Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI-PATOFISIOLOGI

“RENAL SYSTEM PHYSIOLOGY”

Disusun Oleh :
Kelompok 3

1. Cindi Dia Rakhmawati Kelas B 051911133006


2. Isna Fauziah Kelas A 051911133021
3. Noer Aqiel Natsier Kelas A 051911133032
4. Mikhael Ardi Kristiawan Kelas B 051911133036
5. Azzalin Devariany Mufidah Kelas A 051911133047
6. Sania Putri Arista Kelas B 051911133064
7. Mia Etika Rahayu Kelas B 051911133079
8. Farrah Yulian Listyandi Kelas B 051911133092
9. Clarisa Dian Cahyani Kelas B 051911133103
10. Ath. Thaariq Lustician Z. Kelas A 051911133112
11. Yussi Ananda Kelas A 051911133123
12. Kiki Antafa Najla Kelas A 051911133136
13. Danicko Primada W. A. Kelas B 051911133144
14. Retha Aulia Rahmah Kelas B 051911133145
15. Dwi Abirlina Fitri A. Kelas B 051911133157
16. Yasmin Soraya Kelas B 051911133176
17. Kallista Freda Meir Kelas A 051911133194
18. Aisyah Hasna Kirana Kelas B 051911133210
19. Devita Fatikhasari Kelas A 051911133232
20. Vivi Faradita Rahmawati Kelas B 051911133241
Dosen Pembimbing : Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes

Pelaksanaan Praktikum : 16 November 2020

Fakultas Farmasi
Universitas Airlangga
PENDAHULUAN

Ginjal merupakan suatu organ yang berwarna kemerahan, berbentuk seperti kacang dan
terletak dibawah pinggang diantara peritoneum dan dinding abdomen posterior. Kedua ginjal
ini berada di kanan dan kiri columnavertebralis setinggi vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan
terletak lebih rendah dari yang kiri karena besarnya lobus hepar yang berada diatas ginjal
kanan. Ginjal dibungkus oleh tiga lapis jaringan. Jaringan yang terdalam adalah kapsula renalis,
jaringan pada lapisan kedua adalah adiposa dan jaringan terluar adalah fascia renal. Ketiga
jaringan ini berfungsi sebagai pelindung dari trauma dan memfiksasi ginjal.

Bagian fungsional dari ginjal adalah nefron. Nefron merupakan struktur yang terdiri
dari untaian kapiler yang disebut glomerulus, tempat di mana darah disaring, dan tubulus ginjal
yang mengolah air dan elektrolit apakah akan diserap atau dilepaskan dan ditambahkan
senyawa-senyawa tertentu. Setiap satu ginjal manusia memiliki sekitar satu juta nefron.

Masing-masing ginjal manusia terdiri dari sekitar satu juta nefron yang masing-masing
dari nefron tersebut memiliki tugas untuk membentuk urin. Ginjal tidak dapat membentuk
nefron baru, oleh sebab itu, pada trauma ginjal, penyakit ginjal, atau penuaan ginjal akan terjadi
penurunan jumlah nefron secara bertahap. Setelah usia 40 tahun, jumlah nefron biasanya
menurun setiap 10 tahun. Berkurangnya fungsi ini seharusnya tidak mengancam jiwa karena
adanya proses adaptif tubuh terhadap penurunan fungsi faal ginjal (Sherwood, 2001).

Setiap nefron memiliki 2 komponen utama yaitu glomerulus dan tubulus. Glomerulus
(kapiler glomerulus) dilalui sejumlah cairan yang difiltrasi dari darah sedangkan tubulus
merupakan saluran panjang yang mengubah cairan yang telah difiltrasi menjadi urin dan
dialirkan menuju keluar ginjal. Glomerulus tersusun dari jaringan kapiler glomerulus
bercabang yang mempunyai tekanan hidrostatik tinggi (kira-kira 60 mmHg), dibandingkan
dengan jaringan kapiler lain.

Kapiler-kapiler glomerulus dilapisi oleh sel-sel epitel dan seluruh glomerulus


dilingkupi dengan kapsula bowman. Cairan yang difiltrasi dari kapiler glomerulus masuk ke
dalam kapsula bowman dan kemudian masuk ke tubulus proksimal, yang terletak pada korteks
ginjal. Dari tubulus proksimal kemudian dilanjutkan ke lengkung henle. Pada lengkung henle
terdapat bagian desenden dan asenden. Pada ujung cabang asenden tebal terdapat makula
densa. Makula densa juga memiliki kemampuan untuk mengatur fungsi nefron. Setelah itu dari
tubulus distal, urin menuju tubulus rektus dan tubulus koligentes modular hingga urin mengalir
melalui ujung papilla renalis dan kemudian bergabung membentuk struktur pelvis renalis. Tiga
proses utama akan terjadi di nefron dalam pembentukan urin yaitu filtrasi, reabsorbsi dan
sekresi. Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang hampir bebas
protein oleh kapiler glomerulus di kapsula bowman. Kebanyakan zat dalam plasma, kecuali
protein, di filtrasi secara bebas sehingga konsentrasinya pada filtrat glomerulus dalam kapsula
bowman hamper sama dengan plasma. Awalnya zat akan difiltrasi secara bebas oleh kapiler
glomerulus kemudian di reabsorbsi parsial, reabsorbsi lengkap dan kemudian akan diekskresi.

Adapun fungsi ginjal antara lain :

1. Pengaturan Air dan Elektrolit


2. Ekskresi Limbah Metabolik
3. Ekskresi Zat Bioaktif (Hormon dan Obat)
4. Pengaturan Tekanan Darah Arteri
5. Pengaturan Produksi Sel Darah Merah
6. Pengaturan pH Darah
7. Produksi dan ekskresi urin
Nefron terdiri dari beberapa bagian yaitu

• Glomerulus
Glomerulus adalah masa kapiler yang berbentuk bola yang terdapat sepanjang arteriol.
Fungsinya untuk filtrasi air dan zat terlarut dalam darah
• Kapsula Bowman
Kapsula Bowman merupakan suatu pelebaran nefron yang dibatasi oleh epitel yang
mengelilingi glomerulus untuk mengumpulkan zat terlarut yang difiltrasi oleh
glomerulus.
• Tubulus Kontortus Proksimal
Cairan yang difiltrasi akan mengalir ke tubulus kontortus proksimal. Letak tubulus ini
di dalam korteks ginjal, panjangnya 14 mm dengan diameter 50-60 nm. Bentuknya
berkelok-kelok dan berakhir sebagai saluran yang lurus yang berjalan ke arah medula
yaitu ansa henle.
• Ansa Henle
Ansa henle merupakan nefron pendek yang memiliki segmen yang tipis yang
membentuk lengkung tajam berbentuk huruf U. Bagian pars desendens dari ansa henle
terbentang dari korteks ke bagian medulla, sedangkan pars asendens berjalan kembali
dari medulla ke arah korteks ginjal.
• Tubulus Distal
Setelah melewati ansa henle, maka akan berlanjut ke bagian nefron tubulus distal.
Tubulus kontortus distal lebih pendek dari tubulus proksimal dan bagian tubulus distal
ini berkelok-kelok di bagian korteks dan berakhir di duktus koligentes.
• Duktus Koligentes Duktus Koligentes merupakan bagian pengumpul yang akan
menerima cairan & zat terlarut dari tubulus distal. Duktus koligentes berjalan dari
dalam berkas medulla ke medulla. Setiap duktus pengumpul yang berjalan ke arah
medulla akan mengosongkan urin yang telah terbentuk ke dalam pelvis ginjal.

Masalah

1. Bagaimana dampak perubahan arteriol aferen dan eferen terhadap tekanan Glomerular,
GFR, dan Volume urin yang dihasilkan ?
2. Bagaimana pengaruh perubahan tekanan glomerular capillary terhadap kecepatan filtrasi
glomerular ?
3. Bagaimana pengaruh perubahan tekanan renal tubule terhadap kecepatan filtrasi
glomerular ?
4. Bagaimana pengaruh Hormon ADH dalam sitem kerja ginjal ?
5. Bagaimana hubungan kosensentrasi urin dengan volume urin ?

Tujuan

1. Memahami dampak perubahan arteriol aferen dan eferen terhadap tekanan Glomerular,
GFR, dan Volume urin yang dihasilkan.
2. Memahami pengaruh perubahan tekanan glomerular capillary terhadap kecepatan filtrasi
glomerular.
3. Memahami pengaruh perubahan tekanan renal tubule terhadap kecepatan filtrasi
glomerular.
4. Memahami pengaruh Hormon ADH dalam sitem kerja ginjal.
5. Memahami hubungan kosensentrasi urin dengan volume urin.
LAB REPORT

ACTIVITY 1 : The Effect of Arteriole Radius on Glomerular Filtration

Eksperimen Data :
REVIEW SHEET

1. What are two primary functions of the kidney?


Jawab :
- Mempertahankan homeostasis dengan cara menyesuaikan kesetimbangan antara
jumlah air, elektrolit, dan berbagai konstituen plasma yang ada pada tubuh.
- Menyaring dan mengekskresi senyawa asing dan bahan- bahan sisa metabolisme
yang berpotensi toksik dari dalam tubuh.
2. What are the components of the renal corpuscle?
Jawab :
- Glomerulus
- Kapsul Bowman
3. Starting with the renal corpuscle, list the components of the renal tubule as they
are encountered by filtrate.
Jawab :
- Kapsul Bowman : Untuk mengumpulkan filtrat glomerulus.
- Tubulus Proksimal : Untuk reabsorpsi dan sekresi tak terkontrol bahan – bahan
tertentu terjadi di sini
- Ansa Henle : Untuk membentuk gradient osmotik di medula ginjal yang penting
bagi kemampuan ginjal untuk menghasilkan urin dengan konsentrasi beragam.
- Tubulus distal dan ductus koligentes : Untuk reabsorpsi terkontrol beragam Na+ dan
H2O, serta sekresi K+ dan H+, cairan yang meninggalkan duktus koligentes adalah
urin, yang masuk ke pelvis ginjal.
4. Describe the effect of decreasing the afferent arteriole radius on glomerular
capillary pressure and filtration rate. How will did the results compare with your
prediction?

Jawab :

Penurunan radius arteriol aferen dapat menyebabkan turunnya tekanan darah


dan laju filtrasi glomerulus Dibuktikan dari data percobaan yang telah dilakukan. Pada
awalnya radius afferent 0,50 didapatkan Glomerular Press 55,08 dan Glom.Filt Rate
124.99. Kemudian radius afferent arteriol diturunkan menjadi 0,45 dan didapatkan
Glomerular Press turun menjadi 51,54 ml dan Glom Filt Rate 81.06. Hal tersebut sesuai
dengan prediksi kelompok kami.
5. Describe the effect of increasing the afferent arteriole radius on glomerular
capillary pressure and filtration rate. How well did the results compare with your
prediction?

Jawab :

Peningkatan radius arteriol aferen dapat menyebabkan naikan tekanan darah


dan laju filtrasi glomerulus Dibuktikan dari data percobaan yang telah dilakukan. Pada
awalnya radius afferent 0,35 didapatkan Glomerular Press 46,16 dan Glom.Filt Rate
14,35. Kemudian radius afferent arteriol ditingkatkan menjadi 0,55 dan didapatkan
Glomerular Press naik menjadi 58,94 ml dan Glom Filt Rate 172,86. Hal tersebut sesuai
dengan prediksi kelompok kami.

6. Describe the effect of decreasing the efferent arteriole radius on glomerular


capillary pressure and filtration rate. How well did the results compare with your
prediction?

Jawab :

Penurunan radius arteriol eferen dapat menyebabkan naikmya tekanan darah


dan laju filtrasi glomerulus Dibuktikan dari data percobaan yang telah dilakukan. Pada
awalnya radius efferent 0,45 didapatkan Glomerular Press 55,08 dan Glom.Filt Rate
124.99. Kemudian radius efferent arteriol diturunkan menjadi 0,40 dan didapatkan
Glomerular Press turun menjadi 56,10 ml dan Glom Filt Rate 137,69. Hal tersebut
sesuai dengan prediksi kelompok kami.

7. Describe the effect of increasing the efferent radius on glomerular capillary pressure
and filtration rate!
Jawab :
Ketika radius eferen meningkat, maka tekanan kapiler glomerulus dan laju
filtrasi akan menurun. Pada praktikum yang sudah dilakukan, hal ini dapat terjadi
dikarenakan tekanan kapiler glomerulus akan menurun karena arteriol eferen menguras
atau membutuhkan lebih banyak darah yang disebabkan karena arteriol dilatasi.
Sehingga tekanan akan menurun, sedangkan darah pada glomerulus dikeringkan lebih
cepat dan darah akan cepat keluar dari glomerulus karena diameter arteriol eferen yang
besar, akibatnya laju filtrasi menurun.
PEMBAHASAN

Pada unit fungsiaonal ginjal, nefron, terdapat "bola" kapiler, yang disebut glomerulus,
dibungkus oleh kapsul berisi cairan, yang disebut kapsula Bowman. Arteriol afferent membawa
atau menyalurkan darah ke glomerulus. Saat darah mengalir melalui glomerulus, plasma bebas
protein menyaring melalui kapiler glomerulus ke dalam kapsul Bowman. Biasanya, sekitar
20% dari plasma yang memasuki penyaringan glomerulus. Kemudian arteriol efferent akan
mengangkut darah yang tersisa di glomerulus.

Laju filtrasi glomerulus dapat dipengaruhi oleh radius arteriol. Dapat dilihat dari hasil
praktikum bahwa peningkatan radius arteriol afferent berbanding lurus dengan peningkatan
tekanan darah dan laju filtrasi glomerulus. Hal ini terjadi karena aliran darah akan lebih mudah
masuk ke glomerulus melalui arteriol afferent dengan radius yang besar, maka aliran darah
yang memasuki glomerulus semakin tingi. Darah yang mengalir melewati glomerulus akan
semakin banyak dan cepat, sehingga laju proses filtrasi pada glomerulus akan meningkat.

Dapat dilihat dari data hasil praktikum, peningkatan radius arteriol efferent akan
menurunkan laju filtrasi glomerulus atau berbanding terbalik dengan tekanan darah dan laju
filtrasi glomerulus. Hal ini terjadi karena semakin besar radius arteriol efferent, maka darah
saat di glomerulus akan mudah keluar dan tekanan darah di kapiler glomerulus menurun,
sehingga laju filtrasi glomerulus menurun. Berbeda saat penurunan radius arteriol efferent.
Radius arteriol eferen yang kecil atau menyempit akan membuat darah sulit keluar dari
glomerulus dan darah akan terkumpul/terakumulasi di dalam kapiler glomerulus. Keadaan
tersebut tidak akan menurunkan tekanan darah di kapiler glomerulus serta meningkatkan laju
filtrasi glomerulus.
LAB REPORT

ACTIVITY 2 : The Effect of Pressure on Glomerular Filtration

Eksperimen Data :
REVIEW SHEET

1. As blood pressure increased, what happened to the glomerular capillary pressure


and the glomerular filtration rate? How well did the results compare with your
prediction? You did not answer this question.
Jawab :
Pada saat tekanan darah meningkat, tekanan kapiler glomerulus dan laju filtrasi
glomerulus akan meningkat. Peningkatan tekanan darah menyebabkan lebih banyak
darah masuk ke kapiler bowman dari kapsul bowman per satuan waktu yang akan
mengarah pada peningkatan tekanan kapiler glomerulus dan tingkat filtrasi juga akan
meningkat karena tekanan yang lebih tinggi di kapiler bowman, sehingga
memungkinkan lebih banyak produk yang berdifusi ke dalam sel – sel ginjal.
2. Compare the urine volume in your baseline data with the urine volume as you
increased the blood pressure. How did the urine volume change? You did not
answer this question.
Jawab :
Pada saat tekanan darah meningkat, volume urin juga meningkat. Peningkatan
urin dapat digambarkan sebagai efek dari peningkatan tekanan darah sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler glomerulus. Peningkatan tekanan darah
dapat disebabkan oleh tingginya asupan natrium dan rendahnya asupan kalsium,
magnesium, serat dan kalium.
3. How could the change in urine volume with the increase in blood pressure be
viewed as being beneficial to the body?
Jawab :
Volume urine meningkat dengan adanya peningkatan tekanan darah yang
dianggap bermanfaat bagi tubuh hal disebabkan karena urine bermanfaat untuk
mengeluarkan limbah dan racun dari dalam tubuh. Sehingga semakin banyak urin yang
diproduksi maka, lebih banyak produk hasil eksresi dikeluarkan lebih cepat dari tubuh
daripada biasanya. Dimana eksreksi urine berfungsi untuk membuang molekul-molekul
sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan
tubuh.
4. When the one-way valve between the collecting duct and the urinary bladder was
closed, what happened to the filtrate pressure in Bowman's capsule (this is not
directly measured in this experiment) and the glomerular filtration rate? How well
did the results compare with your prediction?
Jawab :
Apabila katup satu arah antara saluran pengumpul dan kandung kemih ditutup,
maka tekanan filtrate dalam kapsul bowman tidak berubah, sedangkan laju filtrasi
glomerulus mengalami penurunan. Tingkat filtrasi mengalami penurunan karena katup
tertutup, artinya tidak ada urin yang keluar karena terjebak disaluran kemih yang
menyebabkan umpan balik negative terhadap laju filtrasi. Tingkat filtrasi menurun
disebabkan oleh sistem yang tidak dapat menyaring sebanyak mungkin, karena sudah
ada jumlah filtrate tertentu yang sudah ada dalam system.
5. How did increasing the blood pressure alter the results when the valve was closed?
Jawab :
Tekanan darah tidak mengalami perubahan walaupun katup telah ditutup. Sebab
tekanan pada glomerulus tetap sama, hanya saja ketika katup ditutup, laju filtrasi dalam
glomerulus mengalami penurunan.
PEMBAHASAN

Ginjal merupakan suatu organ yang terletak retroperitoneal pada dinding abdomen di
kanan dan kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 hingga L3. Renal tubule dalam bahasa
Indonesia disebut tubulus ginjal. Komponen tubular yang berada di ginjal meliputi kapsula
bowman, tubulus proksimal, lengkung henle, tubulus distal dan tubulus koligentes. Selain dari
komponen tubular, dalam ginjal juga terdapat komponen vaskular dan komponen kombinasi
vaskular dan tubular. Komponen vaskular terdiri dari arteriola aferen, arteriola eferen, kapiler
peritubulus, dan glomerulus. Glomerulus merupakan bagian dominan dari komponen vaskular
nefron yaitu, suatu kuntum kapiler berbentuk bola tempat filtrasi sebagian air dan zat terlarut
dari darah yang melewatinya. Filtrasi sendiri merupakan proses penyaringan komponen-
komponen darah di glomerulus. Arteriol aferen merupakan pembuluh halus yang bertugas
untuk membawa darah ke glomerulus. Setelah melalui glomerulus, darah yang tidak terfiltrasi
akan dialirkan melalui arteriol eferen ke komponen tubulus. Di dalam sistem kemih terdapat
istilah starling force atau gradien tekanan osmotik dan hidrostatik. Di glomerulus terdapat
tekanan yang disebut sebagai tekanan kapiler glomerular, yang mana terdapat laju yang disebut
kecepatan filtrasi glomerular. Sedangkan untuk komponen kombinasi vaskular dan tubular
yaitu aparatus jukstaglomerulus, yang menghasilkan zat-zat dalam kontrol fungsi ginjal.

Pada percobaan yang kami lakukan menggunakan software PhysioEx 9.1 hari Senin,
16 November 2020 diperoleh data seperti tabel diatas. Diketahui bahwa radius aferen bernilai
0,50 mm dan radius eferen bernilai 0,45 mm. Percobaan pertama diberikan beaker press sebesar
70 mmHg, glomerulus press sebesar 49,72 mmHg, glomerular filtrat rate sebesar 58,57 ml/min,
volume urin sebesar 161,76 ml, status valve terbuka. Pecobaan kedua dilakukan dengan
menambah beaker press sebesar 10 mmHg dan begitu seterusnya sampai dengan percobaan
kelima. Pada percobaan keenam beaker press dikembalikan menjadi 70 mmHg dengan status
valve tertutup. Dan percobaan ketujuh beaker press dinaikkan menjadi 100 mmHg dengan tetap
menutup valve. Yang terakhir, percobaan kedelapan dikembalikan ke keadaan valve terbuka
dengan beaker press 100 mmHg. Dapat dilihat bahwa ketika valve tertutup, glomerular filtrate
rate rendah saat beaker press 70 mmHg, apabila diberi beaker press 100 mmHg glomerular
filtrate rate naik. Akan tetapi, volume urin keduanya 0,00 ml. Dari praktikum diatas diperoleh
bahwa jika tekanan darah naik, laju filtrasi naik, tekanan glomerulus naik. Jika tekanan darah
naik saat kondisi kantung urin tertutup, laju filtasi berkurang. Akan tetapi, tekanan glomerulus
tidak berpengaruh dengan dibuka atau tidaknya valve.
Hal tersebut dikarenakan saat tekanan darah meningkat, tekanan kapiler glomerulus dan
laju filtrasi glomerulus akan meningkat. Ketika ada peningkatan tekanan darah, maka lebih
banyak darah masuk ke kapiler bowmen dari kapsul Bowman per satuan waktu, yang mengarah
ke peningkatan tekanan kapiler glomerulus, dan tingkat fitrasi juga meningkat karena
tekanan yang lebih tinggi di kapiler bowman, yang memungkinkan lebih banyak produk untuk
berdifusi kedalam sel-sel ginjal, yang merupakan aspek penting dari ginjal, untuk menyaring
darah. Selain itu, volume urin juga meningkat. Peningkatan volume urin dapat diartikan sebagai
efek dari peningkatan tekanan darah yang menyebabkan peningkatan tekanan kapiler
glomerulus dan juga menyebabkan peningkatan difusi ke dalam sel-sel ginjal dari produk
limbah.

Pada manusia, kecepatan filtrasi terjadi antara 80-140 ml/menit, maka dalam 24 jam
ada sekitar 180 liter hasil filtrasi oleh kapiler glomerulus. Sekitar 20% darah yang masuk ke
dalam kapiler glomerulus akan mengalami filtrasi di kapsul bowman, yang disebut sebagai
filtrat. Ketika katup satu arah antara saluran pengumpul dan kandung kemih ditutup. Maka,
tekanan filtrate dalam kapsul bowman tetap sama dan laju filtrasi glomerulus menurun. Dalam
artian berarti tekanan akan meningkat dan laju filtrasi akan menurun sehingga urin tidak keluar.
Tingkat filtrasi menurun, karena sistem tidak dapat menyaring sebanyak mungkin, karena
sudah ada jumlah filtrate tertentu yang sudah ada dalam sistem. Tekanan darah pada kapiler
glomerulus dan tekanan filtrasi di sel dapat memberikan dampak terhadap kecepatan filtrasi
glomerulus. Peningkatan tekanan darah tidak mengubah tekanan ketika katup ditutup, yang
berubah hanya laju filtrasi glomerulus. Ketika katup ditutup maka laju filtrasi glomerulus akan
menurun.
LAB REPORT

ACTIVITY 3 : Renal Response to Altered Blood Pressure

Eksperimen Data :
REVIEW SHEET

1. List the several mechanisms you have explored that change the glomerular filtrate
rate. How does mechanism specifically after the glomerular filtration rate?
Jawab :
Penurunan laju filtrasi glomerulus dapat disebabkan karena penurunan curah
jantung. Penurunan curah jantung memiliki kecenderungan untuk menurunkan tekanan
glomerulus di ginjal sehingga terjadi penurunan tekanan arteri dan konstriksi simpatik
yang kuat di arteriol aferen ginjal. Biasanya bila terjadi sedikit penurunan pada filtrasi
glomerulus maka sering kali akan sangat menurunkan keluaran urine.
Penurunan laju filtrasi glomerulus akibat peningkatan tekanan hidrostatik di
Kapsula Bowman. Kenaikan tekanan hidrostatik pada kapsula Bowman akan
menurunkan LFG, sedangkan penurunan tekanan kapsula Bowman akan meningkatkan
LFG.
Penurunan LFG Akibat peningkatan tekanan osmotik koloid di Kapiler
Glomerulus. Ketika darah mengalir dari arteriol aferen melalui kapiler glomerulus
menuju ke arteriol eferen, konsentrasi protein plasma meningkat kira-kira 20 % karena
kurang lebih 1/5 cairan pada kapiler disaring ke dalam kapsula Bowman, sehingga akan
terjadi pemekatkan protein plasma glomerulus yang tidak disaring. Kenaikan tekanan
osmotik koloid plasma arterial akan meningkatkan tekanan osmotik koloid di kapiler
glomerulus, yang kemudian akan menurunkan LFG. Oleh karena itu, perubahan aliran
darah ginjal dapat memengaruhi LFG terlepas dari perubahan tekanan hidrostatik
glomerulus.
Peningkatan LFG Akibat Peningkatan Tekanan Hidrostatik di Kapiler
Glomerulus. Kenaikan tekanan hidrostatik glomerulus akan meningkatkan LFG,
sedangkan penurunan tekanan hidrostatik glomerulus akan mengurangi LFG. Tekanan
hidrostatik glomerulus ditentukan oleh tiga variabel, yaitu : tekanan arteri, tahanan
arteriol aferen, dan tahanan arteriol eferen. Kenaikan tekanan arteri cenderung
meningkatkan tekanan hidrostatik glomerulus sehingga meningkatkan LFG. Kenaikan
tahanan arteriol aferen mengurangi tekanan hidrostatik glomerulus dan menurunkan
LFG. Sebaliknya, dilatasi arteriol aferen meningkatkan tekanan hidrostatik glomerulus
dan LFG.
2. Describe and explain what happened to the glomerular capillary pressure and
glomerular filtration rate when both arteriole radii changes were implemented
simultaneously with low blood pressure. How well did the result compare with
your prediction?
Jawab:
Ginjal dapat mengatur tekanan hidrostatik pada kapiler glomerulus dan kapiler
peritubulus dengan cara mengatur tahanan arteriol aferen dan eferen. Maka dari itu,
mengubah laju filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus, atau keduanya dapat digunakan
sebagai respons terhadap kebutuhan homeostatik tubuh. Saat tekanan glomerulus dan
filtrasi glomerulus menurun maka jari-jari arteri aferen juga ikut menurun. Sedangkan
pada saat meningkatnya jari-jari arteri eferen tekanan kapiler glomerulus dan laju
filtrasi glomerulus akan menurun. Tekanan darah yang menurun juga menyebabkan
tekanan kapiler glomerulus dan laju filtrasi glomerulus menurun. Sehingga pada saat
tekanan darah rendah akan terjadi penurunan kontriksi arteriol aferen yang dapat
membantu menstabilkan tekanan kapiler glomerulus dan laju fitrasi glomerulus. Dilihat
dari data praktikum, penurunan tekanan darah menyebabkan penurunan volume urin
yang dihasilkan yaitu dari yang awalnya 200.44 mL menjadi 161.76 mL.
3. How could you adjust the afferent or efferent radius to compensate for the effect
of reduced blood pressure on the glomerular filtration rate?
Jawab :
Filtrasi terjadi pada glomerulus menghasilkan ultra filtrat. Ultra filtrat
ditampung dalam kapsula Bowman. Ultra filtrate ini menyerupai plasma, hanya tidak
mengandung protein. Darah mengalir dari arteri renalis menuju arteriol aferen dan
kemudian menuju arteriol eferen dan keluar dari glomelurus menjadi kapiler peri tubuli
di luar glomelurus. Sirkulasi ginjal unik memiliki dua jejaring kapiler, yaitu kapiler
glomerulus dan kapiler peritubulus, yang tersusun seri dan dipisahkan oleh arteriol
eferen yang membantu mengatur tekanan hidrostatik dalam kedua perangkat kapiler.
Tekanan hidrostatik yang tinggi pada kapiler glomerulus (kira-kira 60 mm Hg)
menyebabkan filtrasi cairan yang cepat, sedangkan tekanan hidrostatik yang jauh lebih
rendah pada kapiler peritubulus (kira-kira 13 mm Hg) memungkinkan reabsorpsi cairan
yang cepat. Dengan mengatur tahanan arteriol aferen dan eferen, ginjal dapat mengatur
tekanan hidrostatik pada kapiler glomerulus dan kapiler peritubulus, dengan demikian
mengubah laju filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus, atau keduanya sebagai respons
terhadap kebutuhan homeostatik tubuh. Peningkatan tahanan arteriol aferen ataupun
eferen akan menurunkan tekanan hidrostatik kapiler peritubulus dan cenderung
meningkatkan kecepatan reabsorpsi. Walaupun konstriksi arteriol eferen meningkatkan
tekanan hidrostatik kapiler glomerulus, konstriksi tersebut akan menurunkan tekanan
hidrostatik kapiler peritubulus.
4. Which arteriole radius adjustment was more effective at compensating for the
effect of low blood pressure on the glomerular filtration rate? Explain why you
think this difference occurs.
Jawab :
Penyesuaian radius arteriol aferen. Ketika arteriol afferent mengalami
vasodilatasi, radius arteriol aferen lebih besar dibandingkan dengan radius arteriol
eferen, yang menyebabkan darah lebih mudah masuk ke glomerulus melalui arteriol
aferen yang lebih lebar daripada keluar melalui arteriol eferen yang lebih sempit, maka
tekanan darah kapiler glomerulus akan tinggi karena terbendungnya volume darah di
kapiler glomerulus, hal ini akan mengkompensasi efek tekanan darah rendah pada laju
filtrasi glomerulus agar kembali normal.
5. In the body, how does a nephron maintain a near-constant glomerular filtration
rate despite a constantly fluctuating blood pressure?
Jawab :
Adanya mekanisme kontrol instrinsik dan ekstrinsik yang menghasilkan
perubahan pada arteriol aferen dan eferen sehingga dapat mempertahankan laju filtrasi
glomerulus atau Glomerular Filtration Rate (GFR).
Untuk mekanisme kontrol instrinsik berupa proses autoregulasi yang
didalamnya terdapat mekanisme miogenik yang berespons terhadap perubahan tekanan
di dalam komponen vaskular nefron; dan mekanisme umpanbalik tubuloglomerulus,
yang mendeteksi perubahan kadar garam di cairan yang mengalir melalui komponen
tubular nefron.
Untuk mekanisme kontrol ekstrinsik berupa sinyal sistem saraf simpatis ke
arteriol aferen, ditujukan untuk mengatur tekanan darah arteri jangka panjang. Sistem
saraf parasimpatis tidak memiliki pengaruh apapun pada ginjal.
PEMBAHASAN

Ginjal manusia memiliki sekitar 1,3 juta nefron. Nefron merupakan unit fungsional
terkecil pada ginjal. Setiap nefron terdiri dari badan malpighi dan tubulus ginjal. struktur dari
nefron sendiri yaitu glomerulus, tubulus proksimalis (TC1), Loop of Henle (Pars Descendens
dan Pars Ascendens), tubulus distalis (TC2), ductus koligentes. Panjang seluruh nefron sekitar
45 – 65 mm.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, radius afferent awal sebesar 0.10 mm dan
radius efferent sebesar 0.30 mm dengan tekanan 70 mm Hg menunjukkan hasil GFR
(Glomerular Filtration Rate) atau laju filtrasi gromerulus 0 ml/min. Kemudian ketika radius
afferent dinaikkan menjadi 0.50 mm dan radius efferent 0.45 dengan tekanan 90 mm Hg
menunjukkan hasil GFR sebesar 124.99 ml/min.

Setelah itu radius afferent dan radius efferent tetap namun tekanan diturunkan menjadi
70 mm Hg dan menunjukkan hasil GFR sebesar 58.57 ml/min. Lalu ketika radius afferent
dinaikkan menjadi 0.60 mm dengan radius efferent dan tekanan tetap menunjukkan hasil GFR
sebesar 114.72 ml/min. Setelah itu radius afferent diturunkan menjadi 0.50 mm dan radius
efferent juga diturunkan menjadi 0.35 mm dengan tekanan yang tetap menunjukkan hasil GFR
sebesar 77.41 ml/min. Kemudian radius afferent dinaikkan kembali menjadi 0.60 mm dan
radius efferent serta tekanan tetap menunjukkan hasil GFR sebesar 131.15 ml/min.

Jadi apabila radius afferent meningkat maka laju GFR juga akan meningkat begitupun
sebaliknya ketika radius afferent menurun maka laju GFR juga menurun. Ketika ada penurunan
tekanan darah dalam tubuh kita, suatu peningkatan dalam radius afferent dan penurunan radius
efferent akan membantu dalam menstabilkan tekanan dan tingkat filtrasi glomerulus, yang
merupakan salah satu mekanisme perlindungan tubuh, untuk melindungi diri dari tekanan
darah rendah.
LAB REPORT

ACTIVITY 4 : Solute Gradients and Their Impact on Urine Concentration

Eksperimen Data :
REVIEW SHEET

1. What happened to the urine concentration as the solute concentration in the


interstitial space was increased? How well did the results compare to your
prediction?
Jawab :
Ketika konsentrasi zat terlarut pada intersitial space meningkat maka
konsentrasi urin pun akan meningkat pula. Jika dilihatdari data eksperimen diketahui
bahwa teori ini sesuai dengan prediksi dalam data eksperimen ini, karena dengan
semakin meningkatnya konsentrasi zat terlarut pada intersitial space maka semakin
meningkat pula konsentrasi urin.
2. What happened to the volume of urine as the solute concentration in the interstitial
space was increased? How well did the results compare to your prediction?

Jawab :

Peningkatan konsentrasi solute dalam cairan interstitial menyebabkan


menurunnya volume urine dan meningkatnya konsentrasi urine. Di bawah pengaruh
ADH, ginjal dapat menghasilkan urin berkonsentrasi pekat dengan volume yang kecil.
Ginjal akan menekskresikan konsentrasi urine yang tinggi dengan osmolaritas 1200 to
1400 mOsm/L, empat sampai lima kali osmolaritas plasma. Osmolaritas pada cairan
intersitital medulla ginjal yang semakin tinggi mengakibatkan banyak semakin banyak
air yang direabsorbsi.

Pada praktikum percobaan terlihat bahwa saat konsentrasi gradien atau


konsestrasi solute ditingkatkan, volume urine menurun dan konsentrasi urine
meningkat, Pada awal konsentrasi gradien 300 mOsm, volume urine 80,57 mOsm, dan
konsentrasi urine 300 mOsm. Ketika konsentrasi gradien ditingkatkan sampai 1200
mOsm, konsentrasi urine juga meningkat menjadi 1200 mOsm, dan konsentrasi urine
menurun menjadi 16,86 mOsm. Jadi, prediksi kami bahwa ketika gradien solute pada
interstitial space ditingkatkan maka volume urine menurun dan konsentrasi urine
meningkat adalah benar.
3. What do you think would happen to urine volume if you did not add ADH to the
collecting duct?
Jawab :
ADH (Antidiuretic Hormone) merupakan hormon yang mempengaruhi banyak
sedikitnya urin yang dihasilkan. Apabila ADH menurun atau bahkan tidak ada, maka
reabsorpsi air di duktus koligentes juga menurun sehingga menyebabkan diuresis
(volume urin) meningkat.
4. Is most of the tubule filtrate reabsorbed into the body or excreted in urine?
Explain.
Jawab :
99% cairan yang difiltrasi glomerulus direabsorbsi oleh tubulus kontortus
proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Sementara 1% hasil filtrat lainnya diekskresikan sebagai urin. Substansi yang masih
berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Setelah proses
reabsorpsi, tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat
berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak
akan ditemukan lagi dan hanya menyisakan zat-zat beracun. Urin sekunder tersebut
kemudian dibawa menuju kandung kemih dan dikeluarkan dari tubuh dengan volume.
5. Can the reabsorption of solutes influence water reabsorption from the tubule
fluid? Explain.
Jawab :

Pada tubulus proximal, lengkung henle, dan tubulus distal terjadi perpindahan
garam dari cairan tubulus menuju cairan interstisial yang akan diikuti oleh perpindahan
air dari cairan tubulus menuju cairan interstisial secara osmosis atau dikenal dengan
adanya reabsorbsi zat terlarut akan memengaruhi reabsorbsi air. Oleh karena itu
perbedaan konsentrasi antara cairan interstisial dan cairan tubulus menyebabkan
terjadinya peristiwa osmosis.
PEMBAHASAN

Pada praktikum renal activity 4 yang menjadi variable control yaitu antidiuretic
hormone (ADH). ADH disebut juga hormone vasopressin yang merupakan salah satu hormone
yang terlibat dalam keseimbangan cairan. ADH dikeluarkan sebagai respon terhadap
peningkatan konsentrasi darah dan pengeluaran keringat yang berlebihan saat latihan fisik.
ADH bekerja di ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi air. Hormon ADH memengaruhi proses
penyerapan air oleh dinding tubulus. Jika ADH banyak, penyerapan air oleh dinding tubulus
akan meningkat, sehingga urine yang terbentuk sedikit. Sebaliknya, jika ADH kurang,
penyerapan air oleh dinding tubulus menurun, sehingga dihasilkan banyak urine. Pada
praktikum ini menggambarkan reabsorbsi pasif, yang dimana tidak ada pengeluaran energi
pada perpindahan netto bahan dan terjadi mengikuti penurunan gradient kimia dan osmotik.

Pada percobaan pertama, nilai dari gradient konsentrsi adalah 300 dan volume urine
senilai 80.57, ketika gradient konsentrasi ditingkatkan menjadi 600 dan 900 diperoleh
konsentrasi urine senilai 600 dan 900 serta volume urine yang diperoleh adalah 40.28 dan
26.86, dan ketika nilai gradient konsentrasinya dinaikkan lagi menjadi 1200, didapatkan
volume urine sebesar 16.86. Berdasarkan dari data hasil praktikum yang diperoleh dapat
disimpulkan bahwa nilai konsentrasi urine sama dengan nilai dari gradient konsentrasi,
sedangkan hubungan antara gradient konsentrasi dengan volume urine adalah berbanding
terbalik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai dari gradient
konsentrasi urine maka urine yang diperoleh akan lebih sedikit dan dengan konsentrasi lebih
tinggi sehingga urine terlihat lebih pekat. Urine berwarna pekat dan volume urine yang
terbentuk juga sedikit dikarenakan adanya sekresi ADH yang meningkatkan reabsorbsi air di
tubulus distal dan saluran pengumpul, sehingga pengeluaran urine berkurang dan air
direabsorbsi sementara asupan air juga ditingkatkan.
KESIMPULAN

Pada activity 1. Sel ginjal terdiri dari glomerulus yang diselimuti oleh kapsul berisi
cairan yang disebut kapsul Bowman. Arteriol aferen memasok darah ke glomerulus. Darah
yang mengalir dari arteriol aferen masuk melalui kapiler glomerulus sehingga plasma darah
terbebas dari protein akibat penyaringan kapsul Bowman. Proses tersebut dinamakan filtrasi
glomerulus. Laju filtrasi glomerulus dipengaruhi oleh radius arteriol. Hal tersebut dapat
dibuktikan melalui hasil praktikum yang menunjukkan bahwa peningkatan radius arteriol
aferen menyebabkan peningkatan tekanan darah dan laju filtrasi glomerulus. Sebaliknya, dari
hasil praktikum menunjukkan peningkatan radius arteriol eferen menyebabkan penurunan
tekanan darah dan laju filrasi glomerulus. Pada penurunan radius arteriol eferen menyebabkan
darah sukar untuk keluar dari glomerulus, sehingga darah akan tetap tertampung di dalam
kapiler glomerulus. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah dan laju filtrasi glomerulus
meningkat.

Pada activity 2. Tekanan darah pada kapiler glomerulus dan tekanan filtrasi di sel dapat
memberikan dampak terhadap kecepatan filtrasi glomerulus. Selama proses filtrasi, darah akan
masuk ke glomerulus melalui arteri afferent. Starling forces (gradien tekanan hidrostatik dan
osmotic) mendorong protein bebas yang ada dalam darah agar mengalir menuju kapiler
glomerulus dan filtrasi di kapsul bowman. Pada manusia, kecepatan filtrasi terjadi antara 80-
140 ml/menit, maka dalam 24 jam ada sekitar 180 liter hasil filtrasi oleh kapiler glomerulus.
Filtrat yang terbentuk tidak mengandung sel darah, namun didalamnya mengandung protein
bebas seperti garam dan molekul organic serupa yang ada dalam darah. Hal yang tidak normal
terjadi saat tekanan darah tinggi, pada kapiler glomerulus akan meningkatkan filtrasi. Maka
kecepatan filtrasi glomerulus dapat diubah dengan mengubah resistensi arteri afferent (yang
dapat mempengaruhi tekanan hidrostatik darah).

Pada activity 3. Sirkulasi ginjal unik memiliki dua jejaring kapiler, yaitu kapiler
glomerulus dan kapiler peritubulus, yang tersusun seri dan dipisahkan oleh arteriol eferen yang
membantu mengatur tekanan hidrostatik dalam kedua perangkat kapiler. Tekanan hidrostatik
yang tinggi pada kapiler glomerulus (kira-kira 60 mm Hg) menyebabkan filtrasi cairan yang
cepat, sedangkan tekanan hidrostatik yang jauh lebih rendah pada kapiler peritubulus (kira-kira
13 mm Hg) memungkinkan reabsorpsi cairan yang cepat. Dengan mengatur tahanan arteriol
aferen dan eferen, ginjal dapat mengatur tekanan hidrostatik pada kapiler glomerulus dan
kapiler peritubulus, dengan demikian mengubah laju filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus,
atau keduanya sebagai respons terhadap kebutuhan homeostatik tubuh. Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) atau GFR (Glomerular Filtration Rate) ditentukan oleh (1) jumlah daya
hidrostatik dan osmotik koloid pada membran glomerulus, yang menghasilkan tekanan filtrasi
neto, dan (2) koefisien filtrasi kapiler glomerulus. Tekanan hidrostatik glomerulus ditentukan
oleh tiga variabel, masing-masing variabel berada di bawah kendali fisiobogis: (1) tekanan
arteri, (2) tahanan arteriol aferen, dan (3) tahanan arteriol eferen. Kenaikan tahanan arteriol
aferen mengurangi tekanan hidrostatik glomerulus dan menurunkan LFG. Sebaliknya, dilatasi
arteriol aferen meningkatkan tekanan hidrostatik glomerulus dan LFG. Konstriksi arteriol
eferen meningkatkan tahanan aliran keluar dari kapiler glomerulus. Jika konstriksi arteriol
eferen cukup berat (melebihi tiga kali lipat kenaikan tahanan arteriol eferen), maka kenaikan
tekanan osmotik koloid akan melebihi kenaikan tekanan hidrostatik kapiler glomerulus yang
disebabkan oleh konstriksi arteriol eferen. Bila hal ini terjadi, daya neto filtrasi menjadi
menurun, menyebabkan penurunan LFG.

Pada activity 4. Transpor aktif dapat mendorong suatu zat terlarut melawan gradien
elektrokimia dan membutuhkan energi yang berasal dari metabolisme. Transpor yang
berhubungan langsung dengan suatu sumber energi, seperti hidrolisis ATP, disebut sebagai
transpor aktif primer. Contohnya adalah pompa natrium-kalium ATPase yang berfungsi pada
hampir semua bagian tubulus ginjal. Transpor yang berhubungan secara tidak langsung dengan
suatu sumber energi, seperti yang diakibatkan oleh gradien ion, disebut sebagai transpor aktif
sekunder. Reabsorpsi glukosa oleh tubulus ginjal adalah suatu contoh dari transpor aktif
sekunder. Walaupun zat terlarut dapat direabsorbsi oleh tubulus melalui mekanisme aktif atau
pasif, air selalu direabsorbsi dengan mekanisme fisik pasif (nonaktif) yang disebut osmosis.
Sebagian besar aliran osmotik air di tubulus proksimal terjadi melalui taut erat antara sel-sel
epitel dan juga melalui sel-sel itu sendiri. Pada bagian nefron yang terletak lebih distal, mulai
dari ansa Henle sampai ke tubulus koligens, taut erat ini menjadi jauh kurang permeabel
terhadap air dan zat terlarut, dan luas area permukaan membran sel-sel epitel jauh berkurang.
Akan tetapi, hormon antidiuretik (ADH) dapat sangat meningkatkan permeabilitas air di
tubulus distal dan tubulus koligens. Dari energi total yang dikeluarkan oleh ginjal, 80%

digunakan untuk transpor 𝑁𝑎+ yang menunjukkan pentingnya proses ini. Natrium direabsorpsi
di sepanjang tubulus kecuali di pars desenden ansa Henle. Reabsorpsi natrium di tubulus

proksimal berperan penting dalam reabsorpsi glukosa, asam amino, 𝐻2𝑂, 𝐶𝑙−, dan urea.

Reabsorpsi natrium di pars asendens ansa Henle, bersama dengan reabsorpsi 𝐶𝑙−, berperan
sangat penting dalam kemampuan ginjal menghasilkan urine dengan konsentrasi dan volume
bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh untuk menghemat atau mengeluarkan 𝐻2𝑂.
Reabsorpsi natrium di tubulus distal dan koligentes bervariasi dan berada di bawah kontrol
hormon. Reabsorpsi ini berperan dalam mengatur volume CES, yang penting dalam kontrol

jangka-panjang tekanan darah arteri, dan juga sebagian berkaitan dengan sekresi 𝐾+.

Aldosteron merangsang reabsorpsi𝑁𝑎+ di tubulus distal dan koligentes. Sistem hormon

terpenting dan paling terkenal yang terlibat dalam regulasi 𝑁𝑎+adalah sistem renin-
angiotensin-aldosteron (SRAA).
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Anatomi Ginjal Manusia, 2018, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Tortora, G. and Derrickson, B., 2014. Principles Of Anatomy And Physiology. Hoboken:
Wiley.

Berawi, 2009. Fisiologi Ginjal dan Cairan Tubuh Edisi 2. Bandar Lampung: Penerbit
Universitas Lampung

Sherwood, L., 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Sherwood, L., 2012, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, Edisi 6, EGC, Jakarta.

Tortora, G, J., Derrickson, B. 2011. Principles of Anatomy and Physiology Maintenance and
Continuity of The Human Body 13 th Edition. USA : John Willey dan Sans Inc.

Hall, J., dan Guyton, A. 2006. Textbook of Medical Physiology Edisi 12. Amerika Serikat:
Saunder Elsevier.

Sherwood, Lauralee. 2013. Introduction to Human Physiology. 8th Edition. West Virginia:
Cengage Learning.

Wilmore, Jack dan David Costill. 2004. Physiology of sport and exercise. United State of
America: Human Kinetic Publisher.

Anda mungkin juga menyukai