Anda di halaman 1dari 23

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN KOSMETIK

SEDIAAN SHAMPO

OLEH

KELOMPOK : 2 (DUA)

KELAS : TRANSFER A

NAMA ASISTEN : AISYA HUMAIRA RS S,farm

LABORATORIUM FARMASETIKA
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR
2020
a. Format Pelaporan Rancangan Formula

Nama Produk Pantail


I. Rancangan Formula

Tiap 160 mL mengandung :

Sodium laury sulfat 10 % (Sufraktan)


Sodium laureth sulfat 30 % (Sufraktan)
Sodium clorida 5% (Pengatur viskositas)
Cocamidopropyl betaine 2% (Sufraktan)
Glicol distrate 0,5 % (Pelembab)
Citric acid 1,0 (Pengatur pH)
Sodium citrate 0,3% (Penstabil pH)
Cocamide DEA 8% (Pembentuk busa, Surfaktan)
Sodium Xylenesulfanate 10% (Pembentuk busa)
Dimethicone 0,5% (Pelembab)
Guar hydroxypropiltrimonium chloride 0,2% (Agen pengkondisi, pembersih)
Sodium benzoate 0,1% (Pengawet)
Tetrasodium EDTA 0,1% (Cellating agent)
Trisodium Ethylenediamine Disuccinate 0,005% (Antioksidan)
Panthenol 0,4 % (Mempertahankan kelembaban)
panthenyl ethyl eter 0.05% (Pengaroma, Pemberi rasa segar)
Methylchloroisothiazolinone 0,0015% (Pengawet)
Methylsothiazolinone 0,01% (Pengawet)
Water ad 100% (Pelarut)

II. Rencana desain sediaan


- Rencana nomor registrasi : CD 1009222020
- Rencana nomor notifikasi : NA 18201000002
- Rencana klaim sediaan : Kosmetik untuk rambut (Shampo)
- Rencana bahan kemas primer : Wadah botol plastik
- Rencana bahan kemas sekunder : -
- Rencana bahan label/etiket : Kertas stiker
- Rencana indikasi sediaan : Mengharumkan dan melembutkan rambut

III. Dasar Formulasi


III.1
1. Mengapa bahan aktif anda perlu diformulasi menjadi bentuk sediaan dengan sistem yang
anda pilih?
Adapun alasan sediaan dibuat shampo karna shampo merupakan produk yang digunkan oleh
semua golongan masyarakat. Pada saat ini shampo merupakan salah satu produk utama dalam
pasar produk perawatan dan pembersih rambut. Shampo merupakan sediaan kosmetik dalam
bentuk cair, gel, emulsi, ataupun arosol yang mengandung sufraktan sehingga memiliki sifat
detergensi, humektan, dan menhasilkan busa (foaming) (Fonsea, 2005)
2. Apa keuntungan jika bahan aktif anda diformulasi menjadi bentuk sediaan yang anda pilih?
Keuntungan dibuat shampo karena sesuai dengan fungsinyauntuk menghilangkan kotoran, shampo
juga membuat rambut tetap berkilau dan muda diatur ( Young,1972)
3. Adakah tujuan khusus yang ingin dicapai dengan memformulasi bahaan aktif anda menjadi sediaan
yang anda pilih? Jelaskan jika ada!
Rambut yang menghiasi kepalah manusia merupakan suatu kebutuhan estetika, sehingga orang
menghabiskan banyak waktu untuk merawat dan memperbaiki rambutnya, maka dari itu shampo
menduduki 12 % pasaran kosmetik karena penggunaanya yang sangat banyak. Shampo juga merupakan
produk utama dalam kosmetik untuk perawatan rambut (Limbani, 2009).
III.2 Dasar Pemilihan Bahan Aktif
(Uraikan pendapat anda berdasarkan minimal tiga pustaka textbook, jelaskan satu per satu bahan aktif)
1. Cocamidopropyl betaine (sufraktan amfoterik)
Digunakan cocamidopropyl sebagai sufraktan amfoterik dipilih karena memiliki sifat yang kurang
iritatif sehingga dapat mengurangi sifat iritatif dari sodium lauryl sulfat, selain itu tujuan penggunaan
lebih dari satu jenis sufraktan adalah untuk meningkatkan kestabilan busa yang dihasilkan
(Sihendra,2010). Betaine adalah sufraktan dengan sifat pembusa, pembasa dan pengemulsi yang
baik, khususnya dengan keberadaan sufraktan anionik (Barel,2009). Selain itu betaine betaine juga
merupakan sufraktan yang lembut, daya busanya tidak dipengaruhi oleh pH, dan sifatnya kompatibel
dengan sufraktan anionik,kationk, maupun ionik (Riger,2000). Menurut penelitian teglia 1994 bahwa
Cocamidopropyl betaine memiliki efek antiiritan yang mirip dengan wheat protein ketika
ditambahkan ke larutan lauryl sodium yang dapat melindungi kulit dari iritasi sehingga tepat untuk
produk-produk seperti shampo dan sabun cair.
2. Sodium Lauryl Sulfate (Sufraktan)
Lauril sulfat dipilih karena merupakan agen pembersih yang baik, namun pada konsentrasi tinggi
mempunyai kecenderungan untuk mengiritasi kulit kepala dan menghilangkan beberapa kompinen
lipid dan kutikula rambut. Oleh karena itu, untuk mengurangi sifat iritatif dari lauril sulfat maka
digunakan bersama dengan betaine yang bersifat kurang iritatif untukg mengurangi efek iritatif dari
lauril sulfat (Sihendra, 2010). Surfaktan anionik yang digunakan dalam sediaan ini adalah Sodium
Lauryl Sulphate (SLS) yang merupakan surfaktan anionik dan pembentuk busa dan pembersih yang
baik, namun iritatif dan memberikan after feel seperti kering, kecuali dengan adanya penambahan
agen pengkondisi kulit. SLS bersifat sukar larut dalam air dingin, namun kelarutannya meningkat
seiring dengan kenaikan suhu (Pramasanti, 2011). Natrium lauril sulfat merupakan emulgator
anionik yang digunakan pada konsentrasi 0,5-2,5% dan merupakan surfaktan anionik yang
digunakan dalam cakupan yang luas pada kosmetik sehingga diharapkan tidak menimbulkan reaksi
alergi saat digunakan di kulit. Titik CMC natrium lauril sulfat yaitu 0,045% b/v (Prasetyaningtyas &
Ikhsanudin, 2011). Sodium lauryl sulphate digunakan dalam shampo pada konsentrasi kurang lebih
10% (Rowe, 2009).
3.Sodium Lauryl Ether Sulfate (Sufraktan)
Lauril eter sulfat (apalagi dalam bentuk garam sodium) paling banyak digunakan sebagai surfaktan
primer, sedangkan lauril sulfat menjadi pilihan kedua setelah lauril eter sulfat. Berdasarkan sifat
deterjensinya, lauril sulfat lebih baik jika dibandingankan dengan lauril eter sulfat. Akan tetapi, lauril
sulfat mudah menyebabkan iritasi, serta memiliki kelarutan dan pembentukan busa yang kurang baik
dibandingkan dengan lauril eter sulfat. Sodium lauril eter sulfat efektif pada rentang pH yang luas,
baik dalam larutan asam maupun basa dan dalam air sadah yang akan menyebabkan sodium lauril
sulfat lebih menimbulkan busa yang ekstra disbanding dengan sodium lauril sulfat. Lauril sulfat dan
lauril eter sulfat terdapat dalam sediaan pada konsentrasi antara 25-30% (high active concentration),
biasanya dalam rentang 6-70% bahan aktif (Melian, 2018).

III.3 Dasar Pemilihan Bahan Tambahan


(Uraikan pendapat anda berdasarkan minimal tiga pustaka textbook, jelaskan satu per satu bahan
tambahan)
1. Sodium clorida (Pengatur viskositas)
Sodium merupakan salah satu bahan pengental yang banyak digunakan di industri kosmetik,
sodium clorida digunakan karena tidak mahal dan efektif sehingga kebayakan penelitian yang
berkaitan dengan viskositas dan bisa menggunakan bahan pengental sodium clorida (Fonsea,2005).
Dapat digunakan untuk mengontrol misel ukuran, dan untuk mengatur viskositas dispersi polimer
dengan mengubah karakter ionik suatu formulasi (Rowe,2009). Selain itu evan (2007) juga
menguji mengenai viskositas dan busa dari 30 macam shampo yang mengandung betaine dan
Nacl. Menutut hasil penelitian konsentrasi nacl 3-5 % akan menaikan viskositas, namun diatas
konsentrasi 7 % viskositas menurun. Maka pada formula ini digunakan 3,5 %.sesuai dari penelitian
yulia,2015.
2. Glikol distrate (Pelembab)
Digunakan propilenglikol karena Glikol disratet diproduksi melalui esterifikasi asam stearat atau
esternya dengan etilen glikol. Digunakan dalam produk pencuci cair, ini memiliki efek mutiara
yang jelas, dan akan meningkatkan viskositas produk. Ini juga memiliki fungsi melembabkan kulit,
merawat rambut dan antistatis. Tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan tanpa membahayakan,
sangat cocok di sampo, pembersih mandi, krim dan deterjen cair standar tinggi. Berlaku untuk
farmasi, sebagai dispersan mutiara, pelarut, pelumas, gerusan pemrosesan logam dan bidang
pemrosesan serat. Cocok untuk digunakan dalam teknologi formulasi termal, dosis yang
dianjurkan adalah 0,5-2%.
3. Acid citrit (Pengatur pH)
Sequestrants ini adalah agen pembentuk kompleks. Mereka membentuk kompleks dengan ion
logam seperti kalsium dan magnesium. Surfaktan cenderung membentuk kompleks dengan logam
yang ada dalam air yaitu kalsium dan magnesium. Karenanya penambahan Sequestrants mencegah
pembentukan kompleks antara logam dan surfaktan. Sequestrant itu sendiri membentuk kompleks
dengan ion logam. Jadi, ini mencegah pembentukan film pada kulit kepala yaitu, film yang
dibentuk oleh surfaktan dan ion logam. Sequestrants yang umum digunakan adalah EDTA, citric
acid dll. Asam sitrat merupakan asam ortanik lemah digunakan untuk menyeimbangkan pH agar
dapat menetralisir reaksi basa yang terjadi pada penyampoan,pH shampo yang baik antara 5-9
(Faizatun, 2008). Berada dalam rentang konsentrasi asam sitrat untuk sampo 0,0001-5% (CIR
Expert panel, 2012).
4. Fragrance (Pewangi)
Parfum merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk memberikan aroma pada sediaan
shampo. Tujuan agar shampoo tidak berbau dan menarik konsumen (Depkes, 1995). Juga
menetralkan bau yang tidak diinginkan dari bahan formulasi lainnya terutama surfaktan. Saat ini
sudah menjadi faktor penting untuk kepuasan konsumen. Parfum harus sedemikian rupa sehingga
tetap wangi untuk jangka waktu tertentu bahkan setelahnya keramas. Parfum yang ditambahkan
tidak boleh mempengaruhi kelarutan dan stabilitas persiapan. Mereka biasanya diperoleh dari
sumber alami seperti bunga, buah-buahan, herbal dll (Sharma, etc., 2018).
5. Sodium citrit (Penstabil pH)
Aplikasi dalam Formulasi atau Teknologi Farmasi Sodium sitrat, baik sebagai bahan dihidrat
maupun anhidrat, banyak digunakan dalam formulasi farmasi. Ini digunakan dalam produk
makanan, terutama untuk mengatur pH larutan. Itu juga digunakan sebagai agen sekuester.
Konsentrasi 0,3-2,0 % (Rowe,2009).
6. Cocamide DEA (Pembentuk busa, Surfaktan)
Cocamide Mea adalah campuran etanolamida asam kelapa, dimana radikal, RCO-, mewakili asam
lemak yang berasal dari minyak kelapa (Wenninger dan McEwen 1997). Menurut Nikitakis dan
McEwen (1990), Cocamide Mea mengandung 82-88% amida. Cocamide MEA adalah satu-
satunya ethanolamine alami pada mamalia. MEA dapat diubah menjadi amonia dan asetaldehida,
dan dapat direaksikan dengan aldehida untuk membentuk DEA. Dalam kosmetik dan produk
perawatan pribadi, Cocamide MEA digunakan dalam formulasi sabun mandi dan sampo.
Cocamide DEA yang memiliki efek emmolient (melembabkan) dan foam stabilizer(menstabilkan).
Formula sampo yang mengandung Cocamide DEA dapat digunakansehari-hari dan dapat
diaplikasikan pada kulit untuk waktu yang lama. Cocamide DEA memiliki kompatibilitas yang
baik terhadap kulit dan membran mukosa sehingga dapat digunakan untuk kulit yang sensitif,
memiliki kekentalan yang baik, dan tidak toksik sehingga dapat memperbaiki penampilan sediaan
(Noor & Nurdyastuti, 2009). Pada penelitian (Mardinda et al , 2016).
7. Sodium xylenesulfonate (Pembentuk busa)
Sodium Xylenesulfonate adalah surfaktan yang ditemukan dalam produk perawatan pribadi,
terutama di sampo, karena kemampuannya untuk berfungsi sebagai agen klaritan atau pembasahan
yang membantu formula menyebar lebih mudah dan memastikan pembersihan yang efisien. Ini
diklasifikasikan sebagai hidrotrope, atau senyawa organik yang meningkatkan kemampuan air
untuk melarutkan molekul lain. Karena kemampuan larut Sodium Xylene Sulfonate, ia sering
ditambahkan ke sampo sebagai zat pengental yang membantu menangguhkan bahan lain,
membersihkan tampilan keruh pada formula (Sane, 1987). Sodium xylene sulfonate adalah ,
senyawa organik yang meningkatkan kemampuan air untuk melarutkan molekul lain. Sodium
xylene sulfonate adalah bahan dengan bahaya rendah Sodium xylene sulfonate digunakan dalam
deterjen rumah tangga cair dan sampo, dalam senyawa degreasing dan pasta cetak yang digunakan
dalam industri tekstil. Ini juga merupakan surfaktan yang ditemukan dalam produk perawatan
pribadi, terutama di sampo, karena kemampuannya untuk berfungsi sebagai agen klaritan atau
pembasahan yang membantu formula menyebar lebih mudah. Sodium xylene sulfonate juga
digunakan untuk mengekstrak pentosan dan lignin di industri kertas, dan sebagai aditif lem di
industri kulit. Sodium xylenesulfonate digunakan sebagai hidrotrope, senyawa organik yang
meningkatkan kemampuan air untuk melarutkan molekul lain. Sodium xylenesulfonate adalah
komponen dalam berbagai sampo yang banyak digunakan penggunaannya secara luas, potensi
paparan natrium xylenesulfonate sangat besar, deterjen rumah tangga pria dan wanita dan cairan di
mana ia dapat membentuk hingga 10% dari total larutan.
8. Dimethicone (Pelembab)
Dimethicones dengan berbagai viskositas banyak digunakan dalam formulasi kosmetik dan
farmasi. Dimetikon bersifat hidrofobik dan juga banyak digunakan dalam sediaan penghalang
topikal. Dimetikon umumnya dianggap sebagai bahan yang relatif tidak beracun dan tidak iritan
meskipun dapat menyebabkan iritasi sementara pada mata. Dalam formulasi farmasi dapat
digunakan dalam sediaan oral dan topikal. Dimethicones juga digunakan secara ekstensif dalam
formulasi kosmetik dan aplikasi makanan tertentu (Rowe, 2009).
9. Guar hidroksipropil trimonium choride (Agen pengkondisi, pembersih)
Guar Hydroxypropyl Trimonium Cloride adalah turunan hydroxypropylated cationic guar yang
memberikan manfaat pengkondisian. Muatan kationik AakoGuar HPHG berinteraksi dengan
keratin memberikan efek pengondisian pada rambut dan kulit dan mengurangi efek negatif dari
sabun dan surfaktan. Meskipun kationik, AakoGuar HGHC kompatibel dengan sebagian besar
surfaktan anionik dan amfoter. AakoGuar HPHG tidak sensitif terhadap elektrolit dan karena
hidropropilasi menunjukkan karakteristik hidrofilik yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
guars kationik lainnya. Cationic Guar diaplikasikan sebagai apa yang disebut “pengedapan
polimer” dalam formulasi sampo. Dalam fungsi ini mendukung aktivitas agen pengkondisi
berbasis silikon dan meningkatkan jumlah agen pengkondisi berbasis silikon yang teradsorpsi ke
substrat. Konsentrasi 0,2% (Herrwerth, 2009). Melekat lebih kuat pada rambut dari pada ikatan
monomer dan meninggalkan lapisan yang melapisi permukaan serat rambut, membuatnya tampak
lembut dan halus sambil meningkatkan kilau dan warna dengan mengubah indeks bias. Selain
penggunaannya dalam kondisioner, bahan finishing polimer kationik ini telah menjadi komponen
utama sampo 2-in-1 yang menggabungkan pembersihan dan pengkondisian (Trueb, 2006).
10. Sodium benzoate (Pengawet)
Sodium benzoate digunakan terutama sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, makanan,
dan farmasi. Ini digunakan dalam konsentrasi 0,02-0,5% dalam obat-obatan oral, 0,5% dalam
produk parenteral, dan 0,1-0,5% dalam kosmetik. Kegunaan natrium benzoat sebagai pengawet
dibatasi oleh keefektifannya pada kisaran pH yang sempit. Dalam beberapa keadaan, natrium
benzoat lebih disukai daripada asam benzoat, karena kelarutannya yang lebih besar. Namun, dalam
beberapa aplikasi, hal itu dapat menimbulkan rasa tidak enak pada suatu produk (Rowe, 2009).
11. Tetrasodium EDTA (Cellating agent)
Penggunaan bahan ini sebagai chelating agent dan juga bisa sebagai pengawet anti miroba. Pada
sediaan topikal Na EDTA digunakan sebagai chellating agent dengan kdar 0,01-0,1%.
Inkompaktibilitas dengan agen pengoksidasi kuat, basa kuat, dan logam polivalen.
12. Trisodium Ethylenediamine Disuccinate (Antioksidan)
EDDS sebenarnya adalah singkatan dari Ethylenediamine-N, N'-disuccinic acid. EDDS adalah
agen pengkelat, yang berarti dapat menghilangkan logam berat. Anggap saja sebagai detoksifikasi
rambut. Dalam sampo dan kondisioner mengurangi kadar tembaga pada rambut dan meningkatkan
kesehatan rambut, terutama dalam hal melindungi rambut dari radiasi UV. Kerusakan rambut
akibat paparan sinar UV adalah proses multistep yang sangat rumit di mana sinar UV diserap oleh
untaian dan menciptakan "spesies oksigen reaktif (ROS)". Para ilmuwan menemukan bahwa
tembaga mempercepat pembentukan ROS. Untuk memperlambat proses ROS dan mengurangi
kerusakan pada rambut, tembaga perlu dihilangkan dari rambut. Seiring waktu, paparan UV akan
merusak rambut yang diukur dengan kehilangan protein dan kerusakan ini akan dipercepat dengan
adanya ion tembaga dari air keran yang diambil oleh rambut. Degradasi struktural ini ditambah
dengan kerusakan fisik akibat menyisir / mencuci lama kelamaan akan menyebabkan hilangnya
kilau, menyisir buruk, dan kesehatan rambut yang buruk. Dalam pengujian, satu set rambut
dirawat dengan EDDS dalam sampo dan kondisioner. Formula ini terbukti mengurangi serapan
tembaga dari air keran dan mengurangi kehilangan protein dan pembentukan protein yang
merusak. Hasilnya adalah rambut yang lebih sehat, lebih kuat dengan sedikit kerusakan. Penelitian
lain menemukan bahwa logam yang ditemukan dalam air keran dapat mengganggu pengawetan
warna dan menyebabkan oksidasi pada batang rambut, sehingga warna memudar. Sekali lagi, para
ilmuwan menemukan bahwa sampo dan kondisioner dengan kandungan seperti EDDS bekerja
sebagai antioksidan pada rambut, menjaga warna rambut. konsentrasi yang biasa digunakan dalam
kisaran 0,005-0,1%.
13. Panthenol (Mempertahankan kelembaban)
D-Panthenol dalam produk kosmetik merangsang penyembuhan luka, Sifat pelembab yang sangat
baik anti inflamasi dan anti iritasi humektan untuk rambut deposisi yang kuat ke kutikula,
membuat rambut lebih mudah untuk disisir, rambut glossy penetrasi dalam ke korteks rambut,
memperkuat batang rambut menembus kulit kepala dan memberikan akar rambut dengan Asam
Pantotenat meningkatkan retensi air dari struktur keratin kuku meningkatkan. (Georg-Glock-Str,
2015. D-Panthenol/Dexpanthenol. Summit Pharmaceutical Europe Ltd. Personal Care
Departement. Germany). Panthenol adalah bentuk alkohol dari asam pantotenat, lebih dikenal
sebagai Vitamin B5. Dalam sel hidup, panthenol diubah menjadi asam pantotenat, yang kemudian
menjadi bagian penting dari senyawa koenzim A, yang penting dalam metabolisme sel. Pada
rambut yang tidak mengandung sel hidup, tetap sebagai panthenol. Karena bisa menjadi vitamin
jika sampai pada sel hidup, ia dipasarkan sebagai "provitamin", meskipun efeknya sebagai vitamin
tidak pernah digunakan. Karena panthenol mengikat folikel rambut dengan baik, dan menarik
kelembapan dari udara, panthenol adalah agen pelembab yang digunakan dalam sampo dan
kondisioner. Panthenol melumasi rambut tanpa terasa berminyak dan menghaluskan permukaan
rambut yang kasar, membuatnya berkilau dan lebih mudah disisir. (David Bellamy, N. Charleston,
SC (US),2007. PANTHENOL AND NATURAL ORGANIC EXTRACTS FOR REDUCING
SKIN IRRITATION. United States (12) Patent Application Publication (10) Pub. No.: US
2007/0134.175 A1 Bellamy).
14. Panthenyl ethyl ether 0.05% (Pengental)
Penggunaan 9 bagian berat d-pantenil etil eter dan 1 bagian berat d-pantenol bila digunakan dalam
komposisi pengkondisi rambut memberikan penurunan gesekan antar rambut sehingga
menghasilkan lebih sedikit kesulitan. untuk menyisir dan menyikat dan juga mengurangi jalinan
rambut. Komposisi semacam itu memungkinkan perbaikan dalam pengaturan sisir dan rambut.
Selain itu, komposisi tersebut juga mencegah atau mengurangi kerusakan abrasi antar rambut. 9
bagian d-pantenil etil eter dan 1 bagian d-pantenol dapat digabungkan dalam komposisi pengatur
rambut atau pengolah dalam jumlah yang umumnya dari sekitar 0,05% berat sampai sekitar 10%
berat komposisi. Mengejutkan bahwa komposisi perawatan rambut yang mengandung formulasi
9/1 tidak menyebabkan peningkatan gesekan yang besar dengan segera (dalam dua menit) dan
mengurangi abrasi rambut setelah perawatan dengan komposisi tersebut karena rambut dirawat
dengan komposisi rambut serupa secara komersial. (Daniel Maes, Monroe, Conn; Norman
Brudney, Paris, France, 1987. HAIR TREATING COMPOSITION : United States Patent). Dalam
kosmetik digunakan sebagai humektant yang dimana meningkatkan diameter batang rambut dan
mengurangi kerusakan yang mungkin disebabkan oleh lingkungan atau faktor lain pada rambut
atau kulit. Humektan tetap berada pada rambut dan kulit untuk jangka waktu yang wajar untuk
meminimalkan kerusakan di masa mendatang. Salah satu bahan penguat yang disukai terdiri dari
pan thenol, pantenil etil eter, fitantriol, atau campurannya, dan akan terdiri dari jumlah efektif
bahan penambah / pelembab. (Asher Wagh, Brooklyn, NY (US), 2009. TOPICAL PERSONAL
CARE COMPOSITIONS AND METHODS OF USE.:
15. Methylchloroisothiazolinone dan Methylsothiazolinone (Pengawet)
Isothiazolinone adalah sekelompok pengawet efektif yang banyak digunakan untuk mengendalikan
organisme mikroba dalam berbagai macam produk dan aplikasi industri atau domestik berbasis air.
Senyawa ini merupakan turunan heterosiklik dari 2H-isothiazolin-3 satu dengan bagian belerang
aktif yang mampu mengoksidasi residu yang mengandung tiol, sehingga menawarkan aktivitas
pengawetan yang kuat terhadap spektrum luas jamur dan bakteri. Methylisothiazolinones seperti 2-
methyl-3 isothiazolinone (MI) dan 5-chloro-2-methyl-3-isothiazolinone (CMI) adalah bahan aktif
dari 3: 1 campuran CMI / MI dijual secara komersial dengan nama Kathon. Industri kosmetik
umumnya menyertakan Kathon CG (kelas kosmetik) dalam berbagai macam formulasi bilas dan
bilas seperti sampo, gel, produk perawatan rambut dan kulit, karena efektivitasnya yang tinggi
pada konsentrasi yang sangat rendah. Undang-undang Uni Eropa telah membatasi kehadiran
mereka dalam produk kosmetik dengan konsentrasi maksimum 0,0015% untuk campuran CMI /
MI 3: 1 atau 0,01% untuk MI (Rivera, 2012).
16. Water
Water atau aqua digunakan sebagai pelarut pembawa pada pembuatan obat dan sediaan farmasi.
Komposisi kimiawi air minum bervariasi, dan sifat serta konsentrasi kotoran di dalamnya
bergantung pada sumber pengambilannya. Untuk sebagian besar aplikasi farmasi, air minum
dimurnikan dengan distilasi, perlakuan pertukaran ion, reverse osmosis (RO), atau beberapa proses
lain yang sesuai untuk menghasilkan 'air yang dimurnikan' (Rowe, 2009). Terdapatnya air
menimbulkan efek melarutkan pada sebagian terbesar zat-zat yang berhubungan dengannya
(Ansel, 1989).

III.4 Dasar Pemilihan Bahan Kemas


(Uraikanpendapatandaberdasarkan minimal satupustakatextbook, jelaskansatu per
satubahankemas)
Fungsi Kemasan Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna,
citra, tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan. Kemasan
digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan, mengidentifikasi dan
membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec, 2006).
Menurut (Louw dan Kimber, 2007), kemasan dan pelabelan kemasan mempunyai beberapa tujuan,
yaitu:
 Physical Production. Melindungi objek dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan sebagainya.
 Barrier Protection. Melindungi dari hambatan oksigen uap air, debu, dan sebagainya.
 Containment or Agglomeration. Benda-benda kecil biasanya dikelompokkan bersama dalam satu
paket untuk efisiensi transportasi dan penanganan.
 Information Transmission. Informasi tentang cara menggunakan transportasi, daur ulang, atau
membuang paket produk yang sering terdapat pada kemasan atau label.
 Reducing Theft. Kemasan yang tidak dapat ditutup kembali atau akan rusak secara fisik
(menunjukkan tanda-tanda pembukaan) sangat membantu dalam pencegahan pencurian. Paket juga
termasuk memberikan kesempatan sebagai perangkat anti-pencurian.
 Convenience. Fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan,
pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
Kemasan yang kami gunakan adalah kemasan botol plastik. Kelebihan : Sifat permeabilitas gas dan uap
air bahan kemasan plastik rendah sehingga menyebabkan masa simpan produk lebih lama.
III.5 Dasar Pemilihan Metode
(Uraikan pendapat anda berdasarkan minimal satu pustaka textbook)
Metode yang digunakan
IV.2 Uraian sifat fisika-kima bahan aktif
Nama resmi : SODIUM LAURYL ETHER RB:
SULFATE
Nama lain : Sodium Lauryl Sulfat
RM :
BM :
Pemerian : Warna : kuning
Rasa : berasa pahit
Bau : bau zat, yang samar
Bentuk : kristal putih atau
krimkuning yang memiliki tektur halus
Kelarutan : Dalam air : mudah larut dalam air dingin maupun air panas
Dalam pelarut lain : -

pKa dan pH larutan :


Titik lebur :
Polimorfisme :
Informasi tambahan : Sebagai surfaktan
Uraian stabilitas
Stabilitas : Suhu :
Cahaya :
pH :
Air :
Lainnya :

Inkompatibiltas : Gugusfungsi :
Ionlogam

Senyawa tertentu:
Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
IV.3. Sodium Laureth Sulfate
Nama resmi : NATRIUM LAURET SULFAT
Nama lain : Nat.Lauril eter sulfat
RM : CH3(CH2)10CH2(0CH2CH2)nOSO3Na
BM :
Pemerian :
Kelarutan :
pKa dan pH larutan :
Titik lebur :
Polimorfisme :
Informasi tambahan : Sebagai surfaktan
Uraian stabilitas
Stabilitas : Suhu :
Cahaya :
pH :
Air :
Lainnya :
Inkompatibiltas : Gugus fungsi :
Ionlogam :
Senyawa tertentu :

Saran penyimpanan :

V. Informasi Bahan Tambahan (Sifat fisika-kima dan stabilitas)


1. Glycol Distearate
Nama resmi : GLYCOL DISTEARATE RB:
Nama lain : Asam Stearat Glikol Ester
Kelas fungsional : Meningkatkan viskositas, Pelembab
Konsentrasi : 0,5-2%.
RM : C38H74O4
BM :
Pemerian : Warna : putih pudar
Rasa :
Bau : bau samar
Bentuk : serpihan

Kelarutan : Dalam air : tidak larut dalam air


Dalam pelarut lain :

pKa dan pH larutan :


Titik lebur : 60-63° C
Informasi lain :
Stabilitas :
Inkompatibilitas :
Penanganan :
Toksisitas :
Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

2. Water (Rowe, 2009)

Nama resmi : WATER RB:

Nama lain : Aqua, Aqua purificata

Kelas fungsional : Pelarut

Konsentrasi : 100%

RM : H2O

BM : 18,02

Pemerian : Warna : tidak berwarnah, jernih


Rasa : tidak memiliki rasa
Bau : tidak berbau
Bentuk : cairan
Kelarutan : Dalam air :
Dalam pelarut lain : larut dengan semua jenis larutn
pKa dan pH larutan :

Titik lebur : 0oC

Informasi lain : Titik didih 100oC

Stabilitas : Air secara kimiawi stabil di semua keadaan fisik (es, cair, dan uap
air).
Inkompatibilitas : Air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien lain yang rentan
terhadap hidrolisis (penguraian dalam adanya air atau kelembaban) di
ambien dan tinggi suhu. Air dapat bereaksi hebat dengan logam alkali
dan cepat dengan
logam alkali dan oksidanya, seperti kalsium oksida dan magnesium
oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk membentuk
hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan organik tertentu bahan
dan kalsium karbida.
Penanganan : Untuk sebagian besar aplikasi farmasi, air minum dimurnikan dengan
distilasi, pertukaran ion pengobatan, reverse osmosis (RO), atau
proses lain yang sesuai untuk menghasilkan 'air murni'.
Toksisitas : Air biasa dianggap sedikit lebih beracun setelah injeksi ke hewan
laboratorium daripada garam fisiologis larutan seperti larutan garam
biasa atau larutan Ringer. Menelan air dalam jumlah berlebihan dapat
menyebabkan air keracunan, dengan gangguan keseimbangan
elektrolit.
Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Sodium Citrate (Rowe, 2009) RB:


3.
Nama resmi : SODIUM CITRATE

Nama lain : asam sitrat trisodiumsalt; natrii citras;natrium sitrat tersier; Trisodium
sitrat.
Kelas fungsional : Penstabil PH

Konsentrasi : 0,3–2,0%

RM : C6H5Na3O7 2H2O

BM :

Pemerian : Natrium sitrat dihidrat terdiri dari kristal monoklinik yang tidak
berbau, tidak berwarna, atau bubuk kristal putih dengan rasa asin
yang dingin, sedikit meleleh di udara lembab, dan di udara kering
yang hangat itu berkilau.
Kelarutan :
\
pKa dan pH larutan : 7,5–8,5

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas : Sodium citrate dihydrate adalah bahan yang stabil. Larutan berair
dapat disterilkan dengan autoklaf.
Inkompatibilitas : Larutan berair sedikit basa dan akan bereaksi dengan zat asam. Garam
alkaloid dapat diendapkan dari larutan encer atau hidro-alkoholnya.
Garam kalsium dan strontium akan menyebabkan pengendapan sitrat
yang sesuai. Inkompatibilitas lainnya termasuk basa, zat pereduksi,
dan zat pengoksidasi.
Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

4. Panthenol (Sweetman. 2009)

Nama resmi : PANTHENOL

Nama lain : Pentanol, Penthanolum, Penthanylalkohol, Pantothenylalkohol, di-


panthenol.
Kelas fungsional : Mempertahankan kelembaban

Konsentrasi : 5%
RM : C9H19NO4

BM : 205,3

Pemerian : Bubuk kristal putih hingga krem,

Kelarutan : Larut dalam air, alkohol, propilenglikol, larut kloroform, éter, larut
dalam gliserin.
pKa dan pH larutan : 6-7

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas : Cukup stabil di udara dan cahaya, higroskopis, ph 7 stabil

Inkompatibilitas : Golongan resusinol terjadi perubahan warna

Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

5. Tetrasodium EDTA (Rowe et al., 2009)

Nama resmi : MONOGRAFI NA-EDTA

Nama lain : Edetate sodium, edetic acid tetrasodium salt; EDTA tetrasodium,
ethylenediaminetetraacetic acid tetrasodium salt,
Kelas fungsional : Cellating agent

Konsentrasi : 0,01-0,1%.

RM : C10H12N2Na4O8

BM : 380,20

Pemerian : Serbuk kristal putih.

Kelarutan : larut dalam air.

pKa dan pH larutan : 11,3 dalam 1% w/v dalam air

Titik lebur : > 300oC

Informasi lain : Na EDTA digunakan sebagai Chellating agent dan juga sebagai
pengawet anti mikroba. Pada sediaan topikal, Na EDTA digunakan
sebagai chellating agent dengan kadar 0,01-0,1%.
Stabilitas :

Inkompatibilitas : Dengan agen pengoksidasi kuat, basa kuat, dan


logam polivalen.
Penanganan :

Toksisitas :
Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

6. Sodium Benzoat (Rowe, 2009)

Nama resmi : NATRII BENZOAT

Nama lain : Sodium benzoat, benzoat fo soda, sodium benzoat acid

Kelas fungsional : Pengawet

Konsentrasi : 0,1-05 %

RM : C7H5NaO2

BM :

Pemerian : butiran putih atau kristal, bubuk sedikit higroskopis. Tidak berbau,
atau dengan sedikit bau kemenyan dan memiliki rasa manis dan asin
yang tidak sedap.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih.
Mudah larut dalam etanol 90%.
pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain : Sodium benzoate memiliki sifat bakteriostatik dan antijamur yang
dikaitkan dengan asam benzoat tak terdisosiasi; karenanya khasiat
pengawet paling baik dilihat dalam larutan asam (pH 2-5). Dalam
kondisi basa hampir tanpa efek.
Stabilitas : Larutan yang mengandung air dapat disterilkan dengan autoclaving
atau penyaringan.
Inkompatibilitas : Tidak cocok dengan senyawa kuaterner, gelatin, garam besi, garam
kalsium, dan garam logam berat, termasuk perak, timbal, dan merkuri.
Aktivitas pengawet dapat dikurangi dengan interaksi dengan kaolin
atau surfaktan nonionik.
Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik, di tempat yang sejuk dan kering.

7. Cocamide DEA (Rowe,2009)

Nama resmi : COCAMIDE DEA

Nama lain : Coco asam lemak Diethanolamide(CDEA)

Kelas fungsional : Pembentuk busa, surfaktan

Konsentrasi :

RM :

BM :
Pemerian : cairan kental dengan bau agak amoniak

Kelarutan : larut dalam etanol (95%), air, dan pelarut yang paling umum seperti
aseton, benzene, kloroform, gliserin, dan etanol
pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas :

Inkompatibilitas :

Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan :

8. Sodium xylene sulfonate

Nama resmi : SODIUM XYLENE SULFONATE

Nama lain : Sodium dimethylbenzene sulfonate

Kelas fungsional : Pembentuk busa

Konsentrasi :

RM : CaHoNaS

BM :

Pemerian :

Kelarutan :

pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas :

Inkompatibilitas :

Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan :
9. Dimetikon

Nama resmi : DIMETIKON

Nama lain : ABIL; dimethylpolysiloxane; dimethylsilicone fluid; dimethylsiloxane;


dimeticonum; Dow Corning Q7-9120; E900; methyl polysiloxane; poly
(dimethylsiloxane).
Kelas fungsional : Pelembab

Konsentrasi : 0.5–5.0%

RM :

BM :

Pemerian : Dimethicones adalah cairan bening dan tidak berwarna yang tersedia
dalam berbagai viskositas.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan etil asetat, metil etil keton, minyak mineral,
eter, kloroform, dan toluena; larut dalam isopropil miristat; sangat
sedikit larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam gliserin,
propilen glikol, dan air.
pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas : Stabil terhadap panas dan tahan terhadap sebagian besar zat kimia
meskipun dipengaruhi oleh asam kuat.
Inkompatibilitas :

Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara di tempat yang sejuk dan kering.

10. Menthol (Dirjen POM,1979; Excipient, 2009)

Nama resmi : MENTHOL

Nama lain : Mentol, mentolum recemicum

Kelas fungsional : Pengaroma, Pemberi rasa segar

Konsentrasi : 0,003 %

RM : C10H20O

BM : 156,27

Pemerian : Warna : -
Rasa : panas dan aromatic diiukuti rasa dingin
Bau : bau tajam
Bentuk : hablur berbentuk jarum prisma
Kelarutan : Dalam air : sukar larut dalam air
Dalam pelarut lain : sangat mudah larut dalam etanol (95%)p dalam
kloroform dan dalam eter, mudah larut dalam parafin cair dan dalam
minyak atsiri.
pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas : Mentol harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada suhu 25 oC
karena mudah tersublimasi.
Inkompatibilitas : Mentol tidak kompatibel dengan hydrate butyl chloral, champer
kloral hidrat, -naphtol fenol, kalium permanganate, pirogalol,
resolsinal dan timol.
Penanganan : Amati tindakan pencegahan normal yang sesuai dengan keadaan dan
jumlah bahan yang ditangani.
Toksisitas :

Saran penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan ditempat sejuk.

11. Guar hidroksipropil trimonium choride

Nama resmi : GUAR HIDROKSIPROPIL TRIMONIUM CHORIDE

Nama lain : Cationic guar

Kelas fungsional : Agen pengkondisi, pembersih

Konsentrasi : 0,2

RM :

BM :

Pemerian :

Kelarutan :

pKa dan pH larutan :

Titik lebur :

Informasi lain :

Stabilitas :

Inkompatibilitas :

Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan :

12. Citric Acid (Rowe, 2009)

Nama resmi : CITRIC ACID MONOHIDRATE


Nama lain : Asam sitrat anhidrat; asam fumarat; asam malat; natrium sitrat dihidrat; asam
tartarat. Asam sitrat anhidrat
Kelas fungsional : Mengatur pH

Konsentrasi : 1,0-2,0%

RM : C6H8O7.H2O

BM : 210,14

Pemerian : Kristal tidak berwarna atau tembus cahaya, atau sebagai bubuk kristal putih
yang berkilau. Ini tidak berbau dan memiliki rasa asam yang kuat.
Kelarutan : Larut 1 dalam 1 bagian etanol (95%) dan 1 dalam 1 dari air; larut dalam eter.

pKa dan pH larutan : pH 2,2

Titik lebur : 153oC

Informasi lain :

Stabilitas : Asam sitrat monohidrat kehilangan air kristalisasi di udara kering atau saat
dipanaskan hingga sekitar 40oC. Sedikit meleleh di udara lembab. Larutan
encer asam sitrat dapat berfermentasi saat berdiri.
Inkompatibilitas : Asam sitrat tidak kompatibel dengan kalium tartrat, alkali dan alkali tanah
karbonat dan bikarbonat, asetat, dan sulfida. Inkompatibilitas juga termasuk
zat pengoksidasi, basa, zat pereduksi, dan nitrat. Ini berpotensi meledak jika
dikombinasikan dengan logam nitrat. Pada penyimpanan, sukrosa dapat
mengkristal dari sirup dengan adanya asam sitrat.
Penanganan :

Toksisitas :

Saran penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara di tempat yang sejuk dan kering.

13. Trisodium Ethylenediamine Disuccinate (Rowe, 2009)

Nama resmi : EDETIC ACID

Nama lain : Acidum edeticum; Larutkan; edathamil; EDTA ethylenediamine- asam


tetraacetic; (ethylenedinitrilo) asam tetraasetat; Sequestrene AA; asam
tetrakemik; Asam Versene.
Kelas fungsional : Antioksidan

Konsentrasi : 0,005-0,1%

RM : C10H16N2O8

BM : 292.24

Pemerian : Asam edetik terjadi sebagai bubuk kristal putih.

Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida; larut 1 in 500 air.

pKa dan pH larutan : pH 2,2

Titik lebur : 220oC


Informasi lain :

Stabilitas : cukup stabil dalam keadaan padat, garam edetat lebih stabil daripada asam
bebas, yang dekarboksilat jika dipanaskan di atas 150 OC. Disodium edetate
dihydrate kehilangan air kristalisasi jika dipanaskan sampai 120 OC. Disodium
kalsium edetat agak higroskopis dan harus dilindungi dari kelembaban.
Inkompatibilitas : tidak cocok dengan oksidator kuat, basa kuat, dan ion logam polivalen seperti
tembaga, nikel, dan paduan tembaga. Asam edetik dan disodium edetat
berperilaku sebagai asam lemah, menggantikan karbon dioksida dari karbonat
dan bereaksi dengan logam untuk membentuk hidrogen. Inkompatibilitas
lainnya termasuk inaktivasi jenis insulin tertentu karena kelasi seng, dan
kelasi logam dalam larutan nutrisi parenteral total (TPN) setelah penambahan
aditif TPN yang distabilkan dengan disodium edetate. Calciumdisodium
edetate juga telah dilaporkan tidak sesuai dengan amfoterisin dan dengan
hydralazine hydrochloride dalam cairan infus.
Penanganan :

Toksisitas : Asam edetik umumnya dianggap sebagai bahan yang pada dasarnya tidak
beracun dan tidak iritan.
Saran penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering.
No. Tahap Parameter Kritis Pengujian

VI. Peralatan, Parameter Kritis dan Spesifikasi Produk Jadi


VI.1 Peralatan
No. ID Alat Nama Alat/Merek Jumlah No.SOP

Tuliskan peralatan yang direncanakan untuk digunakan pada tabel berikut

VI.2 Parameter Kritis


Tentukan parameter kritis dan pengujiannya

VI.3. Rancangan Spesifikasi Sediaan


No. Kriteria Spesifikasi
1. Organoleptis
2. pH
3. Viskositas
4. Kemampuan dan stabilitas busa
5. Pengukuran tinggi busa
6. Pengukuran tegangan permukaan
7. Uji iritasi terhadap mata
Tentukan spesifikasi produk akhir (dan produk ruahan)
VIII. Perhitungan batch trial, produksi, dan perhitungan lain

10
Sodium lauryl sulfate 10% = ×160=6 g
100
30
Sodium laureth sulfate 30% = ×160=48 g
100
5
Cocamidopropyl Betaine 5% = ×160=8 g
100
0,5
Glycol distearate 0,5% = ×160=0,8 g
100
1,0
Citric acid 1,0 = ×160=0,6 g
100
0,3
Sodium citrate 0,3% = ×160=0,48 g
100
8
Cocamide DEA 8% = ×160=12,8 g
100
10
Sodium Xylenesulfanate 10% = ×160=16 g
100
0,5
Dimethicone 0,5% = ×160=0,8 g
100
0,2
Guar hydroxypropiltrimonium chloride 0,2% = ×160=0,32 g
100
0,1
Sodium benzoate 0,1% = ×160=0,16 g
100
0,1
Tetrasodium EDTA 0,1% = ×160=0,16 g
100
0,005
Trisodium Ethylenediamine Disuccinate 0,005% = ×160=0,008 g
100
5
Panthenol 5 % = ×160=8 g
100
0,003
Menthol 0,003% = ×160=0,0048 g
100
0,0015
Methylchloroisothiazolinone 0,0015% = ×160=0,0024 g
100
0,01
Methylsothiazolinone 0,01% = ×160=0,016 g
100
Water = 160 – (6 + 48 + 8 + 0,8 + 0,6 + 0,48 + 12,8 + 16 + 0,8 + 0,32 + 0,16 + 0,16 + 0,008 + 8 + 0,0048 + 0,0024 +
0,016) = 250,1512 ml

IX. Rancangan proses produksi


(uraikan langkah kerja pada tiap tahapan)
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Distimbang bahan sesuai dengan perhitungan bahan
3. Ditambahkan natrium lauril sulfat, Sodium laureth sulfat , dimetikon kedalam air panas aduk ad homogen
4. Ditambbahkan cocoamide ad homogen
5. Ditambahkan Nacl dan asam sitrat diaduk ad homogen
6. Ditambhan pewarna
7. Ditambahkan parfum kedalam campuran tadi setelah air panas dinginaduk hinga homogen
8. Dimasukan semua bahan kedalam botol kemasan
9. Diberikan etiket dan brosur.
X Referensi

Melian, Elsa. 2018. Formulasi Kaolin Facial Wash Dengan Variasi Konsentrasi Sodium Laurileter Sulfat (SLES) dan Uji Daya
Bersihnya Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat (Propionibacterium acnes). Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah; Jakarta.

Pramasanti, Tri, A. 2011. Pengaruh Penggunaan Pengental Natrium Klorida dan Surfaktan Cocoamidopropyl Betaine Terhadap
Viskositas dan Ketahanan Busa Sabun Cair Transparan Aplikasi Desain Faktorial. Skripsi. Universitas Sanata Dharma;
Yogyakarta.

Prasetyaningtyas, C., dan Ikhsanudin, A. 20111. Pengaruh Penambahan Konsentrasi Natrium Lauril Sulfat Sebagai Emulgator
Dalam Basis Cold Cream Repelan Minyak Atsiri Daun Sere Terhadap Nyamuk Aedes aegypti Betina Serta Uji Sifat
Fisiknya. Universitas Ahmad Dahlan, ISBN: 978-979-18458-4-7.

Rowe, C. R., Sheskey, P. J., dan Quinn, M. E. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. Pharmaceutical Press
and American Pharmacists Association; Washington DC.

Sihendra. 2010. Pengaruh Peningkatan Konsentrasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (CMC-Na) Sebagai Bahan Pengental
Terhadap Viskositas dan Ketahanan Busa Pada Sediaan Shampo. Skripsi. Universitas Sanata Dharma; Yogyakarta.

DEPKES. Farmakope Indonesia Edisi IV. 1995.

Faizatun D. Formulasi Sediaan ShampoEkstrak Bunga Chamomile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagai Pengental.
2008;6(1):49–56.

Niazi, S.K., 2009. Handbook of Pharmaceutical manufacturing formulations. Informa healthcare USA; New York.

Sane, P.V., and M.M. Sharma, Effect of Hydrotropes on Canizaro Reactions, Synth. Commun. 17:1331 (1987).

Wenninger, J. A., and G. N. McEwen, Jr., eds. 1997. International cosmetic ingredient dictionary and handbook, 7th Ed., vol.
1, 234. Washington, DC: Cosmetic, Toiletry, and Fragrance Association (CTFA).

Nikitakis, J. M., and G. N. McEwen, Jr., eds. 1990. CTFA compendium of cosmetic ingredient composition-Description I.
Washington, DC: CTFA.

Chemline. 1995. Chemical Tradenames. Chemline database. Bethesda: National Library of Medicine.
DESAIN KEMASAN

Menyetujui Dibuat Oleh


Asisten Praktikan
Transfer A 019
Kemasan Primer
Kelompok 1 (Satu)

Nama Produk Beauty


Nomor Registrasi Formula NA 18200400001
Bahan Kemasan Compacts