Anda di halaman 1dari 17

3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.

com

JEO - Insight

Industri Musik
Mengulik Titik Balik

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 1/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

Rabu, 10 Maret 2021 | 11:04 WIB


JEO - Insight

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 2/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight

Blok M Music Conference 2021

TANTANGAN
NEW NORMAL

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 3/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight

Menjawab tantangan new normal

Faktanya, sampai hari ini panggung-panggung konser belum bisa dibikin lagi. Keramaian apalagi
kerumunan masih jadi persoalan di tengah pandemi yang tak kunjung reda.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 4/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight

[PART 3] PANDEMIC - PRAMBANAN JAZZ FESTIVAL

Kehausan untuk hadirnya solusi atas dilema antara tantangan kesehatan dan mampetnya sumber
penghidupan banyak orang di industri musik tak hanya dirasakan Anas.

"Belum tahu kapan kita bisa mulai bikin acara lagi," ujar pengamat musik sekaligus Program Director
M Bloc Space, Wendi Putranto, dalam pembicaraan telepon dengan Kompas.com, Senin (1/3/2021).

Konser virtual yang sempat menjadi solusi sementara di tengah pandemi kini pun susut
intensitasnya.

Setali tiga uang, konser drive-in juga tak menjamur. Yang sempat berjalan pun tak semuanya semulus
harapan.

Ini terutama menyangkut pendapatan yang tetap tak mampu menggantikan yang hilang dari
ketiadaan panggung offair
panggung offair..

"(Konser) virtual secara bisnis tidak menguntungkan. Konser virtual ini hanya mitigasi sifatnya,
sementara,” kata Wendi.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 5/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight

“Jadi sebenarnya problem utamanya di perizinan, sekarang. Sampai hari ini, teman-teman EO dan
promotor belum bisa bikin konser o
konser o ine walaupun
ine walaupun menggunakan protokol ketat dan penonton
terbatas jumlahnya,” tutur Wendi.

Padahal, pendapatan musisi dari manggung


dari manggung bisa
 bisa mencapai 50 persen. Selebihnya barulah dari
pemutaran musik digital, endorsement
digital, endorsement produk,
 produk, dan sumber lain.

“50 persen itu pendapatan utamanya, (itu) yang kena. Jadi (ekonomi para musisi dan pekerja musik)
masih terpukul sih
terpukul sih sebenarnya,”
 sebenarnya,” ucap Wendi.

Respons musisi

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 6/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight
Angin Malam - Erwin Gutawa Orchestra, Afgan, Dira S…
S…

Gara-gara pandemi ini, Afgan menunda perilisan album barunya yang sedianya dilansir pada Juni
2020.

Pada akhirnya, Afghan merilis single Tunjukkan pada pengujung 2020 dan pada 5 Februari 2021
merilis pula single Say
single Say I'm Sorry.
Sorry.

Pemulihan ekonomi
Adapun Muhammad Soufan atau karib disapa Muna selaku Managing Director of Sony Music
Entertainment Indonesia berharap, fase new normal bisa segera memulihkan keseimbangan ekonomi
nasional. 

Muna berpendapat, ketika ekonomi masyarakat belum pulih maka kegiatan industri musik juga bakal
mandek. 

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 7/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

“Kalau enggak punya uang, orangJEO


enggak bisa apa-apa dan konsumsi jadi menurun," kata dia. 
- Insight

Saat ini, Muna mengaku telah menerapkan aturan baru untuk menyesuaikan kondisi pandemi beserta
protokol kesehatannya. 

“Kalau protokol showbiz


showbiz,, itu kita masukkan ke dalam riders artis," ungkap Muna.

Misal, sebut dia, ruangan artis hanya bisa dimasuki beberapa orang. Lalu, harus tersedia cairan
disinfektan.

Penjemputan juga ditiadakan bagi para artis, alias mereka harus pakai mobil sendiri ke lokasi acara.

"Kami antisipasi, amit-amit nanti artisnya bayaran enggak seberapa tapi sakit. Jangan sampai,” ucap
Muna. 

Katalis pembenahan
Sementara itu, Ketua Federasi Serikat Musisi Indonesia (Fesmi) Candra Darusman berpendapat,
industri musik sebaiknya memanfaatkan fase new normal untuk berbenah segala hal yang selama ini
tak tertata. Salah satunya, soal aturan main di ranah digital.

“Pertama menurut saya ini saatnya kita mengurai kembali aturan-aturan di dunia digital khususnya
mengenai royalti," kata Candra, Rabu (24/6/2020).

Menurut dia, harus diurai lagi pengaturan agar musisi, pencipta, dan musisi mendapatkan manfaat
yang proporsional dari platform seperti YouTube. Aturan main dari industri digital itu pun harus lebih
jelas dan transparan.

“Ini saatnya untuk kita atur lagi dan Fesmi juga mencoba untuk merumuskan supaya hal ini juga bisa
dirumuskan," tegas dia.

Candra pun menyebut kembali bahwa pandemi Covid-19 harus pula dilihat sebagai katalis bagi
banyak hal, termasuk soal lonjakan pemanfaatan teknologi digital selama pandemi Covid-19.

"Kita harus bahas-bahas lagi aturan-aturan yang harus kita urai lagi, kita rumuskan lagi, dan ini
membutuhkan bantuan-bantuan dan persepsi dari tiga pihak yaitu DJKI (Direktur Jenderal Kekayaan
Intelektual), polisi, dan juga Kemenkominfo untuk merumuskan hal ini,” ungkap dia.

Keberadaan solusi digital untuk sumber penghidupan termasuk di industri musik juga punya
kompleksitas tersendiri. Misal, cover lagu alias menyanyikan lagu punya orang.

Diskusi soal cover


cover lagu
 lagu punya orang ini pun belakangan meluas, termasuk soal aspek hukum dan
pembagian nilai keekonomiannya. 

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 8/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

Baca juga: Kata Via Vallen tentang Penyanyi


JEO - Insightyang Sering Cover Lagu Orang Lain

Disadari atau tidak, dunia digital butuh konsistensi konten dari waktu ke waktu untuk mendapatkan
hasil yang sepadan. Ini berlaku untuk segala jenis konten yang wara-wiri di dunia maya.

Bagi musisi dan content creator Indra Aziz, cover lagu adalah cara paling mudah untuk para kreator
bisa rutin menghadirkan konten menarik. Karena, tak mungkin juga seorang kreator menciptakan lagu
baru dalam tenggat pendek di setiap kali untuk kebutuhan konten.

"Enggak mungkin setiap minggu kita rilis lagu. Kalaupun (itu) mungkin, hits atau enggak?" ujar dia. 

Menyanyikan lagu orang yang sedang hits pun diakui sebagai cara mudah mendongkrak personal
branding, karena
branding, karena punya peluang lebih besar untuk ditemukan audiens. 

Baca juga: Indra Aziz Ungkap Alasan Banyak Kreator Musik Pilih Cover Lagu untuk Isi Konten

Tanpa pandemi Covid-19, tantangan-tantangan baru dari dunia digital ini bisa jadi tetap akan
mengemuka. Namun, mungkin butuh waktu lebih lama.

Pandemi Covid-19 telah memaksa segala lini kehidupan menengok dunia digital sebagai sarana
bahkan solusi di tengah batasan protokol kesehatan. 

Pertanyaannya, ini dibiarkan lewat begitu saja ataukah benar-benar akan dijadikan momentum untuk
kenal lebih dekat, memahami lebih jeli, dan mengantisipasi hal-hal baru yang muncul darinya?

TRADISI PUN BERGESER


SEBUAH konsensus baru tak hanya membawa kesepakatan baru tetapi juga bisa menggeser tradisi
yang ada, sebagai efeknya. 

Hal itu juga sama seperti fase new normal. Ada banyak tradisi berubah agar tetap bisa berjalan di
tengah pandemi.

Cakupan itu termasuk juga pergeseran tradisi dalam industri musik, mulai dari tatanan produksi, dan
proses, hingga atmosfer konser, dan festival musik.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 9/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

Salah satu pergeseran tradisi adalah


JEOsoal cara menonton konser. Pandemi tak memungkinkan lagi
- Insight
orang berdesakan di lantai festival untuk menonton musisi idolanya bermain di panggung.

Anas Syahrul Alimi mengakui pergeseran tradisi ini mulai terlihat, paling dekat dari acara musik yang
ia buat.

Soal Prambanan Jazz 2020, Anas sempat berhitung, jumlah penonton akan berkurang setengahnya
demi mematuhi protokol kesehatan itu. 

Lalu, karena jumlah panggung berkurang, tak ada special show di


show di Prambanan Jazz 2020. Dengan
begitu, semua artis akan tampil secara reguler di panggung yang sama.

Sementara ihwal protokol kesehatan, Anas mengatakan ada dua protokol yang disiapkan. Ini sesuai
dengan pembicaraan bersama pemerintah dan para promotor. 

Diberlakukannya dua protokol ini karena untuk menjawab kebutuhan tiap acara yang berbeda-beda,
termasuk konser dan festival musik. 

“Jadi protokolnya ada dua, satu dari Kemenkes, kedua dari kami," sebut Anas.

Dalam rencana itu, penonton harus bawa tempat minum sendiri. Penyelenggara juga terpikir meminta
penonton membawa kursi lipat kecil sebagai alternatif panitia menyediakan kursi. Masing-masing
penonton akan menempati lingkaran atau kubikel kecil yang sudah ditata. 

Sayangnya, semua upaya ini kandas. Bahkan, rencana Anas untuk menghadirkan Prambanan Jazz
2020 dalam format hybrid—
hybrid—gabungan
gabungan online dan o ine— pun tak bisa terwujud.

Festival ini akhirnya hanya bisa dinikmati secara virtual. Perizinan untuk menghadirkan penonton
dalam jumlah terbatas dan penerapan protokol kesehatan teramat ketat itu tak terbit.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 10/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight
[PART 2] PROGRESS - PRAMBANAN JAZZ FESTIVAL

Menurut Anas, industri musik sejatinya tak hanya siap menyambut new normal, tetapi juga bisa
menjadi bagian dalam proses penyembuhan kepada masyarakat yang secara psikis mengalami
perubahan akibat pandemi.

Anas mengatakan ini karena ia melihat beberapa fakta yang ia rasakan langsung. Misalnya, antusias
masyarakat yang tak surut meski banyak acara musik ditunda hingga berbulan-bulan.

Paling unik, penonton yang sudah terlanjur membeli tiket konser yang akhirnya ditunda lama pun tak
mengajukan refund
refund..

“Konser Dream Theater, itu enggak ada satu pun yang refund (tiket). Aneh kan?" ujar Anas.

Tiket Prambanan Jazz 2020 yang sebelum pandemi melanda Indonesia telah terjual 14.000 tiket juga
mendapati temuan serupa.

Atas dasar itu, Anas menyampaikan ke instansi terkait dan pemerintah bahwa industri musik akan
menjadi alternatif masyarakat untuk memulihkan kondisi psikis yang berubah akibat pandemi.

Tentu, pertaruhannya juga tak kecil bagi industri musik. Anas menyebutnya sebagai tak bisa main-
main soal protokol kesehatan di industri musik.

Begitu ada celah longgar terkait protokol kesehatan, risiko penyebaran Covid-19 terjadi, selesai juga
celah bagi industri musik menghadirkan acara yang menjadi sumber penghidupan tak hanya bagi
musisi dan pekerja seni. 

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 11/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

"Makanya kami berharap ada kerja sama


JEO yang baik antara penonton dan promotor,” ucap Anas. 
- Insight

DUA SISI TEKNOLOGI


LAGI-LAGI, teknologi menunjukkan kehebatannya pada manusia. Ketika banyak hal mandek selama
LAGI-LAGI,
pandemi, teknologi menjembatani.

Salah satunya seperti apa yang dirasakan industri musik pada saat ini. Konser virtual sampai platform
musik digital adalah hasil nyata dari mengulik teknologi.

Meski banyak catatan yang harus dibenahi soal penggunaan teknologi, setidaknya masih ada ruang
alternatif untuk kreasi dan ekspresi.

Sejauh ini, penyanyi Danilla Riyadi mengikuti tren menggelar konser virtual yang semuanya dikerjakan
di rumah masing-masing.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 12/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

JEO - Insight

KOMPAS.com/IRA GITA
Danilla Riyadi dalam jumpa pers syukuran 500 ribu penonton lm Pretty Boys di Ecology Kemang, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2019)

Walau terlihat simpel, pada kenyataannya banyak kendala yang ia temukan selama menggelar konser
dari rumah.

“Kalau (konser) di rumah tuh jadi ada rasa ingin perfect dan itu jadi kendalaku sih, 
sih, karena
karena aku
perfeksionis orangnya,” ucap Danilla.

Kendala lain yang dirasakan oleh setiap musisi dalam konser online adalah kurangnya feedback dari
penonton.

Padahal, feedback dari penonton, entah itu sekadar tepuk tangan atau sorak-sorai, justru bisa
membakar api semangat para musisi di atas panggung.

Banyak yang terasa hilang dari ketiadaan konser dan peralihan ke panggung virtual. Terlebih lagi,
internet di Indonesia bukan internet terbaik yang malah bikin konser online bisa terasa menyebalkan
untuk ditonton.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 13/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

Danilla pun mengalami semua itu.JEO


Urusan seperti delay karena sinyal internet pun bikin konser tak
- Insight
terasa menggigit, baik untuk musisi maupun penontonnya.

Sementara menurut Afgan, pilihan terbaik dan paling aman bagi musisi dan penonton masih ada di
konser digital atau virtual.

Hanya saja, demi memenuhi kebutuhan ekonomi yang terdampak virus corona, Afgan juga berharap
agar konser-konser virtual ini diselenggarakan dengan tiket berbayar.

“Sekarang kita semua ini yang musisi terutama yang affected banget akibat pandemi ini harus mulai
shift ke digital, either mungkin konser digital tetap berbayar tapi harganya lebih murah dan ya
semuanya serba platform digital sih,” kata Afgan.

KISAH KAMI BERADAPTASI: #OrkestraDiRumah Erwi…


Erwi…

Contoh pertunjukan konser digital berbayar juga sudah pernah diterapkan oleh Erwin Gutawa. Konser
yang juga dimeriahkan oleh Afgan ini terbukti sukses dan berpotensi untuk dilakukan ke depannya.

Bercermin dari kondisi tersebut, Muhammad Soufan atau Muna belajar pula soal situasi dunia digital
di Indonesia.

Hikmah pandemi, kata dia, semua orang selama pandemi menjadi dipaksa lebih cepat untuk
menyerap digital ke dalam kehidupannya sehari-hari. 

Muna sepakat, pandemi tanpa sadar telah membuat orang lebih cepat menuju dan merealisasikan
Revolusi Industri 4.0, menjadikan semua sentuhan digital menjadi hal lumrah.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 14/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

“Good news-nya
news-nya adalah begitu (Revolusi Industri 4.0 lebih cepat), sekarang kan semua putar otak
JEO - Insight
supaya barang terjual dari sisi bisnisnya, si artis juga putar otak supaya karyanya sampai ke fans.
Jadi semua instrumen digital dikulik ya sama pelaku industri,” ucap Muna. 

Hanya saja, Muna melihat kebutuhan internet dalam keseharian di Indonesia untuk mempercepat
Revolusi Industri 4.0 masih sulit tercapai. Akses internet serta sarana dan prasarana penunjangnya
masih minim.

Buktinya bisa dilihat dari apa yang terjadi selama pandemi di Indonesia. Misal, proses belajar dari
rumah dan bekerja dari rumah malah memberi kendala baru karena akses internet yang sulit dan
sinyal yang tak merata. 

Melihat kondisi itu, Muna berharap pemerintah melalui lembaga terkait segera bercermin dan
berbenah. Bukan hanya industri musik yang butuh sarana dan prasarana dunia digital.

“Tapi aku juga enggak mengerti kenapa apa-apa tuh susah sampai ke kampung ya, kecuali kotak
suara (dalam pemilu)," ujar Muna.

Ihwal musik yang kini mendapatkan jumlah pendengar signi kan selama pandemi, Muna meyakini itu
karena musik bisa menjadi hiburan alternatif untuk mengurangi rasa stres dan perubahan emosional
akibat pandemi. 

“Aku saja dari rumah buka YouTube musik atau Spotify dari rumah itu memang karena mood mood,, bukan
lihat artis lagi. Yang jazz, kayak Ardhito Pramono, bukan karena artisku tapi karena kebetulan aku
suka musiknya. Stress healing itu, secara kejiwaan, musik itu sangat membantu, memang benar
adanya,” ucap Muna.


Saat menjalani semua ini, mungkin kita berpikir pandemi adalah bencana yang memukul setiap
orang. 

Namun, pada akhirnya, dari pandemi pula kita belajar cara untuk tetap bertahan dan tetap ada,
termasuk industri musik dan para pelakunya. 

Terlebih lagi, seperti apa yang dikatakan penulis dan politikus Edward Bulwer-Lytton, “Musik,
“Musik, sekali
masuk ke dalam jiwa, akan menjadi semacam semangat, dan tidak akan pernah mati.”
mati.”

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 15/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

TAG: industri musik Indonesia Afgan Dream Theater Prambanan Jazz 2020
JEO - Insight
Hammersonic 2020 Slipknot Danilla Tulus konser konser virtual Erwin Gutawa

Candra Darusman Danilla Riyadi Sony Music Indonesia Fesmi

KOMENTAR

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel
Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.
Smartphone.
Syarat & Ketentuan

Tulis komentar anda...

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Kirim

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Artikel JEO Lainnya Indeks

Peristiwa / 20 Maret 2021

Kode Keras dari Pemunduran Paksa Indonesia di All England 2021

Cerita data / 18 Maret 2021

Cerita Data — Para Pembuat Sejarah Grammy Awards 1959-2021

Insight / 16 Maret 2021

Serba-serbi Grammy Awards 1959-2021

Tokoh / 14 Maret 2021

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 16/17
3/23/2021 Industri Musik Mengulik Titik Balik - JEO Kompas.com

Pro l Moeldoko: Dari Anak Miskin, Reformasi TNI, Kepala Staf Presiden, sampai
Arah 2024 JEO - Insight

Insight / 10 Maret 2021

Efek Domino Pandemi Covid-19 Menerjang Industri Musik Indonesia

Tokoh / 1 Maret 2021

Obituari - Artidjo Alkostar, Vonis Berat Kasasi, dan Kontroversinya

Penulis ADY PRAWIRA RIANDI


ANDIKA ADITIA
TRI SUSANTO SETIAWAN
PALUPI ANNISA AULIANI

Editor TRI SUSANTO SETIAWAN

Cover SHUTTERSTOCK/AGSANDREW

Post Producer PALUPI ANNISA AULIANI

Copyright 2008 - 2021 PT. Kompas Cyber Media


(Kompas Gramedia Digital Group).
Group).
All rights reserved.

https://jeo.kompas.com/industri-musik-mengulik-titik-balik 17/17