Anda di halaman 1dari 3

STAGE 5.

Evaluating performance and initiating corrective adjustment

Evaluasi strategi dan inisiasi penyesuaian korektif adalah tahapan kelima dari proses manajemen stratejik.
Tahap ini adalah titik dimana perusahaan memutuskan apakah akan melanjutkan atau mengubah visi,
misi, tujuan, dan strategi perusahaan. Langkah yang dilakukan adalah monitoring perkembangan,
mengevaluasi performa, dan menginisiasi penyesuaian korektif. Selama perusahaan lolos dalam uji
winning strategy (good fit, competitive advantage, dan strong performance) maka manajemen dapat
melanjutkan strategi yang ada dengan pengembangan eksekusi strategi. Sebaliknya, apabila tidak, maka
manajemen mempertimbangkan untuk mengubah strategi.

Perusahaan dapat mengalami perubahan dalam lingkungan baik karena faktor eksternal maupun internal.
Perubahan tersebut contohnya adalah menurunnya posisi dalam pasar atau tidak tercapainya target
secara terus menerus. Dalam hal demikian, manajemen harus mengambil waktu untuk mencari
penyebabnya. Manajemen menentukan apakah penyebab perubahan itu karena salah strategi, atau salah
dalam mengeksekusi strategi, atau keduanya. Proses improvement ini dilakukan terus menerus, dan
apabila diperlukan, dapat dilakukan penyesuaian.

Pada kasus gojek, diketahui bahwa gojek berkali-kali melakukan penyesuaian strategi terkait dengan
perubahan lingkungan bisnisnya.

1. Perubahan platform bisnis menjadi basis digital


Pada awal kemunculannya pada 2010, gojek beroperasi dengan teknologi radio dan call center.
Namun demikian pada 2015, gojek mendapatkan investor untuk mendanai pengembangan aplikasi
gojek berbasis teknologi (digital technology platform). Hal ini membuat interaksi terjadi secara
langsung antara pelanggan dengan driver.
Selain itu, gojek juga mentransformasi metoda pembayaran prioritas dari cash menjadi digital
money. Hal ini dilakukan dengan berbagai promo untuk penggunaan gopay dan kerjasama dengan
berbagai mitra maupun bank untuk mendorong penggunaan gopay.

2. Perkembangan jenis layanan (on demand services)


Gojek mengembangkan layanan mengikuti perkembangan kebutuhan pelanggan. Pada awal
kemunculannya, gojek melayani pengantaran orang (transport). Hari ini, pada aplikasi gojek terdapat
berbagai layanan transport, courier, shopping, dan life services. Jasa-jasa ini adalah on-demand
service yang merupakan respon gojek atas permintaan dari customer. Setelah itu, gojek juga
meluncurkan layanan go-life.
Dalam melakukan service ini, gojek berupaya memberikan kepercayaan kepada customer agar
mereka percaya kepada gojek, yaitu dengan memberikan layanan yang berstandar tinggi. Apalagi
sebagai startup yang menjadi pioneer di bidang ini, tentu saja gojek harus bekerja keras dalam
meyakinkan calon pelanggan untuk menggunakan jasanya. Langkah yang diambil adalah dengan
penggunaan standar atribut seragam serta standar layanan (dengan minimum rating) pada para
mitra nya.

3. Peningkatan skala bisnis


Dalam memperluas skala bisnis, gojek melakukan strategi akuisisi 2 startup asal India yaitu C42 dan
Codelgnition, dan co-founder dari startup tersebut dijadikan bagian dari manajemen. Hal ini
dilakukan setelah evaluasi founder bahwa di Indonesia, sumber daya manusia di bidang information
technology masih kurang, sehingga perlu rekrutmen dari luar.
Selain itu, gojek melakukan rekrutmen driver secara besar-besaran. Proses rekrutmen dilakukan
cepat sehingga dalam beberapa jam, driver sudah bisa mengambil order. Untuk mengelimasi masalah
kesetaraan, gojek menyebut driver sebagai “mitra”. Sehingga, dalam klausul kontraknya, kedua pihak
sama-sama memiliki hak melakukan terminasi kontrak.

4. Pemanfaatan data untuk pengembangan layanan


Dengan aplikasi gojek yang digunakan, perusahaan gojek dapat mengumpulkan banyak data terkait
preferensi pelanggan maupun kebutuhan layanan. Hal ini dimanfaatkan sebagai dasar kampanye
kepada pelanggan untuk kembali menggunakan gojek, sebagai layanan yang “memahami”
kebutuhan pengguna.

5. Strategi meningkatkan keuntungan


Gojek melakukan penghematan biaya dengan menghilangkan subsidi. Ternyata strategi ini tetap
dapat menjaga growth. Gojek juga memperketat syarat perolehan bonus untuk driver. Konsekuensi
nya adalah protes driver karena fare turun menyebabkan pendapatan driver juga menurun.

6. Memanfaatkan data dan pengalaman untuk menghadapi kompetitor


Dalam menghadapi kompetitor yang mulai naik, gojek dapat memanfaatkan pengalamannya sebagai
bisnis pertama di bidang ini di Indonesia. Data yang telah dihimpun selama bertahun-tahun dapat
dijadikan alat untuk membuat model layanan yang dibutuhkan masyarakat. Gojek juga dapat
melakukan branding sebagai karya anak bangsa, untuk melawan grab yang tidak didirikan di
Indonesia.

7. Strategi menghadapi penolakan dari jasa transportasi konvensional.


Gojek melakukan langkah persuasif dengan membuka rekrutmen driver baru sehingga ojek
pangkalan menjadi mitra. Selain itu, gojek juga bekerjasama dengan blue bird dalam menyediakan
pilihan blue bird dalam layanan gocar.

8. Strategi menghadapi Covid-19


Gojek memberikan pilihan layanan contactless driver. Gojek juga memastikan protokol kesehatan
dilakukan dan menjaga higienitas driver seperti menyemprotkan disinfektan dan penggunaan hand
sanitizer. Gojek menggunakan sekat dalam armada gocar dan sekat pada bagian belakang driver
gojek agar mengurangi potensi penularan. Gojek meminta mitra gofood perhatikan higienitas. Untuk
memberikan rasa aman kepada pelanggan, gojek memberikan kelengkapan layanan pengantaran
barang dan pembayaran dengan digital payment (non-cash transaction).
The next growth focus.
Dari 3 alternatif yang diberikan, kelompok kami memilih opsi 3: ekspansi ke wilayah-wilayah diluar
Indonesia seperti Asia Tenggara, Afrika, dan India.

Hal ini paling mungkin dilakukan mengingat visi gojek adalah membantu masalah masyarakat di kawasan
kota dengan keadaan transportasi yang buruk. Emerging countries biasanya memiliki kota dengan
masalah transportasi utamanya kemacetan. Hal ini menjadi peluang gojek untuk ekspansi bisnis.
Keuntungan yang dimiliki gojek:
1. Sesuai dengan model bisnis yang dimiliki.
2. Tidak banyak pesaing dengan skala bisnis sebesar gojek.
3. Sudah dipercaya investor, terbukti dengan beberapa kali rencana ekspansi gojek selalu mendapat
dukungan dana.
4. Pengalaman menjalankan bisnis dengan dukungan data dan teknologi yang kuat sehingga dapat
dengan cepat beradaptasi di wilayah baru.

Kedua opsi lain yaitu pengembangan go-life dan ekspansi ke kota lain di Indonesia.

Opsi pengembangan go-life memang sesuai dengan prinsip on demand service gojek. Namun demikian,
tingkat ketidakpastian nya cukup tinggi. Mengingat go-life menyediakan jasa terkait layanan yang personal
(go-massage, go-glam, dan go-clean), ada risiko dimana customer tidak menggunakan layanan ini karena
alasan kesehatan (seperti pada masa Covid-19).

Opsi ekspansi gojek ke kota lain di Indonesia, grab sudah lebih dulu melakukannya. Sehingga pada opsi
ini, gojek tidak menjadi pioneer. Selain itu, core bisnis gojek yang bertujuan mengatasi masalah
kemacetan tidak terlalu berdampak apabila diterapkan di kota-kota kecil yang kondisi transportasinya
relatif tidak macet.