Anda di halaman 1dari 5

Flour albus

No. :
Dokumen
No. Revisi :
SOP Tanggal :
Terbit
Halaman :
UPT Acu Suhendar, SKM, MM
PUSKESMAS NIP.19660909 198902 1 001
SINGAJAYA

Vaginal discharge atau keluarnya duh tubuh dari vagina secara


fisiologis yang mengalami perubahan sesuai dengan siklus
menstruasi berupa cairan kental dan lengket pada seluruh siklus
namun lebih cair dan bening ketika terjadi ovulasi. Masih dalam
1 Pengertian
batas normal bila duh tubuh vagina lebih banyak terjadi pada saat
stres, kehamilan atau aktivitas seksual. Vaginal discharge bersifat
patologis bila terjadi perubahan-perubahan pada warna,
konsistensi, volume, dan baunya.
Prosedur ini dibuat untuk pedoman pengobatan pasien dengan
2 Tujuan diagnosa Flour albus di tingkat pelayanan dasar/puskesmas oleh
dokter umum
SK Kepala UPT Puskesmas DTP Singajaya No. …./…/ KEP/ PKM /
3 Kebijakan 2017 tentang Layanan Kesehatan di UPT Puskesmas DTP
Singajaya.
1. Prawirohardjo, S. Saifuddin, A.B. Rachimhadhi, T.
Wiknjosastro Gulardi H. Ilmu Kebidanan Sarwono
4 Referensi Prawirohardjo.Edisi keempat cetakan ketiga. Jakarta : PT
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010: Hal 379.
2. Utami, R. Yohmi, E. Buku Bedah ASI IDAI

5 Prosedur Anamnesis
Keluhan
Biasanya terjadi pada daerah genitalia wanita yang berusia di atas
12 tahun, ditandai dengan adanya perubahan pada duh tubuh
disertai salah satu atau lebih gejala rasa gatal, nyeri, disuria, nyeri
panggul, perdarahan antar menstruasi atau perdarahan paska-
koitus.

Faktor Risiko
Terdapat riwayat koitus dengan pasangan yang dicurigai
menularkan penyakit menular seksual.
Pemeriksaan Fisik
Penyebab discharge terbagi menjadi masalah infeksi dan non
infeksi. Masalah non infeksi dapat karena benda asing, peradangan
akibat alergi atau iritasi, tumor, vaginitis atropik, atau prolaps uteri,
sedangkan masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur
atau virus seperti berikut ini:
1. Kandidiasis vaginitis, disebabkan oleh Candida albicans, duh
tubuh tidak berbau, pH <4,5 , terdapat eritema vagina dan
eritema satelit di luar vagina
2. Vaginosis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya
Gardnerella vaginalis), memperlihatkan adanya duh putih
atau abu-abu yang melekat di sepanjang dinding vagina dan
vulva, berbau amis dengan pH >4,5.
3. Servisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala
inflamasi serviks yang mudah berdarah dan disertai duh
mukopurulen
4. Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala,
tampak duh kuning kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH
>4,5.
5. Pelvic inflammatory disease (PID) yang disebabkan oleh
chlamydia, ditandai dengan nyeri abdomen bawah, dengan
atau tanpa demam. Servisitis bisa ditandai dengan kekakuan
adneksa dan serviks pada nyeri angkat palpasi bimanual.
6. Liken planus
7. Gonore
8. Infeksi menular seksual lainnya
9. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom
yang terlupa diangkat)

Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya


kelainan patologis yang lebih serius.
Pemeriksaan Penunjang
Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk
diperiksa, kecuali pada keadaan keraguan menegakkan diagnosis,
gejala kambuh, pengobatan gagal, atau pada saat kehamilan,
postpartum, postaborsi dan postinstrumentation.

Penegakan Diagnostik (Assessment)


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
spekulum, palpasi bimanual, uji pH duh vagina dan swab (bila
diperlukan).
Diagnosis Banding : -
Komplikasi
1. Radangpanggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dapat
terjadi bila infeksi merambah ke atas, ditandai dengan nyeri
tekan, nyeri panggul kronis, dapat menyebabkan infertilitas
dan kehamilan ektopik
2. Infeksi vagina yang terjadi pada saat paska aborsi atau
paska melahirkan dapat menyebabkan kematian, namun
dapat dicegah dengan diobati dengan baik
3. Infertilitas merupakan komplikasi yang kerap terjadi akibat
PID, selain itu kejadian abortus spontan dan janin mati akibat
sifilis dapat menyebabkan infertilitas
4. Kehamilan ektopik dapat menjadi komplikasi akibat infeksi
vaginal yang menjadi PID.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
Pasien dengan riwayat risiko rendah penyakit menular seksual
dapat diobati sesuai dengan gejala dan arah diagnosisnya.
Vaginosis bakterial:
1. Metronidazol atau Klindamisin secara oral atau per vaginam.
2. Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.
3. Bila sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazol 400
mg 2x sehari untuk 5-7 hari atau pervaginam. Tidak
direkomendasikan untuk minum 2 gram peroral.
4. Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal
bila menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim
hati.
5. Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami
vaginosis bakterial dianjurkan untuk mengganti metode
kontrasepsinya.

Vaginitis kandidiosis terbagi atas:


1. Infeksi tanpa komplikasi
2. Infeksi parah
3. Infeksi kambuhan
4. Dengan kehamilan
5. Dengan diabetes atau immunocompromise

Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis:


1. Dapat diberikan azol antifungal oral atau pervaginam
2. Tidak perlu pemeriksaan pasangan
3. Pasien dengan vulvovaginal kandidiosis yang berulang
dianjurkan untuk memperoleh pengobatan paling lama 6
bulan.
4. Pada saat kehamilan, hindari obat anti-fungi oral, dan
gunakan imidazol topikal hingga 7 hari.
5. Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi
lateks lainnya, bahwa penggunaan antifungi lokal dapat
merusak lateks
6. Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami
vulvovaginal kandidiosis berulang, dipertimbangkan untuk
menggunakan metoda kontrasepsi lainnya
Chlamydia:
1. Azithromisin 1 gram single dose, atau Doksisiklin 100 mg 2 x
sehari untuk 7 hari
2. Ibu hamil dapat diberikan Amoksisilin 500 mg 3 x sehari
untuk 7 hari atau Eritromisin 500 mg 4 x sehari untuk 7 hari
Trikomonas vaginalis:
1. Obat minum nitromidazol (contoh metronidazol) efektif untuk
mengobati trikomonas vaginalis
2. Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus
diperiksa dan diobati bersama dengan pasien
3. Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik
dengan regimen oral penatalaksanaan beberapa hari
dibanding dosis tunggal
4. Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun
perlu dipertimbangkan pula adanya resistensi obat
Rencana Tindak Lanjut
Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual
sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa chlamydia, gonore, sifilis dan
HIV.
Konseling dan Edukasi
1. Pasien diberikan pemahaman tentang penyakit, penularan
serta penatalaksanaan di tingkat rujukan.
2. Pasien disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual
selama penyakit belum tuntas diobati.

Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk apabila:
1. Tidak terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan
2. Dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman gonore
3. Adanya arah kegagalan pengobatan

Peralatan
1. Ginecology bed
2. Spekulum vagina
3. Lampu
4. Kertas lakmus

Prognosis
Prognosis pada umumnya dubia ad bonam.
Faktor-faktor yang menentukan prognosis, antara lain:
1. Prognosis lebih buruk apabila adanya gejala radang panggul
2. Prognosis lebih baik apabila mampu memelihara kebersihan
diri (hindari penggunaan antiseptik vagina yang malah
membuat iritasi dinding vagina)

Langkah-
6
langkah
7 Bagan Alir
Hal-hal yang
8 perlu -
diperhatikan
1. Pemeriksaan KIA
9 Unit terkait 2. Pelayanan PONED

Dokumen 1. Rekam Medik Pasien


10
terkait 2. Buku Register Pasien

TANGGAL
YANG DI
NO ISI PERUBAHAN MULAI
UBAH
DIBERLAKUKAN
11