Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH /MADRASAH


(PTS/M)

A. Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar


Pengawas sekolah/madrasah dinyatakan bahwa seorang pengawas
sekolah/madrasah harus memiliki 6 (enam) dimensi kompetensi minimal yaitu:
kompetensi kepribadian, supervise manajerial, Supervisi akademik, evaluasi
pendidikan, Penelitian Pengembangan dan sosial.

Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan


Reformasi Birokrasi Bab I Pasal 1 point 1 dan 2 bahwa yang dimaksud dengan (1)
Jabatan fungsional Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai
ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan
pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. (2) Pengawas
Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan
wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan
pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan.

Pada indikator nomor 5.4. dalam kompetensi penelitian pengembangan adalah


melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan, dan
perumusan kebijakan pendidikan yang bermanfaat bagi tugas pokok tanggung
jawabnya.
Kegiatan penelitian selaiknya dibiasakan oleh para pengawas sehingga bila ada
permasalahan dapat diselesaikan secara ilmiah dengan data-data yang akurat.
Namun, kenyataan di lapangan masih banyak pengawas sekolah/madrasah yang
perlu ditingkatkan kemampuannya dalam bidang penelitian dan pengembangan.
Sebagian dari mereka masih ada yang belum memahami bagaimana membuat
proposal yang baik, selanjutnya melakukan dan melaporkan hasil penelitiannya.
Sebagian dari mereka ada pula yang sudah memahaminya tetapi belum
melakukannya.

1
Untuk mengatasi hal tersebut, sudah ada Pokjawas Madrasah yang
melakukan bimbingan teknis tentang penyusunan Penelitian Tindakan
Sekolah/Madrasah (PTS/M), namun hal itu belum merata jangkauannya. Pusdiklat
Tenaga teknis Pendidikan dan Keagamaan dalam Diklat Fungsional Calon
Pengawas Madrasah melakukan pelatihan dan bimbingan tentang penelitian
tindakan sekolah/madrasah.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya untuk meningkatkan
kemampuan calon pengawas sekolah/madrasah dilakukan pembekalan penelitian
tindakan sekolah/madrasah yang nantinya dapat diaplikan di lapangan.
Bahan Ajar ini dimaksudkan dapat memberikan pemahaman, dan motivasi
para calon pengawas sekolah/madrasah untuk menyelesaikan permasalahan
dimadrasahnya melalui metode ilmiah yang antara lain berupa Penelitian Tindakan
Sekolah/Madrasah (PTS/M). Bila penyelesaian masalah di madrasah dibiasakan
melalui PTS/M, maka kompetensi penyusunan PTS/M oleh pengawas
sekolah/madrasah akan meningkat dan berimplikasi pada peningkatan kualitas
kegiatan pengawasan. Bahkan dampak lainnya pun akan peningkatan angka kredit
pengawas madrasah dalam proses kenaikan pangkat dan atau sertifikasi yang pada
gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan.

B. Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah


Bahan Ajar ini disesuaikan dengan cakupan dimensi kompetensi pengawas
sekolah/madrasah seperti yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/madrasah.
Seperti telah diuratakan di atas, bahwa dalam peraturan tersebut terdapat 6 (enam)
dimensi kompetensi yaitu: kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik,
evaluasi pendidikan, penelitian pengembangan dan sosial.
Setiap dimensi kompetensi memiliki kompetensi dasar yang harus dimiliki
seorang pengawas sekolah/madrasah. Secara rinci kompetensi-kompetensi dasar
tersebut adalah sebagai berikut.

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
BAB II
PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH/MADRASAH

Bahan Ajar Penelitian Tindakan Sekolah/Madrasah (PTS/M) meliputi kegiatan


belajar:
1. Konsep dan latihan PTS/M, dan
2. Penyusunan Proposal dan Laporan PTS/M.

A. Langkah-langkah Mempelajari Bahan Ajar

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup


aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1)
membaca materi, (2) melakukan latihan/tugas, memecahkan kasus pada setiap
kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi,
dan melakukan tindak lanjut.

Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi, (2) bertukar


pengalaman dalam melakukan latihan/memecahkan kasus, (3) melakukan
seminar/diskusi hasil latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan
refleksi, membuat action plan, dan tindak lanjut. Perhatikan bagan berikut.

Gambar 1 Alur Kegiatan Belajar Individu dan Kelompok

Aktivitas individu adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih
merupakan forum untuk berbagi, memberikan pengayaan, dan penguatan terhadap

12
kegiatan yang telah dilakukan individu masing-masing. Namun demikian dalam
Pelahan Jarak Jauh (PJJ) kegiatan kelompok tidak bisa optimal seperti diklat tatap
muka.

B. Tujuan Bahan Ajar PTS/M


Bahan Ajar PTS/M ini disusun dengan tujuan untuk:
1. dijadikan bahan bacaan, pelajaran, latihan, refleksi, diskusi, dan tindak lanjut
dalam meningkatkan kompetensi PTS/M; dan
2. meningkatkan peran dan profesionalisme pengawas sekolah/madrasah yang
berdampak pada peningkatan kinerja guru dan kepala madrasah.

C. Standar Kompetensi PTS/M


Setelah mempelajari, mendiskusikan, mendalami, dan mempraktikkan Bahan Ajar ini
diharapkan peserta mampu:
1. memahami konsep PTS/M,
2. membuat proposal PTS/M,
3. membuat laporan PTS/M, dan
4. membimbing guru dalam membuat PTK sebagai kegiatan pengembangan profesi
guru.

D. Pengantar

Penelitian Tindakan Sekolah/Madrasah (PTS/M) merupakan penelitian yang berawal


dari permasalahan sekolah/madrasah, dan diselesaikan melalui tindakan spesifik dari
gagasan peneliti untuk mengatasi permasalahan sekolah/madrasah. Dengan
demikian, yang pertama harus ada dalam setiap penelitian termasuk PTS/M bukanlah
diawali dengan membuat judul tetapi diawali dengan menemukan adanya masalah.
Masalah-masalah yang akan dirumuskan adalah masalah-masalah aktual dan
sangat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan. Jika masalah-masalah itu
tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap
sekolah/madrasah. Oleh karena itu, diperlukan tindakan spesifik yang diyakini benar-
benar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut.

13
Saat ini, penelitian paling banyak dilakukan oleh guru, kepala sekolah/madrasah
dan pengawas sekolah/madrasah adalah penelitian tindakan. Jika penelitian tindakan
dilakukan guru disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jika penelitian tindakan
sekolah/madrasah dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah dan pengawas
sekolah/madrasah disebut PTS/M, bahkan Prof. Dr. Nana Sudjana menamainya
dengan Penelitian Tindakan Kepengawasan (PTKp). Pada dasarnya PTK dengan
PTS/M sama, yaitu bertujuan memecahkan masalah-masalah. Jika PTK bertujuan
memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas, sedangkan PTS/M bertujuan
untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekolah/madrasah.

C. Definisi PTS/M
Menurut Stephen Kemmis dalam Wasis D. Dwiyogo (2018:30), ada tiga pokok
pikiran penting dalam penelitian tindakan yakni, (1) bahwa action research merupakan
penelitian partisipatoris yang menekankan pada tindakan dan refleksi berdasarkan
pertimbangan rasional yang mantap dalam melakukan perbaikan terhadap suatu
situasi, (2) memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta (3)
memperbaiki situasi dan kondisi (sekolah/pembelajaran) secara praktis.
Sedangkan menurut Eileen Ferrance (2000:6) penelitian tidakan sekolah
adalah suatu proses pelaksanaan penelitian yang diperankan pelaksana kegiatan
(guru, kepala sekolah, atau pengewas), mereka meneliti tindakannya sendiri dengan
sistematis dan menggunakan teknik penelitian secara berhati-hati. Penelitian tindakan
melibatkan orang-orang bekerja untuk meningkatkan keterampilan, teknik dan strategi
dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian tindakan adalah suatu studi tentang
bagaimana kita dapat melakukan perubahan.
Dengan demikian, penelitian tindakan sekolah/madrasah (PTS/M) merupakan
tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi dan manajemen sekolah. Adapun ruang
lingkup PTS/M mengacu pada delapan standar nasional pendidikan khususnya
Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah yang meliputi: (1) Perencanaan program
sekolah/madrasah, (2) pelaksanaan program sekolah/madrasah, (3) pengawasan dan
evaluasi sekolah/madrasah, (4) kepemimpinan, dan (5) sistem informasi manajemen
sekolah/madrasah.

14
D. Tujuan PTS/M
1. Memperbaiki situasi sekolah/madrasah;
2. Meningkatkan mutu input, proses, dan output sekolah/madrasah;
3. Mengembangkan inovasi input, proses dan output sekolah/madrasah;
4. Meningkatkan kinerja sekolah/madrasah, yang terkait mutu, keefektifan, inovasi,
efesiensi dan produktvitas sekolah/madrasah untuk mewujudkan mutu SKL;
5. Meningkatkan kemampuan professional kepala madrasah, guru dan siswa;
6. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah/madrasah; dan
7. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan wawasan berpikir pengawas.

E. Manfaat PTS/M
Manfaat PTS/M bagi kepala sekolah/madrasah secara umum adalah untuk
memecahkan masalah aktual secara ilmiah nyata yang terjadi di sekolah. Masalah
tersebut menjadi tanggung jawab kepala sekolah/madrasah.
Manfaat PTS/M secara khusus adalah untuk:
1. meningkatkan kemampuan dan sikap profesional sebagai pengawas;
2. menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan madrasah dan dunia
kepengawasan;
3. meningkatkan mutu proses dan hasil pengelolaan madrasah;
4. membuat pengawas madrasah menjadi peka dan tanggap terhadap masalah-
masalah tentang kondisi dan pengelolaan madrasah;
5. meningkatkan kinerja madrasah termasuk kinerja kepala madrasah, kinerja guru, dan
hasil belajar siswa,
6. sebagai bahan untuk membimbing guru dalam membuat PTK, dan
7. membuat karya ilmiah guna mendapatkan angka kredit point untuk kenaikan
pangkat/jabatan.

F. Ciri-ciri PTS/M
Ciri-ciri PTS/M yang paling utama adalah sebagai berikut:
1. melakukan tindakan peningkatan,
2. kolaborasi peneliti dengan yang diteliti;
3. adanya masalah penting dan mendesak yang dihadapi Pengawas Sekolah/
Madrasah untuk segera dipecahkan;

15
4. adanya siklus, minimal dua siklus. Setiap siklus ada empat tahap yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi;
5. dilakukan di wilayah kerja peneliti;
6. bertujuan meningkatkan kinerja sekolah/madrasah;
7. dilaksanakan sesuai jam kerja peneliti;
8. dilaksanakan secara berkelanjutan;
9. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Pengawas Sekolah/Madrasah;
10. tidak mengganggu tugas pokok dan fungsi Pengawas Sekolah/Madrasah;
11. kehadiran peneliti tidak mengganggu kegiatan orang yang diteliti;
12. adanya niat untuk meningkatkan mutu profesional guru, dan kepala sekolah/
madrasah;
13. tertuju pada peningkatan mutu kinerja guru dan kepala sekolah/madrasah yang
melaksanakan PTS/M itu sendiri;
14. tindakan sekolah/madrasah yang diberikan pengawas sekolah/madrasah kepada
kepala dan guru madrasah harus dapat dilihat dalam unjuk kerja subjek tindakan
secara nyata yang dapat diamati oleh peneliti;
15. tindakan dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan
ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam
peningkatan kinerja guru dan/atau kepala sekolah/madrasah;
16. pemberian tindakan sekolah/madrasah harus dilakukan sendiri oleh peneliti
sendiri, tidak boleh minta bantuan orang lain;
17. bukan menjelaskan tentang materi, tetapi tentang cara, metode, prosedur, atau
langkah-langkah;
18. tindakan sekolah/madrasah yang diberikan pada subjek tindakan sekolah/
madrasah harus baru dan kreatif (tidak seperti biasanya);
19. tindakan sekolah/madrasah harus bersifat dapat dilaksanakan (operasional) dan
praktis (mudah) serta sesuai dengan kondisi kelas;
20. tindakan sekolah/madrasah merupakan kesepakatan bersama antara peneliti
dengan subjek tindakan, bukan paksaan;
21. ketika tindakan sekolah/madrasah berlangsung, harus ada pengamatan secara
sistematis terhadap proses dan hasil; dan
22. keberhasilan tindakan sekolah/madrasah dibahas dalam kegiatan refleksi, dan
hasilnya digunakan sebagai masukan bagi perencanaan siklus berikut.

16
G. Perbedaan PTS/M oleh Pengawas sekolah/madrasah, PTS oleh Kepala
sekolah/madrasah, dan PTK oleh Guru

Peneliti Tindakan Objek Penelitian


Pengawas Sek./madrasah 1. Guru dan kompetensinya
2. Tenaga kependidikan
3. Kepala Madrasah/sekolah dan
Kompetensinya
4. Manajemen sekolah/madrasah
5. Kompetensi diri sendiri, Dll.
Kepala Sekolah/madrasah 1. Guru dan kompetensinya
2. Tenaga kependidikan
3. Kepala Madrasah/sekolah dan
Kompetensinya
4. Manajemen sekolah/madrasah
5. Kompetensi diri sendiri, Dll.
Guru 1. Siswa dan kompetensinya
2. Kompetensi diri sendiri
3. Model dan Metode pembelajaran
4. Media pembelajaran
5. Dll.

H. Perbedaan PTS/M dengan Bukan PTS/M


PTS/M dilaksanakan oleh praktisi yaitu kepala sekolah/madrasah, pengawas
sekolah/madrasah. Sedangkan bukan PTS/M sangat teoretis yaitu ilmuan di luar
sekolah/madrasah.
Tujuan penelitian tindakan memecahkan masalah, meningkatkan mutu ,
menguji teori/dan atau mengembangkan pengetahuan baru. Tipe pengumpulan
data kualitatif/dan atau kuantitatif. Maksud pengumpulan dan analisis data untuk
menemukan masalah praktis, mengarahkan rencana tindakan, hasil-hasil evaluasi,
mendapatkan pemahaman terhadap gejala, dan menguji hipotesis.

17
G. Karakteristik Penelitian Tindakan Sekolah/Madrasah (PTS/M)

Untuk mempertajam pemahaman kita tentang PTS/M, perlu didipahami tentang


karaktaristik PTS/M adalah sebagai berikut:
1. Berfokus pada perbaikan bidang akademik. Fokus ini perlu dipertajam, karena arah
PTS/M adalah menjadikan kinerja supervisi akademik yang sebelumnya tidak atau kurang
baik berangsur-angsur menjadi baik secara bertahap.
2. Dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah/madrasah sebagai pelaku supervisi
akademik.
3. Adanya tindakan tertentu untuk melakukan perbaikan terhadap aspek-aspek akademik
yang akan diperbaiki. Atau, adanya pemecahan terhadap masalah-masalah yang diiden-
tifikasi. Ini yang membedakan secara khusus dengan penelitian akademik atau penelitian
keilmuan.
4. Bersifat praktis dan tidak teoritis, karena PTS/M tidak dimaksudkan sekedar eksplorasi
masalah tanpa pemecahan, mendeskripsikan masalah tanpa ada kurasi, tidak dimaksud-
kan melihat hubungan antar vaiabel, baik yang bernuansa hubungan sebab akibat atau
hubungan searah, tidak dimaksudkan untuk verifikasi teori sebagaimana pada riset-riset
kuantitatif, dan tidak dimaksudkan untuk menemukan teori substantif sebagaimana pada
riset kualitatif. Jadi, PTS/M dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah praksis.
5. Bersifat reflektif, karena pengawas sekolah/madrasah sebagai pelaku pekerjaan supervisi
manajerial dan akademiklah yang melakukan refleksi atas tugasnya selama ini.

H. Prinsip PTS/M
Agar PTS/M dapat dilakukan dengan baik, sejumlah prinsip berikut patut dipedomani:
1. Probleme emergence, yaitu setiap kegiatan supervisi selalu ada masalah. Karena itu,
masalah tersebut harus dipandang oleh pengawas sekolah/madrasah sebagai sesuatu
yang mendesak untuk dipecahkan.
2. Problema oriented, yaitu bahwa PTS/M harus difokuskan pada pemecahan masalah
mendesak secara terprogram, sistematis dan langsung.
3. Multi-ways, ialah bahwa masalah-masalah yang ditemui dalam supervisi, dapat
dipecahkan melalui berbagai macam cara.
4. Continues repeatedly, pemecahan masalah yang dilakukan haruslah berulang-ulang
sampai benar-benar selesai atau tuntas.
5. Therapeutics evaluation, ialah bahwa tindakan peneliti dilakukan dalam rangka evaluasi
dan refleksi untuk pemecahan masalah yang dihadapi terkait supervisi.

18
6. Collaborative, bahwa agar tindakan yang dilakukan berkorespondensi dengan masa -
lahnya, maka diperlukan kolaborasi antara peneliti dan terteliti (Diadopsi dari Setyadin,
2007).

I. Langkah-Langkah PTS/M
Penelitian tindakan sekolah/madrasah (PTS/M), sebenarnya mengadop prinsip-
prinsip yang terdapat pada penelitian tindakan atau action research. Yaitu suatu riset yang
tidak saja bermaksud mengidentifikasi sejumlah masalah pada berbagai macam kegiatan,
melainkan sekaligus merumuskan alternatif pemecahan, menerapkan alternatif pemecahan
yang sudah dirumuskan sebagai suatu tindakan, melakukan evaluasi terhadap tindakan dan
memberikan umpan balik guna merumuskan tindakan berikutnya. Kegiatan merumuskan
alternatif tindakan, melakukan tindakan, evaluasi tindakan dan umpan balik dilakukan secara
berulang dalam beberapa siklus. Hopkins (1993) dan Mc Taggart (1993) menyusun bagan
yang dapat memperjelas prosedur penelitian tindakan.
Langkah-langkah PTS/M yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi. Seperti gambar berikut.

Keterangan :
Satu siklus meliputi empat langkah yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi.

19
1. Perencanaan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan memulai
tindakannya. Agar perencanaan mudah dipahami oleh objek yang melakukan
tindakan, maka peneliti membuat panduan tindakan yang menggambarkan:
a. apa yang harus dilakukan objek;
b. kapan dan berapa lama dilakukan;
c. di mana dilakukan;
d. fasilitas yang diperlukan; dan
e. jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.

2. Pelaksanaan (Tindakan)
Pelaksanaan adalah penerapan dari perencanaan. Hal-hal yang harus
diperhatikan pengawas sekolah/madrasah adalah:
a. Apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan?
b. Bagaimana kelancaran proses tindakan yang dilakukan objek yang melakukan
tindakan?
c. Bagaimanakah situasi proses tindakan?
d. Apakah yang melakukan tindakan mampu melaksanakan tindakan dengan
penuh semangat?
e. Bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?
f. PTS/M merupakan penelitian yang mengikutsertaan secara aktif peran guru dan
siswa dalam berbagai tindakan.
g. Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran dan evaluasi) dilakukan berdasarkan
pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna
melakukan perbaikkan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
(h) Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan
segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajar-
an).

3. Pengamatan
Pengamatan adalah pencermatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hal-hal
yang diamati adalah unsur-unsur dari proses tindakan dalam pelaksanaan di atas.

20
Antara pelaksanaan dengan pengamatan bukan urutan karena waktu terjadinya
bersamaan. Pengamatan harus menggunakan format pengamatan. Akan lebih baik
jika pengamatan dilengkapi video untuk merekam peristiwa ketika guru sedang
mengajar misalnya, kemudian dibahas bersama ketika refleksi.
Siapakah yang dapat melakukan pengamatan? Pengamatan dilakukan dengan
cara sebagai berikut.
a. Pengamatan dapat dilakukan oleh orang lain, yaitu pengamat yang diminta oleh
peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, bertugas mengamati
apa saja yang dilakukan oleh objek yang diteliti.
b. Pengamatan dapat dilakukan oleh peneliti sendiri, yaitu apa yang sedang ia
lakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh objek yang diteliti dan
bagaimana proses berlangsung.
Alternatif a lebih baik daripada b karena hasil pengamatan lebih asli dan
objektif. Kesulitannya adalah peneliti harus mencari teman yang cermat dan dapat
mengamati pelaksanaan; kesepakatan menentukan waktu yang sama.
Tahapan pengamatan dan pencatatan semua aktivitas PTS/M dilakukan
bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan
sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Salah satu
atau lebih kegiatan dari pengelolaan sekolah/madrasah yang dilakukan Kepala
Sekolah/Madrasah menurut Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar
Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pada tahapan ini, si peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-
hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian
yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan
skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil
belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data pengelolaan
sekolah/madrasah. Instrumen yang umum dipakai adalah lembar observasi, dan
cacatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak
dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas siswa selama
pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang
dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi. Sebagai
contoh pada satu usulan PTS/M akan dikumpulkan data sebagai berikut : (1) data

21
jumlah guru, (2) data kualifikasi guru, (3) data daftar hadir guru, data kinerja guru,
dan sebagainya. Lembar observasi guna memperoleh data kedisiplinan guru dan
lapangan.

Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya.


Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, seperti misalnya teknik triangulasi,
membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang
telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telah terkumpul memerlukan analisis
untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan.
Untuk itu berbagai teknik analisis statitika dapat digunakan.

J. Rangkuman
PTS/M adalah penemuan sistematis yang dilaksanakan pengawas sekolah/
madrasah untuk memecahkan masalah pengelolaan madrasah/sekolah. Ruang
lingkup PTS/M mengacu pada Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan sekolah/madrasah yang meliputi: (1) Perencanaan program
sekolah/madrasah, (2) pelaksanaan program sekolah/madrasah, (3)
pengawasan/evaluasi sekolah/madrasah, (4) kepemimpinan, dan (5) sistem
informasi manajemen sekolah/madrasah.

Manfaat PTS/M bagi pengawas sekolah/madrasah secara umum adalah untuk


memecahkan permasalahan pengelolaan yang terjadi di sekolah/madrasah yang
menjadi tanggung jawab pengawas sekolah/madrasah. Ciri PTS/M yang paling
utama adalah melakukan tindakan disamping 15 ciri lainnya. Terdapat perbedaan
antara penelitian tindakan untuk pengawas sekolah/madrasah, kepala
sekolah/madrasah /madrasah, dan guru. Namun demikian, langkah-langkah
PTS/M meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

BAB III

22
MEMBUAT PROPOSAL DAN LAPORAN PTS/M
A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bahan ajar ini, diharapkan Saudara mampu:


1. Membuat proposal PTS/M,
2. Membuat laporan PTS/M,
Perhatikan bagian-bagian dari sistematika setiap proposal PTS/M berikut ini.

 Judul
 Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masakah dan rencana pemecahannya
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
F. Hepotesis Tindakan
 Bab II Kajian Teoretis
Kajian Teoretis
 Bab III Metodologi
A. Metode Penelitian
B. Prosedur
C. Jadwal Kegiatan Penelitian
 Daftar Pustaka

B. Penjelasan

1. Judul.

Ditulis secara singkat, spesifik dan jelas, menggambarkan masalah yang akan
diteliti serta menggambarkan tindakan penelitian yang dipilih untuk memecah-
kan masalah.

23
Contoh Judul PTS/M
Apa yang mau ditingkatkan mutunya....?
Bagaimana tindakan yang akan dilakukan kepala sekolah/madrasah
Siapa yang akan ditingkatkan?
a. Perencanaan program sekolah/madrasah
Studi banding ke sekolah/madrasah lain yang lebih tinggi mutunya;
Kepala sekolah/ madrasah.

b. Kemampuan Guru dalam melaksanaan metode demonstrasi disertai tugas


Terstruktur;
Dilklat Guru.
Mutu guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa melalui lokakarya guru.

c.Kemampuan guru dalam menyusun RPP


Melalui Workshop Guru
Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
Melalui Focus Group Discussion (FGD) Guru.

d. Kemauan dan Kemampuan Guru dalam Mengunakan Metode Pembelajaran


Kooperatif;
Melalui Kerja Kelompok Guru.

e. Penerapakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pembinaan dalam


Forum Diskusi Guru Guru

2. Latar Belakang

Berisi uraian latar belakang pemilihan judul dan masalah itu diteliti dilihat dari
data dan fenomena yang terjadi dalam melaksanakan pengawasan akademik
maupun manajerial di MA (misalnya). (maksimal 2 halaman)

24
3.Perumusan Masalah dan Rencana Pemecahannya

a. Rumusan Masalah

Masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya atau berita. (maksimal 1


halaman)

b.Rencana Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah dirancang dalam bentuk tindakan. Alternatif tindakan


yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah perlu diidentifikasi.
Argumentasi logis terhadap pilihan tindakan untuk memecahkan akar penyebab
masalah perlu disajikan. (maksimal 2 halaman)

4.Hipotesis Tindakan (kalau perlu)

Berisi dugaan sementara atas jawaban masalah yang dirumuskan dan


dikemas dalam bentuk proposisi. (maksimal 1 halaman)

5.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berisi rumusan apa yang hendak dicapai dari pelaksanaan PTS/M serta
untuk siapa dan dalam hal apa manfaatnya. (maksimal 1 halaman)

6.Kajian/Acuan Teori

Berisi konsep, prinsip yang terkait dengan masalah / variabel yang diteliti
sebagai dasar dalam pemecahan masalah. (maksimal 4 halaman)

7.Prosedur

Dikemukakan siapa yang menjadi subjek PTS/M. Waktu dan lamanya


tindakan dikemukakan secara rinci sesuai dengan banyaknya siklus yang
diprediksikan. Tempat dilaksanakannya PTS/M dikemukakan secara jelas.
(maksimal 2 halaman).

25
Prosedur/langkah-langkah PTS/M diuraikan secara rinci dari perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi untuk setiap siklus.

1. Perencanaan tindakan menggambarkan secara rinci hal-hal yang perlu


dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan (seperti perangkat pembelajaran
berupa skenario pembelajaran, media, bahan dan alat, instrumen observasi,
evaluasi dan refleksi).
2. Pelaksanaan tindakan berisi uraian tahapan dalam setiap siklus tindakan
yang akan dilakukan.
3. Observasi menggambarkan perubahan proses dan hasil yang diamati dan
cara pengamatannya.
4. Refleksi menguraikan cara evaluasi dan hasil assesmen berupa tingkat
kecapaian indikator keberhasilan serta gambaran eksplanasi dan makna dari
perubahan proses dan hasil tindakan sebagai dasar penentuan langkah
tindak lanjut.

8.Jadwal Kegiatan Penelitian :

Berisi jadwal kegiatan mulai perencanaan, pelaksanaan PTS/M, penulisan


laporan hasil dan penyerahan hasil (dalam bentuk matrik).

9.Daftar Pustaka

Konsisten dengan rujukan sitasinya

26
C.Sistematika Laporan Hasil PTS

Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel (kalau ada)
Daftar Gambar (kalau ada)
Daftar lampiran

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
3. Tujuan
4. Manfaat
5. Hipotesis Tindakan (bila diperlukan)

BAB II KAJIAN PUSTAKA


1. Kajian Teori
2. Temuan Hasil Penelitian yang Relevan
3. Kerangka Pikir

BAB III METODE PENELITIAN TINDAKAN


1. Desain Penelitan Tindakan
2. Subyek dan Obyek
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
4. Prosedur
5. Siklus I
1. Perencanaaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi
1. Siklus II

27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
2. Siklus I
3. Siklus II
4. Pembahasan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan
2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN – LAMPIRAN

D. Penjelasan

1. Latar Belakang Masalah


Dalam latar belakang masalah, peneliti menceritakan hal-hal yang
melatarbelakangi mengapa peneliti memilih judul tersebut. Peneliti dalam latar
belakang masalah ini seolah-olah sebagai orang mata-mata yang sedang
mengamati sekolah/madrasah tempat terjadinya perkara. Untuk memunculkan
alasan-alasan memilih judul tersebut, peneliti dapat mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku tentang kepengawasan, tetapi belum efektif
pelaksanaannya. Latar belakang masalah dapat pula mengacu pada krisis
pengelolaan sekolah/madrasah. Dalam latar belakang ditampakkan secara tersurat
atau tersirat masalah-masalah yang nantinya menjadi identifikasi masalah secara
berurutan. Akhirnya, latar belakang ditutup dengan kalimat kunci yang menekankan
pentingnya masalah tersebut untuk segera diteliti dan dampaknya jika penelitian itu
ditunda-tunda.

Contoh inti latar belakang masalah

Perencanaan program sekolah/madrasah belum lengkap. Hal ini ditunjukkan


oleh dari empat hal yang harus direncanakan baru tiga hal yang sudah direncanakan.
Pelaksanaan program sekolah/madrasah juga belum baik yang tampak dari belum
dilaksanakan pengelolaan keuangan dengan baik. Dari 10 pelaksanaan program

28
sekolah/madrasah baru tujuh yang berjalan cukup baik. Demikian pula halnya
dengan kepemimpinan kepala sekolah/madrasah. Dari 8 tugas pokok yang harus
dilakukan melalui kepemimpinan kepala sekolah/ madrasah hanya berjalan
separuhnya. Akibatnya, 22 dari 88 guru masih rendah motivasi mengajarmya. Ada 5
(lima) hal yang harus dievaluasi ternyata sekolah/madrasah belum terakreditasi.
Sekolah/madrasah juga belum memiliki sistem informasi yang dapat diandalkan.
Sekolah/madrasah belum mampu menggunakan sistem informasi manajemen
sekolah/madrasah dengan baik sehingga banyak data yang sulit ditemukan kembali.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian tindakan sekolah/madrasah perlu
dilaksanakan agar pemecahan masalah tersebut dapat diatasi. Jika masalah ini tidak
segera diatasi dikhawatirkan sekolah/madrasah akan kehilangan peminatnya.

2.Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah berdasarkan masalah-masalah yang muncul di latar


belakang masalah baik secara tersurat maupun tersirat. Urutannya pun sama seperti
yang muncul di latar belakang masalah.

Contoh:
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat
diidentifikasikan sebagai berikut.
a. Masih satu rencana program yang sekolah/madrasah belum dibuat dengan baik
(program sekolah/madrasah).
b. Ada tiga pelaksanaan program sekolah/madrasah yang belum dibuat sekolah/
madrasah.
c. Empat tugas kepemimpinan kepala sekolah/madrasah belum berjalan.
d. 22 (dua puluh dua) orang guru masih rendah motivasinya.
e. Satu dari empat evaluasi sekolah/madrasah belum terpenuhi.
f. Sekolah/madrasah belum memiliki sistem informasi yang dapat diandalkan.

3.Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah adalah masalah-masalah yang dipilih untuk diteliti.

29
Tidak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus dengan satu kali penelitian.
Contoh:
Dari enam masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi pada
rendahnya motivasi guru.

4.Perumusan Masalah
Seperti uraian sebelumnya, bahwa perumusan masalah adalah usaha untuk
menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau
dicarikan jalan pemecahannya. Perumusan masalah merupakan pertanyaan atau
pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti
didasarkan atas identifikasi masalah dan pembatasan masalah.
Contoh
Apakah dengan diklat motivasi berprestasi akan meningkatkan motivasi guru?

5. Tujuan Penelitian
Penulisan tujuan PTS/M umumnya dimulai dengan kalimat “PTS/M ini
bertujuan untuk … (tindakan tertentu, tuliskan dengan jelas nama tindakan tersebut),
guna meningkatkan ….(tuliskan dengan rinci apa yang akan ditingkatkan), bagi guru
di ….. (tuliskan subjek PTS/M-nya)

6. Manfaat Penulisan

Sedangkan penulisan manfaat PTS/M umumnya dimulai dengan kalimat


“PTS/M ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa ……. (tuliskan manfaat
PTS/M bagi guru….manfaatnya bagi siswa, dan lain-lain).

Contoh
Judul, “Upaya-upaya Meningkatkan Motivasi Mengajar Guru melalui Diklat Motivasi
Berprestasi bagi Guru SDN 19 Cempaka Putih Barat – Kota Jakarta Pusat”.

Perumusan masalahnya, “Apakah dengan diklat motivasi berprestasi akan


meningkatkan motivasi mengajar guru di SDN 19 Cempaka Putih Barat – Kota
Jakarta Pusat?”
Contoh tujuan PTS/M

30
PTS/M ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi mengajar guru melalui diklat
motivasi berprestasi bagi guru di SDN19 Cempaka Putih Barat – Kota Jakarta Pusat.

Contoh manfaat PTS/M


PTS/M ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru dalam meningkatkan
motivasi mengajarnya. PTS/M ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa
dalam menerima pembelajaran.

7.Kajian Teori

Kajian teoretis berisi konsep, prinsip, yang terkait dengan masalah yang diteliti
sebagai dasar dalam pemecahan masalah. Acuan teori menguraikan kajian teori dan
pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan PTS/M.

Pada acuan teori, tuliskan berbagai teori (berdasar pada kajian kepustakaan)
yang mendasari usulan rancangan PTS/M ini. Kemukakan juga teori, temuan dan
bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi
permasalahan penelitian tersebut. Untuk masalah PTS/M tentang masih rendahnya
motivasi untuk memecahkan masalahnya pilih buku-buku motivasi berprestasi. Tulis
minimal tiga pendapat tentang motivasi berprestasi. Kemudian simpulkan definisinya
menurut Saudara. Analisis perbedaan dan persamaan masing-masing pendapat.
Analisis kelebihan dan kelemahan masing-masing pendapat. Putuskan Saudara
berpihak kepada pendapat siapa dan uraikan alasannya.

8. Metode Penelitian
Metode penelitian menjelaskan tentang apa yang akan ditingkatkan, bagai -
mana cara meningkatkan, dan siapa yang akan ditingkatkan, metode penelitian yang
digunakan dan langkah-langkah PTS/M.

9.Jadwal PTS/M
Contoh jadwal kegiatan sebagai berikut.

31
No Kegiatan waktu

1. Membuat proposal PTM 1 s.d. 30 Agustus


2019

2. Menyeminarkan proposal PTM 2 s.d. 6 September


2019

3. Merevisi proposal PTM 8 s.d. 15


September 2019

4. Melaksanakan PTM 20 September s.d.


Oktober 2019

5. Membuat draft laporan PTM 1 s.d. Nopember


2019

6. Menyeminarkan Hasil PTM 1 s.d. 7 Desember


2019

7. Membuat laporan final PTM 8 s.d. Desember


2019

10.Menulis Daftar Pustaka


Banyak model pembuatan daftar pustaka tergantung siapa sponsornya.
Misalnya model American Psychology Association (APA). Cara membuat daftar
pustaka mengacu pada model Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia yang
terdapat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008).
Kriteria kepustakaan yang baik. Sedikitnya ada dua syarat utama harus
dipenuhi oleh sumber bacaan yang akan digunakan dalam acuan teori; (a) adanya
keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah yang dibahas, dan (b) kemutahiran
sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah kadaluwarsa harus ditinggalkan.
Nama pengarang. Tahun penerbitan. Judul buku dicetak miring. Kota penerbit:
Penerbit.

32
Buku, artikel, dan sumber lain yang boleh dituliskan dalam daftar pustaka adalah
acuan yang dikutip saja. Buku, artikel, dan sumber lain yang tidak dikutif tidak boleh
dituliskan dalam daftar pustaka.

Contoh
Husaini Usman & Purnomo Setyadi Akbar. 2009. Pengantar Metodologi Sosial. Edisi
Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.

E.Latihan
1. Buatlah Judul PTM berdarkan pemasahan yang ada !

2.Buatlah Bab I PTM seuai judul yag dpilih !

F. Evaluasi

1. Pernyataan di bawah ini merupakan uraian tentang … .


A. masalah-masalah yang dimunculkan dalam di latar belakang masalah baik
secara tersurat maupun tersirat;
B. usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang
perlu dijawab atau dicarikan jalan pemecahannya;
C. penelitian tindakan madrasah untuk memecahkan masalah aktual secara ilmiah
nyata yang terjadi di madrasah;
D. ditulis secara singkat, spesifik dan jelas, menggambarkan masalah yang akan diteliti
serta menggambarkan tindakan penelitian yang dipilih untuk memecahkan masalah.

2. Tugas pengawas madrasah Tsanawiyah antara lain melaksanakan … .


A. Melaksanakan pengawasan pendidikan agama Islam pada SMP;
B. Melaksanakan pembinaan terhadap guru PAI di MTs;
C. Melaksanakan pembimbingan terhadap tenaga kependidikan, guru MTs;
D. Melaksanakan pengawasan akademik dan manajeril di MTs.

3. Variabel yang bisa digunakan untuk PTM Pengawas seperti di bawah ini,
kecuali … .
A. media pembelajaran, perilaku guru, dan manajemen madrasah

33
B. attitude guru, kepemimpinan kepala madrasah, dan kinerja siswa
C. kinerja guru, kinerja kepala madrasah dan strategi pembelajaran.
D. kinerja kepala madrasah, kinerja tenaga administrasi dan profesionalisme guru.

4. Penelitian tindakan madrasah melaksanakan aktivitas antara lain, kecuali … .


A. perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi
B. perencanaan, pengamatan, evaluasi dan refleksi
C. perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi;
D. perencanaan, pelaksanaan, refleksi dan evaluasi.

5. Penelitian tindakan madrasah dilakukan oleh … .


A. praktisi yaitu kepala sekolah/madrasah dan pengawas;
B. siapa saja, dimana saja dan sangat teoretis;
C. praktisi pendidikan seperti guru dan tenaga kependidikan;
D. kepala dan guru yang bertugas di madrasah.

G. Quiz
Isilah kolom-kolom kosong menurun dan mendatar sesuai tipe, jenis atau makna
kata yang ada pada kolom paling atas !

guru pengawas kepala tenaga jigsaw kepuasan


administrasi kerja

pendidik … … … … …

nara … … … … …
sumber

fasilitator … … … … …

pembimbing … … … … …

pembina … … … … …

34
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan). Jakarta:


Reneka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002, Penelitian Tindakan Kelas, Makalah pada Pendidikan
dan Pelatihan (TOT) Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional
Guru, 11-20 Juli 2002 di Balai penataran Guru (BPG) Semarang,
BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Meier, Dave. 2002. The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.
https://blog.igi.or.id/sistematika-proposal-ptkpts.html
https://ainamulyana.blogspot.com/2015/03/penelitian-tindakan-sekolah-atau-pts.html
Imron, Ali. 2008. Penelitian tindakan sekolah bagi pengawas dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Tenaga Kependidikan Edisi Nomor 2 tahun
2008. Jakarta: Direktorat Tendik, Ditjen Mutendik, Depdiknas.
Imron, Ali, 1994. Supervisi pembelajaran di Indonesia: Dari Kawasan Konseptual
Sampai Kawasan Substantif. Malang: Jurusan AP FIP IKIP Malang
------, Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan kebudayaan dan Kepala
------, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/0/1995
Kemmis and McTaggart.1994. The Action Research Planner, Dekain University
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor: 21 Tahun 2010 Tentang Jabatan Fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya.
Suhardjono, 2005, Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan
Kelas sebagai PTS, makalah pada Pelatihan Peningkatan Mutu Guru
di LPMP Makasar, Maret 2005
Suhardjono, 2009, Tanya jawab tentang PTK dan PTS, naskah buku.
Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :
PT Bumi Aksara
Suhardjono, A. Azis Hoesein, dkk. 1995. Pedoman penyusunan PTS di Bidang
Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Digutentis,
Jakarta : Diknas

35
Supardi. 2005. Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan
Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widya-
iswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Tita Lestari. 2009. Penyusunan Program, Pelaksanaan dan Pelaporan Hasil
Pengawasan. Materi ToT Calon Pengawas. Jakarta: Direktorat Penelitian
Tindakan Sekolah‐MKPS Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK, Departemen
Pendidikan Nasional.

36

Anda mungkin juga menyukai