Anda di halaman 1dari 26

Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

BAB 7
INSTRUMEN UKUR TANAH

Di dalam ukur tanah, peralatan yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi dua
kategori yaitu peralatan untuk pengukuran horisontal dan pengukuran vertikal. Di
dalam bab ini akan dibahas secara umum mengenai alat ukur theodolit dan alat
penyipat datar (waterpas). Juga diperlihatkan alat-alat lainnya yang juga sebagai
alat pendukung yang sering digunakan untuk membantu pengukuran sudut dan
jarak.

7.1. Theodolit
Theodolit adalah alat yang dirancang untuk mengukur sudut secara cermat dan
teliti. Pengukuran tersebut berupa sudut pada bidang vertikal maupun bidang
horisontal. Pengukuran theodolit yang dilengkapi dengan pembacaan rambu dapat
digunakan untuk menentukan jarak dan beda tinggi.

Terdapat beberapa macam theodolit yang dibedakan menurut konstruksinya,


sistem pembacaannya dan kelasnya.
A. Berdasarkan konstruksinya
1) Theodolit Reiterasi (Theodolit Sumbu Tunggal).
Dalam theodolit ini, lingkaran skala mendatar menjadi satu dengan klep,
sehingga bacaan skala mendatarnya tidak bisa diatur. Theodolit yang termasuk
ke dalam jenis ini adalah theodolit type T0 (Wild) dan type DKM-2A (Kern).

2) Theodolit Repetisi.
Konstruksinya kebalikan dengan theodolit reiterasi, yaitu bahwa lingkaran
mendatarnya dapat diatur dan dapat mengelilingi sumbu tegak (sumbu I).
Akibat dari konstruksi ini, maka bacaan lingkaran skala mendatar 0, dapat
ditentukan ke arah bidikkan / target yang dikehendaki. Theodolit yang ter-
79
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

masuk ke dalam jenis ini adalah theodolit type TM 6 dan TL 60-DP (Sokkisha),
TL 6-DE (Topcon), Th-51 (Zeiss).

B. Berdasarkan sistem pembacaannya


1) Sistem dengan indeks garis
2) Sistem angka
3) Sistem digital

C. Berdasarkan kelas ketelitian


1) Theodolit presisi (teliti) misalnya WILD-T3
2) Theodolit satu sekon misalnya WILD-T2
3) Theodolit puluhan sekon misalnya SOKKISHA TM 10C
4) Theodolit satu menit misalnya WILD T0
5) Theodolit puluhan menit misalnya KERN DK-1

D. Berdasarkan ada tidaknya kompas (boussole)


1) Theodolit boussole (theodolit kompas)
2) Theodolit tanpa boussole

E. Berdasarkan sistem sentering


1) Sentering mekanis (dengan unting-unting)
2) Sentering optis

Dengan kemajuan teknologi saat ini telah dapat dibuat theodolit tipe baru yaitu
theodolit laser, sehingga dapat dipakai pada tempat-tempat yang gelap, seperti
dalam terowongan, tambang dalam dan lain-lain.

Secara umum, konstruksi teodolit terbagi atas tiga bagian, bagian atas, tengah,
bawah dan tempat tripod (statif) seperti yang diperlihatkan pada gambar 7.1.

80
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Pada bagian atas theodolit terdapat:


1. Teropong
2. Skala lingkaran tegak
3. Nivo tabung skala lingkaran tegak
4. Indeks bacaan skala lingkaran tegak (2 buah)
5. Sumbu mendatar (sumbu II)
6. Skrup pengungkit indeks bacaan skala lingkaran tegak

Pada bagian tengah terdapat:


7a. Penyangga (menyangga bagian atas)
7b. Skrup pengatur sumbu II
8. Indeks bacaan skala mendatar (2 buah)
9. Nivo skala mendatar
10. Sumbu tegak (sumbu II)

Pada bagian bawah terdapat:


11. Skala mendatar (berbentuk lingkaran)
12. Skrup reiterasi
13. Skrup repetisi (skrup kiap)
14. Skrup kiap/penyetel
15. Tribrach
16. Trivet
17. Kiap (base plate)

81
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.1 Bagian-bagian theodolit

7.1.1. Bagian-bagian Alat Ukur Theodolit


Secara umum, konstruksi teodolit terbagi atas tiga bagian:
1. Bagian atas, terdiri dari sumbu kedua yang diletakkan di atas kaki penyanggah
sumbu kedua.
2. Bagian tengah, terdiri dari suatu sumbu yang dimasukkan ke dalam tabung dan
diletakkan pada bagian bawah.
3. Bagian bawah, terdiri dari pelat dasar dengan tiga sekrup penyetel yang
menyanggah suatu tabung sumbu dan pelat mendatar berbentuk lingkaran.
Pada tepi lingkaran ini dibuat pengunci limbus.

82
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Untuk dapat mendirikan alat di lapangan, harus dilengkapi dengan statif atau kaki
tiga, serta alat bantu lain seperti rambu ukur untuk pengukuran jarak optis dan beda
tinggi, unting-unting untuk sentering (tetapi tidak dianjurkan) dan untuk target, pita
ukur (meteran) untuk mengukur tinggi alat.

7.1.1.1. Bagian Atas


Bagian atas theodolit ini berporos pada sumbu mendatar yang disangga oleh bagian
tengah. Teropong dan pelat lingkaran berskala tegak menjadi satu dan tegak lurus
pada sumbu mendatar. Teropong dan skala lingkaran tegak dapat berputar ke atas
dan ke bawah dengan berporos sumbu mendatar (sumbu II). Pusat dari skala
mendatar adalah sumbu mendatar.

Bagian atas terdiri dari


1. Teropong : digunakan untuk membidik atau mengamat benda/target yang jauh
agar kelihatan dekat, jelas dan besar. Teropong theodolit menggunakan prinsip
dari Kepler yaitu terdiri dari lensa positif sebagai lensa obyektif dan lensa
negatif untuk lensa mata, yang bertindak sebagai loupe. Lensa obyektip
memberikan bayangan nyata terbalik dan diperkecil, bayangan ini digunakan
sebagai benda oleh lensa okuler menjadi diperbesar dekat dan terbalik. Pada
alat tipe yang baru, teropong juga dilengkapi dengan lensa sentral (terletak di
antara lensa okuler dan lensa obyektif), yang berguna untuk membalik
bayangan menjadi tegak dan menjelaskan target yang dibidik. Lensa ini disebut
juga sebagai lensa pembalik.
Selain lensa sentral pada teropong dilengkapi pula dengan benang silang
diafragma untuk pembidikan, dan sekrup koreksi diafragma kiri-kanan atas-
bawah untuk pengaturan garis bidik.
Garis bidik adalah garis khayal yang menghubungkan antara titik silang benang
silang pada diafragma dengan lensa obyektif.

83
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.2 Benang silang dalam teropong

Teropong dan pelat skala tegak dihubungkan dengan bagian tengah meng-
gunakan skrup pengatur gerakan teropong.

2. Sumbu mendatar (sumbu II) : adalah sumbu perputaran teropong, disangga


oleh dua tiang penyangga kiri – kanan.

3. Klem (skrup) teropong dan penggerak halus : digunakan untuk mematikan


gerak teropong, dan untuk gerakan kecil digunakan sekrup penggerak halus.
Gerakan halus ini berfungsi apabila klem sudah dimatikan. Pada umumnya
theodolit mempunyai 2 macam skrup yaitu skrup untuk gerakan halus dan
gerakan kasar.

4. Indeks bacaan skala vertikal digunakan untuk membaca besarnya sudut


vertikal. Indeks bacaan ini harus dalam keadaan mendatar (tidak ikut berputar
bersama-sama teropong). Untuk mendatarkan indeks bacaan ini digunakan
skrup pengungkit dan nivo tabung skala vertikal. Dengan skrup pengungkit
diusahakan agar gelembung nivo terletak di tengah-tengah. Bila gelembung
tepat di tengah-tengah artinya indeks bacaan telah mendatar.

84
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

7.1.1.2. Bagian Tengah


Pada bagian tengah yang berfungsi sebagai penyangga bagian atas terdapat indeks
bacaan skala mendatar (umumnya 2 buah), nivo tabung untuk membuat sumbu
tegak (sumbu I).
Termasuk pada bagian tengah adalah
1. Kaki penyangga sumbu II, pada teodolit yang baru berisi prisma-prisma
pemantul sinar pembacaan lingkaran horisontal.
2. Alhidade horisontal merupakan pemersatu dari kaki penyangga sumbu II, dan
pelindung lingkaran horisontal. Theodolit digital tidak dilengkapi dengan
alhidade horisontal maupun alhidade vertikal.
3. Piringan lingkaran horisontal merupakan tempat skala lingkaran horisontal,
terbuat dari metal atau kaca. Pada theodolit semi digital (seperti yang dimiliki
Fak. Teknik Unmul) lingkaran horisontal berupa layar atau monitor.
4. Klem dan penggerak halus alhidade horisontal. Seperti halnya pada teropong,
klem di sini dipakai untuk mematikan gerakan sumbu I (sumbu tegak), dan
gerakan halus dengan memutar sekerup penggerak halus alhidade horisontal.
5. Nivo kotak : digunakan untuk membuat sumbu I vertikal pendekatan dengan
nivo kotak.

Pada gambar 7.1 alat-alat tersebut ditunjukkan oleh nomor 8, 9 dan 10. Sumbu tegak
(no. 10) digunakan sebagai poros putar gerakan mendatar teropong, indek bacaan
(no. 8) digunakan sebagai penunjuk bacaan mendatar dan nivo tabung (no. 9)
digunakan untuk menegakkan sumbu I atau mendatarkan skala bacaan mendatar.

Bagian tengah theodolit pada theodolit reiterasi ditempatkan pada bagian bawah
yang mempunyai skala bacaan mendatar (no. 11), skrup pengunci gerakan mendatar
yaitu skrup reiterasi (no.12), dan skrup penyetel/skrup kiap (no.14). Skrup penyetel
(no.14) dan nivo tabung (no. 9) digunakan untuk menegakkan sumbu I.

Bagian tengah pada theodolit repetisi ditempatkan pada bagian bawah yang terdiri
dari dari 2 ‘tabung’. Pada ‘tabung’ atas terdapat skala bacaan mendatar (no. 11) dan

85
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

skrup reiterasi (no. 12). Untuk mengunci skala bacaan skala mendatar dengan
bagian atas, ‘tabung’ atas ini ditempatkan pada ‘tabung’ bawah yang padanya
terdapat skrup repetisi (no. 13) dan skrup penyetel (no. 14). Skrup repetisi (no. 13)
digunakan untuk mengunci ‘tabung’ atas agar skala bacaan mendatar (no. 11) tidak
dapat berputar. Skrup penyetel (no. 14) dan nivo tabung (no. 9) digunakan untuk
menegakkan sumbu I. Pemakaian skrup repetisi dan reiterasi pada theodolit repetisi
digunakan pada pengukuran sudut mendatar.
 Bila skrup repetisi dikencangkan (skala mendatar diam) dan skrup reiterasi
dikendorkan, teropong dapat digerakkan pada arah mendatar, bacaan skala
mendatar berubah.
 Bila skrup repetisi dikendorkan dan skrup reiterasi dikencangkan, teropong
dapat digerakkan pada arah mendatar tetapi bacaan skala mendatar tetap (tidak
berubah).
 Bila skrup repetisi dan skrup reiterasi dikendorkan, teropong dapat digerakkan
pada arah mendatar tetapi bacaan mendatarnya tidak beraturan.
 Pada theodolit repetisi, pada waktu pengukuran sudut mendatar salah satu
skrup (no. 12) atau (no. 13) harus terkunci tergantung cara pengukuran sudut
yang dilakukan.

7.1.1.3. Bagian Bawah


Bagian bawah dari theodolit umumnya terdiri atas :
1. Tribach : sebagai tempat tumpuan sumbu I
2. Nivo kotak, dipakai sebagai pertolongan pengaturan sumbu I vertikal.
3. Sekerup penyetel ABC (karena ada tiga buah) digunakan untuk mengatur
sumbu I agar vertikal. Sekerup ini juga disebut dengan "levelling screw".
4. Plat dasar digunakan untuk mempersatukan alat dengan statip karenanya di
bagian tengah dari plat dasar diberi lubang drat untuk baut instrumen (alat).

Alat sentering optis (pada alat baru). Pada alat lama piranti sentering berupa tempat
penggantung tali unting-unting yang berada pada baut instrumen. Beberapa alat
buatan Kern menggunakan sentering dengan tongkat teleskopik.

86
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Sementara statip atau tripod merupakan piranti untuk mendirikan alat di lapangan
terdiri dari kepala statip dan kaki tiga yang dapat disetel ketinggiannya. Statip
berfungsi untuk menyangga ketiga bagian di atas. Statip ini ada yang terbuat dari
kayu dan ada pula yang dari metal atau aluminium, sehingga lebih ringan
Pengaturan ketinggian statip perlu disesuaikan dengan ketinggian si pengamat, dan
pemutaran baut statip jangan terlalu keras agar tidak cepat rusak. Pada alat ini
terdapat alat pengunci dan alat penggantung unting-unting seperti yang diperlihat-
kan pada gambar 7.1.(d).

7.1.2. Fungsi Bagan-bagan Alat Ukur Theodolit

Gambar 7.3 Teodolit semi digital

87
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Keterangan gambar
1 Visir : berfungsi untuk membidik secara kasar ke
objek.
2 Klem pengunci lingkaran : berfungsi untuk mengunci sumbu vertikal
vertikal
3 Penggerak halus vertikal : berfungsi untuk menggerakkan secara
halus benang silang vertikal
4 Tempat batterai
5 Klem pengunci lingkaran : berfungsi untuk mengunci sumbu vertikal
horisontal
6 Penggerak halus lingkaran : berfungsi untuk menggerakkan secara
horisontal halus benang silang vertikal
7 Sekrup ABC : berfungsi untuk mengatur gelembung
udara nivo
8 Handle / pembawa
theodolit
9 Lensa okuler : berfungsi untuk untuk memperjelas
benang teropong.
10 Klem pengatur fokus : berfungsi untuk memperjelas benang
benang silang silang di diafragma
11 Tombol ON / OFF
12 Nivo tabung : berfungsi untuk melihat kedataran alat
13 Display
14 Keyboard ( papan tombol )
15 Plat dasar

88
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.4 Theodolit Nikon NE-102 / NE-202

Tahapan pengaturan teodolit sebagai berikut:


1. Buka ketiga klem kaki tripod, dirikan tripod di atas patok dengan merentang-
kan ketiga kakinya hingga ujung kaki tripod membentuk segitiga sama sisi
dengan patok sebagai pusatnya.
2. Pasang teodolit di atas tripod, hubungkan dengan sekrup tripod dan
kencangkan. (Periksa apakah posisi unting-unting masih tepat di atas patok.
Kesalahan sentering akan menyebabkan kesalahan sudut horisontal yang
sangat signifikan).

89
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.5 Prosedur memasang tripod dan mengatur theodolit

3. Atur teodolit untuk memenuhi syarat berikut:


a) Sumbu I vertikal, syarat ini harus dipenuhi setiap kali alat didirikan.
b) Sumbu II (horisontal) tegak lurus sumbu I.
c) Garis bidik tegak lurus sumbu II.
d) Kesalahan indeks vertikal sama dengan nol.
e) Garis bidik sejajar garis arah nivo.

7.1.3. Syarat Pemakaian dan Cara Pengaturan Alat Ukur Theodolit


Yang dimaksud dengan syarat pemakaian adalah persyaratan-persyaratan yang
harus terlebih dahului dipenuhi sebelum alat digunakan untuk pengukuran. Tujuan-
nya adalah agar data yang dihasilkan bebas dari kesalahan sistematis. Beberapa
kesalahan alat ada yang sulit untuk diatur tanpa peralatan khusus dari pabriknya,
tetapi kesalahan tersebut masih dapat dieliminir (dihilangkan) dengan metode
pengukuran tertentu.

Beberapa contoh kesalahan pada alat yang bersumber dari pabriknya antara lain:
1. Sumbu I tidak tegak lurus sumbu II. Pada alat model lama kesalahan ini bisa
dikoreksi sebab ada sekrupnya.
2. Kesalahan pada pembagian skala piringan horisontal dan vertikal.
3. Kesalahan benang silang tidak saling tegak lurus; dan lain-lain.

90
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Adapun syarat yang harus dipenuhi tersebut adalah :


1. Sentering : untuk menempatkan alat (posisi alat) tepat berada di atas patok.
2. Sumbu I (sumbu V-V) harus vertkal.
3. Sumbu II (sumbu H-H) tegak lurus sumbu I.
4. Garis bidik / kolimasi (Z-Z) tegak lurus sumbu II.
5. Tidak ada kesalahan indeks vertikal atau kesalahan indeks vertikal = 0.
6. Garis bidik (Z-Z) sejajar dengan garis arah nivo (A-A), apabila ada nivo tabung
pada teropongnya.

Syarat ke 1 dan ke 2, dilakukan setiap kali alat berdiri (ditempatkan) pada tempat
yang baru (bersifat dinamis). Sedangkan syarat ke 3 sampai dengan ke 6 bersifat
tetap (statis). Secara berkala atau periodik alat dicek apakah syarat ini sudah
dipenuhi.

Gambar 7.6 Sumbu-sumbu pada teodolit

7.1.3.1. Sentering
Istilah sentering adalah menempatkan sumbu I alat ukur tepat di atas suatu titik
yang ada di tanah (pada senternya). Hal ini selalu dilaksanakan pada saat alat akan
didirikan di suatu titik.

91
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Adapun cara pengaturan sentering adalah sebagai berikut :


1. Tandai/buat suatu titik di tanah, bisa dilakukan dengan digambar dengan
spidol.
2. Dirikan statip/tripod kira-kira tepat diatas titik tersebut dengan cara
1. Apabila sentering menggunakan unting-unting ; kaki statip didirikan
melalui sekrup yang ada di bawah statip sedemikian rupa, sehingga titik
dapat terlihat melalui sekrup tersebut. Selanjutnya pasang unting-unting
dan theodolit pada statip (lihat sketsa).

Gambar 7.7 Sktesa prosedur pemasangan statip


sentering

b) Apabila sentering menggunakan cara optis (sentering optis) ; dirikan statip


dan pasang theodolit pada statip. Tancapkan salah satu kaki statip,
selanjutnya dengan memegang dua kaki statip lainnya dan sambil melihat
pada okuler sentering optis pada theodolit, gerakkan statip sedemikian
rupa sehingga bayangan titik kira-kira masuk tepat dalam tanda sentering
optis. Tancapkan kedua kaki statip apabila bayangan titik telah masuk
tanda sentering optis.

7.1.3.2. Mengatur Sumbu I Vertikal


Kesalahan ini tidak dapat dihilangkan dengan merata-ratakan pengamatan biasa dan
luar biasa, sehingga sebelum pengukuran sumbu I vertikal harus dipenuhi.
Pembuatan sumbu I vertikal ini, harus benar-benar tepat vertikal di atas suatu titik

92
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

(patok) yang ada pada tanah. Pengaturan sumbu I vertikal ini juga berlaku bagi
semua ukur tanah.

Pengaturan sumbu I vertikal adalah sebagai berikut (lihat gambar 7.8) :


A. Pendekatan dengan nivo kotak
1. Seimbangkan nivo kotak pada theodolit dengan mengatur ketiga kaki statif.
2. Bawa gelembung nivo ke posisi antara sekrup A dan sekrup B dengan memutar
sekrup penyetel A dan B bersama-sama ke arah dalam atau ke arah luar.
3. Kemudian bawa gelembung pada ke tengah dengan memutar sekrup penyetel
C.

KAKI STATIF KAKI STATIF KAKI STATIF

Naikkan Kaki Statif B Turunkan Kaki Statif C

Gambar 7.8 Sketsa pengaturan nivo kotak dengan kaki statip

4. Apabila nivo kotak telah seimbang, lihat posisi unting-unting atau tanda
sentering optis apakah posisinya sudah tepat mengarah ke titik di tanah.
Apabila belum tepat, maka kendorkan sedikit sekrup pengunci theodolit,
selanjutnya geser theodolit sedikit pada kepala statip sampai bayangan titik
tepat berada di tengah tanda sentering optis.

B. Pendekatan dengan nivo tabung


Mengatur nivo tabung yang ada pada theodolit dengan menggunakan sekrup ABC.
Apabila nivo kotak telah seimbang, biasanya posisi gelembung pada nivo tabung
tidak jauh menyimpang. Tetapi apabila ternyata gelembung nivo jauh menyimpang
berarti ada kesalahan pada salah satu nivo (nivo kotak).
93
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Urutan pengaturan nivo tabung dengan skrup ABC lihat sketsa di bawah ini, sebagai
berikut :
1. Kedudukan (1) nivo tabung sejajar AB, seimbangkan dengan memutar sekrup
A dan B bersamaan.
2. Ubah posisi nivo menjadi kedudukan (2) yaitu 180 dari posisi (1). Apabila
gelembung tidak seimbang. 1/2 pergeseran dihilangkan dengan sekrup A dan
atau B, dan 1/2 pergeseran sisanva dihilangkan dengan sekrup koreksi nivo.
3. Ubah/putar theodolit, sehingga kedudukan (3) nivo menjadi 90 terhadap
sekrup AB (lihat sketsa). Apabila nivo tidak seimbang, seimbangkan dengan
memutar sekrup C.
4. Lakukan cek dengan kedudukan nivo tabung sembarang, maka kedudukan
gelembung harus tetap di tengah. Apabila tidak/belum ulangi langkah 1 – 3 di
atas sampai gelembung nivo tetap seimbang untuk sembarang.

Gambar 7.9 Sketsa pengaturan nivo tabung dengan sekrup ABC

5. Cek posisi sentering alat, apakah unting-unting atau sentering optis tetap
mengarah tepat di atas titik. Apabila telah tepat, maka pekerjaan mengatur
sumbu I tepat di atas titik telah selesai.

7.2. Waterpas
Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar adalah waterpas (level),
tripod, rambu, dan pita ukur. Berdasarkan konstruksinya waterpas dibedakan
menjadi:

94
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

1. Tipe kekar (dumpy level)


Pada tipe ini sumbu tegak menjadi satu dengan teropong. Semua bagian pada
alat sipat datar tipe kekar adalah tetap. Nivo tabung berada di atas teropong,
teropong hanya dapat digeser dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar.

Gambar 7.10 Waterpas tipe dumpy

Gambar 7.11 Bagian-bagian Waterpas Tipe Dumpy Level

95
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Keterangan gambar
1 Teropong 7 Tribach
2 Nivo tabung 8 Trivet
3 Pengatur nivo 9 Kiap (Levelling head)
4 Pengatur diafragma 10 Sumbu I
5 Kunci horisontal 11 Tombol fokus
6 Skrup kiap

2. Tipe jungkit (tilting level)


Tilting level digunakan dihampir semua pekerjaan yang teliti. Bagian-bagian
dari instrument ini dapat dilihat pada gambar 7.12, perataan perkiraan cepat
dicapai dengan perataan menggunakan nivo kotak dan tilting screw. Pada
beberapa tilting level memungkinkan kepala akan miring dan cepat terkunci.
Tingkat yang tepat dalam persiapan untuk pembacaan teleskop dilakukan
dengan hati-hati saat gelembung terpusat. Hal ini dilakukan untuk masing-
masing mata, setelah tertuju pada jalon, dengan memiringkan atau memutar
teleskop sedikit di arah vertikal. Sebuah sekrup mikrometer di bawah lensa
mata mengontrol gerakan ini. Fitur miring menghemat waktu dan meningkat-
kan akurasi, karena hanya satu sekrup perlu dimanipulasi untuk menjaga garis
pandang horisontal teleskop saat berpaling pada sumbu vertikal. Gelembung
teleskop dilihat melalui sistem prisma dari posisi normal pengamat di belakang
lensa mata. Sebuah prisma pengaturan membagi gambar gelembung menjadi
dua bagian. Berpusat gelembung tersebut dilakukan dengan membuat gambar
dari kedua ujung bertepatan.

96
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.12 Waterpas tipe jungkit

3. Tipe otomatis (automatic level)


Automatic Level dari jenis yang digambarkan dalam gambar 7.13 meng-
gabungkan fitur self - leveling. Tipe ini sama dengan tipe kekar, hanya di dalam
teropongnya terdapat alat yang disebut kompensator untuk membuat agar garis
bidik mendatar. Berbeda dengan 2 tipe sebelumnya, pada type otomatik ini
tidak terdapat nivo tabung untuk mendatarkan garis bidik sebagai penggantinya
di dalam teropong dipasang alat yang dinamakan kompensator. Bila benang
silang diafragma telah diatur dengan baik, sinar mendatar dan masuk melalui
pusat objektif akan selalu jatuh depat di titik potong benang silang diafragma,
walaupun teropong miring (sedikit). Dengan demikian, dengan dipasangnya
kompensator antara lensa objektif dan diafragma garis bidik menjadi mendatar.
Walaupun demikian type otomatik mempunyai kekurangan yaitu mudah
dipengaruhi getaran, karena sebagai kompensatornya dipergunakan sistem
pendulum.
Sebagian besar instrumen ini memiliki perataan pada tiga sekrup utama, yang
digunakan agar gelembung tepat terpusat di tengah nivo kotak. Setelah
gelembung pada nivo kotak terpusat, sebuah kompensator otomatis mengambil
alih, tingkat garis pandang, dan tingkat penyimpanan.

97
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

Gambar 7.13 Waterpas tipe otomatis

7.2.1. Bagan-bagan Waterpas


Untuk menentukan beda tinggi pada jarak jauh dengan teliti, garis bidik harus
ditentukan dengan suatu alat bidik yang teliti tanpa ada paralaks dan untuk
membaca rambu ukur diperlukan sebuah teropong. Berdasarkan pertimbangan
tersebut dibuat suatu alat penyipat datar seperti yang diperlihatkan pada Gambar
7.14.

Pada gambar 7.14 tersebut diperlihatkan bagian-bagian alat penyipat datar yang
terdiri dari sebuah teropong dengan garis bidiknya dapat dibuat horisontal dengan
sebuah nivo tabung. Untuk mencari target, teropong dan nivo tabung dapat diputar
pada sumbu pertama yang dapat diatur pada tiga sekrup pendatar. Dengan skrup
penyetel fokus bayangan rambu ukur dapat diset tajam. Dengan sekrup pengerak
horisontal bayangan dapat diset tajam. Sinar cahaya yang masuk pada obyektif
membentuk bayangan antara diafragma suatu bayangan terbalik dari rambu ukur
yang diperhatikan. Bayangan rambu dapat diperbesar oleh okuler. Okuler teropong
harus diputar sampai benang silang dapat dilihat tepat dan tajam. Penyetelan ini
tidak usah diubah lagi untuk mata yang sama. Titik potong pada benang silang

98
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

menjadi titik pusat pada objektif dan garis bidik teropong. Agar jarak pada benang
silang dapat diukur ada tambahan dua benang horisontal yang dinamakan benang
stadia dengan jarak yang ditentukan demikian, sehingga ukuran pada rambu ukur
yang dilihat di antaranya dikalikan dengan 100 adalah jarak antara alat penyipat
datar dan rambu ukur. Karena jarak itu biasanya lebih kecil dari 100 m, teropong
dilengkapi dengan suatu lensa koreksi supaya bayangan selalu dapat diset tajam.
Jarak terkecil tergantung pada alat penyipat datar adalah antara 0,8 m dan 2,2 m.

Gambar 7.14 Bagian-bagian Alat Penyipat Datar (Waterpas)

99
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

7.2.2. Pengaturan Waterpas


Tahapan pengaturan waterpas sebagai berikut:
1. Buka ketiga klem kaki tripod, dirikan tripod di atas patok dengan merentang-
kan ketiga kakinya hingga ujung kaki tripod membentuk segitiga sama sisi
dengan patok sebagai pusatnya.
2. Tarik tripod bagian atas hingga tripod setinggi dada (agar nantinya posisi
teropong setinggi mata) dan pastikan kepala tripod mendatar. Jika tripod
didirikan di tanah yang miring, tempatkan dua kakinya di bagian turunan bukit.
Setelah posisi kepala tripod mendatar, kokohkan tripod dengan membenamkan
ketiga kakinya ke dalam tanah. Setelah pengaturan selesai kencangkan semua
klemnya.
3. Pasang waterpas di atas tripod, dan kunci dengan skrup tripod.

Pengaturan waterpas agar memenuhi syarat berikut:


1. Syarat dinamis: sumbu I vertikal
2. Syarat statis:
a) Garis bidik teropong tegak lurus dengan garis arah nivo
b) Garis arah nivo tegak lurus sumbu I (sumbu vertikal)
c) Benang silang mendatar diafragma tegak lurus sumbu I

Cara pengaturan waterpas otomatis sedikit berbeda dengan waterpas non otomatis.

Jika syarat ini tidak dipenuhi maka nilai yang dibaca pada rambu ukur akan
dihinggapi kesalahan. Agar memenuhi syarat tersebut, maka alat penyipat datar
diibuat mendatar dengan nivo kotak dan teropong diarahkan melalui salah satu
sekrup pendatar.

A. Pengaturan waterpas otomatis (satu nivo):


1. Membuat sumbu I vertikal, dengan menyeimbangkan nivo kotak saja
menggunakan sekrup ABC. Teropong kemudian diputar 180° kemudian diatur
kembali gelembung nivo agar selalu berada ditengah-tengah. Demikian

100
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

seterusnya hingga jika teropong diputar ke segala arah, posisi gelembung nivo
selalu di tengah-tengah kotak.
2. Membuat benang silang horisontal tegak lurus sumbu I:
a) Arahkan teropong ke suatu titik di tembok.
b) Putar teropong terhadap sumbu I ke arah kiri/kanan. Amati apakah titik
pada tembok tetap berimpit dengan benang silang horisontal atau sudah
bergeser.
c) Bila bergeser betulkan dengan cara memutar diafragma dengan terlebih
dulu mengendurkan sekrupnya

Gambar 7.15 Menyeimbangkan nivo kotak

B. Pengaturan waterpas non otomatis (dua nivo):


Hanya berbeda pada cara membuat sumbu I vertikal, yaitu:
1. Menyeimbangkan nivo kotak dengan sekrup ABC
2. Menyeimbangkan nivo tabung dengan cara:
a) ½ penyimpangan diatur dengan pen koreksi nivo
b) ½ penyimpangan yang lain diatur dengan sekrup A atau B

Sedangkan pengaturan untuk syarat yang lain sama dengan tipe otomatis.

7.3. Peralatan-peralatan Lainnya


Selain peralatan yang diuraikan di atas, terdapat beberapa peralatan lainnya yang
sering digunakan pada pengukuran tanah di lapangan yaitu rambu, landasan rambu
atau tempat untuk meletakkan rambu, jalon yang umumnya digunakan sebagai
target, unting-unting untuk memastikan arah gaya berat bumi, pita ukur seperti pita
ukur baja, marking pen untuk menandai suatu titik (bantu). Gambar 7.16

101
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

memperlihatkan rambu yang digunakan pada pengukuran tinggi teliti dan landasan
rambu, sedangkan gambar 7.17 memperlihatkan rambu yang sering digunakan pada
pengukuran horisontal dan vertikal.

.
Gambar 7.16 Rambu teliti dan landasan rambu

Gambar 7.17 Rambu ukur

Gambar 7.17 memperlihatkan rambu ukur yang digunakan baik pada pengukuran
horisontal maupun vertikal. Jika pada pengukuran dengan waterpas terdapat tiga
benang yaitu benang atas, tengah dan bawah yang dibaca. Pada contoh gambar 7.17
di atas, bacaan benang tengah (garis solid) menunjukkan 0,419 m. Untuk koreksi

102
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

BA+BB
ukuran bacaan pada pengukuran dengan waterpas berlaku syarat BT = 2

di mana BT adalah nilai bacaan benang tengah, BA adalah nilai bacaan benang atas
dan BB adalah nilai bacaan benang bawah.

Panjang rambu bervariasi yaitu 3, 4, atau 5 meter. Cara pembacaan rambu dengan
pola E adalah menggabungkan angka yang tertera di samping E dengan blok yang
berimpit dengan garis stadia,dimana satu E = 5 blok = 5 cm = 50 mm. Hasil
bacaannya dalam satuan meter, dengan angka perkiraan sampai 1 mm.

Gambar 7.18 Pembacaan rambu

Contoh, pada gambar 7.18 :


Benang atas = 3,040
Benang bawah = 2,946
Sehingga jarak rambu ke waterpas (D) : D = 100 (BA − BB) = 100 x (3040 −
2946) = 9400 mm = 9,4 m

(Ingat, jarak dengan pengukuran stadia mempunyai ketelitian rendah. Kesalahan 1


mm dalam pembacaan stadia menyebabkan kesalahan jarak 0,1 m atau 10 cm).
Agar hasil pembacaan rambu tidak dihinggapi kesalahan, selain lensa objektif dan
okuler difokuskan (bebas dari paralaks) posisi berdiri rambu juga harus benar-benar
vertikal. Rambu yang condong ke depan atau ke belakang dari kedudukan
vertikalnya akan menghasilkan bacaan yang lebih besar. Untuk membantu rambu

103
Ilmu Ukur Tanah - Program Studi Teknik Sipil

dalam posisi vertikal bisa dengan memasang nivo rambu, dan memastikan
gelembungnya di tengah-tengah saat rambu dibaca.

Gambar 7.19 Pita Ukur

Gambar 7.20 Nivo Rambu

Gambar 7.21
Kompas Brunton

104

Anda mungkin juga menyukai