Anda di halaman 1dari 52

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BBL

PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSALINAN DAN BBL

Oleh :

SUCI AFNESYA PUTRI

NIM : 194110344

Tingkat : 2B

Dosen MK : Iin Prima Fitriah,M.Keb

PRODI D3 KEBIDANAN PADANG

JURUSAN KEBIDANAN

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

2020/2021
1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Penyakit Yang Berhubungan Dengan Persalinan Dan
Bbl “ dengan baik tanpa hambatan. Dengan selesainya makalah ini disusun, saya mengucapkan
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang Terhormat Dosen Pembimbing saya serta
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.walaupun makalah ini
telah selesai,namun karena keterbatasan kemampuan dan literatur yang saya miliki,sehingga
makalah ini jauh dari sempurna,sehingga besar harapan saya untuk menerima saran dan kritik
yang bersifat konstruktif.

Saya mengucapkan selamat membaca semoga makalah ini ada manfaatnya bagi pembaca
pada umumnya dan ilmu pengetahuan khususnya. Terimakasih.

Solok ,9 Oktober 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.....................................................................................................................2

Daftar Isi..............................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.............................................................................................4
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan..........................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN
1. Penyakit infeksi...........................................................................................5
A. Torch ...............................................................................................5
B. Malaria.............................................................................................9
C. Ascariasis.........................................................................................11
D. Hepatitis...........................................................................................13
E. TBC..................................................................................................17
F. Herpes..............................................................................................20
G. Varicela............................................................................................22
2. Penyakit sistemik ( DM ).............................................................................24
3. Penyakit Kardiovaskuler ( Jantung )...........................................................26
4. Penyakit imunologi / alergi..........................................................................31
A. Asma................................................................................................31
B. HIV / AIDS......................................................................................36

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan..................................................................................................51
B. Saran............................................................................................................51

Daftar Pustaka.....................................................................................................................52

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Ibu hamil harus mendapatkan cukup nutrisi dan selalu dalam keadaan yang sehat agar bisa
menghasilkan keturunan yang baik. Namun jika ibu sampai terkena penyakit maka akan sangat
berbahaya bagi perkembangan janin sehingga generasi yang dihasilkan menjadi tidak baik.

Salah satunya ibu harus terhindar dari TORCH, yaitu infeksi yang terdiri dari toksoplasmosis,
malaria, ascariasis, hepatitis, tbc dan Herpes.tidak hanya penyakit infeksi saja namun juga
penyakit sistemi seperti diabetes mellitus,penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung dan
penyakitimunologi atau alergi seperti asma dan HIV/AIDS, maka yang akan dibahas kali ini
adalah mengenai penyakit penyakit tersebut, yaitu penyakit yang berhubungan dengan persalinan
dan BBL.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu penyakit infeksi ?


2. Apa saja jenis penyakit infeksi ?
3. Apa itu penyakit sistemik ?
4. Apa itu penyakit kardiovaskuler ?
5. Apa itu penyakit imunologi/alergi ?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui apa itu penyakit infeksi


2. Mengetahui apa saja jenis penyakit infeksi
3. Mengetahui apa yang di maksud dengan penyakit sistemik
4. Mengetahui apa itu penyakit kardiovaskuler
5. Mengetahui apa itu penyakit imunologi/alergi

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENYAKIT INFEKSI
1. TORCH
Torch adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi
yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes

a) Toxoplasma

 ETIOLOGI

Infeksi toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Tokoplasma
gondi adalah protozoa yang dapat ditemukan pada pada hampir semua hewan dan unggas
berdarah panas. Akan tetapi kucing adalah inang primernya. Kotoran kucing pada makanan yang
berasal dari hewan yang kurang masak, yang mengandung oocysts dari toxoplasma gondi dapat
menjadi jalan penyebarannya. Contoh lainnya adalah pada saat berkebun atau saat membenahi
tanaman dipekarangan, kemudian tangan yang masih belum dibersihkan melakukan kontak
dengan mulut.

 TANDA DAN GEJALA


1) Pada ibu
Terkadang Toxoplasma dapat menimbulkan beberapa gejala seperti gejala influenza, timbul
rasa lelah, malaise, dan demam. Akan tetapi umumnya tidak menimbulkan masalah yang berarti.
Pada umumnya, infeksi Toxoplasma tarjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Walaupun
demikian, ada beberapa gejala yang mengkin ditemukan pada orang yang terinfeksi toksoplasma,
gejala-gejala tersebut adalah :
1. Pyrexia of unknow origin (PUO)
2. Terlihat lemas dan kelelahan, sakit kepala, rash,myalgia perasaan umum ( tidak nyaman
atau gelisah)
3. Pembesaran kelenjar limfe pada serviks posterior
4. Infeksi menyebar ke saraf, otak, korteks dan juga dapat menyerang sel retina mata.
5. Infeksi Toxoplasma berbahaya bils terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan
system kekebalan tubuh tergantung (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang
mendapat obat penekan respon imun).

2) Pada janin
Pada awal kehamilan infeksi toksoplasma dapat menyebabkan aborsi dan biasanya terjadi
secara berulang. Namun jika kandungan dapat dipertahankan, maka dapat mengakibatkan kondisi
yang lebih buruk ketika lahir. Diantaranya adalah :
1. Lahir mati (still birth)
5
2. Icterus, dengan pembesaran hati dan limpa
3. Anemia
4. Perdarahan
5. Radang paru
6. Penglihatan dan pendengaran kurang
7. Dan juga gejala yang dapat muncul kemudian, seperti kelainan mata dan telinga,
retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis selain itu juga dapat merusak otak
janin.

 PATOFISIOLOGI

Toxoplasma gondii mempunyai 3 fase dalam hidupnya. Tiga fase ini terbagi lagi menjadi 5
tingkat siklus : fase proliferatif, stadium kista, fase schizogoni, gematogoni, dan fase ookista.
Siklus aseksual terdiri dari fase proliferasi dan stadium kista.Fase ini dapat terjadi dalam
bermacam-macam inang
Siklus seksual secara spesifik hanya terdapat pada kucing. Kucing menjadi terinfeksi setelah
ia memakan mamalia, seperti tikus yang terinfeksi. Kista dalam tubuh kucing dapat terbentuk
setelah infeksi kronis yang berhubungan dengan imunutas tubuh.Kiista terbentuk intraseldan
kemudian terdapat secara bebas di dalam jaringan sebagai stadium tidak aktif dan dapat menetap
dalam jaringan tanpa menimbulkan reaksi inflamasi.Kista pada binatang yang terinfeksi menjadi
infeksius, jika termakan oleh kornivora dan toksoplasma tersebut masuk melalui usus.
Infeksi pada manusia dapat terjadi saat makan daging yang kurang matang, sayur-sayuran
yang tidak di masak, makanan yang terkontaminasi kotoran kucing melalui lalat atau
serangga.Juga ada kemungkinan terinfeksi saat menghirup udara yang terdapat ookista yang
beterbangan. Cara penularang lain yang sangat penting adalah pada jalur maternofetal. Ibu yang
mendapat infeksi akut saat kehamilannya dapat menularkannya pada janin melalui
plasenta.Imunitas maternal tampaknya memberikan perlindungan terhadap penularan
transplasental parasite tersebut.Dengan demikian, toxoplasmosis kongenital dapat terjadi jika ibu
mendapatkan infeksi tersebut selama kehamilannya.

b) Rubella
 ETIOLOGI
Virus ini pertama kali ditemukan di amerika pada tahun 1966, Rubella pernah menjadi
endemic di banyak negara di dunia, virus ini menyebar melalui droplet. Periode inkubasinya
adalah 14-21 hari.

 TANDA DAN GEJALA


Rubella menyebabkan sakit yang ringan dan tidak spesifik pada orang dewasa, ditandai
dengan cacar-seperti ruam,demam dan infeksi saluran pernafasan atas.

6
Ibu hamil secara rutin diperiksa untuk antibody rubella dan jika tidak memiliki kekebalan
akan segera diberikan vaksin rubella pada periode postnatal. Fakta-fakta terkini menganjurkan
bahwa kahamilan yang disertai dengan pemberian vaksin rubella tidak seberbahaya yang
dipikirkan.
Infeksi terberat terjadi pada trimester pertama dengan lebih dari 85% bayi ikut
terinfeksi.Bayi mengalami vireamia, yang menghambat pembelahan sel dan menyebabkan
kerusakan perkembangan organ.Janin terinfeksi dalam 8 minggu pertama kehamilan.Oleh karena
itu memiliki resiko yang sangat tinggi untuk mengalami multiple defek yang mempengaruhi
mata, system kardiovaskuler, telinga, dan system saraf.

 PATOFISIOLGI
Virus sesudah masuk melalui saluran pernafasan akan menyebabkan peradangan pada
mukosa saluran pernafasan untuk kemudian menyebar keseluruh tubuh. dari saluran pernafasan
inilah virus akan menyerang ke sekelilingnya. Pada infeksi rubella yang diperoleh post natal virus
rubella akan dieksresikan dari faring. pada rubella yang kongenal saluran pernafasan dan urin
akan tetap mengeksresikan virus sampai usia 2 tahun. hal ini perlu diperhatikan dalam perawatan
bayi di rumah sakit dan di rumah untuk mencegah terjadinya penularan. Sesudah sembuh tubuh
akan membentuk kekebalan baik berupa antibodi maupun kekebalan seluler yang akan mencegah
terjadinya infeksi ulangan.

c) Cytomegalovirus ( CMV )
 ETIOLOGI
Penularan CMV akan terjadi jika ada kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti
air seni, air ludah, air mata, sperma dan air susu ibu. Bisa juga terjadi karena transplatasi
organ.Kebanyakan penularan terjadi karena cairan tubuh penderita menyentuh tangan individu
yang rentan.Kemudian diabsorpsi melalui hidung dan tangan.
Teknik mencuci tangan dengan sederhana manggunakan sabun cukup efektif untuk
membuang virus dari tangan. Golongan sosial ekonomi rendah lebih rentan terkena
infeksi.Rumah sakit juga marupakan tempat penularan virus ini, terutama unit dialisis, perawatan
neonatal dan ruang anak.
Virus juga dapat ditularkan pada bayi melalui sekresi vagina pada saat lahir atau pada ia
menyusu. Namun infeksi ini biasanya tidak menimbulkan tanda dan gejala klinis.Resiko infeksi
kongenital CMV paling besar terdapat pada wanita yang sebelumnya tidak pernah terinfeksi dan
mereka yang terinfeksi pertama kali ketika hamil.

 TANDA DAN GEJALA


Gejala CMV yang muncul pada wanita hamil minimal dan biasanya mereka tidak akan sadar
bahwa mereka telah terinfeksi. Namun jika ini merupakan infeksi primer, maka janin biasanya
juga beresiko terinfeksi.Infeksi tersebut baru dapat di kenali setelah bayi lahir.

7
Pada wanita normal sebagian besar adalah asimptomatik atau subkliik, tetapi bila
menimbulkan gejala akan tampak gejala antara lain :Mononucleosis-like syndrome yaitu demam
selama 3 minggu.

 PATOFISIOLOGI
Masa inkubasi CMV:
a. Setelah lahir 3-12 minggu
b. Setelah tranfusi 3-12 minggu
c. Setelah transplatasi 4 minggu – 4 bulan
d. Urin sering mengandung CMV dari beberapa bulan sampai beberapa tahun setelah
infeksi.Virus tersebut dapat tetap tidak aktif dalam tubuh seseorang tetapi masih dapat
diaktifkan kembali. Hingga kini beluum ada imunisasi untuk mencegah penyakit ini

d) Herpes
 ETIOLOGI
Virus herpes simpleks tipe I dan II merupakan virus horminis DNA. Pembagian tipe I dan II
berdasarkan karakteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic, dan lokasi klinis (tempat
predileksi).

 TANDA DAN GEJALA


Tidak seperti virus rubella, sitomegalovirus dapat menginfeksi hasil konsepsi setiap saat
dalam kehamilan. Bila infeksi terjadi pada masa organogenesis (trimester I) atau selama periode
pertumbuhan dan perkembangan aktif (trimester II) dapat terjadi kelainan yang serius. Juga
didapatkan bukti adanya korelasi antara lamanya infeksi intrauterine dengan embriopati.
Pada trimester I infeksi kongenital sitomegalovirus dapat menyebabkan premature,
mikrosefali, IUGR, klasifikasi intracranial pada ventrikel lateral dan traktus olfaktoris, sebagian
besar terdapat korioretinitis, juga terdapat retardasi mental, hepatosplenomegali, ikterus, purpora
trombositopeni, DIC.
Infeksi pada trimester III berhubungan dengan kelainan yang bukan disebabkan karena
kegagalan pertumbuhan somatic atau pembentukan psikomotor.

 PATOFISIOLOGI
HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa
mulut, wajah, dan sekitar mata.HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual
dan menyebabkan vegina terlihat seperti bercak dengan luka mungkin muncul iritasi, penurunan
kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan kesulitan bernafas atau
kejang.Biasanya hilang dalam 2 minggu infeksi, infeksi pertama HSV adalah yang paling berat
dan dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari.
Gejala yang timbul meliputi nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema), dan diikuti
dengan pembentukan gelembung-gelembung yang berisi cairan bening yang selanjutnya dapat
berkembang menjadi nanah diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerang (scab).Setelah
8
infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan unik untuk bermigrasi sampai pada syaraf sensorik
tepi menuju spinal ganglia dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. Pengaktifan virus yang
berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada
makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet.

2. MALARIA

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium di sel darah
merah dan gejala utamanya adalah demam. Malaria pada ibu hamil risikonya lebih banyak
dibandingkan pada pasien biasa, salah satunya bisa menginfeksi janinnya.

a) Gejala Penyakit Malaria

Gejala malaria mirip dengan gejala flu biasa. Penderita mengalami menggigil, nyeri otot
persendian dan sakit kepala. Penderita mengalami mual, muntah, batuk, diare. Gejala khas
malaria adalah adanya siklus menggigil, demam, dan berkeringat yang terjadi berulang-ulang.
Pengulangan bisa berlangsung tiap hari, dua hari sekali atau tiga hari sekali tergantung jenis
malaria yang menginfeksi.

Gejala lain warna kuning pada kulit akibat rusaknya sel darah merah dan sel hati. Infeksi
awal malaria umum nya memiliki tanda dan gejala seperti menggigil, demam tinggi, berkeringat
secara berlebihan seiring menurunnya suhu tubuh, mengalami ketidak nyamanan dan
kegelisahan. 

b) Malaria Dalam Kehamilan

Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat
kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil
dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria klinis berat sampai
menyebabkan kematian.

Malaria lebih sering dijumpai pada kehamilan trimester I dan II dibandingkan pada wanita
yang tidak hamil. Malaria berat juga lebih sering pada wanita hamil, hal ini disebabkan karena
penurunan imunitas selama kehamilan. Beberapa factor yang menyebabkan turunnya respon
imun pada kehamilan seperti: peningkatan dari hormone steroid dan gonadotropin, alpha
fetoprotein dan penurunan dari limfosit menyebabkan kemudahan terjadinya infeksi malaria, ibu
hamil dengan infeksi HIV cenderung mendapat infeksi malaria dan sering mendapatkan malaria
congenital pada bayinya dan berat bayi lahir rendah.

 Pengaruh Pada Ibu

Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan tergantung pada tingkat
kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas dimana gejala malaria akan lebih

9
berat pada primigravida dan menurun seiring jumlah paritas karena kekebalan pada ibu telah
dibentuk dan meningkat.

Ibu hamil yang tinggal di daerah dengan transmisi rendah mempunyai resiko 2 sampai 3
kali lipat untuk menjadi sakit yang berat dibandingkan dengan perempuan dewasa tanpa
kehamilan. Kematian ibu hamil biasanya diakibatkan oleh penyakit malarianya sendiri atau
akibat langsung anemia yang berat. Masalah yang biasa timbul pada kehamilannnya adalah
meningkatnya kejadian berat bayi lahir rendah, prematuritas, pertumbuhan janin terhambat,
infeksi malaria dan kematian janin.

 Pengaruh Pada Janin

Seorang ibu yang terinfeksi parasit malaria, parasit tersebut akan mengikuti peredaran
darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. Abortus, kematian janin, bayi
lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria berat dan resiko ini meningkat
sampai tujuh kali, walaupun apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas juga
masih belum diketahui.

Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin karena terganggunya transfer


makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiperpireksia) atau hipoksia karena anemia.
Kemungkinan lain adalah Tumor Necrosis Factor (TNF) yang dikeluarkan oleh makrofag bila di
aktivasi oleh antigen merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan berbagai kelainan
pada malaria, antara lain demam, kematian janin dan abortus.

c) Komplikasi Malaria Dalam Kehamilan

a. Anemia
Malaria dapat menyebabkan atau memperburuk anemia.  Hal ini disebabkan:
1) Hemolisis eritrosit yang diserang parasit
2) Peningkatan kebutuhan Fe selama hamil
3) Hemolisis berat dapat menyebabkan defisiensi asam folat.
            Anemia yang disebabkan oleh malaria lebih sering dan lebih berat antara usia kehamilan
16-29 minggu.  Adanya defisiensi asam folat sebelumnya dapat memperberat anemia ini. Anemia
meningkatkan kematian perinatal dan morbiditas serta mortalitas maternal. Kelainan ini
meningkatkan risiko edema paru dan perdarahan pasca salin.

b. Edema paru akut


            Edema paru akut adalah komplikasi malaria yang lebih sering terjadi pada wanita hamil
daripada wanita tidak hamil.  Keadaan ini bisa ditemukan saat pasien datang atau baru terjadi
setelah beberapa hari dalam perawatan.    Kejadiannya lebih sering pada trimester 2 dan 3.
            
c. Hipoglikemia

10
      Hipoglikemia pada pasien-pasien malaria tersebut dapat tetap asimtomatik dan dapat luput
terdeteksi karena gejala-gejala hipoglikemia juga menyerupai gejala infeksi malaria, yaitu:
takikardia, berkeringat, menggigil dll.  Akan tetapi sebagian pasien dapat menunjukkan tingkah
laku yang abnormal, kejang, penurunan kesadaran, pingsan dan lain-lain yang hampir
menyerupai gejala malaria serebral.  
Oleh karena itu semua wanita hamil yang terinfeksi malaria falciparum, khususnya yang
mendapat terapi quinine harus dimonitor kadar gula darahnya setiap 4-6 jam
sekali.  Hipoglikemia juga bisa rekuren sehingga monitor kadar gula darah harus konstan
dilakukan.
            
d. Imunosupresi
            Imunosupresi dalam kehamilan menyebabkan infeksi malaria yang terjadi menjadi lebih
sering dan lebih berat.  Lebih buruk lagi, infeksi malaria sendiri dapat menekan respon imun. 
            Perubahan hormonal selama kehamilan menurunkan sintesis imunoglobulin. Penurunan
fungsi sistem retikuloendotelial adalah penyebab imunosupresi dalam kehamilan.  Hal ini
menyebabkan hilangnya imunitas didapat terhadap malaria  sehingga ibu hamil lebih rentan
terinfeksi malaria.  Infeksi malaria yang diderita lebih berat dengan parasitemia yang
tinggi.  Pasien juga lebih sering mengalami demam paroksismal dan relaps. 

3. ASCARIASIS

a). Epidemiologi Askariasis

Infeksi askariasis, atau disebut juga dengan cacing gelang, ditemukan di seluruh area
tropis di dunia, dan hampir di seluruh populasi dengan sanitasi yang buruk. Telur cacing bisa
didapatkan pada tanah yang terkontaminasi feses, karena itu infeksi askariasis lebih banyak
terjadi pada anak-anak yang senang memasukkanjari yang terkena tanah ke dalam mulut.

Kurangnya pemakaian jamban menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar


halaman rumah, di bawah pohon, di tempat mencuci dan tempat pembuangan sampah.

b). Patogenesis dan Gejala Askariasis

Kebanyakan infeksi ringan tidak menimbulkan gejala. Cacing yang baru menetas
menembus mukosa usus sehingga terjadi sedikit kerusakan pada daerah tersebut. Cacing yang
tersesat, berkeliaran, dan akhirnya mati di bagian tubuh lain seperti limpa, hati, nodus limfe, dan
otak. Cacing ini juga menyebabkan perdarahan kecil pada kapiler paru yang mereka tembus.
Infeksi yang berat dapat menyebabkan akumulasi perdarahan sehingga akan terjadi edema dan
ruang-ruang udara tersumbat. Akumulasi sel darah putih dan epitel yang mati akan memperparah
sumbatan sehingga akan terjadi Ascaris lumbricoides pneumonitis (Loeffler’s pneumonia) yang
bisa menyebabkan kematian.

11
Jika jumlah cacing terlalu banyak di usus, maka cacing bisa berkeliaran ke apendiks,
anus, pankreas, saluran empedu, hati, lambung, esofagus, trakea, tuba eustachius, telinga tengah,
bahkan keluar melalui hidung dan mulut. Cacing betina juga bisa berkeliaran di dalam tubuh jika
tidak ada cacing jantan. Larva pada dahak dan telur cacing di feses bisa membantu menegakkan
diagnosis.

c). Diagnosis Askariasis

Diagnosis pasti askariasis adalah ditemukannya cacing dewasa pada atau muntahan
penderita, atau ditemukannya telur cacing pada tinja atau cairan empedu penderita. Cacing pada
saluran empedu dapat terlihat bila dilakukan kolangiografi intravena.

Diagnosis juga dapat dilakukan melalui radiografi, dengan mengamati cacing yang
memakan barium.

d). Tatalaksana Askariasis

 Pengobatan

Askariasis dapat ditatalaksana dengan pirantel pamoat, albendazol, mebendazol, dan


piperazin.

- Dosis tunggal pirantel pamoat 10 mg/kgBB menghasilkan angka penyembuhan

85-100%. Efek samping dapat berupa mual, muntah, diare, dan sakit kepala,

namun jarang terjadi.

- Albendazol diberikan dalam dosis tunggal (400 mg) dan menghasilkan angka penyembuhan
lebih dari 95%, namun tidak boleh diberikan kepada ibu hamil. Pada infeksi berat, dosis tunggal
perlu diberikan selama 2-3 hari.

- Mebendazol diberikan sebanyak 100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari. Pada infeksi ringan,
mebendazol dapat diberikan dalam dosis tunggal (200 mg).

- Piperazin merupakan obat antihelmintik yang bersifat fast-acting. Dosis piperazin adalah 75
mg/kgBB (maksimum 3,5 gram) selama 2 hari, sebelum atau sesudah makan pagi. Efek samping
yang kadang ditemukan adalah gejala gastrointestinal dan sakit kepala. Gejala sistem saraf pusat
juga bisa ditemukan, tetapi jarang. Piperazin tidak boleh diberikan pada penderita dengan
insufisiensi hati dan ginjal, kejang atau penyakit saraf menahun.

 Pencegahan

a. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.

12
b. Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu
dengan menggunkan sabun dan air mengalir.

c. Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah dicuci bersih
dengan air mengalir.

d. Mengadakan terapi massal setiap 6 bulan sekali didaerah endemik ataupun daerah yang rawan
terhadap penyakit askariasis.

e. Memberi penyuluhan tentang sanitasi lingkungan.

f. Melakukan usaha aktif dan preventif untuk dapat mematahkan siklus hidup cacing misalnya
memakai jamban/WC.

g. Makan makanan yang dimasak saja.

h. Menghindari sayuran mentah (hijau) dan selada di daerah yang menggunakan tinja sebagai
pupuk. Karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun- tahun, pencegahan
dan pemberantasan di daerah endemik adalah sulit.

e). Terapi Askariasis pada Ibu Hamil

Terapi pilihan utama untuk askariasis adalah :

1. albendazole 400 mg dosis tunggal


2. mebendazole 100 mg dua kali sehari selama tiga hari atau 500 mg sebagai dosis tunggal.
3. pyrantel pamoate. Dosis pyrantel pamoate adalah 11 mg/kg berat badan sekali sehari
selama 3 hari tanpa melebihi 1 g/ dosis.

Ketiga obat ini dikategorikan sebagai kategori C oleh FDA. Tetapi oleh TGA pyrantel pamoate
dan mebendazole dikategorikan ke dalam kategori B2 dan B3. Albendazole oleh TGA
dikategorikan sebagai kategori D dan dikontraindikasikan untuk diberikan selama kehamilan.
Sebuah Cochrane review pada tahun 2015 menyatakan bahwa pemberian obat cacing pada
trimester kedua tidak menyebabkan adverse outcome pada bayi namun data untuk pemberian
obat pada trimester pertama masih kurang

4. HEPATITIS

Hepatitis merupakan suatu istilah umum untuk terjadinya peradangan pada sel-sel hati.
Hepatitis dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti obat-obatan, alkohol, dan penyakit
autoimun, atau oleh adanya infeksi seperti hepatitis virus.

a) Etiologi Dan Faktor Resiko

13
1. Hepatitis A
 Virus hepetitis A (HAV) terdiri dari RNA berbentuk bulat tidak berselubung  berukuran
27 nm
 Ditularkan melalui jalur fekal – oral, sanitasi yang jelek, kontak antara manusia,dibawah
oleh air dan makanan
 Masa inkubasinya 15 – 49 hari dengan rata – rata 30 hari
 Infeksi ini mudah terjadi didalam lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk
dengan penduduk yang sangat padat.

2. Hepetitis B (HBV)
 Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda yang memiliki ukuran
42 nm
 Ditularkan melalui parenteral atau lewat dengan karier atau penderita infeksi akut, kontak
seksual dan fekal-oral. Penularan perinatal dari ibu kepada bayinya.
 Masa inkubasi 26 – 160 hari dengan rata- rata 70 – 80 hari.
 Faktor resiko bagi para dokter bedah, pekerja laboratorium, dokter gigi, perawat dan
terapis respiratorik, staf dan pasien dalam unit hemodialisis serta onkologi laki-laki
biseksual serta homoseksual yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemaki obat-
obat IV juga beresiko.

3. Hepatitis C (HCV)
 Virus hepatitis C (HCV) merupakan virus RNA kecil, terbungkus lemak yang
diameternya 30 – 60 nm.
 Ditularkan melalui jalur parenteral dan kemungkinan juga disebabkan juga oleh kontak
seksual.
 Masa inkubasi virus ini 15 – 60 hari dengan rata – 50 har
 Faktor resiko hampir sama dengan hepetitis B

4. Hepatitis D (HDV)
 Virus hepatitis B (HDP) merupakan virus RNA berukuran 35 nm
 Penularannya terutama melalui serum dan menyerang orang yang memiliki kebiasaan
memakai obat terlarang dan penderita hemovilia
 Masa inkubasi dari virus ini 21 – 140 hari dengan rata – rata 35 hari
14
 Faktor resiko hepatitis D hampir sama dengan hepatitis B.

5. Hepattitis E (HEV)
 Virus hepatitis E (HEV) merupakan virus RNA kecil yang diameternya + 32 – 36 nm.
 Penularan virus ini melalui jalur fekal-oral, kontak antara manusia dimungkinkan
meskipun resikonya rendah.
 Masa inkubasi 15 – 65 hari dengan rata – rata 42 hari.
 Faktor resiko perjalanan kenegara dengan insiden tinggi hepatitis E dan makan makanan,
minum minuman yang terkontaminasi.

b) Patofisiologi
Virus hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada
hepatocytes oleh sel mononukleous. Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam
memblokir sistem drainage hati, sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadi
statis empedu (biliary) dan empedu tidak dapat diekresikan kedalam kantong empedu bahkan
kedalam usus, sehingga meningkat dalam darah sebagai hiperbilirubinemia, dalam urine sebagai
urobilinogen dan kulit hapatoceluler jaundice.
Hepatitis terjadi dari yang asimptomatik samapi dengan timbunya sakit dengan gejala
ringan. Sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2 sampai 3 bulan lebih gawat bila
dengan nekrosis hati dan bahkan kematian. Hepattis dengan sub akut dan kronik dapat permanen
dan terjadinya gangguan pada fungsi hati. Individu yang dengan kronik akan sebagai karier
penyakit dan resiko berkembang biak menjadi penyakit kronik hati atau kanker hati

c) Manifestasi Klinik
Menifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama. Manifestasi klinik
dapat dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi dari masing – amsing stadium adalah
sebagai berikut.
1. Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah,
anoreksia,   muntah, demam, nyeri pada otot dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih
coklat.
2. Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu. Icterus mula –mula terlihat pada
sklera,kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan – keluhan berkurang, tetapi klien masih

15
lemah, anoreksia dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar
dan nyeri tekan.
3. Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal
lagi. Penyebuhan pada anak – anak menjadi lebih cepat pada orang dewasa, yaitu pada akhir
bulan ke 2, karena penyebab yang biasanya berbeda.

d) Penatalaksanaan Medik
Tidak ada terpi sfesifik untuk hepatitis virus. Tirah baring selama fase akut dengan diet
yang cukup bergizi merupakan anjuran yang lazim. Pemberian makanan intravena mungkin perlu
selama fase akut bila pasienterus menerus muntah. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga
gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal.

e) Hepatitis Pada Kehamilan


Semua jenis virus hepatitis dapat menginfeksi ibu hamil, dan dapat menimbulkan gejala
hepatitis virus akut. Gejala dan tanda infeksi hepatitis virus akut yang terjadi pada kehamilan
umumnya tidak banyak berbeda dengan mereka yang tidak hamil. Yang perlu dilakukan adalah
memeriksakan diri ke dokter bila muncul gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas tadi untuk
memastikan apakah ini suatu hepatitis virus atau bukan, menentukan jenis virus apa yang
menginfeksi, serta menentukan derajat kerusahan sel hati yang terjadi.
Menentukan jenis virus hepatitis apa yang menginfeksi merupakan hal penting, sebab seperti
yang telah disebutkan di atas, bila virus hepatitis B dan C yang menginfeksi maka perlu
dilakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengantisipasi perkembangan penyakit lebih lanjut
serta mencegah penularan penyakit ke janin atau bayi.
Bila ibu hamil terinfeksi hepatitis virus B atau C, maka dokter akan melakukan berbagai
pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah hepatitis virusnya dalam kondisi aktif dan
menularkan ke orang lain atau tidak, termasuk ke janinnya.

f) Pengaruh  Hepatitis  Terhadap Janin/Neonatus

            Sebagian besar infeksi pada bayi baru lahir kemungkinan terjadi saat persalinan dan kelahiran

atau melalui kontak ibu bayi, daripada secara transplasental.Walaupun sebagian besar bayi-bayi

16
menunjukkan tanda infeksi ikterus ringan, mereka cenderung menjadi carrier. Status carrier ini

dipertimbangkan akan menjadi sirosis hepatis dan karsinoma hepatoseluler.

Pada satu penelitian hepatitis akut maternal (tipe B atau non-B) tidak mempengaruhi

insidens dari malformasi kongenital, lahir mati, abortus, atau malnutrisi intrauterin. Tetapi,

hepatitis akut menyebabkan peningkatan insidens prematuritas.

g) Pengobatan
Pengobatan infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berbeda dengan wanita tidak hamil.
Penderita harus tirah baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang dan bilirubin dalam
serum menjadi normal.
Makanan diberikan dengan sedikit mengandung lemak tetapi tinggi protein dan
karbohydrat.Pemakaian obat-obatan hepatotoxic hendaknya dihindari.Kortison baru diberikan
bila terjadi penyulit. Perlu diingatpada hepatitis virus yang aktip dan cukup berat, mempunyai
risiko untuk terjadi perdarahan post-partum, karena menurun-nya kadar vitamin K.
Janin baru lahir hendaknya tetap diikuti sampai periode post natal dengan dilakukan
pemeriksaantransaminase serum dan pemeriksaan hepatitis virus antigensecara periodik. Janin
baru lahir tidak perlu diberi pengobatankhusus bila tidak mengalami penyulit-penyulit lain.

h) Pencegahan
Semua Ibu hamil yang mengalami kontak langsung dengan penderita hepatitis virus A
hendaknya diberi immuno globulinsejumlah 0,1 cc/kg. berat badan. Gamma globulin
ternyatatidak efektif untuk mencegah hepatitis virus B. Gizi Ibu hamil hendaknya dipertahankan
seoptimal mungkin, karena gizi yang buruk mempermudah penularan hepatitis virus.

Untuk kehamilan berikutnya hendaknya diberi jarak sekurang-kurangnya enam bulan setelah
persalinan, dengan syarat setelah 6 bulan tersebut semua gejala dan pemeriksaan laborato-rium
telah kembali normal.Setelah persalinan, pada penderita hendaknya tetap dilakukanpemeriksaan
laboratorium dalam waktu dua bulan, empat bu-lan dan enam bulan kemudian.

5.TBC
A.Pengertian

17
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberkulosis, kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui
udara pernafasan ke dalam paru. Kemudian kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian
tubuh lain melalui sistem peredaran darah. Sistem saluran limfe, melalui saluran nafas (bronchi)
atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.

B.Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1 – 4 /um dan tebal 0,3 – 0,6 /um. Sebagian besar kuman terdiri
dari asam lemak lipid. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih
tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini
terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant (tidur). Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai
parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini
menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.
Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain,
sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis.

C.Patofisiologi/Penularan
Daya penularan dari seorang penderita tuberculosis ditentukan oleh banyaknya kuman
yang terdapat dalam penderita, persebaran dari kuman-kuman tersebut dalam udara serta
dikeluarkan bersama dahak berupa droplet dan berada di udara di sekitar penderita tuberculosis.
Dan kuman dapat terlihat langsung dengan mikroskop pada sediaan dahaknya penderita BTA
positif adalah sangat menular.
Penderita tuberculosis eksterna paru tidak menular, kecuali penderita itu menderita
tuberculosis paru. Penderita tuberculosis BTA positif mengeluarkan kuman-kuman ke udara
dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada waktu batuk atau bersin

D.Epidemiologi

18
Penyakit Tuberculosis Paru sebagian besar menyerang usia produktif kerja yang di atas 25
tahun dengan ekonomi lemah dan sebagian besar orang yang telah terinfeksi (80 – 90). Pada
umumnnya 2 atau 3 % dari mereka yang baru terkena infeksi akan timbul tuberkulosis paru-paru.

E.Gambaran Klinik/Gejala
1) Demam
2) Batuk
3) Nyeri dada
4) Malaise, sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan).

F. Tuberkulosis pada kehamilan


Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan
keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu
hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas
diagnosa dan pengobatan TB. Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan
medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan


factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB.
Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan
akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-
peritoneum.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak,
tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi,. Jika kuman sudah
menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil
karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi. 

G. Pengaruh tuberkulosis terhadap janin


Menurut Oster, 2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko
terhadap janin. Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi
kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol.

19
F. Pengobatan TB pada kehamilan

Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB


pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali
streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic
dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Perlu dijelaskan
kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses
kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular
TB.

6. HERPES

a. Defenisi  Herpes Genitalis

Genital herpes, juga umumnya disebut "herpes" adalah infeksi virus oleh herpes simplex
virus (HSV) yang ditularkan melalui kontak intim dengan lapisan-lapisan yang ditutupi lendir
dari mulut atau vagina atau kulit genital.

b. Tanda dan Gejala

Herpes genitalis primer timbul setelah masa laten yang lamanya bervariasi (Glasier, Anna, 2006)

1.    Gejala sistemik sering terjadi, terutama pada wanita dan mencakup demam, nyeri kepala,
malese dan mialgia.

2.    Nyeri yang mungkin parah, di vulva atau penis disuria dan peningkatan rabas vagina.

3.    Pembesaran kelenjar linfe inguinal disertai nyeri tekan biasanya timbul lebih dari 1 minggu
setelah awitan penyakit.

4.    Lesi awalnya bersifat popular tetapi cepat menjadi vesikel dan mengalami ulserasi. Lesi
menetap sampai 2 minggu sampai terjadi pembentukan krusta.

5.    Pada wanita, dijumpai ulkus ekstensif di labia mayor, labia minora, kulit di sekitar introitus,
perineum, region periananal, vagina, dan serviks.

6.    Dapat timbul proktitis herpetika.

20
7.   Pembentukan lesi baru dapat dijumpai pada 10 hari pertama. Radikulitis sacrum, yang
bermanifestasi sebagai konstipasi, retensi urin, dan parestesia dalam distribusi saraf sekralis
merupakan komplikasi yang jarang pada infeksi HSV 2 primer.

8.    Gejala sistematik biasanya mereda dalam 7 sampai 10 hari dan lesi genital biasanya sembuh
dalam waktu sekitar 21 hari.

9.    Gambaran klinis pada wanita cenderung lebih parah daripada pada pria.

10. Gambaran klinis episode pertama herpes genitalis pada orang yang pernah terpajan ke HSV
tampaknya lebih ringan daripada mereka yang menderita infeksi genital primer sejati.

c. Patofisiologi

Virus ini menginfeksi melalui dermis dan epidermis dari kulit atau mukosa yang
mengalami abrasi. Pada saat terjadi infeksi proses berlangsung secara subklinis. Infeksi terjadi
pada ujung saraf sensoris atau otonom. Proses penyebaran virus di tubuh dapat terjadi secara
lokal dan sistemik.

Saat seseorang terinfeksi maka respon imun selular dan humoral akan teraktivasi. Berat
ringannya penyakit juga ditentukan oleh respon ini. Seseorang yang memiliki efek pada respon
imun dapat mengalami infeksi herpes berulang. Demikian pula dengan kondisi kehamilan yang
merupakan kondisi imunokompromis, sehingga risiko untuk terkena infeksi herpes juga lebih
tinggi.Infeksi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) lebih sering ditransmisikan ke janin, dan lesi
yang ditimbulkan pada neonatus terbatas pada kulit, mata dan membran mukosa, sementara
infeksi oleh HSV-2 lebih menyebar dan dapat menginvasi sistem saraf pusat sehingga
menyebabkan gangguan perkembangan di kemudian hari.

d. Penatalaksanaan dan pengobatan Herpes Genetalis

Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak
pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi
sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita
apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa
menimbulkan shock.
Hal ini akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual.

Obat-obatan untuk menangani herpes genital adalah :


  Asiklovir (Zovirus)
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari),
asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf
propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat
penyembuhan.
  Valasiklovir (Valtres)
21
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah
menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah
yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir
200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.
  Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1
dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk
fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki
potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan
cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.

 Untuk ibu hamil


Ibu hamil yang menderita herpes simplek genitals primer dalam 6 minggu terakhir masa
kehamilannya dianjurkan untuk SC sebelum atau dalam 4 jam pecahnya ketuban.
 Untuk bayi lahir dari ibu dengan herpes simplek
banyak  runah sakit yang menganjurkan untuk mangisolasi bayi baru lahir dari ibu yang
mengalami herpes simplek. Bayi harus diawasi ketat selama 1 bulan pertama kehidupannya.
Untuk bayi dengan ibu herpes simplek dan melalui pervaginam harus diberikan profilaksis
asiklovir intravena selama 5-7 hari dengan dosis 3x10 mg/kgBB/hari.

7. VARICELLA
a. Pengertian Varicella
Cacar air adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang
mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil baik berbentuk datar
maupun menonjol, melepuh serta berkeropeng dan rasa gatal. Penyakit cacar air merupakan
penyakit menular yang bisa ditularkan seseorang kepada orang lain secara langsung. Cacar air
dikenal juga dengan nama lainnya yaitu varisela dan chickenpox.

b. Etiologi Varicella
Penyebab dari penyakit cacar air adalah infeksi suatu virus yang bernama virus varicella
zoster yang disebarkan manusia melalui cairan percikan ludah maupun dari cairan yang berasal
dari lepuhan kulit orang yang menderita penyakit cacar air. Seseorang yang terkena kontaminasi
virus cacar air varicella zoster ini dapat mensukseskan penyebaran penyakit cacar air kepada
orang lain di sekitarnya mulai dari munculnya lepuhan di kulitnya sampai dengan lepuhan kulit
yang terakhir mongering.

c. Patofisiologi Varicella

22
Virus ini memang masuk ke tubuh melalui paru-paru dan tersebra ke bagian tubuh melalui
kelenjar getah bening. Setelah melewati periode 14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya
ke jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanakdripada kalau
sudah dewasa. Sebab itu seringkali orangtua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air lebih
dini.
Gejala yang timbul pada orang dewasa lebih parah daripada masa kanak-kanak. Demam
yang dialami lebih parah dan berlangsung lebih lama, sakit kepala nya serta luka lebih berat serta
bekas luka yang ditinggalkan akan lebih dalam. Kalau pada anak-anak kebanyakan komplikasi
hanya berupa ifeksi varicella pada kulit, pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi
erupa radang paru-paru atau pnemonia 10-25 lebih tinggi daripada anak. Komplikasi yang langka
tapi bisa terjadi berupa radang otak, radang susmsum tulang, kegagalan hati, hepatitis,serta
sindrom Reye (kelainan otak beserta hati.)

d. Tanda dan Gejala Varicella


    Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar
dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu
   Setelah dua atau tiga hari kemudian akan mulai muncul bintek merah datar yang disebut
macula, lalu menjadi menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan
didalamnya seperti melepuh disertai rasa gatal yang disebut vesikel, dan yang terakhir
adalah mengering sendiri. Lama proses mulai dari macula, papula, vesikel dan kropeng
membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam. Proses berulang-ulang ini akan
berlangsung selama empat hari.
      Pada hari ke lima biasanya tidak ada kemunculan lepuhan baru di kulit.
       Pada hari ke enam semua lepuhan yang tadinya muncul akan kering dengan
sendirinya dan akhirnya hilang setelah kurang lebih sekitar 20 hari.
     Setelah 10 sampai 21 hari setelah terkena infeksi virus cacar air muncul gejala
penyakit seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak badan. Pada anak
di bawah umur 10 tahun biasanya tidak muncul gejala, sedangkan pada orang dewasa
bisa lebih parah gejalanya.

e. Penatalaksanaan Varicella
Pengobatan pada varicella, sebagai berikut :

1. Topical  : Bedak dan antibiotika

2. Sistemik : Sedativa, antipiretik, antibiotika untuk infeksi sekunder, acyclovir.

Pengobatan varicella dibagi menjadi 2, yaitu pada penderita normal dan penderita dengan
imunokompromise atau penurunan system imun :

1) Normal

23
     Neonatus → Acylovir 500mg/m2 setiap 8 jam selama 10 hari.

     Anak-anak → terapi sintomatis atau Acyclovir 20mg/kgBB selama 7 hari.

     Dewasa atau dengan kortikostreoid → Acylovir 5x 800mg selama 7 hari.

  Wanita hamil, Pnemonia → Acylovir 5x 800mg selama 7 hari atau Acylovir IV 10mg/BB
setiap 8jam selama 7 hari.pemeriksaan sinar x torak untuk menyingkirkan kemungkinan
pneumonia mengingat bahwa komplikasi pneumonia terjadi pada 16% kasus dan mortalitas
sampai diatas 40%.

  Bila terjadi pneumonia maka perawatan harus dilakukan di rumah sakit dan diterapi
dengan antiviral oleh karena perubahan dekompensasi akan sangat cepat terjadi.

2.  Imunokompromise 

        Penyakit ringan –> Acyclovir 5×800mg selama 7-10 hari

        Penyakit sedang –> Acyclovir IV 10mg/kgbb selama 7 hari atau lebih lama

        Acyclovir resisten (AIDS) –> Foscarnet IV 40mg/kgbb sampai penyakit teratasi

            Selain pengobatan diatas untuk menurunkan demam, sebaiknya digunakan Asetamofen,


jangan Aspirin. Obat anti-virus boleh diberikn kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun.
Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat.

            Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka
yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal setelah
mengkonsumsi obat. Konsumsi vitamin C placebo ataupun yang langsung dari buah-buahan
segar seperti juice jambu biji, juice tomat atau anggur. Vitamin E untuk kelembaban kulit bisa
didapat dari placebo, minuman dari lidah buaya, ataupun runput laut

B. Penyakit Sistemik ( DM )
 Diabetes Melitus (DM)
a. Pengertian
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa
terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan
berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi)
yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.

Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang


meninjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat
berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin

24
hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar
gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi
oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat
lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut
kebutuhan insulin.

b. Diagnosis
Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. Terutama
dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran, riwayat pernah
melahirkan anak mati tanpa sebab, riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan, melahirkan
bayi lebih dari 4000 gr, riwayat PE dan polyhidramnion.Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu >
30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, riwayat DM pada kehamilan sebelumnya, obesitas,
riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil.

c. Klasifikasi
1) Tidak tergantung insulin (TTI) “ Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu
kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.

2) Tergantung insulin (TI) “ Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan


insulin dalam mengembalikan kadar gula darah.

d. Komplikasi

1) Maternal  : infeksi saluran kemih, hydramnion, hipertensi kronik, PE, kematian ibu

2) Fetal  : abortus spontan, kelainan congenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian


intra uterin,

3) Neonatal : prematuritas, kematian intra uterin, kematian neonatal, trauma lahir,


hipoglikemia, hipomegnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, syndroma gawat nafas,
polisitemia.

                  e. Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa <
105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl, dan kadar HbA1c<6%. Selain itu juga menjaga
agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal.
Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. Ajarka pasien

25
memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan
lebih sering lagi saat mendekati persalinan.  Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat
hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB
pada trimester I diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan
BB sekitar 10-12 kg.

f. Penatalaksanaan Obstetric

Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU, mendengarkan DJJ, dan secara khusus
memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36
minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan
indikasi SC. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu)
dengan persalinan biasa.

Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun
harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi
kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38
minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan
baisanya memerlukan insulin.

C. KARDIOVASKULER ( JANTUNG )

A. DEFINISI
Menurut IKAPI (2008) dalam Gaya Hidup dan Penyakit Modern, penyakit pada
kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan fungsi kerja jantung
karena tidak adekuatnya aliran darah.
Pada ibu hamil, terjadi adaptasi fisiologis sehingga menyebabkan perubahan signifikan pada
sistem kardiovaskuler. Wanita dengan jantung normal dapat beradaptasi dengan baik selama
kehamilan. Sedangkan yang mengalami penyakit jantung,terjadi komplikasi yang berpengaruh
terhadap tumbuh kembang janin, bahkan dapat membahayakan nyawa ibu dan janin (Manuaba,
1998).

B. EPIDEMIOLOGI
Penyakit jantung merupakan penyebab kematian terbanyak pada wanita diAmerika Serikat dan
merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak pada wanitausia 25– 44 tahun. Penyakit jantung
berpengaruh pada sekitar 1 % darikehamilan, dengan angka kematian maternal menurut Sach
sebanyak 0,3 dari100.000 di Massachusetts. Namun angka kematian maternalmencapai 10 – 25

26
% walaupun adanya perkembangan diagnosis dan penanganan penyakit kardiovaskular maternal
pada zaman sekarang. Meskipun insidens penyakit jantung dalam kehamilan sekitar 1 %,
Gejalaseperti sesak napas atau tanda seperti bising ejeksi sistolik yang merupakan gejaladari
penyakit jantung, dapat muncul pada sekitar 90% dari populasi kehamilan sebagai konsekuensi
perubahan fisiologis pada tubuh yang diinduksi oleh kehamilan itu sendiri. Di antara beberapa
penyakit kardiovaskuler, hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang tersering muncul
pada kehamilan, sebanyak 6-8%dari seluruh kehamilan. Di negara barat, penyakit jantung
bawaan merupakanyang penyakit jantung yang paling sering ditemukan selama kehamilan
( 75 – 82% ). Di luar Eropa dan Amerika bagian utara hanya berkisar 9 – 19 %. Penyakit jantung
reumatik mendominasi di negara selain negara barat, berkisar 56 – 89 %dari seluruh penyakit
jantung dalam kehamilan. Kardiomiopati jarang ditemukan,tetapi merupakan penyebab berat dari
komplikasi penyakit jantung dalam

C. ETIOLOGI

Penyebab dari penyakit jantung sendiri dibagi menjadi dua :

1. Kelainan Primer
Kelainan primer dapat berupa kelainan kongenital, bentuk kelainan katub, iskemik dan
cardiomiopati. Jadi kelainan primer ini sendiri lebih disebabkan karena kelainan pada fisiologi
jantungnya.
Kelainan Sekunder
2. Kelainan sekunder berupa penyakit lain, seperti hipertensi, anemia berat, hipervolumia,
perbesaran rahim, dll . untuk kelainan sekunder ini sendiri lebih disebabkan oleh penyakit-
penyakit lain

D. FAKTOR RESIKO
1. Penyakit Jantung Akibat Demam Reumatik
       Sebagian besar penyakit jantung pada kehamilan disebabkan oleh demam rematik. Diagnosis
demam rematik pada kehamilan sering sulit, bila berpatokan pada criteria Jones sebagai dasar
untuk diagnosis demam rematik aktif. Manifestasi yang terbanyak adalah poliartritis migrant
serta karditis. Perubahan kehamilan yang menyulitkan diagnosis demam rematik adalah nyeri
sendi pada wanita hamil mungkin oleh karena sikap tubuh yang memikul beban yang lebih besar
sehubungan dengan kehamilannya serta meningkatnya laju endap darah dan jumlah leukosit. Bila
terjadi demam rematik pada kehamilan, maka prognosisnya akan buruk.
Adanya aktivitas demam rematik dapat diduga bila terdapat:
a. Suhu subfebris dengan takikardi yang lebih cepat dari semestinya
b. Leukositosis dan laju endap darah yang tetap tinggi
c. Terdengar desir jantung yang berubah-ubah sifatnya maupun tempatnya 
2. Penyakit Jantung Kongenital

27
     Biasanya kelainan jantung bawaan oleh penderita sebelum kehamilan, akan tetapi kadang-
kadang dikenal oleh dokter pada pemeriksaan fisik waktu hamil. Dalam usia reproduksi dapat
dijumpai koarktatio aortae, duktus arteriosus Botalli persistens, defek septum serambi dan bilik,
serta stenosis pulmonalis. Penderita tetralogi Fallot biasanya tidak sampai mencapai usia dewasa
kecuali apabila penyakit jantungnya dioperasi. Pada umunya penderita kelainan jantung bawaan
tidak mengalami kesulitan dalam kehamilan asal penderita tidak sianosis dan tidak menunjukkan
gejala-gejala lain di luar kehamilan.
Penyakit jantung bawaan dibagi atas : 
a. Golongan sianotik (right to left shunt)
b. Golongan asianotik (left to right shunt)
c. Penyakit jantung hipertensi
Penyakit jantung hipertensi sering dijumpai pada kehamilan, terutama pada golongan usia
lanjut dan sulit diatasi. Apapun dasar penyakit ini, hipertensi esensial, penyakit ginjal atau
koaktasio aorta, kehamilan akan mendapat komplikasi toksemia pada 1/3 jumlah kasus disertai
mortalitas yang tinggi pada ibu maupun janin. Tujuan utama pengobatan penyakit jantung
hipertensi adalah mencegah terjadinya gagal jantung. Pengobatan ditujukan kepada penurunan
tekanan darah dan control terhadap cairan dan elektrolit.
Perubahan tersebut disebabkan oleh :
a. Hipervolemia: dimulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya pada 28-32
minggu lalu menetap.
b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh karena pembesaran rahim.
Dalam kehamilan :
a. Denyut jantung dan nadi: meningkat
b. Pukulan jantung meningkat.
c. Tekanan darah menurun sedikit.
Maka dapat dipahami bahwa kehamilan dapat memperbesar penyakit jantung bahkan dapat
menyebabkan payah jantung (dekompensasi kordis). Frekuensi penyakit jantung dalam
kehamilan berkisar antara 1-4%. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung, saat-saat yang
berbahaya bagi penderita adalah :
a. Pada kehamilan 32-36 minggu, dimana volume darah mencapai puncaknya
(hipervolumia).
b. Pada kala II, dimana wanita mengerahkan tenaga untuk mengedan dan memerlukan kerja
jantung yang berat.
c. Pada Pasca persalinan, dimana darah dari ruang intervilus plasenta yang sudah lahir,
sekarang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu.
d. Pada masa nifas, karena ada kemungkinan infeksi

E. KLASIFIKASI
Kehamilan yang disertai penyakit jantung secara klinis dibagi menjadi empat stadium (Manuaba,
1998) :
 Kelas 1 :
28
- Tanpa gejala pada kegiatan biasa
- Tanpa batas gerak biasa
 Kelas 2 :
- Waktu istirahat tidak terdapat gejala
- Gerak fisik terbatas
- Cepat lelah, palpitasi, sesak napas, dapat nyeri dada, edema tangan/tungkai
 Kelas 3 : Gerakan sangat terbatas karena gerak minimal saja dapat menimbulkan gejala
payah jantung.
 Kelas 4 : Dalam keadaan istirahat sudah terjadi gejala payah jantung

H. MANIFESTASI KLINIS
Beberapa tanda dan gejala pada ibu hamil yang memiliki penyakit jantung selama kehamilan
meliputi adanya nyeri dada terkait aktivitas dan emosi ibu, sesak nafas berat baik itu saat istirahat
maupun terjadi di malam hari, dan sinkop (kehilangan kesadaran karena kekurangan suplai
oksigen di otak). Akibat beberapa gejala tersebut, ibu akan cepat merasa lelah dan susah
beraktivitas. (Sinclair, 2010)
Sedangkan tanda dan gejala yang dapat ditemukan selama pemeriksaan fisik dapat berupa
murmur, baik itu sistolik maupun diastolic, sianosis, terdapat distensi vena jugular, pembesaran
hati sehingga menimbulkan nyeri tekan, pembesaran jantung, denyut jantung terlalu cepat, denyut
jantung tidak seperti biasanya baik itu terlalu cepat maupun terlalu lambat (palpitasi) dan edema
perifer pada bagian tubuh, khususnya di ekstremitas tubuh. (Manuaba, 2000)

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan untuk mengetahui mengenai penyakit jantung
selama masa kehamilan menurut (Manuaba, 2004) adalah sebagai berikut :

a. Foto thoraks bermanfaat untuk melihat gambaran jantung seperti pembesaran jantung dan
edema paru.
b. Elektrokardiografi (ECG) dapat mendeteksi adanya gangguan seperti irama jantung,
system konduksi jantung, dan lain sebagainya
c. Ekokardiografi untuk melihat struktur dan fungsi pembuluh darah, serta merekam denyut
jantung.
d. USG untuk memantau kesejahteraan janin dalam kandungan
e. Elektrolit serum untuk menilai kalium sebagai petunjuk terapi cairan dan elektrolit

J. KOMPLIKASI
Ada beberapa macam komplikasi dari penyakit jantung pada kehamilan yaitu :

29
a. Eklampsia
Eklampsia adalah kejang grand mal akibat spasme serebrovaskular. Kematian disebabkan oleh
hipoksia dan komplikasi dari penyakit berat yang menyertai.
b. Perdarahan serebrovaskular
Perdarahan serebrovaskular terjadi karena kegagalan autoregulasi aliran darah otak pada MAP
(Mean Arterial Pressure) diatas 140 mmHg.
c. Masalah liver dan koagulasi: HELLP Syndrome (hemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low
Platelets Count).
Preeklampsia-eklampsia disertai timbulnya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar
dan trombositopenia.
d. Gagal ginjal
Diperlukan hemodialisis pada kasus yang berat.
e. Edema Paru
f. Kematian maternal
Munculnya satu atau lebih dari komplikasi tersebut dan muncul secara bersamaan, merupakan
indikasi untuk terminasi kehamilan berapapun umur gestasi. Fetal Kematian perinatal dan
morbiditas fetus meningkat. Pada usia kehamilan 36 minggu, masalah utama adalah IUGR. IUGR
terjadi karena plasenta iskemi yang terdiri dari area infark. Kelahiran prematur juga sering terjadi
At-term, preeklampsia mempengaruhi berat lahir bayi dengan penigkatan risiko kematian dan
morbiditas bayi. Pada semua umur gestasi terjadi peningkatan risiko abrupsi plasenta.
- Komplikasi pada maternal
1. Gagal ginjal akibat tubuler nekrotik akut
2. Gagal jantung
3. Edema paru
4. Trombositopeni
5. Rupture plasenta yang menyebabkan pendarahan
- Komplikasi pada janin
a. Persalinan premature
b. Pertumubuhan janin terhambat
c. Kematian perinatal
d. IUGR (Intra Utery Growth Restriction)

K. EFEK PENYAKIT JANTUNG PADA IBU HAMIL DALAM KEHAMILAN


Penyakit jantung selama kehamilan dapat menimbulkan perburukan gejala dari ibu, hal ini dapat
terlihat dari peningkatan aritmia dan CHF yang membutuhkan peningkatan terapi obat
kardiovaskuler salama kehamilan juga perlu rawat inap. (Hammed, 2001)
Jika ibu terdeteksi memiliki gangguan atau penyakit jantung, maka beberapa lembaga kesehatan,
menyarankan untuk menghentikan kehamilan. Beberapa penelitian menyatakan jika beberapa
janin dengan ibu yang menderita penyakit jantung akan meninggal saat ibu melakukan tindakan
operasi bypass ini juga bisa disebabkan oleh operasi jantung darurat, usia kehamilan yang belum
cukup umur. (Siu, 2001)
30
Ibu dengan resiko penyakit jantung koroner dapat menyebabkan kerugian dalam kehamilan
diantaranya, berat lahri bayi sangat rendah juga kelahiran kurang bulan (premature). (Sattar,
Greer, 2002)

L. EFEK PENYAKIT JANTUNG PADA IBU HAMIL DALAM MASA PERSALINAN

Beberapa efek pada ibu hamil dengan penyakit jantung yang dapat terjadi selama proses
intranatal atau persalinan antara lain :

a. Kegagalan jantung (dekompensasi kordis). Dapat terjadi pada ibu selama persalinan
akibat peningkatan beban kerja jantung, sedangkan kondisi jantung ibu yang sudah dalam
keadaan lemah atau sakit, dapat semakin parah hingga gagal jantung, sehingga akan terjadi payah
jantung akibat kompensasi yang kurang baik dari jantung ibu selama persalinan. (Farrer, 2001)
b. Hipoksemia pada ibu dan janin. Hal ini dapat terjadi pada ibu dengan kelainan pembuluh
darah coroner. Beban kerja jantung yang meningkat selama proses intranatal membuat jantung
harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi ibu dan juga janin, namun dengan
adanya kelainan pada jantung ibu, pasokan oksigen untuk ibu dan janin akan terganggu sehingga
beresiko mengalami hipoksemia dan gawat janin selama persalinan. (Manuaba, 2004)
c. Kematian maternal dan bayi. Selama persalinan kala I dan kala II, curah jantung ibu
meningkat lebih besar, sehingga kerja jantung berkali lipat lebih cepat dari normal. Dengan
adanya penyakit jantung pada ibu, maka kerja jantung menjadi tidak optimal, dan bila terjadi
henti jantung selama persalinan, maka ibu dan janin akan berujung pada kematian. (Manuaba,
2000)

M. EFEK PENYAKIT JANTUNG PADA IBU HAMIL DALAM MASA POSTPARTUM


Pada post partum terjadi perubahan hemodinamik ibu hamil :
Pirau retropalsenta berakhir sehingga darah akan kembali menuju sirkulasi umum sebesar 500-
600 cc
Terjadi retraksi otot jantung, sehingga tekanan perifer akan meningkat.
Terjadi perubahan retensio air dan garam kembali menuju sirkulasi umum untuk dapat
dikeluarkan melalui ginjal
Terdapat kemungkinan pendarahan postpartum
Berdasarkan pendapat kelompok , setelah periode post partum merupakan periode yang
berbahaya bagi semua kalangan wanita dengan penyakit jantung, karena dapat terjadi
peningkatan alirah darah ke jantung yang disebabkan oleh perubahan tiba-tiba pada tekanan
abdomen saat melahirkan.

D. IMUNOLOGI / ALERGI
1. ASMA

31
a. Definisi Asma

-     Asma adalah kondisi dimana otot-otot bronchi (saluran udara pada paru) mengalami
kontraksi penyimpitan sihingga menyulitkan pernapasan.
-     Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan heredites utama.
-     Asma adalah salah satu manifestasi gangguan alergi. ( http : //kaskus.us/archive/index.php/t-
103450-p-6.htmi )
-     Asma merupakan penyakit kronik dari saluran pernapasan yang hilang dan timbul diduga
mempunyai hubungan yang erat dengan sistem imun dari tubuh.
( http ://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/18 abstrak 015.pdf/18 abstrak 015.htmi ).
-     Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas abstruktif intermutten reversible dimana
trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
-     Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American
Thorakic Society)

b. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma
bronkhial.
 Faktor Predisposisi
-         Genetik.
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya yang jelas penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga
dekat juga menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena
penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernapasannya juga bisa diturunkan.
 Faktor Prepisitas
-         Alergen
Dimana alergen dapat dibagai menjadi 3 jenis, yaitu :
1.  Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2.  Ingestan, yahg masuk melalui mulut
Ex : Makanan dan obat-obatan
3.  Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
Ex : perhiasan, logam, dan jam tangan
-         Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti : musim hujan, musim kemarau, musim bunga,. Hal ini
berhubungan dengan arah angin serbuk bunga danb debu

32
-         Stress
Stress / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat
serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati
penderita asma yang mengalami stress / gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya
belum bisa diobati.
-         Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil,
pabrik asbes, polusi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
-         Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau
olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma
karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas.

c. Tanda / Gejala Asma


-         Kesulitan bernafas
-         Kenaikan denyut nadi
-         Nafas berbunyi, terutama saat menghembuskan udara
-         Batuk kering
-         Kejang otot di sekitar dada

Pada kasus asma sedang, hipoksia pada awalnya dapat dikompensasi oleh hiperventilasi sebagai
refleksi dari PO2 arteri normal, menurunnya PO2 dan alkalosis respiratori. Pada obstruksi berat,
ventilasi menjadi berat karena Fatigue menjadikan retensi CO 2. pada hiperventilasi, keadaan ini
hanya dapat dilihat sebagai PO2 arteri yang berubah menjadi normal. Akhirnya pada obstruksi
berat yang diikuti kegagalan pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asedemia

d. Jenis-Jenis Asma
Asma dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a.   Asma interisik (berasal dari dalam)
Yang sebab serangannya tidak diketahui
b.  Asma eksterisik (berasal dari luar)
Yang pemicu serangannya berasal dari luar tubuh (biasanya lewat pernafasan)
Serangan asma dapat berlangsung singkat atau berhari-hari. Bisanya serangan dimulai hanya
beberapa menit setelah timbulnya pemicu. Frekuensi asma berbeda-beda pada tiap penderita.
Serangan asma yang hebat dapat menyebabkan kematian

e. Patofisiologi
Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible dari kontraksi otot polos
bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi peradangan di saluran nafas dan menjadi
33
responsive terhadap beberapa rangsangan termasuk zat iritan, infeksi virus, aspirin, air dingin dan
olahraga. Aktifitas sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi bronkus dengan lepasnya
histamine, prostalgladine D2 dan leukotrienes. Karena prostagladin seri F dan ergonovine dapat
menjadikan asma, maka penggunaanya sebagai obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat
dihindari jika memungkinkan.

f. Pemeriksaan Laboratorium
a.       Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
-         Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
-         Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
-         Crede yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
-         Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b.      Pemeriksaan darah
-         Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis.
-         Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH
-         Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15000 / mm 3 dimana menandakan
terdapatnya suatu infeksi.
-         Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan
dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

g. Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan Radiologi
b.       Pemeriksaan tes kulit
c.        Elektrokardiografi
d Scanning Paru
e. Spirometri
f. USG

h. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
a.       Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.
b.      Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma.
c.       Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma,
baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan
pengobatannya yang diberikan dan bekerja sama dengan dokter atauperawat yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2 , yaitu :
1.   Pengobatan non Farmakologik.
         Memberikan penyuluhan
34
         Menghindari faktor pencetus
         Pemberian cairan
         Fisiotherapy
         Beri O2 bila perlu
2. Pengobatan Farmakologi
-          Bronkodilator yang melebarkan saluran nafas
Seperti aminofilin atai kortikosteroid inhalasi atau oral pada serangan asma ringan. Obat antiasma
umumnya tidak berpengaruh negatife terhadap janin kecuali adrenalin.
     Adrenalin mempengaruhi pertumbuhan janin karena penyempitan pembuluh daraj ke janin
yang dapat mengganggu oksigenasi pada janin tersebut.
     Aminofilin dapat menyebabkan penurunan kontraksi uterus
-          Menangani serangan asma akut (sama dengan wanita tidak hamil), yaitu :
     Memberikan cairan intravena
     Mengencerkan cairan sekresi di paru
     Memberikan oksigen (setelah pengukuran PO2, PCO2) sehingga tercapai PO2 lebih 60
mmHG dengan kejenuhan 95% oksigen atau normal.
     Cek fungsi paru
     Cek janin
     Memberikan obat kortikosteroid
-          Menangani status asmatikus dengan gagal nafas
     Secepatnya melakukan intubasi bila tidak terjadi perubahan setelah pengobatan intensif
selama 30 – 60 menit
     Memberikan antibiotik saat menduga terjadi infeksi
-          Mengupayakan persalinan
     Persalinan  spontan dilakukan saat pasien tidak berada dalam serangan
     Melakukan ekstraksi vakum atau forseps saat pasien berada dalam serangan
     Seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau tidak pernah dilakukan.
     Meneruskan pengobatan reguler asma selama proses kelahiran.
     Jangan memberikan analgesik yang mengandung histamin tetapi pilihlah morfin atau
analgesik epidural.
     Hati-hati pada tindakan intubasi dan penggunaan prostagladin E2 karena dapat menyebabkan
bronkospasme.
-          Memilih obat yang tidak mempengaruhi air susu.
     Aminofilin dapat terkandung dalam air susu sehingga bayi akan mengalami gangguan
pencernaan, gelisah dan gangguan tidur.
     Obat antiasma lainnya dan kortikosteroid umumnya tidak berbahaya karena kadarnya dalam
air susu sangat kecil

I. Pengaruh Terhadap Kehamilan & Persalinan


     Keguguran
     Persalinan prematur
35
     Pertumuhan janin terhambat
  Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
-       Menurunnya aliran darah pada uterus
-       Menurunnya venous return ibu
-       Kurva dissosiasi oksi ttb bergeser ke kiri
Sedangkan pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
-       Menurunnya aliran darah ke pusat
-       Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
-       Menurunnya cardiac output

Perlu diperhatikan efek samping pemberian obat-obatan asma terhadap fetus, walaupun tidak ada
bukti bahwa pemakaian obat – obat anti asma akan membahayakan asma.

j. Hal-Hal Untuk Mencegah Agar Tidak Terjadi Serangan Asma Selama Hamil
-       Jangan merokok
-       Kenali faktor pencetus
-       Hindari flu, batuk, pilek atau infeksi saluran nafas lainnya. Kalu tubuh terkena flu segera
obati. Jangan tunda pengobatan kalu ingin asma kambuh.
-       Bila tetap mendapat serangan asma, segera berobat untuk menghindari terjadinya
kekurangan oksigen pada janin
-       Hanya makan obat-obatan yang dianjurkan dokter.
-       Hindari faktor risiko lain selama kehamilan
-       Jangan memelihara kucing atau hewan berbulu lainnya.
-       Pilih tempat tinggal yang jauh dari faktor polusi, juga hindari lingkungan dalam rumah dari
perabotan yang membuat alergi. Seperti bulu karpet, bulu kapuk, asap rokok, dan debu yang
menempel di alat-alat rumah tangga.
-       Hindari stress dan ciptakan lingkungan psikologis yang tenang
-       Sering – sering melakukan rileksasi dan mengatur pernafasan
-       Lakukan olahraga atau senam asma, agar daya tahan tubuh makin kuat sehingga tahan
terhadap faktor pencetus.

b. HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus)

1. Definisi

HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi oportunistik
dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer atau sekunder atau infeksi
kongenital melainkan oleh human immunodeficiency virus. Kausa sindrom imunodefisiensi ini
adalah retrovirus DNA yaitu HIV-1 dan HIV-2 (Cunningham, 2006).

36
2. Etiologi

Penyebab dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti virus.Terdiri dari
HIV-1 dan HIV-2. Dimana HIV-1 memiliki 10 subtipe yang diberi dari kode A sampai J dan
subtipe yang paling ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1.Secara morfologik, virus ini
berbentuk bulat, terdiri dari bagian inti (core) yang berbentuk silindris dan selubung (envelope)
yang berstruktur lipid bilayer yang membungkus bagian core, dimana didalam core ini terdapat
RNA virus ini. Karena informasi genetik virus ini berupa RNA, maka virus ini harus mentransfer
informasi genetiknya yang berupa RNA menjadi DNA sebelum diterjemahkan menjadi protein-
protein. Dan untuk tujuan ini HIV memerlukan enzim reverse transkriptase (Maslow S, 1995).

3. Penularan

Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang
paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya. Oleh
karena itu, salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat terdeteksi
seperti juga ART (Antiretroviral Therapy) untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral load penting
pada waktu melahirkan. Penularan dapat terjadi dalam kandungan yang dapat disebabkan oleh
kerusakan pada plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan tersebut
dapat memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Kerusakan pada plasenta dapat disebabkan
oleh penyakit lain pada ibu, terutama malaria dan TB (Green WC, 2009).

       Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan, karena bayi tersentuh oleh darah
dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. Jelas, jangka waktu antara saat pecah
ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor risiko untuk penularan. Juga intervensi
untuk membantu persalinan yang dapat melukai bayi, misalnya vakum, dapat meningkatkan
risiko. Karena air susu ibu (ASI) dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV, juga ada risiko
penularan HIV melalui menyusui.

4. Faktor Resiko

Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi:

1. Faktor ibu dan bayi

a.    Faktor ibu

       Kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV
di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang
terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang. Risiko penularan
akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada menjelang ataupun saat
persalinan. Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan
vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat. Biasanya,

37
jika ibu menderita infeksi menular seksual atau infeksi reproduksi lainnya maupun malaria, maka
kadar HIV akan meningkat (Depkes RI, 2006).

b.    Faktor bayi antara lain:

1.         Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah,

2.         Melalui ASI yang diberikan pada usia enam bulan pertama bayi, dan

3.         Bayi yang meminum ASI dan memiliki luka di mulutnya.

2. Faktor cara penularan (Obstetrik)

a.    Menular saat persalinan melalui percampuran darah ibu dan darah bayi.

b.    Bayi menelan darah ataupun lendir ibu.

c.    Persalinan yang berlangsung lama.

d.   Ketuban pecah lebih dari 4 jam.

e.    Penggunaan elektroda pada kepala janin, penggunaan vakum atau forceps, dan tindakan
episiotomi

f.     Bayi yang lebih banyak mengonsumsi makanan campuran dari pada ASI.

5. Pengaruh Kehamilan Pada Perjalanan Penyakit HIV

Kehamilan ternyata hanya sedikit meningkatkan kadar virus (viral load) HIV. Kadar virus
HIV meningkat terutama setelah 2 tahun persalinan, walaupun secara statistik tidak
bermakna. Kehamilan juga tidak mempercepat progresivitas penyakit menjadi AIDS. Italian
Seroconversion Study Group membandingkan wanita terinfeksi HIV dan pernah hamil ternyata
tidak menunjukkan perbedaan resiko menjadi AIDS atau penurunan CD4 menjadi kurang dari
200 (McFarland, 2003).

6.        Diagnosis Infeksi HIV

Diagnosis infeksi HIV juga ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan hasil
penemuan laboratorium. Anamnesis yang mendukung kemungkinan adanya infeksi HIV
misalnya :

Ø Lahir dengan ibu resiko tinggi.

Ø Lahir dari ibu dengan pasangan resiko tinggi.

Ø Penerima tranfusi darah atau komponennya, terutama bila berulang dan tanpa uji HIV.

Ø Penggunaan obat parenteral atau intravena secara keliru (biasanya pecandu narkotika)
38
Ø Homoseksual atau biseksual.

Ø Kebiasaan seksual yang keliru.

Gejala klinis yang mendukung misalnya infeksi oportunistik, penyakit menular seksual, infeksi
yang berulang atau berat, terdapat gagal tumbuh, adanya ensefalopati yang menetap atau
progresif, penyakit paru interstitiel, keganasan sekunder, kardiomiopati dan lain-lainnya. Untuk
diagnostik yang pasti dikerjakan pemeriksaan laboratorium mulai dari yang relatif sederhana
hingga yang relatif sulit dan mahal, yaitu mulai dari menentukan adanya antibodi anti-HIV
misalnya dengan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbant Assay) yang dilanjutkan dengan uji
yang lebih pasti seperti Western blot assay dan lain-lainnya (Suwendra, 2001).

Infeksi HIV pada wanita seringkali terdeteksi pada masa kehamilan, waktu dilakukan uji saring
HIV antenatal. Uji serologis HIV-1 antibodi spesifik IgG merupakan tes dengan spesifikasi yang
tinggi. Sera yang reaktif terhadap anti HIV pada uji saring, sebaiknya diuji ulang dan hasilnya
dikonfirmasikan dengan sistem uji lainnya. Untuk diagnostik, contoh sera harus diambil ulang
untuk mengkonfirmasi ada tidaknya infeksi. Pada umumnya wanita yang terinfeksi menampilkan
kondisi sera yang reaktif 6-8 minggu setelah infeksi, meskipun pada beberapa kasus antibodi
tersebut tidak timbul setelah 6-9 bulan kemudian. Hasil negatif tes antibodi berarti wanita
tersebut tidak terkena infeksi HIV lebih dari 6 bulan yang lalu, tetapi dapat juga berarti uji negatif
palsu (false negatif), bila wanita itu diuji pada waktu periode jendela (window periode) antara
infeksi dan serokonversi (Maslow, 1995).

Sedangkan pada bayi pemeriksaan serologis standar seperti IgG anti-HIV dan Western Blot tidak
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis sebelum usia 18 bulan. Hal ini disebabkan masih
dapat ditemukannya IgG anti-HIV ibu yang melewati plasenta di darah bayi, bahkan sampai usia
24 bulan. Sedangkan IgA dan IgM anti-HIV tidak dapat melewati plasenta, sehingga dapat
digunakan untuk konfirmasi diagnosis bila ditemukan pada bayi. Akan tetapi, sensitivitas kedua
pemeriksaan ini masih rendah (Yunihastuti, dkk, 2003).

Pada bayi di bawah usia 18 bulan, pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain kultur HIV,
teknik PCR (Polymerase chain Reaction) untuk mendeteksi DNA atau RNA HIV dan deteksi
antigen p24.Infeksi HIV ditegakkan bila dua sample dari dua kali pemeriksaan yang berbeda
dengan kultur, DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil positif. Disebut tidak terinfeksi bila
dua macam sampel tes yang berbeda menunjukkan hasil negatif (McFarland, 2003).

7.    Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metode ELISA/EIA (enzyme linked


immunoadsorbent assay). ELISA pada mulanya digunakan untuk skrining darah donor dan
pemeriksan darah kelompok risiko tinggi. Pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV, tes
ini efektif dilakukan pada bayi yang berusia 18 bulan keatas. Pemeriksaan ELISA harus
menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 tes yang dilakukan, kemudian dilanjutkan

39
dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metode Western
Blot. Penggabungan tes ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik
mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan lainnya yaitu:

a)    Foto toraks

b)   Pemeriksaan fisik

• Penampilan umum tampak sakit sedang, berat.

• Tanda vital.

• Kulit: rush, Steven Jhonson.

• Mata: hiperemis, ikterik, gangguan penglihatan.

• Leher: pembesaran KGB.

• Telinga dan hidung: sinusitis, berdengung.

• Rongga mulut: candidiasis.

• Paru: sesak nafas, efusi pleura.

• Jantung: kardiomegali.

• Abdomen: asites, distensi abdomen, hepatomegali.

• Genetalia dan rektum: herpes.

• Neurologi: kejang, gangguan memori, neuropati.

c)      Mantoux test

d)     Pemeriksaan laboratorium darah (Kadar CD4, Hepatitis, Paps smear, Toxoplasma, Virus
load.

8.    Penatalaksanaan

Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita tetap sehat adalah
dengan memakai terapi antiretroviral (ART). Perempuan terinfeksi HIV di seluruh dunia sudah
memakai obat antiretroviral (ARV) secara aman waktu hamil lebih dari sepuluh tahun. ART
sudah berdampak besar pada kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Oleh karena ini,
banyak dari mereka yang diberi semangat untuk mempertimbangkan mendapatkan
anak. Antiretrovirus direkomendasikan untuk semua wanita yang terinfeksi HIVAIDS yang
sedang hamil untuk mengurangi resiko transmisi perinatal. Hal ini berdasarkan bahwa resiko
40
transmisi perinatal meningkat sesuai dengan kadar HIV ibu dan resiko transmisi dapat diturunkan
hingga 20% dengan terapi antiretrovirus (McFarland, 2003).

Tujuan utama pemberian antiretrovirus pada kehamilan adalah menekan perkembangan


virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup, mengurangi morbiditas dan
mortalitas penyakit yang menyertai HIV. Pada kehamilan, keuntungan pemberian antiretrovirus
ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas, teratogenesis dan efek samping jangka lama.
Akan tetapi, efek penelitian mengenai toksisitas, teratogenesis, dan efek samping jangka lama
antiretrovirus pada wanita hamil masih sedikit. Efek samping tersebut diduga akan meningkat
pada pemberian kombinasi antiretrovirus, seperti efek teratogenesis kombinasi antiretrovirus dan
antagonis folat yang dilaporkan Jungmann, dkk. Namun penelitian terakhir oleh Toumala, dkk
menunjukkan bahwa dibandingkan dengan monoterapi, terapi kombinasi antiretrovirus tidak
meningkatkan resiko prematuritas, berat badan lahir rendah atau kematian janin
intrauterine (Maslow, 1995).

Selain seksio sesarea, berbagai cara telah dicoba untuk menurunkan resiko transmisi
intrapartum pada wanita yang terinfeksi HIV-AIDS. Salah satunya adalah pencucian jalan lahir
dengan kassa yang direndam dengan 0,25% klorheksidin. Ternyata cara ini tidak dapat
mengurangi resiko transmisi partus pervaginam. Perinatal HIV Guidelines Working Group di
Amerika Serikat mengajukan rekomendasi penatalaksanaan obstetrik untuk mengurangi transmisi
HIV vertikal. Rekomendasi yang dianjurkan adalah:

a.        Cara Persalinan: Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang pada kehamilan di
atas 36 minggu, belum mendapat antiretrovirus, dan sedang menunggu hasil pemeriksaan kadar
HIV dan CD4 yang diperkirakan ada sebelum persalinan.

Rekomendasi: Ada beberapa regimen yang harus didiskusikan dengan jelas. Wanita hamil yang
terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat terapi antiretrovirus seperti regimen PACTG 076. Wanita
hamil yang terinfeksi HIV-AIDS dilakukan konseling tentang seksio sesarea untuk mengurangi
resiko transmisi dan resiko komplikasi pascaoperasi, anestesi, dan resiko operasi lain
padanya. Jika diputuskan seksio sesarea, seksio direncanakan pada minggu ke-38 kehamilan,.
Selama seksio, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS mendapat zidovudin intravena yang
dimulai 3 jam sebelumnya, dan bayi mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu. Keputusan akan
meneruskan antiretrovirus setelah melahirkan atau tidak tergantung pada hasil pemeriksaan kadar
virus dan CD4.

b.        Cara Persalinan: Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang pada kehamilan
awal, sedang mendapat kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tetap di atas 1000 kopi/mL pada
minggu ke 36 kehamilan.

Rekomendasi: Regimen antiretrovirus yang digunakan tetap diteruskan. Wanita hamil yang
terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat konseling bahwa kadar HIV-nya mungkin tidak turun
sampai kurang dari 1000 kopi/mL sebelum persalinan, sehingga dianjurkan untuk melakukan

41
seksio sesarea. Demikian juga dengan resiko komplikasi seksio yang meningkat, seperti infeksi
pascaoperasi, anestesi, dan operasi. Jika diputuskan seksio sesarea, seksio direncanakan pada
minggu ke-38 kehamilan. Selama seksio, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS mendapat
zidovudin intravena yang dimulai minimal 3 jam sebelumnya. antiretrovirus lain tetap diteruskan
sebelum dan sesudah persalinan. Bayi mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.

c.         Cara Persalinan: Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sedang mendapat
kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tidak terdeteksi pada minggu ke 36 kehamilan.

Rekomendasi: Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS diberikan konseling bahwa kemungkinan
transmisi jika kadar HIV tidak terdeteksi mungkin kurang dari 2 %, bahkan pada persalinan
pervaginam. Pemilihan cara persalinan harus mempertimbangkan keuntungan dan resiko
komplikasi seksio.

d.        Cara Persalinan: Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sudah direncanakan seksio
sesarea elektif, namun datang pada awal persalinan atau setelah ketuban pecah.

Rekomendasi: Zidovudin intravena segera diberikan. Jika kemajuan persalinan cepat, wanita
hamil yang terinfeksi HIV-AIDS ditawarkan untuk menjalani persalinan pervaginam. Jika dilatasi
serviks minimal dan diduga persalinan akan berlangsung lama, dapat dipilih antara zidovudine
intravena dan melakukan seksio sesarea atau memberikan pitosin untuk mempercepat persalinan.
Jika diputuskan untuk menjalani persalinan pervaginam, elektrode kepala, monitor invasive dan
alat bantu lain sebaiknya dihindari. Bayi sebaiknya mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.

9.        Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi

HIV adalah virus penyebab AIDS, dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya. Tanpa
upaya pencegahan, kurang-lebih 30 persen bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular
juga. Infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, namun biasanya terjadi beberapa saat
sebelum atau selama persalinan. Bayi lebih mungkin terinfeksi bila proses persalinan berlangsung
lama. Selama persalinan, bayi yang baru lahir terpajan darah ibunya. (Ngwende, Stella, 2013)

Seperti diuraikan di atas, ART telah terbukti telah memainkan peran penting dalam menurunkan
tingkat PMTCT dan di mana pedoman ada yang merekomendasikan, berdasarkan bukti, bahwa
semua wanita hamil HIV positif harus sudah mulai ART pada minggu 24 kehamilan mereka,
infeksi HIV di kalangan anak-anak meningkat jika jumlah CD4 ibu adalah ≤200 sel / uL dan jika
anak itu terkena makan campuran. ASI eksklusif selama kurang dari enam bulan adalah
pelindung. Direkomendasikan periode pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan
berhenti menyusui setelah 6 bulan jika terjangkau, berkelanjutan dan aman. (Ngwende, Stella,
2013)

Sebagaimana telah kita lihat di atas, seorang wanita hamil yang positif HIV risiko menularkan
virus kepada anaknya dalam rahim. Namun, seperti disebutkan sebelumnya, ada berbagai langkah
yang dapat diambil untuk mengurangi risiko penularan. Ini termasuk ART menjalani dan
42
pengiriman tepat. Namun, agar pengobatan yang tepat akan tersedia, tenaga profesional
kesehatan perlu mengetahui status HIV dari ibu. Oleh karena itu, seperti diuraikan di atas, tes
HIV antenatal telah menjadi bagian penting dalam proses mengurangi HIV ini termasuk dalam 14
standar T diantaranya adalah tes PMS. Sebagai seorang Bidan kita harus bisa melakukan deteksi
dini terutama kepada ibu hamil yang beresiko tinggi untuk mengidap infeksi menular seksual.
(Pantiawati, 2010)

Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi, dilaksanakan secara
komprehensif dengan menggunakan empat prong, yaitu:

Ø Prong 1: mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduktif.

Ø Prong 2: mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif.

Ø Prong 3: mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang
dikandungnya.

Ø Prong 4: memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif
beserta bayi dan keluarganya (Kemenkes, 2012).

Prong 1: Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi

-        Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada anak
adalah dengan mencegah penularan HIV pada perempuan usia reproduksi 15-49 tahun
(pencegahan primer). Pencegahan primer bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak
secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan seksual berisiko atau bila terjadi
perilaku seksual berisiko maka penularan masih bisa dicegah, termasuk mencegah ibu dan ibu
hamil agar tidak tertular oleh pasangannya yang terinfeksi HIV.

-        Upaya pencegahan ini tentunya harus dilakukan dengan penyuluhan dan penjelasan yang
benar terkait penyakit HIV dan AIDS, dan penyakit IMS dan di dalam koridor kesehatan
reproduksi. Isi pesan yang disampaikan tentunya harus memperhatikan usia, norma, dan adat
istiadat setempat, sehingga proses edukasi termasuk peningkatan pengetahuan komprehensif
terkait HIV dan AIDS dikalangan remaja semakin baik.

-        Untuk menghindari perilaku seksual yang berisiko upaya mencegah penularan HIV
menggunakan strategi “ABCD”, yaitu:

o  A (Abstinence), artinya Absen seks atau tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang
belum menikah;

o  B (Be Faithful), artinya Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti-ganti
pasangan);

43
o  C (Condom), artinya Cegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan
kondom;

o  D (Drug No), artinya Dilarang menggunakan narkoba(Kemenkes, 2012).

Kegiatan yang dapat dilakukan pada pencegahan primer antara lain:

1)   Menyebarluaskan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang HIV dan AIDS dan
Kesehatan Reproduksi, baik secara individu maupun kelompok, untuk:

a.    Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara menghindari penularan HIV dan IMS

b.    Menjelaskan manfaat mengetahui status atau tes HIV sedini mungkin

c.    Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan tentang tata laksana ODHA perempuan

d.   Meningkatkan keterlibatan aktif keluarga dan komunitas untuk meningkatkan pengetahuan


komprehensif HIV dan IMS

Sebaiknya, pesan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak juga disampaikan kepada remaja,
sehingga mereka mengetahui cara agar tidak terinfeksi HIV. Informasi tentang Pencegahan
Penularan HIV dari Ibu ke Anak juga penting disampaikan kepada masyarakat luas sehingga
dukungan masyarakat kepada ibu dengan HIV dan keluarganya semakin kuat (Kemenkes, 2012).

2)   Mobilisasi masyarakat

a.    Melibatkan petugas lapangan (seperti kader kesehatan/PKK, Petugas Lapangan Keluarga


Berencana (PLKB), atau posyandu) sebagai pemberi informasi pencegahan HIV dan IMS kepada
masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan .

b.    Menjelaskan tentang cara pengurangan risiko penularan HIV dan IMS, termasuk melalui
penggunaan kondom dan alat suntik steril

c.    Melibatkan komunitas, kelompok dukungan sebaya, tokoh agama dan tokoh masyarakat
dalam menghilangkan stigma dan diskriminasi

3)   Layanan tes HIV

Konseling dan tes HIV dilakukan melalui pendekatan Konseling dan Tes atas Inisiasi Petugas
Kesehatan (TIPK) dan Konseling dan Tes Sukarela (KTS), yang merupakan komponen penting
dalam upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Cara untuk mengetahui status HIV
seseorang adalah melalui tes darah. Prosedur pelaksanaan tes darah dilakukan dengan
memperhatikan 3 C yaitu Counselling, Confidentiality, dan informed consent. Jika status HIV ibu
sudah diketahui:

44
a.    HIV positif: lakukan intervensi PPIA komprehensif agar ibu tidak menularkan HIV kepada
bayi yang dikandungnya

b.    HIV negatif: lakukan konseling tentang cara menjaga agar tetap HIV negatif

Layanan konseling dan tes HIV diintegrasikan dengan pelayanan KIA sesuai dengan strategi
Layanan Komprehensif Berkesinambungan, agar:

a.       Konseling dan tes HIV dapat ditawarkan kepada semua ibu hamil dalam paket pelayanan
ANC terpadu, sehingga akan mengurangi stigma terhadap HIV dan AIDS;

b.      Layanan konseling dan tes HIV di layanan KIA akan menjangkau banyak ibu hamil,
sehingga pencegahan penularan ibu ke anaknya dapat dilakukan lebih awal dan sedini mungkin.

c.       Penyampaian informasi dan tes HIV dapat dilakukan oleh semua petugas di fasilitas
pelayanan kesehatan kepada semua ibu hamil dalam paket pelayanan ANC terpadu, sehingga
akan mengurangi stigma terhadap HIV dan AIDS.

d.      Pelaksanaan konseling dan tes HIV mengikuti Pedoman Konseling dan Tes HIV; petugas
wajib menawarkan tes HIV dan melakukan pemeriksaan IMS, termasuk tes sifilis, kepada semua
ibu hamil mulai kunjungan antenatal pertama bersama dengan pemeriksaan laboratorium lain
untuk ibu hamil (inklusif dalam paket pelayanan ANC terpadu).

e.       Tes HIV ditawarkan juga bagi pasangan laki-laki perempuan dan ibu hamil yang dites
(couple conselling);

f.       Di setiap jenjang layanan kesehatan yang memberikan layanan PPIA dalam paket
pelayanan KIA, harus ada petugas yang mampu melakukan konseling dan tes HIV;

g.      Di layanan KIA, konseling pasca tes bagi perempuan HIV negatif difokuskan pada
informasi dan bimbingan agar klien tetap HIV negatif selama kehamilan, menyusui dan
seterusnya;

h.      Konseling penyampaian hasil tes bagi perempuan atau ibu hamil yang HIV positif juga
memberikan kesempatan untuk dilakukan konseling berpasangan dan penawaran tes HIV bagi
pasangan laki-laki;

i.        Pada setiap jenjang pelayanan kesehatan, aspek kerahasiaan ibu hamil ketika mengikuti
proses konseling sebelum dan sesudah tes HIV harus terjamin;

j.        Menjalankan konseling dan tes HIV di klinik KIA berarti mengintegrasikan juga program
HIV dan AIDS dengan layanan lainnya, seperti pemeriksaan rutin untuk IMS, pengobatan IMS,
layanan kesehatan reproduksi, pemberian gizi tambahan, dan keluarga berencana;

45
k.      Upaya pengobatan IMS menjadi satu paket dengan pemberian kondom sebagai bagian dari
upaya pencegahan.

4)        Dukungan untuk perempuan yang HIV negatif

a.    Ibu hamil yang hasil tesnya HIV negatif perlu didukung agar status dirinya tetap HIV
negatif;

b.    Menganjurkan agar pasangannya menjalani tes HIV;

c.    Membuat pelayanan KIA yang bersahabat untuk pria, sehingga mudah dan dapat diakses
oleh suami/pasangan ibu hamil;

d.   Mengadakan kegiatan konseling berpasangan pada saat kunjungan ke layanan KIA;

e.    Peningkatan pemahaman tentang dampak HIV pada ibu hamil, dan mendorong dialog yang
lebih terbuka antara suami dan istri/ pasangannya tentang perilaku seksual yang aman;

f.     Memberikan informasi kepada pasangan laki-laki atau suami bahwa dengan melakukan
hubungan seksual yang tidak aman, dapat berakibat pada kematian calon bayi, istri dan dirinya
sendiri;

g.    Menyampaikan informasi kepada pasangan laki-laki atau suami tentang pentingnya memakai
kondom untuk mencegah penularan HIV.

Prong 2: Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV

Perempuan dengan HIV berpotensi menularkan virus kepada bayi yang dikandungnya jika
hamil.Karena itu, ODHA perempuan disarankan untuk mendapatkan akses layanan yang
menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi yang aman dan efektif untuk mencegah kehamilan
yang tidak direncanakan. Konseling yang berkualitas,penggunaan alat kontrasepsi yang aman dan
efektif serta penggunaan kondom secara konsisten akan membantu perempuan dengan HIV agar
melakukan hubungan seksual yang aman, serta menghindari terjadinya kehamilan yang tidak
direncanakan. Perlu diingat bahwa infeksi HIV bukan merupakan indikasi aborsi.

·         Perempuan dengan HIV yang tidak ingin hamil dapat menggunakan kontrasepsi yang
sesuai dengan kondisinya dan disertai penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV dan
IMS.

·         Perempuan dengan HIV yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak lagi disarankan
untuk menggunakan kontrasepsi mantap dan tetap menggunakan kondom.

Sejalan dengan kemajuan pengobatan HIV dan intervensi PPIA, ibu dengan HIV dapat
merencanakan kehamilannya dan diupayakan agar bayinya tidak terinfeksi HIV. Petugas

46
kesehatan harus memberikan informasi yang lengkap tentang berbagai kemungkinan yang dapat
terjadi, terkait kemungkinan terjadinya penularan, peluang anak untuk tidak terinfeksi HIV.
Dalam konseling perlu juga disampaikan bahwa perempuan dengan HIV yang belum terindikasi
untuk terapi ARV bila memutuskan untuk hamil akan menerima ARV seumur hidupnya. Jika ibu
sudah mendapatkan terapi ARV, jumlah virus HIV di tubuhnya menjadi sangat rendah (tidak
terdeteksi), sehingga risiko penularan HIV dari ibu ke anak menjadi kecil, artinya, ia mempunyai
peluang besar untuk memiliki anak HIV negatif. Ibu dengan HIV berhak menentukan
keputusannya sendiri atau setelah berdiskusi dengan pasangan, suami atau keluarganya. Perlu
selalu diingatkan walau ibu/pasangannya sudah mendapatkan ARV demikian penggunaan
kondom harus tetap dilakukan setiap hubungan seksual untuk pencegahan penularan HIV pada
pasangannya. Beberapa kegiatan untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu
dengan HIV antara lain:

o  Mengadakan KIE tentang HIV dan AIDS dan perilaku seks aman;

o  Menjalankan konseling dan tes HIV untuk pasangan;

o  Melakukan upaya pencegahan dan pengobatan IMS;

o  Melakukan promosi penggunaan kondom;

o  Memberikan konseling pada perempuan dengan HIV untuk ikut KB dengan menggunakan
metode kontrasepsi dan cara yang tepat;

o  Memberikan konseling dan memfasilitasi perempuan dengan HIV yang ingin merencanakan
kehamilan.

Prong 3: Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil dengan HIV ke bayi yang dikandungnya

Strategi pencegahan penularan HIV pada ibu hamil yang telah terinfeksi HIV ini merupakan inti
dari kegiatan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
yang komprehensif mencakup kegiatan sebagai berikut:

1. Layanan ANC terpadu termasuk penawaran dan tes HIV;

2. Diagnosis HIV

3. Pemberian terapi antiretroviral;

4. Persalinan yang aman;

5. Tata laksana pemberian makanan bagi bayi dan anak;

6. Menunda dan mengatur kehamilan;

7. Pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak;

47
8. Pemeriksaan diagnostik HIV pada anak.

Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah, diimplementasikan Prong 1 dan Prong 2. Pada
daerah dengan prevalensi HIV yang terkonsentrasi, diimplementasikan semua prong. Ke-empat
prong secara nasional dikoordinir dan dijalankan oleh pemerintah, serta dapat dilaksanakan
institusi kesehatan swasta dan lembaga swadaya masyarakat.

Pedoman baru dari WHO mengenai pencegahan penularan dari ibu ke bayi (preventing mother-
to-child transmission/ PMTCT) berpotensi meningkatkan ketahanan hidup anak dan kesehatan
ibu, mengurangi risiko (mother-to-child transmission/MTCT) hingga 5% atau lebih rendah serta
secara jelas memberantas infeksi HIV pediatrik.Pedoman itu memberikan perubahan yang
bermakna pada beberapa tindakan di berbagai bidang. Anjuran kunci adalah:

-     ART untuk semua ibu hamil yang HIV-positif dengan jumlah CD4+ di bawah 350 atau
penyakit WHO stadium 3 atau penyakit HIV stadium 4, tidak menunda mulai pengobatan dengan
tulang punggung AZT dan 3TC atau tenofovir dan dengan 3TC atau FTC.

-     Penyediaan antiretroviral profilaksis yang lebih lama untuk ibu hamil yang HIV-positif yang
membutuhkan ART untuk kesehatan ibu.

-     Apabila ibu menerima ART untuk kesehatan ibu, bayi harus menerima profilaksis nevirapine
selama enam minggu setelah lahir apabila ibunya menyusui, dan profilaksis dengan nevirapine
atau AZT selama enam minggu apabila ibu tidak menyusui.

-     Untuk pertama kalinya ada cukup bukti bagi WHO untuk mendukung pemberian ART
kepada ibu atau bayi selama masa menyusui, dengan anjuran bahwa menyusui dan profilaksis
harus dilanjutkan hingga bayi berusia 12 bulan apabila status bayi adalah HIV-negatif atau tidak
diketahui.

-     Apabila ibu dan bayi adalah HIV-positif, menyusui harus didorong untuk paling sedikit dua
tahun hidup, sesuai dengan anjuran bagi populasi umum.

Untuk mencegah penularan pada bayi, yang paling penting adalah mencegah penularan pada
ibunya dulu. Harus ditekankan bahwa bayi hanya dapat tertular oleh ibunya. Jadi bila ibunya
HIV-negatif, maka bayi juga tidak terinfeksi HIV. Status HIV ayah tidak mempengaruhi status
HIV bayi.

Hal ini dapat dijelaskan karena sperma dari penderita HIV tidak mengandung virus, yang
mengandung virus adalah air mani. Oleh sebab itu, telur ibu tidak dapat ditularkan sperma. Jelas,
bila perempuan tidak terinfeksi, dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki tanpa kondom
dalam upaya membuat anak, ada risiko si perempuan tertular. Dan bila perempuan terinfeksi pada
waktu tersebut, dia sendiri dapat menularkan virus pada bayi. Tetapi laki-laki tidak dapat
langsung menularkan janin atau bayi. Hal ini menekankan pentingnya kita menghindari infeksi
HIV pada perempuan.

48
Tetapi untuk ibu yang sudah terinfeksi, kehamilan yang tidak diinginkan harus dicegah. Bila
kehamilan terjadi, harus ada usaha mengurangi viral load ibu di bawah 1.000 agar bayi tidak
tertular dalam kandungan, mengurangi risiko kontak cairan ibunya dengan bayi waktu lahir agar
penularan tidak terjadi waktu itu, dan hindari menyusui untuk mencegah penularan melalui ASI.
Dengan semua upaya ini, kemungkinan si bayi terinfeksi dapat dikurangi jauh di bawah 8%.Jelas
yang paling baik adalah mencegah penularan pada perempuan. Hal ini membutuhkan
peningkatan pada program pencegahan, termasuk penyuluhan, pemberdayaan perempuan,
penyediaan informasi dan kondom, harm reduction, dan hindari transfusi darah yang tidak benar-
benar dibutuhkan.Untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, program tidak jauh berbeda
dengan pencegahan infeksi HIV. ODHA perempuan yang memakai obat antiretroviral harus
sadar bahwa kondom satu-satunya alat KB yang efektif. Dalam hal ini, mungkin kondom
perempuan adalah satu sarana yang penting.

Prong 4: Pemberian Dukungan Psikologis, Sosial dan Perawatan kepada Ibu dengan HIV beserta
Anak danKeluarganya

Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tidak berhenti setelah ibu melahirkan.Ibu
akan hidup dengan HIV di tubuhnya. Ia membutuhkan dukungan psikologis, sosialdan perawatan
sepanjang waktu. Hal ini terutama karena si ibu akan menghadapimasalah stigma dan
diskriminasi masyarakat terhadap ODHA. Faktor kerahasiaanstatus HIV ibu sangat penting
dijaga. Dukungan juga harus diberikan kepada anak dankeluarganya.Beberapa hal yang mungkin
dibutuhkan oleh ibu dengan HIV antara lain:

· Pengobatan ARV jangka panjang

· Pengobatan gejala penyakitnya

· Pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemantauan terapi ARV (termasuk CD4dan viral load)

· Konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan

· Informasi dan edukasi pemberian makanan bayi

· Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya.

· Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV danpencegahannya

· Layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat

· Kunjungan ke rumah (home visit)

· Dukungan teman-teman sesama HIV positif, terlebih sesama ibu dengan HIV

· Adanya pendamping saat sedang dirawat

· Dukungan dari pasangan

49
· Dukungan kegiatan peningkatan ekonomi keluarga

· Dukungan perawatan dan pendidikan bagi anak

· Dengan dukungan psikososial yang baik, ibu dengan HIV akan bersikap optimis
dan bersemangat mengisi kehidupannya.

50
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyakit yang berhubungan dengan persalinan dan BBL antara lain

a. Penyakit infeksi

Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri,
jamur, dan parasit. Meski beberapa jenis organisme terdapat di tubuh dan tergolong tidak
berbahaya, pada kondisi tertentu, organisme-organisme tersebut dapat menyerang dan
menimbulkan gangguan kesehatan, yang bahkan berpotensi menyebabkan kematian.seperti torch,
malaria, ascariasis, hepatitis, TBC, herpes, varicella

b. Penyakit sistemik

Penyakit sistemik adalah gejala penyakit yang bertalian dengan adanya kelainan kondisi sistem


metabolisme tubuh manusia. Hal itu bisa karena adanya alergi atau kepekaan tubuh terhadap
suatu unsur/zat tertentu, bakteri tertentu, atau suatu kondisi kelainan tubuh yang memicu
komplikasi, contohnya seperti DM

c. Penyakit kardiovaskuler

Penyakit kardiovaskuler terjadi karena adanya gangguan pada  jantung dan pembuluh darah.
Penyakit jantung dan stroke merupakan dua penyakit kardiovaskuler yang paling banyak dikenal,
namun ada juga penyakit kardiovaskuler yang lain.

d. Penyakit imunologi/ alergi

Penyakit imunologi adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh atau


sistem imun menyerang sel-sel sehat dalam tubuh Anda sendiri. Penyakit ini berkembang ketika
sistem kekebalan tubuh salah dalam menilai sel sehat yang ada dalam tubuh dan malah
menganggapnya sebagai zat asing. Dan penyakit alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh
manusia terhadap benda tertentu,  yang seharusnya tidak menimbulkan reaksi di tubuh orang
lain. Reaksi tersebut dapat muncul dalam bentuk pilek, ruam kulit yang gatal, atau bahkan sesak
napas.

B. SARAN

Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekuarangn dan kesalahan, penulis mohon maaf.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penulis dapat
membuat makalah yang lebih baik di kemudian hari.

51
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom, KD. Penyakit
menular seksual. Dalam: Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC,
Wenstrom, KD. Obstetri Williams. EGC, Jakarta; 2006; 1680-1681.

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Informasi umum.


Dalam: Pratomo H. et al. (eds). Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2012.

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Faktor risiko


penularan HIV dari ibu ke bayi. Dalam: Pratomo H. et al. (eds). Pedoman pencegahan
penularan HIV dari ibu dan bayi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2012.

Green WC. Latar belakang dan masalah umum. Dalam: Green WC (eds). HIV, kehamilan,
dan kesehatan perempuan. Yayasan spiritia, Jakarta;2009:4-6.

Hazemba et al. 2016. Promotion of exclusive breastfeeding among HIV-positive mothers: an


exploratory qualitative study.I nternational Breastfeeding Journal (2016) 11:9 DOI
10.1186/s13006-016-0068-7

Kusmiyati. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta. Fitramaya

Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. Kebijakan PMTCT Indonesia: PMTCT.net; 2008.
h.1.

Maslow S. AIDS in Gynocology in Gynecology and Obstetrics Sciarra. Volume 1 Edisi


Revisi.1995. J.B Lippincott Company 46. Philadelphia (1-12).

McFarland, Elizabeth J. Human Immunodeficiency Virus (HIV) Infection in : Current


Pediatric Diagnosis&Treatment. 16th edition. 2003. McGraw&Hill Company. Singapore
(1140-50).

Ngewende Stella. 2013. Factors associated with HIV infection among children born to
mothers on the prevention of mother to child transmission programme at Chitungwiza
Hospital, Zimbabwe, 2008. BMC Pubilc Health.

Pantiawati Ika,Saryono.2010. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan).Yogyakarta: Nuhamedika

Suwendra, Putu.. Human Immunodeficiency Virus. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak
Infeksi&Penyakit Tropis. Edisi Pertama. 2001. IDAI. Jakarta (281-301).

Volderding A, Sande A.. The Medical Management of AIDS. 4th edition. 1995. WB


Saunders Company. United State of America . (22-4, 614-32).

Yayasan Spiritia. Pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi. (PMTCT). 2008. Diunduh


dari: http://spiritia.or.id/cst/showart.php?cst=mtct [Diakses tanggal 27 Juli2016).

52

Anda mungkin juga menyukai