Anda di halaman 1dari 5

Serangan iskemik transien

Etiologi
Etiologi serangan iskemik transien (transient ischemic attack, TIA) tersering adalah akibat
tromboemboli dari ateroma pembuluh darah leher. Penyebab lain adalah lipohialinosis
pembuluh darah kecil intrakranial dan emboli kardiogenik. Etiologi yang lebih jarang adalah
vaskulitis atau kelainan hematologis.
Perdarahan intraserebral spontan
Perdarahan di dalam jaringan otak dapat disebabkan oleh
a. Hipertensi dengan pembentukan mikroaneurisma (aneurisma charcotbouchard)
b. Perdarahan tumor
c. Trauma
d. Kelainan darah
e. Gangguan pembuluh darah – malformasi arteriovenosa, vaskulitis, amiloidosis
Sepuluh persen dari kasus stroke merupakan perdarahan intraserebral. Pasien datang dengan
tanda-tanda neurologis fokal yang tergantung dari lokasi perdarahan, kejang, dan gambaran
peningkatan tekanan intrakranial.
Etiologi
1. Infark otak (80%)
a. Emboli kardiogenik
a) Fibrilasi atrium atau aritmia lain
b) Trombus mural ventrikel kiri
c) Penyakit katub mitral dan aorta
d) Endokarditis (infeksi atau non infeksi)
b. Emboli paradoksal (foramen ovale paten)
c. Emboli arkus aorta
Arterotrombotik (penyakit pembuluh darah sedang-besar)
a. Penyakit ekstrakranial
a) Arteri karotis interna
b) Arteri vertebralis
b. Penyakit intrakranial
a) Arteri karotis interna
b) Arteri serebri media
c) Arteri basilaris
d) Lakunen (oklusi arteri perforans kecil)
2. Perdarahan intraserebral (15%)
a. Hipertensif
b. Malformasi arteri-vena
c. Angiopati amiloid
3. Perdarahan subaraknoid (5%)
4. Penyebab lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan
a. Trombosis sinus dura
b. Disesksi arteri karotis atau vertebralis
c. Vaskulitis sistem saraf pusat
d. Penyakit moya-moya (oklusi arteri besar intrakranial yang progresif)
e. Migren
f. Kondisi hiperkoagulasi
g. Penyalahgunaan obat (kokain atau amfetamin)
h. Kelainan hematologis (anemia sel sabit, polisitemia, atau leukimia)
i. Miksoma atrium
Pencegahan
Pencegahan primer
1. Strategi kampanye nasional yang terintegrasi dengan program pencegahan penyakit
vaskular lainnya
2. Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas strok:
a. Menghindari rokok, stres mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam
berlebihan, obat-oatan golongan amfetamin, kokain, dan sejenisnya
b. Mengurangi : kolesterol dan lemak dalam makanan
c. Mengndalikan : hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung (misalnya fibrilasi
atrium, infark miokard akut, penyakit jantung reumatik), penyakit vaskular
aterosklerotik lainnya
d. Menganjurkan: konsumsi gizi seimbang dan olahraga teratur
Pencegahan sekunder
1. Modifikasi gaya hidup berisiko strok dan faktor resiko misalnya:
a. Hipertensi : diet, obat antihipertensi yang sesuai
b. Diabetes melitus: diet, obat hipoglikemi oral/insulin
c. Penyakit jantung aritmia nonvalvular (antikoagulan oral)
d. Dislipidemia: diet rendah lemak dan obat antidilipidemia
e. Berhenti merokok
f. Hindari alkohol, kegemukan, dan kurang gerak
g. Hiperurisemia: diet, antihiperurisemia
h. Polisitemia
2. Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin
3. Obat-obatan yang digunakan
a. Asetosal (asam asetil salisilat) digunakan sebagai obat pilihan pertama, dengan
dosis berkisar antara 80-320 mg/hari
b. Antikoagulan oral (warfarin/dikumarol) diberikan pada pasien dengan faktor
resiko penyakit jantung (fibrilasi atrium, infark miokard akut, kelainan katub),
kondisi koagulopati yang lain dengan syarat syarat tertentu. Dosis awal warfarin
10 mg/hari dan disesuaikan setiap hari berdasarkan hasil masa
protombin/trombotes (masa protrombin 1,3-1,5 kali nilai kontrol atau INR=2-3
atau trombotes 10-15%), biasanya baru tercapai setelah 3-5 hari pengobatan. Bila
masa protombin/trombotes sudah stabil maka frekuensi pemeriksaannya dikurangi
menjadi setiap minggu kemudian setiap bulan.
c. Pasien yang tidak tahan asetosal, dapat diberikan tiklopidin 250-500 mg/hari dosis
rendah asetosal 80 mg + cilostazol 50-100mg/hari, atau asetosal 80 mg +
dipiridamol 75-150 mg/hari.’
KONDISI GAWAT ATAU KRITIS

TIA PIS INFARK


Afasia sementara, Nyeri kepala hebat, Kelemahan, kelumpuhan,
mengeluh melihat suatu mual muntah, kesadaran sulit berbicara, gangguan
tabir yang diturunkan, menurun dan cepat penglihatan pada 1 atau
pusing (vertigo), ataksia, masuk koma (65% kedua mata, dan sakit
sinkop, disfagia, rasa terjadi kurang dari kepala mendadak parah
kesemutan pada bibir setengah jam, 23% tanpa diketahui penyebab
atau wajah, diplopia, antara ½ -2 jam dan
sakit kepala hebat 12% terjadi setelah 2
disertai kaku kuduk dan jam sampai 19 hari.
fotophobia
PATOFISIOLOGI