Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

JARINGAN PENGISI: JARINGAN PARENKIM DAN JARINGAN PENGUAT

Dosen Pengampu:

Dr. Evika Sandi Safitri, M.P.

Ruri Siti Resmisari, M.Si

Asisten Laboratorium:

Alviana Rochmania

Disusun Oleh:

Nama : Vivi Yenni Aryanti

NIM : 19620056

Kelas : Biologi B

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Berlakang

Jaringan merupakan kumpulan sel yang mempunyai bentuk, asal, fungsi, dan struktur
yang sama. Untuk melakukan proses-proes hidupnya, tumbuhan memiliki berbagai macam sel
yang mana memiliki fungsi-fungsi tertentu (Parjatmo, 1987). Menurut jenisnya, jaringan
pengisi pada tumbuhan dibedakan menjadi jaringan parenkim dan jaringan penguat, yang terdiri
dari jaringan kolenkim dan sklerenkim. Sel-sel parenkim memiliki dinding sel yang tipis
sehingga membentuk suatu jaringan yaitu jaringan parenkom yang merupakan jaringan dasar
pembentukan koteks dan empulur pada batang serta korteks pada akar.

Jaingan kolenkim merupakan jaringan penguat yang berasal dari jaringan parenkim
yang mengalami penebalan selulosa pada bagian sudut-sudutnya. Hal ini menunjukkan bahwa
sel-sel pada jaringan kolenkim merupakan sel hidup. Sel-sel kolenkim bersifat lentur sehingga
dapat menyokong jaringan yang lain tanpa menghambat pertumbuhan karena memiliki
kemampuan untuk memanjang bersamaan dengan pertumbuhan batang dan daun (Parjatmo,
1987). Sedangkan jaringan sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada
organ tubuh tumbuhan yang telah dewasa dan tersusun atas sel-sel mati yang seluruh bagian
dinding selnya mengalami penebalan, sehingga selnya cenderung kuat. Sel-sel sklerenkim lebih
kaku daripada sel kolenkim sehingga sel sklerenkim tidak dapat memanjang. Jaringan
sklerenkim merupakan jaringan penguat dengan dinding sekunder yang tebal. Umumnya,
jaringan sklerenkim terdiri atas zat lignin dan tidak mengandung protoplas (Hidayat, 1995).

Allah SWT. berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 10, yang berbunyi:

ُُ‫}ُيُنُبُتُ ُلُكُم‬10{ُ ُ‫هُوُالُذُيُأُنُزُلُ ُمُنُ ُالسُمُآءُ ُمُآءُلُكُمُ ُمُنُهُ ُشُرُابُ ُوُمُنُهُشُجُرُفُيُهُ ُتُسُيُمُوُن‬
ُ}11{ُُ‫بُهُُالزُرُعُُوُالزُيُتُوُنُُوُالنُخُيُلُُوُالُُعُنُابُُوُمُنُُكلُالثمراتُإنُفيُذُالُكُُلُيُةُُلُقُوُمُُيُتُفُكُرُوُن‬
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu,
sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu
menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-
tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

Dari ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Allah SWT. menciptakan berbagai
macam tumbuhan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan manusia dan membawa maslahat
di dalamnya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia makhluk paling tinggi kedudukannya di
hadapan Allah sudah sepantasnya mensyukuri akan hal tersebut. Bentuk rasa syukur manusia
terhadap ciptaan-Nya beragam, salah satunya ialah dengan menuntut ilmu. Melalui praktikum
ini, secara tidak langsung juga merupakan bentuk rasa syukur kita atas keberadaan tumbuh-
tumbuhan di sekitar. Dengan kata lain, mempelajari berbagai macam jaringan tumbuhan dan
sel-sel penyusunnya merupakan suatu bentuk tawakal kepada Allah.

Dalam praktikum jaringan pengisi kali ini, paktikan akan mempelajari mengenai
berbagai macam jaringan pengisi yang terdiri dari jaringan parenkim dan jaringan penguat,
yaitu kolenkim dan sklerenkim. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, praktikum ini
sangat penting untuk dilakukan guna mencetak generasi biologi yang mumpuni di masa depan.

1.2.Tujuan Praktikum

Tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini ialah sebagai berikut:

1. Mengamati dan menggambar berbagai macam bentuk jaringan parenkim menurut


bentuk dan fungsinya.
2. Mengidentifikasi zat penyusun penebalan dinding sel parenkim.
3. Mengamati letak parenkim pada organ tumbuhan.
4. Mengidentifikasi penyusun jaringan penguat kolenkim dan tipe-tipe kolenkim beserta
letak pada bagian tumbuhan.
5. Mengidentifikasi penyusun jaringan penguat sklerenkim beserta macam-macam
sklerenkim.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Jaringan Parenkim

Parenkim merupakan jaringan dasar yang terdapat pada seluruh tubuh tumbuhan. Istilah
parenkim umumnya menunjuk pada jaringan yang kekhsusannya relative kecil dan mempunyai
fungsi fisiologis yang sangat beragam dalam tumbuhan. Sel parenkim merupakan sel yang
masih mampu membelah, bahkan pada sel yang telah dewasa. Sel parenkim memiliki peranan
penting dalam proses penutupan luka dan regenerasi. Sel parenkim biasanya memiliki 14 sisi
dengan ukuran sedang. Jumlah sisi sel yang lebih kecil semakin berkurang, sedangkan pada sel
yang lebih besar jumlah sisinya lebih banyak. Jumlah dan ukuran ruang antarsel terjadi sebagai
akibat dari jumlah sisi polyhedral (Mulyani, 2006).

Sebagian besar tubuh tumbuhan, seperti empulur, hampir semua korteks akar dan
batang, perisikel, mesofil daun, dan daging buah terdiri atas parenkim (Erni, 2012).
Kebanyakan parenkim berdinding tipis, namun ada pula yang berdinding sangat tebal seperti
sel cadangan makanan (Hidayat, 1995). Dinding sel parenkim dasar, termasuk mesofil daun,
relative tipis dan dikelompokkan sebagai dinding primer. Lamella tengah ada yang dapat
dikenali dan ada pula yang tidak. Dinding sel biasanya terdapat plasmodesmata yang seringkali
terpusat pada noktah primer yang tersebar pada dinding (Mulyani, 2006).

Sel parenkim isodiametric berdinding tipis menempati sebagian besar korteks, area
antara epidermis dan jaringan vascular, empulur, area di dalam jaringan vascular, batang dan
akar. Sel parenkim dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan pati, protein, minyak, dan
sebagainya, dan juga memberikan dukungan bagi tanaman jika membengkak. Tekanan yang
diberikan oleh parenkim di batang berkontribusi pada pertumbuhannya (Lopez dan Barclay,
2017). Parenkim adalah jaringan penting dalam xylem sekunder tumbuhan berbiji, dengan
fungsi mulai dari penyimpanan hingga pertahanan dan memberikan efek pada sifat fisik dan
mekanik tumbuhan berbiji. Jaringan parenkim pada xylem sekunder tersusun atas sel-sel hidup
yang biasanya memiliki dinding tipis dan berbentuk persegi panjang atau persegi (Morris et al,
2015).

2.1.1. Jenis-jenis Jaringan Parenkim

Berdasarkan fungsinya, parenkim dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:

1) Klorenkim (parenkim asimilasi). Parenkim asimilasi ini mengandung banyak


klorofil yang bermanfaat bagi proses fotosintesis (sintesa karbohidrat), yang
terletak pada bagian tepi dari sel-sel tumbuhan karena proses fotosintesis
membutuhkan radiasi. Parenkim asimilasi mengandung kloroplas dan dalam
kloroplas seringkali berisi butir-butir tepung asimilasi (Sutrian, 2011).
2) Parenkim penimbun. Parenkim ini tidak berwarna dan berfungsi sebagai tempat
menyimpan cadangan makanan dan terletak di bagian lebih dalam daripada
parenkim asimilasi. Cadangan makanan yang tersimpan dalam parenkim ini ada
yang berupa zat-zat yang dapat larut dalam cairan sel (dalam vakuola), dan ada
yang berupa bahan-bahan padat (dalam vakuola dan sitoplasma). Bahan-bahan
ini merupakan bahan-bahan ergastik (mati) seperti butir-butir tepung, kristaloid,
protein, lemak ataupun tetes-tetes minyak (Sutrian, 2011). Sel-sel parenkim
penimbun tersusun rapat, tanpa ruang antarsel. Parenkim penimbun biasanya
terdapat pada empulur batang, akar, umbi, rimpang, buah, dan endosperm biji
(Mulyani, 2006).
3) Parenkim air. Jaringan ini berfungsi sebagai penyimpan air, dimana air akan
terikat dalam vakuola dari sel-selnya secara aktif. Jaringan parenkim air ini terdiri
atas sel-sel yang aktif (hidup). Selnya berukuran besar dan biasanya memiliki
dinding sel yang tipis. Sel-selnya sering tampak berupa serangkaian sel yang
memanjang menyerupai palisade. Jaringan palisade ini masing-masing selnya
memiliki sitoplasma (yang seakan-akan membentuk lapisan tipis yang melekat
pada dinding sel), sebuah inti sel dan sebuah vakuola besar yang mengandung air
atau lendir. Manfaat lendir inilah yang diperkirakan dapat menambah daya serap
dan daya menahan air pada sel-sel sekitar protoplas dan dindingnya (Sutrian,
2011).
4) Aerenkim (Parenkim udara). Sel-sel aerenkim memiliki banyak ruang antarsel
yang berkembang maksimum. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun
tumbuhan yang tumbuh di tempat yang banyak mengandung air dan tumbuhan
yang habitatnya air (hidrofit). Jaringan ini berperan dalam pertukaran udara,
misalnya pada eceng gondok (Eichornia crassipes) (Mulyani, 2006). Jaringan
aerenkim yang mengandung ruang gas yang membesar terjadi pada banyak
tumbuhan. Hal ini terjadi baik sebagai perkembangan normal maupun sebagai
respon terhadap stress (Evans, 2003). Lili air dan tumbuhan air lainnya memiliki
ruang antarsel yang agak ekstensif dan saling berhubungan di seluruh tubuh
tumbuhan (Ster, 2000).
5) Parenkim pengangkut. Parenkim ini merupakan parenkim yang berfungsi sebagai
alat pengangkut yang menghubungkan jaringan-jaringan bagian luar dan dalam
yang disebut dengan parenkim jari-jari empulur. Contohnya yaitu xylem dan
floem (Mulyani, 2006).
2.2.Jaringan Penguat

Jaringan penguat terdiri atas jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim yang berfungsi
sebagai penguat jaringan tumbuhan lainnya dan melindungi secara mekanik jaringan-jaringan
di sekitarnya.

2.2.1. Jaringan Kolenkim

Kolenkim merupakan jaringan mekanik yang bertugas menyokong tumbuhan. Bagian


tubuh tumbuhan yang tumbuh dengan lambat hanya mengalami sedikit pertumbuhan
sehingga dukungan dari turgor di dalam sel parenkim saja sudah cukup. Namun, kebanyakan
batang tumbuh dengan cepat dan bagian pertumbuhannya seringkali menjadi Panjang dan
ramping. Hal seperti inilah yang membutuhkan jaringan penyokong. Kolenkim terbentuk
oleh sejumlah sel yang memanjang menyerupai sel procambium dan berkembang dalam
stadium awal promeristem. Sel-sel pada jaringan kolenkim merupakan sel hidup dengan
bentuk agak memanjang, dan umumnya penebalan pada dinding selnya tidak teratur (Neil,
2005).

Kolenkim merupakan jaringan penyokong pada tumbuhan. kolenkim berfungsi


sebagai jaringan penyokong pada organ muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan herbal
(herbaceous) dan bahkan pada organ dewasa. Kolenkim bersifat plastis sehingga dapat
meregang secara irreversible dengan adanya pertumbuhan organ (Hidayat, 1995). Jaringan
kolenkim tersusun atas bahan berupa hemiselulosa, selulosa, dan pektik. Hal ini memberikan
dukungan, struktur, kekuatan mekanik, dan fleksibilitas pada tangkai daun, urat daun, dan
batang tanaman muda yang memungkinkan terjadinya pembengkokan tanpa adanya
kerusakan. Jaringan kolenkim juga terdapat pada hypodermis buah alpukat. Sel kolenkim
mungkin atau mungkin tidak mengandung kloroplas, dan dapat melakukan fotosintesis dan
menyimpan makanan (Lopez dan Yahia, 2019).

Pada bagian tumbuhan yang tua, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi
sklerenkim dengan pembentukan dinding sekunder yang berlignin. Terpusatnya lignin
terjadi terutama lapisan dinding terluar. Umumnya, kolenkim diartikan sebagai jaringan
penunjang yang muda dan apabila kolenkim terdapat pada organ yang berkanjang (peristem)
untuk periode yang lama, kolenkim akan mengalami sklerifikasi (Mulyani, 2006). Tiga ciri
morfologi kolenkim yang paling khas yaitu berupa selnya yang memanjang secara aksial,
penebalan dinding selnya, dan protoplasma yang masih hidup. Selama elongasi, sel
kolenkim tidak membelah banyak sebagai sel parenkim sekitarnya, yang menjelaskan sifat
prosenkimnya. Namun, ukuran dan bentuk sel masih dapat bervariasi dari sel isodiametric
dan prismatic pendek hingga sel pnjang seperti serat dengan ujung meruncing (Leroux,
2012).

Kolenkim terdapat pada batang, daun, bunga, buah, dan akar. Kolenkim berkembang
terutama jika mendapat sinar. Kolenkim biasanya terdapat tepat di bawah jaringan
epidermis, akan tetapi dalam hal khusus terdapat satu atau dua lapisan parenkim si antara
epidermis dan kolenkim. Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam. Ada yang berbentuk
prisma pendek, mirip sel parenkim, atau panjang seperti serabut dengan ujung meruncing.
Sel kolenkim yang terpanjang dijumpai di daerah pusat untaian kolenkim, dan terpendek di
daerah tepi (Mulyani, 2006). Pada batang dan tangkai daun, kolenkim biasanya terbentuk
pada posisi porifera dan dapat ditemukan tepat di bawah epidermis atau dipisahkan darinya
oleh satu atau beberapa lapisan parenkim epidermis (Leroux, 2012).

Menurut Hidayat (1995), berdasarkan tipe penebalan dindingnya kolenkim dibedakan


menjadi beberapa macam, diantaranya:

a. Kolenkim sudut (Angular kolenkim), penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada
sudut-sudut sel. Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada
tempat bertemunya tiga sel atau lebih.
b. Kolenkim lamellar, penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding tangensial
sel. Kolenkim lamellar terdapat pada korteks batang Sumbucur nigra.
c. Kolenkim lacunar, penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding-dinding yang
berbatasan dengan ruang antarsel.
d. Kolenkim cincin, pada kolenkim cincin dewasa tampak adanya penebalan dinding sel
secara terus menerus sehingga lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.
2.2.2. Jaringan Sklerenkim

Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh
tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel mati yang seluruh
bagian dindingnya mengalami penebalan sehingga strukturnya kuat, sel-selnya lebih kaku
daripada sel kolenkim dan selnya tidak dapat memanjang. Jaringan sklerenkim merupakan
jaringan penguat dengan dinding sel sekunder yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim
terdiri atas zat lignin dan tidak mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai
pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengalami pertumbuhan dan perkembangan (Hidayat,
1995).
Jaringan sklerenkim yang telah dewasa terdiri dari sel-sel mati yang memiliki dinding
sel tebal yang mengandung lignin dan kandungan selulosa tinggi (60% - 80%), dan berfungsi
sebagai penopang structural pada tumbuhan. sel sklerenkim memiliki dua jenis dinding sel,
yaitu dinding sel primer dan sekunder. Dinding sekunder sangat tebal dan sangat lignifikasi
(15% - 35%) dan memberikan kekakuan dan kekerasan yang besar pada sel dan jaringan.
Jaringan sklerenkim terdiri dari dua jenis, yaitu serat (fiber) dan sel batu (sklereid) (Lopez
dan Yahia, 2019).

Menurut Agustina et al (2010), ciri-ciri jaringan sklerenkim yaitu berupa sel mati,
dinding selnnya berlignin (zat kayu) dan mengandung selulosa sehingga sel-selnya menjadi
kuat dan keras. Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder. Jaringan ini
umumnya terdapat pada batang dan tulang daun.

Ada dua jenis sklerenkim, yaitu serat dan sklereid. Serat yaitu sel yang panjang dan
sangat sempit dengan ujung dinding yang meruncing tajam. Serat berfungsi dalam
mendukung mekanis berbagai organ dan jaringan. Serat sering terdapat dalam jumlah
berkelompok atau bundle. Sklereid berbentuk isodiametris hingga tak beraturan atau
bercabang. Sklereid juga dapat berfungsi sebagai penyangga structural, tetapi perannya
dalam beberapa organ tumbuhan tidak jelas. Evolusi sklerenkim terutama serabut dengan
dinding sel sekunder lignifikasi, merupakan adaptasi tanaman utama yang memungkinkan
dukungan structural yang diperlukan untuk mencapai tinggi batang yang lebih tinggi
(Simpson, 2019).

Sklerenkim terdiri atas fiber atau serat-serat dan sklereid atau sel-sel batu (Sutrian,
2011).

1) Fiber (serat). Fiber atau serat-serat sklerenkim pada umumnya terdapat dalam bentuk
untaian (strand) yang terpisah-pisah atau dalam bentuk lingkaran. Selain yang berbentuk
silinder, ada pula serat sklerenkim yang berupa berkas-berkas pembuluh terutama pada
bagian tepi dari batang, seperti yang terdapat pada genus Zea, Saccharum, Andropogen,
dan Sorghum (Sutrian, 2011).
2) Sklereid (sel batu). Sklereid juga memiliki bentuk, penebalan dinding sel, ukuran, dan
jumlah noktah yang bermacam-macam pula. Beberapa sel sklereid berbentuk agak
memanjang dan beberapa lainnya berbentuk seperti sel-sel parenkim, misalnya sel-sel
sklereid pada dinding buah dan biji (Sutrian, 2011). Sklereid terdapat di berbagai tempat
dalam tubuh tumbuhan. Menurut Hidayat (1995), sklereid dibedakan menjadi empat
macam, yaitu:
1. Brakisklereida, yaitu sel batu berbentuk isodiametris. Biasanya terdapat dalam floem,
korteks, kulit kayu bagian batang dan daging buah pir (Pyrus communis).
2. Makrosklereida, yaitu sklereid yang berbentuk tangkai dan sering membentuk lapisan
dalam testa dari biji Leguminosae.
3. Osteosklereida, yaitu sklereid yang berbentuk tulang, ujungnya membesar, berongga,
dan bahkan seringkali bercabang. Ditemukan dalam kulit biji dan dalam daun dikotil
tertentu misalnya pada kulit biji kacang merah.
4. Asterosklereida, yaitu sklereid yang bercabang dan seringkali berbentuk bintang.
Sklereid jenis ini sering terdapat pada daun teh.
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1.Alat dan Bahan


3.1.1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah sebagai berikut:

1. Mikroskop cahaya 1 buah


2. Gelas benda dan penutup 10 buah
3. Kuas 1 buah
4. Pinset kecil 1 buah
5. Jarum preparat 1 buah
6. Silet 1 buah
7. Pipet tetes 1 buah
8. Kobokan Secukupnya
9. Lap 1 buah
10. Kertas hisap Secukupnya

3.1.2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini ialah sebagai berikut:

1. Air Secukupnya
2. Daun kaktus (Opuntia sp.) 1 buah
3. Daun talas (Colocasia sp.) 1 buah
4. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) 1 buah
5. Tangkai daun bunga kana (Canna indica) 1 buah
6. Tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes) 1 buah
7. Tangkai daun kangkong air (Ipomea aquatica) 1 buah
8. Tangkai daun bunga terompet (Allamanda sp.) 1 buah
9. Tangkai daun seledri (Apium graveolens) 1 buah
10. Buah pir (Pyrus sp.) 1 buah
11. Daun ki apu (Pistia sp.) 1 buah

3.2.Langkah Kerja

Langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini ialah sebagai berikut:
3.2.1. Pengamatan pada daun kaktus (Opuntia sp.)
1. Disiapkan kaca benda bersih yang ditetesi air diatasnya.
2. Dibuat preparat irisan melintang daun Kaktus (Opuntia sp.)
3. Diletakkan pada tetesan air di atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas
penutup.
4. Dimati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam dan diamati bentuk
parenkimnya.
5. Ditentukan jenis parenkim dan digambar bentuk parenkimnya.
3.2.2. Pengamatan pada daun talas (Colocasia sp.)
1. Disiapkan kaca benda bersih yang ditetesi air diatasnya.
2. Dibuat preparat irisan melintang daun talas (Colocasia sp.).
3. Diletakkan pada tetesan air di atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas
penutup.
4. Dimati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam dan diamati bentuk
parenkimnya.
5. Ditentukan jenis parenkim dan digambar bentuk parenkimnya.
3.2.3. Pengamatan pada daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
1. Disiapkan kaca benda bersih yang ditetesi air diatasnya.
2. Dibuat preparat irisan melintang daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
3. Diletakkan pada tetesan air di atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas
penutup.
4. Dimati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam dan diamati bentuk
parenkimnya.
5. Ditentukan jenis parenkim dan digambar bentuk parenkimnya.
3.2.4. Pengamatan pada tangkai daun bunga kana (Canna indica)
1. Disiapkan kaca benda bersih yang ditetesi air diatasnya.
2. Dibuat preparat irisan melintang tangkai daun bunga Kana (Canna indica).
3. Diletakkan pada tetesan air di atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas
penutup.
4. Dimati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam dan diamati bentuk
parenkimnya.
5. Ditentukan jenis parenkim dan digambar bentuk parenkimnya.
3.2.5. Pengamatan pada tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes)
1. Disiapkan kaca benda bersih yang ditetesi air diatasnya.
2. Dibuat preparat irisan melintang tangkai daun eceng gondok (Eichornia
crassipes).
3. Diletakkan pada tetesan air di atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas
penutup.
4. Dimati sel-sel penyusun jaringan yang letaknya paling dalam dan diamati bentuk
parenkimnya.
5. Ditentukan jenis parenkim dan digambar bentuk parenkimnya.
3.2.6. Pengamatan pada tangkai daun kangkung (Ipomea aquatica)
1. Dibuat preparat irisan melintang tangkai daun kangkung (Ipomea aquatica) dan
diamati di bawah mikroskop.
2. Diperhatikan lapisan sel dibawah epidermis pada bagian rigi-riginya (yang
menojol).
3. Dilihat bagian dinding sel yang menebal.
4. Digambar dan ditentukan bentuk kolenkimnya menurut penebalan dinding sel
penyusunnya!
3.2.7. Pengamatan pada tangkai daun bunga terompet (Allamanda sp.)
1. Dibuat preparat segar irisan melintang tangkai daun bunga terompet (Allamanda
sp.) setipis mungkin dalam air.
2. Diamati di bawah mikroskop.
3. Dicari dan digambar macam kolenkim yang tampak.
3.2.8. Pengamatan pada tangkai daun seledri (Apium graveolens)
1. Dibuat preparat irisan melintang tangkai daun seledri (Apium graviolens) dan
diamati di bawah mikroskop.
2. Diperhatikan lapisan sel dibawah epidermis pada bagian rigi-riginya (yang
menojol).
3. Dilihat bagian dinding sel yang menebal.
4. Digambar dan ditentukan bentuk kolenkimnya menurut penebalan dinding sel
penyusunnya!
3.2.9. Pengamatan pada buah pir (Pyrus sp.)
1. Dibuat preparat irisan melintang daging buah pir (Pyrus sp.) setipis mungkin.
2. Diamati di bawah mikroskop.
3. Dicari dan Digambar macam sklereid yang tampak.
3.2.10. Pengamatan pada daun Ki Apu (Pistia sp.)
1. Dibuat preparat segar irisan melintang daun Ki Apu (Pistia sp.) setipis mungkin
dalam air.
2. Diamati di bawah mikroskop.
3. Dicari dan digambar macam sklereid yang tampak.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Opuntia sp.
4.1.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan parenkim air pada daun Opuntia sp. dengan perbesaran 100x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

(Ventura et al, 2017)


Keterangan:
Parenkim Air

4.1.2. Klasifikasi

Menurut Cronquist (1981), klasifikasi dari tanaman Opuntia sp. ialah sebagai
berikut:

Kingdom : Plantae

Phylum : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Order : Caryophyllales

Family : Cactaceae

Genus : Opuntia

Species : Opuntia sp.

4.1.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan parenkim pada irisan


melintang daun kaktus (Opuntia sp.) yang diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran
100x. Dari hasil yang didapatkan, terlihat bahwa daun kaktus memiliki jaringan parenkim
dengan jenis parenkim air. Hal ini ditandai dengan adanya struktur berupa sel parenkim
bening yang berukuran lebih besar daripada sel parenkim lainnya. Pernyataan tersebut sesuai
dengan Sutrian (2011), yang menyatakan bahwa jaringan parenkim air terdiri atas sel-sel
yang aktif (hidup) yang berukuran besar dengan dinding sel yang tipis. Sel parenkim air
tersebut berukuran lebih besar daripada sel parenkim lainnya dikarenakan di dalamnya
terdapat air yang berfungsi sebagai cadangan bagi tumbuhan kaktus, mengingat habitat dari
tumbuhan kaktus umumnya berada di tempat kering. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Sutrian (2011), yang menyatakan bahwa sel parenkim air merupakan vakuola besar yang
mengandung air atau lendir yang diperkirakan dapat menambah daya serap dan daya
menahan air pada sel-sel sekitar protoplas dan dindingnya.

4.2.Colocasia sp.
4.2.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan parenkim asimilasi pada daun Colocasia sp. dengan


perbesaran 400x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

3
2 1 2 3
(Hughes dkk, 2014)
Keterangan:
1. Kutikula
2. Palisade
3. Bunga karang

4.2.2. Klasifikasi

Menurut Rashmi et al (2018), klasifikasi dari tanaman Colocasia sp. ialah


sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Order : Arales
Family : Araceae
Genus : Colocasia
Species : Colocasia esculenta
4.2.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan parenkim pada sayatan


melintang daun talas (Colocasia sp.), yang diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran
400x. Dari hasil pengamatan yang didapatkan, terlihat struktur berupa tonjolan-tonjolan
kecil di permukaan daun yaitu kutikula. Di sebelah dalam kutikula, terdapat jaringan
palisade dan di bawahnya lagi merupakan jaringan bunga karang.

Jaringan palisade terlihat berwarna hijau karena mengandung zat klorofil yang
berguna untuk proses fotosintesis. Dengan demikian, jaringan palisade yang terdapat pada
daun Colocasia sp. merupakan parenkim asimilasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Sutrian (2011), bahwa parenkim asimilasi mengandung banyak klorofil yang bermanfaat
bagi proses fotosintesis yang terletak pada bagian tepi dari sel tumbuhan karena proses
fotosintesis membutuhkan cahaya matahari. Daun Colocasia sp. hanya memiliki jaringan
palisade pada permukaan atas (adaksial) saja dengan ketebalan yang bervariasi. Hal ini
diperkuat dengan pernyataan Dorly dan Yohana (2007), yang menyatakan bahwa daun
Colocasia sp. merupakan daun dengan tipe bifasial dengan jaringan palisade terdapat pada
permukaan atas saja, dengan jumlah lapisan dan ketebalan yang bervariasi pada masing-
masing spesiesnya.

4.3.Hibiscus rosa-sinensis
4.3.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan parenkim asimilasi pada daun Hibiscus rosa-sinensis dengan


perbesaran 400x.

Foto Pengamatan Foto Literatur


1 2 1
2

(Zahid et al, 2016)


Keterangan:
1. Jaringan Palisade
2. Jaringan bunga karang

4.3.2. Klasifikasi

Menurut Lawrence (1951), klasifikasi dari tanaman Hibiscus rosa-sinensis


ialah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Order : Malvales
Family : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis
4.3.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan parenkim pada sayatan


melintang daun Hibiscus rosa-sinensis, yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 400x. Dari hasil pengamatan yang didapatkan, terlihat struktur berupa kutikula
pada permukaan atas maupun bawah daun. Di bawah kutikula, terdapat jaringan palisade
yang berbentuk memanjang dengan warna hijau yang dihasilkan oleh kloroplas. Pernyataan
ini sesuai dengan Zahid et al (2016), yang menyatakan bahwa sel parenkim palisade pada
daun Hibiscus rosa-sinensis berbentuk memanjang dan silindris yang kaya akan kloroplas.
Zahid et al (2016) juga menambahkan bahwa permukaan daun Hibiscus rosa-sinensis, baik
adaksial maupun abaksial ditutupi oleh kutikula yang halus. Zahid et al (2016) dalam
penelitiannya mengungkapkan bahwa daun Hibiscus rosa-sinensis memiliki struktur
dorsiventral dengan satu baris palisade atas yang terputus-putus di daerah pelepah. Hal ini
sejalan dengan hasil pengamatan di atas, yang memperlihatkan struktur sel palisade
terdapat di permukaan atas daun.

Dengan adanya anatomi berupa jaringan palisade yang mengandung kroloplas,


maka dapat dipastikan bahwa jaringan tersebut dapat melakukan proses fotosintesis. Oleh
karena itu, jaringan parenkim yang terdapat pada daun Hibiscus rosa-sinensis merupakan
jaringan parenkim klorenkim atau parenkim asimilasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Sutrian (2011), bahwa parenkim asimilasi mengandung banyak klorofil yang bermanfaat
bagi proses fotosintesis yang terletak pada bagian tepi dari sel tumbuhan karena proses
fotosintesis membutuhkan cahaya matahari.

4.4.Canna indica
4.4.1. Tabel hasil pembahasan

Hasil pengamatan parenkim udara (aerenkim) pada tangkai daun Canna indica
dengan perbesaran 100x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

(Rohmana, 2015)
Keterangan:
1. Aerenkim pada tangkai daun Canna indica

4.4.2. Klasifikasi

Menurut Steenis (1988), klasifikasi dari tanaman Canna indica ialah sebagai
berikut:

Kingdom : Plantae

Phylum : Magnoliophyta

Class : Liliopsida
Order : Zingiberales

Family : Cannaceae

Genus : Canna

Species : Canna indica

4.4.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan parenkim pada sayatan


melintang tangkai daun Canna indica, yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 100x. Berdasarkan hasil pengamatan, sayatan melintang daun Canna indica
memperlihatkan rongga-rongga berukuran besar dengan bentuk menyerupai bintang.
Rongga-rongga tersebut merupakan jaringan parenkim berupa aerenkim atau parenkim
udara yang berfungsi sebagai alat pertukaran udara dan membantu tanaman untuk tetap
mengapung di permukaan air. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian Angeles et al
(2013), yang menyatakan bahwa pada tangkai daun Canna indica terdapat jaringan
parenkim berupa spons yaitu aerenkim yang berbentuk bintang (aktinenkim). Hal ini
diperkuat oleh Mulyani (2006), yang menyatakan bahwa aerenkim banyak terdapat pada
batang dan daun tumbuhan yang tumbuh di tempat yang banyak mengandung air dan
tumbuhan yang habitatnya di air (hidrofit), dan parenkim jenis ini berperan penting untuk
pertukaran udara.

4.5.Eichornia crassipes
4.5.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan parenkim udara (aerenkim) pada tangkai daun Eichornia


crassipes dengan perbesaran 100x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

1 2

(Pereira et al, 2017)


Keterangan:
1. Sel parenkim
2. Lumen berisi udara

4.5.2. Klasifikasi

Menurut Moenandir (1990), klasifikasi dari tanaman Eichornia crassipes ialah


sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Order : Commelinales
Family : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Species : Eichornia crassipes
4.5.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan parenkim pada sayatan


melintang tangkai daun Eichornia crassipes, yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 100x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang tangkai daun
Eichornia crassipes memperlihatkan struktur berupa rongga-rongga berisi udara dengan
ukuran yang sangat besar. Rongga-rongga tersebut merupakan jaringan parenkim berupa
aerenkim (parenkim udara). Pernyataan tersebut sesuai dengan Pereira et al (2017), yang
menyatakan bahwa parenkim spons pada Eichornia crassipes terdiri dari ruang aerenkim
besar yang diisi dengan trabekula yang dibentuk oleh kumpulan sel parenkim.

Parenkim udara umumnya terdapat pada tumbuhan hidrofit atau tumbuhan air
yang menjadikan tumbuhan tersebut dapat mengapung di permukaan air. Hal ini diperkuat
oleh Mulyani (2006), yang menyatakan bahwa aerenkim banyak terdapat pada batang dan
daun tumbuhan yang tumbuh di tempat yang banyak mengandung air dan tumbuhan yang
habitatnya di air (hidrofit), dan parenkim jenis ini berperan penting untuk pertukaran udara,
misalnya pada eceng gondok (Eichornia crassipes). Jika diperhatikan, jumlah lumen yang
berisi udara lebih mendominasi daripada sel-sel lainnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Tanzerina et al (2013), yang mengungkapkan bahwa tumbuhan air memiliki sedikit
jaringan penyokong dan pelindung, xylem mengecil, dan memiliki ruang udara yang
banyak.

4.6.Ipomea aquatica
4.6.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan kolenkim pada tangkai daun Ipomea aquatica dengan


perbesaran 400x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

2
1
1 2

(Rimbun et al, 2014)


Keterangan:
1. Ruang antar sel
2. Penebalan sel

4.6.2. Klasifikasi

Menurut Cronquist (1981), klasifikasi dari tanaman Ipomea aquatica ialah


sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Solanales
Family : Convolvulaceae
Genus : Ipomea
Species : Ipomea acuatica
4.6.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan kolenkim pada sayatan


melintang tangkai daun Ipomea aquatica, yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 400x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang tangkai daun
Ipomea aquatica memperlihatkan struktur berupa sel-sel berbentuk heksagonal yang
tersusun rapat. Sel-sel tersebut membentuk suatu jaringan berupa jaringan kolenkim, dan
dinding selnya mengalami penebalan. Kolenkim yang terdapat pada tangkai daun Ipomea
aquatica merupakan kolenkim tipe lacunar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hidayat
(1995), yang menyatakan bahwa penebalan dinding sel kolenkim lacunar terjadi pada
dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang antarsel. Hidayat (1995) juga
menambahkan bahwa jaringan kolenkim berfungsi sebagai jaringan penyokong pada organ
muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan herbal (herbaceous), dan bahkan pada organ
yang sudah tua sekalipun.

4.7.Allamanda sp.
4.7.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan kolenkim pada tangkai daun Allamanda sp. dengan


perbesaran 100x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

(Ririanti, 2015)

Keterangan:
1. Kolenkim anular pada tangkai daun Allamanda sp.

4.7.2. Klasifikasi

Menurut Heyne (1987), klasifikasi dari tanaman Allamanda sp. ialah sebagai
berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Order : Apocynales
Family : Apocynaceae
Genus : Allamanda
Species : Allamanda sp.
4.7.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan kolenkim pada sayatan


melintang tangkai daun Allamanda sp., yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 100x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang tangkai daun
Allamanda sp. memperlihatkan sel-sel berbentuk bulat yang tersusun rapat. Sel-sel tersebut
mengalami penebalan pada dindingnya sehingga ruang antarsel tampak dalam jumlah yang
sedikit. Kumpulan sel-sel tersebut membentuk suatu jaringan yaitu berupa jaringan
kolenkim. Jika dilihat dari bentuk penebalan dinding selnya, kolenkim pada tangkai daun
Allamanda sp. merupakan jaringan kolenkim dengan tipe anular atau kolenkim cincin. Hal
ini ditandai dengan bentuk sel yang bulat dan tidak memiliki sudut. Pernyataan tersebut
sesuai dengan penjelasan Hidayat (1995), yang mengungkapkan bahwa pada kolenkim
cincin atau anular tampak adanya penebalan dinding sel secara terus-menerus sehingga
lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.

4.8.Apium graveolens
4.8.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan kolenkim pada tangkai daun Apium graveolens dengan


perbesaran 400x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

(Hajiboland et al, 2012)


Keterangan:
Penebalan sudut (kolenkim angular) pada tangkai daun Aspium graveolens

4.8.2. Klasifikasi
Menurut Arisandi dan Sukohar (2016), klasifikasi dari tanaman Apium
graveolens ialah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophytes
Class : Magnoliopsida
Order : Apicedes
Family : Apiceae
Genus : Apium
Species : Apium graveolens
4.8.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan kolenkim pada sayatan


melintang tangkai daun Apium graveolens, yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 400x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang tangkai daun
Apium graveolens memperlihatkan sel-sel berukuran sedang dengan penebalan pada tiap-
tiap sudut dinding selnya. Sel-sel tersebut membentuk suatu jaringan berupa jaringan
kolenkim. Berdasarkan cirinya, dapat disimpulkan bahwa jaringan kolenkim yang terdapat
pada tangkai daun Apium graveolens merupakan kolenkim tipe angular (kolenkim sudut).
Hal ini sesuai dengan pernyataan Hidayat (1995), yang menyatakan bahwa kolenkim sudut
(angular kolenkim) mengalami penebalan dinding sel yang terjadi pada sudut-sudut sel.
Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada tempat bertemunya tiga
sel atau lebih.

4.9.Pyrus sp.
4.9.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan sklerenkim pada daging buah pir (Pyrus sp.) dengan
perbesaran 100x.

Foto Pengamatan Foto Literatur

1
1
(Tao et al, 2009)
Keterangan:
1. Sel sklereid pada daging buah Pyrus sp.

4.9.2. Klasifikasi

Menurut Adiyanto (2009), klasifikasi dari tanaman Pyrus sp. ialah sebagai
berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Rosales
Family : Rocaceae
Genus : Pyrus
Species : Pyrus sp.
4.9.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan Sklerenkim pada sayatan


melintang daging buah pir (Pyrus sp.), yang diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 100x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang daging buah
Pyrus sp. memperlihatkan struktur sel berbentuk isodiametris dengan formasi berkelompok
dan tersebar. Sel-sel tersebut membentuk suatu jaringan berupa jaringan sklerenkim yang
terdiri dari sel-sel yang telah mati. Menurut Hidayat (1995), jaringan sklerenkim berfungsi
sebagai penyokong dan penyangga structural pada tumbuhan. Jaringan sklerenkim yang
terdapat di dalam daging buah Pyrus sp. merupakan sklerenkim jenis sklereid. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Sutrian (2011), yang menyatakan bahwa sel sklereid terdapat
dalam semua bagian tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh tapis, dan di dalam
daging buah atau biji. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian Tao et al
(2009), yang mengungkapkan bahwa Pyrus bretschneider dan Pyrus pyrifolia dicirikan
oleh adanya sel batu (sklereid) dengan tipe brakisklereid yang ditandai dengan bentuk
selnya yang isodiametris.

4.10. Pistia sp.


4.10.1. Tabel hasil pengamatan

Hasil pengamatan sklerenkim pada daun Pistia sp. dengan perbesaran 400x.
Foto Pengamatan Foto Literatur

1 1

(Rajanna dan Ramakrishnan, 2010)


Keterangan:
1. Sel sklereid pada daun Pistia sp.

4.10.2. Klasifikasi

Menurut Dasuki (1991), klasifikasi dari tanaman Pistia sp. ialah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Order : Arales
Family : Araceae
Genus : Pistia
Species : Pistia sp.
4.10.3. Pembahasan

Tabel di atas merupakan hasil pengamatan jaringan Sklerenkim pada sayatan


melintang daun ki apu (Pistia sp.), yang diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran
400x. Berdasarkan hasil pengamatan, preparat sayatan melintang daun Pistia sp.
memperlihatkan sel-sel menojol yang tersusun sangat rapat. Sel-sel tersebut merupakan
jaringan sklerenkim yang tersusun atas sel-sel yang telah mati. Jaringan sklerenkim pada
daun Pistia sp. merupakan sklerenkim dengan jenis sklereid (sel batu). Berdasarkan
bentuknya, sklereid pada daun Pistia sp. merupakan aestrosklereid yang ditandai dengan
susunannya yang bercabang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hidayat (1995), yang
menyatakan bahwa asterosklereida merupakan sklereid yang bercabang dan seringkali
berbentuk bintang. Sklereid jenis ini sering terdapat pada daun. Menurut Rajanna dan
Ramakrishnan (2010), sklereid pada Pistia sp. berfungsi untuk membantu dalam
beradaptasi di lingkungan air, terutama ketika terjadi kelebihan air.
BAB V

PENUTUP

5.1.Kesilmpulan

Kesimpulan dari praktikum berjudul “Jaringan Pengisi” ini ialah sebagai berikut:

1. Parenkim merupakan jaringan dasar yang terdapat pada seluruh tubuh tumbuhan.
Sebagian besar tubuh tumbuhan, seperti empulur, hampir semua korteks akar dan
batang, perisikel, mesofil daun, dan daging buah terdiri atas parenkim. Berdasarkan
fungsinya, jaringan parenkim dibedakan menjadi lima jenis, yaitu parenkim klorenkim
atau parenkim asimilasi yang berfungsi sebagai tempat terjadinya fotosintesis karena
mengandung kloroplas. Parenkim penimbun, yang berfungsi menyimpan cadangan
makanan. Parenkim air, yang berfungsi menyimpan cadangan berupa air pada tumbuhan
dengan habitat kering. Parenkim udara (aerenkim), merupakan parenkim yang berupa
lumen berisi udara yang terdapat pada tumbuhan hidrofit. Parenkim pengangkut, yaitu
parenkim yang berfungsi sebagai alat pengangkut seperti xylem dan floem.
2. Sel parenkim merupakan sel yang masih mampu membelah, bahkan pada sel yang telah
dewasa. Hal ini menandakan bahwa sel parenkim berupa sel hidup. Sel parenkim
memiliki peranan penting dalam proses penutupan luka dan regenerasi. Kebanyakan
parenkim berdinding tipis, namun ada pula yang berdinding sangat tebal seperti sel
cadangan makanan.
3. Sel parenkim isodiametric berdinding tipis menempati sebagian besar korteks, area
antara epidermis dan jaringan vascular, empulur, area di dalam jaringan vascular, batang
dan akar. Pada Opuntia sp. terdapat parenkim air pada daunnya. Spesies Hibiscus rosa-
sinensis dan Colocasia sp. terdapat parenkim berupa klorenkim atau parenkim asimilasi
pada daunnya. Pada tangkai daun Eichornia crassipes terdapat parenkim udara atau
aerenkim. Sedangkan, tangkai daun Canna indica memiliki parenkim udara (aerenkim)
dengan bentuk menyerupai bintang atau disebut aktinenkim.
4. Kolenkim merupakan jaringan penyokong pada tumbuhan. kolenkim berfungsi sebagai
jaringan penyokong pada organ muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan herbal
(herbaceous) dan bahkan pada organ dewasa. Jaringan kolenkim tersusun atas bahan
berupa hemiselulosa, selulosa, dan pektik. Hal ini memberikan dukungan, struktur,
kekuatan mekanik, dan fleksibilitas pada tangkai daun, urat daun, dan batang tanaman
muda. Tipe-tipe kolenkim di antaranya kolenkim sudut (angular), kolenkim lamellar,
kolenkim lacunar, serta kolenkim cincin (anular). Kolenkim sudut (angular) terdapat
pada tangkai daun seledri (Apium graveolens). Pada tangkai daun Ipomea aquatica
terdapat kolenkim tipe lacunar. Sedangkan pada tangkai daun Allamanda sp. terdapat
kolenkim dengan tipe anular (cincin).
5. Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh
tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel mati yang seluruh
bagian dindingnya mengalami penebalan sehingga strukturnya kuat, sel-selnya lebih
kaku daripada sel kolenkim dan selnya tidak dapat memanjang. Jaringan sklerenkim
terdiri dari dua jenis, yaitu fiber (serata) dan sklereid (sel batu). Pada daging buah Pyrus
sp., terdapat sklereid dengan tipe brakisklereida. Sedangkan pada daun Pistia sp.
terdapat sklereid dengan tipe asterosklereida yang ditandai dengan bentuk sel bercabang
dan menyerupai bintang.
5.2.Saran

Praktikum dengan judul “Jaringan Pengisi” telah terlaksana dengan baik dan teratur.
Saran terhadap praktikum selanjutnya ialah agar praktikan tetap focus dan bersungguh-
sungguh dalam menjalankan praktikum, mengingat praktikum kali ini hanya diadakan
secara online dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan praktikum
secara langsung di laboratorium. Dengan pemahaman yang baik meskipun hanya secara
online, diharapkan di waktu yang akan datang para praktikan tetap bisa menjalankan
praktikum secara langsung di laboratorium dengan tanpa kesulitan.
DAFTAR PUSTAKA

Adiyanto, I. O. 2009. Pengaruh Lama Perendaman Gigi dengan Jus Buah Pir (Pyrus communis)
terhadap Perubahan Warna Gigi pada Proses Pemutihan Gigi secara In Vitro. Laporan
Akhir Penelitian Karya Tulis Ilmiah. Semarang: Universitas Diponegoro.

Agustina, K., Sopandie, D., Trikoesoemaningtyas, dan Wirnas, D. 2010. Tanggap Fisiologi
Akar Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) terhadap Cekaman Alumunium dan
Defisiensi Fosfor di dalam Rhizotron. Jurnal Agronomi Indonesia. 38(2): 88-94.

Angeles, G., Lascurain, M., dan Sotelo, R. D. 2013. Anatomical and Physical Changes in
Leaves during the Production of Tamales. American Journal of Botany. 100(8): 1509-
1521.

Arisandi, R. dan Sukohar, A. 2016. Seledri (Apium graveolens L.) sebagai Agen Kemopreventif
bagi Kanker. Majority. 5(2): 95-100.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Classification of Flowering Plants. New York:


Columbia University Press.

Dasuki, A. U. 1991. Sistematika Tumbuhan Tinggi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Dorly dan Yohana, C. S. 2007. Anatomi beberapa Talas Liar (Colocasia esculenta L. Schott)
dari Kabupaten Bogor. Caraka Tani. 22(1): 6-11.

Erni, Mulyanie, Romdani, dan Andhy. 2012. Pohon Aren sebagai Tanaman Fungsi Konservasi.
Jurnal Geografi. 14(2): 11-17.

Evans, D. E. 2003. Tansley Review: Aerenchyma Formation. New Phytologist. 161(-): 35-49.

Hajiboland, R., Farhanghi, F. dan Aliasgharpour, M. 2012. Morphological and Anatomical


Modification in Leaf, Stem and Roots of Four Plant Species under Boron Deficiency
Conditions. Anales de Biologia. 34: 15-29.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia (Volume II). Jakarta: Badan Litbang
Kehutanan.

Hidayat, E. B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Hughes, N. M. et al. 2014. Photosynthetic Costs and Benefits of Abaxial Versus Adaxial
Anthocyanins in Colocasia esculenta ‘Mojito’. Planta. DOI 10.1007/s00425-014-2090-
6.

Lawrence, G. H. M. 1951. Taxonomy of Vascular Plants. New York: The Macmillan Company.
Leroux, O. 2012. Collenchyma: a versatile mechanical tissue with dynamic cell walls. Annals
of Botany. 110: 1083-1098.

Lopez, F. B. dan Barclay, G. F. 2017. Pharmacognosy. Amsterdam: Elsevier.

Lopez, A. C. dan Yahia, E. M. 2019. Postharvest Physiology and Biochemistry of Fruits and
Vegetables. Amsterdam: Elsevier.

Moenandir, J. 1990. Fisiologi Herbisida (Ilmu Gulma: Buku II). Jakarta: Rajawali Press.

Morris, H. et al. 2015. A Global Analysis of Parenchyma Tissue Fractions in Secondary Xylem
of Seed Plants. New Phytologist. Doi: 10.1111/nph.13737.

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi tumbuhan. Penerbit Kansius Anggota IKAPI : Yogyakarta.

Neil, A. Campbell et al. 2005. Biologi (Edisi Kedelapan). Jakarta: Erlangga.

Parjatmo. 1987. Biologi Jilid I (Edisi Kedelapan). Jakarta: Erlangga.

Pereira, F. J. et al. 2017. Anatomical and Physiological Modifications in Water Hyacinth under
Cadmium Contamination. Journal of Applied Botany and Food Quality. 90: 10-17.

Rajanna, L. dan Ramakrishnan, M. 2010. Anatomical Studies on Twelve Clones of Camellia


Species with Reference to Their Taxonomic Significance. Journal of Engineering Science
and Technology. 2(10): 5344-5349.

Rashmi, D. R. et al. 2018. Taro (Colocasia esculenta): An Overview. Journal of Medicinal


Plants Studies. 6(4): 156-161.

Rimbun, W., Maideliza, T., dan Meriko, L. 2014. Perbandingan Struktur Anatomi Organ
Vegetatif Kangkung Air (Ipomea aquatica. Forsk) pada Perairan Bersih dengan Peraira
Tercemar di Kota Padang. STKIP PGRI Sumbar.

Ririanti. 2015. Pengamatan Sel. https://ririanti18.blogspot.com/2015/02/pengamatan-sel.html.


Diakses pada tanggal 10 Maret 2021.

Rohmana, Q. A. 2015. Histologi Tumbuhan (Meristem dan Parenkim).


https://aulyarohmana16.wordpress.com/2015/06/10/histologi-tumbuhan-meristem-
parenkim. Diakses pada tanggal 10 Maret 2021.

Simpson, M. G. 2019. Plant Systematics (Third Edition). Amsterdam: Elsevier.

Steenis, C. G. Van. 1988. Flora: Untuk Sekolah Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.

Ster, K. R. 2000. Introductory Plant Biology (8th Edition). New York: Megraw-Hill.
Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan tentang Sel dan Jaringan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.

Tanzerina, N., Juswardi, dan Elyza, F. 2013. Studi Adaptasi Anatomi Organ Vegetatif Neptunia
oleraceae Lour Hasil Seleksi Lini pada Fitoremediasi Limbah Cair Amoniak. Prosiding
Semirata FMIPA Universitas Lampung. 165-174.

Tao, S. et al. 2009. Anatomy, Ultrastructure and Lignin Distribution of Stone Cells in Two
Pyrus Species. Plant Science. 176: 413-419.

Ventura, R. I. et al. 2017. Cactus Stem (Opuntia ficus indica Mill): Anatomy, Physiology and
Chemical Composition with Emphasis on its Biofunctional Properties. Journal of the
Science of Food and Agriculture. 97(15).

Zahid, H. et al. 2016. Comparative Profile of Hibiscus schizopetalus (Mast) hook and Hibiscus
rosa-sinensis L. (Malvaceae). Journal of Pharmacognocy and Phytochemistry. 5(1): 131-
136.

Anda mungkin juga menyukai