Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

“ATRESIA ANI”
DI RUANG 11 PERINA RSSA MALANG

Disusun untuk memenuhi Tugas Kepaniteraan klinik Departemen Pediatrik

Disusun Oleh :
I Wayan Gede Saraswasta
140070300011111
PSIK A Kelompok 1

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2015
1. Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :
1) Mulut
Mulut atau oris adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2
bagian yaitu :
a. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi,
bibir dan pipi.
b. Bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu rongga mulut yang di
batasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum mandibularis, di
sebelah belakang bersambung dengan faring.

Selaput lendir mulut ditutupi epitelium yang berlapis-lapis, di


bawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput
ini kaya akan pembuluh darah dan juga memuat banyak ujung akhir saraf
sensoris. Di sebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan di sebelah dalam
ditutupi oleh selaput lendir (mukosa). Otot orbikularis oris menutupi bibir.
Levator anguli oris mengangkat dan depresor anguli orismenekan ujung
mulut. Palatum, terdiri atas 2 bagian yaitu :
a. Palatum durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-tajuk
palatum dan sebelah depan tulang maksilaris dan lebih
kebelakang terdiri dari 2 tulang palatum.
b. Palatum yang dapat bergerak, terdiri mole (palatum lunak) terletak di
belakang yang merupakan lipatan menggantung atas jaringan
fibrosa dan selaput lendir. Gerakannya dikendalikan oleh ototnya
sendiri, di sebelah kanan dan kiri dari tiang fauses terdapat saluran
lendir menembus ke tonsil.
2). Lidah
Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir, kerja
otot lidah ini dapat digerakkan ke seluruh arah. Lidah dibagi atas tiga bagian,
radiks lingua (pangkal lidah), dorsum lingua (punggung lidah), dan apeks lingua
(ujung lidah). Pada pangkal lidah yang belakang terdapat epiglotis yang
berfungsi untuk menutup jalan nafas pada waktu kita menelan makanan,
supaya makanan jangan masuk ke jalan nafas. Punggung lidah (dorsum
lingua) terdapat puting-puting pengecap atau ujung saraf pengecap.
Frenulum lingua merupakan selaput lendir yang terdapat pada bagian
bawah kira-kira di tengah, jika lidah digerakkan ke atas nampak selaput
lendir. Flika sublingua terdapat di sebelah kiri dan kanan frenulum lingua,
di sini terdapat pula lipatan selaput lendir . Pada pertengahan flika sublingua
ini terdapat saluran dari grandula parotis, submaksilaris, dan glandula
sublingualis.
Fungsi lidah yaitu mengaduk makanan, membentuk suara, sebagai alat
pengecap dan menelan, serta merasakan makanan.
3). Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan (esofagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel)
yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit merupakan
pertahanan terhadap infeksi. Di sini terletak bersimpangan antara jalan nafas
dan jalan makanan, letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung,
di depan ruas tulang belakang, ke atas bagian depan berhubungan dengan
rongga hidung, dengan perantara lubang bernama koana. Keadaan tekak
berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut
ismus fausium. Tekak terdiri dari bagian superior disebut nasofaring, pada
nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang
gendang telinga. Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas ke
depan sampai di akar lidah, sedangkan bagian inferior disebut laringofaring
yang menghubungkan orofaring dengan laring.
Menelan (deglutisio), jalan udara dan jalan makanan pada faring
terjadi penyilangan. Jalan udara masuk ke bagian depan terus ke leher bagian
depan sedangkan jalan makanan masuk ke belakang dari jalan napas dan di
depan dari ruas tulang belakang. Makanan melewati epiglotis lateral melaui
ressus piriformis masuk ke esophagus tanpa membahayakan jalan udara.
Gerakan menelan mencegah masuknya makanan masuk ke jalan udara,
pada waktu yang sama jalan udara ditutup sementara.
4). Esofagus
Esophagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan
lambung, panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di
bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar, lapisan selaput lendir
(mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler, dan lapisan otot
memanjang longitudinal.
Esophagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang
punggung. Setelah melalui thorak menembus diafragma masuk ke dalam
abdomen menyambung dengan lambung.
5). Hati
Hati atau hepar adalah organ yang paling besar di dalam tubuh kita,
warnanya coklat dan beratnya kira-kira 1 ½ kg. Letaknya di bagian atas
dalam rongga abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Hati terdiri
atas 2 lapisan utama : permukaan atas berbentuk cembung, terletak di
bawah diafragma, dan permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan
lekukan fisura transverses. Hati mempunyai 2 jenis peredaran darah yaitu
arteri hepatika dan vena porta. Arteri hepatika, keluar dari aorta dan member 1/5
darah pada hati, masuk ke hati akan membeku jaringan kapiler setelah bertemu
dengan kapiler vena, akhirnya keluar sebagai vena hepatika. Vena porta yang
terbentuk dari lienalis dan vena mesentrika superior me nghantarkan 4/5
darahnya ke hati. Fungsi hati :
a. Mengubah zat makanan yang di absorpsi dari usus dan yang
disimpan di suatu tempat dalam tubuh.
b. Mengubah zat buangan dan penawar racun untuk disekresi dalam
empedu dan urine.
c. Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen.
d. Sekresi empedu, garam empedu dibuat di hati, dibentuk dalam
sistem retikuloendotelium.
e. Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat.
6). Lambung
Lambung atau gaster merupakan bagian dari saluran yang dapat
mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri
dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esophagus melalui
orifisium pilorik, terletak di bawah diafragma di depan pankreas dan limpa,
menempel di sebelah kiri fundus uteri.
Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan. Bila
melihat makanan dan mencium bau makanan maka sekresi lambung akan
terangsang. Rasa makanan merangsang sekresi lambung karena kerja saraf
menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung
melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Getah lambung di
halangi oleh sistem saraf simpatis yang dapat terjadi pada waktu gangguan
emosi seperti marah dan rasa takut. Fungsi lambung :
 Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan
oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
 Getah cerna lambung yang dihasilkan :
a. Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino (albumin
dan pepton).
b. Asam garam (HCL), fungsinya mengasamkan makanan, sebagai
antiseptic dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada
pepsinogen sehingga menjaddi pepsin.
c. Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan
membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu).
d. Lapisan lambung jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam
lemak yang merangsang sekresi getah lambung.
7). Pankreas
Panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari deudenum
sampai ke limpa. Bagian dari pankreas : kaput pankreas, terletak di
sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan deudenum yang
melingkarinya. Korpus pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini,
letaknya dibelakang lambung dan di depan vertebra umbalis pertama. Ekor
pankreas, bagian runcing di sebelah kiri menyentuh limpa.
8). Usus halus
Usus halus atau intestinum minor adalah bagian dari sistem
pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada sekum
panjangnya ± 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat proses
pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan yang terdiri dari lapisan usus
halus ( lapisan muko sa (sebelah di dalam), lapisan otot melingkar
(M.sirkuler), lapisan otot memanjang (M. longitudinal), dan lapisan serosa
(sebelah luar)).
Absorpsi makanan yang sudah dicerna seluruhnya berlangsung di
dalam usus halus melalui 2 saluran yaitu pembuluh kapiler dalam darah
dan seluruh limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vilus berisi
lakteal, pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama oleh
jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium.
Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan
lemak yang diabsorpsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh
limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta
dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan. Fungsi usus halus :
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui
kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
9). Duodenum
Duodenum disebut juga usus 12 jari, panjangnya ± 25 cm,
berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat
pankreas. Pada bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lendir, yang
membukit disebut papilla vateri. Pada papilla vateri ini bermuara saluran
empedu (duktus koledokus) dan saluran pankreas (duktus pankreatikus).
Empedu dibuat di hati untuk dikeluarkan ke duodenum melalui duktus
koledokus yang fungsinya mengemulsikan lemak, dengan bantuan lipase.
Pankreas juga menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang
menjadi disakarida, dan tripsin yang berfungsi mencerna protein menjadi asam
amino atau albumin dan polipeptida.Dinding duodenum mempunyai lapisan
mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar-
kelenjar Brunner, berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
10). Jejunum dan ileum
Jejunum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 m. Dua perlima bagian
atas adalah jejunum dengan panjang ± 23 m, dan ileum dengan panjang 4-5
m. Lekukan jejunum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior
dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai
mesenterium.
Sambungan antara jejunum dan ileum tidak mempunyai batas yang
tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan sekum dengan perantaraan
lubang yang bernama orifisium ileosekalis. Orifisium ini diperkuat oleh
sfingter ileosekalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula sekalis valvula
baukhini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon asenden tidak
masuk kembali ke ileum.
11). Usus besar
Usus besar atau intestinum mayor panjangnya ± 1 ½ m, lebarnya 5-6
cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar : selaput lendir, lapisan
otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat. Fungsi usus besar
adalah menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri.
12). Sekum
Dibawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk
seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing, panjangnya 6 cm.
Seluruhnya ditutupi oleh peritoneum mudah bergerak walaupun tidak
mempunyai mesenterium dan dapat diraba melalui dinding abdomen pada
orang yang masih hidup.
13). Kolon asendens
Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan,
membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati melengkung ke kiri,
lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjutkan sebagai kolon
transversum.
14). Apendiks (usus buntu)
Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari ujung
sekum, mempunyai pintu keluar yang sempit tetapi masih memungkinkan
dapat dilewati oleh beberapa isi usus. Apendiks tergantung menyilang pada
linea terminalis masuk ke dalam rongga pelvis minor, terletak horizontal
dibelakang sekum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi kadang
apendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan
perforasi dindingnya ke dalam rongga abdomen.
15). Kolon transversum
Panjangnya ± 38 cm, membujur dari kolon desenden, berada
dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah
kiri terdapat fleksura lienalis.
16). Kolon desendens
Panjangnya ± 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri
membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai ke depan ileum
kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
17). Kolon sigmoid
Kolon sigmoid merupakan lanjutan dari kolon desendens, terletak miring
dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, ujung
bawahnya berhubungan dengan rektum.
18). Rektum
Rektum terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan
intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum
dan os koksigis. Organ ini berfungsi untuk tempat penyimpanan feses
sementara.
19). Anus
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan
rektum dengan dunia luar (udara luar). Terletak didasar pelvis, dindingnya
diperkuat oleh sfingter :
a. Sfingter ani interus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak.
b. Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak.
c. Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekerja menurut kehendak.
Defekasi (buang air besar) didahului oleh transport. Feses ke dalam
rektum yang mengakibatkan ketegangan dinding rektum mengakibatkan
rangsangan untuk reflex defekasi sedangkan otot usus lainnya berkontraksi.
M. Levator ani relaksasi secara volunter dan tekanan ditimbulkan oleh otot-otot
abdomen.

2. Definisi Atresia Ani


Istilah atresia ani berasal dari bahasa Yunani yaitu “ a “ yang artinya tidak
ada dan trepsis yang berarti makanan dan nutrisi. Dalam istilah kedokteran,
atresia ani adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang yang
normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata
lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya
saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau
terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu.
Atresia ani adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak
sempurna, termasuk didalamnya agenesis ani, agenesis rektum dan atresia
rektum (Faradilla, 2009).
Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz, 2002).
Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau
saluran anus (Donna, 2003). Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan
embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suradi,
2001). Atresia ani atau anus imperforata adalah tidak terjadinya perforasi
membran yang memisahkan bagian endoterm mengakibatkan pembentukan
lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke
dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan
rektum (Purwanto, 2001).

3. Klasifikasi Atresia Ani


Atresia ani dibagi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis
kelamin. Pada laki – laki golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan
fistel urin, atresia rektum, perineum datar, fistel tidak ada dan pada
invertogram: udara > 1 cm dari kulit. Golongan II pada laki – laki dibagi 5
kelainan yaitu kelainan fistel perineum, membran anal, stenosis anus, fistel
tidak ada dan pada invertogram: udara < 1 cm dari kulit.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 6 kelainan
yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rektum, fistel
tidak ada dan pada invertogram: udara > 1 cm dari kulit. Golongan II pada
perempuan dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, stenosis anus,
fistel tidak ada dan pada invertogram: udara < 1 cm dari kulit (Hamami A.H,
2004).
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2
kelompok besar, yaitu :
a. Tanpa anus tetapi dengan dekompensasi adekuat traktus
gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna.
Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula
rectogina atau rectofourchette yang relative besar, dimana fistula ini
dibantu dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus
yang adekuat sementara waktu.
b. Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adekuat untuk jalan
keluar tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan
dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi
bedah segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub
kelompok anatomi, yaitu :
1) Anomali rendah / infralevator
Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborektalis,
terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan
fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran
genitourinarius.
2) Anomali intermediet
Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis, lesung
anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.
3) Anomali tinggi / supralevator
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada.
Hal ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius –
retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung
buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.

4. Etiologi Atresia Ani


Atresia ani memiliki etiologi yang multifaktorial. Salah satunya adalah
komponen genetik. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara atresia
ani dengan pasien dengan trisomi 21 (Down's syndrome). Kedua hal tersebut
menunjukkan bahwa mutasi dari bermacam-macam gen yang berbeda dapat
menyebabkan atresia ani atau dengan kata lain etiologi atresia ani bersifat
multigenik (Levitt M, 2007).
Ada beberapa factor penyebab terjadinya atresia ani adalah:
a. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena
gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari tonjolan
embrionik.
b. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga
bayi lahir tanpa lubang dubur
c. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan
d. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah
usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara
minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
e. Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter,
dan otot dasar panggul. Namum demikian pada agenesis anus, sfingter
internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih
jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab
atresia ani. Orang tua tidak diketahui apakah mempunyai gen carier
penyakit ini. Janin yang diturunkan dari kedua orang tua yang menjadi
carier saat kehamilan mempunyai peluang sekitar 25 % - 30 % dari bayi
yang mempunyai sindrom genetik, abnormalitas kromosom, atau
kelainan kongenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani
f. Berkaitan dengan sindrom down.
g. Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital
saat lahir seperti:
 Kelainan kardiovaskuler
Ditemukan pada sepertiga pasien dengan anus imperforata. Jenis
kelainan yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan
paten ductus arteriosus, diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular
septal defect.
 Kelainan gastrointestinal
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%),
obstruksi duodenum (1%-2%)
 Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis
Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan
lumbosakral seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae, dan
hemisacrum. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan
adalah myelomeningocele, meningocele, dan teratoma intraspinal.
 Kelainan traktus genitourinarius
Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan
pada malformasi anorektal. Beberapa penelitian menunjukkan insiden
kelainan urogeital dengan malformasi anorektal letak tinggi antara 50
% sampai 60%, dengan malformasi anorektal letak rendah 15%
sampai 20%.Kelainan tersebut dapat berdiri sendiri ataupun muncul
bersamaan sebagai VATER (Vertebrae, Anorectal,
Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan VACTERL
(Vertebrae, Anorectal, Cardiovascular, Tracheoesophageal, Renal
and Limb abnormality) (Purwanto, 2001).
5. Faktor Resiko Atresia Ani
Atresia ani merupakan suatu kelainan kongenital. Secara umum faktor
resiko yang dapat meningkatkan terjadinya kelainan kongenital antara lain :
a. Pemakaian alkohol oleh ibu hamil
Pemakaian alkohol oleh ibu hamil bisa menyebabkan sindroma alkohol
pada janin dan obat-obat tertentu yang diminum oleh ibu hamil juga bisa
menyebakan kelainan bawaan.
b. Penyakit Rh, terjadi jika ibu dan bayi memiliki faktor Rh yang berbeda.
c. Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan.
Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan teratogen.
Secara umum, seorang wanita hamil sebaiknya:
 mengkonsultasikan dengan dokternya setiap obat yang dia minum
 berhenti merokok
 tidak mengkonsumsi alcohol
 tidak menjalani pemeriksaan rontgen kecuali jika sangat mendesak.
d. Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa infeksi
selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan bawaan:
 Sindroma rubella kongenital ditandai dengan gangguan penglihatan
atau pendengaran, kelainan jantung, keterbelakangan mental dan
cerebral palsy
 Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi mata
yang bisa berakibat fatal, gangguan pendengaran, ketidakmampuan
belajar, pembesaran hati atau limpa, keterbelakangan mental dan
cerebral palsy
 Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan kepada
bayinya sebelum atau selama proses persalinan berlangsung, bisa
menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy, gangguan penglihatan
atau pendengaran serta kematian bayi
 Penyakit ke-5 bisa menyebabkan sejenis anemia yang berbahaya,
gagal jantung dan kematian janin
 Sindroma varicella kongenital disebabkan oleh cacar air dan bisa
menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang,
kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang
berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan
keterbelakangan mental.
e. Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari
teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik.Salah satu
zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat.Kekurangan
asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifida atau kelainan
tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang
wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur
sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400
mikrogram/hari.
f. Faktor fisik pada Rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan
pelindung terhadap cedera.Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa
menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan bawaan.Cairan
ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paru-paru
dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal
yang memperlambat proses pembentukan air kemih.Penimbunan cairan
ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa
disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya anensefalus atau
atresia esofagus).
g. Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan.
Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang
diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang
tua.Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam kromosom
setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau cacat, bisa
terjadi kelainan bawaan.
h. Semakin tua usia seorang wanita ketika hamil (terutama diatas 35 tahun)
maka semakin besar kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada
janin yang dikandungnya.
6. Patofisiologi
7. Manifestasi Klinis Atresia Ani
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu 24 – 48
jam. Gejala itu dapat berupa :
a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama
b. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada
fistula)
c. Perut kembung.
d. Muntah- muntah pada usia 24 – 48 jam
e. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat
dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan (FK UII, 2009).
Pasien dengan atresia duodenal memiliki gejala obstruksi usus. Gejala
akannampak dalam 24 jam setelah kelahiran. Pada beberapa pasien dapat
timbul gejaladalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah kelahiran.
Muntah yang terusmenerus merupakan gejala yang paling sering terjadi pada
neonatus denganatresia duodenal. Muntah yang terus-menerus ditemukan pada
85% pasien. Muntah akan berwarna kehijauan karena muntah mengandung
cairan empedu(biliosa). Akan tetapi pada 15% kasus, muntah yang timbul yaitu
non-biliosaapabila atresia terjadi pada proksimal dari ampula veteri.(Kessel D.,
2011).
Muntah neonatus akan semakin sering dan progresif setelah neonates
mendapat ASI. Karakteristik dari muntah tergantung pada lokasi obstruksi.
Jikaatresia diatas papila, maka jarang terjadi. Apabila obstruksi pada bagian usus
yangtinggi, maka muntah akan berwarna kuning atau seperti susu yang
mengental.Apabila pada usus yang lebih distal, maka muntah akan berbau dan
Nampak adanya fekal. Apabila anak terus menerus muntah pada hari pertama
kelahiran ketika diberikan susu dalam jumlah yang cukup sebaiknya dikonfirmasi
denganpemeriksaan penunjang lain seperti roentgen dan harus dicurigai
mengalamiobstruksi usus.( Kessel D, 2011).
Ukuran feses juga dapat digunakan sebagai gejala penting untuk
menegakkan diagnosis. Pada anak dengan atresia, biasanya akan memiliki
mekonium yang jumlahnya lebih sedikit, konsistensinya lebih kering, dan
berwarna lebih abu-abu dibandingkan mekonium yang normal. Pada beberapa
kasus, anak memiliki mekonium yang nampak seperti normal. Pengeluaran
mekonium dalam 24 jampertama biasanya tidak terganggu. Akan tetapi, pada
beberapa kasus dapat terjadigangguan. Apabila kondisi anak tidak ditangani
dengan cepat, maka anak akanmengalami dehidrasi, penurunan berat badan,
gangguan keseimbangan elektrolit.Jika dehidrasi tidak ditangani, dapat terjadi
alkalosis metabolik hipokalemia atau hipokloremia. Pemasangan tuba orogastrik
akan mengalirkan cairan berwarnaempedu (biliosa) dalam jumlah bermakna
(Kessel D., 2011).
Anak dengan atresi duodenum juga akan mengalami aspirasi gastrik
dengan ukuran lebih dari 30 ml. Pada neonatus sehat, biasanya aspirasi gastrik
berukuran kurang dari 5 ml. Aspirasi gastrik ini dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan pada jalan nafas anak. Pada beberapa anak, mengalami demam.
Kondisi ini disebabkan karena pasien mengalami dehidrasi. Apabila temperatur
diatas 103º F,maka kemungkinan pasien mengalami ruptur intestinal atau
peritonitis.( Kessel D, 2011).
Pada pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen. Akan tetapi
distensiini tidak selalu ada, tergantung pada level atresia dan lamaya pasien
tidak dirawat.Jika obstruksi pada duodenum, distensi terbatas pada epigastrium.
Distensi dapattidak terlihat jika pasien terus menerus muntah. Pada kasus lain,
distensi tidaknampak sampai neonatus berusia 24-48 jam, tergantung pada
jumlah susu yangdikonsumsi neonatus dan muntah yang dapat menyebabkan
traktus alimentarimenjadi kosong. Pada beberapa neonatus, distensi bisa sangat
besar setelah harike tiga sampai hari ke empat, kondisi ini terjadi karena ruptur
lambung atau usussehingga cairan berpindah ke kavum peritoneal. Neonatus
dengan atresiaduodenum memiliki gejala khas perut yang berbentuk skafoid.
( Kessel D, 2011).
Saat auskultasi, terlihat gelombang peristaltik gastrik yang melewati
epigastrium dari kiri ke kanan atau gelombang peristaltik duodenum pada
kuadran kanan atas. Apabila obstruksi pada jejunum, ileum maupun kolon,
makagelombang peristaltik akan terdapat pada semua bagian dinding perut
(Kessel D, 2011).
Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan
malformasi anorektal adalah
a. Kelainan kardiovaskuler.
Ditemukan pada sepertiga pasien dengan atresia ani. Jenis kelainan yang
paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten ductus
arteriosus, diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular septal defect.
b. Kelainan gastrointestinal.
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%), obstruksi
duodenum (1%-2%).
c. Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis.
Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan
lumbosakral seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae, dan
hemisacrum. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan adalah
myelomeningocele, meningocele, dan teratoma intraspinal.
d. Kelainan traktus genitourinarius.
Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan pada atresia
ani. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan urogeital dengan
atresia ani letak tinggi antara 50 % sampai 60%, dengan atresia ani letak
rendah 15% sampai 20%. Kelainan tersebut dapat berdiri sendiri ataupun
muncul bersamaan sebagai VATER (Vertebrae, Anorectal,
Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan VACTERL (Vertebrae,
Anorectal, Cardiovascular, Tracheoesophageal, Renal and Limb
abnormality) ( Oldham K, 2005).

8. Pemeriksaan Diagnostik Atresia Ani


Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir
harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang
dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan
jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka
termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan
penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam
24-48 jam setelah lahir berupa perut kembung, muntah berwarna hijau.
Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan radiologi invertogram
Yaitu tehnik pengembalian foto untuk menilai jarak pungtum distal
rektum terhadap mara anus di kulit peritonium. Pada tehnik ini, bayi
diletakkan terbalik (kepala di bawah) atau tidur dengan sinar horizontal
diarahkan ke tronchanter mayor sehingga dapat dilihat sampai dimana
terdapat penyumbatan. Foto ini dilakukan setelah bayi berumur lebih dari
24 jam, karena pada usia tersebut dalam keadaan normal seluruh traktus
digestivus sudah berisi udara (bayi dibalik selama 5 menit). Invertogram
ini dilakukan pada bayi tanpa fistula.
b. Pemeriksaan urine.
Pemeriksaan urine perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
terdapat mekonium di dalamnya sehingga fistula dapat diketahui lebih
dini.
c. Sinar X terhadap abdomen
Pemeriksaan sinar-X lateral inverse (teknik Wangensteen-Rice)
dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang
buntu pada atau di dekat perineum; dapat menyesatkan jika rectum
penuh dengan mekonium yang mencegah udara sampai ke ujung
kantong rectal. Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan
bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari
sfingternya.
d. Ultrasound terhadap abdomen
Dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rectal aspirasi
jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan cara menusuk jarum
tersebut sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada
saat jarum sudah 1,5 cm, defek tersebut dianggap sebagai defek tingkat
tinggi. Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam
system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti
obstruksi oleh karena massa tumor.
e. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
f. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
g. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.
h. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.
i. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukkan
jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika meconium tidak keluar
pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm. Derek tersebut dianggap defek
tingkat tinggi.
j. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang
umum dilakukan pada gangguan ini.

9. Penatalaksanaan Medis Atresia Ani


Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia
ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa
waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur abdominoperineal
pullthrough, tapi metode ini banyak menimbulkan inkontinen feses dan
prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan Defries pada tahun 1982
yang dikutip oleh Faradillah memperkenalkan metode operasi dengan
pendekatan postero sagital anorektoplasti, yaitu dengan cara membelah
muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan
mobilisasi kantong rektum dan pemotongan fistel (Faradilla, 2009).
Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya
secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya, bentuk
kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Untuk menangani secara tepat, harus
ditentukan ketinggian akhiran rektum yang dapat ditentukan dengan berbagai
cara antara lain dengan pemeriksaan fisik, radiologis dan USG. Komplikasi
yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan
menentukan letak kolostomi, persiapan operasi yang tidak adekuat,
keterbatasan pengetahuan anatomi, serta ketrampilan operator yang kurang
serta perawatan post operasi yang buruk. Dari berbagai klasifikasi
penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran
rektum dan ada tidaknya fistula (Faradilla, 2009).
Menurut Leape (1987) yang dikutip oleh Faradilla menganjurkan
pada:
a. Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi atau
TCD dahulu, setelah 6 –12 bulan baru dikerjakan tindakan definitif
(PSARP). (atau berat BB > 10 kg)
b. Atresia ani letak rendah dilakukan perineal anoplasti, dimana sebelumnya
dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas
otot sfingter ani ekternus.
c. Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion.
d. Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin, berbeda dengan Pena
dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi. (Faradilla, 2009).
Pena secara tegas menjelaskan bahwa pada atresia ani letak tinggi
dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan
diversi. Operasi definitif setelah 4 – 8 minggu. Saat ini teknik yang paling
banyak dipakai adalah posterosagital anorektoplasti, baikminimal, limited
atau full postero sagital anorektoplasti (Faradilla, 2009).
Neonatus perempuan perlu pemeriksaan khusus, karena seringnya
ditemukan vital ke vetibulum atau vagina (80-90%) (Hamami A.H, 2004).
 Golongan I
a. Kloaka
Pemisahan antara traktus urinarius, traktus genitalia dan traktus
digestivus tidak terjadi. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna
sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.
b. Fistel vagina
Mekonium tampak keluar dari vagina, evakuasi feses tidak lancar.
Sebaiknya cepat dilakukan kolostomi.
c. Fistel vestibulum
Muara fistel divulva bawah vagina. Umumnya evakuasi feses lancar
selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat
penderita mulai makan makanan padat. Kolonostomi dapat
direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal.
d. Atresia rekti
Kelainan dimana anus tampak normal, tetapi pada pemeriksaan colok
dubur jari tidak dapat masuk lebih dari 1 – 2 cm, sehingga tidak ada
evakuasi feses sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.
e. Tanpa fistel
Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.
 Golongan II
a. Fistel perineum
Terdapat lubang antara vulva dan tempat dimana lokasi anus normal.
Dapat berbentuk anus anterior, tulang anus tampak normal, tetapi marka
anus yang rapat ada diposteriornya. Umumnya menimbulkan obstipasi.
b. Stenosis ani
Lubang anus terletak dilokasi normal, tetapi sangat sempit. Evakuasi
feses tidak lancar sebaiknya cepat dilakukan operasi definitif.
c. Tanpa fistel
Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.
Yang harus diperhatikan ialah adanya fistel atau kenormalan bentuk
perineum dan tidak adanya butir mekonium di urine. Dari kedua hal tadi pada
anak laki dapat dibuat kelompok dengan atau tanpa fistel urin dan fistel
perineum (Hamami A.H, 2004).
 Golongan I
a. Fistel urine
Tampak mekonium keluar dari orificium urethra eksternum. Fistula dapat
terjadi keuretra maupun vesika urinaria. Cara praktis untuk membedakan
lokasi fistel ialah dengan memasang kateter urine. Bila kateter terpasang
dan urine jernih, berarti fistel terletak diuretra yang terhalang kateter. Bila
kateter urine mengandung mekonium, berarti fistel kevesika urinaria.
Evakuasi feses tidak lancar dan penderita memerlukan kolostomi segara.
b. Atresia rekti
Kelainan dimana anus tampak normal, tetapi pada pemeriksaan colok
dubur jari tidak dapat masuk lebih dari 1 – 2 cm, sehingga tidak ada
evakuasi feses sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.
c. Perineum datar
Menunjukkan bahwa otot yang berfungsi untuk kontinensi tidak terbentuk
sempurna.
d. Tanpa fistel
Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.
 Golongan II
a. Fistel perineum
Sama dengan wanita
b. Membran anal
Anus tertutup selaput tipis dan sering tampak bayangan jalan mekonium
dibawah kulit. Evakuasi feses tidak ada. Perlu secepatnya dilakukan
terapi definitif.
c. Stenosis ani
Lubang anus terletak dilokasi normal, tetapi sangat sempit. Evakuasi
feses tidak lancar sebaiknya cepat dilakukan operasi definitif.
d. Bucket handle
Daerah lokasi anus normal tertutup kulit yang berbentuk gagang ember.
Evakuasi feses tidak ada. Perlu secepatnya dilakukan terapi definitif.
e. Tanpa fistel
Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.

Teknik Operasi
a. Dilakukan dengan general anestesi, dengan intubasi endotrakeal, dengan
posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan.
b. Stimulasi perineum dengan alat Pena Muscle Stimulator untuk identifikasi
anal dimple.
c. Insisi bagian tengah sakrum kearah bawah melewati pusat spingter dan
berhenti 2 cm didepannya.
d. Dibelah jaringan subkutis, lemak, parasagital fiber dan muscle complex.
e. Os koksigeus dibelah sampai tampak muskulus levator, dan muskulus
levator dibelah tampak dinding belakang rektum.
f. Rektum dibebas dari jaringan sekitarnya.
g. Rektum ditarik melewati levator, muscle complex dan parasagital fiber.
h. Dilakukan anoplasti dan dijaga jangan sampai tension.
Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus laki-laki
Dengan inspeksi perineum dapat ditentukan adanya malformasi anorektal
pada 95% kasus malformasi anorektal pada bayi perempuan. Prinsip
penatalaksanaan malformasi anorektal pada bayi perempuan hampir sama
dengan bayi laki-laki.

Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus laki-laki dan


perempuan

Anoplasty
PSARP adalah metode yang ideal dalam penatalaksanaan kelainan
anorektal. Jika bayi tumbuh dengan baik, operasi definitif dapat dilakukan
pada usia 3 bulan. Kontrindikasi dari PSARP adalah tidak adanya kolon.
Pada kasus fistula rektovesikal, selain PSARP, laparotomi atau laparoskopi
diperlukan untuk menemukan memobilisasi rektum bagian distal. Demikian
juga pada pasien kloaka persisten dengan saluran kloaka lebih dari 3 cm.
Penatalaksanaan Post-operatif
Perawatan Pasca Operasi PSARP
a. Antibiotik intra vena diberikan selama 3 hari ,salep antibiotik diberikan
selama 8- 10 hari.
b. 2 minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation, 2
kali sehari dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator
yang dinaikan sampai mencapai ukuran yang sesuai dengan umurnya.
Businasi dihentikan bila businasi nomor 13-14 mudah masuk.
Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah
mengejakan serta tidak ada rasa nyeri bila dilakukan 2 kali sehari selama 3-4
minggu merupakan indikasi tutup kolostomi, secara bertahap frekuensi
diturunkan. Pada kasus fistula rektouretral, kateter foley dipasang hingga 5-7
hari. Sedangkan pada kasus kloaka persisten, kateter foley dipasang hingga
10-14 hari. Drainase suprapubik diindikasikan pada pasien persisten kloaka
dengan saluran lebih dari 3 cm. Antibiotik intravena diberikan selama 2-3
hari, dan antibiotik topikal berupa salep dapat digunakan pada luka. Dilatasi
anus dimulai 2 minggu setelah operasi. Untuk pertama kali dilakukan oleh
ahli bedah, kemudian dilatasi dua kali sehari dilakukan oleh petugas
kesehatan ataupun keluarga.
Setiap minggu lebar dilator ditambah 1 mm tercapai ukuran yang
diinginkan. Dilatasi harus dilanjutkan dua kali sehari sampai dilator dapat
lewat dengan mudah. Kemudian dilatasi dilakukan sekali sehari selama
sebulan diikuti dengan dua kali seminggu pada bulan berikutnya, sekali
seminggu dalam 1 bulan kemudian dan terakhir sekali sebulan selama tiga
bulan. Setelah ukuran yang diinginkan tercapai, dilakukan penutupan
kolostomi.
Setelah dilakukan penutupan kolostomi, eritema popok sering terjadi
karena kulit perineum bayi tidak pernah kontak dengan feses sebelumnya.
Salep tipikal yang mengandung vitamin A, D, aloe, neomycin dan desitin
dapat digunakan untuk mengobati eritema popok ini.
Pembuatan kolostomi
Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli
bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Kolostomi adalah
suatu tindakan bedah untuk membuat bukaan intestinal/kolon pada dinding
abdomen. Ini memungkinkan bayi untuk dapat tetap memiliki pasase kolon
yang normal dan mencegah obstruksi kolon. Pembuatan lubang biasanya
sementara atau permanen dari usus besar atau colon iliaka. Pada ujung
muara kolostomi ini dipasang sebuah kantong untuk menampung faeces
yang keluar. Ada 2 tempat yang kolostomi yang dianjurkan dipakai pada
neonatus dan bayi yaitu transversokolostomi dan sigmoidkolostomi.

Manfaat kolostomi antara lain:


 Mengatasi obstruksi usus
 Memungkinkan pembedahan rekonstruktif untuk dikerjakan dengan
lapangan operasi yang bersih
 Memberi kesempatan pada ahli bedah untuk melakukan pemeriksaan
lengkap dalam usaha menentukan letak ujung rektum yang buntu serta
menemukan kelainan bawaan yang lain.
Tipe kolostomy yang dapat digunakan pada bayi dengan atresia ani
adalah kolostomy loop yaitu dengan membuat suatu lubang pada lengkung
kolon yang dieksteriorisasi.

Komplikasi Colostomy
 Infeksi
 Iritasi kulit
 Prolaps pada stoma
 Pendarahan stoma

Perawatan Paska Operasi
BAB pasien harus dimonitor dengan sebaik-baiknya. Konstipasi harus
dihindari, harapannya agar bayi/anak itu merasa nyaman. Obat-obatan yang
mengusahakan lunaknya feses yang dikeluarkan dengan pemberian
antibiotik untuk beberapa hari lamanya paska operasi. Antibiotik intra vena
diberikan selama 3 hari, salep antibiotik diberikan selama 8- 10 hari.

10. Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian Fokus
Konsep teori yang digunakan penulis adalah model konseptual
keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi
11 konsep yang meliputi :
a. Pola Persepsi Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di rumah.
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umumnya terjadi pada pasien
dengan atresia ani post tutup kolostomi. Keinginan pasien untuk makan
mungkin terganggu oleh mual dan muntah dampak dari anastesi.
c. Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka
tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi kebutuhan dan dari
produk buangan. Oleh karena itu pada pasien atresia ani tidak terdapatnya
lubang pada anus, sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam
defekasi.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menghindari kelemahan otot.
e. Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman dan daya
ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan.
f. Pola Tidur dan Istirahat
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada
luka insisi.
g. Pola Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body
comfort. Tidak terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak
luka jahitan operasi.
h. Pola Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah
sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan
kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
i. Pola Reproduksi dan Seksual
Pola ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi sosial sebagai alat reproduksi.
j. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan, dan
rumah.
k. Pola Keyakinan
Untuk menerapkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang
dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini diharapkan
perawat memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya
pelaksanaan ibadah.
Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani biasanya
anus tampak merah, usus melebar, termometer yang dimasukkan melalui anus
tertahan oleh jaringan, pada auskultasi terdengar hiperperistaltik, tanpa
mekonium dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urine dan vagina.

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :


1. Pre Operasi
a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan
anus.
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah.
c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit dan prosedur perawatan.
2. Post Operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.
d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kebutuhan
perawatan dirumah.

Intervensi Keperawatan
1. Pre Operasi
a. Inkontinentia bowel berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan
anus.
Tujuan : Terjadi peningkatan fungsi usus.

Kriteria Hasil :
 Pasien menunjukkan konsistensi tinja lembek
 Terbentuknya tinja
 Tidak ada nyeri saat defekasi
 Tidak terjadi perdarahan
Intervensi :
a. Lakukan dilatasi anal sesuai program.
b. Kaji bising usus dan abdomen setiap 4 jam.
c. Ukur lingkar abdomen klien.
d. Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi usus
normal.

b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah.


Tujuan : Volume cairan terpenuhi
Kriteria Hasil :
 Turgor kulit baik dan bibir tidak kering
 TTV dalam batas normal
Intervensi :
a. Awasi masukan dan keluaran cairan.
b. Kaji tanda-tanda vital seperti TD, frekuensi jantung, dan nadi.
c. Observasi tanda-tanda perdarahan yang terjadi post operasi.
d. Kolaborasi dalam pemberian cairan elektrolit sesuai indikasi.

c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan


tentang penyakit dan prosedur perawatan.
Tujuan : Rasa cemas dapat hilang atau berkurang.
Kriteria Hasil :
 Ansietas berkurang
 Klien tidak gelisah
Intervensi :
a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari klien dan keluarga.
b. Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan
operasi.
c. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan takutnya.
d. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
2. Post Operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
Tujuan : Nyeri dapat berkurang dan skala nyeri berkurang
Kriteria Hasil :
 Klien mengatakan nyeri berkurang
 Skala nyeri 0-1
 Ekspresi wajah terlihat rileks
Intervensi :
a. Kaji karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, dan kualitas nyeri.
b. Ajarkan klien manajemen nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi.
c. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan anjurkan klien untuk istirahat.
d. Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai advis dokter.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
Tujuan : Asupan nutrisi dapat terpenuhi dan menuunjukkan perbaikan
usus.
Kriteria Hasil :
 Tidak terjadi penurunan BB.
 Klien tidak mual dan muntah
Intervensi :
a. Kaji kemampuan klien untuk menelan dan menguyah makanan.
b. Timbang berat badan sesuai indikasi.
c. Jaga keamanan saat memberikan makan klien seperti kepala sedikit
fleksi saat menelan.
d. Berikan makanan lembut dalam porsi sedikit tapi sering.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan.
Tujuan : Tidak ditemukannya tanda-tanda infeksi
Kriteria Hasil :
 Tidak ada tanda-tanda infeksi
 Pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan peningkatan leukosit.
 Luka post operasi bersih
Interversi :
a. Pantau suhu tubuh klien (peningkatan suhu).
b. Ajarkan keluarga teknik mencuci tangan dengan benar dan
menggunakan sabun anti mikroba.
c. Pertahankan teknik aseptik pada perawatan luka.
d. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
e. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium.

d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kebutuhan


perawatan dirumah.
Tujuan : Pasien dan keluarga memahami perawatan di rumah
Kriteria Hasil :
 Kelurga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawatan
untuk bayi di rumah.
 Keluarga tahu dan memahami dalam memberikan perawatan pada
klien.
Intervensi :
a. Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan.
b. Ajarkan untuk mengenal tanda-tanda dan gejala yang perlu
dilaporkan perawat.
c. Ajarkan keluarga cara perawatan luka yang tepat.
d. Latih keluarga untuk kebiasaan defekasi.
e. Ajarkan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat).

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cealy L., Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.
Jakarta : EGC

Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
Kessel D, Bruyn D, Drake F. Case report: Ultrasound Diagnosis OfDuodenal
Atresia Combined With Isolated Oesophageal Atresia. TheBritish Journal of
Radiology.2011;66: 86-88

Doenges, Marilynn (2010).Rencana Asuhan Keperawatan; pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian pasien; Jakarta: EGC

Kartono, Darmawan, 2004. Penyakit Hirschsprung.. Jakarta : Sagung Seto, 3-82.


Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Jakarta : Media
Aesculapius.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Jakarta :


Salemba Medika.

Faradilla, Nova, Ronald D. Damanik, dan Wan Ria Mardhiya. 2009. Anestesi
pada Tindakan Posterosagital Anorektoplasi pada Malformasi Anorektal.
Riau : Fakultas Kedokteran Universitas Riau