Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TAMBANG BAWAH TANAH

STOPE AND PILLAR MINING

DISUSUN OLEH :

1. Elisya Nur Fadilla (1909056023)


2. Virgita Miranda P.P (1909056024)
3. Djuwita Dela Safitri (1909056033)
4. Muhammad Hamzah (1909056038)

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN


TAHUN AKADEMIK 2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“Metode Penambangan Stope and Pillar” dalam waktu yang telah ditentukan.

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah
Tambang Bawah Tanah. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari pembaca demi tercapainya
kesempurnaan makalah ini.

Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang luas
bagi para pembaca khususnya mahasiswa yang mempelajari matakuliah Tambang Bawah
Tanah.

ii
DAFTAR ISI

Cover..........................................................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang................................................................................................1
B. Tujuan penulisan............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Metode Open Stope........................................................................................3
B. Stope and Pillar Mining..................................................................................4
C. Variasi Penambangan Stope and Pillar...........................................................8
D. Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Metode Stope and Pillar..............10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................11
B. Saran...............................................................................................................11
Daftar Pustaka............................................................................................................12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada umumnya sistem penambangan dibagi menjadi beberapa sistem diantaranya yaitu
sistem tambang terbuka (surface mining), sistem tambang tertutup atau tambang bawah
tanah (underground mining), dan sistem tambang bawah air (underwater mining). Sistem
penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk membebaskan atau
mengambil endapan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis dari batuan induknya
untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar dengan
memperhatikan keamanan dan keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi
dampak lingkungan yang dapat ditimbulkannya.

Tatiya, (2005) mengungkapkan bahwa tambang bawah tanah (underground mining) adalah
metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di
bawah permukaan bumi dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara
luar. Tambang bawah tanah ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
 Metode tanpa penyanggaan (Open stope method)
 Metode dengan penyanggaan (Supported stope method)
 Metode ambrukan (Caving method)

Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang sistem penambangan bawah tanah
berupa open stope method dengan stope and pillar.

1
B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa itu stope and pillar
2. Mengetahui cara kerja stope and pillar
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan stope and pillar

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Open Stope


Open stope adalah salah satu metoda penambangan bawah tanah. Open Stope adalah
penambangan tanpa membuat penyangga-penyangga. Syarat bahan galian yang dapat
ditambang dengan metoda ini adalah atapnya cukup kuat menahan beban tanpa disangga
atau dengan atau bisa disebut juga cukup kompeten (Toba, 2020).

Open stope adalah sistem tambang bawah tanah dengan ciri -ciri :
 Sedikit memakai penyangga, atau hampir tidak tidak ada.
 Umumnya merupakan cara penambangan sederhana, atau tradisional.
 Bisa menggunakan buruh-buruh yang tidak terlatih.
 Cocok untuk endapan bijih dengan ciri-ciri:
 Endapan bijih dan batuan induk relatif keras, sehingga tidak mudah runtuh
 Endapan bijih memiliki kemiringan lapisan (dip) lebih dari 70°.
 Ukuran bijih tidak terlalu besar.
 Tebal endapan bijih kurang dari 5 m.
 Antara batuan induk dan bijih mudah dibedakan atau terlihat jelas.
(Toba, 2020).

Aplikasi open stope secara umum adalah sebagai berikut:


1. Daerah bijih dan country rock kuat, kecuali cebakan tipis-datar atau sedikit miring
yang dapat ditambang dengan retreating system.
2. Bijih kadar rendah atau nilai ekonomis rendah, mengingat pillar berupabijih dan
losses tinggi. Pada bijih kadar tinggi dapat dilakukan pillar robbing.
3. Penambangan sangat selektif. Pada steep dip 50°-90° dimungkinkan meninggalkan
kadar rendah sebagai pillar. Pada flat dip 0°-20° mempunyai selektifitas tinggi.

3
4. Pada flat dip dimungkinkan sortasi, untuk steep dip dilakukan sortasi secara
terbatas.
5. Aplikasi umum: tabular dinding teratur, batas dinding jelas. Kadang diterapkan
untuk cebakan yang besar, menggumpal (massive), dinding irregular.
(Toba, 2020).

. Stope and Pillar Mining


Stope and pillar adalah metode yang digunakan dalam tambang non batubara dimana lebih
tebal, badan bijih yang lebih tidak teratur, pilar-pilar ditempatkan secara acak dan terletak
pada bijih berkadar rendah sehingga bijih bermutu tinggi dapat diekstraksi. Stope adalah
suatu tempat atau ruangan pada tambang bawah tanah dimana endapan bijih sedang
ditambang tetapi bukan penggalian yang dilakukan selama development (Tatiya, 2005).

Pada metode ini, pembongkaran bijih dilakukan secara maju (advancing) terhadap bijih
yang terletak horizontal dengan tinggi kurang dari 3 m, dimana kondisi ini tidak
memungkinkan dilakukan dari atas ke bawah. Penyangga atap (roof) pada stope and pillar
biasanya dibuat secara permanen atau semi permanen (pillar) yang terdiri dari bijih itu
sendiri. Untuk cebakan yang lebih tebal, maka bijih ditambang secara berjenjang metode
ini digunakan untuk cebakan sampai ketebalan 13 m. Pillar yang dibuat kadang-kadang
diperkuat dengan semen sekelilingnya (Tatiya,2005).

Gambar 2.1 metode stope and pillar Sumber:


https://www.medellin.unal.edu.co/~rrodriguez/geologia/anatomy-of-a-mine/Anatomy%20of%20a%20Mine
%20--%20Production.htm

4
Metode stope and pillar sangat mirip dengan penambangan room and pillar. Metode stope
and pillar adalah yang paling banyak digunakan dari semua prosedur penambangan hard
rock bawah tanah. Stope and pillar mining adalah metode yang tidak didukung di mana
bukaan didorong secara horizontal dalam pola teratur atau acak untuk membentuk pilar
untuk penyangga tanah. Ini adalah salah satu metode penambangan skala besar,
menyumbang sekitar 50% dari produksi noncoal bawah tanah AS (Hartman, 1991).

Metode ini stope and pillar berbeda dengan room and pillar dalam beberapa hal seperti
berikut ini:
 Metode ini digunakan untuk menambang endapan selain batubara, membutuhkan
penyangga alami dalam bentuk pilar.
 Pilar tidak sistematis dan tersusun acak dan mungkin tidak memiliki dimensi yang
sama. 
 Memakai sistem advance (maju), sedangkan dalam penambangan room and pillar
digunakan sistem (maju atau mundur) atau kombinasi keduanya. 
 Endapan yang tebal dapat ditambang dengan membuat jenjang.
(Hartman, 1991)

Ada beberapa alasan mengapa jumlah pengembangan dalam penambangan stope and pillar
lebih sedikit daripada room and pillar.
• Pertama, undang-undang ketat yang mewajibkan banyak bukaan tidak berlaku
untuk penambangan batuan keras kecuali jika terdapat gas strata.
• Kedua, bukaan pembangunan harus sering didorong melalui batuan tandus,
meningkatkan biaya pembangunan dan keinginan untuk menghindari bukaan yang
tidak perlu. Akibatnya, lebih sedikit pembukaan pengembangan yang didorong dan
meniru kemajuan adalah hal yang umum dan hemat biaya.
(Hartman, 1991)

5
Menurut Tatiya, (2005) metode dapat dimasukkan dalam stope and pillar apabila memenuhi
dua dari tiga hal:
1. Pillar tidak teratur dan terletak acak
 Kadar rendah atau waste sebagai pillar
 Bukan untuk memperoleh bentuk atau perencanaan tambang yang sistimatis,
tetapi sekedar menyangga atap
 Penyusun pillar adalah batuan, maka relatif kuat dan berdimensi kecil
2. Ketebalan cebakan lebih besar 9 meter
 Tebal tetapi aman secara teknik, maka dilakukan tidak berjenjang
 Tebal dan tidak aman secara teknik, maka dilakukan berjenjang
3. Komoditas yang ditambang adalah mineral, bukan batubara
 Batubara dapat ditambang secara room and pillar
 Tidak ada cebakan batubara ditambang secara stope and pillar
 Rule of tumb: room and pillar untuk coal, dan stope and pillar untuk noncoal.

Hartman, (1991) mengungkapkan bahwa hampir semua tambang stope-and-pillar


menggunakan praktik penambangan konvensional, dengan siklus produksi yang meliputi:  

Siklus produksi = drill + blast + load+ haul

Peralatan produksi yang digunakan dalam operasi stope and pillar sangat banyak digunakan
untuk penambangan noncoal. Umumnya mengarah pada peralatan yang lebih besar dan
otomatis yang didukung oleh mesin diesel. Siklus Operasi terdiri dari:  

• Drilling: Hydraullic atau pneumatic dnl jumbo lebih sering digunakan; rotary drill
rigs dapat digunakan pada batuan yang lebih lunak.  

6
• Blasting: Amonium nitrat dan bahan bakar minyak (ANFO), gel, atau emulsi:
pengisian dengan tangan atau dengan pemuat pneumatik, penembakan dengan
sekering listrik, nonelektrik, atau peledakan.  

• Secondary blasting : Bor dan ledakan, palu tumbukan, drop ball.  

• Loading: load-haul-dump machine (LHD) dan front-end loader sangat umum;


shovel, overhead mucker, dan slusher kadang-kadang digunakan.

• Haulage: Truck, LHD, belt conveyor, shuttle car

(Hartman, 1991)

Pertambangan stope dan pilar memiliki banyak kegunaan dalam eksploitasi deposit mineral
logam dan non logam. Metode ini adalah metode noncoal bawah tanah yang paling populer
di Amerika Serikat. Telah digunakan secara luas di tambang batu kapur di Pennsylvania,
marmer di Georgsa, tembaga di Michigan, tambang seng di Tennessee, timbal di Missouri,
serpih minyak di Colorado, uranium di Utah dan Kanada, dan besi di Prancis (Hartman,
1991).

Pilihan bukaan akses utama untuk penambangan stope and pillar, metode yang dibatasi
pada kedalaman sedang yang relatif dangkal, serupa untuk tambang room and pillar. Jika
kedalamannya relatif dangkal, belt konveyor dapat direncanakan dan bukaan utama
mungkin berupa lereng. Untuk kedalaman yang lebih dalam. sebuah hosst dapat digunakan
dan bukaan utama kemungkinan besar adalah poros vertikal. Penggunaan peralatan
bertenaga diesel mungkin memerlukan penggunaan ramp sebagai gantinya. Bukaan
tambahan yang terkait dengan kemiringan belt atau ramp dapat berupa poros vertikal dalam
banyak kasus (Hartman, 1991)

Bergantung pada geometri dan sikap tubuh bijih. bukaan sekunder dibangun pada tingkat
yang menghubungkan poros dengan bukaan produksi. Jika disyaratkan oleh peraturan atau

7
praktik penambangan yang baik, penyimpangan paralel dan persimpangan penghubung
dapat didorong. Jika endapan terputus-putus dan terjadi pada horizon yang berbeda, maka
pengangkutan truk dan jalur landai dapat dipilih untuk memberikan fleksibilitas maksimum
(Hartman, 1991).
C. Variasi Penambangan Stope and Pillar
Selain penerapannya yang luas untuk berbagai mineral, penambangan stope and pillar
memungkinkan banyak variasi dalam rencana eksploitasinya. Untuk endapan yang datar
dan tebal, bijih dapat ditambang pada jenjang sambil membentuk pilar baik dalam interval
reguler (pola sistematis) atau secara acak. Yang pertama diperlukan jika kadar bijih
seragam dan yang terakhir jika kadar tidak teratur sehingga bagian tersebut ditinggalkan
sebagai pilar dimana bijih memiliki kadar yang buruk sehingga mucking (pemuatan) tanpa
jalur dan unit transportasi seperti yang ditunjukkan pada gambar (a), dapat dilakukan
(Tatiya, 2005).

Gambar 2.2 penambangan untuk badan bijih yang tipis


sumber:
Tatiya, R.R. 2005. Surface and underground excavations: methods, techniques and equipmnent

Kemudian badan bijih yang tipis tidak memerlukan jenjang dan dapat ditambang dengan
cara yang ditunjukkan pada gambar (b) . Dalam tata letak ini penggunaan unit tanpa jalur

8
telah dibuat, tetapi jika endapan cenderung menggunakan scraper(pengikis) seperti gambar
(b) maka dapat dibuat untuk mucking(pengangkutan) dan transportasi dalam lombong/stope
(Tatiya, 2005).

Gambar 2.3 penambangan untuk endapan menggunakan scraper


Sumber:
Tatiya, R.R. 2005. Surface and underground excavations: methods, techniques and equipmnent

Pada gambar (2.4) merupakan tata letak stope and pillar, yang telah digunakan di tambang
tembaga India. Endapannya memiliki kemiringan 25°-40° dan memiliki ketebalan pada
kisaran 5-6m. Dengan interval level 40m, stope dikembangkan dan ditambang dengan
menyisakan pilar setebal 4-5 m (ditunjukkan sebagai rib pilar pada gambar). Awalnya
dibuat sebuah ruangan menuju di tengah lombong bergabung dengan kedua level, dan
kemudian dilebarkan (Hamrin, 2002).

Setelah bijih dari sisi hanging wall mencapai ketebalan 2,5-3m dihentikan, maka bijih dari
sisi footwall yang tersisa diambil dengan cara benching. Kemiringan 35°-40°
membutuhkan bijih untuk dikikis dan oleh karena itu pengangkutan scraper digunakan
untuk untuk membuang bijih ke dalam saluran bijih yang dipasang pada tingkat tramming
dimana dapat dimuat ke unit transportasi dengan rel atau tanpa rel. Saat menambang irisan
atas di sisi hanging wall, rock bolting dilakukan melalui bagian belakang lombong untuk

9
menjaga stabilitasnya. Pilar yang tersisa di antara lombong akhirnya bisa mengalami
recovery tetapi pemulihan bijih dari mereka biasanya buruk (Hamrin, 2002).

Gambar 2.4 tata letak stope and pillar pertambangan tembaga India
Sumber: Tatiya, R.R. 2005. Surface and underground excavations: methods, techniques and equipmnent.

D. Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Metode Stope and Pillar

Keuntungan:
1. Produktivitasnya sedang hingga tinggi
2. Biaya penambangan rendah sampai sedang (biaya relatif 30%, jika dibandingkan
dengan square set stoping yang merupakan metode paling mahal )
3. Laju produksi sedang hingga tinggi
(Hartman, 1991)

Kerugian :
1. Pengendalian permukaan tanah memerlukan pemeliharaan sandaran/penyangga secara
terus menerus jika batuan tidak kuat
2. Pengeluaran yang besar dibutuhkan untuk mekanisasi ekstensif.

10
3. Sulit untuk memberikan ventilasi yang baik karena bukaan yang besar
(Hartman, 1991).

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Stope and pillar adalah metode yang digunakan dalam tambang non batubara
dimana lebih tebal, badan bijih yang lebih tidak teratur, pilar-pilar ditempatkan
secara acak dan terletak pada bijih berkadar rendah sehingga bijih bermutu tinggi
dapat diekstraksi.
2. Pembongkaran bijih dilakukan secara maju (advancing) terhadap bijih yang terletak
horizontal dengan tinggi kurang dari 3 m, dimana kondisi ini tidak memungkinkan
dilakukan dari atas ke bawah. Penyangga atap (roof) biasanya dibuat secara
permanen atau semi permanen (pillar) yang terdiri dari bijih itu sendiri. Pillar yang
dibuat kadang-kadang diperkuat dengan semen sekelilingnya.
3. Keuntungan stope and pillar adalah biaya penambangan rendah, kemungkinkan
sortasi dalam stope, dan waste ditinggal pada ruang kosong yang ada,
kemungkinkan mekanisasi dari drilling. Kerugiannya yaitu losses sebagai pillar
mencapai 40% dengan pillar robbing yang efektif menjadi 20%, bahaya runtuhan
dari hanging wall, khususnya bila mempunyai joint dan cracks yang sejajar, daerah
yang harus diatur ventilasinya sangat luas.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan tentang metode stope
and pillar khususnya untuk mahasiswa yang sedang mempelajari matakuliah tambang
bawah tanah.

12
DAFTAR PUSTAKA

Hamrin, H. 2002. Guide to Underground Mining Methods and Application. Atlas


Copco,Sweden, pp. 20-27.

Hartman, Howard L. 1991. Introductory Mining Engineering. Krieger Publishing Company

Tatiya, R.R. 2005. Surface and underground excavations: methods, techniques and
equipmnent. CRC Press.

Toba, Rudi. 2020. Tambang Bawah Tanah. Deepublish. Jakarta

13

Anda mungkin juga menyukai