Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

“TUMOR TULANG FEMUR”


DI RUANG 15 RSSA MALANG
Disusun untuk memenuhi Tugas Kepaniteraan klinik Departemen Pediatrik

Disusun Oleh :
I Wayan Gede Saraswasta
140070300011111
PSIK A Kelompok 1

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Malang
2016
1. Definisi Tumor Tulang
Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa
latin, yang berarti bengkak. Istilah tumor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan
biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut Brooker (2001),  pertumbuhan tumor dapat
digolongkan sebagai ganas (malignant) atau jinak (benign).
Tumor tulang merupakan kelainan pada system muskuloskeletal yang bersifat
neoplastik. Tumor dalam arti yang sempit berarti benjolan, sedangkan setiap pertumbuhan
yang baru dan abnormal disebut neoplasma. Tumor dapat bersifat jinak atau ganas. Tumor
ganas dapat bersifat primer yang berasal dari unsur-unsur tulang itu sendiri atau sekunder
dari metastasis (infiltrasi) terutama tumor-tumor ganas organ lain ke dalam tulang.

2. Epidemiologi Tumor Tulang


Insiden terjadinya dari seluruh tumor tulang primer : 65,8% bersifat jinak dan 34,2%
bersifat ganas, ini berarti dari setiap tiga tumor tulang terdapat satu yang bersifat ganas.
Tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh tumor ganas yang ada dan
hanya 1,5% dari seluruh tumor ganas organ. Perbandingan insiden tumor tulang pada pria
dan wanita adalah sama. Tumor jinak tulang primer yang paling sering ditemukan adalah
osteoma (39,3%), osteokondromo (32,5%), kondroma (9,8%) dan sisanya adalah tumor
tulang jinak yang lain. Osteogenik sarkom (48,8%) merupakan tumor ganas primer tulang
yang paling sering ditermukan, diikuti giant cell tumor (17,5%), kondrosarkomo (10%) dan
sisanya adalah tumor tulang ganas yang lain.

3. Klasifikasi Tumor
Dalam kasus tumor pada tulang dapat dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi
tumor tulang jinak dan tumor tulang ganas
Tumor Jinak
a. Osteoma
Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak  dan ditandai oleh pertumbuhan
tulang yang abnormal. Osteoma klasik berwujud sebagai suatu benjolan yang tumbuh
dengan lambat, tidak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi, osteoma perifer tampak
sebagai lesi, lesi menimbulkan adiopak yang meluas dari perrmukaan tulang, osteoma
sentral tampak sebagai suatu massa sklerotik terbatas jelas didalam tulang. Kalau lesi
menimbukan gejala-gejala, membesar, atau menyebakan ketidakmampuan maka
perawatan yang dipilih adalah eksisi osteoma dengan pembedahan . Operasi
pembuangan bagian tulang yang membesar ini juga dilakukan untuk tujuan diagnostic
pada lesi-lesi yang besar. Eksisi meemberikan penyembuhan pada tulang.
b. Kondroblastoma
Tumor jinak yang jarang di temukan, dan biasanya paling sering mengenai anak-
anak pada remaja. Tempat paling sering terserang adalah tulang humerus. Gejala
seringkali berupa nyeri sendi yang timbul dari jaringan tulang rawan. Perawatannya
dengan eksisi pembedahan. Jika kambuh, tumor ini akan di tangani dengan eksisi, bedah
beku atau radioterapi.
c. Endrokoma
Endrokoma atau kondroma sentral adalah tumor jinak sel-sel rawan displatik yang
timbul pada  metafisis tulang fibula, terutama pada tangan dan kaki. Pada pemerikasasn
radiografi didapati titik-titik perkapuran yang berbatas tegas , membesar dan menipis.
Tanda ini merupakan ciri khas dari tumor. Tumor berkembang semasa pertumbuhan
pada anak-anak atau remaja. Keadaan ini meningkatkan fraktur patologis untuk jenis
gangguan ini biasanya dilakukan pembedahan dengan kuretase dan pencangkokan
tulang.
d. Tumor sel raksasa
Sifat khas sel raksasa adalah adanya stroma vascular yang terdiri dari sel-sel dan
bentuk oval yang mengandung sejumlah nucleus lonjong, kecil dan berwarna gelap. Sel
raksasa ini merupakan sel besar dengan sitoplasma yang berwarna merah muda. Sel ini
mengandung sejumlah  nucleus yang vesicular dan menyerupai sel-sel stroma.
Walaupun tumor ini dianggap jinak tetapi tetap memiliki derajat keganasaaan bergantung
pada sifat sarkopatosa dari stromanya. Padajenis yang ganas, tumor ini menjadi
anaplastik dengan daerah-daerah nekrosis dan perdarahan .
Tumor-tumor sel raksasa terjadi pada orang dewasa muda dan lebih banyak terjadi
pada perempuan. Tempat-tempat biasa yangt di sarang pada tumor ini adalah ujung-
ujung tulang panjang radius. Gejala yang paling sering adalah nyeri, juga ada
keterbatasan gerakan sendi dan keleamahan. Setelah dibiopsi untuk memastikan
adanyan tumor ini , biasanya diperlukkan eksisi yang cukup luas, termasuk
pengangkatan di tepi tumor. Tumor ini cenderung kambuh secara local dan tumor yang
kambuh setelah suatu eksisi yang tidak bersih biasanya lebih ganas. Dengan melakukan
biopsy maka diagnosis dapat ditegakkan dan yang disertai tindakan rekontruksi segera
dapat dilakukan . Pada kasus-kasus tumor sel raksasa ini menyerang suatu daerah yang
luas di bagian distal radius, maka bagian proksimal fibula pasien dapat di cangkokkan
untuk rekontruksi lengan bawah.

Tumor ganas
a. Sarkoma Osteogenik
Sarcoma osteogenik atau osteosarkoma merupakan neoplasma tulang primer yang
sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering
terkena tumor ini adalah bagian tulang-tulang panjang, terutama lutut. Sarcoma
osteogenik paling banyak menyerang anak remaja dan mereka yang baru menginjak
masa dewasa, tetapi dapat juga menyerang pasien penyakit Paget yang berusia lebih
dari 58 tahun. Nyeri yang disertai destruksi tulang dan erosi adalah gejala umum dari
penyakit ini.
b. Penampakan kasar dari sarcoma osteogenik bervariasi. Neoplasma tersebut dapat
berupa (1) osteolitik, dengan tulang yang telah mengalami kerusakan dan jaringan lunak
diinvasi oleh tumor, atau (2) osteoblastik sebagai akibat pembentukan tulang sklorotik
yang baru. Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat dengan lesi, dan pada
hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya suatu bangunan yang berbentuk
segitiga. Walaupun deposit tulang ini terlihat pada banyak keganasan tulang, tetapi
bersifat khas untuk sarcoma osteogenik, tumor itu sendiri dapat menghasilkan suatu
pertumbuhan tulang yang bersifat abortif. gangguan seperti ini pada radiogram akan
terlihat sebagai suatu “sunburst” (pancaran sinar matahari).
c. Kondrosarkoma
Kondrosarkoma merupakan  tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik
yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral. Tumor ini paling sering
menyerang laki-laki berusia diatas 35 tahun. Gejala yang paling sering adalah massa
tanpa nyeri yang berlangsung lama. Contoh lesi perifer sering kali tidak menimbulkan
gejala-gejala tertentu untuk jangka waktu yang lama dan hanya merupakan pembesaran
yang dapat diraba dan hampir tidak menimbulkan gangguan. tetapi mungkin akan disusul
dengan suatu pertumbuhan yang cepat dan agresif. tempat-tempat yang paling sering
ditumbuhi tumor ini adalah : pelvis, femur, tulang iga, gelang bahu dan tulang-tulang
kraniofasial.
Pada radiogram kondroskoma akan tampak sebagai suatu daerah radiolusen
dengan bercak-bercak perkapuran yang tidak jelas. penatalaksanaan terbaik yang
dilakukan pada saat ini adalah dengan eksisi radikal, tetapi bisa dilakukan juga dengan
bedah beku, radioterapi, dan kemotrapi. untuk lesi-lesi besar yang agresif dan kambuh
berulang-ulang, penatalaksanaan yang paling tepat mungkin adalah dengan melakukan
amputasi.
d. Sarkoma Ewing
Sarkoma Ewing paling sering terlihat pada anak-anak dalam usia belasan dan
tempat yang palings sering adalah korpus tulang-tulang panjang. Penampilan kasar
adalah berupa tumor abu-abu lunak yang tumbuh ke reticulum sumsum tulang dan
merusak korteks tulang dari sebelah dalam. Dibawah periosteum terbentuk lapisan-
lapisan tulang yang baru diendapkan paralel dengan batang tulang sehingga membentuk
gambaran seperti tulang bawang.
Sifat-sifat neoplasma ganas.
a. Neoplasma ganas umumnnya tumbuh lebih cepat dan hampir selalu tumbuh secara
progresif
b. Sel neoplasma ganas tidak sekohesif sel jinak
c. Pola penyebaran neoplasma ganas sering kali sangat tidak teratur.
d. Neoplasma ganas cendrung tidak berkapsul dan biasanya mereka tidak mudah
dipisahkan dari sekitar seperti neoplasma jinak
e. Kenyataannya neoplasma ganas menyerbu masuk kesekitar mereka bukan
mendesak mereka kesamping. Sel-sel ganas apakah dalam kelompok, benang atau
tunggal kelihatannya mencari jalan kejaringan sekitarnya dengan cara destruktif.
Sel-sel neoplasma ganas berploriferasi mampu untuk melepaskan diri dari tumor
induk (tumor primer) dan memasuki sirkulasi untuk menyebar ke tempat lain.

Tumor Tulang Sekunder
Tumor tulang sekunder atau tumor tulang metastatic merupakan tumor dari organ
lain yang menyebar ke tulang. Tumor tulang metastatic lebih sering daripda tumor tulang
maligna primer. Tumor yang muncul dari jaringan tubuh dimana saja bisa menginvasi tulang
dan menyebabkan destruksi tulang local dengan gejala yang mirip dengan yang terjadi pada
tumor primer. Tumor yang sering bermetastase ke tulang adalah karsinoma ginjal,
prostat,paru-paru, payudara, ovarium dan tiroid. Tumor metastatic paling sering menyerang
cranium,vertebra, pelvis, femur dan humerus.

Klasifikasi Tumor Tulang Menurut TNM


T : Tumor induk 
TX : Tumor tidak dapat dicapai
T0 : Tidak ditemukan tumor primer
T1 : Tumor terbatas di dalam periosteum
T2 : Tumor menembus periosteum
T3 : Tumor masuk organ dan struktur sekiatar tulang
N : Kelenjar limfe regional
N0 : Tidak ditemukan tumor dikelenjar limfe
N1 : Tumor dikelenjar limfe regional
M : Metastatik jauh
M0 : Tidak ditemukan metastatic jauh
M1 : Metastarik jauh
4. Etiologi Tumor Tulang
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini, penelitian
menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos dapat meningkatkan
kejadian tumor tulang. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi, keturunan, beberapa kondisi
tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ), (Smeltzer.
2001). Meskipun tidak ada penyebab tumor tulang yang pasti, ada beberapa factor yang
berhubungan  dan memungkinkan menjadi faktor penyebab terjadinya  tumor tulang yang
meliputi:
a. Genetik
Beberapa kelainan genetik dikaitkan dengan terjadinya keganasan tulang, misalnya
sarcoma jaringan lunak atau soft tissue sarcoma (STS). Dari data penelitian diduga mutasi
genetic pada sel induk mesinkin dapat menimbulkan  sarcoma. Ada beberapa gen yang
sudah diketahui ,mempunyai peranan dalam  kejadian sarcoma,  antara lain gen RB-1 dan
p53. Mutasi p53 mempunyai peranan yang jelas dalam terjadinya STS. Gen lain yang juga
diketahui  mempunyai peranan adalah gen MDM-2 (Murine Double Minute 2). Gen ini dapat
menghasilkan suatu protein yang dapat mengikat pada gen p53 yang telah mutasi dan
menginaktivitas gen tersebut.
b. Radiasi.
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi
seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi.
Halperin dkk. Memperkirakan resiko terjadinya sarcoma pada klien penyakit Hodgkin yang
diradiasi adalah 0,9 %.  Terjadinya keganasan jaringan lunak dan bone sarcoma akibat
pemaparan radiasi sudah diketahui sejak 1922. Walaupun jarang ditemukan, prognosisnya
buruk dan umumnya high grade.
Tumor yang sering ditemukan akibat radiasi adalah malignant fibrous histiocytoma
(MFH) dan angiosarkoma atau limfangiosarkoma. Jarak waktu antara radiasi dan terjadinya
sarcoma diperkirakan sekitar 11 tahun.
c. Bahan Kimia.
Bahan kimia seperti Dioxin dan Phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan
sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan. Pemaparan terhadap torium dioksida (Thorotrast),
suatu bahan kontras, dapat menimbulkan angiosarkoma, pada hepar, selain itu, abses juga
diduga dapat menimbulkan mosotelioma,  sedangkan polivilin klorida dapat menyebabkan
angiosarkoma hepatik.
d. Trauma
Sekitar 30 % kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma.
Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan
riwayat trauma, semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.
e. Limfedema kronis.
Limfedema akibat operasi atau radiasi dapat menimbulkan limfangiosarkoma dan
kasus limfangiosarkoma pada ekstremitas superior ditemukan pada klien karsinoma
mammae yang mendapat radioterapi pasca-mastektomi.
f. Infeksi.
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi
parasit, yaitu filariasis. Pada klien limfedema kronis akibat obstruksi, filariasis dapat
menimbulkan limfangiosrakoma.

5. Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.
Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau
penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi
destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi
penimbunan periosteum tulang yang baru dekat tempat lesi terjadi, sehingga terjadi
pertumbuhan tulang yang abortif.
Kelainan congenital, genetic, gender / jenis kelamin, usia, rangsangan fisik berulang,
hormon, infeksi, gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat menimbulkan
tumbuh atau berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat benign (jinak) atau bersifat
malignant (ganas). Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak
pada umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya
secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan
jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak
mudah dikeluarkan dengan cara operasi.
Sel tumor pada tumor ganas (kanker) tumbuh cepat, sehingga tumor ganas pada
umumnya cepat menjadi besar. Sel tumor ganas tumbuh menyusup ke jaringan sehat
sekitarnya, sehingga dapat digambarkan seperti kepiting dengan kaki-kakinya
mencengkeram alat tubuh yang terkena. Disamping itu sel kanker dapat membuat anak
sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain yang jauh dari tempat asalnya melalui
pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan tumbuh kanker baru di tempat lain.
Penyusupan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat tubuh
tersebut sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu.
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak
teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan
pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke
tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan
DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya
Adapun siklus tumbuh sel kanker adalah membelah diri, membentuk RNA,
berdiferensiasi / proliferasi, membentuk DNA baru, duplikasi kromosom sel, duplikasi DNA
dari sel normal, menjalani fase mitosis, fase istirahat (pada saat ini sel tidak melakukan
pembelahan).

6. Manifestasi Klinis
Pasien dengan tumor tulang datang dengan masalah yang berhubungan dengan
tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (ringan dan
kadang-kadang sampai konstan dan berat), pembengkakan, gerakan ymag terbatas, linu,
kecacatan yang bervariasi dan pada suatu saat terdapat pertumbuhan tulang yang jelas.
Bila terjadi kompresi corda spinalis dapat berkembang lambat atau cepat. Defisit neurologic
(misalnya nyeri progresif, kelemahan, paratesia, paraplegia, retensio urine) harus
diidentifikasi awal dan ditangani dengan laminektomi dekompresi untuk mencegah cedera
korda spinalis permanen. Studi radiografikal, scan MRI dan CT pada tulang yang terkena
penyakit akan memberikan informasi diagnostic. Biopsi jarum merupakan prosedur
definitive. pemotretan sinar-X pada dada dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan
metastasis.

Manifestasi Klinis Tumor Tulang Benigna


Pasien umumnya memiliki riwayat nyeri berulang, memburuk pada malam hari dan
biasanya tidak sanggup beraktivitas. Massa dan pembengkakan mungkin dapat diketahui
dengan palpasi, tetapi gejala pokok (kehilangan berat badan, demam, berkeringat pada
malam hari, lemas) biasanya tidak ditemukan, kecuali pada kasus tumor metastase.
Lesi yang berdekatan bergabung dan dapat menyebabkan tumor tidak terkendali,
bernodul dan nyeri. Tumor jaringan lunak seringkali dirasakan kurang nyeri bahkan tidak
nyeri. Nyeri ini disebabkan tertekannya saraf-saraf nyeri oleh massa.

Manifestasi Klinis Tumor Tulang Maligna


1. Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan, sekitar 75% pasien dengan
tumor tulang maligna merasakan nyeri. Gejala nyeri yang ditimbulkan tergantung pada
predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul
akibat pembesaran tumor yang perlahan-lahan. Nyeri berlangsung lama dan memburuk
pada malam hari. Saat istirahat nyeri tidak menghilang, nyeri diperberat oleh adanya
fraktur patologis.
2. Pembengkakan : Pembengkakan lokal biasa ditemukan.
3. Massa yang teraba : Teraba massa yang diakibatkan penonjolan tulang.
4. Frekuensi miksi meningkat
Manifestasi klinis ini ditemukan pada tumor tulang maligna di pelvis, namun manifestasi
klinis ini tidak selalu ada di setiap tumor tulang maligna. Gejala yang ditimbulkan
tergantung dari gradenya. Pada grade tinggi, selain pertumbuhan tumor cepat juga
disertai nyeri yang hebat. Sedangkan pada grade rendah, pertumbuhan tumor lambat
dan biasanya disertai keluhan orang tua seperti nyeri pinggul dan pembengkakan.

7. Pemeriksaan Diagnostik
 Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi tulang.
 CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
 Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan insisi,
eksisi, biopsi jarum, dan lesi-lesi yang dicurigai.
 Skrening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
 Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin fosfatase.
 MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran
pada jaringan lunak sekitarnya.
 Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya “skip lesion”, ( Rasjad. 2003).

8. Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna dan Maligna


a. Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna
Penatalaksanaan tumor tulang benigna biasanya tidak terlalu sulit dibanding dengan
tumor tulang maligna. Pada tumor tulang benigna yang jelas, misalnya non-ossifying fibrosa,
osteokondroma yang kecil biasanya tidak diperlukan tindakan khusus. Apabila jenis tumor
diragukan maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi. Tujuan pengambilan biopsi adalah
memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan histologis, untuk membantu
menetapkan diagnosis serta staging tumor. Waktu pelaksanaan biopsi sangat penting sebab
dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologis yang dipergunakan pada staging.
b. Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Maligna
Penatalaksanaan tumor tulang maligna merupakan bentuk kerja tim antara dokter
dengan profesional kesehatan lainnya. Para radiologist, diperlukan untuk melihat faktor-
faktor untuk evaluasi kecepatan perkembangan tumor, diagnosis spesifik, dan pembesaran
tumor. Perawat dan ahli gizi, terlibat menjelaskan kepada pasien efek samping dari
penanganan tumor tulang maligna dan memberikan dorongan kesehatan makanan untuk
membantu melawan efek samping tersebut.

Jenis terapi yang diberikan kepada pasien tergantung pada beberapa hal seperti:
 Ukuran dan lokasi dari kanker.
 Menyebar tidaknya sel kanker tersebut.
 Grade dari sel kanker tersebut.
 Keadaan kesehatan umum pasien.
 Pasien dengan tumor tulang maligna memerlukan terapi kombinasi
pembedahan(surgery), kemoterapi dan radioterapi.
1) Surgery
Langkah utama penatalaksanaan tumor tulang maligna pembedahan karena tumor
tulang ini kurang berespon terhadap terapi radiasi dan kemoterapi. Variasi
penatalaksanaan bedah dapat dilakukan dengan kuret intralesi untuk lesi grade rendah,
eksisi radikal, bedah beku hingga amputasi radikal untuk lesi agresif grade tinggi. Lesi
besar yang rekuren penatalaksanaan paling tepat adalah amputasi.
2) Kemoterapi
Kemoterapi, meskipun bukan yang paling utama, namun ini diperlukan jika kanker telah
menyebar ke area tubuh lainnya. Terapi ini menggunakan obat anti kanker (cytotoxic)
untuk menghancurkan sel-sel kanker. Namun kemoterapi dapat memberikan efek
samping yang tidak menyenangkan bagi tubuh. Efek samping ini dapat dikontrol dengan
pemberian obat.
3) Radioterapi
Prinsip radioterapi adalah membunuh sel kanker menggunakan sinar berenergi tinggi.
Radioterapi diberikan apabila masih ada residu tumor, baik makro maupun mikroskopik.
Radiasi diberikan dengan dosis per fraksi 2,5 Gy per hari dan total 50-55 Gy
memberikan hasil bebas tumor.

9. Konsep Keperawatan
Pengkajian
a. Aktivitas /Istirahat
Gejala:
 kelemahan dan atau keletihan.
 Perubahan pada pola tidur dan waktu tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti : nyeri, ansietas, dan berkeringat malam.
 Keterbatasan partisipasi dalam hobi dan latihan.
 Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen, tingkat stress tinggi.
b. Sirkulasi
Gejala :
 palpitasi dan nyeri dada pada aktivitas fisik berlebih.
 Perubahan pada TD.
c. Integritas Ego
Gejala :
 Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres
(misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan
religious/spiritual).
 Masalah tentang perubahan dan penampilan, misalny : alopesia, lesi, cacat,
pembedahan.
 Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
bermakna, rasa bersalah, kehilangan.
Tanda :
 Kontrol depresi.
 Menyangkal, menarik diri, dan marah.
d. Eliminasi
Gejala :
 Perubahan pola defikasi, misalnya : darah pada feses, nyeri saat defikasi.
Perubahan eliminasi urinearius misalnya : nyeri atau rasa terbakar pada saat
berkemih, hematuria, sering berkemih.
Tanda:
 Perubahan bising usus, distensi abdomen.
e. Makanan/Cairan
Gejala:
 Kebiasaan diet buruk (misalnya : rendah serat, tinggi lemak, aditif, dan bahan
pengawet).
 Anoreksia, mual/muntah.
 Intoleransi makanan.
Tanda:
 Perubahan berat badan (BB), penurunan BB hebat, kaheksia, berkurangnya massa
otot.
 Perubahan pada kelembapan/turgor kulit, edema.
f. Neurosensori
Gejala :
 Pusing, sinkope.
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala :
 Tidak ada nyeri yang bervariasi, misalnya : kenyamanan ringan sampai nyeri berat
(dihubungkan dengan proses penyakit).
h. Pernafasan
Gejala :
 Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan asbes.
i. Keamanan
Gejala :
 Pemajana pada kimia toksik, karsinogen.
 pemajanan matahari lama/berlebihan.
 Demam.
Tanda :
a. Ruam kulit, ulserasi.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan pada klien tumor/kanker tulang umumnya sama dengan
tumor/kanker pada organ yang lain.
a. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi (kanker), ancaman/perubahan pada status
kesehatan/sosial ekonomi, fungsi peran, pola interaksi, ancaman kematian, perpisahan
dari keluarga.
b. Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi jaringan saraf, opstruksi jaringan saraf
atau inflamasi, serta efek samping berbagai agen terapi saraf.
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan stasus hipermetabolik,
konsekuensi, kemotrapi, radiasi, pembedahan, distre emosiona, keletihan atau kontrol
nyeri buruk.
d. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik,
kerusakan masukan cairan, kehilangan cairan berlebihan (luka, selang indwelling).
e. Keletihan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik (hipermetabolik),
emosional berlebihan, efek obat-obatan/kemoterapi.
f. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat,
malnutrisi, proses penyakit kronis, atau prosedur invasif.
g. Risiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi,
kemoterapi, perubahan imunologis, perubahan status nutrisi, atau anemia.
h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan
perawatan) berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi, mitos,
tidak mengenal sumber informasi, atau keterbatasan kognitif.
Rencana Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan kompresi/destruksi jaringan saraf, obstruksi jaras saraf
atau inflamasi serta efek samping berbagai agen terapi saraf.
Intervensi :
1) Kaji nyeri, missal lokasi nyeri, frekwensi, durasi, dan itensitas (skala 1-10), serta
tindakan penghilang nyeri yang digunakan.
2) Evaluasi terapi tertentu, missal pemidahan, radiasi, kemoterapi, bioterapi. Ajarkan
pada klien/orang terdekat apa yang diharapkan.
3) Peningkatan kenyamanan dasar (missal teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan
imajinasi) dan aktivitas hiburan (missal music, televise).
4) Dorongan penggunaan keterampilan managemen nyeri (missal teknik relaksasi,
visualisasi, bimbingan imajinasi), tertawa, music, dan sentuhan terapeutik.
Kolaborasi
5) Kembangkan rencana manajemen nyeri bersama klien dan tim medis.
6) Berikan analgesic sesuai indikasi, misalnya : morfin, metadon, atau campuran
narkotik IV khusus. PAstikan hal tersebut hanya untuk memberikan analgesic
dalam sehari. Ganti dari analgesik dalam sehari. Ganti dari analgesic kerja
pendek menjadi kerja panjang bila ada indikasi.
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik,
konsekuensi, kemoterapi, radiasi, pembedahan, distress emosional, keletihan, atau
control nyeri buruk.
Intervensi :
1) Pantau intake makanan setiap hari, biarkan klien menyimpan buku harian tentang
makanan sesuai indikasi.
2) Ukur tinggi badan(TB), berat badan (BB), dan ketebalan lipatan kulit, triseps atau
dengan antroprometrik lainnya. Pastikan jumlah penurunan berat badan saat ini.
3) Dorong klien untuk makan dengan diet tinggi kalori kaya nutrient, dengan intake
cairan yang adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sedikit tapi
sering.
4) Monitor diet sebelum dan setelah pengobatan, missal makanan, cairan dingin,
bubur saring, roti, creackers, minuman berkabonat. Berikan cairan satu jam
sebelum atau sesudah makan.
5) Kontrol faktor lingkungan, missal bau/tidak sedap atau bising. Hindari makanan
terlalu manis, berlemak atau makan pedas.
Kolaborasi
6) Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, misalnya : jumlah limfosit
total, transferin serum, dan albumin.
7) Berikan obat-obat sesuai indikasi :
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C dan JoAnn C. Hackley. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah; editor Suzanne C.
Smeltzer, Brenda G. Bare; alih bahasa, Agung Waluyo… [et. al.]; editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester. –Ed. 8-. Jakarta: EGC Gale, Danielle dan Jane Charette.
1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran; alih bahasa, Brahm U. Pendit…
[et. al.]; editor edisi bahasa Indonesia, H. M. Djauhari Widjajakusumah. –Ed. 20-.
Jakarta: EGC http://askep.blogdetik.com/2008/12/07/fraktur/ http://abuddin.blog.co.uk /
2009/02/07/kanker-tulang-primer-5523032/ http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/
asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html
http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/blog-post.html
Setyono, Joko. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Sjamsuhidajat, R dan
Wim
Dejong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi
Untuk Mahasiswa Keparawatan. –Edisi 3-. Jakarta: EGC
W sudoyo dkk 2010. Ilmu penyakit dalam. Jakarta: internapublishing.