Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ILMU PENYAKIT TROPIS

“TATALAKSANA PENYAKIT MALARIA”

Disusun Oleh :

Nama : NIRMAYANTI

NIM : 194110301

Tingkat : 2 A

Dosen Pembimbing: dr.Winanda,MARS

PRODI D III KEBIDANAN PADANG


JURUSAN KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karna rahmat dan hidayah-Nya, penyusunan makalah
ini bisa diselesaikan. Untaian Sholawat dan salampun tidak lupa dituturkan tertuju kepada
junjungan kita, Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kami membuat makalah ini bertujuan untuk menyelasaikan tugas yang diberikan oleh
dosen. Dari pembuatan makalah ini tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi bertujuan
menambah pengetahuan dan wawasan kita bersama.
Dan semoga sekiranya makalah ini bisa menambah pengetahuan bagi pembaca. Meski
begitu, penulis sadar bahwa makalah ini perlu untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca akan kami terima dengan senang hati.

Padang, 02 Februari 2021

Penulis

i
i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1

A. Latar Belakang .............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.........................................................................................2

C. Tujuan...........................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................3

A. Berobat Jalan................................................................................................3

B. Persiapan Rujukan........................................................................................3

C. Medikamentosa.............................................................................................4

D. Malaria pada Wanita Hamil..........................................................................8

E. Evaluasi Pengobatan...................................................................................10

BAB III PENUTUP.....................................................................................................12

A. Kesimpulan.................................................................................................12

B. Saran...........................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada tahun 2010 di Indonesia terdapat 65% kabupaten endemis dimana hanya sekitar 45%
penduduk di kabupaten tersebut berisiko tertular malaria. Berdasarkan hasil survei komunitas
selama 2007 – 2010, prevalensi malaria di Indonesia menurun dari 1,39 % (Riskesdas 2007)
menjadi 0,6% (Riskesdas 2010). Sementara itu berdasarkan laporan yang diterima selama tahun
2000- 2009, angka kesakitan malaria cenderung menurun yaitu sebesar 3,62 per 1.000 penduduk
pada tahun 2000 menjadi 1,85 per 1.000 penduduk pada tahun 2009 dan 1,96 tahun 2010.
Sementara itu, tingkat kematian akibat malaria mencapai 1,3%.

Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu
hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan
produktivitas kerja.

Walaupun telah terjadi penurunan Annual Parasite Incidence (API) secara nasional, di
daerah dengan kasus malaria tinggi angka API masih sangat tinggi dibandingkan angka nasional,
sedangkan pada daerah dengan kasus malaria yang rendah sering terjadi kejadian Luar Biasa
(KLB) sebagai akibat adanya kasus impor. Pada tahun 2011 jumlah kematian malaria yang
dilaporkan adalah 388 kasus.

Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian dilakukan melalui program
pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat
dan tepat, serta surveilans dan pengendalian vektor dalam hal pendidikan masyarakat dan
pengertian tentang kesehatan lingkungan, yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata
rantai penularan malaria. Kasus resistensi parasit malaria terhadap klorokuin ditemukan pertama
kali di Kalimantan Timur pada tahun 1973 untuk P. falcifarum, dan tahun 1991 untuk P. vivax di
Nias. Sejak tahun 1990, kasus resistensi tersebut dilaporkan makin meluas di seluruh provinsi di
Indonesia. Selain itu, dilaporkan juga adanya resistensi terhadap Sulfadoksin-Pirimethamin (SP)

1
di beberapa tempat di Indonesia. Keadaan ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
penyakit malaria. Oleh sebab itu, untuk menanggulangi masalah resistensi tersebut (multiple
drugs resistance) dan adanya obat anti malaria baru yang lebih paten, maka pemerintah telah
merekomendasikan obat pilihan pengganti klorokuin dan SP, yaitu kombinasi derivate
artemisinin dengan obat anti malaria lainnya yang biasa disebut dengan Artemisinin based
Combination Therapy (ACT).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penatalaksanaan penyakit malaria ?

2. Bagaimana penatalaksanaan penyakit malaria pada kehamilan?

C.Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan penyakit malaria

2. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan penyakit malaria pada kehamilan

2
BAB II
PEMBAHASAN

Penatalaksanaan malaria di Indonesia meliputi pengobatan yang radikal mengikuti


kebijakan nasional pengendalian malaria di Indonesia. Pengobatan dengan artemisinin-based
combination therapy (ACT) hanya boleh diberikan pada pasien dengan hasil pemeriksaan darah
malaria positif. Pada kasus malaria berat, penatalaksanaan tidak boleh ditunda.

A. Berobat Jalan

Pasien malaria nonfalciparum tanpa gejala berat dan dapat mengonsumsi obat oral dapat
berobat jalan. Evaluasi pengobatan dilakukan pada hari ke-3, -7, -14, -21, dan -28 berdasarkan
gejala klinis dan pemeriksaan darah mikroskopis. Edukasi pasien untuk segera memeriksakan
diri jika ada pemburukan klinis tanpa menunggu jadwal tersebut

Pasien rawat inap dengan keadaan umum dan kesadaran baik, telah bebas demam 3 hari tanpa
obat penurun demam dan pemeriksaan parasit negatif 3 kali berturut-turut dengan jarak waktu
12-24 jam, dapat dipulangkan dan berobat jalan.

B. Persiapan Rujukan

Setiap kasus malaria berat harus dirawat inap atau dirujuk ke fasilitas kesehatan dengan
fasilitas yang memadai. Risiko kematian tertinggi pada malaria berat atau malaria serebral terjadi
pada 24 jam pertama. Untuk itu, pasien dengan waktu rujukan >6 jam perlu diberikan antimalaria
sebelum dirujuk.

Antimalaria yang dianjurkan adalah artesunate dan artemether intramuskular. Jika kedua


obat tersebut tidak tersedia, kina intramuskular (paha) dapat diberikan. Artesunate rektal hanya
direkomendasikan untuk anak berusia < 6 tahun (dosis 10 mg/kgBB) jika artesunate intravena
atau intramuskular tidak tersedia. Di Indonesia, bila tidak tersedia artesunate, maka dapat
diberikan dihidroartemisinin-piperakuin (DHP) sebanyak 1 kali (bila toleransi oral baik).

Pasien yang gagal diterapi dengan antimalaria lini pertama memerlukan rujukan ke fasilitas
kesehatan yang memiliki antimalaria lini kedua.

3
C. Medikamentosa

Obat antimalaria tidak boleh diberikan sebelum malaria terkonfirmasi melalui


pemeriksaan laboratorium. Pemberian antimalaria bertujuan untuk membunuh semua stadium
parasit di dalam tubuh, termasuk gametosit. Pada kasus infeksi Plasmodium
vivax dan Plasmodium ovale, antimalaria yang dapat membunuh hipnozoit perlu diberikan untuk
mencegah relaps. Jenis antimalaria perlu disesuaikan dengan daerah pasien terinfeksi, sebab
adanya pola resistensi obat yang berbeda.

Medikamentosa yang dianjurkan di Indonesia untuk kasus malaria tanpa komplikasi


adalah DHP oral dengan atau tanpa primaquine (tergantung jenis malaria). chloroquine tidak lagi
digunakan karena banyaknya kasus resistensi.

DHP diberikan 1 kali sehari selama 3 hari. Dosis primaquine yang digunakan adalah 0,25
mg/kgBB/hari. Obat antimalaria dikonsumsi sehabis makan (tidak dalam keadaan perut kosong).

1. Malaria Falciparum

Medikamentosa yang diberikan untuk malaria falciparum adalah DHP selama 3 hari +
primaquine selama 1 hari dengan dosis sebagai berikut:

 Dosis DHP dan Primaquine untuk Malaria Falciparum

Obat Jumlah Tablet per Hari berdasarkan Berat Badan

>5-6 >6-10 >10-17 >17-30 >30-40 >40-60 >60-80


  ≤5 kg kg kg kg kg kg kg kg >80 kg

0–1 2–<6 6–12 5–9 10-14 ≥15 ≥15 ≥15


bulan bulan bulan <5 tahun tahun tahun tahun tahun tahun

DHP

(Hari 1–3) 1/3 ½ ½ 1 1½ 2 3 4 5

primaquine - - ¼ ¼ ½ ¾ 1 1 1

4
Hari 1

Sumber: dr. Saphira Evani, 2020[4,40]

Dosis target DHP adalah dihidroartemisin dengan dosis 2,5–10 mg/kgBB/hari dan
piperakuin 20–32 mg/kgBB/hari. Pada kasus malaria falciparum campuran dengan malaria vivax
atau ovale, primaquine diberikan selama 14 hari. Pada kasus malaria falciparum campuran
dengan malaria malariae, primaquine diberikan 1 hari.

Berdasarkan CDC, terapi alternatif untuk Plasmodium falciparum atau spesies tidak


teridentifikasi di area resisten chloroquine yang dapat digunakan adalah:

Antimalaria kombinasi dosis tetap (KDT) atovaquone-proguanil (Malarone)

 KDT artemether-lumefantrine (Coartem)

Kina + doxycycline, tetracycline, atau clindamycin selama 7 hari (di Asia Tenggara), mefloquine
(hanya jika tidak ada terapi lain yang tersedia). Pada pasien anak, kuinin sulfat dapat diberikan
tunggal tanpa antibiotik selama 7 hari

Medikamentosa lini kedua untuk malaria falciparum adalah kombinasi kina-doxycycline-


primaquine atau kina-tetracycline-primaquine. Medikamentosa ini diberikan apabila lini pertama
gagal disertai jumlah parasit stadium aseksual yang tidak berkurang atau timbul kembali.[40]

 Dosis Kina dan primaquine untuk Malaria Falciparum

Jumlah Tablet Harian berdasarkan Berat Badan

>5-6 >10-17 >17-30 >30-40 >40-60 >60-80


≤5 kg kg >6-10 kg kg kg kg kg kg

0-1 2- <6 6-12 5-9 10-14 ≥15 ≥15


Obat bulan bulan bulan <5 tahun tahun tahun tahun tahun

Kina sesuai 3x½ 3x½ 3x1 3x1½ 3x2 3x2½ 3x3


berat

5
(Hari 1–7) badan

primaquine

(Hari 1) - - ¼ ¼ ½ ¾ 1 1

Keterangan:

Dosis kina adalah 3x10 mg/kgBB

 Dosis Doxycycline

Hari Dosis Harian berdasarkan Berat Badan

  <19 kg >19–29 kg >29–44 kg >44–59 kg >59 kg

<8 tahun ≥8 tahun 10-14 tahun ≥15 tahun ≥15 tahun

1–7 - 2x25 mg 2x50 mg 2x75 mg 2x100 mg

Keterangan:

Pasien ≥15 tahun: dosis doxycycline 3,5 mg/kgBB/hari, 2 kali sehari

Pasien 8–14 tahun: dosis doxycycline 2,2 mg/kgBB/hari, 2 kali sehari

Dosis Tetracycline

Hari Dosis Harian berdasarkan Usia

  <8 tahun 8–14 tahun ≥15 tahun ≥15 tahun ≥15 tahun

1–7 - 4x125 mg 4x125 mg 4x250 mg 4x250 mg

Keterangan: dosis tetracycline 4 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari

2. Malaria Vivax

6
Medikamentosa yang diberikan untuk malaria vivax adalah DHP selama 3 hari + primaquine
selama 14 hari dengan dosis sebagai berikut:

 Dosis DHP dan primaquine pada Malaria Vivax

Obat Jumlah tablet per hari berdasarkan berat badan

>5–6 >6–10 >10–17 >17–30 >30–40 >40–60 >60–80


  ≤5 kg kg kg kg kg kg kg kg >80 kg

0–1 2– <6 6–12 <5 5-9 10-14 ≥15 ≥15 ≥15


  bulan bulan bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun

DHP

(Hari 1–3) 1/3 ½ ½ 1 1½ 2 3 4 5

primaquine

(Hari 1–14) - - ¼ ¼ ½ ¾ 1 1 1

Pada kasus relaps malaria vivax, dosis primaquine dinaikkan menjadi 0,5 mg/kgBB/hari.
primaquine perlu diberikan pada pasien relaps malaria vivax dengan defisiensi enzim G6PD
dengan dosis mingguan 0,75 mg/kgBB selama 8–12 minggu.

Sebuah studi menyatakan bahwa tafenokuin dosis tunggal dapat mencegah relaps malaria
vivax karena memberikan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi daripada primaquine yang harus
dikonsumsi selama 14 hari.

Medikamentosa lini kedua malaria vivax adalah kina (dosis dan durasi pemberian sama dengan
malaria falciparum) + primaquine (14 hari).

Bila berdasarkan rekomendasi CDC, pengobatan alternatif malaria vivax di daerah


resisten chloroquine adalah kina ditambah dengan doxycycline atau tetracycline, KDT
atovaquone-proguanil, atau mefloquine.

3. Malaria Ovale

7
Medikamentosa untuk malaria ovale sama dengan malaria vivax.

4. Malaria Malariae

Medikamentosa yang diberikan untuk malaria malariae adalah DHP selama 3 hari dengan dosis
yang sama dengan malaria lainnya.

5. Malaria Knowlesi

Medikamentosa malaria knowlesi sama dengan malaria falciparum.

D. Malaria pada Wanita Hamil

Malaria pada wanita hamil diobati hanya menggunakan DHP selama 3 hari.
Medikamentosa berupa primaquine, tetracycline, dan doxycycline tidak boleh diberikan untuk
wanita hamil.

Di Amerika Serikat, terapi pilihan untuk malaria falciparum tanpa komplikasi pada kehamilan
adalah artemether-lumefantrine (Coartem) atau bila tidak tersedia, alternatifnya adalah
mefloquine atau kina + clindamycin. Pada kasus malaria vivax, obat yang dapat diberikan adalah
artemether-lumefantrine (trimester kedua atau ketiga) atau mefloquine.

Di Indonesia, terapi lini kedua trimester pertama dapat diberikan kombinasi kina (dosis dewasa)
+ clindamycin 10 mg/kgBB/kali diberikan 2 kali sehari. Dosis maksimal clindamycin adalah 300
mg/hari.

 Malaria Berat

Malaria serebral merupakan salah satu bentuk malaria berat yang disebabkan oleh kerusakan
sawar otak akibat parasit Plasmodium.

Pilihan utama medikamentosa untuk malaria berat adalah artesunate intravena.

Dosis artesunate dewasa (termasuk wanita hamil) adalah 2,4 mg/kgBB secara intravena yang
diberikan sebanyak 3 kali pada jam ke-0, -12, dan -24. Kemudian, pemberian dilanjutkan setiap
24 jam sekali hingga pasien mampu minum obat oral.

8
Dosis artesunate untuk anak dengan berat badan ≤20 kg adalah 3 mg/kgBB. Anak dengan berat
badan >20 kg menggunakan dosis artesunate.

Artesunate intravena minimal diberikan 3 kali. Jika pasien sudah mampu minum obat
oral maka dapat dilanjutkan dengan pemberian DHP + primaquine sesuai jenis plasmodiumnya.
Artesunate intravena juga dapat diberikan pada pasien malaria tanpa komplikasi yang tidak bisa
minum obat oral atau pada pasien yang mengalami pemburukan klinis dalam 3 hari setelah
mengonsumsi antimalaria oral dengan tepat.

Jika tidak tersedia artesunate intravena, alternatif medikamentosa lini pertama lainnya
adalah artemether intramuskular dengan dosis 3,2 mg/kgBB diikuti dengan dosis 1,6 mg/kgBB
pada hari berikutnya, sampai pasien bisa minum obat oral atau maksimal pemberian 5 hari

Medikamentosa lini kedua untuk malaria berat adalah kina HCl 25% dengan dosis
pertama 20 mg/kgBB diencerkan dalam dextrose 5% atau NaCl 0,9%, diberikan selama 4 jam
secara drip dengan kecepatan maksimal 5 mg/kgBB/jam. Kemudian, dilanjutkan dengan kina
HCl 10 mg/kgBB drip selama 4 jam yang diulang setiap 8 jam hingga pasien sadar dan mampu
minum obat oral.

Untuk pasien anak-anak, dosis kina HCl 25% yang digunakan adalah 10 mg/kgBB (usia <2
bulan menggunakan dosis 6–8 mg/kgBB) diencerkan dengan dextrose 5% atau NaCl 0,9%
sebanyak 5–10 cc/kgBB dan di-drip selama 4 jam, kemudian diulang setiap 8 jam hingga pasien
sadar dan dapat minum obat oral.

E. Evaluasi Pengobatan

Setelah pemberian antimalaria, evaluasi terhadap keadaan klinis dan status parasitemia
pasien dengan pemeriksaan apusan darah tepi harus dilakukan. Pasien yang telah diberikan
antimalaria diharapkan memberikan respons penurunan kepadatan parasit.

Pasien rawat inap dievaluasi dengan pemeriksaan mikroskopis darah secara kuantitatif setiap hari
hingga tidak ditemukan parasit pada sampel darah selama 3 hari berturut-turut. Evaluasi
selanjutnya sama seperti pasien rawat jalan.

9
1. Terapi Suportif

Terapi suportif yang dapat diberikan untuk pasien malaria adalah terapi cairan, transfusi
darah, terapi simtomatik, koreksi kondisi asidosis dan hipoglikemia. WHO menyarankan agar
pasien dewasa dengan malaria berat dirawat di ruang perawatan intensif.

2. Terapi Cairan

Terapi cairan pada malaria berat harus dinilai secara individual. Orang dewasa dengan
malaria berat rentan mengalami kelebihan cairan, sedangkan anak-anak cenderung dehidrasi.
Untuk itu, diperlukan evaluasi tekanan vena jugularis, perfusi perifer, turgor kulit, capillary refill
time, dan urine output.

3. Transfusi Darah

Anemia berat umumnya terjadi pada anak. Untuk itu, transfusi darah direkomendasikan


dilakukan pada pasien dengan kadar hemoglobin di bawah 5 gram/dL. Di daerah dengan
endemisitas rendah, kadar hemoglobin <7 gram/dL merupakan indikasi untuk transfusi darah.

4. Terapi Simtomatik

Antipiretik harus diberikan jika suhu tubuh >38,5oC. Antipiretik yang banyak digunakan
adalah paracetamol  yang dapat diberikan setiap 4 jam. Penggunaan obat antiinflamasi
nonsteroid, seperti diklofenak dan asam mefenamat tidak lagi direkomendasikan karena
meningkatkan risiko perdarahan gastrointestinal, gangguan ginjal, dan sindrom Reye.

Antiemetik parenteral dapat diberikan untuk mengurangi mual dan muntah sampai toleransi oral
pasien baik. Jika terjadi kejang, penatalaksanaan kejang dapat diberikan berdasarkan algoritma
kejang pada dewasa atau anak.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penderita mengalami malaria ringan yang belum mencapai cerebral malaria / tahap
malaria berat. Oleh karena itu, dibutuhkan pengobatan dan perawatan sesegera mungkin
untukmencegah terjadinya perkembangan penyakit ke arah yang lebh buruk dan juga
timbulnyakomplikasi-komplikasi pada pasien. Karena pasien belum mencapai ahap malaria
berat, jadikemungkinannya penyakit ini tidak membahayakan jiwa pasien jika ditangani dengan
seriusdan baik

B. Saran

11
Diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang bagaimana tatalaksana penyakit
malaria,ddan diharapkan makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam memahami penyakit
mallaria

DAFTAR PUSTAKA

https://www.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/malaria/penatalaksanaan

Epidemiologi Malaria Di Indonesia. Dalam: Depkes RI. eds. Buletin Jendela Data Dan Informasi
Kesehatan Epidemiologi Malaria Di Indonesia; 2011.

http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20MALAR IA.pdf , 12
Januari 2017.

Arsin AA. Malaria Indonesia Tinjauan Aspek Epidemiologi. Makasar: Masagena Press; 2012.
3. WHO. World Malaria Report 2015. 2015. http://www.who.int/malaria/publications/world-
malaria-report2015/report/en/, 30 Januari 2017.

12
13