Anda di halaman 1dari 5

Analisis Isu Instansi

Nama : Fithriyyah Nur Afifah


NIP : 199902162020122001

I. Identifikasi dan Deskripsi Isu Instansi

Setelah bekerja selama kurang lebih 3 (tiga) bulan di Sekretariat Jenderal DPR RI, tepatnya di
Biro Perencanaan dan Keuangan Bagian Evaluasi dan Pelaporan, saya menemukan beberapa
isu yang cukup menarik untuk dianalisis. Berikut 3 (tiga) isu yang saya temukan di unit kerja
tempat saya bekerja:

A. Isu Potensi Temuan BPK di Laporan Keuangan Setjen DPR RI

Setiap tahunnya, Bagian Evaluasi dan Pelaporan mengadakan audit laporan keuangan
dengan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Audit laporan keuangan dilakukan oleh
BPK guna memeriksa dan mengawasi pengelolaan dan tanggung jawab tentang
keuangan negara. Audit laporan keuangan akan menghasilkan opini BPK yang
didasari oleh Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004. Opini BPK tersebut menjadi
sangat penting karena hal ini akan meningkatkan kepercayaan publik kepada
Pemerintah.

Dalam pelaksanaannya, Sekretariat Jenderal DPR RI pernah beberapa kali


menghadapi isu temuan BPK. Seperti yang pernah terjadi di tahun 2019, terdapat
temuan dalam akun pengadaan barang/jasa. Temuan-temuan BPK ini pada akhirnya
akan mempengaruhi opini BPK dan kinerja DPR RI di mata publik.

B. Isu Penerapan Laporan Keuangan dalam Pengambilan Keputusan

Dalam melaksanakan akuntabilitas publik, pemerintah berkewajiban untuk


memberikan informasi sebagai bentuk pemenuhan hak-hak publik. Sebagai sarana
informasi, laporan keuangan pemerintah berguna untuk menentukan dan memprediksi
kondisi kesehatan keuangan pemerintah, menentukan dan memprediksi kondisi
ekonomi pemerintah dan perubahan-perubahan yang telah dan akan terjadi,
memonitor kinerja, dan kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan. Namun di
lingkungan Setjen DPR RI, kesadaran akan pentingnya Laporan Keuangan agaknya
masih kurang. Laporan Keuangan yang disusun oleh Bagian Evaluasi dan Pelaporan
faktanya dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan Audit BPK. Hingga saat ini
laporan keuangan DPR RI kurang dijadikan pertimbangan ataupun landasan untuk
menentukan pagu anggaran serta membuat keputusan keuangan.
C. Isu Peralihan Aplikasi
Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) adalah aplikasi yang digunakan
sebagai sarana bagi satker dalam mendukung implementasi SPAN untuk melakukan
pengelolaan keuangan yang meliputi tahapan perencanaan hingga
pertanggungjawaban anggaran. SAKTI mengintegrasikan seluruh aplikasi satker yang
ada. Mempunyai fungsi utama dari mulai Perencanaan, Pelaksanaan hingga
Pertanggungjawaban Anggaran.

Tahun 2021, Bagian Evaluasi dan Pelaporan akan beralih dari aplikasi SAIBA
menjadi aplikasi SAKTI. Peralihan penggunaan aplikasi ini harus disertai pengenalan
aplikasi SAKTI serta pelatihan penggunaan aplikasi SAKTI bagi seluruh bagian yang
nantinya akan menggunakan aplikasi SAKTI agar tidak terjadi salah input/human
error lainnya yang akan mengurangi tingkat akuntabilitas Laporan Keuangan.

II. Analisis Pemilihan Isu

A. Metode

Dari ketiga isu instansial yang telah dijabarkan, maka dipilih isu yang paling
berkualitas atau bersifat aktual. Untuk memilih dan menetapkan isu, saya
menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu yaitu menggunakan metode
USG. Metode USG didasarkan pada Urgency (U), Seriousness (S), Growthness (G).

No. Isu Utama Nilai Total Ranking

U S G

1. Potensi Temuan BPK di 3 3 2 8 I


LK Setjen DPR RI

2. Penerapan LK dalam 1 1 3 5 II
Pengambilan Keputusan

3. Peralihan Aplikasi 2 2 1 5 III


Keterangan:

● 3 : Kuat Pengaruhnya
● 2 : SedangPengaruhnya
● 1 : Kurang Pengaruhnya

B. Hasil Analisis

Dari hasil analisis penetapan isu menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness,
dan Growth), maka saya menetapkan Potensi Temuan BPK di LK Setjen DPR RI
sebagai isu prioritas karena isu tersebut mendapatkan nilai tertinggi yaitu 8, diikuti
oleh isu mengenai Penerapan LK dalam Pengambilan Keputusan dan Peralihan
Aplikasi.

III. Penyebab Terjadinya Isu

Untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya isu Potensi Temuan BPK di LK Setjen DPR RI.
Saya menggunakan metode Mind Mapping. Teknik Mind Mapping merupakan teknik
mencatat tingkat tinggi yang memanfaatkan keseluruhan otak, yaitu otak kiri dan otak kanan.
Missing
Informat Kurang
ion Koordinasi
Antara
Salah Bagian
Manusia Proses
Input
Kurang Potensi
teliti Temuan
Kurang BPK di LK Ketidaktepatan
Pengetahu Setjen DPR dalam pengadaan
an RI
Alat Eksternal Suplier
(tools)
Kebijaka
Error Kurangnya
n
Komputer/Aplika Sosialisasi atau
si yang kurang Pengetahuan
memadai tentang
Kebijakan
Penyusunan
Dalam melakukan mind mapping, saya mengelompokkan penyebabLKutama masalah menjadi 4
(empat) bagian berdasarkan faktornya, diantaranya:

1. Manusia

Dari faktor manusia, mungkin terjadi salah input atau salah catat dalam penyusunan
Laporan Keuangan. Hal ini dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu kurangnya ketelitian
ataupun kurangnya pengetahuan dalam melaksanakan pencatatan/peng-input-an data.

2. Alat (Tools)

Tidak bisa dipungkiri bahwa error juga dapat menjadi penyebab kesalahan dalam
penyusunan Laporan Keuangan. Hal ini biasanya disebabkan oleh Komputer/Aplikasi
yang kurang memadai.

3. Proses

Dalam proses penyusunan Laporan Keuangan, tak jarang terjadi missing information.
Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya komunikasi serta koordinasi antar bagian
ataupun unit kerja.

4. Eksternal
Faktor eksternal juga bisa menjadi penyebab isu Potensi Temuan BPK, mulai dari
pihak Supplier ataupun pihak penyusun Kebijakan. Dari pihak Supplier, isu dapat
terjadi karena ketidakmampuan supplier untuk memenuhi kebutuhan pengadaan di
Setjen DPR RI. Sedangkan dari faktor Kebijakan, kesalahan penyusunan dalam
Laporan Keuangan dapat terjadi karena kurangnya sosialisasi/pengetahuan dalam
Kebijakan penyusunan LK.

Dapat disimpulkan dari penyebab terjadinya isu yang telah dijabarkan melalui mind mapping.
Beberapa faktor kebanyakan disebabkan oleh faktor manusia yang kurang teliti ataupun
kurang pengetahuannya dalam penyusunan LK hingga mengakibatkan kesalahan dalam
penyusunan, dan berujung kepada peningkatan potensi Temuan BPK.

IV. Dampak Isu

Untuk menganalisa dampak dari isu Potensi Temuan BPK pada Laporan Keuangan Setjen
DPR RI saya melakukan analisa dari dua dua sudut pandang, yaitu Eksternal dan Internal.
Hasil analisis dampak isu dijabarkan melalui tabel berikut:

Internal Eksternal

- Berpotensi mengalami kerugian - Berpotensi merugikan negara secara


secara material material
- Mengurangnya tingkat akuntabilitas, - Mengurangi tingkat akuntabilitas
profesionalitas, serta kepercayaan Setjen DPR RI di mata publik
pada unit kerja atau bagian yang - Menurunkan citra Setjen DPR RI di
terlibat dalam penyusunan LK mata publik
Setjen DPR RI di tingkat - Mengurangi kepercayaan publik
stakeholders Setjen DPR RI (baik terhadap Setjen DPR RI
unit kerja lain, ataupun pejabat DPR - Mengurangi Pagu Anggaran Setjen
RI) DPR RI karena kinerja yang
dianggap buruk

Dari hasil analisis dampak isu Potensi Temuan BPK DPR RI, ternyata dampaknya cukup luas
dan menyangkut kerugian secara material bagi Instansi maupun Negara. Pandangan publik
juga bisa terpengaruh oleh isu ini, selain itu kinerja DPR RI dapat dipertanyakan oleh publik.

V. Rekomendasi Penyelesaian

A. Pencegahan/Penyelesaian Isu

Dari hasil analisis penyebab dan dampak isu Potensi Temuan BPK, dapat diketahui
bahwa apabila isu ini tidak segera diselesaikan maka akan menimbulkan kerugian
yang cukup signifikan baik secara material maupun non material. Berdasarkan hasil
analisis penyebab isu, dapat disimpulkan bahwa penyebab utama dari Potensi Temuan
BPK berasal dari faktor manusia itu sendiri. Hal ini dapat kita cegah melalui
sosialisasi ataupun edukasi mengenai penyusunan Laporan Keuangan Sekretariat
Jenderal DPR RI. Sosialisasi ini nantinya tidak hanya menambah pengetahuan
pembelajar dan meningkatkan awareness akan pentingnya menyusun Laporan
Keuangan secara baik dan benar namun juga dapat meminimalisir resiko Temuan
BPK kedepannya.

B. Teknis Implementasi

Dalam pengimplementasian atas solusi yang telah saya jabarkan diatas, program
sosialisasi dapat berisikan edukasi dalam bentuk buku panduan/selebaran/banner agar
unit kerja tidak lupa detail alur dalam penyusunan Laporan Keuangan. Sedangkan
banner dibuat untuk mengingatkan akan pentingnya penyusunan Laporan Keuangan
yang baik dan benar. Sosialisasi ini juga dapat didukung oleh Surat Edaran agar
penyusunan Laporan Keuangan lebih terstandarisasi bagi setiap unit kerja yang
terlibat.

Anda mungkin juga menyukai