Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

BPH (BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA)

Disusun Oleh :

HANIS RICALDO

202016007

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS

PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN

TAHUN 2020/2021
A. Definisi
Hiperplasia prostatik jinak merupakan kelenjar prostatnya mengalami
perbesaran memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran
urin dengan menutupi orifusium uretra (Brunner A. Suddart, 2008).
Beningn prostatic hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang sering
terjadi sebagai hasil dari pertumbuhan dan pengendalian hormone prostat.
(Yuliana ellin, 2011).

B. Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi

2. Fisiologi
Prostat adalah suatu kelenjar berotot yang berbentuk hamper
segitiga atau seperti buah kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan
dengan berat kurang lebih 20 gram. Prostat terletak di panggul pada
permukaan posterior dan inferior kandung kemih dekat rectum yang
mengelilingi uretra bagian atas ( pars prostatika). Prostat memiliki satu
lobus anterior, tengah, dan posterior serta du lobus lateral, serta
terdapat sebuah alur dangkal di posterior median yang memisahkan
kedua lobus lateral dan dapat diraba pada pemeriksaan rectum dengan
jari. Kelenjar prostat bagian luarnya dibungkus oleh lapisan fibrosa,
suatu lapisan otot polos dan substansi glanduka yang terdiri atas sel
epithelium kolumnar.
Fungsi kelenjar prostat adalah mengeluarkan cairan prostat,
suatucairan basa keruh yang merupakan komponen utama semen,
cairan ini dikeluarkan saat orgasme. Cairan ini berisi sekitar 30%
semen dan mengandung enzim pembekuan yang mengentalkan semen
di dalam vagina sehigga meningkatkan semen tetap tertahan di dekat
serviks. (Lewis, 2010)

C. Etiologi
- Penyebab pasti tidak diketahui
- Faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Usia (penuaan), diatas 50 tahun
2. Sistem hormonal, diit / nutrisi
3. Efek dari peradangan kronis pada kelenjar prostat
4. Stimulasi rangsangan estrogen
5. Akumulasi berlebihan dari DHT

D. Patofisiologi
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan - lahan sehingga
perubahan pada saluran kemih juga terjadi perlahan - lahan. Tahap awal setelah
terjadi pembesaran prostat serta otot detrusor menebal dan merenggang
sehingga timbul sakulasi atau divertikal. Fase penebalan detrusor ini disebut
fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan
mengalami dekompensasi tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi
retensio urine yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi
saluran kemih atas.
Adapun patofisiologi dari masing - masing gejala adalah:
1. Penurunan kekuatan dan aliran yang disebabkan resistansi uretra
adalah gambaran awal dan menetap dari BPH
2. Resitancy terjadi karena detrusor tidak dapat melawan
resistensi uretra.
3. Intermittency terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi
resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminasi dribbling dan
rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu
urin yang banyak dalam buli-buli.
4. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak
lengkap pada tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.
5. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena
hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus stinger dan
uretra berkurang dan tonusspingter dan uretra berkurang selama
tidur.
6. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh
ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
7. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan
berkembangnya penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala
karena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan
dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan spingter

E. Tanda dan Gejala


Kompleks gejala obstruktif dan iritatif mencakup :
1. Peningkatan frekuensi berkemih
2. Dorongan ingin berkemih
3. Anyang-anyangan
4. Volume urin menurun
5. Harus mengejan saat berkemih
6. Aliran urin tidak lancer
7. Urin terus menerus menetes setelah berkemih (dribbling)
8. Rasa seperti kandung kemih tidak kosong dengan baik (Brunner &
Suddarth, 2002).

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Urine analisa (rutine) : adanya hematuri atau tidak
2. BUN ( blood urine nitrogen) : untuk deteksi fungsi ginjal
3. Pemeriksaan prostat spesific antigen (PSA) : untuk mengetahui adanya
kanker prostat
4. Sitoskopi – sistogram : untuk mengevaluasi obstruksi leher kandung kemih
5. Darah rutin : untuk mengetahui adanya penurunan hb karena perdarahan atau
peningkatan leukosit karena infeksi.
6. BNO IVP : untuk mengetahui derajat obstruksi leher kandung kemih.

G. Komplikasi
1. Pre-operasi
- Hydroureter
- Hydronefrosis
- Infeksi saluran kemih
- Uremia
- Pyelonefritis, karena adanya statis urine dalam saluran perkemihan
- Gagal ginjal
2. Post-operasi
- Perdarahan akibat insisi pembedahan
- Trombosis
- Infeksi
- Obstruksi kateter
- Inkontinensia urine,terutama yang diakibatkan pembedahan
menyebabkan spasme pada spincter uretra.
- Gangguan ereksi dan disfungsi seksual terjadi kerusakan saraf pada waktu
pembedahan.
- Syok
H. Therapy dan Pengelolaan Medik
1. Konservatif
- Therapi obat hormonal untuk mengurangi hiperplasia jaringan dengan
menurunkan endogren.
- Finasteride (proscar) block, enzim 5α – reduktase. Penyekat reseptor alfa
adrenergik, misalnya minipres, cardura, hytrin dan flamox  untuk
melemaskan otot halus kolum kandung kemih dan prostat.
- Kateterisasi (menetap/sementara)  gunakan kateter lembut sesuai
dengan instruksi medik.
- Antibiotika  bila ada infeksi.
- Intake cairan ditingkatkan.
- Pembedahan
- Indikasi dilakukan pembedahan adalah :
- Gangguan rasa nyaman yang hebat.
- Obstruksi urine yang lama.
- Retensi urine akut dan kronik karena obstruksi dengan penyumbatan yang
irreversible yang dapat menyebabkan hydroneprosis.
- Infeksi saluran kemih
- Hematuri hebat/lama.
- Prosedur pembedahan tergantung pada :
- Kondisi pasien
- Usia pasien
- Adanya penyakit yang berkaitan
- Ukuran kelenjar
- Keparahan obstruksi.
2. Prosedur pembedahan
a. TURP (Trans Uretral Resection Prostate)
Untuk mengangkat jaringan prostat melalui uretra. Instrumen
bedah dimasukkan secara langsung melalui uretra ke dalam prostat, yang
kemudian dapat dilihat secara langsung. Keuntungannya : menghindari
insisi abdomen, lebih aman pada pasien dengan resiko bedah,
hospitalisasi dan periode penyembuhan lebih cepat, angka morbiditas
lebih rendah dan menimbulkan sedikit nyeri. Kerugiannya :
membutuhkan dokter bedah yang ahli, trauma rectal, dan dapat terjadi
striktur dan perdarahan lama dapat terjadi
b. Suprapubic prostatectomy
Mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen. Insisi dibuat pada
garis tengah bawah abdomen sampai kandung kemih dan mengarah ke
prostat. Keuntungannya : secara teknis sederhana memberikan area
eksplorasi yang lebih luas, memungkinkan pengobatan lesi kandung
kemih. Kerugiannya : membutuhkan pembedahan melalui kandung
kemih, urine dapat bocor di sekitar tuba suprapubis dan pemulihan
mungkin lama.
c. Retropubic prostatectomy
Menentukan lokasi masa yang besar pada daerah pelvis.
Pembedahan dilakukan dengan membuat insisi abdomen rendah
mendekati kelenjar prostat yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih
tanpa memasuki kandung kemih, memungkinkan dokter bedah untuk
melihat dan mengontrol perdarahan, periode pemulihan lebih singkat.
Kerugiannya: tidak dapat mengobati penyakit kandung kemih yang
berkaitan.
d. Perineal prostatectomy
Mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum. Insisi
dilakukan di antara scrotum dan anus. Keuntungannya : memberikan
pendekatan anatomis langsung, angka mortalitas rendah, insiden shock
lebih rendah, ideal bagi pasien dengan prostat yang besar. Kerugiannya:
insiden impotensi dan inkontinensia urine pasca operatif tinggi,
kemungkinan kerusakan pada rectum dan spincter eksternal, potensial
terhadap infeksi lebih besar.
e. TUIP ( Trans Uretral Incision of the Prostate )
f. TUPP ( Trans Uretral Prostate Dilation )
g. Trans Uretral Ultrasound guided laser

I. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Pre-Operasi
1. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
- Riwayat ginjal, hipertensi, kanker
- Riwayat penyakit keluarga
- Pernah mendapat pengobatan dan perawatan BPH
- Penggunaan antibiotik
- Pengetahuan pasien tentang kondisinya
2. Pola nutrisi metabolik
- Anoreksia
- Penurunan BB
- Mual, muntah, konjungtiva pucat/anemik.
3. Pola eliminasi
- Kemampuan klien mengosongkan kandung kemih
- Sering berkemih dan aliran urine tidak lancer
- Nokturia, disuria, retensi urine, hematuria.
- Inkontinensia urine
- Infeksi saluran kemih berulang
- Anyang-anyangan/hesistancy
- Urine menetes.
4. Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas sesuai usia
- Keluhan lemas, cepat lelah dalam beraktivitas
- Apakah pasien dapat turun dari tempat tidur dan kembali ke tempat
tidur tanpa bantuan
5. Pola tidur dan istirahat
- Tidur terganggu karena sering terbangun untuk berkemih
- Tidur terganggu karena nyeri, nokturia.
6. Pola persepsi kognitif
- Rasa tidak nyaman pada abdomen
- Nyeri pinggang dan nyeri punggung
- Nyeri tekan kandung kemih, dysuria, perasaan tidak puas
7. Pola koping dan toleransi stress
- Depresi
8. Pola reproduksi dan seksual
- Adanya pembesaran dan nyeri tekan prostat
- Penurunan kekuatan konstriksi ejakulasi.
- Takut inkontinensia selama hubungan intim.

b. Post-Operasi
1. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
- Kaji pemberian terapi antibiotik.
- Adanya gangguan kardiovaskuler, paru-paru.
2. Pola nutrisi metabolik
- Anoreksia, mual, muntah
- Penurunan BB
- Mual, muntah, konjungtiva pucat/anemik.
3. Pola eliminasi
- Nokturia, disuria, retensi urine, hematuria.
- Inkontinensia urine
4. Pola aktivitas dan latihan
- Penurunan aktivitas dengan adanya nyeri.
- Kelelahan/keletihan.
5. Pola tidur dan istirahat
- Tidur terganggu karena nyeri, nokturia, inkontinensia urin
6. Pola koping dan toleransi stress
- Depresi
- Kecemasan.
7. Pola reproduksi dan seksual
- Impoten
- Peran seksual post operasi terhadap pasangannya.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre-Operasi
1. Perubahan pola eliminasi urine : retensi urine b.d pembesaran prostat.
2. Nyeri b.d distensi kandung kemih.
3. Intoleransi aktivitas b.d cepat lelah dan lemas.
4. Kecemasan b.d tindakan prosedur pembedahan.

b. Post-Operasi
1. Nyeri b.d insisi bedah, pemasangan kateter, spasme kandung kemih.
2. Perdarahan b.d prostatectomy.
3. Perubahan eliminasi urine : inkontinensia urine b.d trauma leher
kandung kemih, kehilangan kontrol sphincter.
4. Resiko tinggi infeksi b.d insisi bedah.

3. Perencanaan Keperawatan
a. Pre-Operasi
Perubahan pola eliminasi urine : retensi urine b.d pembesaran prostat
HYD :
a. Pengosongan kandung kemih lancar.
b. Pola eliminasi urine normal tanpa terjadi retensi.
c. Pasien mampu berkemih secara spontan.
Intervensi.
1. Kaji kebiasaan berkemih.
R/ Untuk menentukan intervensi lebih lanjut.
2. Kaji keluaran urine (warna, jumlah, kekuatan).
R/ Mengidentifikasi adanya obstruksi dan perdarahan, k/p palpasi
kandung kemih setiap menit.
3. Intake dan output cairan tiap 4-8 jam.
R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairan.
4. Anjurkan pasien untuk berkemih saat ada rasa ingin berkemih.
R/ Mempertahankan pola eliminasi dengan normal.
5. Observasi TTV tiap 4 jam.
R/ Mengetahui keadekuatan fungsi ginjal.
6. Pasang kateter sesuai dengan instruksi medik.
R/ Dengan pemasangan kateter, urine keluar dengan lancar.
7. Berikan obat anti spasmodik sesuai indikasi.
R/ Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi
oleh kateter.

Nyeri b.d distensi kandung kemih


HYD : Nyeri berkurang sampai dengan hilang ditandai dengan ekspresi
wajah tampak rileks.
Intervensi :
1. Monitor intake-output.
R/ Mengidentifikasi keadekuatan cairan.
2. Berikan posisi yang nyaman.
R/ Mengurangi nyeri.
3. Bantu eliminasi urine dengan pemasangan kateter.
R/ Mengurangi nyeri.
4. Pertahankan kepatenan kateter.
R/ Memastikan kelancaran aliran urine.
5. Kaji karakteristik nyeri (sifat, intensitas, lokasi dan lama).
R/Mengetahui karakteristik nyeri sehingga dapat menentukan
intervensi selanjutnya.
6. Ajarkan teknik relaksasi : tarik napas dalam.
R/ Mengurangi nyeri.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik.
R/ Mengurangi nyeri.

. Intoleransi aktivitas b.d cepat lelah dan lemas.


HYD : Pasien dapat berpartisipasi meningkatkan aktivitas ditandai
dengan pasien mampu beraktivitas secara bertahap selama 3 hari.
Intervensi :
1. Kaji kemampuan aktivitas klien.
R/ Memberikan intervensi yang tepat.
2. Bantu kebutuhan klien.
R/ Memenuhi kebutuhan klien.
3. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sendiri.
R/ Meningkatkan toleransi klien.
4. Beri umpan balik terhadap aktivitas yang telah dicapai

Cemas b.d tindakan prosedur pembedahan.


HYD : Kecemasan berkurang sampai dengan hilang.
Intervensi :
1. Kaji tingkat kecemasan klien.
R/ Untuk mengetahui seberapa jauh kecemasan yang dirasakan.
2. Beri kesempatan klien mengungkapkan kecemasan yang dirasakan.
R/ Untuk mengetahui hal-hal apa yang menyebabkan cemas.
3. Ajarkan teknik relaksasi dengan tarik napas dalam.
R/ Membantu klien mengontrol emosinya.
4. Jelaskan tentang rencana asuhan dan proses pengobatan.
R/ Pengetahuan klien bertambah sehingga berpartisipasi aktif dalam
setiap asuhan dan proses pengobatan.
b. Post-Operasi
Nyeri b.d insisi bedah, pemasangan kateter, spasme kandung kemih.
HYD :
1. Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
2. Klien tampak rileks.
3. Klien dapat tidur/istirahat dengan nyenyak.
Intervensi.
1. Pertahankan kepatenan kateter.
R/Clot dapat menyebabkan obstruksi aliran urine sehingga terjadi distensi
kandung kemih.
2. Ajarkan teknik relaksasi bila ada nyeri.
R/ Dapat mengurangi nyeri.
3. Ajarkan teknik relaksasi bila ada nyeri.
R/ Dapat mengurangi nyeri.

Perdarahan b.d prostatectomy


HYD:
1. Klien tidak mengalami perdarahan ditandai dengan tidak adanya
perdarahan dan pertahanan urine.
2. Output minimal 30 cc/jam.
Intervensi.
1. Kaji tanda-tanda vital.
R/ Mengetahui jika terjadi shock.
2. Observasi luka, balutan.
R/ Mengidentifikasi adanya perdarahan.
3. Pastikan posisi kateter tepat pada tempatnya dan mengalir.
R/Sumbatan dapat menghambat aliran urine sehingga mempengaruhi
hasil operasi.
Resiko tinggi infeksi b.d insisi bedah pemasangan kateter.
HYD :
1. Tidak terjadi infeksi
2. TTV dalam batas normal.
Intervensi.
1. Observasi TTV tiap 4-6 jam
R/ Perubahan TTV dapat mengidentifikasi adanya infeksi.
2. Anjurkan pasien banyak minum bila tidak ada kontraindikasi.
R/Mempertahankan aliran dan delusi urine.
3. Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter.
R/ Meminimalkan kontaminasi silang.
4. Kaji apakah ada demam, kurang cairan.
R/ Memastikan jika terjadi faktor resiko/tanda dan gejala infeksi.
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antibiotika.
R/Antibiotika dapat menghambat dan mengontrol pertumbuhan
mikroorganisme.

4. Perencanaan Pulang
a. Perhatikan pemasukan cairan 2-3 liter/24 jam bila tidak ada
kontraindikasi.
b. Diet tinggi serat (buah dan sayuran).
c. Tidak boleh menahan bak.
d. Tidak boleh mengejan saat bak dan bab.
e. Tidak boleh melakukan aktivitas berlebihan / berat.
f. Anjurkan pasien untuk membiasakan melakukan medical check up.
g. Anjurkan pasien untuk minum obat secara teratur.