Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAH ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TN. S DENGAN PNEUMONIA


COVID-19

OLEH : HANIS RICALDO


NIM : 202016007

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS


PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN
JAKARTA 2020
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit corona virus 2019 atau  Corona Virus Disease-19 (COVID-19) adalah
infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh jenis virus corona. Nama lain dari
penyakit ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-COV2).
Kasus COVID-19 pertama kali dilaporkan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada
Desember 2019. Dalam beberapa bulan saja, penyebaran penyakit ini telah menyebar ke
berbagai negara, baik di Asia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah serta Afrika. Pada
tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization
(WHO) mendeklarasikan penyebaran COVID-19 dikategorikan sebagai pandemi. Di
Indonesia masih berusaha untuk melawan Virus Corona hingga saat ini, begitupun juga di
negara-negara lain. Jumlah kasus Virus Corona terus bertambah dan juga ada beberapa
yang melaporkan kesembuhannya, tapi tidak sedikit yang meninggal. Usaha penanganan
dan pencegahan terus dilakukan demi melawan COVID-19 dengan gejala mirip Flu. Jika
seseorang terkena virus covid ini dimulai dengan adanya pneumonia atau radang paru-paru.
Kasus infeksi pneumonia misterius ini memang banyak ditemukan di Indonesia dan Negara
Negara lain. Virus Corona atau COVID-19 diduga dibawa oleh kelelawar dan hewan lain
yang dimakan manusia hingga terjadilah penularan kepada manusia. Munculnya 2019-
nCoV telah menarik perhatian global, dan Pada 30 Januari WHO telah menyatakan
COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional
(Dong et al., 2020). Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan
sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan
total kasus konfirmasi 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus
dilaporkan di 192 negara/wilayah. Diantara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas
kesehatan di indonesia yang dilaporkan terinfeksi oleh virus tersebut (Kemenkes RI, 2020).
Indonesia adalah negara berkembang dan terpadat keempat di dunia, dengan
demikian diperkirakan akan sangat menderita dan dalam periode waktu yang lebih lama.
Ketika coronavirus novel SARS-CoV2 melanda Cina paling parah selama bulan-bulan
Desember 2019 – Februari 2020. Pada 27 Januari 2020, Indonesia mengeluarkan
pembatasan perjalanan dari provinsi Hubei, yang pada saat itu merupakan pusat dari
COVID19 global, sementara pada saat yang sama mengevakuasi 238 orang Indonesia dari
Wuhan. Presiden Joko Widodo melaporkan pertama kali menemukan dua kasus infeksi
COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 (Djalante et al., 2020). Berdasarkan bukti
ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan batuk/bersin
(droplet), Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat
dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien COVID-19 (Kemenkes RI,
2020).
Tanda dan gejala umum infeksi covid-19 termasuk gejala gangguan pernapasan akut seperti
demam, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata adalah 5 - 6 hari dengan masa
inkubasi demam, batuk, dan sesak napas. Pada kasus yang parah, covid-19 dapat
menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian
(Tosepu et al., 2020). Pneumonia adalah keadaan paru apapun, tempat alveolus biasanya
terisi dengan cairan dan sel darah (Gyuton, 1996). Pneumonia adalah penyakit infeksi akut
yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus
respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat (Dahlan, 2014). Berdasarkan data WHO dalam Dirjen PP & PL
(2015), dari 6,6 juta orang yang meninggal di dunia, 1.1 juta meninggal akibat pneumonia
pada tahun 2012. Menurut WHO (2016), prevalensi kematian pneumonia di dunia sebesar
16% dengan jumlah kasus kematian sebanyak 920.136 pada tahun 2015. Menurut UNICEF
(2018), pneumonia menyumbang sekitar 16% dari 5,6 juta kematian pada tahun 2016.
Angka kejadian Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya. Berdasarkan
data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan yaitu sekitar 2% sedangkan tahun 2013 adalah 1,8%. Pada tahun 2010 di
Indonesia pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit dengan
crude fatality rate (CFR) atau angka kematian penyakit tertentu pada periode waktu tertentu
dibagi jumlah kasus adalah 7,6%. Angka kematian akibat pneumonia di wilayah Asia
khususnya Philipina berada pada peringkat ke-4 dengan jumlah kasus sebanyak 53,101
kasus (10,0%) pada tahun 2013 (Joson, 2013). Sedangkan pada Negara Asia Lainnya yaitu
Malaysia memiliki angka kematian akibat pneumonia yang berada pada peringkat ke-2 2
dengan jumlah kasus 9,250 kasus (12,0%) pada tahun 2014 (Department of Statictic
Malaysia, 2016).

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mampu memberikan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diagnosa
Pneumonia Covid 19 dengan Tujuan khusus
a. Mengetahui definisi Pneumonia
b. Mengetahui Anatomi dan Fisiologi
c. Mengetahui Etiologi Pneumonia
d. Mengetahui Klasifikasi Pneumonia
e. Mengetahui Patofisiologi Pneumonia
f. Mengetahui Tanda dan gejala Pneumonia
g. Mengetahui Komplikasi Pneumonia
h. Mengetahui Tes Diagnostik Pneumonia
i. Mengetahui Discharge Planning Pneumonia
j. Mengetahui Patoflowdiagram Pneumonia
k. Mengetahui Asuhan Keperawatan laparatomy herniotomy (Pengkajian,
Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi keperawatan
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bawah yang disebabkan bakteri, virus, jamur,
protozoa atauparasit). (Huether & McCance, 2017)
Pneumonia adalah Suatu infeksi yang luas yang terjadi baik oleh karena inhalasi
maupun yang melalui sirkulasi.(Tabrani rab, 2013)
Pneumonia dapat dikelompokkan menjadi:
1. CAP (Community Acquired Pneumonia ): infeksi yang didapat di luar RS
2. HCAP ( Healt Care Associated Pneumonia ) : pneumonia yang terjadi< 48 jam
dariwaktumasuk RS , tinggal di pantijompo, perawatanluka di rumah
3. HAP ( Hospital Acquired Pneumonia ) : Pneumonia yang di dapatsetelah 48 jam di
rawat di RS
4. VAP (ventilator Associated Pneumonia): Pneumonia yang terjadisetelah 48 jam
pemakaian ventilator
5. Pneumonia Atipikal : Pneumonia dengan keluhani nfluenza,sakit kepala, demam,
batuk non produktif
6. Infeksi ParuAnaerob :disebabkan oleh kuman anaerob yakni abses,
gangrene,nekrosis dan empyema

B. Etiologi

Bacteri ( pneumococcus,sterptococus aureus, pneumococcus,hemofiluz influenza), Virus


( respiratorisyntical virus, virus influenza, adenovirus, virus sitomegali), jamur( candida
albicans), pneumonia hipostatik disebabkan oleh nafas yang dangkal dan terus menerus
pada posisi yang sama terjadi kongesti paru-paru yang lama, iritasi kimia atau fisik dari
paru-paru seperti kanker paru-paru
C. Anatomi Fisiologi

1. Sistem pernapasan terdiri dari:


a. Hidung : sebagai jalan napas, penerima sensasi bau, resonasi suara
b. Faring : lanjutan dari saluran hidung yang meneruskan udara ke laring
c. Laring : Pada laring terdapat sel silidris bersilia dan bersel globet.
Untuk melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing, yang
memiliki katup epiglottis.
d. Trachea : terdapat sel epitel silindris bersilia dan bersel globet berfungsi
untuk menahan debu/ kotoran dalam udara agar tidak masuk ke paru-paru.
Pada percabangan trakea terdapat carina area paling sensitive untuk memicu
batuk.
e. Bronchus : Bagian yang
f. Alveoli : Kantong kecil di dalam menghubungkan trakea dengan
paru-paru, Bronchiolus : Cabang – cabang bronchus yang kecil yang
menuju alveoli, terdapat sel Clara yang tidak bersilia sebagai sekresi untuk
melindungi lapisan bronkiolusparu – paru, berfungsi sebagai tempat
pertukaran gas. Terdapat 300 juta pada paru-paru. Terdapat tiga jenis sel
pada alveolar (sel alveolar tipe I sebagai sel yang membentuk dinding
alveoli, sel alveolar tipe II yang aktif mensekresi surfaktan untuk mencegah
alveolar agar tidak kolaps dan sel alveolar tipe III merupakan makrofag dan
fagositis sebagai mekanisme pertahanan.
2. Sistem pernafasan bekerja melalui beberapa tahapan yaitu
a. Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru
( inspirasi dan ekspirasi). Terjadi karena adanya perbedaan tekanan atmosfer
dan tekanan intrapleura, pada saat inspirasi tekanan intrapleura lebih
negative dari pada tekanan atmosfir. Faktor kepatenan ventilasi dipengaruhi
oleh jumlah oksigen dalam udara, kebersihan jalan napas, volume paru-paru
( ukuran paru-paru, usia, jenis kelamin), adekuatnya system saraf pusat dan
pusat pernapasan, elastisitas system pernapasan, kemampuan otot-otot
pernapasan ( diafragma, interkosta, otot abdominal)
b. Perfusi adalah pergerakan aliran darah melalui sirkulasi pulmonari
c. Difusi adalah pergerakan oksigen dari area konsentrasi tinggi ke area
konsentrasi rendah, mekanisme ini terjadi di alveoli dan di sel jaringan
tubuh. Faktor yang mempengaruhi difusi adalah ketebalan membrane
alveoli,area permukaan mebran alveoli, koefisiensi difusi O2 dan CO,
perubahan tekanan membrane.
d. Transportasi gas adalah oksigen di angkut oleh darah dengan terikat pada
haemoglobin dalam sel darah merah dan korban dioksida terlarut dalam
plasma dan sebagian diangkut oleh haemoglobin. Faktor yang
mempengaruhi adalah cardiac output ( kecepatan denyut jantung permenit
dan volume darah yang di pompa perdenyut), jumlah eritrosit (normal 4,2-
5,4 juta ul, aktivitas dan hematrokit)
Pengaturan pernapasan dipengaruhi oleh korteks cerebri untuk mengatur
pernapasan, medulla oblongata berperan dalam pernapasan spontan dan pons
sebagai pusat apneutik ( inspirasi dan ekspirasi) dan pusat pneumotaksis ( agar
inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur) dan zat-zat kimia dalam tubuh
menimbulkan perubahan kimia dan menimbulkan respon yang di sebut
kemoreseptor ( konsentrasi O2,CO2 dan H+). CO2 dapat dengan mudah menembus
selaput otak, CO2 yang banyak dan O2 yang kurang dapat melemahkan seluruh
otak termasuk pusat respirasi, peningkatan H+ meningkatkan ventilasi. Peningkatan
PCO2 sampai 70-80 mmHg memicu usaha respirasi untuk mengeluarkan CO2 dan
peningkatan PCO2 lebih lanjut meningkatkan ventilasi , menonaktifkan neuron
respirasi sehingga terjadi asidosis berat
D. Tanda dan gejala
1. Terdapat trias yang terdiri dari demam yang tinggi 5-10 hari pertama, napas, nyeri
dada karna pleuritis
2. Meriang
3. Batuk non produktif dan produktif
4. Sianosis sekitar hidung dan mulut
5. Nyeri sendi, lelah
6. mual,muntah,nafsu makan turun
7. Ronchi basah, halus dan nyaring

E. Faktor resiko terkena pneumonia


1. ISPA
2. Usia lanjut
3. Kekurangan nutrisi

F. Pemeriksaan penunjang
1. Rontgen Thorak berbentuk bercak-bercak infiltrat yang tidak homogen
2. Sputum( nonproduktif dan produktif)
3. Serologi darah

G. Komplikasi
1. Empiema
2. otitis media akut
3. ateletaksis
4. empisema
5. meningitiS

H. Penatalaksanaan

Menjaga kelancaran pernapasan, nutrisi dan cairan yang cukup, mengontrol suhu
tubuh, perubahan posisi tubuh, fisiotherapi,menjaga lingkungan yang bersih dan
aman

I. Konsep Keperawatan

Pengkajian
1. Identitas Pasien
2. Riwayat Penyakit
3. Sistem Neuromuskuler (GCS, fungsinervus 1 – 12)
4. Sistem pernapasan (Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan auskultasiparu)
5. Sistem Kardiovaskuler (Ictus kordis, HR, JVP, batas Jantung, Suara jantung
tambahan, CRT, dan Edema)
6. Gastrointestinal (Inspeksi, Auskultasi, Palpasi, Perkusi)
7. Genetourinaria (Intake-outpun urine)
8. Integumen (inspeksi dan palpasi)

J. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan ventilasi mekanik berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi secret jalan
napas dan menurunnya kemampuan batuk efektif
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
keutuhan oksigen, tirah baring, imobilitas
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake tidak adekuat

K. Intervensi
1. Gangguan ventilasi mekanik berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan

Tujuan: setelah diberikan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam pola napas


efektif

 Hasil yang diharapkan:


 Napas sesuai irama ventilator
 Volume napas adekuat
 Alarm tidak berbunyi
 Pasien dapat bernapas spontan
Intervensi
 Periksa indikasi ventilator mekanik R/ Ketepatan dalam memberikan mode
ventilator

 Monitor efek ventilator terhadap status oksigenasi R/ untuk mengetahui


keberhasilan dalam pemasangan ventilator
 Monitor kriteria perlunya penyapihan ventilator ventilator mekanik. R/
mengetahui kemampuan atau usaha napas pasien secara mandiri
 Monitor efek samping ventilator R/Untuk mencegah terjadinya efek samping
terhadap pasien yang terpasang ventilator
 Monitor gejala peningkatan pernapasan R/ untuk mencegah terjadinya
perburukan pada pasien yang terpasang ventilator
 Monitor kondisi yang meningkatkan konsumsi oksigen. R/keluhan yang di
alami pasien seperti demam dapat meningkatkan kebutuhan oksigen
 Monitor gangguan mukosa oral, nasal, trakea dan laring R/ dapat
menghambat aliran oksigen
 Atur posisi kepala 45 – 60 derajat R/ untuk mencegah aspirasi
 Siapkan BVM ( bag valve mask ) di samping tempat tidur pasien R/ untuk
antisipasi malfungsi mesin
 Kolaborasi dalam pemilihan mode ventilator R/ untuk pemberian ventilator
yang efektif

2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi secret jalan


napas
Tujuan : setelah dilakukan intervensi selama 3 x 24 jam kebersihan jalan napas pasien
kembali efektif
 Hasil yang diharapkan:
 Ronchi tidak terdengar
 Trakea tube bebas Sumbatan
 Pernapasan pasien normal 16 – 20x/menit

 Intervensi dan Rasional:


 Monitor pola napas( frekuensi, kedalaman dan bunyi napas tambahan)
R/ untuk mengevaluasi keefektifan jalan napas
 Monitor sputum( jumlah, warna dan aroma) R/ dahak di produksi oleh
saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri
 Lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik R/ untuk mencegah
aspirasi dan hambatan jalan napas.
 Lakukan hiperoksigenasi sebelum melakukan penghisapan endotrakeal
R/Membantu mengencerkan secret
 Kolaborasi dalam pemberian brokodilator sesuai indikasi program R/
mempercepat proses penyembuhan.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


keutuhan oksigen, tirah baring, imobilitas
Tujuan : setelah dilakukan intervenes selama 3 x 24 jam self care: ADL pasien
terpenuhi
 Hasil yang diharapkan:
 Tanda-tanda vital normal
 Status respirasi: pertukaran gas dan ventilasi adekuat
 Intervensi dan Rasional:
 Monitor tanda-tanda vital pasien R/ untuk mengetahui kondisi pasien
dalam memungkinkan dalam perpindahan posisi pasien
 Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan pasien R/ untuk
terpenuhinya kebutuhan pasien
 Kolaborasi dengan tenaga rehabilitas medik R/ untuk perencanaan
terapi yang tepat
COVID-19

A. Definisi
Covid -19 merupakana nama penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Nama ini
diberikan oleh WHO sebagai nama resmi penyakit. Covid merupakan singkatan dari
corona virus penyakit 2019. Covid -19 yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus corona
yang menyerang pernapasan. Virus corona adalah keluarga virus besar yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan, Pada manusia disebabkan infeksi
pernapasan menurut (Asy'ari, 2020)

B. Etiologi
Etiologi coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah virus dengan nama spesies severe
acute respiratory syndrome virus corona 2 yang disebut SARS-CoV-2.

C. Klasifikasi
Berikut klasifikasi menurut buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus
Disesase (COVID-19) per 27 Maret 2020.
1. Pasien dalam Pengawasan (PdP)
a. Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam
(≥38ºC) atau riwayat demam; disertai salah satu gejala/tanda penyakit
pernapasan seperti: batuk/sesak nafas/sakit tenggorokan/pilek/pneumonia
ringan hingga berat DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran
klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala
memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan
transmisi lokal.
b. Orang dengan demam (≥38ºC) atau riwayat demam atau ISPA DAN pada 14
hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus
konfirmasi COVID-19.
c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di
rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang
meyakinkan.
2. Orang dalam Pemantauan (OdP)
a. Orang yang mengalami demam (≥38ºC) atau riwayat demam; atau gejala
gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN
tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan
DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat
perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal.
b. Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernapasan seperti
pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul
gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19.
3. Orang Tanpa Gejala (OTG)
Seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi
COVID-19. Orang tanpa gejala merupakan seseorang dengan riwayat kontak erat
dengan kasus konfirmasi COVID-19.

D. Tanda dan gejala


1. Mudah Lelah
2. nyeri otot
3. nyeri dada
4. sakit tenggorokan
5. sakit kepala
6. mual muntah
7. diare
8. pilek
9. menggigil
10. bersin-bersin
11. hilangnya kemampuan mengecap atau mengecap

E. Komplikasi
1. Gagal nafas akut
Virus corona menyerang sistem pernapasan, terutama paru-paru. Salah satu
komplikasi penyakit akibat corona adalah gagal napas akut. Ketika terjadi gagal
napas akut, paru-paru tak bisa memompa cukup oksigen ke dalam darah atau tak
dapat mengeluarkan cukup karbon dioksida. Bisa jadi dua hal itu terjadi secara
berbarengan sehingga nyawa pasien tak terselamatkan.
2. Pneumonia
Di China, lonjakan kasus pneumonia adalah tanda awal menyebarnya virus corona.
Pneumonia membuat kantong udara di paru-paru meradang sehingga susah
bernapas. Ilmuwan yang mempelajari paru-paru pasien Covid-19 menemukan
banyak cairan dan nanah di dalam paru-paru, terutama yang sakitnya parah.
3. Sepsis
Sepsis terjadi ketika tubuh salah bereaksi terhadap infeksi. Zat kimia yang
dilepaskan ke aliran darah untuk melawan penyakit tidak memicu respons yang
tepat, dan justru membuat organ rusak. Jika proses ini tidak berhenti, pasien bisa
mengalami syok sepsis yang ditandai dengan turunnya tekanan darah. Menurut
penelitian yang dimuat di jurnal The Lancet, sepsis merupakan komplikasi penyakit
akibat corona yang banyak menimbulkan kematian. Pasien yang rentan adalah yang
sebelumnya menderita diabetes atau penyakit jantung serta punya daya tahan tubuh
yang kurang kuat.
F. Cara Penularan
1. Cara virus menular lewat percikan dari manusia ke manusia dengan masa inkubasi
14 - 20 hari. Setelah masuk ke saluran pernapasan melewati system pertahanan
tubuh langsung ke alveoli, dimana corona virus menempel di tipe 2 yang berperan
menghasilkan surfaktan. Setelah corona virus menempel di permukaan, maka akan
menempel di reseptor ACE 2 yang banyak spicenya. Endositokin virus ke selfhost
setelah itu terjadi pelepasan RNA, akan mentransplatasi diri penerjemahan RNA
menjadi polipeptida, corona virus memiliki materi positif yang bisa memakai enzim
lain yaitu RNA dependen dan RNA polinerase sebingga semakin banyak RNA yang
di hasilkan , Protein akan membentuk struktur virus seperti envelo. Gabungan inilah
yang selanjutnya menghasilkan corona virus utuh selanjutnya menjadi eksisositosis
dan bersiap lagi ke sel lain. Setelah corona virus menginfeksi monosit yang
selanjutnya ke limfosit T dan CD4. Pemanggilan makrofag akan melisiskan virus
selanjutnya menyebabkan pengeluaran sitokin dan sitokin menyebabkan endotel
berdilatasi meningkatkan permeabilitas kapiler hasilnya kebocoran plasma,
Sehingga menyebabkan tekanan alveoli meningkat menyebabkan kolaps, Kolapnya
alveoli menyebabkan hypoxemia yang di tandai dispnoe, kerusakan monosit
menyebabkan terganggu proses difusi . Interlegen yang beredar di pembuluh darah
akan sampai ke hipotalamus sehingga meningkatkan sel poin di hipotalamus
menyebabkan demam, dan meningkatkan parasimpatis yang menyebabkan
takikardi. Semakin jumlah sel yang terinfeksi hal ini terjadi SIRS (penurunan
resisten perifer sistemik dan penurunan volume darah sehingga menyebabkan
hipotensi akibat kegagalan multi organ di hepar dan ginjal dapat terlihat pada
pemeriksaan BUN, Creatinin meningkat, ALT dan AST meningkat) (Tarigan,
2020).
2. Masuknya virus covid-19 berinteraksi dengan sel manusia, setelah memasuki sel.
Econding genome akan terjadi dan membantu virus corona pada inang. Virus covid
menggunakan reseptor angiotensin converting enzyme 2 ( ACE 2) pada tractus
respiratoriun dan enterosit usus. Setelah proses penggabungan reticulum
endoplasma, badan golgi, genomic RNA, protein nukleokapsid dan glikoprotein
envelope akan membentuk badan partikel virus. Dan dikeluarkan dari sel-sel yang
terifeksi melalui eksositosis. Virus – virus yang dikeluarkan akan menginfeksi organ
-organ tubuh dan kemudian menyebabkan gejala pada pasien menurut (Kumara,
2020).
G. Penatalaksanaan
Prinsip tatalaksana secara keseluruhan menurut rekomendasi WHO yaitu: Triase :
identifikasi pasien segera dan pisahkan pasien dengan severe acute respiratory infection
(SARI) dan dilakukan dengan memperhatikan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi
(PPI) yang sesuai, terapi suportif dan monitor pasien, pengambilan contoh uji untuk
diagnosis laboratorium, tata laksana secepatnya pasien dengan hipoksemia atau gagal nafas
dan acute respiratory distress syndrome (ARDS), syok sepsis dan kondisi kritis lainnya.20
Hingga saat ini tidak ada terapi spesifik anti virus nCoV 2019 dan anti virus corona lainnya.
Beberapa peneliti membuat hipotesis penggunaan baricitinib, suatu inhibitor janus kinase
dan regulator endositosis sehingga masuknya virus ke dalam sel terutama sel epitel alveolar.
Pengembangan lain adalah penggunaan rendesivir yang diketahui memiliki efek antivirus
RNA dan kombinasi klorokuin, tetapi keduanya belum mendapatkan hasil. Vaksinasi juga
belum ada sehingga tata laksana utama pada pasien adalah terapi suportif disesuaikan
kondisi pasien, terapi cairan adekuat sesuai kebutuhan, terapi oksigen yang sesuai derajat
penyakit mulai dari penggunaan kanul oksigen, masker oksigen. Bila dicurigai terjadi
infeksi ganda diberikan antibiotika spektrum luas. Bila terdapat perburukkan klinis atau
penurunan kesadaran pasien akan dirawat di ruang isolasi intensif (ICU) di rumah sakit
rujukan. Salah satu yang harus diperhatikan pada tata laksana adalah pengendalian
komorbid. Dari gambaran klinis pasien COVID-19 diketahui komorbid berhubungan
dengan morbiditas dan mortalitas. Komorbid yang diketahui berhubungan dengan luaran
pasien adalah usia lanjut, hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular dan penyakit
serebrovaskular.

H. Komplikasi Virus Corona


1. Gagal nafas akut
Virus corona menyerang sistem pernapasan, terutama paru-paru. Salah satu
komplikasi penyakit akibat corona adalah gagal napas akut. Ketika terjadi gagal
napas akut, paru-paru tak bisa memompa cukup oksigen ke dalam darah atau tak
dapat mengeluarkan cukup karbon dioksida. Bisa jadi dua hal itu terjadi secara
berbarengan sehingga nyawa pasien tak terselamatkan.
2. Pneumonia
Di China, lonjakan kasus pneumonia adalah tanda awal menyebarnya virus corona.
Pneumonia membuat kantong udara di paru-paru meradang sehingga susah
bernapas. Ilmuwan yang mempelajari paru-paru pasien Covid-19 menemukan
banyak cairan dan nanah di dalam paru-paru, terutama yang sakitnya parah.
3. Sepsis
Sepsis terjadi ketika tubuh salah bereaksi terhadap infeksi. Zat kimia yang
dilepaskan ke aliran darah untuk melawan penyakit tidak memicu respons yang
tepat, dan justru membuat organ rusak. Jika proses ini tidak berhenti, pasien bisa
mengalami syok sepsis yang ditandai dengan turunnya tekanan darah. Menurut
penelitian yang dimuat di jurnal The Lancet, sepsis merupakan komplikasi penyakit
akibat corona yang banyak menimbulkan kematian. Pasien yang rentan adalah yang
sebelumnya menderita diabetes atau penyakit jantung serta punya daya tahan tubuh
yang kurang kuat.

I. Test diagnostik
1. Rapid test : untuk mendeteksi antibody ( IgG dan IgM) yang di produksi oleh tubuh
untuk melawan virus
2. Tes PCR ( Polimerase Chain Reaction) atau swab test
3. Ct. Scan atau rontgen thorak : untuk mendeteksi cairan atau infiltrate dalam paru
4. Tes darah lenkap : untuk memeriksa kadar sel darah putih

J. Discharg Planing
1. Physical distancing
2. Menggunakan masker
3. Mencuci tangan
4. angan menyentuh mata, mulut dan hidung sebelum cuci tangan
5. Tingkatkan daya tahan tubuh

BAB III
PENGAMATAN KASUS

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
UNIT PERAWATAN INTENSIVE

Nama mahasiswayang mengkaji: Hanis Auto Anamnese:


NIM : 202016007 AlloAnamnese:
RS/Unit : Daring
TanggalPengkajian : 29/11/2020
Tanggal masuk RS-ICU : 29/11/2020
DiagnosaMasuk ICU : Covid 19, DM tipe 2. HT.

I. IDENTITAS
A. KLIEN
Nama(intial) : Tn. S
TTL (Umur) : 59 th
StatusPerkawinan :Menikah
Agama/Suku : Islam
Pendidikan : S1
Pekerjaan : PNS Beacukai
Alamat Rumah : Pisangan, Jakarta timur.

Tanda –tandaVital :
Suhu: 380C, Nadi: 110 x/menit, P 33x/ menit,TD
: 164/91 mmHg. MAP : 115 (Hipertesi Ringan)

B. RIWAYAT
Alasan Masuk ICU :
Pasien pindahan dari IGD rumah sakit x dengan keluhan sesak nafas, batuk ada
dahak dan mual, sesak nafas sejak 5 hari yang lalu. Ada demam sejak 2 minggu
yang lalu. Dan pasien muntah 1 kali 1 hari yang lalu. Os memiliki riwayat
penyakit DM dan Hipertensi sudah 5 tahun ini. Pasien taat untuk minum obat
darah tanggi. Obat amlodipin1 x 5 mg dan metformin 3 x 500mh. Pasien tidak
memiliki riwayat alergi makanan dan obat.

RiwayatPenyakit : HT dan DM

Riwayat Alergi : Tidak ada


II.PENGKAJIAN
A. SISTEMPERNAFASAN
 DATAOBJEKTIF
Alat Bantu: □Optiflow 40ltr/mnt □ Mode …………..PEEP...........................FiO2.........
□ O2(nasal/facemask/RM/NRM)Liter/Menit
Inspeksi: Frekuensi: 33x/menit □ teratur □ tidak teratur □ Otot Bantu pernapasan
Batuk: □produktif □nonproduktif □ lain-lain
Palpasi : vocal fremitus : pada kedua lapang paru

Perkusi: □ pekak □ sonor □ timpani □ redup


Auskultasi: □ wheezing □ ronchi □rales □ stridor □ vesikular
Nyeri: lokasi:- Intensitas(1-10) : -
 DATASUBJEKTIF
-
Diagnosa Keperawatan :
1. Gangguan pertukatan gas b.d Perubahan membrane alveolus-kapiler
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Hipereksresi jalan nafas
3.

B. SISTEM KARDIOVASKULER
 DATAOBJEKTIF
Inspeksi:
□ Iktus Kordis : 1 jari ics 5 midclavicularis sin □Thrill
□ EKG minitor : sinus ritme
JVP : - Cm H2O atau CVP : …………………………
□ Sianosis, lokasi….........
□ Distensivenajugularis □ Edema, lokasiwajah
Palpasi:Ekstremitas: □hangat □lembab □dingin □ berkeringat Kapiler
refill > 3 dtk
Perkusi:
Batas atas jantung : ICS II linea sternalis sinistra
Batas kiri jantung : ICS V axilaris anterior sinistra
Batas kanan jantung : ICS IILinea sternalis dextra
Auskultasi:

Bunyi jantung: IT □ tunggal □ ganda


IM □ tunggal □ ganda
II A Tunggal □ ganda
II P □ tunggal □ ganda
Suarajantung tambahan: □murmur □ gallop
 DATASUBJEKTIF
-
Diagnosa Keperawatan :
1. -

C. SISTEMNEURO-MUSKULER
 DATAOBJEKTIF
Klien tampak sakit ringan /sedang/berat
GCSKualitatif :15
Kuantitatif M 6V5 E4
Respon Pupil :Isokor
Diameter Pupil : Kanan: 3 mm Kiri: 3 mm
Nervus I – XII :
Nervus I Olfactory : Pasein mampu membedakan bau kopi dan minyak kayu putih
Nervus II Optikus : Pasien dapat membaca tulisan dengan jarak 30 cm
Nervus III-IV-V Oculomotor-troclearis- trigeminus: ukuran pupil 3/3 reaksi cahya
+/+. Pasien dapat menggerakkan bola mata ke segala arah
Nervus V sensorik : pasien dapat merasakan sentuhan kapas sama kuat
Nervus VI Abdusen : pasien dapat menggerakkan bola mata ke lateral
Nervus VII Facialis : Pasien dapat merasakan asin, dapat mengkerutkan dahi dan
menggembungkan pipi.
Nervus VIII Vestibulo-acusticus : Pasien dapat mendengarkan gesekan tangan di
kedua telinga kiri dan kanan sama jelas
Nervus IX-X Glossofaring : Pasien dapat merasakan pahit, letak uvula di tengah
Nervus XI Accesoris : Pasien mampu menahan tahan bahu dan tahanan pipi
Nervus XII Hipoglosus : Pasien dapat menjulurkan lidah

 DATASUBJEKTIF
Diagnosa Keperawatan :
1. -

D. SISTEMGASTROINTESTINAL
 DATAOBJEKTIF
Inspeksi
Pasien tidak terpasang NGT
Bentuk:□Datar □Buncit □Umbilikus Menonjol
□BayanganVena □Benjolan
Tinggi Badan :168 cm, BB: 70Kg.
IMT :24,8Kg/m2 Lingkar Lengan Atas : -cm,LingkarPerut: -cm
Auskultasi
□ BisingUsus Frekuensi:15 X /menit
Palpasi
□ Nyeri : Lokasi :
Keterangan :
□ Massa : Lokasi…………………………
Diameter massa .....................................................................
□ Hepatomegali :Skala.................. □ Splenomegali : Skala.........................
Perkusi
Abdomen :□ Tympani □Hypertympani □ Pekak □ Asistes
Keterangan :………………………….……………………
Ginjal :NyeriKetuk □ Ka □ Ki
Keterangan: ……………………………………………………………….
MAP.........................mmHg
Keterangan : ……………………………………………………………….
 DATASUBJEKTIF
-
Diagnosa Keperawatan :
1.

E. SISTEMGENITOURINARI
 DATAOBJEKTIF

Inspeksi : Kateter □ ya □ tidak


Jumlah: 500 cc warna kuning
jernih Endapan: ya tidak
Intake – Output (24 jam ) : (1200+500)-1800 , BalanceCairan: - 100 cc
Palpasi : Vesika urinaria:□kosong □ tidak
Perkusi : Nyeri Ketuk Ginjal□ ya □ tidak
Auskultasi :□BruitAorta □ BruitArteriRenalis □ Bruit ArteriFemoralis

DATA SUBJEKTIF
-

Diagnosa Keperawatan :

F. SISTEMINTEGUMEN
 DATAOBJEKTIF

Inspeksi: □ petekie □ jaundice □eritema □sianosis □ uremic frost


Lesi: □ ulcer □ skar □eksoriasi □fissure □ keloid
□ lain-lain (fraktur, perdarahan)
Palpasi:turgorkulit: □elastis □ tidak
elastis Pitting edema: Lokasi…........
Derajat .……...
 DATASUBJEKTIF

Diagnosa Keperawatan :
1.

III.TES DIAGNOSTIK (Laboratorium, Rontgen, USG, CT Scandll)


IV. Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


pH 7,405 7,34-7,45
pCO2 31,00 35-45
pO2 37,40 75-100
HCO3 19,60 21-25
Total CO2 20,60 21-27
BE -5,30 -2,5 - +2,5
SPO2 69,70 95-98
Hb
13,9 13.0-16.0
Ht
38,2 40-48
Trombosit
310 150-400
leukosit
10,78 5.00-10.00
Na 132 135-145
K 3,80 3,5-5
Cl 86 98-107
GDS 498
Aseton darah Positif
HbA1C 9,5 Diabetes
Ureum darah 66 18-55
Kreatinin 1,0 0,6-1,2
Egfr
PT Pasien 10,8 9,8-11,2
Kontrol 10,3
INR 0,96
APTT Pasien 31,4 31-47
Kontrol 34,8
Fibrinogen 598,6 136-384
d-dimer 1830 0-500

Rontgen :
Pneumonia Bilateral

V. TERAPI
Injeksi
Presedex 0,2 mcg
Lasik 5 mg/jam
Drip Ri 50 ui: 1 ui / jam
Oral
Oseltamivir 2x75mg
Codein 3x1tab
Zinc 1x20mg
Vit D3 1x5000 ui
Paracetamol 3x1
Curcuma 3x1
Vib albumin 3x1
Hp pro 3x1
Candesartan 1x 8 mg
Infus
Nacl 0,9 % 21ml
Diet Cair 6x 200 ml

InterpretasiEKG :
Irama : Sinus Rythem
HR :110x/mnt
Gelombang P : 0,04 detik
PR Interval : 0,12 detik
Kompleks QRS: 0,04 detikGel T/ ST Segmen : (-)
Axis : Normoaxis
Kesimpulan : Sinus Ritem
ANAL ISA DATA

NO. DATA ETIOLOGI MASALAH


1 DS : - Perubahan membrane Gangguan pertukaran
DO : alveolus - kapiler gas
- Nadi : 110 x/menit
- Pernapasan : 33 x/menit
- pH = 7,405 ( 7,350-7,450)
- pCO2 = 31,00 mmHg ( 35.00-
45.00)
- pO2 = 37,40 mmHg ( 75.00
-100.00)
-HCO3 = 19,60 mmol/ L ( 21.00-
25,00)
(alkalosis respiratorik terkompensasi
sebagian)
- Hasil PCR tgl 29-11-20 = positif
- Rontgen thorak
- Kesimpulan Rontgen Thorak :
Pneumonia bilateral.

2 DS : - Hipereksresi Bersihan jalan nafas


DO : tidak efektif
- Sputum berlebih
-Terdapat ronchi di kedua lapang paru
-Tampak retraksi dada
-RR : 33x/menit
3 DS: Kekurangan intake Hipovolemia
Pasien mengatakan mual dan muntah, cairan
nafsu makan menurun.
DO:
- Natrium ( Na ) = 132 mEq/L
( 135-145 )
- Kalium ( K) = 3,80 mEq/L (3,50-
5,00 )
- Clorida ( Cl) = 86 mEq/L ( 98,00
– 107,0 )
- Turgor kulit tampak tidak elastis
- Mukosa bibir tampak kering
4 DS : Proses penyakit Hipertermia
Pasien mengatakan demam 3 hari yang (infeksi)
lalu dan sakit tenggorokan
DO :
TTV :
- Tekanan darah : 128/80
mmHg
- MAP : 96 mmHg
- - Nadi : 110 x/mennit
- Pernapasan :33 x/menit
- Suhu : 38˚ c
- akral teraba hangat
Hasil lab :
- Leukosit = 10,78 (5,00-
10,00 )
No. DIAGNOSA KEPERAWATAN HASIL YANG DIHARAPKAN RENCANA TINDAKAN

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 jam 1. Observasi tanda-tanda vital dan saturasi
Perubahan membrane alveolus-kapiler gangguan pertukaran gas teratasi dengan kriteria hasil : R/ mengetahui adanya perubahan hemodinamik pada pasien
DS : - 1. Frekuensi napas membaik : 16-20x/menit 2. Pantau saturasi oksigen pada pasien
DO :
2. Frekuensi nadi membaik : 60-100 X/mnt R/ Mengetahui kecukupan oksigen sampai ke jaringan
- Nadi : 110 x/menit
- Pernapasan : 33 x/menit 3. Saturasi Oksigen mencukupi (95-100%) 3. Kaji tanda-tanda adanya sianosis (Observasi warna kulit,
- pH = 7,405 ( 7,350-7,450)
4. Tidak ada sianosis membrane mukosa, kuku dan adanya tanda sianosis perifer )
- pCO2 = 31,00 mmHg (35.00-45.00)
- pO2 = 37,40 mmHg ( 75.00-100.00) 5. CTR < 3 detik. R/ Sianosis menandakan kurangnya supply oksigen bagi
-HCO3 = 19,60 mmol/ L ( 21.00-25,00)
6. AGD dalam rentang normal(PCO2 35-45 tubuh.
(alkalosis respiratorik terkompensasi sebagian)
- Hasil PCR tgl 29-11-20 = positif mmHg, PO2 80-100 mmHg, pH 7,35-7,45, 4. Kaji suara nafas tambahan
- Rontgen thorak
HCO3 22-26) R/ Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati
- Kesimpulan Rontgen Thorak : Pneumonia
bilateral. 7. Tidak ada dispnea batang trachea branchial dan juga karena adanya cairan,
mucus atau sumbatan lain dari saluran nafas
5. Berikan posisi semifowler
H/ meningkatkan rasa nyaman pasien
6. Kolaborasi pemberian O2 sesuai intruksi medis
R/ Mempertahankan suplai O2 pada pasien
7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan AGD ulang
R/ Digunakan sebagai evaluasi keefektifan terapi dan tolak
ukur pemberian terapi lanjutan
8. Kolaborasi dengan dokter pemeriksaan thorax foto ulang
R/ mengevaluasi perubahan pada keadaan alveoli dan
evaluasi terapi yang telah dilakukan
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
dengan Hipersekresi jalan napas, ditandai dengan : bersihan jalan napas meningkat, dengan kriteria hasil : 2. Monitor bunyi napas tambahan (gurgling, mengi,
DS : - Produksi sputum menurun wheezing, ronchi kering)
DO : - Ronchi menurun 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
- Sputum berlebih - Dispnea menurun 4. Pertahankan kepatenan jalan napas
- Terdapat ronchi di kedua lapang paru - Frekuensi napas membaik (35 – 60 x/mnT) 5. Berikan terapi oksigen
- Tampak retraksi dada - Pola napas membaik (regular) 6. Posikan semi fowler
- RR = 36 x/mnt 7. Lakukan fisioterapi dada
8. Anjurkan asupan cairan (200 ml/hari) jika tidak
kontraindikasi
9. Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik,
ekspektoran
3. Hipovolemia berhubungan dengan kekurangan intake Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 jam resiko 1. Kaji status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit,
cairan ketidakseimbangan elektrolit dengan kriteria hasil : CRT)
DS: 1. Intake dan output cairan seimbang R/ Masalah pada keseimbangan cairan mempengaruhi
Pasien mengatakan mual dan muntah, nafsu makan
2. Nilai serem electrolit dalam batas normal kondisi kardiovaskuler
menurun.
DO: 3. Turgor kulit elastic 2. Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan cek serum
- Natrium ( Na ) = 132 mEq/L ( 135-145 )
4. Bibir tidak pucat dan kering elektrolt ulang
- Kalium ( K) = 3,80 mEq/L (3,50- 5,00 )
- Clorida ( Cl) = 86 mEq/L ( 98,00 – 107,0 ) 5. CRT <3dtk R/ Menentukan tindak lanjut intervensi yang diperlukan
- Turgor kulit tampak tidak elastis
6. Keluhan mual muntah berkurang untuk pasien
Mukosa bibir tampak kering
3. Lanjutkan dalam pemberian Nacl 0,9% 500cc
H/ cairan kristaloid yang mengandung natrium dan clorida
4. Lanjutkan pemberian terapi mengatasi mual dan muntah
R/ mengatasi muntah pada pasien dapat mengurangi
hilangnya cairan pada pasien
5. Kontrol penyebab muntah
R/ Untuk mengetahui intervensi selanjutnya
6. Anjurkan pasien untuk memperbanyak istirahat
R/ Istirahat yang banyak dapat membantu proses
penyembuhan
7. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
R/ Teknik nafas dalam dapat mengurangi mual

IMPLEMENTASI PIC SOAP


HANIS S:-
1. Mengobservasi tanda-tanda vital dan saturasi
Nadi : 115x/mnt HANIS O:
RR : 30x/mnt Nadi : 115x/mnt
2. Memantau saturasi oksigen pada pasien HANIS RR : 30x/mnt
SPO2 :98 % SPO2 :98 %
3. Mengkaji suara nafas tambahan HANIS Ronchi (+) di kedua lapang paru
masih terdapat bunyi ronchi Terpasang optiflow 40lpm
4. Memberikan posisi semifowler Pasien tampak sedikit nyaman untuk bernafas HANIS Hasil Thorax AP : Pneumonia Bilateral
5. Berkolaborasi pemberian O2 sesuai intruksi DPJP Terpasang optoflow 40lpm Hasil AGD :
6. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan AGD ulang HANIS - pH = 7,467 ( 7,350-7,450)
- pCO2 = 32,00 mmHg (35.00-45.00)
- pH = 7,467 ( 7,350-7,450)
- pO2 = 36,40 mmHg ( 75.00-100.00)
- pCO2 = 32,00 mmHg (35.00-45.00)
HANIS -HCO3 = 18,60 mmol/ L ( 21.00-25,00)
- pO2 = 36,40 mmHg ( 75.00-100.00)
(alkalosis respiratorik terkompensasi sebagian)
-HCO3 = 18,60 mmol/ L ( 21.00-25,00)
7. Berkolaborasi dengan dokter pemeriksaan thorax foto ulang
HANIS
Kesan ft thorax PA : Pneumonoa Bilateral
A : Masalah gangguan pertukran gas masih belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

1. Memonitoring pola napas (frekuensi 30x/mnt) HANIS S : Os mengatakan sulit untuk membuang sekret
2. Memonitor bunyi napas tambahan (suara nafas masihbterdapat mengi,
wheezing, ronchi kering) HANIS O:
3. Memonitor sputum (sputum ada, warna kuning dan kental) - RR 30x/mnt
4. Mempertahankan kepatenan jalan napas HANIS - Masih terdapat suara tambahan (Ronchi dan wheezing)
5. Memberikan terapi oksigen - Sputum ada warna kuning dan kental
R/ terpasang Optiflow 40/mnt HANIS - Terpasang optiflow 40lpm
6. Memposikan semi fowler - Posisi pasien semi fowlor
R/ posisi pasien nyaman HANIS
7. Melakukan fisioterapi dada A : masalah bersihan jalan nafas masih belum teratasi
R/ - HANIS
8. Menganjurkan asupan cairan (200 ml/hari) jika tidak kontraindikasi P : lanjutkan intervensi
9. Berkolaborasi dalam pemberian bronkodilator, mukolitik, dan ekspektoran. HANIS
1. Mengkaji status cairan (turgor kulit tidak elastis, CRT > 3 detik) HANIS S:
2. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan cek serum elektrolt ulang
R/ Natrium ( Na ) = 134 mEq/L ( 135-145 ) Kalium ( K) = 3,80 mEq/L (3,50- HANIS O:
5,00 )
- Turgor kulit tidak elastic
Clorida ( Cl) = 88 mEq/L ( 98,00 – 107,0 )
3. Lanjutkan dalam pemberian Nacl 0,9% 500cc) HANIS - CRT >3 detik
R/ terpasang IVFD Nacl 500cc/12jam
- Natrium ( Na ) = 134 mEq/L (135-145 )
4. Melanjutkan pemberian terapi mengatasi mual dan muntah
HANIS - Kalium ( K) = 3,80 mEq/L (3,50- 5,00 )
R/ pasien telah diberikan therapy obat inj ondansetron 4mg
- Clorida ( Cl) = 88 mEq/L ( 98,00 – 107,0 )
5. Mengontrol penyebab muntah
HANIS - Terpasang NACL 0.9% 500cc / 12 jam
6. Menganjurkan pasien untuk memperbanyak istirahat
- Pemberian obat ondansetron 4mg inj.
Istirahat yang banyak dapat membantu proses penyembuhan
HANIS - Memberikan pasien air putih hangat untuk mengurangi mul
R/ pasien tampak berbaring di tempat tidur
- Memberikan pasien makan sedikit tapi sering
7. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam
HANIS A : masalah hipovolemia masih belum teratasi
R/ pasien tampak sedikit sulit untuk latihan nafas dalam

P : lanjutkan intervensi
BAB IV
ANALISA JURNAL
A. Analisa Jurnal

EFEKTIFITAS PEMBERIAN TERAPI PURSED LIPS BREATHING


TERHADAP STATUS OKSIGENASI ANAK DENGAN PNEUMONIA

1. Population (Populasi)

Teknik pengambilan sampel dengan purposive random sampling sebanyak 36 orang yang
terdiri dari 18 kelompok intervensi dan 18 kelompok kontrol.

2. Intervention (Intervensi)

Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pretest-posttest control


group design. Di dalam model ini sebelum dimulai perlakuan kedua kelompok
dilakukan pretest dengan mengukur status oksigenasi awal dan selanjutnya diberi
intervensi PLB lalu dilakukan pengukuran status oksigenasi (post-test), sedangkan pada
kelompok kontrol diberi fisioterapi dada.

3. Comparison

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Sutini (2011), tentang pengaruh aktivitas bermain
meniup tiupan lidah terhadap status oksigenasi pada anak usia prasekolah dengan
pneumonia di rumah sakit Islam Jakarta, menyimpulkan bahwa aktivitas bermain
meniup tiupan lidah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan status
oksigenasi pada anak (menurunkan ferekuensi Respiratory Rate/RR 8,1%,
meningkatkan Heart Rate/HR sebesar 6,25%, dan meningkatkan SaO2 5,43%).
Pembanding pada penelitian ini adalah kelompok kontrol yang diberi fisioterapi dada.

4. Outcome
Terapi Pursed lips breathing efektif meningkatkan status oksigenasi pada anak usia
prasekolah yang mengalami Pneumonia meliputi: suhu, frekuensi pernapasan, frekuensi
nadi, dan saturasi oksigen. Gambaran karakteristik responden yaitu mayoritas berjenis
kelamin laki-laki baik pada kelompok kontrol maupun intervensi. Status oksigenasi
responden sesudah diberikan terapi pursed lips breathing mengalami peningkatan
sebesar 0,2 pada variabel suhu, 1,89 pada frekuensi pernapasan, 4,95 pada frekuensi
nadi, dan 0,55pada saturasi oksigen. Status oksigenasi pada kelompok intervensi
memiliki rerata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan setelah dilakukan tiupan sebanyak 30 kali dalam rentang
waktu 10-15 menit terdapat perbedaan yang bermakna antara status oksigenasi sebelum
dan sesudah diberikan intervensi dengan terapi tiupan lidah (PLB), yaitu p=0,045
terhadap frekuensi pernapasan (RR) dan p=0,037 terhadap saturasi oksigen.
5. Time

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kebun Handil Kota Jambi namun tidak ditunjjukan
kapan penelitian di lakukan.

B. Jurnal Terkait
Terlampir
BAB V
KESIMPULAN

Setelah menguraikan dan membahas asuhan keperawatan Covid-19 dengan pneumonia


bilateral\ pada Tn. S dengan masalah keperawatan Gangguan pertukaran gas di ruang HCU
RSCK Tzu Chi maka pada bab ini akan menyimpulkan tentang perawatan Covid 19 dengan
pneumonia.
Hasil eksplorasi pada Tn. S yang mengalamai Ppneumonia dengan masalah keperawatan
Gangguan pertukaran gas diantaranya.
1. Pengkajian
Hasil pengkajian pada Tn. S di dapatkan klien berjenis kelamin laki laki dengan usia
59 tahun yang rentan terkena penyakit. pneumonia pada klien di sebabkan oleh factor
pencetus yaitu pasien mengalami covid-19. Sehingga memicu akan terjadinya
pneumonia.
2. Diagnosis Keperawatan
Hasil pengkajian yang telah di lakukan pada Tn. S di dapatkan diagnose keperawatan
priorotas yaitu Gangguan pertukaran gas, batasan karakteristik yang ditemukan pada
klien yaitu adanya suara nafas tambahan, perubahan irama dan frekuensi nafas, sesak,
Tanda tanda vital
- Nadi : 110 x/menit
- Pernapasan : 33 x/menit
- pH = 7,405 ( 7,350-7,450)
- pCO2 = 31,00 mmHg (35.00-45.00)
- pO2 = 37,40 mmHg ( 75.00-100.00)
- HCO3 = 19,60 mmol/ L ( 21.00-25,00)
(alkalosis respiratorik terkompensasi sebagian)
- Hasil PCR tgl 29-11-20 = positif
- Rontgen thorak
- Kesimpulan Rontgen Thorak : Pneumonia bilateral.
3. Intervensi Keperawatan
Hasil intervensi yang di rencanakan untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien
Tn. S berdasarkan pada teori yang sesuai. Dengan pengenalan yang baik mengenai
diagnose yang tepat dapat di rencanakan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan
klien sehingga dapat di implementasikan dalam memberikan asuhan keperawatan dan
sesuai dengan sarana dan prasarana yang ada di ruang HCU RSCK Tzu Chi. Pada
klien Tn. S dari 5 kriteria yang berhasil tercapai adalah bersihan jalan nafas tidak
efektif.
4. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan yang sudah di laukan kepada klien Tn. S yaitu selama 3 hari.
Tindakan yang di lakukan sesuai dengan diagnose keperawatan yang muncul pada
klien dan sesuai dengan intervensi yang sudah di susun sebelumnya. Implementasi
yang di lakukan adalah, pemeriksaan tanda-tanda vital, melakukan pengkajian meliputi
jumlah/ kedalaman pernafasan dan pergerakan dinding dada, melakukan auskultasi
pada daerah paru, adanya suara nafas tambahan seperti ronchi, memeberikan posisi
kepada klien untuk memaksimalkan ventilasi, kolabirasi dalam melakukan fisiotherapy
dada, pemeberian obat-obatan dan pemeberian asupan nutrisi.
5. Evaluasi keperawatan
Pada tahapan ini merupakan suatu tahapan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
tindakan yang telah dilakukan ataupun diberikan kepada klien. Dalam melakukan
evaluasi pada klien Tn.S ditetapkan berdasarkan kriteria hasil yang sudah di susun
pada intervensi sebelumnya. Setelah tiga hari di rawat di ruangan HCU RSCK Tzu Chi
dan di lakukan tindakan keperawatan pada klien Tn. S pada diagnose keperawatan
gangguan pertukaran gas pada klien Tn. S teratasi sebagian karena masih terdapat nilai
normal AGD yang belum normal.
DAFTAR PUSTAKA

Asy'ari, R. O. (2020). Pengertian covid-19 dan Bentuk Partisipasi dalam Memeranginya.


Surabaya.

Huether, S. E., & McCance, K. L. (2017). Buku Ajar Patofisiologi. Singapore: Elsevier.

Kumara, A. (2020). Peranan Sistem Kekebalan Tubuh terhadap Serangan virus Corona pada
Manusia . 3.

Mustikawati. (2017). Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan Nanda Nic-Noc. Jogjakarta: Mediaction.

Pearce, E. (2018). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tabrani rab. (2013). Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Tarigan. (2020). Jurnal Respirologi Indonesia. Majalah resmi Perhimpunan dokter paru
indonesia.

Wijaya, A. S., & Putri, Y. M. (2013). KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha
Medika.

PUTRI, R. N. (2020). Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Indonesia dalam Menghadapi
Pandemi Covid-19 , 2.