JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT (JAMKESMAS

)

I.

Latar Belakang Pasal 33 UUD Negara RI Tahun 1945 mengamanatkan penyelenggaraan jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Pasal 34 ayat (2) juga mengamanatkan bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu, sesuai dengan martabat kemanusiaan. Kemudian Pasal 28 H UUD Negara RI Tahun 1945 dan UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Sebagai pelaksanaan Pasal 28H, Pasal 33, dan Pasal 34 ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 serta UU No. 23 Tahun 1992, maka dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), telah menggariskan bahwa Jaminan Kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip Asuransi Sosial dan prinsip ekuitas. Pasal 19 UU ini menyebutkan bahwa jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Selanjutnya Pasal 17 ayat (4) menegaskan bahwa iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar oleh pemerintah. Pada akhir tahun 2004, Pemerintah mengeluarkan suatu program kebijakan sebagai salah satu model dari sistem jaminan sosial khususnya dalam bidang kesehatan, yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (PJKMM) yang diberlakukan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (SK Menkes RI) No. 1241/Menkes/SK/XI/2004 dimana pemerintah menunjuk PT Askes (persero) Sebagai Badan Pelaksana (Bapel) Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin. Surat keputusan tersebut diperkuat dengan SK Menkes RI No. 56/Menkes/SK/I/2005 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (PJKMM) Tahun 2005, sehingga PT Askes (Persero) mengemban tugas baru sebagai pengelola program PJKMM disamping tugas yang telah ada sebagai institusi yang mengelola jaminan pembiayaan kesehatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Program PJKMM ini merupakan kebijakan yang relatif berbeda dengan kebijakan-kebijakan pemerintah sebelumnya yang bertujuan hampir sama. Sebelum PJKMM telah diberlakukan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) tahun 1998 – 2002 dengan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang diluncurkan untuk mengatasi dampak buruk krisis ekonomi tahun 1997 terhadap derajat kesehatan keluarga miskin (gakin). Program JPSBK dilanjutkan dengan Program Penanggulangan Dampak

Sie Infokum – Ditama Binbangkum

1

Kenyataannya. 3. sedangkan daerah lain melaksanakan PKPS BBM dengan dana yang disalurkan langsung ke rumah sakit. Askes (persero) sebagai Badan pelaksana (Bapel) PJKMM. Masalah perbedaan jumlah gakin antara hasil pendataan BPS dengan data yang tersedia di daerah tersebut berkaitan dengan masalah kriteria gakin. adanya kontribusi dana dari daerah (APBD). paket pelayanan kesehatan dasar. Askes. penyaluran dan pendayagunaan dana serta pemanfaatan pelayanan gakin di PPK. Program-program tersebut bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan dengan meningkatkan pelayanan kesehatan gakin. Jumlah tersebut menjadi dasar PT. mekanisme pendataan. puskesmas dan bidan di desa 3 (BDD). 1241/Menkes/SK/XI/2004 tersebut di berbagai daerah menimbulkan kebingungan bagaimana menjamin pemeliharaan kesehatan maskin yang tidak tercakup dalam quota PT. Pada saat itu dilakukan uji coba Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin) di 3 provinsi dan 13 kabupaten. Pelaksanaan PJKMM Berdasarkan pendataan BPS tahun 2004. sebagian besar kabupaten/kota memiliki gakin jauh lebih banyak dari yang ditetapkan sesuai data BPS tersebut di atas. Dalam JPK Gakin ada beberapa ketentuan yaitu: 1. jumlah masyarakat miskin di Indonesia sebesar 36. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 2 .Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan (PDPSE Bidkes) untuk pelayanan rujukan/rumah sakit bagi gakin yang diberlakukan pada tahun 2001 dan 2002. Dalam model JPK Gakin penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilakukan dengan ikatan kerja antara Dinas Kesehatan provinsi/kabupaten/kota dengan pengelola JPK Gakin dan PPK. Pemerintah menunjuk PT.700 jiwa. maka Program PJKMM lebih terfokus pada upaya kuratif (menyembuhkan) dan untuk itu maka berdasarkan Peraturan Menkes No. pengelola bertanggung jawab pada administrasi dan manajemen JPK Gakin. pembayaran kepada rumah sakit dan puskesmas berdasarkan perhitungan kapitasi yang disepakati berdasarkan data gakin yang telah diverifikasi. verifikasi dan pemutakhiran data. 2. Selama ini askes wajib PNS II. Dalam Penjelasan Umum UU No. dan 4. Berbeda dengan program-program sebelumnya yang jenis kegiatannya lebih luas dan bersifat komprehensif serta melibatkan institusi kesehatan di daerah (Dinas Kesehatan dan jajarannya). Askes dalam menetapkan quota masyarakat miskin (maskin) yang akan dijamin oleh program.146. Pengelola JPK Gakin memantau keberadaan gakin. sehingga pada awal penerapan SK Menkes No. 1241/Menkes/SK/XI/2004. Tahun 2003 pelayanan dasar dan rujukan untuk gakin ini diubah menjadi Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan (PKPS BBM Bidkes). 40 Tahun 2004 tentang SJSN disebutkan bahwa penyelenggara jaminan sosial tidak berorientasi pada keuntungan dan mendasarkan pada prinsip nirlaba.

maka disepakati bahwa PT Askes akan mengelola secara terpisah dana PJKMM tersebut dari dana yang dihimpun berasal dari askes sosial PNS dan askes komersial dan berprinsip nirlaba. Dana program dialokasikan untuk dana pelayanan kesehatan sebesar 95% (terdiri dari dana pelayanan kesehatan langsung 90% dan dana pelayanan kesehatan tidak langsung 5%) serta dana kegiatan penunjang sebesar 5%. Askes (Persero) sebagai bapel melakukan administrasi pengelolaan dana program secara tersendiri dengan prinsip nirlaba. SIM dan pencatatan/pelaporan program. Kegotongroyongan. menganut prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 3 . mengacu pada prinsip dasar managed care dan dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. akuntabilitas. ditetapkan dengan peraturan perundangan. Kepesertaan bersifat wajib dan tidak selektif. sehingga terjadi pooling of risk dan menciptakan subsidi silang. Untuk mengatasi kekhawatiran yang mungkin timbul. dan yang berisiko tinggi dan rendah. untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta. Menjamin adanya azas ekuitas yaitu kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan medisnya yang tidak terikat dengan besaran iuran yang dibayarkannya. Penyelenggaraannya bersifat nirlaba dan merupakan dana amanah. meliputi : a. sesuai dengan ketentuan dalam UU No. Iuran berdasarkan prosentase upah/penghasilan. Pelayanan kesehatan bersifat komprehensif (promotif. 2. biaya administrasi. yang sehat dan sakit. kuratif dan rehabilitatif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang cost effective dan rasional. d. yang tua dan muda. antara yang kaya dan miskin. akan menjadi sumber dana tahun berikutnya untuk peningkatan pelayanan kesehatan kepada gakin. Prinsip nirlaba diartikan bahwa apabila setelah dilakukan audit terdapat Sisa Hasil Usaha (SHU). 3. c. Secara normatif. serta bunga bank sepenuhnya menjadi sumber dana untuk pelayanan kesehatan. likuiditas dan solvabilitas. transparansi.yang dikelola PT. dilaksanakan secara bertahap. Penyelenggaraannya berdasarkan prinsip asuransi sosial. Bila terdapat kekurangan dana akan diperhitungkan pada tahun berikutnya. b. preventif. PT. Dana kegiatan penunjang terdiri dari dana-dana untuk persiapan pelaksanaan program. sesuai dengan kesiapan dari berbagai aspek. Daftar dan harga tertinggi obat-obatan serta bahan medis habis pakai. 40 Tahun 2004 tentang SJSN. 4. Administrasi kartu merupakan bagian dana pelayanan kesehatan tidak langsung. penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional termasuk program PJKMM. Askes membebankan urun bayar (cost sharing) bagi peserta PNS serta pembatasan yang lain. Kekhawatiran yang lain yaitu jaminan maskin ini dimanfaatkan oleh mereka yang tidak miskin atau gakin tidak dapat memanfaatkan jaminan karena tidak terdata atau tidak dapat akses ke pelayanan kesehatan.

Premi peserta oleh pemerintah dianggarkan melalui DIPA Departemen Kesehatan dalam APBN. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. transparansi dan akuntabiltas.” Sie Infokum – Ditama Binbangkum 4 .5. Pengelolaan dana bersifat transparan. maka pada tahun 2008 dilakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan JPKMM.1 juta Rumah Tangga Miskin (RTM) atau sebanyak lebih kurang 76. efisien dan efektif. Ditetapkan pula bahwa pengelolaan dana pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya disalurkan langsung ke Puskesmas. rujukan rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit semuanya dikelola oleh PT. peningkatan mutu. Perubahan pengelolaan program tersebut adalah dengan pemisahan fungsi pengelola dengan fungsi pembayaran. III.” Selain itu berdasarkan Pasal 34 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 dinyatakan bahwa “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. dengan menganut prinsip kehati-hatian. termasuk pembayaran klaim dilaksanakan oleh Depkes. Dasar Hukum Program Jamkesmas dilaksanakan sebagai amanat Pasal 28 H ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945. Askes. Askes (Persero). ditetapkan bahwa pengelolaan dana pelayanan kesehatan rujukan rawat jalan dan rawat inap kelas III RS dilakukan oleh PT. Ditetapkan pula bahwa iuran bagi masyarakat miskin dan orang terlantar dibayar oleh Pemerintah. yang menyatakan bahwa ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Nama program tersebut juga berubah menjadi Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Mulai bulan Juli 2005 (sampai dengan 31 Desember 2005). serta mengingat keterbatasan pendanaan. Sebelumnya (semester pertama tahun 2005) ditetapkan bahwa baik RJTP. dengan jumlah target peserta tetap sebanyak 19. Pelaksanaan pelayanan kesehatan dan pengelolaan keuangan. 1202/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) di Puskesmas dan jaringannya. pengelolaan biaya pelayanan kesehatan untuk gakin di pelayanan tingkat pertama (Puskesmas dan jaringan pelayanan dibawahnya) dilakukan kembali oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota dengan penunjukan nama pemegang rekening di Puskesmas. akuntabel. bertempat tinggal. Hal tersebut atas dasar pertimbangan untuk mengendalikan pelayanan kesehatan.4 juta jiwa. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Setelah dilakukan evaluasi dan dalam rangka efisiensi dan efektivitas. maka pengelolaan program Jamkesmas tahun 2008 dilakukan langsung oleh Departemen Kesehatan. yang didukung dengan penempatan tenaga verifikator di setiap rumah sakit. Rujukan Rawat Jalan dan Rawat Inap kelas III Rumah Sakit yang dijamin Pemerintah. Selanjutnya Pemerintah melalui Depkes mengatur kembali pelaksanaan PJKMM dengan menerbitkan SK Menkes No.

1 juta Rumah Tangga Miskin (RTM) atau sekitar 76. 2. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Kepesertaan Jamkesmas Peserta Program Jamkesmas adalah setiap orang miskin dan tidak mampu yang terdaftar dan memiliki kartu dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Jumlah tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Sedangkan asuransi sosial penyelenggaranya adalah BUMN atau suatu badan yang ditunjuk oleh pemerintah. dan dalam penyelenggaraannya ada intervensi pemerintah baik dalam menetapkan tarif maupun menentukan jenis layanan termasuk kepesertaannya. UU No. Berdasarkan Jumlah Sasaran Nasional tersebut Menkes membagi alokasi sasaran kuota Kabupaten/Kota. UU No. dan 5.Dasar hukum penyelenggaraan program Jamkesmas adalah: 1. Pemerintah berperan sebagai penanggung anggota masyarakat. Administrasi kepesertaan Jamkesmas meliputi: registrasi. dimana basis utamanya adalah regulasi bukan respon pasar sehingga tidak mencari laba (not for profit). UU No. Dalam program Jamkesmas tersebut.4 juta jiwa. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. peserta yang merupakan penduduk miskin dan hampir miskin dibayarkan preminya oleh negara. Menteri Kesehatan (Menkes) memiliki kekuasaan pengelolaan keuangan negara di bidang kesehatan. yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara nasional oleh Menkes. Pemerintah menggunakan dana yang berasal dari APBN untuk membayar premi peserta. Anggota masyarakat diwajibkan membayar iuran yang berfungsi sebagai premi. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Jumlah sasaran peserta sebesar 19. Jika melihat sejarahnya asuransi dapat dipakai pemerintah suatu negara untuk memberikan jaminan sosial (social security) bagi rakyatnya. Bantuan sosial tersebut direalisasikan dalam bentuk Jaminan Kesehatan yang penyelenggaraannya dalam skema asuransi sosial. penerbitan dan pendistribusian kartu kepada peserta. UU No. Untuk administrasi kepesertaan Sie Infokum – Ditama Binbangkum 5 . nama dan alamat peserta dalam bentuk Keputusan Bupati/Walikota. Secara umum asuransi kesehatan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu asuransi komersial (sukarela) dan asuransi sosial (wajib). UU No. Penyelenggara asuransi komersial biasanya adalah swasta murni. 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. Bupati/Walikota wajib menetapkan peserta Jamkesmas Kabupaten/Kota dalam satuan jiwa berisi nomor. dan anggota masyarakat berkedudukan sebagai tertanggung. 3. dan dalam menentukan premi dilakukan oleh badan penyelenggara atau pihak asuransi itu sendiri dan berbasis pada kepesertaan sukarela yang tujuannya adalah mencari laba (for profit). dan pengelolaan keuangan tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan sosial yang diberikan kepada masyarakat untuk melindungi resiko sosial. 4.

2. kemudian dilakukan entry oleh PT Askes (Persero) untuk menjadi database kepesertaan di Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi dan Kabupaten/Kota serta rumah sakit setempat. Gubernur. Pelayanan rawat jalan lanjutan diberikan di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). RS TNI/POLRI Sie Infokum – Ditama Binbangkum 6 . Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) dan pelayanan gawat darurat. PT Askes (Persero) melaporkan hasil pendistribusian kartu peserta kepada Bupati/Walikota. PT Askes (Persero) menyerahkan kartu peserta kepada yang berhak. 3. Pelayanan rawat inap diberikan di Puskesmas Perawatan dan ruang rawat inap kelas III (tiga) di RS Pemerintah termasuk RS Khusus. Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM). dan 5. Entry data setiap peserta. 2. serta pelayanan kesehatan rujukan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL). Depkes. dengan kewajiban melakukan langkahlangkah sebagai berikut: 1. Data peserta yang telah ditetapkan Pemda.Depkes menunjuk PT Askes (Persero). Pelayanan rawat jalan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan jaringannya. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan didistribusikan kepada peserta. Pelayanan kesehatan dalam program Jamkesmas menerapkan pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. 4. mengacu kepada penetapan Bupati/Walikota dengan tanda terima yang ditanda tangani/cap jempol peserta atau anggota keluarga peserta. BKPM/BP4/BKIM dan rumah sakit (RS). Berikut bagan alur kepesertaan Jamkesmas : Tata Laksana Pelayanan Kesehatan Setiap peserta Jamkesmas berhak mendapat pelayanan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan Rawat Jalan (RJ) dan Rawat Inap (RI).

Pelayanan Rawat Inap kelas III di Rumah Sakit. Apabila peserta Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan rujukan. penunjang diagnostik. Pada keadaan gawat darurat (emergency) seluruh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) wajib memberikan pelayanan kepada peserta walaupun tidak memiliki perjanjian kerjasama. BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM. sehingga dokter berkewajiban melakukan penegakan diagnosa sebagai dasar pengajuan klaim. serta pelayanan RI di Rumah Sakit yang mencakup tindakan. 3. maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan. pelayanan darah serta pelayanan lainnya (kecuali pelayanan haemodialisa) dilakukan secara terpadu sehingga biaya pelayanan kesehatan diklaimkan dan diperhitungkan menjadi satu kesatuan menurut jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas Tahun 2008. Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas nama Menkes membuat perjanjian kerjasama (PKS) dengan RS setempat. peserta harus menunjukkan kartu yang keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat.dan RS Swasta yang bekerjasama dengan Departemen Kesehatan. Penggunaan SKTM hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya. dan 5. 2. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya. 2. Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan RS peserta harus menunjukkan kartu peserta. 3. Pelayanan tersebut meliputi : 1. kecuali pada kasus emergency. pelayanan obat. yang diketahui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi meliputi berbagai aspek pengaturan. 4. sebagai berikut: 1. Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. atau penggunaan sistem INA-DRG (apabila sudah diberlakukan). 3. Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostic. Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di Rumah Sakit. Bila berkas Sie Infokum – Ditama Binbangkum 7 . Penggantian biaya pelayanan kesehatan diklaimkan ke Departemen Kesehatan melalui Tim Pengelola Kabupaten/Kota setempat setelah diverifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada program ini. Pelayanan obat-obatan. 4. RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM melaksanakan pelayanan rujukan lintas wilayah dan biayanya dapat diklaimkan oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) yang bersangkutan ke Depkes. Pelayanan kesehatan RJTL di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan di Rumah Sakit.

c. Persalinan normal yang dilakukan di Puskesmas non-perawatan/bidan di desa/Polindes/dirumah pasien/praktek bidan swasta. 3) Penunjang diagnostik: laboratorium klinik. Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL). dilaksanakan pada Puskesmas yang menyediakan pelayanan spesialistik. dilaksanakan pada Puskesmas Perawatan. pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis/umum. 4) Pemeriksaan dan pengobatan gigi. dan 9) Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan penyulit. bayi dan balita. meliputi pelayanan : 1) Akomodasi rawat inap. Pelayanan kesehatan komprehensif tersebut meliputi antara lain: 1. kecuali beberapa hal yang dibatasi dan tidak dijamin. Pelayanan gawat darurat (emergency). dan feses rutin). 7) Pemberian obat yang mengacu pada Formularium Rumah Sakit. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 8 . radiologi dan elektromedik. 6) Pelayanan KB. dilaksanakan pada Puskesmas dan jaringannya baik dalam maupun luar gedung meliputi pelayanan : 1) Konsultasi medis. 8) Pelayanan darah. penyembuhan efek samping dan komplikasinya (alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN). BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM meliputi: 1) Konsultasi medis. poliklinik spesialis RS Pemerintah. 5) Pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui. pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Jaringannya. 2) Konsultasi medis. pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan. dan 6) Persalinan normal dan dengan penyulit (PONED). dan 7) Pemberian obat. a. 3) Laboratorium sederhana (darah. Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP). kontap pasca persalinan/keguguran. dan feses rutin). petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP). b. 2. d.sudah lengkap. termasuk cabut/tambal. 3) Tindakan medis kecil. urin. urin. dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan kesehatan. 2) Laboratorium sederhana (darah. 4) Tindakan medis kecil. termasuk kontap efektif. 5) Pemeriksaan dan pengobatan gigi tingkat lanjutan. 5) Pemberian obat. Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP). 4) Tindakan medis kecil dan sedang. Pelayanan kesehatan di RS dan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM a. 2) Rehabilitasi medik. Pada dasarnya manfaat yang disediakan untuk masyarakat miskin bersifat komprehensif sesuai indikasi medis. 6) Pelayanan KB dan penanganan efek samping (alat kontrasepsi disediakan BKKBN).

berdasarkan resep dokter. meliputi: a. Rangkaian pemeriksaan. meliputi : 1) Akomodasi rawat inap pada kelas III. Intra Ocular Lens (IOL) diberi penggantian sesuai resep dari dokter spesialis mata. Bahan.b. f. b. dan e. Pelayanan kesehatan pada masa tanggap darurat bencana alam. 3) Penunjang diagnostik: laboratorium klinik.000. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada kegiatan bakti sosial. b. pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan. 10) Bahan dan alat kesehatan habis pakai. Prothesis gigi tiruan. Alat bantu dengar diberi penggantian sesuai resep dari dokter THT. 4. 7) Perawatan intensif (ICU.. NICU. radiologi dan elektromedik. d. dan korset) diberikan berdasarkan resep dokter dan disetujui Direktur Rumah Sakit atau pejabat yang ditunjuk dengan mempertimbangkan alat tersebut memang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi dalam aktivitas sosial peserta tersebut. Pelayanan Yang Tidak Dijamin (Exclusion). 4) Tindakan medis. pengobatan tradisional) dan pengobatan lain yang belum terbukti secara ilmiah. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 9 . Pelayanan yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan. alat dan tindakan yang bertujuan untuk kosmetika. berdasarkan harga yang paling murah dan ketersediaan alat tersebut di daerah. General check up. Kacamata diberikan dengan lensa koreksi minimal +1/-1 dengan nilai maksimal Rp 150. ICCU. 2) Konsultasi medis. Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL). kursi roda. 8) Pemberian obat mengacu Formularium RS program Jamkesmas. c. 6) Pelayanan rehabilitasi medis. c. meliputi: a. c. e. Pelayanan ini diberikan hanya pada kasus-kasus ‘life-saving’ dan kebutuhan penegakkan diagnosa yang sangat diperlukan melalui pengkajian dan pengendalian oleh Komite Medik. Pengobatan alternatif (antara lain akupunktur. Pemilihan alat bantu gerak berdasarkan harga yang paling efisien dan ketersediaan alat tersebut di daerah. Pelayanan penunjang diagnostik canggih. Pelayanan gawat darurat (emergency). dan 11) Persalinan dengan risiko tinggi dan penyulit (PONEK). d. pemilihan alat Bantu dengar berdasarkan harga yang paling murah dan ketersediaan alat tersebut di daerah. pengobatan dan tindakan dalam upaya mendapat keturunan. 3. Pelayanan Yang Dibatasi (Limitation). dilaksanakan pada ruang perawatan kelas III RS Pemerintah. Alat bantu gerak (tongkat penyangga. g. 5) Operasi sedang dan besar. termasuk bayi tabung dan pengobatan impotensi. PACU). dan h. 9) Pelayanan darah. PICU.

Sie Infokum – Ditama Binbangkum 10 . Pos Indonesia. dan 6. Selisih harga diluar jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan tahun 2008. Dana yang digunakan untuk penyelenggaraan Program Jamkesmas merupakan dana bantuan sosial dimana dalam pembayaran kepada rumah sakit dalam bentuk paket. Pemerintah Daerah berkontribusi dalam menunjang dan melengkapi pembiayaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di daerah masing-masing. 5. 4. Khusus untuk BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM pembayaran paket disetarakan dengan tarif paket pelayanan rawat jalan dan atau rawat inap rumah sakit dan peserta tidak boleh dikenakan iuran biaya dengan alasan apapun. Pendamping pasien rawat inap. Menanggulangi kekurangan dana operasional Puskesmas. Dana manajemen operasional. Penyaluran Dana ke PPK 1. 2. 2. dan 2. 3. Penanggungan biaya transportasi pendamping pasien rujukan. Dana program dialokasikan untuk membiayai kegiatan pelayanan kesehatan dan manajemen operasional Program Jamkesmas dengan rincian sebagai berikut : 1. Puskesmas Dana untuk Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin di Puskesmas dan jaringannya disalurkan langsung dari Depkes (cq. dengan berdasarkan klaim yang diajukan. Dana Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin di Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK). Rumah Sakit/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM Dana untuk Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin di Rumah Sakit/BKMM/ BBKPM/BKPM/BP4/BKIM disalurkan langsung dari Departemen Kesehatan melalui Kas Negara (KPPN) ke rekening Bank Rumah Sakit/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM berdasarkan jumlah klaim rata-rata perbulan tahun sebelumnya. Sedangkan biaya transportasi rujukkan dari puskesmas ke RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM ditanggung oleh biaya operasional Puskesmas. Biaya transportasi rujukan dan rujukan balik pasien maskin dari RS Kabupaten/Kota ke RS yang dirujuk. Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat) ke Puskesmas melalui pihak PT. Masyarakat miskin yang tidak masuk dalam pertanggungan kepesertaan Jamkesmas.Tata Laksana Pendanaan Sumber Dana berasal dari APBN sektor Kesehatan Tahun Anggaran 2008 dan kontribusi APBD. Adapun kontribusi Pemda sebagai berikut: 1.

Puskesmas Pembayaran ke Puskesmas dan jaringannya harus dipertanggung jawabkan dengan dilakukan verifikasi pelayanan meliputi: RJTP (jumlah kunjungan dan rujukan). 2. Pembayaran Dan Pertanggungjawaban Dana di PPK 1. dimanfaatkan untuk membiayai: 1) Dana pelayanan kesehatan dasar yang meliputi: a) Biaya pelayanan dalam dan luar gedung. Setiap pengambilan dana dari rekening Puskesmas harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan POA yang telah disusun sebagaimana dimaksud pada huruf a. Puskesmas membuat Plan Of Action (POA) yang telah dibahas dan disepakati sebelumnya pada forum lokakarya mini Puskesmas. Transportasi Rujukan. sambil menunggu kesiapan INA-DRG. b. dan b) Biaya pelayanan nifas. Tahapan pembayaran pelayanan kesehatan ke Rumah Sakit adalah : Sie Infokum – Ditama Binbangkum 11 . f) Biaya jasa pelayanan dokter spesialis dan penggunaan peralatan penunjang spesialistik. Puskesmas a. Pelayanan Spesialistik oleh Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota. b. Persalinan. 2. Dana yang diterima Puskesmas. disetujui untuk dibayar oleh Depkes. c. RITL. Tarif Paket program Jamkesmas 2008 (Menurut INA-DRG). Rumah Sakit/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM Rumah Sakit menerima pembayaran setelah klaim yang diajukan. Klaim Rumah Sakit tahun 2008 berdasarkan : a.. Paket klaim tersebut diajukan oleh Rumah Sakit meliputi Peleyanan Kesehatan RJTL. 2) Dana pertolongan persalinan: a) Biaya pertolongan persalinan. RITP. c) Biaya transportasi petugas. Jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan tahun 2008 (dalam masa transisi). Rumah Sakit/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM Prosedur pembayaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit/BKMM/ BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dilakukan secara bertahap. d) Biaya rawat inap. obat dan penunjang.Pencairan dan Pemanfaatan Dana di PPK 1. dan g) Biaya transport dan petugas kesehatan pendamping untuk rujukan. b) Biaya jasa pelayanan kesehatan. e) Biaya penanganan komplikasi kebidanan dan neonatal di Puskesmas PONED.

b. Persalinan. dan pengiriman spesimen. c. Pembayaran Dana Luncuran ke dua Dilakukan berdasarkan klaim RS yang sudah di verifikas oleh verifikator. Yakni pemberian dana awal selama dua bulan yang diperhitungkan dari rata-rata biaya pelayanan tahun sebelumnya. dan 3. Verifikasi adalah kegiatan penilaian administrasi klaim yang diajukan PPK yang dilakukan oleh Pelaksana Verifikasi dengan mengacu kepada standar penilaian klaim. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 12 . verifikasi administrasi kepesertaan.a. RITP. administrasi keuangan. transportasi dan lainnya) di laksanakan oleh Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota. BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dilaksanakan oleh Pelaksana Verifikasi. sementara pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Rumah Sakit. Tujuan dilaksanakannya verifikasi adalah diperolehnya hasil pelaksanaan program Jamkesmas yang menerapkan prinsip kendali biaya dan kendali mutu. verifikasi terhadap pelayanan di Puskesmas (RJTP. 2. Verifikasi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat meliputi: 1. Pembayaran Dana luncuran Pertama (awal) tahun 2008. administrasi pelayanan. Berikut adalah bagan alur penyaluran dana Jamkesmas : Verifikasi Dalam pelayanan kesehatan bagi peserta Jamkesmas yang dilakukan oleh PPK dilakukan verifikasi. Tiap-tiap RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM akan ditempatkan pelaksana verifikasi yang jumlahnya diperhitungkan dari jumlah TT yang tersedia di RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan beban kerja. tetapi belum dilakukan verifikasi oleh verifikator yang dibentuk. Periode klaim Juli-Desember 2008 dasar besaran klaim RS mengacu pada Tarif Paket Jamkesmas di RS tahun 2008 (INA-DRG) yang berlaku efektif.

dengan mengacu kepada standar penilaian klaim. dan memproses klaim sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya.Pelaksana Verifikasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari di RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM berdasarkan beban kerja di bawah koordinasi Tim Pengelola JAMKESMAS Kabupaten/ Kota. Pelaksana verifikasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atas nama Menkes yang ditugaskan untuk melaksanakan penilaian administrasi klaim yang diajukan PPK. Berikut adalah bagan alur penyaluran dana berdasarkan klaim Rumah Sakit (melalui proses verifikasi): Sie Infokum – Ditama Binbangkum 13 .

Sie Infokum – Ditama Binbangkum 14 . b. Tim ini mempunyai tugas yaitu : a. Melakukan pembinaan. 1. diketuai oleh Sekretaris Utama Kementrian Kordinasi Kesejahteraan Rakyat dengan anggota terdiri dari Pejabat Eselon I Departemen terkait dan unsur lainnya. pelaksanaan program Jamkesmas. manajemen keuangan. d. pelayanan. Melakukan verifikasi. Tim Pengelola Jamkesmas Provinsi. pengawasan dan menyusun laporan pelaksanaan. manajemen pelayanan kesehatan. d. otorisasi dan realisasi pembayaran klaim. mempunyai tugas yaitu: a. c. penataan sarana pelayanan kesehatan (pemberi pelayanan kesehatan). Melakukan pembinaan dan pengendalian program. Menyusun dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas kepada Menteri Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Provinsi setempat. Mengkoordinasikan pelaksanaan verifikasi di PPK. Menyampaikan laporan pengelolaan penyelenggaraan program Jamkesmas. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam penyelenggaraan program Jamkesmas. Melakukan analisis aspek kendali biaya. Ketua dan Anggota serta Sekretariat. c. penataan sasaran.Pengorganisasian Tim Pengelola Program Jamkesmas Tim Pengelola Jamkesmas melaksanakan pengelolaan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin meliputi kegiatan-kegiatan manajemen kepesertaan. b. keuangan. 3. Melakukan telaah hasil verifikasi. perencanaan dan SDM. mempunyai tugas yaitu: a. dan c. dan e. dan b. Melaksanakan pertemuan berkala dengan pihak terkait dalam rangka evaluasi penyelenggaraan program. Melakukan manajemen kepesertaan. Tim Koordinasi Jamkesmas Pusat Terdiri dari Pelindung. Penetapan kebijakan operasional dan teknis. dan kendali mutu. b. mempunyai tugas yaitu: a. Menetapkan arah kebijakan koordinasi dan sinkronisasi Program Jamkesmas. pemantauan dan evaluasi. Tim koordinasi bersifat lintas sektor terkait. Tim Pengelola Jamkesmas Pusat. 2. dan e. hukum dan organisasi serta telaah hasil verifikasi. informasi. Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota. Menyusun pedoman teknis pelaksanaan. Tim Koordinasi Program Jamkesmas 1. Mengkoordinasikan pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin sesuai kebijakan yang sudah ditetapkan.

Tim Koordinasi Jamkesmas Provinsi Tim ini mempunyai tugas. dan b. Menetapkan arah kebijakan koordinasi Jamkesmas Tingkat Kabupaten/Kota dan sinkronisasi Program b. yaitu: a. Menetapkan arah kebijakan koordinasi dan sinkronisasi Jamkesmas yang tetap mengacu pada kebijakan pusat. Struktur Tim Koordinasi Program JAMKESMAS Tingkat Kabupaten/Kota berikut : Pelindung : Bupati/ Walikota Ketua : Sekretaris Daerah Anggota : Kadinkes Kabupaten/Kota : Asisten Kesra Sie Infokum – Ditama Binbangkum 15 . Askes (Persero) Regional/ Cabang Sekretariat Ketua : Kasubdin/Kabid yang bertanggung jawab pada program Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Staf Sekretariat : 2 orang 3. Tim Koordinasi Jamkesmas Kabupaten/Kota Tim ini mempunyai tugas. Melakukan pembinaan dan pengendalian program.Struktur Tim Koordinasi Program Jamkesmas Tingkat Pusat berikut: Pelindung : Menteri Kesehatan Ketua : Sekretaris Utama Menko Kesra Anggota : Sekjen Depkes : Sekjen Depdagri : Sekjen Depsos : Deputi Bidang SDM Bappenas : Sekjen Depkeu : Dirjen Binkesmas : Dirjen Yanmedik : Ketua Komisi IX DPR RI : Dirut PT. Askes (Persero) Sekretariat Ketua : Kepala Bagian Tata Usaha PPJK Staf sekretariat : 4 orang 2. Melakukan pembinaan dan pengendalian Program Jamkesmas Tingkat Kabupaten/Kota. Program Struktur Tim Koordinasi Jamkesmas Tingkat Propinsi berikut: Pelindung : Gubernur Ketua : Sekretaris Daerah Anggota : Kadinkes Propinsi : Asisten Kesra : Direktur Rumah Sakit : Ketua Komisi DPRD yang membidangi Kesehatan : Kepala PT. yaitu: a.

Propinsi. tentang penugasan PT Askes (Persero) dalam pengelolaan program pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat miskin. pembentukan Tim Pengelola dan Tim Koordinasi di tingkat Pusat. Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 16 . Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. Sedangkan iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar oleh pemerintah. Program ini diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan melalui penugasan kepada PT Askes (Persero) berdasarkan SK Nomor 1241/Menkes/SK/XI/2004. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya. Askes (Persero) Cabang/ AAM Sekretariat Ketua : Kasubdin/kabid yang bertanggung Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Staf Sekretariat : 2 orang Penutup UUD Negara RI Tahun 1945 dan UU No. Dalam UU No. telah menggariskan bahwa Jaminan Kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip Asuransi Sosial dan prinsip ekuitas. penempatan pelaksana verifikasi di setiap Rumah Sakit.: Direktur Rumah Sakit : Ketua Komisi DPRD yang membidangi Kesehatan : Kepala PT. penggunaan tarif paket Jaminan Kesehatan Masyarakat di RS. sejak tahun 2005 telah diupayakan untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut melalui pelaksanaan kebijakan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini dalam perjalanannya terus diupayakan untuk ditingkatkan melalui perubahan-perubahan sampai dengan penyelenggaraan program tahun 2008. Perubahan mekanisme yang mendasar adalah adanya pemisahan peran pembayar dengan verifikator melalui penyaluran dana langsung ke Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dari Kas Negara. yang berarti bahwa jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. dan Kabupaten/Kota serta penugasan PT Askes (Persero) dalam jawab program IV. Karena itu setiap individu.

SH.jpkm-online. miskin dan mendekati miskin. Tinjauan Yuridis Penyelenggaraan Jamkesmas 2008. Pembiayaan dan Strategi Mutu Pelayanan Kesehatan keluarga Miskin.. SH. makalah pada seminar Pembiayaan dan Mutu Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin dalam rangka Dies Natalis FK UGM tanggal 4 Maret 2006. Ali Ghufron. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tahun 2005. Mkes.id. 3. www. www. Sundoyo. Sumber/referensi: 1. Mukti. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penjaminan terhadap masyarakat miskin yang meliputi sangat miskin.depkes. MHum dan Siti Maimunah Siregar.rohukor.go.manajemen kepesertaan.net. program ini berganti nama menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Jamkesmas dengan tidak ada perubahan jumlah sasaran. Departemen Kesehatan RI. 2. Sie Infokum – Ditama Binbangkum 17 . 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful