Anda di halaman 1dari 22

Makalah

Organisasi – organisasi Sektor Swasta yang

Berkepentingan dalam Kebijakan Kesehatan

Dosen Pemimbing:

Prof. Dr. dr. Grace D. Kandou, M.Kes

Disusun Oleh:

Veronica Christy E. Laoh - 20202111047

Mira Kumayas – 20202111052

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PASCASARJANA UNIVERSITAS SAM RATULANGI

MANADO

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesehatan

dan rahmat-Nya sehingga makalah dengna judul “Organisasi – organisasi

Sektor Swasta yang Berkepentingan dalam Kebijakan Kesehatan” ini dapat

diselesaikan dengan baik.

Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Analisis/Seminar

Kebijakan Kesehatan. Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak

baik secara langsung maupun tidak langsung makalah ini tidak dapat tersusun.

Dengan segala keterbatasan, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam

penulisan makalah ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi penyempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini

dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Terima kasih.

Manado, Februari 2021

Penyusun

Kelompok
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3

2.1 Pengetian sektor swasta................................................................................3

2.2 Pengertian Kebijakan kesehatan...............................................................3

2.3 Organisasi  Sektor  Swasta Dalam Kebijakan Kesehatan .....................4

2.4 Peran Organisasi Swasta dan Pemerintah dalam Pelayanan...............12

BAB III PENUTUP...............................................................................................18

3.1 Kesimpulan.................................................................................................18

3.2 Saran............................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor swasta dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan sistem pelayanan yang lebih

cepat dan lebih responsif bagi negara. Pemerintah harus segera mengupayakan cara untuk

mempromosikan sistem pelayanan publik/ pemerintah dan swasta yang harmonis. Dengan

mempertimbangkan kasus-kasus korupsi masa lalu, Pemerintah harus mengkaji cara untuk fokus

pada pembiayaan di sisi permintaan (demand side), dan mendorong sektor swasta dan nirlaba

untuk mengembangkan sisi persediannya (supply side). 

Sektor swasta membangun dan mengoperasikan rumah sakit pemerintah dengan

mempekerjakan stafnya sendiri untuk jangka waktu panjang. Dalam kebanyakan pengaturan,

pemerintah selalu menjadi pihak pemilik rumah sakit dan pengaturan kontrak diupayakan untuk

memastikan adanya akses biaya netral bagi pasien publik dan bagi pengeluaran rutin pemerintah.

Pemerintah menggunakan PFI untuk menggalang dana off budget yaitu, dari neraca keuangan

publik dan tidak menunjukkannya dalam persyaratan pinjaman sektor publik.

Secara global, ada beberapa pengaturan kemitraan pemerintah-swasta dimana pemerintah

menyediakan kredit pajak, subsidi, dan bahkan menunjuk mitra swasta untuk membiayai

pembangunan fasilitas kesehatan – dan terkadang mengoperasikannya. Pengaturan tersebut dapat

berupa inisiatif keuangan swasta (private finance initiative/ PFI) yang pernah populer di

beberapa negara kaya seperti di Inggris lebih dari satu dekade yang lalu, yang mana dengan

pengaturan tersebut, perusahaan swasta membiayai dan membangun rumah sakit untuk sektor

publik. 
Dalam hal peran sektor swasta, banyak diskusi mengenai “Kemitraan Pemerintah Swasta

(KPS)” berasal dari pengalaman di negara-negara Eropa dan negara-negara berpenghasilan tinggi

lainnya (AS, Kanada, Australia, dan lain-lain). Singkatnya, tantangan yang dihadapi adalah

bagaimana mengubah kontrak yang biasanya “Rancang, Bangun, Danai dan Jalankan” menjadi

proyek investasi jangka panjang. Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS) adalah model bisnis yang

dapat direplikasikan dan diukur dan suatu hubungan berbagi risiko jangka panjang (misalnya,

25-30 tahun) antara pemerintah dan swasta, dengan tujuan

 memberikan hasil kebijakan publik dalam bentuk layanan yang diharapkan

dalam kendali mitra sektor publik/ pemerintah secara keseluruhan; serta

 menghasilkan keuntungan bagi mitra sektor swasta

Dalam membahas perkembangan sektor kesehatan, berbagai pelaku kunci dalam

pelayanan kesehatan perlu diidentifikasi yaitu pemerintah, masyarakat, pihak ketiga yang

menjadi sumber pendanaan, seperti PT Askes Indonesia, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Masyarakat (JPKM); penyedia pelayanan, termasuk industri obat dan tempat-tempat pendidikan

tenaga kesehatan; dan pemberi hutang luar negeri (Bank Dunia, ADB, OECF), serta badan-badan

internasional yang memberikan grant seperti WHO, GTZ, USAID.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana peran Organisasi sektor swasta dalam kebijakan kesehatan?

1.2 Tujuan

Mengetahui peran Organisasi sektor swasta dalam kebijakan kesehatan


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sektor Swasta

Sektor swasta adalah bagian dari ekonomi di mana barang dan jasa diproduksi dan

didistribusikan oleh individu dan organisasi yang bukan bagian dari pemerintah atau birokrasi

negara. Swasta di bidang kesehatan adalah semua organisasi dan individu yang dalam

melaksakan kegiatannya tidak langsung dikendalikan oleh Pemerintah. Ini termasuk perusahaan

swasta dan individu ynng mencari untung (for-profit) serta organisasi swasta yang tidak .

mencari untung (non-prof it) (WHO, Mexico 1991).

2.2.  Pengertian Kebijakan kesehatan

Kebijakan sering diartikan sebagai sejumlah keputusan yang dibuat oleh mereka yang

bertanggung jawab dalam bidang kebijakan tertentu (bidang kesehatan, lingkungan, pendidikan

atau perdagangan). Orang-orang yang menyusun kebijakan disebut dengan pembuat kebijakan.

Kebijakan dapat disusun di semua tingkatan (pemerintah pusat atau daerah, perusahan

multinasional atau daerah, sekolah atau rumah sakit).

 Menurut Walt, kebijakan kesehatan serupa dengan politik dan segala penawaran terbuka

kepada orang yang berpengaruh pada penyusunan kebijakan, bagaimana mereka mengolah

pengaruh tersebut, dan dengan persyaratan apa. Kebijakan kesehatan adalah segala sesuatu untuk

mempengaruhi faktor-faktor penentu di sektor kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas

kesehatan masyarakat.
2.3.   Organisasi  Sektor  Swasta Dalam Kebijakan Kesehatan

 Kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan

dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan  kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan

pembiayaan dalam system kesehatan. Kebijakan ini mencakup sektor publik (pemerintah)

sekaligus sektor swasta. Paradigma pembangunan kesehatan yang baru yaitu paradigma sehat

merupakan upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan masyarakat yang bersifat proaktif.

Paradigma sehat sebagai model pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang diharapkan

mampu mendorong masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang

lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.

Pembangunan kesehatan dapat dipercepat pencapaiannya apabila pemerintah dan sektor

swasta berkolaborasi secara sinergis dalam pelayanan kesehatan maupun pembiayaan kesehatan

guna meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Yang mendasari pemerintah menjadi peran

sentral dan primer serta bertanggungjawab dalam kebijakan kesehatan, yaitu :

1.     Banyaknya tenaga kesehatan melakukan praktik mandiri tanpa izin, dan sering terjadinya

mall praktik. 

2.     Menurunnya kualitas pelayanan kesehatan dan semakin banyaknya Komplain masyarakat

atas pelayanan kesehatan.

3.     Belum meratanya distribusi tenaga kesehatan sampai pada tingkat pedesaan.

4.     Belum optimalnya fasilitas-fsilitas pelayanan kesehatan ditingkat pedesaan.

5.     Layanan kesehatan belum dimanfaatkan secara optimal karena faktor pembiayaan belum

dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh provider maupun user,


6.     Kekuatan monopoli diciptakan oleh professional medis, perusahaan obat-obatan, dan rumah

sakit tertentu, menyebabkan pembiayaan tinggi.

7.     Semakin banyaknya institusi layanan kesehatan disektor swasta, sehingga memungkinkan

tenaga kesehatan untuk bekerja di tempat-tempat yang mendatangkan keuntungan lebih besar.

8.     Kesenjangan informasi antara konsumen dan penyedia, dimana konsumen berada dalam

posisi dirugikan dan penyedia dalam hal ini swasta berada di dalam posisi yang kuat untuk

mengambil keuntungan dari ketidakseimbangan tersebut.

 Apa yang membuat sektor swasta pelaku yang kuat dalam kebijakan politik?

Kekuatan adalah kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sumber-sumber

daya sering memberikan kekuatan dan, dengan dasar tersebut, kekuatan beberapa industri dan

firma mungkin menjadi jelas bagi kita. Dalam daftar top 100 ekonomi\ didunia, 49 diduduki oleh

negara tapi 51 diduduki oleh firma-firma ketika diukur dalam kapitalisasi pasar. membandingkan

modal pasar dari 10 negara terbesar didunia, 10 perusahaan farmasi terbaik, dengan pendapatan

kotor Negara-negara berpendapatan rendah pada tahun 2003 , perhatikan bagaimana perusahaan-

perusahaan ini mengalahkan ukuran ekonomi kolektif di Negara-negara termiskin. Laba dari top

50 perusahaan farmasi dibukukan sampai 466 milyar dolar AS di tahun 2003 yang telah naik dari

296 milyar dolar AS dua tahun sebelumnya (Sellers 2004). Bandingkan besarnya penjualan

perusahaan dengan budget tahunan WHO: yang hanya 1 milyar dolar AS dan tidak bertambah

selama satu decade.


Perusahaan-perusahaan memberi pemerintah berupa pendapatan pajak, beberapa adalah

perusahaan besar di perekonomian, dan pemerintah mendapatkan pengaruh dalam masalah-

masalah internasional dengan menggunakan keistimewaan perusahaan-perusahaan besar. Karena

itu pemerintah tertarik pada kesuksesan mereka. Di banyak sektor, perusahaan- perusahaan

mempunyai kemampuan khusus yang diandalkan pemerintah dalam pembuat kebijakan dan

peraturan. Karena alasan ini, bisnis besar dan kecil sering mempunyai peran penting dalam

perdebatan kebijakan.

 Bagaimana sektor swasta terlibat dalam kebijakan kesehatan?

Kebijakan swasta dan publik telah ditulis. Kita belajar bahwa sektor swasta

mengembangkan kebijakan kesehatan apakah menetapan peraturan yang keras bagi para

pekerjanya (contoh: cuti sakit) atau asosiasi industri membuat kebijakan untuk para anggotanya

(contoh: sehubungan dengan polusi lingkungan). Hal ini adalah salah satu cara sektor swasta

terlibat dalam kebijakan kesehatan, melalui Self Regulation. penyusunan kebijakan kesehatan

swasta dengan lebih mendetail, dan ada dua mekanisme tambahan dimana sektor swasta terlibat

dalam kebijakan kesehatan. keterlibatan sektor swasta dalam pembuatan kebijakan publik.

Sebagai tambahan, Pembedaan antara kebijakan swasta dan publik telah ditulis. Kita belajar

bahwa sektor swasta mengembangkan sebuah bentuk baru kerjasama, disebut ko regulasi ,

memberikan jalan tengah antara self regulation dan kebijakan public.

Sektor swasta dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan sistem pelayanan

yang lebih cepat dan lebih responsif bagi negara. Pemerintah harus segera mengupayakan cara

untuk mempromosikan sistem pelayanan publik/ pemerintah dan swasta yang harmonis. Dengan

mempertimbangkan kasus-kasus korupsi masa lalu, Pemerintah harus mengkaji cara untuk fokus
pada pembiayaan di sisi permintaan (demand side), dan mendorong sektor swasta dan nirlaba

untuk mengembangkan sisi persediannya (supply side). Salah satu pilihan radikal adalah dengan

menghentikan atau membekukan alokasi modal untuk faskes-faskes baru milik pemerintah

hingga rencana induk untuk pengelolaan sisi persediaan selesai dikembangkan.

Secara global, ada beberapa pengaturan kemitraan pemerintah-swasta dimana pemerintah

menyediakan kredit pajak, subsidi, dan bahkan menunjuk mitra swasta untuk membiayai

pembangunan fasilitas kesehatan – dan terkadang mengoperasikannya. Pengaturan tersebut dapat

berupa inisiatif keuangan swasta (private finance initiative/ PFI) yang pernah populer di

beberapa negara kaya seperti di Inggris lebih dari satu dekade yang lalu, yang mana dengan

pengaturan tersebut, perusahaan swasta membiayai dan membangun rumah sakit untuk sektor

publik. Sektor swasta membangun dan mengoperasikan rumah sakit pemerintah dengan

mempekerjakan stafnya sendiri untuk jangka waktu panjang. Dalam kebanyakan pengaturan,

pemerintah selalu menjadi pihak pemilik rumah sakit dan pengaturan kontrak diupayakan untuk

memastikan adanya akses biaya netral bagi pasien publik dan bagi pengeluaran rutin pemerintah.

Pemerintah menggunakan PFI untuk menggalang dana off budget yaitu, dari neraca keuangan

publik dan tidak menunjukkannya dalam persyaratan pinjaman sektor publik.

Konsumen semakin menginginkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan minat dan

persepsi mereka. Tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara-negara berpendapatan

menengah (Brazil, Chili, Meksiko, Afrika Selatan, Thailand) dan bahkan negara-negara

berpenghasilan rendah (Ghana, Rwanda, Kyrgyzstan) ketika berupaya untuk menerapkan

pendekatan dan skema cakupan kesehatan semesta, yang bertujuan untuk memberikan layanan

berkualitas kepada (idealnya) seluruh penduduk.


Dalam hal peran sektor swasta, banyak diskusi mengenai “Kemitraan Pemerintah Swasta

(KPS)” berasal dari pengalaman di negara-negara Eropa dan negara-negara berpenghasilan tinggi

lainnya (AS, Kanada, Australia, dan lain-lain). Singkatnya, tantangan yang dihadapi adalah

bagaimana mengubah kontrak yang biasanya “Rancang, Bangun, Danai dan Jalankan” menjadi

proyek investasi jangka panjang. Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS) adalah model bisnis yang

dapat direplikasikan dan diukur dan suatu hubungan berbagi risiko jangka panjang (misalnya,

25-30 tahun) antara pemerintah dan swasta, dengan tujuan memberikan hasil kebijakan publik

dalam bentuk layanan yang diharapkan dalam kendali mitra sektor publik/ pemerintah secara

keseluruhan; serta menghasilkan keuntungan bagi mitra sektor swasta

Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS) mengubah kepemilikan (tradisional) atas aset

menjadi pembelian jasa – pemerintah tidak lagi memiliki rumah sakit tetapi membeli akses

secara berkelanjutan ke berbagai rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya. Hal ini berarti

adanya perubahan dalam memutuskan di lingkungan pengembangan proyek dari spesifikasi input

(klien negara menetapkan ukuran fasilitas yang akan dibangun dan bagaimana fasilitas itu

dikelola) ke basis output (jaminan akses ke aliran layanan tertentu dengan kualitas tertentu,

dengan cara apapun yang dipilih mitra kontraktor swasta untuk menyelenggarakan layanan

tersebut). Pengalaman internasional dalam hal KPS dalam pelayanan kesehatan menurut Antonio

Duran dari European Observatory,[3] dapat dikategorikan dengan cara berikut:

Pengadaan “Accommodation-only” Dengan KPS cara ini, dan mungkin yang paling

umum di seluruh dunia (dan efektif, sewa dikelola), mitra swasta menyediakan bangunan-dan

mungkin peralatan-berikut pemeliharaanya selama masa kontrak. Semua ketentuan medis tetap

di tangan negara. Inggris misalnya telah membangun lebih dari 100 unit rumah sakit dengan cara

ini menggunakan apa yang disebut Inisiatif Keuangan Swasta (private finance initiative/PFI).
Dalam beberapa kasus, perusahaan inkorporasi sektor publik menjalankan usaha real estate, dan

mengoperasikan ruang layanan untuk organisasi rumah sakit sektor publik/ pemerintah;

“Twin-Special Purpose Vehicles”. adalah penyediaan property/ area jenis PFI melalui

satu kontraktor swasta yang gabungkan (twinned) dengan satu perusahaan layanan medis swasta

terpisah, yang bertanggung jawab atas semua layanan klinis dan peralatan medis;

“Clinic/ Hospital Full-Service Franchise”. Kebanyakan rumah sakit di negara-negara

Eropa – bukan di AS – dimiliki, dikembangkan dan dikelola oleh negara. Kadang-kadang ada

rumah sakit nirlaba (misalnya gereja) dalam sistem tersebut. Hal yang baru adalah kelompok

klinik dan perusahaan rumah sakit swasta, komersial, dan berorientasi keuntungan masuk ke

pasar yang pada dasarnya dikontrak 100% untuk organisasi asuransi kesehatan sosial atau dana

publik lainnya. Rumah sakit swasta kemudian menyesuaikan sistem perencanaan rumah sakit

dan klinik sektor publik (yaitu, harus menyediakan layanan yang sebanding), dan tidak boleh

melakukan praktik “cream-skim” (menerima pasien semata-mata karena kemampuan membayar

pasien) terhadap pasien yang diterimanya, memperoleh pendapatan atas dasar yang sama dengan

rumah sakit pemerintah (melalui CBGs yang dipublikasikan atau tarif lainnya). Perusahaan

komersial yang bersangkutan mempunyai kebebasan operasional yang cukup lengkap untuk

proses klilnis dan proses lainnya, terlepas dari apakah perusahaan tersebut membutuhkan dana

modal publik untuk konstruksi atau tidak;

“Regional Healthcare Franchise”. Ini merupakan perluasan dari ke 3 cara di atas,

dengan perusahaan swasta yang memiliki konsesi untuk penyediaan pelayanan kesehatan dasar

maupun rumah sakit – Pelayanan bekesinambungan secara penuh (full continuum of care). Ada
pengalaman berharga di Spanyol dengan model ini. Sistem pembayarannya adalah “kapitasi”,

yang diukur terhadap pembanding sektor publik dan dengan perlindungan untuk pilihan pasien.

Pemegang hak konsesi tidak dapat memilih pasien yang akan diterima pada setiap tingkatan

sistem, tetapi dapat memberi insentif pasien untuk dikelola pada tingkat layanan kesehatan yang

paling efisien (perawatan dasar biasanya lebih murah bagi perusahaan daripada memasukkan

pasien ke rumah sakit)

Informasi lebih lanjut mengenai model Kemitraan Pemerintah Swasta dapat diperoleh di

makalah-makalah Bappenas yang didanai DFAT tahun 2014 untuk rencana lima tahun kedepan.

Pembaca yang berminat dapat merujuk ke makalah-makalah tersebut.

Sebagian besar keberhasilan modernisasi intervensi tergantung pada kemampuan untuk

berinovasi dalam melayani kebutuhan kesehatan, juga tergantung pada integrasi desain dan tata

letak fisik pusat-pusat kesehatan.

Setiap penggunaan mekanisme inovatif di Indonesia perlu diatur sesuai konteks negara.

Sistem kesehatan Indonesia pada dasarnya sudah merupakan gabungan (yaitu, memiliki sektor

kesehatan swasta yang terorgansiasi secara mandiri). Sehingga, penerapan mekanisme KPS

merupakan keuntungan di Indonesia.

Sebaliknya, konteks tata kelola publik yang agak lemah saat ini dapat menjadi lebih

problematis ketika lembaga-lembaga selain sektor publik memberikan pelayanan kepada

masyarakat (dengan kemungkinan melepaskan diri dari kewajiban negara jika dengan struktur

pelayanan publik saat ini dialihkan ke sektor swasta). Untuk alasan ini, maka penerapan
mekanisme KPS di Indonesia akan memerlukan unsur-unsur penyeimbang regulasi, monitoring

dan pengawasan yang harus dirancang dengan seksama.

2.4. Peran Organisasi Swasta dan Pemerintah dalam Pelayanan

Semua organisasi dan individu yang dalam melaksanakan kegiatannya tidak langsung

dikendalikan oleh pemerintah. Ini termasuk perusahaan swasta dan individu yang mencari

untung (for profit) serta organisasi swasta yang tidak mencari untung (not for profit) ….(WHO,

Mexico,1991).

Jenis Swasta

a. For profit

b. Not for profit  dengan subsidi dan tanpa subsidi

c. Dengan izin resmi atau tanpa izin

d. Jenis kegiatan : preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative

Motivasi dan Perilaku Swasta

1. Swasta Not For Profit

  Tujuan : social benefit maximum

  Jenis : subsidi (organisasi internasional/domestik) dan tanpa subsidi

  Sumber subsidi : Badan/organisasi internasional dan sumber dana domestic

(jumlah sedikit)
  Subsidi mencakup :

  Seluruh/sebagian komponen biaya (investasi, operasional, dan pemeliharaan)

  Subsidi terbatas hanya pada investasi

  Peran pemerintah, adalah membantu dengan memberi subsidi, keringanan

perijinan, bimbingan, pembangunan infrastruktur fisik

  Ciri-ciri :

  Tarif biasanya di bawah biaya satuan

  Tarif diatas biaya satuan digunakan untuk subsidi silang

  Sasaran pelayanan kesehatan adalah pemukiman kumuh dan daerah

tertinggal

2. Swasta For Profit

 Tujuan : maksimum return on investment, sehingga selalu memperhatikan

jumlah, jenis dan lokasi layanan kesehatan.

  Sasaran : ekonomi menengah keatas, di kota dan selalu menginginkan

kualitas pelayanan yang tinggi.

  Bersistem eksklusif dalam SDM, peralatan medis, dan pendukung serta tarif

  Supply induced Demand yaitu biaya investasi dan operasional beraal dari

uang pinjaman bank, sehingga terdorong untuk melakukan un-necessary

prosedure

  Praktek Tying (pemberian/penjualan suatu barang/jasa kepada konsumen


yang menyebabkan konsumen terpaksa membelinya). Contoh : Di AS, satu

diantara empat laboratorium adalah milik dokter, sehingga pasien

cenderung patuh pada apa yang disarankan oleh dokternya.

  Tarif > unit cost sehingga berorientasi laba (profit), yang tidak hanya untuk

meningkatkan pelayanan atau subsidi silang

Prospek Peranan Swasta

1. Pangsa Pasar

Pada swasta for profit sangat tergantung pada out of pocket payment

Ada keterbatasan pasar :

  15% (27 juta) penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan

  75% (135 juta) tinggal di pedesaan.

  Asumsi : 40-50 juta yang mampu membayar layanan PHC di swasta, tapi

masih terbatas dalam penyediaan layanan sekunder dan tersier.

  Dapat juga dilihat dari jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal.

Diestimasikan 8 juta bekerja di sektor formal, dimana termasuk 4 juta

pegawai negeri, 4 juta (12 dengan keluarga).

2. Motivasi : Profit atau Not For Profit

  Terbatasnya dana pemerintah dan swasta non profit (organisasi domestik


maupun internasional) menyebabkan motif swasta for profit menjadi

semakin kuat.

  Profit : penetapan tarif diatas biaya satuan sehingga sisa keuntungan dapat

dipakai baik untuk keperluan perluasan layanan maupun untuk investasi

lain di luar sektor kesehatan.

  Pure profit merupakan profit maximization

Banyak organisasi ilmiah yang didanai industri, kelompok penekanan (seperti

kelompok pasien) dan bahkan firma hubungan masyarakat yang bekerja bagi industri adalah

pelaku dalam arena kebijakan politik. Sebagai contoh: perusahaan tembakau Phillip Morris

mendirikan Institute of Regulatory Policy sebagai alat untuk melobi pemerintah federal AS dan

menunda penerbitan hasil laporan Environmental Protection Agency tentang lingkungan rokok

(Muggli et al. 2004). International Life Sciences Institute (ILSI) didirikan tahun 1978.

Pimpinan pertama institut ini melihatnya sebagai mini WHO. Institut ini menggambarkan

dirinya sebagai [Global Partnership for a Safer, Healthier world\ yang menggunakan kerja

sama strategis untuk mencapai solusi ilmiah bagi masalah-masalah penting dalam kesehatan

masyarakat, khususnya dalam masalah seperti diet, tembakau dan alkohol. Pada saat berusaha

mencitrakan diri sebagai organisasi ilmiah, pimpinan pertamanya bekerja pula sebagai wakil

direktur Coca Cola Company dan pendanaannya didominasi oleh industri makanan. Sulit sekali

untuk menyembunyikan bantuan sektor perdagangan dalam penelitian-penelitian dan


publikasi-publikasi serta kelompok ini sebagai institusi yang ilmiah dan independen (James

2002).

Industri juga mengatur dan mendukung kelompok pasien untuk mempengaruhi

keputusan pemerintah atas kebijakan kesehatan. Sebagai contoh: [Action for Access\

ditetapkan oleh Biogen di tahun 1999 untuk memaksa National Health Service Inggris

menyediakan interferon beta untuk pasien multiple sclerosis (Boseley 1999). Dalam beberapa

debat tentang kebijakan politik, firma hubungan masyarakat berperan penting. FirmaͲfirma itu

digunakan untuk memaparkan pandangan-pandangan industri, melalui media atau cara lain,

sebagai pihak ketiga yang tidak memihak. Pada tahun 2002, lima firma hubungan masyarakat

terbaik dalam pelayanan kesehatan di AS menghasilkan lebih dari 300 juta dolar AS untuk

merencanakan pra-peluncuran ulasan berita tentang obat-obat baru, perkembangan penulisan

resep, penerbitan jurnal-jurnal medis dan dukungan pada kelompok pasien dengan tujuan

mempengaruhi kebijakan dan praktek pelayanan kesehatan (Burton dan Rowell 2003).

TipeͲtipe organisasi yang perlu diperhatikan adalah:

x FirmaͲfirma kecil

x MNC, Multi National Company, atau TNC, Trans National Company

x Asosiasi bisnis

x Think tank

x Kelompok pasien

x Jaringan ilmiah perdagangan


x Firma hubungan masyarakat

x Jaringan longga
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan

dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan  kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan

pembiayaan dalam system kesehatan. Kebijakan ini mencakup sektor publik (pemerintah)

sekaligus sektor swasta

Perusahaan-perusahaan memberi pemerintah berupa pendapatan pajak, beberapa adalah

perusahaan besar di perekonomian, dan pemerintah mendapatkan pengaruh dalam masalah-

masalah internasional dengan menggunakan keistimewaan perusahaan-perusahaan besar. Karena

itu pemerintah tertarik pada kesuksesan mereka. Di banyak sektor, perusahaan- perusahaan

mempunyai kemampuan khusus yang diandalkan pemerintah dalam pembuat kebijakan dan

peraturan. Karena alasan ini, bisnis besar dan kecil sering mempunyai peran penting dalam

perdebatan kebijakan.

Kebijakan swasta dan publik telah ditulis. Kita belajar bahwa sektor swasta

mengembangkan kebijakan kesehatan apakah menetapan peraturan yang keras bagi para

pekerjanya (contoh: cuti sakit) atau asosiasi industri membuat kebijakan untuk para anggotanya

(contoh: sehubungan dengan polusi lingkungan). Hal ini adalah salah satu cara sektor swasta

terlibat dalam kebijakan kesehatan, melalui Self Regulation.


Sektor swasta dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan sistem pelayanan

yang lebih cepat dan lebih responsif bagi negara. Pemerintah harus segera mengupayakan cara

untuk mempromosikan sistem pelayanan publik/ pemerintah dan swasta yang harmonis.

3.2. Saran

Sektor swasta dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan sistem pelayanan

yang lebih cepat dan lebih responsif bagi negara. Pemerintah sebaiknya harus segera

mengupayakan cara untuk mempromosikan sistem pelayanan publik/ pemerintah dan swasta

yang harmonis. Dengan mempertimbangkan kasus-kasus korupsi masa lalu, Pemerintah harus

mengkaji cara untuk fokus pada pembiayaan di sisi permintaan (demand side), dan mendorong

sektor swasta dan nirlaba untuk mengembangkan sisi persediannya (supply side).
Daftar Pustaka

1. Buse, K., Mays, N. 7 G. Walt.2012. Making Health Policy, McGraw-Hill Education. UK

2. 2. Peran Swasta dan Pemerintah .

3. http://eprints.dinus.ac.id/6212/1/III_INDUSTRI_YANKES.pdf

4. Kebijakan Kesehatan Indonesia.

https://kebijakankesehatanindonesia.net/images/buku/MRS1/MRS_BAB%20III%20-

%20PERKEMBANGAN%20SEKTOR%20KESEHATAN.pdf

5. N. Yubo, Peran negara dan sektor swasta dalam kebijakan kesehatan, 2015.

http://nartyubo.blogspot.com/2015/01/peran-negara-dan-sektor-swasta-dalam.html