Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN KOSMETIK


“SAMPO”

OLEH :
Kelompok 5
TRANSFERB 2019

LABORATORIUM FARMASETIKA
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR
MAKASSAR
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rambut adalah mahkota bagi setiap orang khususnya wanita. Selain
berfungsi untuk menunjang penampilan dan menambah kecantikan,
rambut juga berfungsi sebagai penghangat dan pelindung kepala dan kulit
kepala (Rostamailis dkk., 2009). Rambut yang sehat tentunya menjadi
idaman bagi setiap orang. Ciri-ciri rambut yang sehat adalah tebal, kuat,
berkilau, dan mudah diatur (Rostamailis dkk., 2009). Pengaruh dari cuaca,
ekskresi kelenjar sebaceous, debu atau kotoran, bahan-bahan kimia, dan
panas dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah pada rambut.
Masalah-masalah rambut tersebut adalah rambut berminyak, rambut
kering, rambut bercabang, rambut kusam dan kasar. Kondisi rambut yang
parah ditandai dengan kekasaran dan kekeringan rambut (Mottram, 2000).
Shampoo merupakan kosmetika pembersih, yaitu berguna untuk
membersihkan kulit kepala dan rambut dari berbagai kotoran yang
melekat. Kotoran terjadi karena adanya lemak, minyak dan keringat di kulit
kepala dan rambut yang berasal dari kelenjar palit. Penggunaan
kosmetika dekorasi rambut, dan debu dari udara juga menyebabkan
rambut menjadi kotor. Dalam pengertian ilmiahnya shampo didefinisikan
sebagai sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok
dan berguna untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada
rambut dan kulit kepala agar tidak membahayakan rambut, kulit kepala,
dan kesehatan si pemakai. Shampo pada umumnya digunakan dengan
mencampurkannya dengan air dengan tujuan untuk melarutkan minyak
alami yang dikeluarkan oleh tubuh untuk melindungi rambut dan
membersihkan kotoran yang melekat. Namun tidak semua shampo
berupa cairan atau digunakan dengan campuran air, ada juga shampo
kering berupa serbuk yang tidak menggunakan air. Shampo kering ini
selain digunakan oleh manusia, lebih umum digunakan untuk binatang
peliharaan seperti kucing yang tidak menyukai bersentuhan dengan
air ataupun anjing. Formulasi untuk shampo harus mengandung bahan
bahan yang berfungsi sebagai surfaktan, foaming agent dan stabilizer,
opacifier, hydrotopes, viscosity modifier, dan pengawet. Bahan-bahan
dalam shampoo harus aman dan mudah terdegradasi sebagaimana
kosmetik perawatan tubuh lain. Setiap bahan harus memilki fungsi dan
peran yang spesifik (Mottram, 2000)
I.2.1 Maksud percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini yaitu dapat mengetahui cara
memformulasi, dan cara mengevaluasi beberapa sediaan sampo yang
beredar di pasaran.
I.2.2 Tujuan percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu
1. Untuk mengetahui cara memformulasi sediaan sampo
2. Untuk mengetahui cara mengevaluasi beberapa sediaan sampo
yang beredas di pasaran
I.3 Prinsip
Adapun prinsip percobaan yang digunakan pada praktikum ini yaitu
membuat formulasi sampo, kemudian diambil beberapa sampel sampo
yang beredar dipasaran dilakukan evaluasi sedian yaitu uji pH, uji
viskosistas dan uji tinggi busa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum


II.1.1 Rambut
II.1.1.1 Uraian Rambut
Rambut merupakan pelengkap dari kulit selain kuku, kelenjar
minyak dan kelenjar keringat yang memberikan kehangatan, perlindungan
dan keindahan.Rambut juga terdapat diseluruh tubuh kecuali telapak
tangan, telapak kaki, dan bibir. Kegunaan rambur sebagai pelindung yaitu
melindungi terhadap bermacam-macam rangsang fisik, mekanis maupun
khemis dan juga sebagai mahkota perhiasan bagi kepala (Yuni,2019).
II.1.1.2 Anatomi Rambut
1. Akar rambut Akar rambut adalah bagian yang tertanam didalam kulit,
beberapa susunan dari akar rambut adalah sebagai berikut:
a. Folikel rambut Folikel atau kantong rambut terdiri dari dua lapis,
lapisan dalamnya terdiri dari sel-sel epidermis. Dan lapisan luarnya
berasal dari sel-sel dermis. Folikel rambut bentuknya menyerupai
silinder pipa. Kalau folikel bentuknya lurus, rambutnya juga lurus,
kalau agak melengkung, rambutnya berombak. Kalau folikel
melengkung sekali, rambutnya keriting.
b. Papil rambut Bagian terbawah dari rambut disebut papil. Papil
rambut berasal dari selsel kulit jangat maupun kulit ari. Di antara
papil juga terdapat melanosit yang akan disebarkan oleh cortex dan
medulla. Di dalam papil rambut terdapat pembuluh darah getah
bening papil rambut yang akan memberi makanan kepada rambut,
lalu ada serabut saraf dalam papil rambut yang akan mempersarapi
folikel rambut.
c. Matriks Matriks yaitu kelompok sel yang terdapat selalu membelah
diri membentuk bagian rambut baru. Sel-se ini masi mengandung
pora-keratin(sel 10 rambut yang warnanya sudah lebih mantap,
sudah keras mengandung keratin) (Yuni,2019).
II.1.1.3 Jenis-jenis kulit kepala dan rambut
a. Kulit kepala normal dan rambut normal Kulit kepala normal
diakibatkan oleh kelenjar palit yang bekerja dengan normal.
Kelenjar tersebut dapat menghasilkan sebum atom atau minyak
untuk melumasi kulit kepala dan rambut dengan normal. Rambut
normal mempunyai daya elastisitas 20% jika diraba lembut dan
halus, bercahaya, dan mudah ditata.
b. Kulit kepala dan rambut kering Kulit kepala kering diakibatkan oleh
kelenjar palit yang kurang bekerja, sehingga kurang menghasilkan
sebum untuk melumasi kulit kepala dan rambut. Rambut kering
mempunya ciri-ciri jika kita pegang akan bersuara, penampilan
gersang dan kaku, warna pirang/kemerahan/cahaya pudar, rambut
tipis, rapuh, ujung berbelah, dan sering di tumbuhi ketombe atau
sindap.
c. Kulit Kepala Dan Rambut Berminyak Kulit kepala berminya
diseabkan oleh kelenjar palit yang berlebihan dalam menghasilkan
sebumrambut yang berminyak di tandai oleh rambut yang tumbh
lebat, tingkat elastisitasnya mencapai 40%-50%, selalu basah dan
lengket, serta sering ditumbuhi ketombe (Yuni,2019)
II.1.2Kosmetik
II.1.2.1 Pengertian Kosmetik
Kosmetik berasal dari kata yunani yakni “kosmetikos” yang berarti
keahlian dalam menghias, maka para ahli berpendapat bahwa defenisi
dari kosmetik itu pada dasarnya diseluruh dunia sama. Berdasarkan asal
katanya definisi kosmetik ini sesuai pula dengan yang diputuskan oleh
mentri kesehatan republik indonesia yakni; Kosmetika adalah bahan atau
campuran bahan untuk digosokkan, diletakkan, dituangkan, dpercikkan
atau disemprotkan , dimasukkan, dipergunakan pada bahan atau bagian
badan dengan maksud membersihkan (
II.1.2.2Tujuan dan fungsi kosmetika rambut

1. Tujuan penggunaan secara umum baik teori maupun pabrik tujuan


penggunaan kosmetika rambut adalah untuk memelihara dan
merawat kesehatan dan kecantikan kulit kepala dan rambut yang
digunakan secara teratur.

2. Fungsi kosmetik Bahan-bahan yang dikandung didalam suatu


kosmetik mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Fungsinya adalah
Emulgator yakni suatau bahan yag memungkinkan tercampurnya
lemak/minyak dengan air menjadi suatu campuran yang homogen
II.1.3Definisi Sampo
Shampo adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk maksut
mencuci rambut sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi
bersih dan sedapat mungkin menjadi lembut, mudah di atur dan berkilau.
Serta merupakan produk perawatan rambut yang digunakan untuk
menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit dan kotoran lain dari rambut
(Yulian,dkk 2018).
Shampo termasuk kosmetik pembersih.Kosmetik ini berfungsi
untuk membersihkan kulit kepala dan rambut dari berbagai kotoran yang
melekat seperti lemak, minyak, dan keringat.
II.1.3.1 Jenis-jenis Sampo
Ada beberapa jenis shampo antara lain
1. Shampo dasar Shampo yang dibuat sesuai dengan kondisi rambut
yaitu kering, normal, dan berminyak.
2. Shampo bayi Shampo yang tidak menggunakan bahan yang
mengiritasi mata yang mempunyai daya bersih sedang kulit dan
rambut bayi masih minim. Dapat dipakai oleh mereka yang ingin
bershampo setiap hari.
3. Shampo dengan pelembut Shampo dua in 1 atau bahkan tiga in 1,
dan vitamin. Shampo pelembut ditunjukkan bagi rambut yang
kering, rusak atau sedang diobati.
4. Shampo propesional, shampo yang mempunyai konsentrsi bahan
aktif lebih tinggi sehingga harus diencerkan sebelum pemakaian.
5. Shampo medik Shampo yang mengandung anti ketombe sulfur, tar,
asam salisilat, sulfeide voliviline olidone, iodum, sendan prition.
II.1.3.2Komponen Pembuatan Sampo
1. Surfaktan adalah bahan aktif dalam shampo, berupa detergen
pembersih sintesis dan cocok untuk kondisi rambut pemakai.
Detergen bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan
cairan karna bersifat ambifilik, sehingga dapat melarutkan kotoran
yang melekat pada permukaan rambut.
2. Pelembut membuat rambut mudah disisir dan diatur oleh karena
dapat menurunkan friksi antara rambut, menkilapkan rambut dan
memperbaiki keadaan rambut yang rusak akibat oversshampoed,
overdried, overbrushed, overcomded, keriting, pewarna pemutih,
atau steiling yang menyebabkan kerusakan pada rambut.
3. Pembentuk busa Dalam shampo pembentuk busa adalah bahan
surfaktan yang masingmasing berbeda daya pembuat busanya.
Busa yang terbentuk lajim diberi 16 penguat yang menstabilkan
busa akar lebih lama terjadi, misalnya dengan menambahkan Deal,
alkanolamid, atau aminoksida.
4. Pemisah logam Pemisah logam dibutuhkan keberadaannya untuk
mengikat logam berat, yang terdapat dalam air pencuci rambut.
5. Warna dan bau Bahan yang ditambahkan kenyamanan bagi
pemakai, seperti penambahan parfum.
6. Pengawet Larutan atau bahan dari pemilihan pengawet yang tepat
dari daftar yang mungkin termasuk pormaldehid, propil, metil, butyl,
hidkrooksibenzoad, penil merkuri asetat.
7. pH balance Bahan yang ditambahkan untuk menetralisasi basa
yang terjadi dalam penyampoan, misalnya asam sitrat (Yuni,2019).
II.1.3.3Bahan atau Komponen Shampo yang umum Digunakan

1. Sodium Lauryl Sulfat

Digunakan sebagai detergen atau surfaktan, natriun laurin sulfat


merupakan jenis surfaktan anionik detergen jenis ini paling sering
digunakan dalam pembuatan shampo karena harganya murah dan
daya pembersihnya kuat.

2. Na-CMC

Digunakan sebagai bahan pngental dalam pembuatan shampo,


Na-CMC merupakan zat dengan warna putih atau sedikit
kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa, bentuk granula halus
atau bubuk.

3. Dinatrium EDTA

Digunakan untuk menghelat logam-logam yang terdapat dalam air


atau bahan-bahan yang dapat mencegah aktivitas surfaktan.

4. Nipagin
Nipagin merupakan salah satu pengawet yang digunakan untuk
mencegah jamur dan ragi, nipagin sering kali digunakan untuk
pengawet kosmetik, nipagin merupakan zat berbentuk serbuk putih
hampir tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.

5. Asam sitrat

Asam sitrat merupakan asam ortanik lemah digunakan untuk


menyeimbangkan pH agar dapat menetralisir reaksi basa yang
terjadi pada penyampoan,pH shampo yang baik antara 5-9.

6. Aquades

Aquades adalah air yang dimurnikan yang diperoleh destilasi,


perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses
lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air
minum. Pemerian: Cairan jernih, tidak mengandung zat tambahan
lain, tidak berwarna dan tidak berbau.

7. Parfum

parfum merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk


memberikan aroma pada sediaan shampo. Tujuan agar shampo
tidak berbau dan menarik konsumen (Yuni,2019)
II.1.2 Kelebihan dan Kekurangan Sampo
II.1.2.1 Kelebihan Sampo
1. Shampoo adalah sediaan kosmetik dalam bentuk cair, gel, emulsi,
ataupun aerosol yang mengandung surfaktan sehingga memiliki
memiliki kelebihan dan sifat detergensi, humektan, dan menghasilkan
busa (foaming) (Fonseca, 2005).
2. Shampoo harus memiliki kelebihan kemampuan untuk membersihkan
kotoran dari rambut dan kulit kepala tanpa menghilangkan terlalu
banyak sebum (Mitsui, 1997).
3. Selain berguna untuk menghilangkan kotoran, shampoo juga memiliki
kelebihan membuat rambut tetap berkilau dan mudah diatur (Young,
1972).
II.1.2.2 Kekurangan Sampo ((Fonseca, 2005).
1. JIka terlalu atau sering di gunakan maka sampo dapat mebuat kulit
kepala menjadi kering Karena kandungan dalam sampo dapat
membuat hal tersebut terjadi.
2. Perih jika terkena mata.
II.1.4. Pengemasan Dan Penyimpanan
Semua sampo harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang
mempunyai ruangan udara yang memadai di atas cairan sehingga mudah
dituang (Ansel, 2008)
II.2. PenomoranRegistrasiDan Batch
PENGERTIAN NO. REGISTRASI (PERMENKES RI NO.
920/MENKES/PER / X/1995, TENTANG PENDAFTARAN OBAT JADI
IMPOR)
1  2  3  4  5  6  7  8  9  1o  11  12  13  14  15
Keterangan :
1. Kotak nomor 1 membedakan nama obat jadi
D : Nama dagang
G : Nama generik
2. Kotak nomor 2 menggolongkan golongan obat
N : Golongan obat narkotik
P : Golongan obat psikotropika
T : Golongan obat bebas terbatas
B : Golongan obat bebas
K : Golongan obat keras
3. Kotak nomor 3 membedakan jenis produksi
I : Obat jadi impor
E : Obat jadi keperluan ekspor
L : Obat jadi produksi dalam negeri/lokal
X : Obat jadi untuk keperluan khusus
4. Kotak nomor 4 dan 5 membedakan periode pendaftaran obat jadi 72 :
obat jadi yang telah disetujui pendaftarannya periode 1972-1974 dan
seterusnya
5. Kotak nomor 6, 7 dan 8 menujukkan nomor urut pabrik
6. Kotak nomor 9, 10 dan 11 menunjukkan nomor urut obat jadi yang
disetujui untuk masing-masing pabrik
7. Kotak nomor 12 dan 13 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi.
Macam-macam sediaan yang ada, yaitu :
12 : Tablet hisap
37 : Sirup
24 : Bedak/talk
62 : Inhalasi
33 : Suspensi
30 : Salep
29 : Krim
10 : Tablet
01 : Kapsul
46 : Collyria
36 : Drops
8. Kotak nomor 14 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi
A : Menunjukkan kekuatan obat yang pertama disetujui
B : Menunjukkan kekuatan obat yang kedua disetujui
C : Menunjukkan kekuatan obat yang ketiga disetujui
9. Kotak nomor 15 menunjukkan kemasan yang berbeda untuk tiap nama,
kekuatan dan bentuk sediaan obat jadi.
“1” : menunjukkan kemasan yang pertama
“2” : menunjukkan beda kemasan yang pertama
“3” : menunjukkan beda kemasan.
II.2.1Cara Penomoran Bets
Menurut parmenkes RI No. 920/MENKES/PER/X/1995 tentang
pendaftaran obat jadi impor
1. Digit 1 : Untuk produk (tahun)
1990 : 0
1991 : 1
2. Digit 2 dan 3 : Kode produk dari produk ruahan
01 : Klorampenikol salep mata
02 : Sulfacetamid salep mata
3. Digit 4, 5 dan 6 : Urutan produk 001, 002, ... 999 dan kembali 001
misalnya 302025
Produk obat jadi
Digit 2-6 pada produk ruahan
Digit 1 untuk pengemasan
1990 : A
1991 : B
Contoh : D023020225
II.3 Uraian Bahan Sampo (Pantene)

URAIAN BAHAN
1. Sodium lauryl sulfate (Rowe C,dkk. 2009 Hal; 651)

Namaresmi : Sodium laurylsulfate


Namalain :Dodecyl alcohol hidrogen sulfat, garam
natrium;dodesil natrium sulfat; garam
natrium dodesilsulfat; Elfan 240; lauryl
natrium sulfat; lauryl sulfate, garam
natrium; monododecyl sodium sulfate;
natrii laurilsulfas; sodium dodesil sulfat;
natrium n-dodesil sulfat; natrium
laurilsulfat; natrium monododesil sulfat;
natrium monolaurilsulfat
Kelasfungsional :surfaktan
Konsentrasi : ≈10
Pemerian : kristal berwarna putih atau krem
hingga kuning pucat, serpihan, atau
bubuk yang terasa halus, terasa seperti
sabun, pahit, dan bau samar
zatberlemak.
Kelarutan : Larut bebas dalam air, memberikan
larutan opalescent; praktis tidak larut
dalam kloroform daneter
RM :C12H25NaO4S
BM :288.38

titiklebur :2040C

pKa dan pH larutan : pH 7.09.5


Informasilain : Larutan natrium lauril sulfat (pH 9,5-
10,0) bersifat korosif ringan pada baja
ringan, tembaga, kuningan, perunggu,
dan aluminium. Reaksi yang merugikan
terhadap natrium lauril sulfat dalam
kosmetik dan formulasi farmasi
terutama berkaitan dengan laporan
iritasi pada kulit (3,5–7) ataumata
(8) setelah aplikasi topikal. Sodium lauryl
sulfate tidak boleh digunakan dalam sediaan
intravena untuk manusia. Dosis oral yang
mungkin mematikan bagi manusia adalah
0,5–5,0g / kg berat badan

Stabilitas :Sodium lauryl sulfate stabil dalam kondisi


penyimpanan normal. Namun, dalam
larutan, dalam kondisi ekstrim, yaitu pH 2,5
atau lebih rendah, ia mengalami hidrolisis
menjadi lauril alkohol dan natriumbisulfat
Inkompatibiltas :Sodium lauryl sulfate bereaksi dengan
surfaktan kationik, menyebabkan hilangnya
aktivitas bahkan dalam konsentrasi yang
terlalu rendah untuk
menyebabkanpengendapan.
Toksisitas : cukup toksik dengan efek toksik akut
termasuk iritasi pada kulit, mata, selaput
lendir, saluran pernapasan bagian atas, dan
perut. Pemaparan larutan encer yang
berulang dan dalam waktu lama dapat
menyebabkan kulit kering dan pecah-pecah;
dapat terjadi dermatitiskontak
Penanganan : Penghirupan dan kontak dengan kulit dan
mata harus dihindari; pelindung mata,
sarung tangan, dan pakaian pelindung
lainnya, tergantung pada keadaan,
direkomendasikan. Ventilasi yang memadai
harus disediakan atau respirator debu harus
dipakai. Paparan yang berkepanjangan atau
berulang harus dihindari. Sodiumlauryl
sulfate mengeluarkan asap beracun
saatpembakaran
Saran penyimpanan : harus disimpan dalam wadah tertutup baik
dari oksidator kuat di tempat yang sejuk
dankering.
2. Sodium laurethsulfate
Namaresmi : Sodium lauryl Ethersulfate
Namalain : Lauryl ether sulfate, Sodium salt; Sodium
Alkyl Ethoxy Sulphate;Sulphated
Kelasfungsional :surf
aktan anionic
Konsentrasi :--
Pemerian : Pasta kental berwarna putih atau kuning
cerah; tidak berbau; Kelarutan : hampir tidak larut dalam air,
praktis larutdalam aseton,
praktis larut dalam etanol
RM :C12H26Na2O5S
BM :328,38

titiklebur : 0oC,32oF
pH : PH 7,5 –8,5
Informasilain : Suhu penguraian tidak
ditentukan.Penguraian pada suhu
panas dapat menimbulkan asap, karbon
monoksida, karbondioksida, aldehida dan
produk lainnya dari pembakaran yang tidak
sempurna. Zat yang mengiritasi dan
beracun dikeluarkan setelah pembakaran,
saat pembakaran, atau pada penguraian
padatankering
Stabilitas : Stabil pada suhu dan tekanan
yang cukuptinggi Inkompatibiltas : Asam dan
oksidator kuat, basakuat
Toksisitas : LCD50 oral pada tikus > 2.000 mg/kg.
Toksisitas kulit pada kelinci LD50 yaitu >
2.000 mg/kg. Toksisitas akut pada ikan air
tawar LC50 yaitu 110 mg/L; pada
invertebrata ait tawar EC50 yaitu 1-10 mg/L;
dan pada alga LC50 yaitu 10-100mg/L
Penanganan :Kenakan kacamata pengaman/pelindung
mata yang direkomendasikan untuk
mencegah kontakmata
Saran penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik
3. Sodium Chloride (Rowe C,dkk.
2009 Hal;637) Namaresmi :
SodiumChloride
Namalain : Alberger; klorure de natrium; garam biasa;
garam hopper; natrii chloridum; halit alami;
garam kasar; garam; garam; garam laut;
garamdapur
Kelasfungsional :
Konsentrasi :
Pemerian : bubuk kristal berwarna putih atau tidak
berwarna;rasanya
asin
Kelarutan : larut dalam 2.8 bagian air, dalam 2,7 bagian
air mendidih dan dalam lebih kurang 10
bagian gliserol P, sukar larut dalam
etanol(95%).
RM :NaCl
BM :58.44

Titik lebur :8040C


Informasilain : Dapat digunakan untuk mengontrol ukuran
misel dan untuk mengatur viskositas
dispersi polimer dengan mengubah
karakterioniksuatuformulasi.Jikadipanaskan
hinggasuhu

tinggi, natrium klorida menghasilkan uap


yang mengiritasi mata.
Stabilitas : stabil terhadappanas
Inkompatibiltas : Larutan natrium klorida encer bersifat
korosif terhadap besi, juga bereaksi
membentuk endapan dengan perak, timbal,
dan garammerkuri.
Toksisitas : Sebagai eksipien, natrium klorida dapat
dianggap sebagai suatu bahan esensial,
tidak beracun dan tidakiritan
Penanganan :--
Saran penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup dengan baik,
di tempat yang sejuk dankering
4. Cocamidopropyl Betaine (pubChem,2020)
Namaresmi : CocamidopropylBetaine
Namalain :Amfoterik L, Lauroylamide propilbetaine,
Amphitol 20AB,Obazoline CAB, Anpholex
LB2, coco amido betaine, Mirataine
CB,Empigen BR,LexaineLM
Kelasfungsional :
surfaktan amfetorik
Konsentrasi :--
Pemerian : bentukcair
Kelarutan :--
RM :C19H38N2O3
BM : 342,5G/mol
titiklebur :--
Informasilain :
Stabilitas :--
Inkompatibiltas :--
Toksisitas :--
Penanganan :--
Saranpenyimpanan :-
5. Glycol Distearat (Rowe C, dkk. 2009 Hal. 267
dan Pubchem 2020) Namaresmi : Ethylene
GlycolStearates
Namalain : Ethylene glycoli monopalmitostearas; Glikol
distearat;etilen
distearat; etilen stearat
Kelasfungsional : emmolient; zat pengemulsi; agenpenstabil
Konsentrasi :--
Pemerian : Etilen glikol stearat berbentuk lilin
putih atau hampir putih,padat
Kelarutan : Larut dalam aseton dan etanol panas (95%);
praktis tidaklarut
dalam air
RM :--
BM : 595g/mol

titiklebur :54-600C
Informasilain :--
Stabilitas : tidak stabil terhadapcahaya
Inkompatibiltas :--
Toksisitas : Etilen glikol stearat terutama digunakan
dalam kosmetikdan
topikal formulasi farmasi, di mana mereka
umumnya dianggap sebagai bahan yang
relatif tidak beracun dan tidak iritan
Penanganan : pencegahan normal sesuai dengankeadaan
Saranpenyimpanan : disimpan di tempat yang sejuk dan
gelap,terlindung dari cahaya

6. Citrit Acid (Rowe C dkk, 2009 hal.181 dan Dirjen


BPOM, 1979 hal. 50) Namaresmi : Citricacid
Namalain : Acidum citricum monohydricum; E330; 2-
hydroxypropane- 1,2,3tricarboxylic acid
monohydrate (monohidrat) acidum citricum
anhydricum; citric acid; E330; 2hydroxy-b-
1,2,3- propanetricarboxylic acid; 2-
hydroxypropane 1,2,3- tricarboxylic
acid(anhidrat)
Kelasfungsional :pendapar
Konsentrasi : 0,1-2,0%
Pemerian : Asam sitrat monohidrat terjadi sebagai
kristal tak berwarna atau tembus cahaya,
atau berbentuk kristal putih, bubuk kembang
api. Tanpa bau dan memiliki rasa asam
yang kuat. Struktur kristalortorombik
Kelarutan : Larut 1 dalam 1,5 bagian etanol (95%) dan
1 dalam kurang dari 1 bagian air; larut
dalameter.
RM : C6H8O7. H 2O (monohydrate);
C6H8O7(anhidrat)
BM : 210.14 (monohidrate);
192.12(anhidrat) pKa danpHlarutan: pKa :3 dan
pH :2,2
titiklebur :≈1000C(melunakpadasuhu750C)untukmonoh
idrat;1530C
untuk anhidrat
Informasilain : mudahterbakar
Stabilitas : dapat berubah warna diudaralembab
Inkompatibiltas : Asam sitrat tidak kompatibel dengan kalium
tartrat, alkali dan alkali tanah karbonat dan
bikarbonat, asetat, dan sulfida.
Inkompatibilitas juga termasuk zat
pengoksidasi, basa, zat pereduksi, dan
nitrat. Ini berpotensi meledak jika
dikombinasikan dengan logam nitrat. Pada
penyimpanan, sukrosa dapat mengkristal
dari sirup dengan adanya asam sitrat
Toksisitas : umumnya dianggap sebagai bahan tidak
beracun bila digunakan sebagaieksipien.
Penanganan : Pelindung mata dan sarung tangan
direkomendasikan. Kontak langsung dengan
mata dapat menyebabkan kerusakan serius.
Asam sitrat harus ditangani di lingkungan
yang berventilasi baik atau masker debu
harusdipakai
Saran penyimpanan : harus disimpan dalam wadah kedap udara
di tempat yang sejuk dankering.

7. Fragrance atau parfum: diperlukan untuk meningkatkan penerimaan


kinsmen. Dalam penggunaannya harus diperhatikan kelarutan dan
kompatibilitasnya (tidak berpegaruh pada viskositas dan stabilitas
sediaan). Parfum juga tidak boleh menyebabkan perubahan warna
pada sediaan maupun rambut dan harus nin-iritatif (Rieger,2000)

8. Sodium Citrate (Rowe C dkk, 2009 hal.639 dan Dirjen


BPOM, 1995 hal913) Namaresmi : SodiumCitrate
Namalain :Natrium sitrat, Citric acid trisodium
salt;E331;natrii citras; sodium citrate tertiary;
trisodiumcitrate
Kelasfungsional :Penda
par/penyangga Konsentrasi :
0,3-2,0%
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbukputih.
Kelarutan : Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air;
sangat mudah larut dalam air mendidih;
tidak larut dalametanol.
RM :CH2(COONa)C(OH)(COONa)CH2COONa
BM : anhidrat BM 258,07;
Dihidrat BM 294,10 pKa danpHlarutan :
pH7.5–8.
Titik lebur : Mengubah menjadi bentuk anhidrat
pada1500C
Informasilain : Pada penyimpanan, larutan encer dapat
menyebabkan pemisahan partikel padat
yang kecil dari wadah kaca. Bahan curah
harus disimpan dalam wadah kedap udara
di tempat yang sejuk dan kering.
Stabilitas : Sodium citrate dihydrate adalah bahan yang
stabil. Larutan berair dapat disterilkan
denganautoklaf
Inkompatibiltas : Larutan berair sedikit basa dan akan
bereaksi dengan zat asam. Garam alkaloid
dapat diendapkan dari larutan encer atau
hidro-alkoholnya. Garam kalsium dan
strontium akan menyebabkan pengendapan
sitrat yang sesuai. Inkompatibilitas lainnya
termasuk basa, zat pereduksi, dan zat
pengoksidasi
Toksisitas :Meskipun secara umum dianggap sebagai
eksipien non-toxic dan non-irritant,
konsumsi berlebihan dapat menyebabkan
ketidaknyamanan gastrointestinal ataudiare
Penanganan :--
Saran penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat
9. Cocamide MEA (pubChem, 2020)
Namaresmi : N-(2-Hidroksietil)dodekamida
Namalain :N-Lauroylethanolamine;
Laurylethanolamide; Amisol LDE; Vistalan,
lauramideMEA
Kelasfungsional :--
Konsentrasi :--
Pemerian : berupa serpihan berwarna krem;bubuk
kering; bentuk cair; padat
Kelarutan : larut dalam kurang dari 1 mg/mL pada
680F, tidak larut dalam air
RM :C14H29NO2
BM : 243,39g/mol
titiklebur :--
Informasilain : dapat menyebabkan
iritasimata/kulit Stabilitas : tidak larut
dalamair
Inkompatibiltas :--
Toksisitas :--
Penanganan : basuh mata dengan air mengalir atau
larutan garam biasa selama 20 menit hingga
30menit
10. Sodium Xylenesulfonat (pubChem,2020)
Namaresmi :Natrium;3,4-dimetilbenzenesulfonat
Namalain : sodium xylenesulfonat; natrium xilena
sulfonat;sodiumxylene
sulpho-nate; asam benzenesulfonic; naxonate
Kelasfungsional : digunakan untuk menurunkan viskositas
sejumlah kecilsolven
(Rieger,2000)
Konsentrasi :
Pemerian : Kristal atau bubuk putih;cair
Kelarutan : laruta dalamair
RM :C8H9NaO3S
BM : 208,21g/mol

titiklebur :270C
Informasilain : dapat menyebabkan
iritasimata/kulit Stabilitas :--
Inkompatibiltas :--
Toksisitas : tidak ada bukti aktivitas karsinogenik
natrium xylenesulfonat; Penanganan :bilas kulit/mata dengan
air mengalir selama beberapamenit,
gunakan sarung tangan pelindung
Saranpenyimpanan : disimpan ditempat aman dan dipisahkan dari
oksidankuat
11. Guar Hydroxipropyltrimonium Chloride (Rowe C, dkk. 2009; Hal 298
dan pubChem, 2020)
Namaresmi : Guar
HydroxipropyltrimoniumChloride Namalain
: guar Hidrokloride,CTFA
Kelasfungsional :
Konsentrasi : <0,5%
Pemerian : bubuk berwarna putih pucat hingga putih
kekuningan;hampir
tidak berbau
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam pelarut organik.
Dalam dinginatau
panas air, menyebar dan membengkak
segera untuk terbentuk sol thixotropic yang
sangat kental.
RM :(C6H12O6)n
BM : ≈220000
titiklebur :--
Ph : penyangga sangat stabil pada pH4,0-10,5
Informasilain :--
Stabilitas : stabil terhadap panas namun pemanasan
yang lamaakan
mengurangi viskositas dispersi.

Inkompatibiltas : Ini tidak kompatibel dengan aseton, etanol


(95%), tanin,asam
kuat, dan basa. Ion borat, jika ada di
pendispersi air, akan mencegah hidrasi

Toksisitas :--
Penanganan :--
Saran penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat
tempat yangsejuk
dan kering.
12. Dimethicone (Rowe C dkk, 2009 hal. 233
dan PubChem, 2020) Namaresmi
:Dimethicone
Namalain :ABIL; dimethylpolysiloxane; dimethylsilicone
fluid; dimethylsiloxane; dimeticonum; Dow
Corning Q7-9120; E900; methyl
polysiloxane; poly(dimethylsiloxane);Sentry
Kelasfungsional :zatantifoaming
Konsentrasi :--
Pemerian :cairan bening dan tidak berwarna yang
tersedia dalam berbagai viskositas
Kelarutan :Larut dengan etil asetat, metil etil keton,
minyak mineral, eter, kloroform, dan toluena;
larut dalam isopropil miristat; sangat sedikit
larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut
dalam gliserin, propilen glikol, dan air
RM :C6H24O2Si3 (PubChem,2020)
BM : 236,53 g/mol (PubChem,2020)
pKa dan pH larutan : --
titiklebur : -80,00C (PubChem,2020).
Informasilain :Dalam emulsi minyak-dalam-air topikal,
dimetikon ditambahkan ke fase minyak
sebagai zat antifoaming. Dimetikon bersifat
hidrofobik dan juga banyak digunakan
dalam sediaantopikal
Stabilitas :Stabil terhadap panas dan tahan terhadap
sebagian besar zat kimia meskipun
dipengaruhi oleh asamkuat
Inkompatibiltas :--
Toksisitas :Dimetikon umumnya dianggap sebagai
bahan yang relatif tidak beracun dan tidak
iritan meskipun dapat menyebabkan iritasi
sementara padamata
Penanganan :Patuhi kewaspadaan normal yang sesuai
dengan keadaan dan jumlah bahan yang
ditangani.
Saran penyimpanan :disimpan dalam wadah kedap udara di tempat
yang sejuk dan kering
13. Sodium Benzoate (Rowe C dkk, 2009 hal. 627 dan Dirjen
BPOM, 1995 hal. 892) Namaresmi : SodiumBenzoate
Namalain : Natrium benzoat, Benzoic acid sodium salt;
benzoate of soda; E211; natrii benzoas;
natrium benzoicum; sobenate; sodii
benzoas; sodium benzoicacid
Kelasfungsional : zatpengawet
Konsentrasi :0.1–0.5%
Pemerian : Granul atau serbuk hablur, putih; tidak
berbau atau praktis tidak berbau; stabil
diudara
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut
dalam etanol dan lebih mudah larut dalam
etanol90%.
RM :C7H5NaO2
BM :144,11
pKa dan pH
larutan : pH 2-5
titiklebur :--
Informasilain :Data klinis menunjukkan bahwa natrium
benzoat dapat menghasilkan urtikaria
kontak non-imunologis dan reaksi kontak
langsung non-imunologis. Namun, juga
diketahui bahwa reaksi-reaksi ini sangat
ketat pada kulit,dan oleh

karena itu natrium benzoat dapat digunakan


dengan aman pada konsentrasi hingga 5%.
Stabilitas :Stabil terhadappanas
Inkompatibiltas :Tidak cocok dengan senyawa kuaterner,
gelatin, garam besi, garam kalsium, dan
garam logam berat, termasuk perak, timbal,
dan merkuri. Aktivitas pengawet dapat
dikurangi dengan interaksi dengan kaolin
atau surfaktannonionik
Toksisitas : Gejala toksisitas benzoat sistemik mirip
dengan gejala salisilat, pemberian oral dari
bentuk asam bebas dapat menyebabkan
iritasi lambung yang parah, garam benzoat
dapat ditoleransi dengan baik dalam
jumlahbesar
Penanganan :--
Saran penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik.

14. Tetrasodium EDTA


(pubChem, 2020)
Namaresmi :
SodiumEdetat
Namalain :Natrium edetat; EDTA
tetrasodium;tetrasodiumedetate;
komplexon;Ergon
Kelasfungsional :pengkelat
Konsentrasi :
Pemerian :bubuk kering putih; cairan; pellet Kristal
besar; bubuk krystal berwarna
Kelarutan :Sedikit larut dalam etanol; kurang larut
dalam alcohol dibandingkan garam kalium;
larut bebas dalamair
RM :C10H12N2Na4O8
BM : 380,17g/mol

titiklebur :3000C
pH larutan : 1%:11,3
Informasilain :saat ini bahan ini digunakan dalam
berbagaiaplikasi.
EDTA,HEDTA dan garamnya menjaga
kejernihan, melindungi komponen
wewangian, menstabilkan penegntal
polimer dan aditif warna, mencegah bau
tengik, dan meningkatkan efektivitas
pengawet, diantara efek lainnya
Stabilitas :--
Inkompatibiltas :--
Toksisitas : menyebabkan irritasi kulit danmata
Penanganan : segera basuh mata yang terkontaminasi
dengan air yang mengalir. Tutupi luka pada
kulit dengan perban steril kering
setelahkontaminasi

15. Trisodium
EthylenediamineDissucc
inate Namaresmi :
Namalain :
Kelasfungsional :
Konsentrasi :
Pemerian :
Kelarutan :
RM :
BM :
titiklebur :
Informasilain :
Stabilitas :
Inkompatibiltas :
Toksisitas :
Penanganan :

16. Panthenol (pubChem,2020)


Namaresmi : 2,4-dihidroksi-N-(3-hidrosipropil)-3,3-
dimetilbutanamida Namalain : DL-
panthenol; panthenol; alcohol DL-
pantothenyl;
panthenolum; pantenolo;
varitan;pantenyl Kelasfungsional : agen
kondisioner/pengkodisian rambut Konsentrasi :
Pemerian :--
Kelarutan :--
RM :
BM : 205, 25g/mol
titiklebur :--
Informasilain :--
Stabilitas :--
Inkompatibiltas :--
Toksisitas :--
Penanganan :--

17. Panthenyl EthylEther


Namaresmi : Panthenyl EthylEther
Namalain :
Panthenyl Ethyl Ether
Kelasfungsional :
Pengoksidan rambut
Konsentrasi :0,05%
Pemerian :
Kelarutan : Larut dalam air; Larutbebas dalam metanol,
etanol,
isopropanol, aseton dan eter.
RM :C11H23NO4
BM :233,305
titiklebur :--
Informasilain :--
Stabilitas : Stabil pada suhu kamar dalamwadah
tertutup dalam kondisi
penyimpanan dan penanganan normal.
Inkompatibiltas : Basa kuat, asamkuat
Toksisitas :--
Penanganan :--
Saranpenyimpanan : Simpan ditempat yang sejuk dankering
18. Methylchloroisothiazolinone (pubChem,2020)
Namaresmi :Methylchloroisothiazolinone
Namalain : CMIT;
kloromethylisothiazolinone;kathon Kelasfungsional
: pengawet danantioksidan
Konsentrasi :--
Pemerian : Kristal dariligroin
Kelarutan : larut dalam 100 ml pelarut air, larut dalam
pelarut etilasetat,
metanol, toluene, heksana
RM :C4H4CINOS
BM : 149, 6g/mol
titiklebur :54-550C
Informasilain : ketika dipanaskana akan
mengeluarkanracun Stabilitas :--
Inkompatibiltas :--
Toksisitas :--
Penanganan :--
19. Methylisothiazolinone (pubChem,2020)
Namaresmi :Methylisothiazolinone
Namalain : caswell No.572A;2-Methyl-4-isothiazolin-3-
one;Neolone;
metil-isothiazolinoe
Kelasfungsional :pengawet
Konsentrasi :--
Pemerian : bentuk prisma tidakberwarna
Kelarutan : larut dalam air; larut dalam asetonitril
78,6;metanol 79,1;heksana
2,371;xylenol15,65
RM :C4H5NOS
BM : 115,16g/mol

titiklebur :50-510C
pH larutan :2,58 (5% larutan dalam air)
Informasilain : ketika dipanaskan akan
mengeluarkan uap beracun Stabilitas : stabil dibawah
kondisi penyimpanandirekomendasikan Inkompatibiltas :--
Toksisitas :--
Penanganan :--

20. Water (Dirjen POM,1979)


Namaresmi : Aquadestillata
Namalain : Air suling;aquadest
Kelasfungsional :pelarut
Konsentrasi :--
Pemerian : cairam jernih;tidak berwarna; tidak berbau;
tidak mempunyai rasa
Kelarutan :--
RM :H2O
BM :18,02
titik lebur : --
Informasi lain : --
Stabilitas : --
Inkompatibiltas : --
Toksisitas :--
Penanganan : --
Saran penyimpanan :dalam wadah tertutup
baik
BAB III
METODE KERJA

BAB III
METODE KERJA
III.1 Formula yang Disetujui
BAHAN SHAMPO PENTENE (Halus dan Lembut)
Sodium lauryl sulfate (surfaktan anionic)
Sodium laureth sulfate (surfaktan anionic)
Sodium Chloride (pengatur kekentalan)
Cocamidopropyl Betaine (surfaktan amfoterik)
Glycol Distearat (opacifier)
Citrit Acid (pendapar)
Fragrance (pengharum)
Sodium Citrate (pendapar)
Cocamide MEA
Sodium Xylenesulfonat
Guar Hydroxipropyltrimonium Chloride (peningkat viskositas)
Dimethicone (agen pelembut)
Sodium Benzoate (zat pengawet)
Tetrasodium EDTA (agen pengkhelat)
Trisodium Ethylenediamine Dissuccinate
Panthenol
Panthenyl Ethyl Ether (Pengoksidasi)
Water (pelarut)
Methylisothiazolinone DAN Methylchloroisothiazolinone (Pengawet)
III.2 Rekaman produksi
Tanggal pengesaan: Februari 2020
Nomor Reg: NA1910200253A1
NAMA PRODUK : LAURYL
Nomor Bets: J19953002

Alur produksi
Tahap Bahan Alat Parameter Hasil
Preformulasi - Buku Sifat fisika -
kimia zat
aktif
Penimbanga Zat aktif Timbangan seksama Baik
n
Pengemasan Campuan Alat Homogeny Baik
bahan
Penyimpanan Sediaan Lemari Baik
Evaluasi Sediaan - - Baik

III.3 Cara kerja


III.3.1 Pembuatan Sampo
A. Bahan awal
1. Air
a. Air dalam hal ini diproses menggunakan peralatan yang sesuai
dengan persyaratan yang ada dan disanitasi sesuai prosedur
tetap.
b. Air yang digunakan telah memalui pengujian secara kimia dan
dimikrobiologi.
c. Pengolahan air yang akan digunakan sesuai dengan beberapa
metode pengolahan air seperti :
- Screening
- Klarifikasi
- Filtrasi
- Demineralisasi
- Deaerator
2. Verivikasi bahan
a. Dilakukan pemeriksaan dan perivikasi bahan yang memenuhi
spesifikasi
b. Dilakukan pemeriksaan secara fisik
c. Dilakukan pemeberian label terhadap bahan baku yang
digunakan
d. Pemeriksaan keberhasilan bahan dan kemasan untuk mencegah
terjadinya kebocoran atau dalam kondisi terbuka.
3. Bahan ditolak
a. Dilakukan pemeriksaan bahan antara bahan yang memenuhi
spesifikasi dengan bahan yang tidak memenuhi spesifikasi.
B. Sistem penomoran Batch
a. Dilakukan pemberiannomor identitas berupa nomor registrasi
dan nomor batch.
b. Pemberian nomor registrasi dan nomor batch dibuat secara
spesifik dan diusahakan tidak memiliki kesamaan dengan produk
lain.
c. Pencantuman label nomor batch dicantumkan pada kemasan
primer dan kemasan sekunder.
C. Penimbangan dan pengukuran bahan
a. Dilakukan pengkalibrasian alat-alat yang akan digunakan
b. Dilakukan penimbangan bahan-bahan yang akan digunakan
diruangan yang bersih dan telah dilengkapi dengan alat-alat
yang akan digunakan.
c. Dicatat hasil penimbangan dan pengukuran yang telah
dilakukan.
D. Prosedur dan pengolahan
a. Semua bahan yang akan digunakan telah melalui uji spesifikasi
yang ditetapkan.
b. Penggunaan APD yang lengkap dan benar guna mencegah
terjadinya kontaminasi dengan bahan-bahan yang akan diolah.
c. Dilakukan pencampuran bahan sesuai prosedur pencampuran
bahan secara tertulis.
d. Produk yang tidak melalui proses pengolahan diberi tanda.
E. Produk kering
Bahan baku yang telah melalui proses pengolahan disimpan
ditempat terpisah dan aman dari debu jika diperludilengkapi dengan
fasilitas pengendalian debu atau dengan cara yang sesuai.
F. Produk basah
a. Untuk pengolahan produk-produk lain berupa cairan,krim dan
lain-lain dalam bentuk produk basah Dolah sedemikian rupa
dengan menggunakan APD dan peralatan yang telah
dibersihkan untuk mencegah kontaminasi.
b. Sistem yang digunakan dalam pembuatan harus dipisahkan dan
telah dijamin mudah dalam pembersihan.
G. Produk jadi
Produk jadi yang akan didistribusikan harus telah mendapatkan
persetujuan dari bagian pengemasan mutu sebelum didistribusikan.
III.3.2 Evaluasi
1. Uji ph
Ph sampo sangat penting untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas rambut meminimalkan ritasi pada mata
dan menstabilkan keseimbangan ekologis kulit kepala. Uji ph
sampo dapat dilakukan menggunakan ph meter maupun ketas
ph.
1. Uji viskositas
uji viskositas sampo dilakuan menggunakan viskometer
brookfiel. Viskositas sampo akan berpengaru saat filling ke
wadah, proses pencampuran, dan pada saat pemakaian.
2. Uji tinggi busa
Sediaan sampo dibuat larutanya 1 dalam air. Kemudian
dimasukkan kedalam gelas ukur bertutup, dan dikocok selama
20 detik dengan cara membalikkan gelas ukur tinggi busa yang
terbentuk.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Evaluasi
IV.1.1 Uji pH
Data hasil pengujian pH dengan menggunakan pH meter.
Tabel1. Hasil uji pH
formula Uji pH

1 2 3
A 5,6 5,4 5,4

B 6,3 6,2 6,2


C 5,6 5,5 5,5

IV.1.2 Uji Tinggi Busa


Data hasil pengujian tinggi busa dengan menggunakan gelas ukur
100 mL.
Tabel 2. Hasil uji tinggi busa
Formula Uji Tinggi Busa (cm)
Menit 0 Menit 5 Menit 10 Menit 15

A 8 7 6 6
B 9 8 8 8

C 6 6 6 7

IV.1.3 Uji Viskositas


Data hasil pengujian viskositas dengan menggunakan viscometer
Brookfield.
Tabel 3. Hasil uji viskositas
Formula Uji Viskositas (cP)

1 2 3
A 5300 5300 5400

B 7200 7300 7300


C 10.100 10.000 10.100

IV.2 Pembahasan
Pada praktikum ini dipilih 3 sediaan brand shampoo yang beredar
dipasaran yang ditandai dengan sampel A, sampel B dan sampel C.
shampoo merupakan sediaan yang diformulasikan dengan tujuan utama
untuk membersihkan rambut dan kulit kepala (Kumar dan Rakesh,2010).
Shampoo juga merupakan produk utama dalam sediaan kosmetik pada
rambut.
Pada praktikum kali ini dilakukan uji evaluasi fisik dari sampel A,
sampel B dan sampel C. uji evaluasi shampo dilakukan untuk mengetahui
sifat dan karakteristik sediaan shampo pada sampel A, sampel B dan
sampel C yang meliputi uji pH, uji tinggi busa dan uji viskositas. Uji
evaluasi dilakukan dengan 3 kali pengujian pada setiap sampel yang diuji.
Pada pengujian pH dilakukan dengan menggunakan alat pH
meter.Alat terlebih dahulu dikalibrasi, setelah itu pH meter dicelupkan
kedalam larutan sediaan shampoo cair (sediaan shampoo terlebih dahulu
sudah diencerkan dengan aquadest dengan perbandingan 1:10) dibiarkan
alat menunjukan angka pH sampai konstan. Angka yang ditunjukan pH
pada sampel A pada pengujian 1, 2 dan 3 adalah 5,6;5,4 dan 5,4. Pada
sampel B menunjukan pada pengujian 1,2 dan 3 adalah 6,3;6,2 dan 6,2
sedangkan pada sampel C pengujian 1,2 dan 3 adalah 5,6;5,5 dan 5,5.
Berdasarkan hasil pengukuran pH, diperoleh nilai pH suatu sediaan
sampo pada ketiga formula masih menunjukkan pH yang sesui untuk pH
kulit kepala yaitu berkisar antara 5,0-9,0 sesui dengan SNI 06-4085-1996
untuk sediaan sampo (Nurhikmah, dkk, 2018).
Pada pengujian tinggi busa sediaan shampoo sampel A, sampel B,
dan sampel C diambil 0,5 gram dibuat larutannya kedalam aquadest.
Kemudian dimasukan kedalam gelas ukur 100 mL dan dikocok selama 20
detik dengan cara membalikan gelas ukur secara beraturan. Tinggi busa
yang terbentuk diamati setiap 5, 10 dan 15 menit. Hasil pengukuran tinggi
busa menunjukkan kemampuan surfaktan membentuk busa. Busa dari
sampo merupakan hal yang sangat penting. Hal ini karena busa menjaga
sampo tetap berada pada rambut, membuat rambut mudah dicuci, serta
mencegah batangan-batangan rambut menyatu sehingga menyebabkan
kusut Tinggi busa yang didapat dari ketiga sampel setiap 5, 10 dan 15
menit pada sampel A yaitu 8 cm; 7cm; dan 6cm. pada sampel B konstan
pada 8 cm. sedangkan pada sampel C tinggi busa tidak mengalami
perubahan angka hanya menunjukan pada 6 cm, berdasarkan hasil
pengujian tinggi busa yang diperoleh dari ketiga sampel sampo sudah
memenuhi persyaratan tinggi busa yaitu 1,3-22 cm (Amelia, dkk, 2019).
Pengujian ketiga yaitu uji viskositas dengan menggunakan
viskometer.Viskometer merupakan peralatan yang dapat digunakan untuk
mengukur viskositas suatu sediaan.Viskometer yang digunakan yaitu
viskometer Brookfield yang dipilih karena sediaan yang mau diuji terlihat
kental. Dengan menggunakan viskometer Brookfield dipilih spindel nomor
3 pada speed 6. Sediaan shampoo diletakan dibawah spindel kemudian
spindel diturunkan sedikit demi sedikit hingga batas wadah sediaan.
Kemudian dicatat skalanya ketika angka yang ditunjukan stabil pada 3 kali
putaran. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi viskositas shampo
yaitu basis shampoo, hasil uji viskositas pada sampel A untuk tiga
pengujian menunjukan nilai viskositas yaitu 5.400cP, pada sampel B untuk
tiga pengujian menunjukan 7.300cP sedangkan pada sampel C
menunjukan 10.100cP Dari hasil viskositas ketiga sampel shampo tidak
ada yang memenuhi nilai range standar viskositas dari shampo yaitu 400-
4000 Cp (Amelia, dkk, 2019).
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
V.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Amelia, S, dkk. 2019. Formulasi Sediaan Shampo Antiketombe Ekstrak


Jahe (Zingiber officinale Rosc.). Jurusan Farmasi, Poltekkes
Kemenkes RI Aceh: Aceh, Indonesian Journal of Pharmacy and
Natural Product, Volume 02, Nomor 01, Maret2019
Ansel, C . H. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Penerbit :
UI Press : Jakarta.
Ansel, C . H. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Penerbit :
UI Press : Jakarta.
Chaerunisa.,AY,dkk. 2009. Farmasetik Dasar. Universitas Padjajaran:
Bandung
Depkes RI. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia.BPOM RI :
Jakarta.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI : Jakarta.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI : Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia
Edisi V, Jakarta; Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Effionora Anwar. 2012. Eksipien Dalam Sediaan Farmasi. Dian Rakyat:
Jakarta
Fatmawaty, A. 2012.Teknologi Sediaan Farmasi.Depublish : Yogyakarta.
Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10. Jakarta; Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Hussein, W., Waqar, S., Khalid, S., & Naveed, S. (2012). Importance of
bioavailability of drug with reference to dosage form and formulation.
Journal of Pharmaceutics and Cosmetology. 2 (7), 39-44.
Iskandar Junaidi. 2019. Panduan Obat Dan Suplemen Indonesia. Rapha
Publishing: Yogyakarta
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope
Indonesia. (Edisi V). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Katzung, B. G. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik : EGC : Jakarta.
Lachman. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri. UI Press : Jakarta.
Mottram, F.J., Lees, C.E., 2000. Hair Shampoos in
Poucher'sPerfumes,Cosmetics and Soaps, 10th Edn, Butler, H. (ed),
Kluwer Academic Publishers. Printed in Great Britain
Nash.,A.R. 1996. Pharmaceutical Suspension Ih Herbal A Liebermen.
Pharmaceutical Dosage Forms: New York.
Ranjita, Shegoar dan Sing Kamalinder. 2010. In-vitro Realese
ofParacetamol from Suppocire Suppositoria : Rale of Additives.
Kumar, Ashok., Mali, Rakesh Roshan. 2010. Evaluation Of Prepared
Shampoo Formulations And to Compare Formulated Shampoo
With Markete Shampoos. InternationalJournalofPharmaceutical
Sciences Review and Research.Volume 3.Issue 1.Hal.120-126
Malaysia Journal of Pharmaceutical Science, Vol. 8 No.1, Hal.57-71.
Rostamailis, dkk. 2009. Tata Kecantikan Rambut Jilid 2. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Rowe, Royman. 2009. Hanbook of Pharmaceutical Excipient Ed. 6th.
Pharmaceutical Press : USA.
Sumardjo.,D. 2009. Pengantar Kimia. EGC: Jakarta

Sweetman, Sean. 2009. Martindale de Complate Drug Reterence Thirty


Six Edition : Pharmaceutical Press : USA.
Syamsuni, H.A. 2006.Ilmu Resep. EGC : Jakarta.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2012. Obat-obat Penting. PT. Elex
Media Kumpetindo : Jakarta.
Yuni Syaputri Nasutoin, 2019. “Uji aktivitas formulasi sediaan shampo
ekstrak etanol 96% daun pare (momordica charantia l.) Terhadap
pertumbuhan rambut pada kelinci,program studi sarjana farmasi
fakultas farmasi dan kesehatan institut kesehatan helvetia medan.