Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FARMASI SOSIAL

WABAH DAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) INFEKSI VIRUS EBOLA

Disusun Oleh :

1. Faizani Putri (180105030)


2. Gunawan Laturama (180105036)
3. Imroatun Nafingah (180105041)
4. Pariyem (180105078)
5. Rizky Natasya Aurellia (180105090)

KELOMPOK 7/FARMASI 6A

UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PRODI S1 FARMASI
2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga. Makalah ini kami
harapkan bisa menjadi refrensi bagi mahasiswa lain untuk belajar tentang “Wabah
dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Infeksi Virus Ebola”.
Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Farmasi Sosial yang telah membimbing kami dalam menulis makalah ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Purwokerto, 21Maret 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan.......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
2.1 Pengertian Wabah dan KLB........................................................... 3
2.2 Gambaran Umum Infeksi Virus Ebola.......................................... 4

2.3 Epidemiologi Ebola....................................................................... 5


BAB III PENUTUP......................................................................................... 14
3.1 Kesimpulan.................................................................................... 14
3.2 Saran.............................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Mengetahui

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Memenuhi tugas mata kuliah farmasi social.
1.4.2

1
BAB II
ISI

2.1 Gambaran Umum KLB


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1501/MENKES/PER/X/2010, Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya
atau meningkatnyakejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna
secara epidemiologi pada suatu daerahdalam kurun waktu tertentu dan
merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah
(Permenkes, 2010).
Kejadian luar biasa adalah peningatan kejadian asus penyait yang
lebih banyak daripada eksternal normal di suatu area atau kelompok
tertentu, selama suatu periode tertentu. Informasi tentang potensi KLB
biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien
(kasus indeks), keluarga pasien, kader kesehatan, atau warga
masyarakat. Tetapi informasi tentang potensi KLB bisa juga berasal dari
petugas kesehatan, hasil analisis atau surveilans, laporan kematian,
laporan hasil pemeriksaan laboratorium atau media lokal. Suatu
kejadian luar biasa ditentukan dengan cara membandingkan jumlah
kasus sekarang dengan rata-rata jumlah kasus dan variasinya di masa
lalu (minggu, bulan, kuartal, tahun). Besar deviasi yang berada dalam
“ekspektasi normal” bersifat arbitrer, tergantung dari tingkat keseriusan
dampak yang diakibatkan bagi kesehatan masyarakat di masa yang lalu.
Sebagai persiapan kuantitatif, pembuat kebijakan dapat menggunakan
mean +3SD sebagai batas untuk menentukan keadaan KLB. Batas mean
+/-3SD lazim digunakan dalam biostatistik untuk menentukan observasi
KLB (Permenkes, 2010), jadi suatu kondisi yang sesuai dengan devinisi
epidemi.
2.2 Gambaran Umum Infeksi Virus Ebola

2
Penyakit virus Ebola (PVE) adalah salah satu dari penyakit yang
gejala klinisnya demam dengan perdarahan yang banyak mengakibatkan
kematian pada manusia dan primata (seperti monyet, gorila, dan
simpanse) dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 90%. Gejalanya
berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, lemah, diare, muntah,
sakit perut, kurang nafsu makan, dan perdarahan yang tidak biasa. Gejala
paling banyak muncul sekitar 8-10 hari setelah terpapar virus Ebola.
Virus ini menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya (termasuk
feses, saliva, urine, bekas muntahan dan sperma) dari hewan atau
manusia yang terinfeksi virus Ebola. Virus ini dapat masuk ke tubuh
orang lain melalui kulit yang terluka atau melalui membran mukosa yang
tidak terlindungi seperti mata, hidung dan mulut. Virus ini juga dapat
menyebar melalui jarum suntik dan infus yang telah terkontaminasi.
Kelompok yang paling berisiko adalah keluarga, teman, rekan kerja dan
petugas medis (Kemenkes, 2017).
Virus ebola menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau
cairan tubuh (termasuk tinja, air liur, urin, dan lain sebagainya) orang
yang sakit karena ebola. Virus dalam darah dan cairan tubuh masuk ke
tubuh orang lain melalui kulit yang terluka atau bagian yang tidak
terlindung seperti mata, hidung dan mulut (Feldman H., et al. 2011).
Selain itu, virus ebola juga menyebar melalui jarum suntik yang tidak
steril (biasanya digunakan berkali-kali atau yang sudah terkontaminasi
virus). Sementara itu, di beberapa negara Afrika Barat, ebola dapat
menyebar melalui kontak langsung atau mengkonsumsi daging hewan
yang terjangkiti virus ini.
Pada tahap awal, infeksi ebola mudah membingungkan dengan
gejala seperti malaria atau demam berdarah sampai pada tahap
hemorrhagic di mana kondisi tubuh mulai terlihat pendarahan dalam,
muntah darah dan pendarahan di bagian mata. Setelah itu, muncul
kerusakan ginjal; kesulitan bernafas; suhu badan menurun; kejang dan
kematian (Derek Gatherer. 2014). Periode antara kontak langsung dengan
virus ebola dan perkembangannya yaitu dari 2 sampai dengan 21 hari,

3
tetapi biasanya 4 sampai 9 hari sudah dapat terlihat infeksi dari virus ini.
Virus ebola tidak dapat dideteksi di dalam darah terlebih dahulu. Infeksi
virus ebola terdeteksi ketika pasien sudah berada di level terendah.
Sesudah itu, beban virus di dalam darah berubah secara cepat dan
meningkat dalam beberapa hari. Seperti yang terjadi di Gabon, sebanyak
18 orang telah terjangkiti virus ebola setelah menguliti dan memotong
bangkai simpanse (Alberta Health Service. 2014). Contoh lain dari
mudahnya penyebaran virus ebola adalah infeksi tujuh supir taksi yang
sebelumnya mengatarkan penumpang dari Guinea yang terjangkiti virus
ini menuju Senegal pada 14 Agustus 2014. Kemudian virus ebola ini
menyebar ke 33 petugas kesehatan dan 67 pasien di rumah sakit di mana
para supir taksi tersebut dirawat (Mirkovic, 2014).
Virus ebola biasanya menyebar kepada orang-orang yang hidup di
sekitar pasien (hidup atau meninggal). Kemudian menyebar kepada
orang-orang yang bekerja di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah
sakit yang dikunjungi pasien infeksi ebola. Berikut ini contoh-contoh
kontak langsung yang dapat menjadi awal penyebaran virus ebola dari
manusia ke manusia yang lain (WHO, 2014)
a) Menyentuh cairan tubuh pasien (seperti darah, air liur, urin, tinja dan
lain-lain);
b) Menyentuh tubuh pasien secara langsung (baik yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal);
c) Menyentuh atau membersihkan pakaian pasien;
d) Tidur atau makan di rumah yang sama dengan pasien;
e) Memberi makan pasien;
2.3 Epidemiologi Infeksi Virus Ebola
Virus Ebola pertama kali diidentifikasi di Sudan dan di wilayah
yang berdekatan dengan Zaire (saat itu dikenal sebagai Republik Congo)
pada tahun 1976, setelah terjadi epidemi di Yambuku, daerah Utara
Republik Congo dan Nzara, daerah Selatan Sudan. Negara-negara di
benua Afrika yang terkena wabah Ebola mempunyai sistem kesehatan
yang sangat lemah, kekurangan sumber daya manusia, dan infrastruktur

4
yang tidak memadai. Dari data wabah Ebola di daerah Afrika Barat
sampai Oktober 2015 terdapat 28.512 kasus yang sudah dikonfirmasi
positif virus Ebola dengan 11.313 kasus kematian (WHO, 2015; BDP,
2008)
Inang atau reservoir virus Ebola belum dapat dipastikan, namun
telah diketahui bahwa kelelawar buah adalah salah satu inang alami virus
Ebola. Virus Ebola juga telah dideteksi pada daging simpanse, gorila, dan
kijang liar. Beberapa hipotesis mengatakan terjadi penularan dari hewan
terinfeksi ke manusia. Kemudian dari manusia, virus bisa ditularkan
dengan berbagai cara. Manusia dapat terinfeksi karena kontak dengan
darah dan/ atau sekret orang yang terinfeksi. Selain itu, manusia juga bisa
terinfeksi karena kontak dengan benda yang terkontaminasi oleh orang
terinfeksi. Penularan nosokomial juga dapat terjadi bila tenaga medis
tidak memakai alat pelindung diri yang memadai (National Center for
Emerging and Zoonotic Infectious Disease, 2014).
2.4 Etiologi Infeksi Virus Ebola
Penyakit virus Ebola (EVD) adalah penyakit akibat infeksi virus
mematikan Zaire ebolavirus yang termasuk dalam filovirus. Filovirus
(famili Filoviridae) adalah virus RNA yang terbungkus, linier, tidak
tersegmentasi, negatif, dan beruntai tunggal. Dua genera filovirus yaitu:
Ebolavirus dan Marburgvirus telah diidentifikasi sebagai penyebab
penyakit mematikan pada manusia. Dalam genus Ebolavirus, terdapat
lima virus: EBOV(Zaire ebolavirus) , Sudan virus(Sudan ebolavirus),
Reston virus(Reston ebolavirus) , Taï Forest virus(Taï Forest
ebolavirus), dan Bundibugyo virus (Bundibugyo ebolavirus). Sebaliknya,
genus Marburgvirus mengandung spesies virus tunggal (Marburg
Marburgvirus) (Martínez et al.,2015).
Harrod (2014) menjelaskan bahwa Nama virus Ebola (EBOV)
berasal dari Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo (sebelumnya
Zaire) di mana wabah penyakit virus Ebola (EVD) pertama diidentifikasi
pada tahun 1976. Wabah kedua terjadi pada 1995 di DRC, wabah di
Uganda pada 2000 (oleh Sudan ebolavirus), dan wabah ketiga di Kongo

5
pada 2003. Wabah berikutnya terjadinya di Uganda pada 2007 dan
menghasilkan spesies Bundibugyo ebolavirus yang setelah dikonfirmasi
ternyata merupakan spesies baru yang belum pernah diidentifikasi oleh
CDC dan WHO di distrik Bundibugyo, Uganda barat. Wabah kedua yang
disebabkan oleh spesies Bundibugyo ebolavirus diidentifikasi di Kongo
pada 2012, menginfeksi 57 kasus yang dikonfirmasi dengan 29 kematian.
Pada Maret 2014, terjadilah wabah Ebola terbesar sepanjang sejarah di
Afrika Barat. Sepanjang wabah tersebut, hampir 14.000 kasus telah
dilaporkan di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia dengan hampir 5.000
kematian.
2.5 Patogenesis Infeksi Virus Ebola
Efek akhir dari infeksi virus Ebola ialah syok yang disebabkan oleh
beberapa proses yang memengaruhi satu sama lainnya, yaitu: replikasi
virus sistemik, supresi sistem imun, peningkatan permeabilitas pembuluh
darah, dan koagulopati (Gambar 2.5). Infeksi pada sel target utama
seperti monosit/makrofag dan sel dendritik menghasilkan penyebaran
sistemik dari virus dan aktivasi diferensiasi sel. Monosit/makrofag yang
teraktivasi akan menghasilkan sitokin proinflamasi dan tissue factors,
sedangkan aktivasi sel dendritik yang terganggu menyebabkan rendahnya
perlindungan respon imun. Meskipun virus tidak menginvasi limfosit dan
sel natural killer (NK), apostosis ekstensif dari sel-sel sekitarnya dapat
terjadi. Sel endotelial kemudian diaktivasi oleh sitokin proinflamasi dan
partikel virus yang menyebabkan permeabilitas meningkat. Tissue
factors yang dihasilkan oleh monosit/makrofag menginduksi koagulopati
dan juga dapat meningkatkan inflamasi (Tyagi, 2010).

6
Gambar 2.5Patogenesis infeksi virus Ebola. Hasil akhir infeksi virus
Ebola berat ialah syok yang disebabkan oleh beberapa proses yang saling
memengaruhi: replikasi virus sistemik, supresi sistem imun, peningkatan
permeabilitas vaskular, dan koagulopati. Infeksi primer dari sel target
seperti monosit/makrofag dan sel dendritik menghasilkan penyebaran
sistemik dari virus dan aktivasi diferensiasi sel. Monosit/makrofag
diaktifkan untuk memroduksi sitokin proinflamasi dan tissue factors,
sedangkan sel dendritik teraktivasi yang rusak memperburuk respon
imun protektif. Meskipun virus tidak menginfeksi limfosit dan sel natural
killer (NK), apoptosis terjadi pada semua tipe sel. Sel endotel kemudian
diaktivasi oleh sitokin proinflamasi dan partikel virus yang menyebabkan
peningkatan permeabilitas. Pelepasan tissue factors dalam
monosit/makrofag merangsang koagulopati, yang juga mengakibatkan
peningkatan inflamasi (Bente D, et al, 2009).
2.6 Gejala dan Tanda Klinis Infeksi Virus Ebola
Onset penyakit ini setelah terjadi inkubasi ialah 2-21 hari. Gejala
klinis dapat dibagi dalam 4 fase, yaitu:
2.6.1 Fase A: Influenza like syndrome. Terjadi gejala atau tanda
nonspesifik seperti panas tinggi, sakit kepala, artralgia, mialgia,
nyeri tenggorokan, lemah badan, dan malaise.
2.6.2 Fase B: Bersifat akut (hari ke 1-6). Terjadi demam persisten yang
tidak berespon terhadap obat anti malaria atau antibiotik, sakit

7
kepala, lemah badan yang terus menerus, dan diikuti oleh diare,
nyeri perut, anoreksia, dan muntah.
2.6.3 Fase C: Pseudo-remisi (hari ke 7-8). Selama periode ini penderita
merasa sehat dengan konsumsi makanan yang baik. Sebagian
penderita dapat sembuh dalam periode ini dan selamat dari
penyakit.
2.6.4 Fase D: Terjadi agregasi (hari ke 9). Pada beberapa kasus terjadi
penurunan kondisi kesehatan yang drastis diikuti oleh gangguan
respirasi; dapat terjadi gangguan hemostasis berupa perdarahan
pada kulit (petekia) serta gangguan neuropsikiatrik seperti
delirium, koma, gangguan kardiovaskular, dan syok hipovolemik
(Muyumbe, 2012).
2.7 Diagnosis Infeksi Virus Ebola
Dalam perkembangan metode diagnose Ebola, Martínez et
al(2015) menjelaskan bahwa terdapat dua yang palng terkenal dan efektif
yakni: ELISA dam RT-PCR. Sebelum tahun 2000, metode deteksi
antigen [mis., Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)] adalah
standar emas untuk deteksi EBOV pada beberapa wabah. Pada fase akut
EVD, ELISA memiliki sensitivitas yang relatif tinggi (93%), tetapi
tingkat antigen EBOV menurun ketika penyakit berkembang, menjadikan
sensitivitas yang lebih rendah untuk deteksi antigen 1-2 minggu setelah
onset gejala. Beberapa tes pendeteksian antigen lainnya saat ini sedang
dalam evaluasi dan dapat digunakan dalam waktu dekat untuk
melengkapi pengujian RT-PCR. Pengujian ELISA sebagian besar telah
digantikan oleh RT-PCR, yang memungkinkan deteksi lebih cepat dan
sekarang dapat digunakan dalam platform pengujian seluler (portabel)
dalam pengaturan wabah.
Tes asam nukleat (NAT), khususnya RT-PCR, dianggap sebagai
standar emas untuk diagnosis EVD, sebagian karena sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi genom virus Ebola. Ini
umumnya dilakukan oleh tim seluler internasional yang ditempatkan di
lembaga-lembaga seperti CDC. RT-PCR adalah tes amplifikasi asam

8
nukleat yang cepat dan sangat sensitif untuk mendeteksi asam nukleat
EBOV. Sensitivitas dan spesifisitas RT-PCR masing-masing sekitar
100% dan 97% . Dalam 3 hari pertama penyakit, uji molekuler mungkin
tidak mendeteksi genom virus, yang dapat mengarah pada hasil negatif
palsu. Oleh karena itu, RT-PCR harus diulang dalam sampel berikutnya.
Untuk meminimalkan hasil negatif palsu, pengambilan sampel yang
tepat, pengumpulan, penyimpanan atau transportasi, dan teknik RT-PCR
yang tepat harus diterapkan untuk menghindari kontaminasi silang. RT-
PCR kuantitatif telah dikembangkan dan mungkin dapat digunakan untuk
memantau viral load karena data menunjukkan viremia tinggi mungkin
dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan dan kematian. Untuk pasien
yang menerima perawatan eksperimental, pemantauan viral load EBOV
dapat berguna untuk menilai tanggapan pengobatan. (Broadhurst et al.,
2016)
Teknik PCR portabel saat ini sedang dikembangkan dan
ditampilkan untuk siap digunakan di lapangan untuk diagnosis cepat (10-
30 menit). Teknik-teknik ini diantisipasi memiliki persyaratan keamanan
hayati minimum dan tidak memerlukan infrastruktur laboratorium.
Teknik PCR portabel dapat memainkan peran yang lebih efektif dalam
pengawasan dan pengendalian penyakit termasuk wabah Ebola dan
penyakit menular lainnya. (Martínez et al., 2015)
2.8 Pengobatan, Penanganan, dan Pencegahan Infeksi Virus Ebola
Dhama et al.(2018) menjelaskan bahwa berbagai obat telah
digunakan kembali untuk mengobati penyakit yang berpotensi
mematikan seperti EVD. Ada daftar panjang senyawa yang digunakan
kembali yang telah dievaluasi sebagai inhibitor EBOV, termasuk
inhibitor mikrotubulus, reseptor estrogen dan modelling ulang, inhibitor
kinase, antagonis histamin, dan blocker saluran ion. Studi mendalam
masih diperlukan untuk memahami patogenesis dan peran berbagai
peptida EBOV, protein, dan antigen serta interaksi host-virus dalam
EVD. Ada juga kebutuhan untuk mengembangkan antivirus dan vaksin
yang ekonomis dan efektif terhadap EBOV yang memiliki pendekatan /

9
utilitas untuk setiap bagian dunia termasuk negara-negara miskin sumber
daya.
Meskipun pengembangan vaksin terhadap EBOV dimulai pada
tahun 1980, masih belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah
penyakit mematikan ini. Karenanya, perburuan vaksin yang efektif masih
terus dilakukan. Ebola VLP memainkan peran penting dalam
penyaringan throughput tinggi senyawa anti-EBOV. Karena lima spesies
EBOV telah dilaporkan, vaksin polivalen yang memiliki penentu
imunogenik seperti GP dari masing-masing spesies akan memberikan
kekebalan yang lebih luas. Kandidat vaksin generasi pertama terbaik
untuk EBOV adalah rVSV dan ChAd3, sebagaimana tercermin dalam
aplikasi mereka dalam memberikan perlindungan jangka panjang selama
wabah sporadis. Berbagai kombinasi antigen dari berbagai spesies EBOV
dapat dieksplorasi untuk mencapai respon imun protektif yang lebih
tinggi. Vaksin berbasis rVSV sedang digunakan di Republik Demokratik
Kongo. Karena tidak adanya kekebalan yang sudah ada sebelumnya
terhadap VSV, itu menghilangkan beberapa kelemahan dan masalah
keamanan terkait vaksin berbasis Ad5. Selain itu, telah menunjukkan
perlindungan jangka panjang pada beberapa model NHP, ini adalah
platform vaksin yang ideal untuk digunakan pada saat wabah. Bersama-
sama, vaksin GamEvac-Combi juga tampaknya sama-sama menjanjikan
karena menghasilkan respons kekebalan pada 100% sukarelawan (Dhama
et al, 2018).
Penanganan infeksi virus Ebola hanya bersifat suportif untuk
mempertahankan fungsi jantung dan ginjal, menyeimbangkan elektrolit,
dan mencegah komplikasi penyerta. Umumnya penderita mengalami
dehidrasi sehingga dibutuhkan penggantian cairan dan faktor koagulasi
yang berguna untuk menghentikan perdarahan serta memperbaiki
oksigenasi. Rehidrasi oral dapat direkomendasikan tetapi kadang tidak
realistis karena adanya nyeri tenggorokan, muntah, dan lemah badan
yang berkepanjangan. Tujuan utama penanganan ialah untuk menyiapkan
layanan kesehatan yang optimal pada penderita dengan proteksi

10
maksimal.Pada tahap awal infeksi virus Ebola dapat tidak terlalu
berjangkit. Kontak dengan seseorang yang sedang terjangkit virus ini
pada tahap awal tidak terlalu berjangkit, tetapi seiring dengan perjalanan
penyakit, kontak dengan cairan tubuhmisalnya dari diare, muntah, atau
perdarahan dapat berakibat fatal (Rampengan, 2014).
Menurut Rampengan(2014), Pencegahan terhadap infeksi virus
Ebola mencakup beberapa hal:
2.8.1 Isolasi pasien infeksi Ebola dari pasien lainnya.
2.8.2 Mengurangi penyebaran penyakit dari kera dan babi yang
terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa
hewan tersebut terhadap kemungkinan infeksi, serta membunuh
dan membakar hewan dengan benar jika ditemukan menderita
penyakit tersebut. Memasak daging dengan benar dan
mengenakan pakaian pelindung ketika mengolah daging juga
mungkin berguna, begitu juga dengan mengenakan pakaian
pelindung dan mencuci tangan ketika berada di sekitar orang yang
menderita penyakit tersebut. Sampel cairan dan jaringan tubuh
dari penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati.
2.8.3 Menggunakan sarung tangan dan perlengkapan pelindung diri
yang lengkap, dalam hal ini standard precautions (termasuk
mencuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa pasien).
2.8.4 Persiapan pembakaran dengan benar jenazah individu yang
meninggal karena virus Ebola untuk mencegah penularan
2.9. Potensi Virus Ebola di Indonesia
Dalam jurnal Nidom et al. (2012), dilaporkan penelitian dengan
menggunakan sampel serum yang dikumpulkan dari 353 orangutan
Borneo sehat (Pongo pygmaeus) di Pulau Kalimantan, Indonesia, selama
periode Desember 2005 hingga Desember 2006 disaring untuk antibodi
IgG spesifik filovirus menggunakan uji imunosorben terkait-enzim yang
sangat sensitif (ELISA). ) dengan antigen glikoprotein permukaan virus
(GP) rekombinan yang berasal dari beberapa spesies filovirus (5EBOV
dan 1 spesies MARV). Penelitian menunjukkan bahwa 18,4% (65/353)

11
dan 1,7% (6/353) dari sampel seropositif untuk EBOV dan MARV,
masing-masing, dengan sedikit reaktivitas silang antara antigen EBOV
dan MARV. Dalam sampel positif ini, antibodi IgG terhadap protein
internal virus juga terdeteksi oleh imunobloting. Spesifisitas virus Reston
yang telah diakui sebagai filovirus Asia, adalah yang tertinggi hanya
1,4% (5/353) dari sampel serum, sebagian besar serum EBOV-positif
menunjukkan spesifisitas untuk Zaire, Sudan, Cote d'Ivoire, atau virus
Bundibugyo, yang semuanya telah ditemukan sejauh ini hanya di Afrika.
Hasil ini menunjukkan adanya beberapa spesies filovirus atau virus yang
tidak diketahui terkait filovirus di Indonesia, beberapa di antaranya secara
serologis mirip dengan EBOV Afrika, dan transmisi virus dari inang
reservoir yang belum teridentifikasi ke populasi orang utan (Nidom et al,
2012)

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
Mengingat makalah ini masih jauh dari kata sempurna, penulis
mengharapkan adanya kritik serta saran dari pembaca untuk
menjadikanmakalah dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah
pengetahuan bagi yang membaca.

13
DAFTAR PUSTAKA

Alberta Health Service. 2014. Ebola Virus Diseases: Transmission. Hlm. 3, Teks
dapat didownload pada http://www.cdc.gov/vhf/ebola/pdf/ebola-
factsheet.pdf. [23 Mei 2015].

Bente D, Gren J, Strong J, Feldmann H. Disease modeling for Ebola and Marburg
virus. DMM. 2009;2:12-7

Derek Gatherer. 2014. The 2014 Ebola Virus Disease Outbreak in West Africa.
Dalam Journal of General Virology. Vol. 95. Hlm. 1617.

Dhama, K., Karthik, K., Khandia, R., Chakraborty, S., Munjal, A., Latheef, S. K.,
… Chaicumpa, W. (2018). Advances in designing and developing
vaccines, drugs, and therapies to counter Ebola virus. Frontiers in
Immunology, 9(AUG). https://doi.org/10.3389/fimmu.2018.01803

Feldman. H, et al. 2011. Ebola Hemorrhagic Fever. Iowa: Institute for


International Cooperation in Animal Biologics. Hlm 849-862.

Kementrian Kesehatan RI. 2017. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Penyakit


Virus Ebola.

Martínez, M. J., Salim, A. M., Hurtado, J. C., & Kilgore, P. E. (2015). Ebola
Virus Infection: Overview and Update on Prevention and Treatment.
Infectious Diseases and Therapy, 4(4), 365–390.
https://doi.org/10.1007/s40121-015-0079-5

Muyumbe-Tamfum JJ, Mulangu S, Masumu J, Kayambe JM, Kemp A, Paweska


J. Ebola virus outbreaks in Africa: Past and present. Onderstepoort Journal
of Veterinary Research. 2012;79(2)

14
Mirkovic . K, et al. Importation and containment of Ebola virus disease – Senegal,
August –September 2014. Morbidity and Mortality Weekly Report;
63(39): October 3, 2014.

Nidom, C. A., Nakayama, E., Nidom, R. V., Alamudi, M. Y., Daulay, S.,
Dharmayanti, I. N. L. P., Takada, A. (2012). Serological evidence of Ebola
virus infection in Indonesian orangutans. PLoS ONE, 7(7).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0040740.

Permenkes RI. 2010. No.1501/MENKES/PER/X/2010 Tentang Jenis Penyakit


Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah Dan Upaya
Penanggulnannya

Tyagi S, Kumara S, Singla M. Clinical aspects of Ebola hemorrhagic fever: a


review. International Journal of Pharma and Bio Sciences. 2010;1:1-9.

National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Disease. Ebola fact sheet:
Ebola hemorrhagic fever. Center for Disease Control. 2014

World Health Organization. Ebola virus disease outbreak situation report. 2015

BDP/EPR. Interim infection control recommendations for care of patients with


suspected or confirmed Filovirus (Ebola, Marburg) hemorrhagic fever.
Geneva; 2008.

WHO. 2014. Contract Tracing During an Outbreak of Ebola Virus Disease. World
Health Organization:Brazzaville, Republic of Congo. Hlm. 3-4.

15
16