka waktu (5 ± 0,1) detik. Pekerjaan sampai dengan di atas dilakukan tidak
kurang dari 5 kali untuk benda uji yang sama dengan ketentuan setiap titik
pemeriksaan berjarak satu sama lain dari tepi dinding lebih dari 1 cm.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Tabel 6. 3 Data Nilai Penetrasi
Pen 40
Penetrasi (mm)
Penetrasi pada 25˚C, 100 gram, 5 detik
I (mm) II (mm)
Pengamatan 1 7,26 7,65
Pengamatan 2 6,82 7,7
Pengamatan 3 6,55 7,8
Pengamatan 4 7,41 6,8
Pengamatan 5 7,16 10,5
Rerata Sampel 7,04 8,09
Rata-Rata 7,565

2. Pembahasan
Dari pengujian yang dilakukan berdasarkan acuan pedoman AASHTO T-49-68
dan ASTM D-5-71, didapatkan sebuah nilai penetrasi 40 pada sampel bitumen. Pada
pengujian ini, digunakan dua jenis bitumen dengan perilaku yang sama baik dari segi
waktu, suhu, dan komposisi yang sama, sehingga didapatkan nilai penetrasi rata-rata
sebesar 7.565 mm.
Nilai rata-rata penetrasi 40 yang didapatkan, dianalisis berdasarkan nilainya
terhadap batas minimumnya sebesar 6 mm sampai batas maksimumnya sebesar 7.9
mm yang berdasarkan AASHTO T-49-68 dan ASTM D-5-71. Sehingga, dapat
dikatakan bahwa nilai penetrasi yang didapat dari hasil rata-rata dua sampel bitumen,
bagus untuk digunakan sebagai bahan pada pengujian selanjutnya.

SIMPULAN
Pada praktikum Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen yang dilaksanakan secara online
melalui Microsoft Teams pada tanggal 25 November 2020 pada pukul 11.00 – 13.00, secara
bersama dilakukan praktikum berdasarkan prosedur pengujian dan perhitungan AASHTO
T-49-68 dan ASTM D-5-71. Dilakukan pengujian penetrasi bitumen ini untuk dua jenis
bitumen dengan perilaku yang diberikan sama, baik dari segi waktu, suhu, dan komposisi
yang sama. Dari sampel I dan sampel II, diambil rata-rata nilai penetrasinya sebesar 7.565
mm.
Dari segi nilai penetrasi 40 yang didapat, dilakukan tinjauan terhadap nilai penetrasi
AASHTO T-49-68 dan ASTM D-5-71, yaitu batas minimum sebesar 6 mm sampai batas
maksimum sebesar 7.9 mm. Oleh karena itu, didapatkan hasil bahwa bitumen sampel uji
merupakan bahan material yang bagus untuk dilakukan pada pengujian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, S. F. (2014). KONSTRUKSI JALAN UJI PENETRASI ASPAL. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta.
Badan, S. N. (2011). SNI 2432:2011 Cara uji penetrasi aspal. Jakarta: SNI.
Naufal, A. A., Sari, D. M., Firdaus, M. I., Indrawati, S., & Wiguna, Z. R. (2013).
PENETRASI BAHAN-BAHAN BITUMEN. Depok: Universitas Indonesia.
Wahyudi, H., Prabandiyani, S., & Purwanto, D. (2003). EVALUASI SIFAT MARSHALL
DAN NILAI STRUKTURAL CAMPURAN BETON ASPAL YANG MENGGUNAKAN
BAHAN IKAT ASPAL PERTAMINA PEN 60/70 DAN ASPAL ESSO PEN 60/70.
Semarang: Universitas Diponegoro.

Anda mungkin juga menyukai