Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

AppendisitisAkut

STASE KMB

OLEH

HANIS RICALDO 202016007

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SintCarolus

PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN

JAKARTA

2021
APPENDISITIS AKUT

A. Definisi
1. Appendisitis adalah peradangan / inflamasi yang terjadi pada appendiks, berbentuk
tabung sempit yang terletak dibawah caecum. (Lewis Medical-Surgical Nursing
assesment and management of clinical problems eleventh edition, 2019).
2. Appendiks terisi dengan makanan dan bermuara secara teratur kesekum. Karena
mengosongkan secara efisien dan lumennya kecil, usus buntu rentan terhadap
obstruksi dan khususnya sangat rentan terhadap infeksi, yaitu apendisitis (Brunner
&Suddarth’s, 2014).

B. Anatomi
C. Fisiologi
Apendiks adalah ujung seperti jari-jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4
inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Posisi apendiks bisa
retrosekal, retroileal, subileal atau di pelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak
sama (Ross & Wilson, 2011).Diameter 6 mm. Apendiks berisi makanan dan
mengosongkan diri secara berkala kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak
efektif, dan lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan
terhadap infeksi (apendiksitis). Apendiks mempunyai peranan dalam mekanisme
imunologik.
Apendiks mengeluarkan cairan yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin
dan musin. Apendiks diperdarahi oleh cabang arteri mesentrika superior sedangkan
aliran baliknya menuju vena mesentrika yang dilanjutkan ke vena portahepatika.
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml/hari. Lendir itu secara normal dicurahkan
kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kesekum. Hambatan aliran lendir di muara
apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendiksitis. Imunoglobulin
sekretoar yang dihasilkan oleh Galt (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat
di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks ialah IgA, immunoglobulin itu sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Dengan berkurangnya jaringan limfoid.
Terjadi fibrosis dan pada kebanyakan masuk timbul konstriksi lumen.
.
D. Etiologi
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi
yaitu:
1. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umum nya obstruksi ini terjadi
karena:
 Hiper plasia dari folikel limfoid yang menyebabkan penebalan intrmural
 Adanya fekalit dalam lumen appendiks
 Adanya benda asing seperti biji-bijian
 Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
 Tumor pada sekum
Obstruksi menghasilkan kembung, pembesaran vena, penumpukan lendir dan
bacteria, yang mana dapat mengakibatkan gangrene dan perforasi (Lewis, 2019).
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus
3. Tergantung pada bentuk apendiks:
 Appendik yang terlalu panjang
 Massa appendiks yang pendek
 Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
 Kelainan katup di pangkal appendiks

E. Patoflowdiagram
( Terlampir )

F. Test Diagnostik
1. Cek leukosit : 10.000 – 18.000/mm³. Bila leukosit lebih dari 20.000/mm³
menandakan perforasi.
2. USG : menunjukkan pembesaran apendiks
3. Jika gejala berulang dapat dilakukan CT scan untuk mendiagnosis dan melihat
keberadaan fecalith.
4. Test kehamilan bagi wanita usia subur untuk mengesampingkan kehamilan ektopik
dan sebelum pemeriksaan radiologi dilakukan.
5. Urinalisa dilakukan untuk mengesampingkan infeksi saluran kemih.
6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum dan merupakan
pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma kolon.
7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti apendisitis tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan apendisitis dengan obstruksi usus halus
atau batu ureter kanan.

G. Penatalaksanaan
1. Surgical Management
 Laparascopy
Prosedur pembedahan invasive minimal dengan beberapa insisi kecil dekat
umbilicus melalui alat endoskopi kecil.
 Laparatomy
 Pendekatan terbuka dengan insisi lebih besar pada abdomen untuk kasus yang
rumit atau peritonitis.
 Bila apendiks pecah dan ada bukti terjadi peritonitis/ abses, perawatan konservatif
dilakukan meliputi terapi antibiotic dan cairan parenteral, untuk mencegah sepsis
dan dehidrasi selama 6-8 jam sebelum dilakukan pembedahan. Pada abses
apendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah) (Lewis, 2019)
 Tidak ada perawatan medis untuk apendisitis. Tindakan sebelum operasi, cairan
IV, antibiotic diberikan. Terapi nyeri belum dapat diberikan sampai dengan
diagnosis ditegakkan. Tindakan bedah apendiktomy dilakukan dalam 24-48 jam
sejak gejala muncul (Black, 2014).
2. Non-surgical Management
Berikan cairan IV sesuai pesanan medic untuk mencegah ketidak seimbangan
cairan dan elektrolit serta mengganti cairan yang hilang. Setela diagnose
ditetapkan, baru diberikan antibiotika dan analgetik. Tidak dianjurkan pemberian
kompres air hangat pada abdomen karena dapat meningkatkan sirkulasi ke area
apendiks dan mengakibatkan peningkatan peradangan dan perforasi. Tidak
diajurkan pula untuk memberikan laksatif pada pasien dengan Appendiks karena
dapat meningkatkan motilitas usus dan mengakibatkan perforasi.
H. Discharge Planing
1. Edukasi pentingnya mobilisasi aktivitas bertahap, mobilisasi dini, teknik
pengangkatan beban berat. Aktivitas ringan kurang lebih 1 bulan post operasi,
disesuaikan dengan kondisi luka operasi. Untuk mengetahui kondisi luka operasi
harus kontrol sesuai jadwal yang telah ditentukan.
2. Edukasi diet tinggi serat dan TKTP :buah papaya dan sayur serta tinggi protein untuk
proses perbaikan luka operasi.
3. Edukasi tinggi intake cairan minimal 1500cc/hari disesuaikan dengan kebutuhan
cairan masing-masing.
4. Edukasi adanya infeksi :kemerahan, nyeri, bengkak, demam atau adanya perdarahan
luka operasi dan timbulnya nanah. Luka operasi akan menimbulkan jaringan parut
kecil.
5. Edukasi berobat kefaskes apabila terjadi infeksi
6. Edukasi perawatan luka dengan nacl 0,9% atau dengan fasilitas home care sesuai
dengan ketentuan dokter bedah.
7. Edukasi luka tetap kering
Luka harus kering, dan balutan tertutup rapat, jika ditemukan darah atau nanah, atau
ujung balutan terbuka, harus segera menginformasikan kepada dokter. Perhatikan
tanda-tanda demam dan nyeri pada luka operasi.
8. Edukasi obat -obatan yang digunakan dirumah :antibiotic dan analgetik, harus
diminum sesuai indikasi dokter.
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M & Hawks, Jane Hokanson. (2014). KeperawatanMedikalBedah. Edisi 8, Jilid 3.
Elsevier. Singapura : PT SalembaMedika.

Brunner danSuddarth. (2010). Buku Ajar keperawatanMedikalBedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Harding, M. M. (2019). Lewis Medical-Surgical Nursing assesment and management of clinical problems
eleventh edition. New Philadelphia: Elsevier.