Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

PEWARNAAN GRAM

Untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi yang diampu oleh

Prof. Dr.Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok 6 / Offering I

Calvin Yudha L (190342621220)

Dahlia Normala (190342621245)

Fath Ril Aulia (190342621214)

Rinaldi Noviansyah (190342621221)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PRODI S1 BIOLOGI / PENDIDIKAN BIOLOGI

Februari 2021
A. Topik

Topik praktikum ini adalah pewarnaan bakteri secara gram

B. Tanggal

Senin, 22 Februari 2021

C. Tujuan

1. Untuk memperoleh keterampilan pewarnaan sel bakteri secara Gram.


2. Untuk menentukan sifat Gram dari bakteri yang diperiksa.

D. Dasar Teori
Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk
membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yaitu gram positif dan
gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode tersebut
diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853-
1938) yang mengembangkan teknik tersebut pada tahun 1884 untuk membedakan
antara Pneumococcus dan bakteri Klebsiella Pneumonia (Karmana,2008). Pewarnaan
gram dibagi menjadi dua hasil yaitu gram positif dan gram negatif, tergantung dari
reaksi dinding sel terhadap tinta safranin atau Kristal violet. Contoh dari bakteri gram
positif ialah Clostridium perfringens, Staphylococcus aureus, sedangkan bakteri gram
negatif misalnya adalah Escherichia Coli. Beberapa bakteri tidak terwarnai dengan
pewarnaan gram, misalnya Mycobacterium sp, karena dinding selnya mengandung
banyak lipid, sehingga digunakan pewarnaan tahan asam untuk mengidentifikasinya.
Pada pewarnaan tersebut sel bakteri akan berwarna merah tetapi sel jaringan akan
berwarna hijau (James, 2002).

Zat warna yang digunakan dalam pewarnaan bersifat basa dan asam. Pada zat
warna basa bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan
memiliki muatan positif. Sebaliknya, pada zat warna asam bagian yang berperan
memberikan zat warna mempunyai muatan negatif zat warna basa lebih banyak
digunakan karena muatan negatif banyak ditemukan di dinding sel, membran sel dan
sitoplasma, sewaktu proses pewarnaan muatan positif pada zat warna basa akan
berkaitan dengan muatan negatif dalam sel, sehingga mikroorganisme lebih jelas
terlihat (Dwidjoseputro, 2005). Zat warna asam yang bermuatan negatif lazimnya
tidak digunakan untuk mewarnai mikroorganisme, namun biasanya dimanfaatkan
untuk mewarnai latar belakang sediaan pewarnaan. Zat warna asam yang bermuatan
negatif ini tidak dapat berkaitan dengan muatan negatif yang terdapat pada struktur
sel. Kadangkala zat warna negatif digunakan untuk mewarnai bagian sel yang
bermuatan positif, perlu diperhatikan bahwa muatan dan daya ikat zat warna terhadap
struktur sel dapat berubah bergantung pada pH sekitarnya sewaktu proses pewarnaan
(Dwidjoseputro, 2005).

Prosedur pewarnaan yang menghasilkan pewarnaan mikroorganisme disebut


pewarnaan positif dalam prosedur pewarnaan ini dapat digunakan zat warna basa yang
yang bermuatan positif maupun zat warna asam yang bermuatan negatif. Sebaliknya
pada pewarnaan negatif latar belakang disekeliling mikroorganisme diwarnai untuk
meningkatkan kontras dengan mikroorganisme yang tak berwarna. Pewarnaan
mencakup penyiapan mikroorganisme dengan melakukan preparat ulas
(Dwidjoseputro, 2005). Prinsip pewarnaan Gram adalah kemampuan dinding sel
terhadap zat warna dasar (Kristal violet) setelah pencucian alkohol 95%. Bakteri Gram
positif terlihat berwarna ungu karena dinding selnya mengikat Kristal violet lebih
kuat, sedangkan sel Gram negatif mengandung lebih banyak lipid sehingga pori-pori
mudah membesar dan Kristal violet mudah larut saat pencucian alkohol (Fardiaz,
1989). Pewarnaan gram dilakukan bertujuan sama dengan uji gram yaitu untuk
membedakan bakteri apakah gram positif atau gram negatif, bakteri dicampur dengan
tetesan air steril pada gelas objek, kemudian disebarkan di tengah gelas obyek
sehingga membentuk lapisan tipis dan fiksasi.

Dalam taksonomi mikroba alat yang paling ampuh digunakan yaitu pewarnaan
Gram (Gram Stain), yang dapat digunakan untuk memisahkan anggota- anggota
dominan bakteri ke dalam dua kelompok berdasarkan perbedaan dinding selnya.
Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang lebih sederhana, dengan jumlah
peptidoglikan yang relatif banyak. Dinding sel bakteri gram-negatif memiliki
peptidoglikan yang lebih sedikit dan secara struktural lebih kompleks. Membran
bagian luar pada dinding sel gram negatif mengandung lipopolisakarida, yaitu
karbohidrat yang terikat dengan lipid. Diantara bakteri patogen, yang menyebabkan
penyakit, spesies gram negatif umumnya lebih berbahaya dibandingkan dengan
spesies grampositif. Lipopolisakarida yang terdapat pada dinding sel bakteri gram
negatif sering bersifat toksik (racun), dan membran bagian luar membantu melindungi
bakteri gram-negatif patogen melawawn sistem pertahanan inangnya. Lebih jauh,
bakteri gram negatif umumnya lebih resisten terhadap antibiotik dibandingkan dengan
gram-positif karena membran bagian luar itu menghalangi masuknya obat-obatan (
Campbell, 2003 ). Bakteri Gram Positif adalah bakteri yang memiliki dinding sel
dengan lapisan peptidoglikan yang tebal. Bakteri ini akan berwarna ungu jika diwarnai
dengan pewarnaan Gram. Contohnya Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum,
Vibrio Cholerae dan Bacillus subtilis. Sedangkan Bakteri Gram Negatif adalah bakteri
yang memiliki dinding sel dengan lapisan peptidoglikan yang tipis. Bakteri ini akan
berwarna merah muda atau merah. Contohnya Streptococcus mutans, Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli (Aryulina, 2004).

E. Alat dan Bahan

1. Alat

- Mikroskop

- Kaca benda

- Mangkuk pewarna

- Kwat penyangga

- Pipet

- Pinset

- Lampu spiritus

- Botol penyemprot.

2. Bahan
- Aquades steril
- Biakan murni bakteri umur 1 x 24 jam

- Larutan Ammonium Oksalat Kristal Violetertas

- Kertas penghisap

- Korek api

- Alkohol 95%

- Lisol

- Sabun cuci

- Larutan Safranin

- Larutan Iodium

F. Prosedur Kerja

Disediakan kaca benda yang bersih, lalu lewatkan


diatas nyala lampu spirtus

Diteteskan satu ose aquadessteril diatas kaca benda

Secara septik diambil inoculum bakteri yang akan


diperiksa, lalu diletakkan diatas tetesan aquades
steril, diratakan perlahan kemudian ditunggu
sampai kering
Dilakukan fiksasi dengan cara, sedian dilewatkan
diatas nyala api spiritus dengan cepat

Diletakkan sediaan di atas kawat penyangga yang


ada di atas mangkuk pewarna, lalu diteteskan kristal
violet larutan ammonium oksalat di atas sediaan
tersebut. Ditunggu selama 1 menit

Kelebiahan zat warna dibuang ke dalam mangkuk


dan sediaan dibilas menggunakan air kran

Diteteskan larutan iodium di atas sediaan, lalu


tunggulah selama 2 menit

Kelebihan larutan iodium di buang ke dalam


mangkuk lalu dibilas dengan air kran

Diteteskan alcohol 95% di atas sediaan, kemudian


dibiarkan selama 1 menit
Sisa alkohol dibuang dalam mangkuk dan sediaan
dibilas menggunakan air kran

Diteteskan larutan safranin di atas sediaan, lalu


dibiarkan selama 30 detik.

Kelebihan larutan safranini dibuang ke dalam


mangkuk lalu sediaan dibilas dengan air kran

Sediaan dikeringkan dengan hati-hati menggunakan


ketas penghisap, lalu diperiksa dibawah mikroskop

G. Data

Tabel 1 Hasil Pengamatan Sek Bakteri dalam Pewarnaan Secara Gram

Kode Bentuk Sel Warna Sel Sifat Gram


Gambar

A. Basil Merah Negatif

B. Coccus Ungu Positif

H. Analisis Data

Pengamatan yang dilakukan pada sel bakteri secara online, digunakan 2 koloni bakteri
untuk diwarnai menggunakan safranin dan asam oksalat kristal violet. Koloni bakteri
dengan kode A berbentuk basil dengan warna merah yang mengindikasikan sifat gram
bakteri negatif. Sedangkan koloni bakteri dengan kode B berbentuk coccus dengan
warna ungu yang mengindikasikan sifat gram bakteri positif.

I. Pembahasan

Bakteri adalah mikroorganisme yang sangat sederhana yang tidak bernukleus dan
sifatnya berbeda dengan organisme yang mempunyai inti sel. Selain itu, bakteri
merupakan organisme yang sangat kecil (berukuran mikroskopis). Akibatnya, jika tanpa
mikroskop. tidak tampak jelas dan sukar untuk melihat morfologinya. Maka dari itu,
dilakukan pewarnaan bakteri yang biasa disebut pengenceran bakteri. Pada umumnya
larutan-larutan zat warna yang digunakan adalah larutan encer yang lebih dari satu
persen.

Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak
digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam
langkah awal identifikasi. Pengecatan diferensial menggunakan dua warna yang kontras
untuk membedakan antara jenis organisme yang berbeda. Pewarnaan ini didasarkan pada
tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan
lemak pada membran sel bakteri. Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode
untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar. Gram positif dan gram
negatif, cat gram yang digunakan terdiri dari 4 macam yang masing-masing mempunyai
komposisi dan fungsi yang berbeda. Gram merupakan cat yang terdiri dari campuran
kristal violet, etil alkohol, cimemonilium oksalat dan aquades. Bukan merupakan bahan
kimia berbahaya dan biasa digunakan pewarnaan mikroskopik, baik bakteri gram positif
maupun gram negatif memberikan warna yang sama (ungu) pada pewarnaan dengan
gram A. Fungsi dari masing-masing zat warna tersebut adalah :

1. Crystal Violet, berwarna ungu. Merupakan pewarna primer (utama) yang akan
memberi warna mikroorganisme target. Crystal Violet bersifat basa sehingga mampu
berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam, dengan begitu sel
mikroorganisme yang transparan akan terlihat berwarna (Ungu).
2. Iodium, merupakan pewarna Mordan, yaitu pewarna yang berfungsi memfiksasi
pewarna primer yang diserap mikroorganisme target. Pemberian yodium pada
pengecatan gram dimaksudkan untuk memperkuat pengikatan warna oleh bakteri.
3. Alkohol, Solven organik yang berfungsi untuk membilas atau melunturkan kelebihan
zat warna pada sel bakteri (mikroorganisme). Pemberian alkohol pada pengecatan ini
dapat mengakibatkan terjadinya dua kemungkinan :
- Mikroorganisme (bakteri) akan tetap berwarna ungu
- Bakteri menjadi tidak berwarna
4. Safranin, merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi
untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan
dengan alkohol. Dengan kata lain, memberikan warna pada mikroorganisme non target.

Perlakuan dengan gram negatif yaitu campuran iodium, kalium iodium dan aquades.
Gram B merupakan larutan mordan yang berfungsi untuk mengangkat aktivitas pengikat
zat warna oleh bakteri sehingga pengikat zat warna oleh bakteri lebih kuat. memperjelas
warna dari zat tersebut mempersulit pewarnaan zat warna, pada pewarnaan terbentuknya
persenyawaan kompleks kristal violet yodium. tanpa penambahan larutan. Zat warna
kristal violet akan larut saat penambahan larutan pemulai gram merupakan cat yang
terdiri dari campuran aseton dan etil alkohol. gram c merupakan larutan pemulai. larutan
pemulai berfungsi untuk melarutkan lipid pada membran bakteri gram negatif yang akan
menyebabkan pori-pori sel membesar sehingga meningkatkan daya larut persenyawaan
kristal violet iodium. Gram D merupakan cat yang terdiri dari campuran safranin-etil
alkohol dan aquades. Safranin pada gram D tidak akan menyebabkan perubahan warna
pada bakteri positif karena persenyawaan kompleks kristal violet. Iodium tetap terikat
pada dinding-dinding sel. pada bakteri gram negatif, penambahan safranin akan
menyebabkan warna bakteri berubah menjadi merah, karena ungu yang dihasilkan oleh
kristal violet iodium telah luntur dengan tipisnya membran sel sehingga safrafin dapat
terikat. oleh karena itu gram D atau zat kedua berfungsi sebagai membedakan terhadap
zat kedua berfungsi sebagai membeda terhadap zat warna kristal violet.

Langkah selanjutnya, 1 tetes kristal violet diteteskan di atas gelas benda tersebut
kemudian didiamkan selama 30 detik. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades
hingga warnanya hilang. Kristal violet merupakan reagen yang berwarna ungu. Kristal
violet ini merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberi warna pada
mikroorganisme target. Kristal violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel
mikroorganisme yang bersifat asam. Dengan perlakuan seperti itu, sel mikroorganisme
yang transparan akan terlihat berwarna (ungu). Pemberian kristal violet pada bakteri
gram positif akan meninggalkan warna ungu muda. Perbedaan respon terhadap
mekanisme pewarnaan gram pada bakteri adalah didasarkan pada struktur dan komposisi
dinding sel bakteri. Bakteri gram positif mengandung protein dan gram negatif
mengandung lemak dalam persentasi lebih tinggi dan dinding selnya tipis. Kristal violet
yang diteteskan didiamkan selama 30 detik bertujuan agar cat atau pewarna ini dapat
melekat sempurna pada dinding sel bakteri.

Langkah percobaan yang dilakukan oleh praktikan dimulai dengan 1 tetes sampel yang
berupa bakteri sampel A dan bakteri sampel B diteteskan di atas gelas benda yang
berbeda. Kedua gelas benda berisi sampel tersebut dipanaskan (fiksasi) diatas bunsen
burner. Hal ini bertujuan untuk menguapkan air sehingga hanya akan didapat bakteri saja.
Proses fiksasi juga bertujuan supaya bakteri benar-benar melekat pada gelas benda
sehingga olesan bakteri berupa tetesan sampel tidak akan terhapus apabila dilakukan
pencucian. Yang perlu diperhatikan dalam proses fiksasi adalah bidang yang
mengandung bakteri dijaga agar tidak terkena nyala api.

Langkah selanjutnya, 1 tetes iodine diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian
didiamkan selama 1 menit. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga
warnanya hilang. Iodine merupakan pewarna Mordan, yaitu pewarna yang berfungsi
memfiksasi pewarna primer yang diserap mikroorganisme target atau mengintensifkan
warna utama. Pemberian iodine pada pengecatan Gram dimaksudkan untuk memperkuat
pengikatan warna oleh bakteri. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan
membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipid dari
dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alkohol memungkinkan hilang dari
sel. Iodium yang diteteskan didiamkan selama 1 menit bertujuan agar pengikatan warna
oleh bakteri menjadi semakin lebih kuat.

Selanjutnya, 1 tetes alkohol 95% diteteskan di atas gelas benda tersebut kemudian
didiamkan selama 30 detik. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga
warnanya hilang. Etanol 95% merupakan solven organik yang berfungsi untuk membilas
(mencuci) atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri (mikroorganisme).
Tercuci tidaknya warna dasar tergantung pada komposisi dinding sel, bila komponen
dinding sel kuat mengikat warna, maka warna tidak akan tercuci sedangkan bila
komponen dinding sel tidak kuat menelan warna dasar, maka warna akan tercuci.
Pemberian alkohol pada pengecatan ini dapat mengakibatkan terjadinya dua
kemungkinan yaitu mikroorganisme (bakteri) akan tetap berwarna ungu atau bakteri
menjadi tidak berwarna. Pemberian alkohol 95% juga menyebabkan terekstraksi lipid
sehingga memperbesar permeabilitas dinding sel.

Reaksi yang terjadi ketika penambahan alkohol 96%gram + : lipid << + alkohol 95%
pori dinding sel yang terbentuk kecil, protein dinding sel terdehidrasi, pori tertutup
(kompleks kristal violet-iodine tidak tercuci)gram - : lipid >> + alkohol 95% pori dinding
sel yang terbentuk besar, protein dinding sel terdehidrasi, pori tidak tertutup (kompleks
kristal violetiodine tercuci).

J. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh:

- Pewarnaan Gram merupakan pewarnaan diferensial yang sering dipakai sebagai tahap
awala dalam melakukan identifikasi terhadap mikroorganisme
- Pewarnaan Gram menjadi metode yang dihunakan dalam pengelompokan organisme,
karena mampu membedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu gram ppositif dan gram
negative
- Dalam melakukan metode ini, digunakan bahan yang lain terutama larutan untuk
pewarnaan, yaitu cystal violet dan safranin dan tambaha larutan lain seperti iodium dan
alkohol
- Perbedaan respon terhadap mekanisme pewarnaan gram pada bakteri adalah didasarkan
pada struktur dan komposisi dinding sel bakteri. Bakteri gram positif mengandung
protein dan gram negatif mengandung lemak dalam persentasi lebih tinggi dan dinding
selnya tipis.

K. Diskusi

1. Mengapa terjadi perbedaan hasil pewarnaan antara bakteri gram positif dan bakteri
gram negatif ? Jelaskan!

Jawab:
Pewarnaan gram memilahkan bakteri menjadi 2 kelompok, yakni bakteri Gram positif
dan gram negatif. Bakteri gram positif berwarna ungu yang disebabkan kompleks
warna kristal violet-iodium tetap dipertahankan meskipun diberi larutan pemucat.
Sedangkan, bakteri gram negatif berwarna merah karena kompleks warna tersebut larut
sewaktu pemberian larutan pemucat dan kemudian mengambil zat warna kedua yang
berwarna merah. Perbedaan hasil dalam pewarnaan tersebut disebabkan perbedaan
struktur, terutama dinding sel kedua kelompok bakteri tersebut (Lud Waluyo 2008,
129).

Bakteri gram negatif mengandung lipid, lemak atau substansi seperti lemak dalam
persentase lebih tinggi daripada yang dikandung bakteri gram positif. Dinding sel
bakteri gram negatif juga lebih tipis daripada dinding sel bakteri gram positif sehingga
pewarna kristal violet tidak dapat bertahan pada dinding selnya setelah dicuci dengan
alkohol, sehingga sel bakteri ini menyerap warna merah safranin. Hal ini menyebabkan
bakteri gram negatif terlihat berwarna merah (Pelczar, 2007). Bakteri gram negatif
memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu lipopolisakarida (lipid)
kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan
berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel berupa
peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori dinding sel
menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna
ungu (Hidayat et al. 2006).

2. Apakah fungsi fiksasi dalam pewarnaan gram?

Jawab:

Pada umumnya sebelum bakteri diwarnai perlu dilakukan fiksasi. Fungsi fiksasi, antara
lain untuk membunuh bakteri secara cepat dengan relatif tidak menyebabkan perubahan
bentuk dan struktur bakteri, melekatkan bakteri di atas kaca objek, dan meningkatkan
sifat afinitas pewarna.

3. Apakah fungsi penambahan larutan iodium?


Jawab:

Iodin merupakan pewarna Mordan , yaitu pewarna yang berfungsi memfiksasi pewarna
primer yang diserap mikro-organisme target. Pemberian iodin pada pewarnaan gram
dimaksudkan untuk memperkuat pengikatan warna oleh bakteri.

4. Apakah fungsi perlakuan pemucatan dengan alkohol 95%?

Jawab:
Alkohol berfungsi untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel
bakteri (mikroorganisme). Alkohol memberikan dampak pada saat pewarnaan gram,
jika saat bakteri dibilas dengan alkohol , alkohol akan melarutkan lapisan lipid pada
dinding sel. Bakteri gram negatif yang dinding selnya tersusun dari lapisan lipid yang
tebal maka akan larut dalam alkohol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Purwoko
(2010), yang menyatakan bahwa alkohol merupakan solven organik yang berfungsi
untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri
(mikroorganisme).

5. Mengapa pewarnaan secara gram digolongkan dalam pewarnaan diferensial?

Jawab: Pewarnaan diferensial menggunakan lebih dari satu pewarna dan memiliki
reaksi yang berbeda untuk setiap bakteri, sehingga digunakan untuk membedakan
bakteri. Pewarna diferensial yang sering digunakan adalah pewarna gram. Pewarna
gram ini mampu membedakan dua kelompok besar bakteri, yaitu Gram positif dan
Gram negatif. Pewarnaan diferensial lainnya ialah pewarnaan ziehl neelsen yang
memilihkan bakterinya menjadi kelompok-kelompok tahan asam dan tidak tahan asam
(Dwidjoseputro. 2005).
L. Daftar Rujukan

Karmana, Oman. 2008. Biologi. Jakarta : PT Grafindo Media Pratama.

James, Joyce. 2002. Prinsip - Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Jakarta : Erlangga

Use the "Insert Citation" button to add citations to this document.

Dwidjoseputro, D.2005.Dasar - Dasar Mikrobiologi.Malang: Penerbit Djambatan.

Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Bogor : IPB

Campbell, Nell.2003. Bilogi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Campbell, Nell.2003. Bilogi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Tanpa Nama. Tanpa Tahun. Bab II Tinjaun Pustaka. Diakses Dari

http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/8/jhptump-a-dinarapril-364-2-babii.pdf pada tanggal 22


Februari 2021.
Tanpa Nama. Tanpa Tahun. Mikroorganisme. Diakses Dari
http://repository.ut.ac.id/4332/1/PEBI4419-M1.pdf pada tanggal 22 Februari 2021.

Pelczar, M.J.2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press

Hidayat Nur, Padaga Masdiana C, Suhartini Sri. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta : CV.

Andi offset. 2006.

Waluyo Lud. Teknik Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang : Universitas


Muhammadiyah Malang. 2008.

Anda mungkin juga menyukai