Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SEMI PADAT


“SUSPENSI”

OLEH:
TRANSFER A019
KELOMPOK II (DUA)

Meistarandan pamula (19018017)


Anni (19018018)
Rohana (19018025)
Irma berian sihotang (19018028)
Marie raya datuluwu (19018029)
Ibda yolanditha (19018030)

ASISTEN : RASMA ADELIA PUTRI, S.Farm

LABORATORIUM FARMASETIKA
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR
MAKASSAR
2021
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Belakangan ini berbagai penyakit banyak bermunculan seiring
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Karena itu
seharusnya penyakit ini dapat ditanggulangi juga dengan kemajuan IPTEK
yang sudah ada untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Disini peran farmasis sangat dibutuhkan, karena ruang lingkup farmasi
yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan menjadi satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan.
Demam typhoid atau dalam bahasa kesehariannya dikenal dengan
nama penyakit tifus adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan
oleh kuman Salmonellatyphi. Selain oleh Salmonellatyphi, demam typhoid
juga bisa disebabkan oleh Salmonellaparatyphi namun gejalanya jauh
lebih ringan. Kuman ini umumnya terdapat dalam air atau makanan yang
ditularkan oleh orang yang terinfeksi kuman tersebut sebelumnya. Demam
typhoid saat ini masih sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari
hari. Lebih dari 13 juta orang terinfeksi kuman ini di seluruh dunia dan
500.000 diantaranya meninggal dunia.
Karena itu dengan meningkatnya gangguan pada kesehatan, dengan
banyaknya orang terinfeksi setiap harinya ini menjadi tuntutan bagi
farmasis untuk mengambil peran terutama yang berkaitan erat dengan
kegiatan dalam bidang teknologi dan formulasi sediaan farmasi, baik itu
sediaan semisolida, solida maupun likuida yang dapat diterima
masyarakat. Dalam pembuatan sediaan ini dituntut pengetahuan yang
luas dari seorang farmasis dibidangnya.
Selain dituntut dalam bidang pengetahuan, farmasis juga harus
terampil dan cekatan dalam praktek membuat sediaan. Sediaan yang
dibuat hendaknya disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan
konsumen. Disinifarmasis dituntut untuk mengolah sediaan yang
dibuatnya berdasarkan seni membuat obat, untuk meningkatkan
acceptable dari sediaan dapat ditambahkan pewarna, essence, pemanis
dan lain – lain, sehingga mempunyai penampilan, bentuk, estetik yang
baik dan menarik sehingga menimbulkan rasa senang dan nyaman pada
pemakainya. Sebagai formulator, perlu dipertimbangkan alasan dan
pemilihan bentuk sediaan yang tepat karena akan menentukan
keberhasilan dari formulasi yang akan dilaksanakan. Dalam praktikum
teknologi dan formulasi sediaan semisolida likuida ini, bentuk sediaan
yang dibuat adalah sediaan likuida yang berupa suspensi, sediaan dimana
bahan aktif obat tidak larut air dan stabil dalam air. Dalam hal ini sediaan
yang dipilih adalah larutan per oral, yang diharapkan mampu memberikan
efek sistemik untuk pengobatan terhadap parathypoidfever yang
disebabkan oleh Salmonellaparatypi. Adapun pemilihan ini dimaksudkan
untuk proses absorbsi yang lebih cepat dari saluran cerna ke sistemik.
Diharapkan juga sediaan per oral yang diformulasikan dengan spesifikasi
warna sediaan merah muda, bau framboze, dan rasa manis dapat
diterima masyarakat. Dengan banyaknya kemajuan IPTEK, dihasilkan
produk obat yang bermacam – macam dan berkualitas, sehingga
pengobatan terhadap suatu penyakit dapat ditanggulangi dengan cepat.
1.2 Tujuan
Menyusun rancangan formula, manufaktur sediaan, evaluasi dan
rancangan kemasan sediaan suspensi chloramphenicol untuk
Parathypoidfever yang stabil dalam air.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
III.1 Pengertian Suspensi
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam
bentuk halus yang tidak larut tetapi terdispersi dalam cairan/vehikulum.
Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap, jika
dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali.
suspense merupakan cairan kental, tetapi kekentalan suspensi tidak boleh
terlalu tinggi, sediaan harus mudah dikocok dan juga mudah dituangkan
(Joenes, 2003).
Suspensi dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin
stabilitas suspensi. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar
sediaan mudah dikocok dan dituang. Partikel-partikelnya mempunyai
diameter yang sebagian besar lebih dari 0,1 mikron (Anief, 2000).
Beberapa faktor penting dalam formulasi sediaan obat bentuk
suspensi ialah:
a. Derajat kehalusan partikel yang terdispersi
b. Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi
dari saluran pencernaan
c. Tidak terbentuk Kristal/hablur
d. Derajat viskositas cairan
I. Sifat–sifat suspensi
Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan
pembuatan suatu suspensi farmasi yang baik. Disamping khasiat
terapeutik, stabilitas kimia dan komponen–komponen formulasi,
kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari sediaan perlu
diperhatikan.
Sifat–sifat yang diinginkan untuk suspensi farmasi:
1). Suatu suspensi farmasi yang dibuat dapat dengan tepat
mengendap secara lambat dan harus rata lagi bila dikocok.
2). Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran
partikel dari suspensoid tetap konstan untuk waktu yang lama pada
penyimpanan.
3). Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan
4). Homogen (Ansel, 1989).
II. KEUNTUNGAN KERUGIAN SUSPENSI
a. Keuntungan suspensi (fatmawaty, dkk. 2015)
1. Beberapa obat yang tidak larut dalam semua media
penerima, oleh karena itu harus dibuat sebagai padatan,
bentuk sediaan bukan larutan (tablet, kapsul, dll) atau
sebagai suspensi
2. Rasa yang tidak enak dapat ditutupi dengan penggunaan
suspensi dari obat atau derivative dari obat sebagai contoh
yang terikat kloramfenikol palmitat.
3. Suspensi dibuat dari pertukaran ion damar yang
mengandung obat bentuk ion dapat digunakan tidak hanya
untuk meminimalkan rasa dari obat tetapi juga untuk
menghasilkan produksi beraksi lama, sebab obat-obatan
mengalami pertukaran yang lambat untuk ion-ion lain dalam
saluran pencernaan. Suspensi juga secara kimia lebih stabil
dibanding larutan.
4. Suspensi merupakan bentuk sediaan yang ideal untuk
pasien yang sulit menelan tablet atau kapsul yang amat
penting dalam pembuatan obat untuk anak-anak.
5. Cairan yang mengandung bahan tidak larut memberikan
keuntungan baik untuk pemakaian dalam maupun
pemakaian luar untuk aksi perlindungan dan juga aksi
diperpanjang. Kedua efek ini dapat dicapai secara relative
dari obat yang tidak larut.
6. Suspensi juga mempunyai keuntungan dalam kestabilannya
dibanding dengan bentuk larutan.
7. Ketahanan terhadap hidrolisis dan oksidasi umumnya bagus
dibandingkan larutan.
b. Kerugian suspensi
1. Keseragaman dan keakuratan dari dosis saat sediaan
digunakan untuk pengobatan tidak mungkin dibandingkan
dengan tablet atau kapsul.
2. Sedimentasi atau endapan yang kompak menyebabkan
masalah dimana tak berarti selalu mudah untuk didispersikan.
3. Produknya cair dan secara relatif massanya berat. Sifat ini
kurang menguntungkan bagi farmasis dan pasien.
4. Keefektifan dari formulasi suspensi secara farmasetil biasanya
sulit untuk dicapai dibandingkan sediaan tablet/kapsul pada
obat yang sama.
5. Permasalahan yang mungkin dapat timbul dalam
pencampuran atau industry farmasi dalam formulasi keduanya
baik suspensi mapun emulsi sangat berhubungan erat dengan
kestabilan termodinamika dari bentuk sediaan ini.
6. Pengaruh gravitasi menyebabkan sedimentasi fase padat
terdispersi dari suspensi.
III. CARA MENGERJAKAN OBAT SUSPENSI
a. Metode Pembuatan suspensi
Metode pembuatan suspensi terbagi menjadi dua yaitu:
1. Metode dispersi
Serbuk yang terbagi halus didispersi dalam cairan
pembawa. Umumnya yang digunakan sebagai pembawa adalah air.
Dalam formula suspensi yang paling penting adalah partikel-partikel
harus terdispersi dalam fase air. Mendispersi serbuk yang tidak larut
dalam air kadang-kadang sulit. Hal ini disebabkan karena adanya
udara, lemak, kontaminan pada permukaan serbuk, dan lain-lain
(Lachman, dkk. 1994).
2. Metode presipitasi (presipitasi dengan pelarut organik,
perubahan pH media, dan penguraian rangkap)
Obat-obatan yang tidak larut dalam air dapat diendapkan
dengan menggunakan pelarut-pelarut organik yang bercampur
dengan air, dan kemudian menambahkan fase orgsnik ke air murni
dibawah kondisi standar disebut juga dengan metode presipitasi
dengan pelarut organik. Metode presipitasi dengan perubahan pH
media, metode ini hanya dapat diterapkan pada obat-obat yang
kelarutannya tergantung pada harga pH. Metode penguraian
rangkap hanya melibatkan proses kimia yang sederhana (Lachman,
dkk. 1994).
b. Sistem Pembentukan suspensi
1. Sistem flokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,
cepat mengendap, dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan
mudah tersuspensi kembali.
2. Sistem deflokulasi
dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap
perlahan dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar
tersuspensi kembali.
IV. BAHAN PENSUSPENSI (Suspending Agent)
Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
a. Bahan pensuspensi dari alam
1. Golongan Gom
Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut
gom/hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau
mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilage
atau lender. Dengan terbentuknya mucilage maka viskositas
cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas
suspensi. Kekentalan mucilage dapat dipengaruhi oleh panas,
pH, dan proses fermentasi bakteri. Yang termasuk golongan
gom adalah acasia, chondrus, tragakan, align ( Lachman,
dkk. 1994)
2. Golongan bukan gom
Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah
liat. Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan
menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite,
hectorite, dan veegum. Apabila tanah liat dimasukkan ke
dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak
jika dilakukan penggojokan. Peristiwa ini disebut tiksotrofi.
Karena peristiwa teersebut, kekentalan cairan akan
bertambah sehingga stabilitas dari suspensi lebih baik.
Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air, sehingga
penambahan bahan tersebut ke dalam suspensi adalah
dengan menaburkannya pada campuran suspensi (Lachman,
dkk. 1994).
b. Bahan pensuspensi sintesis
1. Derivate selulosa
Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol,
tylose), karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.
Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat
angka/nomor, misalnya methosol 1500. Angka ini
menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan
yang dipergunakan untuk melarutkannya. Semakin besar
angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. Golongan ini
tidak diabsorbsu oleh usus halus dan tidak beracun, sehingga
banyak dipakai dalam produksi makanan (Lachman, dkk.
1994).
2. Golongan organik primer
Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol
934 (nama dagang suatu pabrik). Merupakan serbuk putih
bereaksi asam, sedikit larut dalam air, tidak beracun dan tidak
mengiritasi kulit, serta sedikit pemakaiannya. Sehingga bahan
tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi
(Lachman, dkk. 1994).

V. Uraian Bahan
1. Zat aktif
Uraian Bahan Zat aktif
1. Kloramfenikol Palmiat (FI V, 2014, Martindale 36)
Nama resmi : CHLORAMFENIKOL PALMITAT RB:
Nama lain : Kloramfenikol Palmitat
Kelas fungsional : Zat aktif
Konsentrasi :
RM : C19H16CINO4
BM : 10 000–1 500 000
Pemerian : Warna : putih
Rasa : tidak berasa
Bau : bau lemah
Bentuk : hablur

Kelarutan : Tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton dan dalam kloroform, larut
dalam eter, agak sukar larut etanol, sangat sukar larut dalam heksan

pKa dan pH larutan : Suspensi kloramfenikol memiliki pH=6,7


Titik lebur : 87–95°C
Informasi lain : Kloramfenikol palmitate mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari
555 µg dan tidak lebih dari 595 µg. kloramfenikol C11H12C12N2O5 per mg
(FI V,2014).
Stabilitas : Cahaya: kloramfenikol palmitate harus terlindung dari cahaya (Martindale 36
hlm 239). air: kloramfenikol palmitate tidak stabil atau tidak larut dalam air
(Martindale 36 hlm 239).

Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan senyawa berikut: aminophylline, ampicillin, asam


askorbat, kalsium klorida, sedium karbesin, klorpromazin HCl, garam
erythromycin, gentamicin sulfate, hydrocortisone, sodium sukinat, hydroxyzine
HC, methicillin sodium, oxytetraphate, garam prochloperazin, diethanolamine,
tetracycline HCL, tripelennamine HCL, vitamin B Complex.

Penanganan : -

Toksisitas : -

Saran penyimpanan : Dalam wadah tidak tembus cahaya

2. Zat tambahan

1.
Tween 80 (Dirjen POM; 1979)
Nama resmi
:
POLYSORBATUM 80
RB:

Nama lain
:
polisorbatum 80, tween 80

Kelas fungsional
:
Emulgator

Konsentrasi
:
9%

RM
:
C100H194O28

BM
:

Pemerian
:
Warna : transparan, tidak berwarna
Rasa : hampir tidak berasa
Bau :-
Bentuk : cairan kental

Kelarutan
:
Dalam air : mudah larut dalam air
Dalam pelarut lain : mudah larut dalam etanol 94% P dalam etil asetat P, dan dalam methanol P, sukar larut
dalam parafin cair.

pKa dan pH larutan


:
6.0–8.0

Titik lebur
:
-

Informasi lain
:
-

Stabilitas
:
-

Inkompatibilitas
:
-

Penanganan
:
-
Toksisitas
:
-

Saran penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup baik.

Tartrazin (Martindale, Hal.569)


Nama resmi : Tartrazine RB:
2. Nama lain : Tartrazin, Kuning asam 23, Aizen
tartrazine
Kelas fungsional : Pewarna
Konsentrasi : -
RM : C16H9N4Na3O9S2
BM : 534,4 g/mol

Pemerian : Warna : orange, kuning, terang


Rasa : -
Bau : bau khaas
Bentuk : serbuk
Kelarutan : Dalam air : mudah larut dalam air
Dalampelarut lain : 1 gram dalam 6 ml air, memberikan larutan kuning emas agak larut
dalam etanol, tidak larut dalam minyak nabati, tidak dipengaruhi oleh asam atau basa
dalam larutan netral.
pKa dan pH larutan : -
Titik lebur : 572 °F
Informasi lain : -

Stabilitas : -

Inkompatibilitas : Kurang kompatibel dengan larutan asam sitrat, tidak sesuai dengan asam askorbat,
laktosa, glukosa 10 % larutan, dan larutan natrium bikarbonat berair jenuh, gelatin
mempercepat mudahnya warna.

Penanganan : -

Toksisitas : -
Saran penyimpanan : Disimpan ditempat yang sejuk
3. Oleum Citri (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : OLEUM CITRI

R
B
:
Nama lain : Minyak jeruk, minyak limau, citroon olio

Kelas fungsional : Pengaroma


Konsentrasi : 0,2% - 0,3%
RM : C10H16O
BM : -

Pemerian : Warna : kuning kehijauan


Rasa : pedas dan agak pahit
Bau : khas
Bentuk : cairan

Kelarutan : Larut dalam 12 bagain volume etanol (90%) P, larutan agak beropalesensi, dapat
bercampur dengan etanol mutlak P

pKa dan pH larutan : pH 4,5 dan 7,5


Titik lebur : 149oC
Informasi lain : -

Stabilitas : -

Inkompatibilitas : -

Penanganan : -

Toksisitas : -

Saran penyimpanan : Dalam wadah terisi penuh dan rapat terlindung dari cahaya ditempat sejuk

4.
Sukralosa ( Excipient, 2009)
Nama resmi
:
SUCRALOSE
RB:

Nama lain
:
Sukralosa, sucralosum

Kelas fungsional
:
Pemanis

Konsentrasi
:
0,03-0,24 %

RM
:
C12H19Cl3O8

BM
:
397, 64

Pemerian
:
Warna : Putih
Rasa : tidak berasa
Bau : tidak berbau
Bentuk : kristal

Kelarutan
:
Dalam air : mudah larut dalam air
Dalam pelarut lain :methanol, alkohol, dan sedikit larut dalam etil salisilat

pKa dan pH larutan


:
- / 5-6

Titik lebur
:
1300C

Informasi lain
:
Sukralosa dianggap bahan yang tidak beracun dan tidak iritasi dan disetujui disejumlah negara

Stabilitas
:
Sukralosa sangat stabil pada temperatu yang panas dann pH yang rendah

Inkompatibilitas
:
Kuartener, gelatin, garam besi, garam kalsium, garam logom berat, perak, timbale, air raksa

Penanganan
:
Amati tindakan pencegahan normal yang sesuai dengan keadaan dan jumlah bahan yang ditangani

Toksisitas
:

Saran penyimpanan
:
Disimpan dalam wadah tertutup rapat

5.
Metil paraben ( FI ed III dan Excipient,2009)

Nama resmi
:
METHYLIS PARABENUM
RB:

Nama lain
:
Metil paraben

Kelas fungsional
:
Pengawet
Konsentrasi
:
0,015-0,2

RM
:
C8H8O3

BM
:
152, 15

Pemerian
:
Warna : Putih
Rasa : sedikit rasa terbakar
Bau : Tidak Berbau
Bentuk : Kristal / Bubuk Kristal

Kelarutan
:
Dalam air : sukar larut dalam air
Dalam pelarut lain : sukar larut dalam benzena, dalam karbon tetraklorida dan mudah larut dalam etanol dan
eter.

pKa dan pH larutan


:
8,4 / 3-6

Titik lebur
:
125-128oC

Informasi lain
:
Metil Paraben bersifat nonkarsiogenik

Stabilitas
:
Larutan metilparaben dalam air pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan autoclaving pada 12 08C selama 20
menit, tanpa dekomposisi Larutan berair pada pH 3-6 stabil (kurang dari 10% dekomposisi) hingga sekitar 4
tahun pada suhu kamar, sementara larutan encer pada pH 8 atau lebih dapat mengalami hidrolisis cepat (10%
atau lebih setelah sekitar 60 hari penyimpanan pada suhu kamar)

Inkompatibilitas
:
Aktivitas antimikroba dari methylparaben dan paraben lainnya sangat berkurang dengan adanya surfaktan
nonionik, seperti polisorbat 80, sebagai akibat dari miselisasi.

Penanganan
:
Amati tindakan pencegahan normal yang sesuai dengan keadaan dan jumlah bahan yang ditangani

Toksisitas
:
-

Saran penyimpanan
:
Penyimpanan pada suhu kamar

6.
Aquadest (Dirjen POM; 1979)

Nama resmi
:
AQUA DESTILLATA
RB:

Nama lain
:
Aquadest, air suling, H2O

Kelas fungsional
:
Pelarut

Konsentrasi
:
100%
RM
:
H 2O

BM
:
18,02

Pemerian
:
Warna : tidak berwarnah, jernih
Rasa : tidak memiliki rasa
Bau : tidak berbau
Bentuk : cairan

Kelarutan
:
Dalam air :
Dalam pelarut lain : larut dengan semua jenis larutn

pKa dan pH larutan


:
-

Titik lebur
:
0oC

Informasi lain
:
Titik didih 100oC

Stabilitas
:
Air secara kimiawi stabil di semua keadaan fisik (es, cair, dan uap air).

Inkompatibilitas
:
Air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis (penguraian dalam adanya
air atau kelembaban) di ambien dan tinggi suhu. Air dapat bereaksi hebat dengan logam alkali dan cepat
dengan
logam alkali dan oksidanya, seperti kalsium oksida dan magnesium oksida. Air juga bereaksi dengan garam
anhidrat untuk membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan organik tertentu bahan dan kalsium
karbida.

Penanganan
:
Untuk sebagian besar aplikasi farmasi, air minum dimurnikan dengan distilasi, pertukaran ion pengobatan,
reverse osmosis (RO), atau proses lain yang sesuai untuk menghasilkan 'air murni'.

Toksisitas
:
Air biasa dianggap sedikit lebih beracun setelah injeksi ke hewan laboratorium daripada garam fisiologis
larutan seperti larutan garam biasa atau larutan Ringer. Menelan air dalam jumlah berlebihan dapat
menyebabkan air keracunan, dengan gangguan keseimbangan elektrolit.

Saran penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup baik.

7. HPMC(nama bahan, pustaka)


Nama resmi : HYPROMELLOSE RB:
Nama lain : Benecel MHPC; E464; hydroxypropyl
methylcellulose; HPMC;
hypromellosum; Methocel;
methylcellulose propylene glycol ether;
methyl hydroxypropylcellulose;
Metolose; MHPC; Pharmacoat;
Tylopur; Tylose MO.
Kelas fungsional : emulsifying agent
Konsentrasi :
RM : CH3CH(OH)CH2
BM : 10 000–1 500 000
Pemerian : Warna : putih atau putih krem
Rasa : tidak berasa
Bau : tidak berbau
Bentuk : bubuk berserat atau butiran

Kelarutan : Larut dalam air dingin, membentuk koloid kental larutan; praktis tidak larut
dalam air panas, kloroform, etanol (95%), dan eter, tetapi larut dalam campuran
etanol dan diklorometana, campuran metanol dan diklorometana, dan campuran
air dan alkohol. Tingkat hipromelosa tertentu dapat larut dalam larutan aseton
berair, campuran dari diklorometana dan propan-2-ol, serta pelarut organik
lainnya. Beberapa nilai dapat membengkak dalam etanol.

pKa dan pH larutan : -/ 5.0–8.0 untuk larutan berair 2% b / b


Titik lebur : Coklat pada 190–2008°C
Informasi lain : Larutan berair relatif tahan enzim, memberikan stabilitas viskositas yang baik
selama penyimpanan jangka panjang. Namun, larutan berair rentan terhadap
pembusukan mikroba dan seharusnya begitu diawetkan dengan pengawet
antimikroba: bila ada hipromelosa digunakan sebagai agen peningkat viskositas
dalam larutan oftalmik, benzalkonium klorida biasanya digunakan sebagai
pengawet. Larutan berair juga dapat disterilkan dengan autoklaf; itu polimer
yang terkoagulasi harus disebarkan kembali saat pendinginan dengan cara
diguncang.
Stabilitas : Serbuk hipromelosa merupakan bahan yang stabil, meskipun bersifat
higroskopis setelah dikeringkan. Larutan stabil pada pH 3-11. Hypromellose
mengalami a transformasi sol-gel yang dapat dibalik setelah pemanasan dan
pendinginan, masing-masing. Suhu gelasi adalah 50–908°C, tergantung
berdasarkan kelas dan konsentrasi material. Untuk suhu di bawah suhu gelasi,
viskositas larutan menurun saat suhu meningkat. Di luar suhu gelasi, viskositas
meningkat dengan meningkatnya suhu.

Inkompatibilitas : Hipromelosa tidak sesuai dengan beberapa oksidator. Sejak itu nonionik,
hipromelosa tidak akan kompleks dengan garam logam atau ionic organik untuk
membentuk endapan yang tidak larut.

Penanganan : -

Toksisitas : Hipromelosa umumnya dianggap sebagai bahan yang tidak beracun dan tidak
menimbulkan iritasi. WHO belum menentukan asupan harian yang dapat
diterima untuk hipromelosa karena tingkat yang dikonsumsi tidak dianggap
membahayakan kesehatan. Faktanya, dosis tinggi hipromelosa sedang diselidiki
untuk mengobati berbagai sindrom metabolik. meskipun konsumsi oral yang
berlebihan dapat menyebabkan efek pencahar.

Saran penyimpanan : Bubuk hipromelosa sebaiknya disimpan di tempat tertutup dengan baik wadah,
di tempat yang sejuk dan kering.
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi Gelas
beaker, gelas ukur, erlenmeyer, pipet tetes, batang pengaduk, cawan
porselin, sendok tanduk, kertas perkamen, tissue, kompor listrik.

III.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini Tween 80,
Na,CMC, nipagin, sukrosa, tartazin, oleum citri, aquadest.

III.2 Cara Kerja


1. Dikalibrasi botol
2. Ditimbang bahan sesuai perhitungan
3. Dibuat mucilage Na CMC (1,5 g Na CMC ditabur dalam 40ml
aquadest panas, diamkan 15 menit, campurkan ad homogen)
4. Dilarutkan nipagin dalam aquadest panas
5. Buat larutan sukrosa
6. Gerus kloramfenikol, tambahkan tweet 80
7. Dimasukkan campuran kloramfenikol + tween 80 ke mucilage Na
CMC
8. Tambahkan sukrosa, tartrazine, oleum citri pada campuran 7
9. Masukkan dalam botol, cukupkan volumenya.

BAB IV
PEMBAHASAN
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat dalam
bentuk halus yang tidak larut, tapi terdispersi dalam cairan. Zat yang
terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok
secara perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali.
Suspensi umumnya mengandung zat tambahan untuk menjamin
stabilitasnya, sebagai stabilator dapat dipergunakan bahan-bahan disebut
emulgator (Joenoes, 1990)
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase.
Fase kontinu atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semipadat,
dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel-partikel kecilyang
pada dasarnya tidak larut, tapi terdispersi selruhnya dalam fase kontinu
(Lieberman, 1994).
Sediaan cair suspensi memiliki keuntungan yaitu rasanya yang
lebih enak juga dapat meningkatkan absorpsi obat sehingga dapat
meningkatkan bioavailabilitas dari obat (Hussein et al., 2009 )Selain itu,
ada beberapa alasan lain pembuatan suspensi oral untuk banyak pasien
yaitu bentuk cair lebih disukai daripada bentuk padat (tablet atau kapsul
dari obat yang sama), mudahnya menelan cairan, mudahdiberikan untuk
anak-anak juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak (Ansel,
2008).
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan suspensi kloramfenikol.
Kloramfenikol digunakan sebagai zat aktif karena kloramfenikol
merupakan antibiotik yang bersifat tidak larut dalam air maka akan dibuat
sediaan suspensi. Suspensi yang stabil harus tetap homogen, partikel
benarbenar terdispersi dengan baik dalam cairan, zat yang terdispersi
harus halus dan tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok endapanharus
cepat terdispersi kembali (Priyambodo, 2007).
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan
suspensi kloramfenikol palmitat adalah Tween 80 2%, Na CMC.1%,
Nipagin. 0.2%, Sukrosa30%, TartrazinQs, Oleum citriQs, Aquadestad 150
ml.
Pengawet digunakan untuk mencegah kerusakan dan kontaminasi
terhadap mikroorganisme adalah nipagin, Tween 80 digunakan sebagai
surfaktan yang membantu stabilitas suspensi, dan CMC-Na yang
merupakan suspending agent yang dapat meningkatkan viskositas serta
dapat meningkatkan kestabilan dari suspensi yang dihasilkan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, selanjutnya
dilakukan uji evaluasi terhadap kestabilan fisik dari sediaan suspensi. Uji
evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptik, uji pH dan uji viskositas.
Pada evaluasi uji Organoleptis Dilakukan dengan menilai
perubahan rasa, warna, dan bau. (Sana et al., 2012). Berdasarkan hasil
uji evaluasi didapatkan hasil pada uji organoleptik adalah sediaan memiliki
bentuk cairan, rasa manis, aroma jeruk dan warna kuning. Penggunaan
pewarna dan perasa agar didapatkan sediaan suspensi yang memiliki
warna yang menarik dan menutupi rasa yang tidak enak.
Pada Evaluasi Uji pH dilakukan untuk mengetahui derajat
keasaman suatu zat dengan standart pH lambung antara 5-7.Didapatkan
hasil bahwa suspensi dalam keadaan asam karena bahan obat yang
digunakan yaitu kloramfenikol sendiri mempunyai pH yang asam juga
yaitu antara 4,5 sampai 7. Dari hasil evaluasi didapatkan pH sediaan
adalah 5, dan ini juga sesuai dengan syarat Farmakope Indonesia edisi
IV, yaitu ph klorampenikol palmitas suspensi oralis adalah 4,3 – 7,0.Hal ini
dapat diartikan bahwa kloramfenikol stabil secara kimia pada suasana
asam dan dapat memberikan efek terapi yang diinginkan dikarenakan
dapat diabsorpsi dengan baik oleh lambung
Pada evaluasi Uji Viskositas dilakukan untuk
mengetahuikekentalan. Viskositas yang terlalu tinggi dapat berpengaruhi
pada masalah penuangan suspensi dari wadah dan sulitnya sediaan
untuk terdispersi kembali.
Kestabilan fisik dari suspensi sendiri bisa didefinisikan sebagai
keadaan dimana partikel tidak menggumpal dan tetap terdistribusi merata
di seluruh sistem dispersi. Karena keadaan yang ideal jarang menjadi
kenyataan, maka perlu untuk menambah pernyataan bahwa jika partikel-
partikel tersebut mengendap, maka partikel-partikel tersebut harus dengan
mudah disupensi kembali dengan sedikit pengocokan saja (Martin, et al.,
1993).

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah
1. Dalam percoban ini dilakukan formulasi suspensi dengan sifat zat
aktifnya mengarah ke non polar, basis yang digunakan yaitu basis
lemak, dengan penambahan bahan tambahan seperti tween 80
sebagai emulgator, tartrazine sebagai pewarna, oleum citri sebagai
pengaroma, sucralose sebagai pemanis, metil praben sebagai
pengawet, aquadest sebagai pelarut. Pemilihan bahan tambahan
didasarkan pada sifat fisika-kimia dan inkompatibilitas dari zat aktif
2. Sediaan suspense pada praktikum ini dilakukan dengan
menggunakan metode dispersi, dimana serbuk yang terbagi halus
didispersi dalam cairan pembawa. Umumnya yang digunakan
sebagai sebagai pembawa yaitu air.
3. Hasil evaluasi suspense yang didapatkan memenuhi standar
evaluasi.

V.2 Saran
Diharapkan kedepannya peralatan dan bahan yang berhubungan
dengan pembuatan formulasi suatu sediaan dapat dilengkapi sehingga
dapat melancarkan jalannya praktikum.
A. LAMPIRAN HASIL EVALUASI
1. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemerian

Parameter Spesifikasi Hasil


Pemerian Larutan tidak Larutan berwarna
berwarna, jernih, kuning rasa
rasa manis, dan manis, dan
tidak berbau berbau jeruk

b. Nilai pH

Parameter Spesifikasi Hasil


pH 4,5-7 5

c. Viskositas

Parameter Spesifikasi Hasil


Viskositas 50-100cps 10

B. LAMPIRAN KEMASAN
ETIKET

WADAH
BROSUR
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan
oleh Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, Jakarta,
UI Press.
Anief, M, 2000, Farmasetika, 2000, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Departemen Kesehatan RI, 2014. Farmakope Indonesia Edisi V.
Kementerian Kesehatan RI: Jakarta
Fatmawaty, A., Nisa, M., & Riski, R. 2015. Teknologi Sediaan Suspensi.
Yogyakarta: Deepublish
Joenes, N.Z. 2003. ARS Prescribendi Resep yang Rasional. Surabaya:
Airlangga University Press
Lachman, L., & Lieberman, H. A., 1994, Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Edisi Kedua. UI Press, Jakarta.
Sweetman S,et al. 2009. Martindale 36 th. The Pharmaceutical, Press:
London.
Ansel Ph.D., H. C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi
Keempat. Dalam H. C. Ansel Ph.D., Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi Edisi Keempat (hal. Hal:359-360). Jakarta: Universitas
Indonesia.
Joenes,N.,Z. 1990. Ars Prescribendi “Resep Yang Rasional”. Airlangga
Universiy: Surabaya
Lieberman,H.A., Lachman,L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri
Edisi 2. UI Press: Jakarta
Martin, A., Swarbick, J., dan A. Cammarata. 1993. FarmasiFisik 2. Edisi
III. Jakarta: UI Press.
Priyambodo, B., (2007). ManajemenFarmasiIndustri. Yogyakarta : Global
Pustaka. Utama.