Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

DOSEN MATA KULIAH :


Dra. Sri Ariyani M.pd

DISUSUN OLEH :
N.I.L I’m STRONG
 Neng septia rismayani
 Irma rahmawati
 Lusi mardiana

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

STKIP-PGRI SUKABUMI
JALAN KARAMAT NO. 69, TELP (0266) 226016-231758 SUKABUMI

KATA PENGANTAR

Kepemimpinan Pendidikan Page | 1


Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis telah dapat
menyelesaikan
makalah sebagai tugas kelompok. Makalah ini merupakan laporan hasil
pengkajian mengenai Kepemimpinan pendidikan.
Penulisan makalah diawali dengan diskusi di saat berlangsungnya
pembelajaran di kelas
terkait dengan pengelolaan pendidikan . Dalam makalah ini dikembangkan
masalah tentang. Dalam bagian akhir makalah telah pula diambil
kesimpulan yang mengacu pada permasalahan dan pembahasannya serta
memberikan rekomendasi sebagai implikasi dari simpulan.
Dalam kesempatan ini penulis ucapkan banyak terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga dapat
menyelesaikan makalahini. Tidak lupa pula mohon ma’af kalau ada
kekurangan dan kekhilafan, serta terima kasih atas saran dan kritiknya demi
kebermanfaatan tulisan ini. Akhirnya semoga tulisan ini ada guna dan
manfaatnya serta menjadi amal ibadah kita kepadaNya. Amin.

Sukabumi,Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kepemimpinan Pendidikan Page | 2


Halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI....................................................................

BAB I PENDAHULUAN................................................. 1

BAB II KAJIAN PUSTAKA.......................................... 3

2.1 KONSEPTUALIS VARIABEL 


A. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
B. Tipe-tipe kepemimpinan pendidikan
C. Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan
D. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
E. Syarat-syarat pemimpin pendidikan
F. Keterampilan yang dimiliki pemimpin
G. Pendekatan teori muncunya pemimpin
H. Pendekatan kepemimpinan pendidikan
I. Siapakah yang disebut pemimpin pendidikan?
J. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan

BAB III PENUTUP…………………… ....................... 20


3.1 KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ………………………………… 22

BAB I

PENDAHULUAN

Kepemimpinan Pendidikan Page | 3


1.1 Latarbelakang
Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu
merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan
adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer
yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok
berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim
kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi.
Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya
kompetisi global yang sangat ketat dan tajam.
Sebuah sekolah adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga
memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Untuk membantu para kepala
sekolah di dalam mengorganisasikan sekolah secara tepat, diperlukan
adanya satu esensi pemikiran yang teoretis, seperti kepala sekolah harus bisa
memahami teori organisasi formal yang bermanfaat untuk menggambarkan
kerja sama antara struktur dan hasil sekolah. Oleh sebab itu dikatakan
bahwa” keberhasilan sekolah adalah sekolah yang memiliki pemimpin yang
berhasil..
Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan
kompleksitas,baik dari segi komponen manajemen pendidikan, maupun
lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan suatu pendidikan.
Persoalan yang muncul bisa sepontan, bisa berulang-ulang, makanya
diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar kepala sekolah , guru
dan siswa.
Keberhasilan pendidikan di sekolah juga sangat ditentukan oleh
keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang
tersedia di sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen
pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala
sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan,
administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan
pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana (Mulyasa 2004:25).

Kepemimpinan Pendidikan Page | 4


Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin
kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan
kinerja yang semakin efektif dan efisien. Dalam perannya sebagai seorang
pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan
perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kepemimpinan pendidikan?
2. Bagaimana tipe-tipe kepemimpinan pendidikan?
3. Bagaimana cara mengembangkan kepemimpinan pendidikan?
4. Apa saja fungsi-fungsi dan syarat-syarat kepemimpinan itu?
5. Apa saja keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki seorang
pemimpin?
6. Bagaimana pendekatan teori munculnya pemimpin?
7. Apa saja pendekatan dalam mempelajari kepemimpinan pendidikan?
8. Siapakah yang disebut pemimpin pendidikan?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui arti kepemimpinan
2. Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan pendidikan
3. Untuk mengetahui cara mengembangkan kepemimpinan pendidikan.
4. Untuk mengetahui apa saja fungsi-fungsi dan syarat-syarat
kepemimpinan itu
5. Untuk mengetahui saja keterampilan-keterampilan yang harus
dimiliki seorang pemimpin
6. Untuk mengetahui pendekatan teori munculnya pemimpin
7. Untuk mengetahui apa saja pendekatan dalam mempelajari
kepemimpinan pendidikan
8. Untuk mengetahui siapa pemimpin pendidikan itu

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Kepemimpinan Pendidikan Page | 5


2.1 KONSEPTUALIS VARIABEL

A. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan


“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai
kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya
dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin
memiliki kekuasaan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahannya
sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap
pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan
yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan
mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Tiap-tiap orang yang merasa terpanggil untuk melaksanakan tugas


memimpin di dalam lapangan pendidikan dapat disebut pemimpin
pendidikan, misalnya orang tua di rumah, guru disekolah, kepala sekolah di
sekolah maupun pengawas pendidikan di kantor pembinaan pendidikan dan
di daerah pelayanannya. Kepemimpinan sangatlah dibutuhkan dalam
pembinaan pendidikan.

Secara umum kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh


seseorang untuk dapat mempengaruhi mendorong, mengajak,
menuntun, menggerakan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia
menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat
membantu pencapaian sesuatu maksud atau tujuan-tujuan tertentu.
b. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu
kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok
itu yaitu tujuan bersama. Pengertian pendidikan itu bersifat
universal, berlaku dan terdapat pada kepemimpinan diberbagai
bidang kegiatan atau hidup manusia.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 6


Dalam satu situasi kepemimpinan terlihat adanya unsur: orang-orang
yang dapat mempengaruhi orang lain disatu pihak, orang-orang yang
mendapat pengaruh dilain pihak, adanya tujuan-tujuan tertentu yang hendak
dicapai dan adanya serangkaian tindakan untuk mempengaruhi dan untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan
yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai
wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan
pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah
bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi
bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu
hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan,
yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa
pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan
kepemimpinannya, karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk
memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara
maksimal.
Setelah dipahami pengertian pokok tentang kepemimpinan, maka
dapat dipersempit bahwa kepemimpinan yang dimiliki oleh mereka dalam
lapangan pendidikan.
Kata “ pendidikan” menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua
segi yaitu: pendidikan sebagai usaha atau proses mendidik dan mengajar
seperti yang dikenal sehari-hari. Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang
membahas berbagai masalah tentang hakekat dan kegiatan mendidik dan
mengajar dari zaman ke zaman dan mengajar dengan segala cabang-
cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan mendalam. 
Oleh karena itu kepemimpinan pendidikan berperan pada usaha-
usaha yang berhubungan dengan kegiatan atau proses mendidik dan
mengajar disatu pihak, dan pada pihak lain yang berhubungan dengan
usaha-usaha pengembangan pendidikan sebagai satu ilmu dengan segala
cabang-cabangnya.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 7


Dari titik tolak itu dapatlah disimpulkan pengertian “ kepemimpinan
pendidikan” adalah sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi,
mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan
dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif
dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan  pendidikan.

B. Tipe-Tipe Kepemimpinan Pendidikan

Konsep seorang pemimpin pendidikan tentang kepemimpinan dan


kekuasaaan yang memproyeksikan diri dalam bentuk sikap kepemimpinan,
sifat dan kegiatan yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan yang
akan dipimpinnya sehingga akan mempengaruhi kualitas hasil kerja yang
akan dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut.
Bentuk-bentuk kepemimpinan sering kita jumpai dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Tetapi  disekolahpun terdapat berbagai macam tipe
kepemimpinan ini. Sebagai pemimpin pendidikan yang officiat leader, yang
cara kerja dan cara bergaulnya dapat dipertanggungjawabkan dan bisa
menggerakkan orang lain untuk turut serta mengerjakan sesuatu yang
berguna bagi kehidupannya.
Berdasarkan sifat da konsep kepemimpinan maka ada tiga tipe pokok
kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi.

1. Tipe otoriter (the autocratic style of leadership)

Pada kepemimpinan yang otoriter, semua kebijakan atau “policy”


dasar ditetapkan oleh pemimpin sendiri dan pelaksanaan selanjutnya
ditugaskan kepada bawahannya. Semua perintah, pemberian tugas dilakukan
tanpa mengadakan konsultasi sebelumnya dengan orang-orang yang
dipimpinnya. Pemimpin otoriter berasumsi bahwa maju mundurnya
organisasi hanya tergantung pada dirinya. Dia bekerja sungguh-sungguh,
belajar keras, tertib dan tidak boleh dibantah.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 8


2. Tipe Laissez faire (laissez-faire style of leadership)

Pada tipe “laissez faire” ini, pemimpin memberikan kebebasan yang


seluas-luasnya kepada setiap anggota staf di dalam tata prosedure dan apa
yang akan dikerjakan untuk pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka.
Mereka mengambil keputusan dengan siapa ia hendak bekerjasama. Dalam
penetapannya menjadi hak sepenuhnya dari anggota kelompok atau staf
lembaga pendidikan itu.
Pemimpin ingin turun tangan bilamana diminta oleh staf, apabila mereka
meminta pendapat-pendapat pemimpin tentang hal-hal yang bersifat teknis,
maka barulah ia mengemukakan pendapat-pendapatnya. Tetapi apa yang
dikatakannya sama sekali tidak mengikat anggota. Mereka boleh menerima
atau menolah pendapat tersebut.
Apabila hal ini kita jumpai di sekolah, maka dalam hal ini bila akan
menyelenggarakan rapat guru biasanya dilaksanakan tanpa kontak pimpinan
(Kepala Sekolah), tetapi bisa dilakukan tanpa acara. Rapat bisa dilakukan
selagi anggota/guru-guru dalam sekolah tersebut menghendakinya.

3. Tipe demokratis (demokratic style of leadership)

Dalam tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin selalu mengikut


sertakan seluruh anggota kelompoknya dalam mengambil keputusan, kepala
sekolah yang bersifat demikian akan akan selalu menghargai pendapat
anggota/guru-guru yang ada dibawahnya dalam rangka membina
sekolahnya.
Sifat kepemimpinan yang demokratis pada waktu sekarang terdapat
lebih dari 500 hasil research tentang kepemimpinan, jika bahan itu
dimanfaatkan dengan baik maka kita akan dapat mempergunakan sikap
kepemimpinan yang baik pula. (R.Tjung Wiraputra, 1976 hl 37).
Dalam hasil research itu menunjukkan bahwa untuk mencapai
kepemimpinan yang demokratis, aktivitas pemimpin harus:
a. Meningkatkan interaksi kelompok dan perencanaan kooperatif.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 9


b. Menciptakan iklim yang sehat untuk perkembangan individual dan
memecahkan pemimpin-pemimpin yang potensial.

Hasil ini dapat dicapai apabila ada partisipasi yang aktif dari semua
anggota kelompok yang berkesempatan untuk secara demokratis memberi
kekuasaan dan tanggungjawab.

Pemimpin demokratis tidak melaksanakan tugasnya sendiri. Ia


bersifat bijaksana di dalam pembagian pekerjaan dan tanggung jawab. Dapat
dikatakan bahwa tanggung jawab terletak pada pundak dewan guru
seluruhnya, termasuk pemimpin sekolah. Ia bersifat ramah dan selalu
bersedia menolong bawahannya dengan nasehat serta petunjuk jika
dibutuhkan. di dalam kepemimpinannya peimpin sekolah berusaha supaya
bawahannya kelak dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.

C. Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan

Sedikit mendefinisakan bahwa pengembangan kepemimpinan adalah


usaha untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan ketingkat yang lebih
tinggi. Pembinaan dan pengembangan kepemimpinan pendidikan ini
menjadi tugas dan wewenang dari para pengawas yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional. Kemudian
tanggung jawab pengawas sekolah berdasar Keputusan Mentri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara No. 118 Tahun 1996.
Keberadaan struktur, sistem, dan budaya merupakan hambatan
perubahan daripada berfungsi sebagai fasilitator. Tingkat kepentingan yang
tinggi sangat membantu dalam menyelesaikan semua tahap proses
transformasi. Jika tingkat perubahan eksternal terus naik, maka tingkat
kepentingan menjadi dominan, organisasi harus (memposisikan diri) dalam
arus pengembangan era global. Model abad kedua puluh bukanlah
merupakan periode yang panjang, tenang atau puas, karena periode ini
begitu singkat, sementara aktivitas kerja sangat padat.
            Tingkat kepentingan yang lebih tinggi memicu dinamisasi
kependidikan yang lebih kreatif dan inovatif. Peningkatan urgensi

Kepemimpinan Pendidikan Page | 10


kepemimpinan pendidikan membutuhkan sistem informasi kinerja yang jauh
lebih unggul daripada apa yang biasanya. Sistem penyediaam informasi
kinerja selayaknya dapat menginformasikan yang valid dan originalitas,
terutama tentang kinerja. Informasi tentang kepuasan peserta didik harus
dikumpulkan lebih akurat.
Dengan demikian, para manajer pendidikan seharusnya
meningkatkan intensitas melihat dan mendengar keluhan para pelanggan
(pelanggan pendidikan) khususnya mereka yang tidak puas terhadap
layanan pendidikan. Untuk menciptakan sistem dan memanfaatkan out put
secara produktif, budaya sekolah dimulai dengan penanaman nilai-nilai
luhur, kejujuran, menggabungkan norma dan kebijakan. Kemudian jumlah
rutinitas kinerja yang kurang efektif harus dihilangkan. Perubahan dimulai
dari pemimpin pendidikan, kemudian memberikan pengaruh terhadap
beberapa personel sekolah melalui contoh perilaku yang dapat membentuk
budaya sekolah sehingga menghasilkan beberapa keuntungan oraganisasi
sekolah.
            Semua organisasi pendidikan membutuhkan pemimpin yang baik
yang bertanggung jawab. Kerja sama tim diperlukan untuk menghadapi
transformasi secara periodik. Suksesi di bagian pemimpin organisasi
mungkin  tidak lagi menjadi media untuk melatih dan memilih satu orang
untuk mengantikan yang lain. Suksesi bisa menjadi proses pengembangan
kepemimpinan pendidikan.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin,
diantaranya keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan
atau lembaga yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat
dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya
(Purwanto, 2004: 61). Faktor-faktor ini tentunya juga memiliki pengaruh
dalam pengembangan kemampuannya. Secara internal, seorang pemimpin
dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya,
diantaranya:

1. Selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja


anggotanya

Kepemimpinan Pendidikan Page | 11


2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana
3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
yang sedang dilaksanakan
4. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain
5. Berfikir untuk masa yang akan datang

D. Fungsi Pemimpin Pendidikan


a. pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerja
sama, dengan penuh rasa kebebasan.
b. Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri
yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan
kepada kelompok dalam menetapkan dan menjelaskan
tujuan.
c. Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur
kerja.
d. pemimpin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan
bersama dengan kelompok.
e. Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan
mempertahankan existensi organisasi
E. Syarat-Syarat Pemimpin Pendidikan
a. Syarat-syarat formal
Seseorang yang menjabat kepala sekolah dilingkungan
Departemen Pendidikan Nasional diuruskan dalam Kepmen
Dinas RI N0 : 162/U/2003 tentang pedoman penugasan guru
sebagai kepala sekolah
b. Syarat-syarat fundamental
Nilai-nilai pancasila menjadi syarat fundamental yang harus
dijadikan acuan dihayati dan diamalkanoleh para calon
pemimpin pendidikan Indonesia
c. Syarat-syarat praktis
 Memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan
kemampuan(kemampuan dalam jabatan)

Kepemimpinan Pendidikan Page | 12


 Memiliki kelebihan dalam kepribadian (rendah hati,suka
menolong,sabar,memiliki ke stabilan emosi,percaya
diri,jurdil)
 Memilki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik
F. Keterampilan Yang Harus Dimiliki Pemimpin
Seorang pemimpin harus mempunyai beberapa keterampilan dalam
dalam menjalankan kepemimpinanya. Keterampilan-keterampilan
tersebut adalah :
1. Keterampilan dalam memimpin
Pemimpin harus menguasai cara-cara kepemimpinan,memiliki
keterampilan memimpin supaya dapat bertindak sebagai seorang
pemimpin yang baik. Ia harus menguasai bagaimana cara :
menyusun rencana bersama, memupuk “ morale” kelompok,
bersama-sama membuat keputusan, dan mngembangkan “working
within the group” dsb.
2. Keterampilan dalam hubungan insani
Yaitu hubungan antar manusia. Ada dua macam hubungan yang bias
kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari : 1. Hubungan fungsional
atau hubungan formal yaitu hubungan Karena tugas resmi atau
pekerjaan resmi. 2. Hubungan pribadi atau informal ialah hubungan
yang bersifat kekeluargaan.
3. Keterampilan dalam proses kelompok
Maksud dari proses kelompok ialah bagaimana meningkatkan
partisipasi anggota-anggotakelompok setinggi-tingginya sehingga
potensi yang dimiliki para anggota kelompok adalah hubungan
insani dan tanggung jawab bersama. Pemimpin harus jadi penengah,
pendamai, moderator, dan bukan menjadi hakim.
4. Keterampilan dalam administrasi personil
Administrasi personil mencakup segala usaha untuk menggunakan
keahlian dan kesanggupan yang dimiliki oleh petugas-petugas secara
efektif dan efisien. Meliputi : seleksi, pengangkatan, penempatan,

Kepemimpinan Pendidikan Page | 13


penugasan, orientasi, pengawasan, bimbingan dan pengembangan
serta kesejahteraan.
5. Keterampilan dalam menilai
Ialah suatu usaha untuk mengetahui sampai dimana suatu kegiatan
sudah dapat dilaksanakan atau sudah sampai dimana suatu tujuan
yang sudah di capai, yang dinilai biasanya ; hasil kerja, cara kerja,
dan orang yang mengerjakannya.
Adapun teknik dan prosedur evaluasi adalah ; menentukan tujuan
penilaian, menetapkan norma/ukuran yang akan
dinilai,mengumpulkan data-data yang dapat diolah menurut kriteria
yang akan ditentukan, pengolahan data,menyimpulkan hasil
penilaian.
G. Pendekatan Tentang Teori Munculnya Pemimpin
Munculnya pemimpin dikemukakan dalam beberapa teori,yaitu :
1. Teori pertama, berpendapat bahwa bahwa seseorang akan menjadi
pemimpin karena ia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Menurut
teori ini tidak semua orang dapat menjadi pemimpin,hanya orang-
orang yang memounyai bakat dan pembawaan saja yang bias
menjadi pemimpin.”leaders are borned not built” ( teori genetis )
2. Teori kedua, mengatakan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin
kalau lingkungan, waktu atau keadaan memungkinkan ia menjadi
pemimpin.setiap orang bias menjadi pemimpin asal diberi
kesempatan dan diberi binaan untuk menjadi seorang
pemimpin.”leaders are built not borned” ( teori social )
3. Teori ketiga, gabungan antara teori pertama dan kedua ialah untuk
menjadi seorang pemimpin perlu bakat dan perlu binaan supaya
berkembang. Kemungkinan untuk mengembangkan bakat ini
tergantung kepada lingkungan, waktu dan keadaan. ( teori ekologis )
4. Teori keempat,teori situasi. Menurut teori ini setiap orang bias
menjadi pemimpin, tetapi dalam situasi tertentu saja,karena ias
memiliki kelebihan-kelebihan yang diperlukan dalam situasi itu.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 14


Dengan menguasai teori-teori kepemipinan, pemimpin akan dapat
menentukan gaya kepemimpinan secara tepat sesuai dengan tuntutan
situasi dan kondisi bawahannya. Dengan demikian seorang
pemimpin yang ingin meningkatkan kemampuan dan kecakapannya
dalam memimpin,perlu mengetahui ruang lingkup gaya
kepemimpinan yang efektif.
H. Pendekatan Dalam Mempelajari Kepemimpinan Pendidikan
Kazt mengemukakan tiga keterampilan/skills yang harus di kuasai
oleh seorang pemimpin,ialah human skill,technical skill,dan conceptual
skill. Seberapa jauh keterampilan itu harus dipunyai pemimpin sesuai
dengan kedudukannya. Katz menyebutkan bahwa :

Top manager

Middle manager

supervisory

Ketiga pendekatan ini harus dikuasai oleh pemimpin/manager

Human realation skill


Kemampuan berhubungan dengan bawahan. Bekerja sama
menciptakan ilkim kerja yang menyenangkan dan kooperatif.
Technical skill
Kemampuan menerapkan ilmu dalam pelaksanaan ( operasional ).
Dalam rangka mendayagunakan/memanfaatkan sumber-sumber daya yang
ada. Melaksanakan tindakan yang bersifat operasional. Memikirkan
pemecahan masalah-masalah yang praktis. Makin tinggi tingkat manager,
secara relative makin kurang urgensi technical skillnya.
Conceptual skill
Kemampuan dalam melihat sesuatu secara keseluruhan yang
kemudian dapat merumuskannya,seperti dalam mengambil

Kepemimpinan Pendidikan Page | 15


keputusan,menentukan kebijakan dll. Pemimpin yang baik lebih banyak
merumuskan konsep-konsep (managerial skill).
1. Pendekatan Sifat (Traits Approach)
Pendekatan sifat didasari asumsi bahwa kondisi fisik dan
karakteristik pribadi adalah penting bagi kesuksesan pemimpin.
Sifat-sifat pokok biasanya meliputi :
a. Kondisi fisik : energik, tegap, kuat, dll.
b. Latar belakang social : berpendidikan dan berwawasan luas, serta
berasal dari lingkungan social yang dinamis.
c. Kepribadian : adaptif, agresif, emosi stabil, popular dan kooperatif,
dll.
Karena itu dpat dikatakan bahwa hanya dengan bakat-bakat
kepemimpinan yang dikembangkan secara terus-menerus, semakin
banyaklah syarat-syarat yang terpenuhi.
2. Pendekatan Keprilakuan (Behavioral Approach)
Pendekatan keprilakuan memandang kepemimpinan dapat dipelajari
dari pola tingkah laku, dan bukan sifat-sifatnya. Studi ini melihat dan
mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya
untuk mempengaruhi anggota kelompoknya.
Pendekatan ini menitik beratkan pada dua aspek yaitu : fungsi-fungsi
kepemimpinan dan gaya-gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan dapat dikategorikan sebagai gaya yang
berorientasi pada tugas (task oriented) dan orientasi pada bawahannya
(employed oriented). Yang dimaksudkan dengan gaya ialah suatu cara
berperilaku yang khas dari seorang pemimpin terhadap para anggota
kelomponya.
Teori pendekatan keperilakuan.
a) Studi Kepemimpinan Ohio State Universiy
Dilakukan oleh Hemphil dan coons,dan kemudian diteruskan oleh
Halpin dan Winer, melihat kepemimpinan itu atas dua aspek yaitu :
“initiating scructure and consideration”.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 16


Yang dimaksud “initiating scructure” (struktur tugas) cara pemimpin
melukiskan hubungannya dengan bawahan dalam usaha menetapkan pola
organisasi, saluran komunikasi, dan metode atau prosedur yang dipakai di
dalam organisasi. Sedangkan “consideration” (tenggang rasa) perilaku yang
berhubungan dengan persahabatan, saling mempercayai, saling
menghargai,antara pemimpin dengan anggota kelompoknya.
Dari hasil penelitian lebih lanjut dikemukakan bahwa keluhan yang
rimbul dari para bawahan sangat sedikit bila pemimpin sekaligus
berperilaku “struktur tugas” dan “tenggang rasa” dengan derajat yang sama
tinggi. Dan sebaliknya banyak keluhan timbul dari bawahan jika pemimpin
berperilaku rendah.
b) Teori Kepemimpinan Managerial Grid
Teori ini dikemukakan oleh Robert K, Blake dan Jane S. Mouton
yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan yaitu : “concern for
people” dan “concern for production”. Pada dasarnya teori managerial grid
ini mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasari dua spek utama tadi
yaitu menekankan pada produksi dan pada hubungan antar individu.

team
1-9
9-9
middle road
5-5
improverished task
1-1 9-1

Gaya kepemimpinan pertama yaitu “improverished” artinya


pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan
tugas tertentu dan hal ini dianggap cukup mempertahankan organisasi.
Gaya kepemimpinan kedua yaitu “country club” yaitu
kepemimpinan yang didasarkan kepada hubungan informal antara
individu,keramah-tamahan dan kegembiraan.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 17


Gaya kepemimpinan yang ketiga yaitu “team” yang berarti
keberhasilan suatu organisasi tergantung kepada hasil kerja sejumlah
individu yang penuh pengabdian. Tekanan utama terletak pada
kepemimpinan kelompok yang satu sama lain saling memerlukan. Dasar
dari kepemimpinan ini adalah kepercayaan dan penghargaan antara sesama
anggota kelompok.
Gaya kepemimpinan yang keempat ialah “task” pemimpin
memandang efisiensi kerja sebagai faktor utama untuk keberhasilan
organisasi. Penekanan terletak pada penampilan individu dalam organisasi.
Gaya kepemimpinan yang kelima disebut “middle road” atau tengah-
tengah. Yang menjadi tekanan pada gaya ini ialah pada keseimbangan yang
optimal antara tugas dan hubungan manusiawi.
c) Model Getzels Dan Guba
Getzels dan Guba mengemukakan dua kategori perilasku. Yang
pertama ialah perilaku kepemimpinan yang bergaya normative dengan
dimensi nomotetis yang meliputi usahanya untuk memenuhi tuntutan
organisasi.
Yang kedua ialah, perilaku yang bergaya personal yang disebut
dimensi idiografis yaitu pemimpin mengutamakan kebutuhan dan ekspektasi
anggota oerganisasinya. Mengacu kepada individu-individu dalam
organisasi yang masing-masing dengan kepribadian dan diposisi kebutuhan
tertentu.
Dimensi pertama disebut juga dimensi sosiologis,sedangkan dimensi
kedua disebut dimensi psikologis.
3. Pendekatan Kontingensi/Situasi
Pendekatan ini melahirkan banyak model kepemimpinan. Beberapa
model kepemimpinan akan diuraikan di bawah ini :
A. Model Kepemimpinan Kontingensi
Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Fred E. Fiedler. Dia
berpendapat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya
ditentukan oleh satu gaya kepemimpinan yang diterapkannya. Jadi,

Kepemimpinan Pendidikan Page | 18


tidak ada seorang pemimpin yang dapat berhasil dengan menerapkan
satu macam gaya untuk semua situasi.
Menurut pendapat Fiedler, ada tiga variable yang menentukan efektif
tidaknya kepemimpinan seseorang,yaitu : hubungan antara pemimpin dan
yang dipimpin,derajat struktur tugas, dan kedudukan kekuasaan pemimpin.
Menurut pendapat ini,maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan
menguntungkan dalam arti menentukan keberhasilan jika ;
1) Hubungan pemimpin dengan bawahan baik.
2) Struktur tugas-tugas terinci dengan jelas dan dapat dipahami oleh
semua anggota,setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung
jawab secara jelas sesuai dengan fungsinya.
3) Kedudukan kekuasaan kuat dan jelas sehingga memperlancar
usahanya untuk mempengaruhi anggota kelompoknya.
B. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi
Pendekatan kepemimpinan ini di kemukakan oleh William J.
Reddin. Model ini dinamakan “three dimensional model” karena dalam
pendekatannya menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan,yang
disebut gaya dasar, gaya efektif dan gaya tidak efektif menjadi satu
kesatuan.
Berdasarkan dua perilaku kepemimpinan,yaitu berorientasi kepada
orang (people oriented) dan berorientasi kepada tugas (task oriented).
C. Model Kepemimpinan Situasional
Teori kepemimpinan situasional dikembangkan oleh Paul Hersey
dan Keneth H. Blanchard. Teori kepemimpinan situsional merupakan
perkembangan yang mutakhir dari teori kepemimpinan dan merupakan hasil
baru dari model keefektifan pemimpin riga dimensi. Teori ini mencoba
menyiapkan pemimpin dengan beberapa pengertian mengenai hubungan di
antara gaya kepemimpinan yang efektif dan taraf kematangan pengikunya.
Teori kepemimpinan situasional ini menekankan pada hubungan
pemimpin dan yang dipimpin. Pengikut atau yang dipimpin marupakan
faktor yang paling menentukan dalam suatu peristiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 19


Teori ini berasumsi bahwa pemimpin yang efektif tergantung pada
taraf kematangan pengikut dan kemampuan pemimpin untuk menyesuaikan
orientasinya, baik orientasi tugas maupun orientasi hubungan antar manusia.
Keadaan ini berlangsung sampai pengikut mencapai kematangan
penuh,dimana mereka sudah dapat mandiri baik diliht dari kematangan
kerjanya ataupun kematangan psikologinya. Jadi teori situasional ini
menekankan pada kesesuaian antara gaya kepemimpinan dengan tingkat
kematangan pengikut.
Dalam kepemimpin situasional ini, Hersey dan Blanchard
mengemukkan empat gaya kepemimpinan seperti :
1) Telling (S1) yaitu perilaku peimpin dengan tugas tinggi dan
hubungan rendah (komunikasi satu arah). Pemimpin yang berperan
dan mengatakan apa, bagaimana, kapan dan dimana tugas harus
dilaksakan.
2) Selling (S2) yaitu perilaku tinggi dengan tugas tinggi. Kebanyakan
pengarahan masih dilakukan oleh pemimpin, tetapi sudah mencoba
komunikasi dua arah dengan dukungan sosioemosional untuk
menawarkan keputusan.
3) Participating (S3) yaitu perilaku hubungan tinggi dengan tugas
rendah. Pemimpin dan pengikut sama-sama memberi andil dalam
mengambil keputusanmelalui komunikasi dua arah dan yang
dipimpin cukup mampu dan cukup berpengalaman untuk
melaksanakan tugas.
4) Delegating (S4) perilaku hubungan dan tugas rendah. Gaya ini
memberi kesempatan pada yang dipimpin untuk melaksanakan tugas
mereka sendiri melalui pendelegasian dan supervise yang bersifat
umum. Yang dipimpin adalah orang yang sudah matang dalam
menentukan tugas dan matang pula secara psikologi.
I. Siapakah Yang Disebut Pemimpin Pendidikan
Pada pokoknya setiap orang yang memiliki kelebihan dalam
kemampuan dan pribadinyandan kengan kelebihannya itu dapat
mempengaruhi, mangajak, membimbing, mendorong, menggerakan dan

Kepemimpinan Pendidikan Page | 20


mengkoordinasikan staf pendidikan lainya kea rah peningkatan atau
perbaikan mutu pendidikan dan pengajaran,maka ia telah melaksanakan
fungsi kepemimpinan pendidikan,dan ia tergolong sebagai pemimpin
pendidikan.
Dengan demikian, maka pemimpin pendidikan itu dapat berstatus
pemimpin resmi yang biasa disebut “status leader” atau “formal leader”.
Kepemimpinan resmi dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dalam
struktur organisasi pendidikan. Misalnya Kepala Sekolah, Kepala Dinas
Pendidikan adalah termasuk kategori pemimpin resmi dan memiliki
kepemimpinan resmi dilihat dari segi posisi dan system pengangkatan.
Kepemimpinan tidak resmi dimiliki oleh mereka yang
mempengaruhi, memberi tauladan,dan mendorong kea rah perbaikan
kualitas kerja petugas-petugas penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
J. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan
Kepala sekolah sebagai pemimpin ialahmenciptakan situasi belajar
mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid-murid dapat belajar
dengan baik. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab ganda yaitu
melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi belajar
mengajar dengan baik. Dan melaksanakan supervise sehingga kemampuan
guru-guru meningkat dalam membimbing pertumbuhan murid-muridnya.
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah menghadapi
tantangan yang berat, untuk itu ia harus memiliki persiapan yang memadai.
Karena banyaknya tanggung jawab maka kepala sekolah memerlukan
pembantu. Ia hendaknya belajar bagaimana mendelegasikan wewenang dan
tanggung jawab sehngga ia dapat memusatkan perhatiannya pada usaha
pembinaan program pengajaran.
Pekerjaan pemimpin pendidikan adalah menstimulir dan
membimbing pertumbuhan guru-guru berkesinambungan sehingga mereka
mampu menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan perkembangan
situasi. Harus mampu mengelola sarana dan prasarana pendidikan,
pelayanan khusus sekolah dan fasilitas-fasilitas pendidikan lainnya sehingga

Kepemimpinan Pendidikan Page | 21


guru-guru dan murid-murid memperoleh kepuasan dalam melaksanakan
tugasnya.
Kepala sekolah bertanggung jawab atas pertumbuhan guru-guru
secara berkesinambungan,harus mampu membantu guru-guru mengenal
kebutuhan masyarakat, membantu guru membina kurikulum sesuai dengan
minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik. Ia harus mampu
menstimulir guru-guru untuk mengembangkan metode dan prosedur
pengajaran, membantu guru-guru mengevaluasi program pendidikan dan
hasil belajar murid, harus mampu menilai sifat dan kemampuan, sehingga
kepala sekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan guru. Untuk
dapat melaksanakan tanggung jawab tersebut di atas, kepala sekolah harus
memiliki pendidikan dan pengalaman yang diperlukan bagi seorang
pemimpin pendidikan.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 22


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan
bahwa  kepemimpinan pendidikan adalah Sebagai satu kemampuan dan
proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain
yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan
pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat
lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan  pendidikan.

Sedangkan sifat dan konsep kepemimpinan itu ada tiga tipe pokok
kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi.
Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya
keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga
yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian
pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya. Secara internal,
seorang pemimpin dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan
kemampuannya, diantaranya:

1. Selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja


anggotanya
2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana
3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
yang sedang dilaksanakan
4. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain
5. Berfikir untuk masa yang akan datang

Kesimpulan dari sebuah  studi kasus tersebut yakni seorang kepala


sekolah harus lebih bijak lagi dalam membuat sesuatu yang berhubungan
dengan peraturan lembaga sekolah, sebelum peraturan tersebut dibuat
diharapkan kepala sekolah tersebut memusyawarahkan kepada para guru
sehingga  kerukunan antar guru dan kepala sekolah berjalan dengan baik.
Disisi lain kapsek (kepala sekolah) harus mendahulukan mana yang lebih

Kepemimpinan Pendidikan Page | 23


penting yang harus diperbaharui jika sarana prasaran yang dianggap penting
seharusnya di dahulukan sehingga wali murid dan siswa tersebut merasa
nyaman masuk kelembaga tersebut. Dan juga kinerja pendidik harus
dievaluasi dan diperbaiki sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan
efisien.

Kepemimpinan Pendidikan Page | 24


DAFTAR PUSTAKA

Indrafachru, soekarto,dkk.1983.  Pengantar kepemimpinan pendidikan.


Surabaya: Usana offset printing
Barnard, C.I, (1968), the fuction of executive, Camridge : Harvard university
press
Druker, P.F, (1954), the princes of management,New york : Harper ,and
Brothers

Www.google.com

Yatikkepemimpinandalampendidikan.blogspot.com

Amcreative.wordpress.com

Kepemimpinan Pendidikan Page | 25