Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN KEUANGAN

RASIO AKTIVITAS DAN RASIO PROFITABILITAS

NURFUADI
A031181511

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019
A. Pengertian Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas (Activity ratio) adalah rasio yang menunjukkan keefektifan sebuah
perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk
menilai seberapa efisien perusahaan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya
yang dimiliki perusahaan.
Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, seperti penjualan, penagihan piutang, pengelolaan
persediaan, pengelolaan modal kerja, dan pengelolaan dari seluruh aktiva.

B. Jenis-Jenis Rasio Aktivitas (Activity Ratio) Perusahaan


Adapun yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah sebagai berikut:
1.     Total Assets Turn Over (perputaran aktiva)
Total assets turn over merupakan perbandingan antara penjualan dengan total
aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total
aktiva dalam satu periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang
menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam
menghasilkan volume penjualan tertentu.
Total assets turn over merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva
diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti
bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin
efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
Cara Perhitungan Total assets turn over, adalah :

Total Assets Turn Over = Penjualan / Total Aktiva × 100%

2.       Working Capital Turn Over (Rasio Perputaran Modal Kerja)


Perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan modal
kerja bersih. Dimana modal kerja bersih adalah aktiva lancar dikurangi utang
lancar. Perputaran modal kerja merupakan rasio mengukur aktivitas bisnis terhadap
kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar serta menunjukkan banyaknya penjualan
(dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja.
Working capital turn over merupakan kemampuan modal kerja (neto) berputar dalam
suatu periode siklus kas (cash cycle) dari perusahaan. Modal kerja selalu dalam keadaan
operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam
keadaan usaha.

Perputaran modal kerja dihitung dengan rumus:

Perputaran Modal Kerja = Penjualan / Modal Kerja Bersih atau


Penjualan / Aktiva Lancar – Utang Lancar

3.       Rasio Perputaran Aktiva Tetap (fixed assets turnover)


Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Fixed
assets turn over  mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap
seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah
penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva
tetap.
Jadi semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut.
Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus:

Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan / Aktiva Tetap × 100%

4.       Rasio perputaran persediaan (inventory turnover)


Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory
berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk
adanya overstock.
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang
dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi
operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal
yang ada pada persediaan. 
Rasio perputaran persediaan dihitung dengan rumus:

Perputaran Persediaan (At Cost) = Harga Pokok Penjualan / Rata-rata


Persediaan
Perputaran Persediaan (At Market) = Penjualan / Persediaan

5.       Rata-Rata Umur Piutang


Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan, serta menunjukkan
berapa lama waktu yang diperlukan untuk melunasi piutang atau merubah piutang
menjadi kas. Rata-rata umur piutang ini dihitung dengan membandingkan jumlah
piutang dengan penjualan perhari. Dimana penjualan perhari yaitu penjualan dibagi 360
atau 365 hari.
Rata-rata piutang ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Rata-Rata Umur Piutang = Piutang / Penjualan Per Hari atau Piutang × 365 /
penjualan

6.       Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungn yang erat dengan
volume penjualan kredit.
Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan
menghitung tingkat perputaran piutang tersebut yaitu dengan membagi total penjualan
kredit (neto) dengan piutang rata-rata. Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus :

Perputaran Piutang = Penjualan Kredit / Piutang Rata-rata atau


Penjualan Bersih / Rata-rata Piutang Dagang

Makin tinggi rasio (turnover) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam
piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over
investment dalam piutang (ditanam dalam jumlah tinggi).

C. Tujuan dan Manfaat Analisis Rasio Aktivitas


Adapun tujuan dari penggunaan rasio aktifitas, antara lain:
1.       Untuk mengukur berapa lama penagihan piutang atau berapa kali dana yang
ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
2.      Untuk menghitung hari rata-rata penagihan piutang (days of receivable), dimana
hasil perhitungan ini menunjukkan jumlah hari (berapa hari) piutang tersebut rata-
rata tidak dapat ditagih.
3.       Untuk menghitung berapa hari rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang
4.       Untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam modal kerja
berputar dalam satu periode atau berapa penjualan yang dapat dicapai oleh setiap
modal kerja yang digunakan (working capital turn over)
5.       Untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar
dalam satu periode.
6.       Untuk mengukur penggunaan semua aktiva perusahaan dibandingkan dengan
penjualan.
Kemudian, terdapat beberapa manfaat yang dapat dipetik dari rasio aktivitas, antara
lain:
a.       Dalam bidang Piutang
 Perusahaan atau manajemen dapat mengetahui berapa lama piutang mampu
ditagih selama satu periode. Kemudian,manajemen juga dapat mengetahui
berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
 Manajemen dapat mengetahui jumlah hari dalam rata-rata penagihan
piutangsehingga manajemen dapat pula mengetahui jumlah hari (berapa hari)
piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih.
b.       Dalam bidang Persediaan
Manajemen dapat mengetahui rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang. Hasil ini
dibandingkan dengan taget yang telah ditentukan atau rata-rata industri. kemudian
perusahaan dapat pula dibandingkan hasil ini dengan pengukuran rasio beberapa periode
yang lalu.
c.       Dalam bidang modal kerja dan penjualan
Manajemen dapat mengetahui berapa kali dana yang ditanamkan dalam modal
kerja berputar dalam satu periode atau dengan kata lain ,berapa penjualan yang dapat
dicapai oleh setiap modal kerja yang digunakan.
d.      Dalam bidang aktiva dan penjualan
Manajemen dapat mengetahui penggunaan semua aktiva perusahaan dibandingkan
dengan penjualan dalam suatu periode tertentu.

D. Pengertian Rasio Profitabilitas


Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan
gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan
operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap
penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini disebut juga Rasio Rentabilitas.
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti
kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya

E.  Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas Perusahaan


Adapun yang termasuk rasio profitabilitas antara lain:
1.     Gross Profit Margin (Margin Laba Kotor)
        Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian harga
pokok atau biaya produksinya,mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk
berproduksi secara efisien.
Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan,
karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah
dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit
margin semakin kurang baik operasi perusahaan.

 (Gross profit margin dihitung dengan formula:

Gros Profit Margin = (laba kotor/total pendapatan) × 100%

Contoh :
Laba kotor perusahaan PT Megah Sejahtera : Rp 48.000.000
Total pendapatan perusahaan : Rp 55.000.000
Maka Gross Profit Margin perusahaan PT Megah Sejahtera
= (laba kotor : Total pendapatan) × 100%
= (48.000.000 : 55.000.000) × 100%
= 87%

2.    Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)


       Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin
tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Net profit
margin dihitung dengan rumus:

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak : Penjualan


Contoh :
Pendapatan penjualan bersih (net sales) = Rp 27.063.310.000.000. Laba bersih
setelah pajak (net profit after tax) = Rp 2.064.650.000.000. Marjin Laba Bersih (Net
Profit Margin).???
Jawab : Margin Laba Bersih = Laba Bersih setelah pajak : pendapatan penjualan
bersih
Margin Laba Bersih = Rp 2.064.650.000.000 : Rp 27.063.310.000.000
Margin Laba Bersih = 7,63%

3.     Rasio Pengembalian Aset (Return on Assets Ratio)


Tingkat pengembalian aset merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase
keuntungan (laba) yang diperoleh perusahaan terkait sumber daya atau total assets
sehingga efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola asetnya bisa terlihat dari
persentase rasio ini. Rumus Rasio Pengembalian Aset sebagai berikut.

ROA = Laba Bersih : Total Aset


Contoh :
Perhitungan ROA dengan memakai data laporan keuangan sebuah perusahaan.
Diketahui : laba bersih perusahaan sebesar Rp 180.000.000 dan total aset Rp
20.000.000, maka hitunglah ROA perusahaan.
ROA = Laba Bersih : Total Aset
ROA = 180.000.000 : 20.000.000
= 9%

4.    Return On Investment (ROI)


          Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah
keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin
baik keadaan suatu perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang
menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai
aktiva.
Return on Investment dihitung dengan rumus:

ROI= ( (Laba Atas Investasi – Investasi Awal) / Investasi )x 100 %


Contoh :
Perusahaan Maju Bersama melakukan investasi sebesar Rp500.000.000 kepada sebuah
usaha penjualan produk kendaraan. Perusahaan Maju Bersama ternyata mendapatkan
penjualan sebesar 1.000 unit kendaraan. Dan dari penjualan tersebut perusahaan
mendapat keuntungan sebesar Rp600.000.000.
Diketahui : keuntungan (laba) investasi sebesar Rp100.000.000
Dan modal (investasi) awal sebesar Rp500.000.000
Jadi diperoleh perhitungannya sebagai berikut.
ROI = (Rp600 juta – Rp500 juta) : Rp500 juta) x 100 = 20%
Jadi diperoleh ROI nya adalah sebesar 20%

5.     Return On Equity (ROE)


        Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan
total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)
yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun
pemegang saham prefern) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan.
Return on equity adalah  rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan
mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari
investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan.
ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas
usaha. Return on equity dapat dihitung dengan formula:

ROE = Laba Bersih Setelah Pajak : Ekuitas Pemegang


Saham

Contoh :
Berdasarkan Laporan keuangan yang diterbitkan per tanggal 31 Desember 2017,
PT Megah Sejahtera yang bergerak di sektor konstruksi memiliki laba bersih setelah
pajak sebesar Rp 500jt, total ekuitas para pemegang saham adalah sebanyak Rp 800jt.
Berapakah rasio pengembalian ekuitas atau Return of Equity (ROE) PT Megah
Sejahtera?
ROE = Laba bersih setelah Pajak : Ekuitas Pemegang Saham
ROE = Rp500.000.000 : Rp800.000.000
ROE = 62,5%
6.      Earning per share (EPS)
         Earning per share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar
kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba.[16] Oleh karena itu pada
umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham
sangat tertarik akan earning per share. Earning per share adalah suatu indikator
keberhasilan perusahaan.
Earning per share dihitung dengan rumus:

EPS = Laba Bersih Setelah Pajak – Dividen Saham Preferen / Jumlah


Saham Biasa yang Beredar

Contoh:
Perusahaan Setia Merdeka mempunyai saham yang beredar sebanyak 1 juta lembar
pada tahun 2017, Laba bersih setelah pajak adalah Rp1 miliar. Perusahaan Setia
Merdeka kemudian memutuskan untuk membagikan 10% dividen atau sekitar Rp100
juta kepada pemegang sahamnya. Berapakah Earning Per Share (EPS) atau Laba per
lembar sahamnya ?
Laba per Saham (EPS) =  (Laba Bersih setelah Pajak – Dividen) : Jumlah Saham yang
Beredar
Laba per Saham (EPS) =  (1.000.000.000 – Rp100.000.000) : 1.000.000
Laba per Saham (EPS) = 900.000.000 : 1.000.000
Laba per Saham (EPS) = 900,-
 
Jadi Laba per Saham atau Earning per Share (EPS) PT Setia Merdeka adalah sebesar
Rp900.

F.    Tujuan dan Manfaat Analisis Rasio Profitabilitas Perusahaan


Manfaat rasio profitabilitas tidak terbatas hanya pada pemilik usaha atau
manajemen saja, tetapi juga bagi pihak luar perusahaan, terutama pihak – pihak yang
memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.
Adapun manfaat dan tujuan penggunaan rasio profitabilitas, antara lain :
 Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
periode tertentu.
 untuk menilai posisi laba tahun sebelumnya dengan tahun sekarang
 Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
 Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
 Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
modal pinjaman maupun modal sendiri
 Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik
modal sendiri

Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan posisi keuangan perusahaan dalam


rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus sebagai evaluasi
terhadap kinerja manajemen sehingga dapat diketahui penyebab dari perubahan kondisi
keuangan perusahaan tersebut.
REFERENSI

https://www.jurnal.id/id/blog/tag/jenis-rasio-profitabilitas/
http://anthyscrub.blogspot.com/2015/11/analisis-rasio-aktivitas-dan-rasio.html

http://dosenakuntansi.com/rasio-aktivitas