Anda di halaman 1dari 7

Pendidikan nasional kita merupakan pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia

dan Berdasarkan pada Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945. Menurut Undang-Undang
system Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pendidikan berfungsi mengembangakan
kemampuan dan Kalau kita perhatikan pada UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003
menyebutkan bahwa pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutakan perluasan
pengetahuan dan keterampilan Peserta didik dengan penekanan kepada pendidikan nilai,
pendidikan kepribadian, pendidikan karakter dan kewarganaegaraan. Kalau kita perhatikan dunia
pendidikan di tengan pandemi covid 19 banyak mendapat sorotan dari berbagai kalangan, karena
terlalu banyak permasalahan yang timbul akibat kita dituntut untuk memberlakukan
pembelajaran daring tanpa adanya persiapan yang lebih matang. Beberapa permasalahan yang
timbul diantaranya,
1. Banyak terjadi kekerasan terhadap anak usia sekolah yang mana anak dituntut untuk
dapat
Membantu menyelesaikan pekerjaan orang tua di rumah pada akhirnya anak tidak
mempunyai
waktu untuk belajar dengan nyaman pada akhirnya akan banyak terjadi Anak putus
sekolah
Akibat siswa terpaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga,
2. Anak kurang bersosialisasi baik dengan teman, guru maupun kerabatnya, siswa lebih
memilih
Beraktivitas sendiri dengan perangkat gawainya dibandingkan bersosialisasi dengan
teman/masyarakat.
3. Siswa akan beresiko kehilangan mata pembelajaran akibat belum meratanya kases
internet ke b
Berbagai pelosok daerah.
Kalau kita perhatikan Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi Peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak
mulia,sehat,berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
Bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional) Tujuan
dari pendidikan nasional sudah jelas kita pahami isi dan makna yang terkandung didalamnya
Namun pada kenyataan dilapangan masih banyak kendala yang dihadapi seperti yang telah
diuraikan di atas. Saat ini pendidikan hanya terfokus pada ilmu pengetahuan ( mata pelajaran )
dan orientasinya hanya untuk memperoleh nilai yang bagus, penilaian keberhasilan yang
dilakukan hanya diukur dengan kemampuan siswa dalam menjawab soal ujian. Kurikulum yang
digunakan belum memasukkan Pendidikan karakter, pendidikan karakter hanya sebatas pada
pelajaran agama dan PKN. Penilaian yang dilakukan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai yang
bagus pada akhirnya mata pelajaran tidak akan berdampak pada perubahan perilaku siswa yang
pada akhirnya akan terjadi kesenjangan antara Pengetahuan, moral dan tingkah laku. Menyikapi
permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan nilai yang nyaris mengalami kegagalan,
Ada beberapa usaha yang bisa kita lakukan, diantaranya :
1. Perhatian orang tua, Sebagaimana kita ketahui siswa mempunyai waktu yang lama untuk
dapat Bertemu dan kumpul dengan orang tua dibandingkan bertemu dan berkumpul
dengan guru Maupun teman, tanpa kita sadari pendidikan karakter awal mula munculnya
dari lingkungan Keluarga, peran orang tualah yang akan menjadi penentu keberhasilan
seorang anak, dalam Lingkungan keluarga anak diajari untuk bertingkah laku dan bertutur
kata yang sopan dan hormat terhadap yang lebih tua, sayang menyayangi antar sesama,
orang tua menjadi contoh yang utama dan terbaik bagi anak dirumah, hendaknya orang
tua bersikap dan bertingkah laku yang baik dilingkungan keluarga dan sekitarnya karakter
Pendidikan karakter bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab guru di sekolah ,
disini diperlukan adanya kerjasama antara orang tua dan Guru untuk mewujudkan tujan
pendidikan nasional dan terciptanya siswa yang berkarakter
2. Lingkungan yang mndukung , Lingkungan mempunyai peran yang sangat kuat untuk
Terbentuknya pendidikan karakter, Bangsa Indonesia sudah banyak budaya yang
mempunyai Nilai – nilai karakter yang baik seperti orang Indonesia terkenal dengan
budaya gotong royong, Saling hormat menghormati antara yang satu dengan lainnya,
ramah dan masih banyak lagi.
3. Memasukkan pendidikan karakter dalam semua mata pelajaran, sebagai mana kita
ketahui Pada awalnya kurikulum yang berlaku hanya menekannkan pada mata pelajaran
dan Pendidikan karakter hanya pada mata pelajaran agama dan PKN, namun saat ini
pendidikan Karakter sudah ada dalam semua mata pelajaran, harapannya siswa
disamping belajar mata Pelajaran, siswa juga mempelajari nilai – nilai karakter yang
menyatu dengan mata pelajaran Tersebut.
4. Menyelaraskan nilai karakter dengan budaya / adat yang ada di lingkungan sekolah
( lingkungan Sekitar). Langkah ini sangat penting dilakukan mengingat lingkungan yang
satu dengan lainya Berbeda, disini kita dituntut dapat menyelaraskan agar tercipta
lingkungan yang kondusif dan Menyenangkan, misalnya apabila dilingkungan kita
terkenal denga jiwa berwira usaha maka kita Dituntut untuk dapat memberikan
pendidikan karakter yang dapat mencetak siswa yang dapat Berwirausaha, begitu pula
apabila lingkungan tersebut terkenal dengan gotong royong nya, Kondisi ini dapat kita
terapkan ke siswa untuk menanamkan jiwa gotong royog.

SOAL NO 3
Masyarakat Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang bersifat
majemuk. Hal itu dengan mudah dapat diketahui dalam semboyan negara Republik
Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan itu secara umum mengandung arti
meskipun masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa tetapi tetap merupakan
satu kesatuan Republik Indonesia. Di balik semboyan itu sebenarnya terdapat suatu pesan
bahwa masyarakat Indonesia menghadapi masalah persatuan dan kesatuan di dalamnya. Di
dalamnya terdapat beraneka ragam perbedaan suku bangsa, agama daerah. dan etnis.
Perbedaan itu seringkali berpengaruh pada perbedaan sistem kepercayaan, sistem nilai
pandangan hidup dan perilaku sosial sehingga cenderung menimbulkan konflik atau
perpecahan sosial di dalamnya.
Pertanyaan:
1. Buat analisis problematika keragaman budaya dan kesetaraan!
2. Tuliskan bentuk alternatif pemecahan masalah keragaman budaya!

Jawaban No 1
Masyarakat Indonesia yang majemuk, memiliki banyak keberagaman suku budaya,
ras dan kesetaraan derajat dalam berbudaya. Hal ini perlu dicermati apabila membahas
masalah tentang kebudayaan yang sangat kompleks, sebagai suatu kenyataan dan kekayaan
dari bangsa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Problematika keragaman budaya
Keragaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat di mana terdapat perbedaan-
perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku bangsa dan ras, agama dan
keyakinan, ideologi, adat kesopanan, serta situasi ekonomi.
Masyarakat majemuk atau masyarakat yang beragam selalu memiliki sifat-sifat dasar
sebagai berikut :
a. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki
kebudayaan yang berbeda.
b. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat
nonkomplementer.
c. Kurang mengembangkan consensus di antara para anggota masyarakat tentan nilai-
nilai sosial yang bersifat dasar.
d. Secara relatif, sering kali terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan yang
lainnya.
e. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di
dalam bidang ekonomi.
f. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.
Keragaman adalah modal, tetapi sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya
daerah memang memperkaya khazanah budaya dan menjadi modal yang berharga
untuk membangun Indonesia yang multicultural. Namun, kondisi aneka budaya itu
sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan
kecemburuan sosial.
Yang menjadi penyebab adalah tidak adanya komunikasi dan pemahaman pada
berbagai kelompok masyarakat dan budaya lain, inilah justru yang dapat memicu
konflik.Penyakit budaya tersebut adalah etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme,
diskriminasi, dan space goating. (Sutarno, 2007).
Berdasarkan hal di atas, keragaman masyarakat berpotensi menimbulkan
segmentasi kelompok, struktural yang terbagi-bagi, konsensus yang lemah, sering
terjadi konflik, integrasi yang dipaksakan, dan adanya dominasi kelompok. Tentu saja
potensi demikian adalah potensi yang melemahkan gerak kehidupan masyarakat.
Keberagaman adalah modal berharga untuk membangun Indonesia yang multikultural.
Namun, kondisi tersebut juga berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi
konflik dan kecemburuan sosial
2. Problematika Kesetaraan
Prinsip kesetaraan atau kesederajatan mensyaratkan jaminan akan persamaan derajat,
hak, dan kewajiban. Indicator kesederajatan adalah sebagai berikut :
a. Adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku bangsa, ras, gender, dan
golongan;
b. Adanya persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak;
c. Adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota
masyarakat.
Problem yang terjadi dalam kehidupan, umumnya adalah munculnya sikap dan
perilaku untuk tidak mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban
antarmanusia atau antarwarga. Perilaku yang membeda-bedakan orang disebut
diskriminasi.
Persoalan yang terjadi dalam kehidupan, umumnya adalah munculnya sikap dan
perilaku untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban antar manusia.
Menyimak ciri-ciri di atas, keragaman masyarakat berpotensi menimbulkan segmentasi
kelompok, struktur yang terbagi-bagi, konsensus yang lemah, sering terjadi konflik,
integrasi yang dipaksakan, dan adanya dominasi kelompok. Tentu saja potensi-potensi
demikian adalah potensi yang melemahkan gerak kehidupan masyarakat itu sendiri.
Peneroran dan diskriminasi merupakan tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia
(HAM).
Diskriminasi juga merupakan bentuk ketidakadilan. Perilaku diskriminatif tidak
sesuai dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Oleh karena itu, perlu dihapuskan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, upaya
menekankan dan menghapus praktik-praktik diskriminasi adalah melalui perlindungan
dan penegakan HAM disetiap ranah kehidupan manusia.

Jawaban No 2
Alternatif Pemecahan Masalah
Kita tahu bahwa keberagaman budaya dapat menimbulkan konflik dan kerusuhan sosial.
Sebenarnya, telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah kita dalam mengatasi
masalah sosial akibat keberagaman budaya. Ahli-ahli ilmu sosial juga telah memberikan
teori-teori pemecahan masalah akibat konflik sosial budaya. Namun pengaruh pemecahan
masalah tersebut, tidak langsung dirasakan hasilnya oleh masyarakat.
Adapun metode-metode pemecahan masalah akibat konflik sosial budaya yang biasa
digunakan, antara lain sebagai berikut :
1. Metode kompetisi (competition)
Metode kompetisi adalah pemecahan masalah dengan menggunakan teknik persaingan.
Metode ini menyajikan suatu arena persaingan menang-kalah kepada pihak-pihak yang
bertentangan. Apabila terjadi konflik dalam masyarakat, biasanya pihak yang berkuasa
akan memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya. Misalnya, dengan memberikan
alternatif siapa yang tidak setuju silahkan mengundurkan diri.
2. Metode menghindari (avoidance)
Metode menghindari adalah pemecahan masalah dengan cara salah satu pihak yang
berselisih menarik diri atau menghindari konflik. Dalam metode ini biasanya pihak-
pihak yang bertentangan mengambiil keputusan untuk berpisah atau menghindar secara
fisik. Misalnya, golongan elit politik yang pernah berkuasa pada era Orde Baru
menarik diri dan tidak ikut lagi dalam kegiatan politik praktis pada pemerintahan era
reformasi sekarang ini.
3. Metode akomodasi (accommodation)
Metode akomodasi adalah cara pemecahan masalah dengan menciptakan kondisi damai
untuk sementara. Metode ini diterapkan apabila salah satu pihak bersedia memenuhi
tuntutan pihak lawan. Metode ini digunakan untuk memelihara hubungan baik dengan
harapan salah satu pihak mau mengalah sebagai contoh, dalam menyelesaikan konflik
antara suku bangsa Dayak dengan suku bangsa Madura di Sambas, maka pemerintah
kita memisahkan dua pihak yang bertikai dengan menyediakan penampungan
sementara bagi pengungsi dari suku Madura sampai dicapai suatu kesepakatan damai.
4. Metode kompromi (compromise)
Metode kompromi adalah pemecahan masalah dengan cara melakukan perundingan
damai. Metode ini tidak diarahkan untuk menentukan siapa yang menang atau yang
kalah, tetapi untuk mencari akar permasalahan, sehingga dicapai suatu kesepakatan
damai. Metode ini dapat memperkecil permusuhan yang terpendam.
5. Metode kolaborasi (collaboration)
Metode kolaborasi adalah pemecahan masalah dengan cara memberikan keuntungan
yang sama kepada pihak-pihak yang berselisih. Metode ini merubah konflik menjadi
kerja sama. Dalam hal ini pihak-pihak yang bertentangan diajak bekerja sama untuk
berkompromi.

Ridwan Madaniyah, Jurnal Volume 2 Edisi IX Agustus 2015, Problematika Keragaman


Kebudayaan dan Alternatif Pemecahan ISSN 2086-3462
SOAL NO 4
Kegiatan pertambangan batubara sebagai salah satu pemanfaatan sumber daya alam pada
dasarnya merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan perekonomian yang pada
hakekatnya mengacu pada tujuan pembangunan nasional, yakni peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Akan tetapi pertambangan merupakan kegitan yang sangat rentan terhadap
resiko pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup seperti pencemaran air, udara, tanah
sampai kepada ancaman nyawa masyarakat.
Pertanyaan :
1. Dari permasalahan diatas, jelaskan peran manusia sebagai subjek maupun objek dari
lingkungan

Jawaban No 1
Didalam lingkungan, manusia memiliki dua potensi, yaitu sebagai subjek sekaligus
sebagai objek lingkunagan. Manusia sebagai subjek lingkungan berarti manusia memiliki
kemampuan untuk mengendalikan, memanipulasi, dan mengekspoitasi lingkungan.
Sedangkan, manusia sebagai objek lingkungan berarti manusia dikendalikan oleh
lingkungan. Dalam peranannya dalam subjek lingkungan, manusia diharapkan mampu
melakukan pengelolaan lingkungan. Apabila mampu mengelola lingkungan dengan baik,
maka upaya pemamfaatan lingkungan yang dilakukan oleh manusia tidak mengganggu
keseimbangan lingkungan itu sendiri. Oleh karena itu, manusia sebagai mahluk individu
yang juga mahluk sosial dan mahluk budaya harus mengembangkan apa yang disebut etika
lingkungan.
Berkaitan dengan permasalahan diatas berkaitan dengan eksploitasi sumber daya
alam yang berupa batu bara. Maka manusia juga memunyai peran sebagai subjek dan
sekaligus objek. Sebagai subjek manusia bebas untuk memanfaatkan SDA Batu Bara untuk
digunakan sebagai upaya pelaksanaan pembangunan nasional tentu hal ini harus diimbangi
manusia sebagai objek lingkungan dimana manusia juga membutuhkan lingkungan untuk
keberlangsungan kehidupannya

Pertanyaan :
2. Bagaimana seharusnya bentuk kebijakan afirmatif negara untuk mengatasi kemiskinan,
menjaga keselamatan penduduk dan mewujudkan pelestarian lingkungan di daerah
pertambangan?
Jawaban No 2
Affirmative action (tindakan afirmatif) adalah kebijakan yang diambil yang
bertujuan agar kelompok/golongan tertentu memperoleh peluang yang setara dengan
kelompok/golongan lain dalam bidang yang sama. Bisa juga diartikan sebagai kebijakan
yang memberi keistimewaan pada kelompok tertentu.
Kemiskinan, keselamatan dan lingkungan merupakan hal yang erat kaitannya dengan
kehidupan masyarakat. Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang dikenal kaya dengan
sumberdaya alam. Kegiatan ekonomi di daerah tersebut umumnya didominasi oleh
kegiatan di sektor pertambangan dan galian.
Ini adalah ciri umum yang dimiliki daerah penghasil sumberdaya alam, dimana
daerah-daerah tersebut akan berusaha mengekstraksi sumberdaya alam yang ada karena
memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain.
Tanpa banyak mengeluarkan biaya, karena yang mengekstraksi adalah swasta, daerah akan
mendapatkan bagi hasil yang tidak sedikit.
Kondisi seperti ini wajar terjadi di daerah-daerah penghasil sumberdaya alam
karena hal itu adalah kelebihan yang dimiliki daerah tersebut. Dengan kelebihan ini, daerah
penghasil sumberdaya alam memiliki kesempatan untuk mendapatkan dana yang besar
demi membiayai pembangunan di daerah tersebut. Saat ini, yang menjadi perhatian
seharusnya adalah apakah sumberdaya alam tersebut telah dikelola secara baik dengan
memperhatikan aspek lingkungan dan hasilnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk
kemaslahatan seluruh masyarakat. Ini penting untuk diperhatikan karena permasalahan
yang muncul di daerah-daerah penghasil sumberdaya alam umumnya berkaitan dengan
hal-hal tersebut. Masalah lingkungan biasanya muncul karena kegiatan penambangan yang
tidak memperhatikan dampak lingkungan sehingga seringkali di daerah penambangan
terjadi bencana longsor, banjir dan lain-lain.
Program-program penanggulangan kemiskinan sebenarnya telah dilaksanakan oleh
pemerintah Indonesia sejak lama. Program-program tersebut dilaksanakan untuk
menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih sejahtera sesuai dengan tujuan
didirikannya negara Indonesia.
Program-program kebijakan afirmatif yang dapat dibuat untuk mengatasi, yaitu :
1. Kebijakan afirmatif berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan berbasis pada
bantuan dan perlindungan sosial yang bertujuan untuk melakukan pemenuhan hak
dasar, pengurangan beban hidup serta perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin.
2. Kebijakan afirmatif berkaitan penanggulangan kemiskinan berbasis pada
pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan
memperkuat kapasitas masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang
didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat.
3. Kebijakan afirmatif berkaitan penanggulangan kemiskinan berbasis pada
pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil yang bertujuan untuk memberikan akses
dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil.
4. Kebijakan afirmatif berkaitan dengan lingkungan dengan memperhatikan AMDAL

Anda mungkin juga menyukai