Anda di halaman 1dari 35

KUSTA

Dr. Sri Linuwih Menaldi, Sp.KK(K)


Dept. I.K. Kulit dan Kelamin
FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,
JAKARTA
KASUS

Laki-laki, 29 tahun, akuntan perusahaan


swasta. Diagnosis MH LL dengan ENL. Reaksi
timbul hampir tiap 2-3 bulan, berhubungan
dengan stres pekerjaan. Sering tidak masuk
kerja. Berobat sudah 2 tahun, ketergantungan
steroid. Putus asa, berniat untuk berhenti
bekerja
DEFINISI:
Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
Mycobacterium leprae, dengan afinitas utama pada
saraf perifer, kemudian kulit, serta dapat mengenai
organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat (SSP).
KUSTA :
Sakit fisik, psikologik & sosial
Kusta ∼ cacat  stigma
Stigma kusta  menurunkan kualitas hidup
Mengganggu pekerjaan, hasil kerja dan
perkonomian
EPIDEMIOLOGI:
• Terutama daerah tropis dan subtropis
• Sosial ekonomi rendah
• Prevalensi di Indonesia: 1,57 per 10.000 penduduk
• Indonesia: urutan ke-3 dunia setelah India dan
Myanmar
ETIOLOGI :
• Mycobacterium leprae (Armauer Hansen 1875)
• Basil tahan asam dan tahan alkohol
• Obligat intrasel
• Dapat diisolasi dan diinokulasi, tetapi tidak dapat
dibiakkan
• Membelah diri : 12-21 hari
• Masa inkubasi : rata-rata 3-5 tahun
• Mengenai semua usia, terbanyak 25-35 tahun
PATOGENESIS KUSTA

Kontak

Infeksi Non-infeksi

95%
Sembuh Subklinis
70% Indeterminate (I)
30%
Determinate

TT BT BB BL LL
GEJALA KLINIS

• Kulit:
Bercak/makula hipopigmentasi, eritematosa,
papul atau nodus eritematosa: dapat disertai
anestesi/hipoestesi

• Saraf:
Pembesaran saraf tepi dengan gangguan
sensibilitas kulit yang dipersarafinya.

• Dapat disertai cacat akibat kerusakan saraf tepi,


sensorik, otonom maupun motorik
Kusta tipe PB
Kusta tipe MB
 
PEMBAGIAN TIPE (WHO 1995)

Pausibasilar (PB) Multibasilar (MB)

1. Lesi kulit • 1-5 lesi • > 5 lesi


(makula, papul, • hipopigmentasi, • eritema
nodus) eritema • distribusi simetris
• distribusi asimetris • hilang sensasi
• hilang sensasi jelas tidak jelas
   

2. Kerusakan saraf • satu cabang saraf • banyak cabang


(anestesi, kelemahan
otot)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Bakterioskopik : BTA
2. Biopsi/PA
3. Tes lepromin
4. Serologik : ELISA, MLPA, ML-Dipstick
5. PCR
Reaksi Kusta
1. Tipe I : reaksi reversal (up grading)
2. Tipe II : reaksi ENL

Reaksi reversal:
• Merupakan peningkatan sistem imunitas selular
• Lesi lama lebih aktif: eritematosa, udem, menimbul
• Dapat disertai neuritis akut
• Dapat muncul lesi baru
• Gejala sistemik tidak ada
• Kadang-kadang ada gejala prodromal
Reaksi kusta
Reaksi kusta
Reaksi ENL:
• Merupakan reaksi antigen-antibodi-komplemen
• Muncul nodus eritematosa yang nyeri,
terutama di ekstremitas
• Terdapat gejala sistemik:
– artritis, iridosiklitis, neuritis, nefritis, dan lain-lain
• Disertai gejala prodromal
Cacat Kusta
Cacat primer:
kerusakan pada Sensorik Otonom Motorik
saraf tepi

Anestesi Anhidrosis Paralisis

Cacat sekunder Salah guna/


akibat lanjut Cedera Fisura tidak digunakan
cacat primer
kontraktur

Infeksi sekunder Ulserasi Deformitas sendi

Selulitis Sikatriks Distorsi

Osteomielitis Deformitas Tekanan


dan abnormal
disabilitas

Kehilangan Ulserasi
jaringan berulang
Ulkus kusta
Claw hand
Lagofthalmus, drop foot
TATALAKSANA
1. a. Multidrug therapy (MDT menurut WHO 1998)
PB : 6 dosis yang diselesaikan dalam 9 bulan
• Rifampisin 600 mg/bulan
•  DDS 100 mg/hari
 
MB: 12 dosis yang diselesaikan dalam 18 bulan
• Rifampisin 600 mg/bulan
• DDS 100 mg/hari
• Klofazimin 300 mg /bulan, dilanjutkan 50 mg/hari
…..TATALAKSANA

Untuk anak berusia > 10 th, diberikan setengah dosis dewasa.


Bila < 10 th, disesuaikan dengan berat badan.
 
b. Obat pilihan lain:
PB: lesi tunggal, diberikan kombinasi Rifampisin (R) 600 mg,
Ofloksasin (O) 400 mg dan Minocin (M) 100 mg, dosis
tunggal
 
PB: 2-5 lesi; kombinasi ROM diberikan 1x/bulan
selama 6 bulan
…..TATALAKSANA

2. Bila terjadi reaksi reversal atau ENL, diberikan:


• tablet prednison 40-60 mg/hari, diturunkan bertahap,
5 mg/2 minggu
• analgetik / antipiretik
• MDT tetap dilanjutkan
 
3. Bila terjadi kecacatan, dapat dilakukan :
• rehabilitasi medik
• rehabilitasi bedah/plastik-rekontruksi
• rehabilitasi karya/okupasi
…TATALAKSANA

4. Rujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap


(termasuk tenaga spesialis dan sarana) bila :
• reaksi kusta berat
• dugaan resisten terhadap pengobatan
• dengan komplikasi penyakit lain
• terjadi erupsi obat alergik
• kemungkinan dilakukan tindakan bedah
Kusta dan Kesehatan Kerja

Berbagai pertanyaan penderita di ruang praktek:


• Apakah penyakit kusta menular?
• Apakah keluarga & orang disekitar akan tertular?
• Bagaimana mencegahnya?
• Apakah saya dapat sekolah atau bekerja seperti
biasa?
• Apakah saya akan cacat dan dikucilkan?
Apa yang harus dilakukan bila seseorang
menderita kusta?
1. Segera diobati di puskemas, poliklinik
kantor, RS
2. Tidak perlu diisolasi / di berhentikan / cuti
sakit, kecuali sedang mengalami reaksi
kusta berat.
3. Bila cacat, pekerjaan disesuaikan dengan
disabilitasnya
4. Kenali dan waspada gejala neuritis, untuk
mencegah cacat kusta