Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Regulasi dan Standar sektor publik


Regulasi berasal dari bahasa Inggis, yakni regulation atau peraturan. Dalam
kamus bahasa Indonesia (Reality publisher, 2008), kata “peraturan” mengandung arti
kaidah yang dibuat untuk mengatur, petunjuk yang dipakai untuk menata sesuatu
dengan aturan, dan ketentuan yang harus dijalankan serta dipatuhi. Jadi, regulasi
publik adalah ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi dalam proses
pengelolaan organisasi publik, baik pada organisasi pemerintahan pusat,
pemerintahan daerah, partai politik, yayasan, LSM, organisasi keagamaan/tempat
peribadatan, maupun organisasi sosial masyarakat lainnya.
Standar sektor publik (standar akuntansi sektor publik) merupakan pedoman
umum atau prinsip-prinsip yang mengatur perlakuan akuntansi dalam penyusunan
laporan keuangan, untuk tujuan pelaporan kepada para pengguna laporan keuangan,
sedangkan prosedur akuntansi merupakan praktik khusus yang digunakan untuk
mengimplementasikan standar. Untuk memastikan diikutinya prosedur yang telah
ditetapkan, sistem akuntansi sektor publik harus dilengkapi dengan sistem
pengendalian intern atas penerimana dan pengeluaran dana publik.
B. Akuntansi Sektor Publik Memasuki Era Desentralisasi
Kebijakan desentralisasi telah mengubah sifat hubungan antar pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah, antara BUMN dengan Pemerintah Pusat; antar
Pemerintah dengan masyarakat, dan berbagai entitas lain dalam pemerintahan. 
Perananan laporan keuangan telah berubah dari posisi administrasi semata menjadi
posisi akuntabilitas di tahun 2000. Pergeseran peranan laporan keuangan ini telah
membuka peluang bagi posisi akuntansi sektor publik dalam manajemen
pemerintahan dan organisasi sektor publik lainnya. Jadi tujuan akuntansi sektor
publik adalah untuk memastikan kualitas laporan keuangan dalam
pertanggungjawaban publik.
Sebagai perspektif baru, berbagai prasarana akuntansi sektor publik perlu dibangun,
seperti:
1.  Standar Akuntansi Sektor Publik untuk Pemerintahan Pusat, Pemerintahan
Daerah, dan organisasi sektor publik lainnya
2.  Account Code untuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun organisasi
sektor publik lainnya, dimana review terhadap transaksi yang berkaitan dapat
dilakukan dalam rangka konsolidasi dan audit
3.  Jenis Buku Besar yang menjadi pusat pencatatan data primer atas semua transaksi
keuangan pemerintah
4.  Manual sistem Akuntansi Pemerintahan dan Organisasi lainnya yang menjadi
pedoman atas jenis-jenis transaksi dan perlakuan akuntansinya
Dengan kelengkapan prasarana tersebut, para petugas dibidang akuntansi dapat
melakukan pencatatan, peringkasan, dan pelaporan keuangan, baik secara manual
maupun komputasi. Akibat tidak tersedianya prasaran diatas, muncul persepsi
bahwa:
1.  Akuntansi adalah sesuatu yang sulit
2.  Akuntansi harus dikerjakan oleh SDM yang terdidik dalam jangka waktu panjang.

C. Perkembangan Regulasi Dan Standar Akuntansi Sektor Publik


1) Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Pra Reformasi
Perjalanan akuntansi sektor publik di era pra reformasi didasari pada UU Nomor 5
Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Pengertian daerah dalam
era pra reformasi adalah daerah tingkat I yang meliputi propinsi dan daerah tingkat II
yang meliputi kotamadya atau kabupaten. Disamping itu,ada beberapa peraturan
pelaksanaan yang diturunkan dari perundang-undangan,antara lain:
 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1975 tentang Pengurusan,
Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Keuangan Daerah
 Pemerintah Pemerintah Nomor 6 Tahun 1975 tentang Penyusunan APBD,
Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan APBD
 Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 900-099 Tahun 1980 tentang Manual
Administrasi Keuangan Daerah
 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBD
 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
 Keputusan Mendagri Nomor 3 Tahun 1999 tentang Bentuk dan Susunan
Perhitungan APBD

2) Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi


Reformasi politik di Indonesia telah mengubah sistem kehidupan negara.
Tuntutangood governance  diterjemahkan sebagai terbebas dari tindakan KKN.
Pemisahan kekuasaan antareksekutif, yudikatif, dan legislatif dilaksanakan. Selain
itu, partisipasi masyarakat akan mendorong praktik demokrasi dalam pelaksanaan
akuntabilitas publik yang sesuai dengan jiwa otonomi daerah.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah adalah dua undang-undang yang berupaya mewujudkan etonomi daerah yang
lebih luas. Sebagai penjabaran otonomi daerah tersebut di bidang administrasi
keuangan daerah,berbagai peraturan perundangan yang lebih operasional dalam era
reformasipun telah dikeluarkan. Beberapa regulasi yang relevan antara lain :
 Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang
Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaga Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3851)
 Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah
Dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3952)
 Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan
 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 202, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4022)
 Peraturan Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah
 Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah

D. Kebutuhan Standar Akuntansi Sektor Publik di Indonesia


1. Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuangan
organisasi sektor publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan.
2. Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan
keuangan.
3. Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian.

E. Permasalahan Regulasi Keuangan Sektor Publik di Indonesia


 Regulasi yang Berfokus Pada Manajemen
Regulasi yang berfokus pada pengaturan wilayah manajemen organisasi publik
sering kali mengaburkan proses pencapaian kesejahteraan masyarakat. Jadi, regulasi
publik harus fokus pada tujuan pencapaian organisasi publik yaitu kesejahteraan
publik. Dengan demikian, manajemen akan menata dirinya dalam segala situasi dan
kondisi mengikuti regulasi yang berfokus pada tujuan kesejahteraan publik tersebut.
 Regulasi Belum Bersifat Teknik
Banyak regulasi publik di Indonesia yang tersusun dengan sangat baik untuk tujuan
kesejahteraan publik. Namun, banyak diantara tidak dapat diaplikasikan dalam
masyarakat. Hal ini terjadi karena regulasi tersebut tidak menjelaskan atau tidak
disertai dengan regulasi lain yang membahas secara lebih teknis bagaimana
mengimplementasikan regulasi tersebut.
 Perbedaan Interpretasi antara Undang-Undang dan Regulasi di Bawahnya
Dalam banyak kajian, beberapa ayat atau pasal dari undang-undang atau regulasi
terkait sering menimbulkan berbagai interpretasi yang berbeda dalam
pelaksanaannya. Di tingkat daerah, substansi dari isi undang-undang terkait tidak
dapat diturunkan dalam peraturan daerah. Kondisi ini membuat tujuan peraturan
pemerintah tidak dapat tercapai sesuai konsep awalnya.
 Pelaksanaan Regulasi Yang Bersifat Transisi Berdampak Pemborosan Anggaran
Saat ini, banyak regulasi yang bersifat transisi telah dilaksanakan secara bertahap dan
membutuhkan kapasitas tertentu untuk melaksanakannya. Hal ini akan
mempengaruhi anggaran yang senantiasa meningkat dan cenderung boros.
Pemborosan anggaran akan menurunkan kapasitas organisasi dalam menjalankan
roda organisasi sehingga pencapaian tujuan organisasi semakin menurun.
 Pelaksanaan Regulasi Tanpa Sanksi
Sanksi yang dimaksud adalah hukuman jika organisasi publik tidak melaksanakan
regulasi tersebut. Dengan tidak adanya sanksi, organisasi akan seenaknya
melaksakan dan tidak melaksanakan regulasi tersebut.

F. Standar Akuntansi Sektor Publik


International Federation of Accountants-IFAC (Federasi Akuntan Internasional)
membentuk sebuah komite khusus yang bertugas menyusun sebuah standar akuntansi
bagi organisasi sektor publik yang berlaku secara internasional yang kemudian
disebut International Public Sector Accounting Standards-IPSAS (Standar
Internasional Akuntansi Sektor Publik).
IPSAS meliputi serangkaian standar yang dikembangkan untuk basis akrual (accrual
basis), namun juga terdapat suatu bagian IPSAS yang terpisah guna merinci
kebutuhan untuk basis kas (cash basis). Dalam hal ini, IPSAS dapat diadopsi oleh
organisasi sektor publik yang sedang dalam proses perubahan dari cash basis ke
accrual basis.
Pada akhirnya, cakupan yang diatur dalam IPSAS meliputi seluruh organisasi
sektor publik termasuk juga lembaga pemerintahan baik pemerintah  pusat,
pemerintah regional (provinsi), pemerintah daerah (kabupaten/kota), dan komponen-
komponen kerjanya (dinas-dinas).
Dari proses tersebut dihasilkanlah Exposure Draft Standar Akuntansi Sektor Publik
yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Sektor Publik-Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI). Ada enam exposure draft yang dikeluarkan:
1. Penyajian Laporan Keuangan
2. Laporan Arus Kas
3. Koreksi Surplus Defisit, Kesalahan Fundamental, dan Perubahan Kebijakan
Akuntansi
4. Dampak Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Luar Negeri
5. Kos Pinjaman
6. Laporan Keuangan Konsolidasi dan Entitas Kendalian
Selanjutnya dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004,
penetapan Komite SAP dilakukan dengan Keputusan Presiden (Keppres) setelah
diterbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2004 tentang
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan pada Tanggal 5 Oktober 2004, yang telah
diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2005
Tanggal 5 Januari 2005.
KSAP bertugas mempersiapkan penyusunan konsep Rancangan Peraturan
Pemerintah tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) sebagai prinsip- prinsip
akuntansi yang wajib diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan
pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.
Dengan demikian, KSAP bertujuan untuk mengembangkan program-
program pengembangan akuntabilitas dan manajemen keuangan pemerintahan,
termasuk mengembangkan SAP dan mempromosikan penerapan standar tersebut.
Selain itu dalam penyusunannya, SAP juga telah diharmoniskan dengan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia.
Dalam menyusun SAP, KSAP menggunakan materi yang diterbitkan oleh:
1. International Federation of Accountant (IFAC).
2. International Accounting Standards Committee (IASC).
3. International Monetary Fund (IMF).
4. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).
5. Financial Accounting Standards Boards (GASB).
6. Perundang-undangan dan peraturan pemerintah lainnya yang berlaku di
Republik Indonesia.
7. Organisasi profesional lainnya di berbagai negara yang membidangi pelaporan
keuangan, akuntansi, dan audit pemerintahan.

Pengembangan SAP mengacu pada praktik-praktik terbaik di tingkat international,


dengan tetap mempertimbangkan kondisi di Indonesia, baik peraturan perundangan
dan praktik-praktik akuntansi yang berrlaku maupun kondisi sumber daya manusia..
SAP diterapkan di lingkup pemerintahan, baik di pemerintah pusat dan departemen-
departemennya maupun di pmerintah daerah dan dinas-dinasnya. Penerapan SAP
diyakini akan berdampak pada peningkatan kualitas pelaporan keuangan di
pemerintah pusat dan daerah. Ini berarti informasi keuangan pemerintahan akan
dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di pemerintahan dan juga terwujudnya
transparansi serta akuntabilitas. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) ini terdiri
atas sebuah kerangka konseptual dan 11 pernyataan, yaitu:
1. PSAP 01 Penyajian Laporan Keuangan
2. PSAP 02 Laporan Realisasi Anggaran
3. PSAP 03 Laporan Arus Kas
4. PSAP 04 Catatan atas Laporan Keuangan
5. PSAP 05 Akuntansi Persediaan
6. PSAP 06 Akuntansi Investasi
7. PSAP 07 Akuntansi Aset Tetap
8. PSAP 08 Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan
9. PSAP 09 Akuntansi Kewajiban
10. PSAP 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan
Peristiwa Luar Biasa
11. PSAP 11 Laporan Keuangan Konsolidasi